Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Tak Hanya Kuat secara Teknik, Palegongan Klasik Khas Duta Badung Sampaikan Pesan Filosofis dan Spiritual kepada Penonton PKB 2026

BALIILU Tayang

:

Palegongan Klasik
PENAMPILAN PALEGONGAN KLASIK: Sanggar Seni Dharmawangsa, Banjar Sedang Kelod, Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, saat menampilkan empat garapan Palegongan dalam Utsawa (Parade) Palegongan Klasik Khas sebagai Duta Kabupaten Badung pada rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Minggu (28/6/2026) di Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar. (Foto: Hms Kominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Sebanyak 70 seniman dari Sanggar Seni Dharmawangsa, Banjar Sedang Kelod, Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, menampilkan empat garapan Palegongan dalam Utsawa (Parade) Palegongan Klasik Khas sebagai Duta Kabupaten Badung pada rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Minggu (28/6/2026) di Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar.

Empat karya yang dipentaskan meliputi Tari Palegongan Kreasi “Nyrigśa”, Tabuh Palegongan Klasik “Solo”, Tari Palegongan Klasik “Legod Bawa”, serta Tabuh Palegongan Kreasi “Rong Telu”. Keempatnya menghadirkan perpaduan antara pelestarian tradisi klasik dan eksplorasi artistik yang selaras dengan tema PKB tahun ini, Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha.

Penata pertunjukan, Ida Bagus Yodhie Harischandra yang akrab dikenal Gusde, mengatakan seluruh proses persiapan melibatkan sekitar 70 orang, mulai dari penari, penabuh, tim artistik hingga pendukung pertunjukan.

“Penampilan tahun ini melibatkan sekitar 70 orang. Kami ingin menghadirkan sajian yang tidak hanya kuat secara teknik, tetapi juga mampu menyampaikan pesan filosofis dan spiritual kepada penonton melalui bahasa Palegongan,” ujarnya.

Menurutnya, karya utama yang menjadi pusat perhatian adalah Tari Palegongan Kreasi “Nyrigśa”, sebuah garapan yang mengangkat perjalanan batin manusia dalam menemukan kesadaran diri melalui bahasa Legong.

Karya tersebut menggambarkan bahwa kesadaran bukan sesuatu yang telah ditemukan, melainkan perjalanan yang terus dicari melalui keberanian menembus lapisan identitas hingga menemukan hakikat diri.

Nyrigśa kami hadirkan sebagai refleksi perjalanan spiritual. Legong bukan hanya dipandang sebagai bentuk tari, tetapi menjadi media untuk memahami diri sendiri dan menemukan harmoni jiwa,” jelasnya.

Selain karya kreasi tersebut, mereka juga membawakan Tabuh Palegongan Klasik “Solo”, karya monumental maestro gamelan Bali, I Wayan Lotring. Gending ini lahir dari pengalaman Lotring saat tampil di Keraton Solo pada 1926, kemudian memadukan karakter musik Keraton Jawa dengan kekayaan ritme gamelan Palegongan Bali sehingga menghasilkan komposisi yang lembut, syahdu, namun tetap dinamis.

Baca Juga  Lomba Seksi Kewanitaan Meriahkan PKB Badung 2026

Tak hanya itu, penonton disuguhkan Tari Palegongan Klasik “Legod Bawa” yang mengangkat kisah dalam ajaran Hindu tentang perdebatan kesaktian antara Dewa Brahma dan Dewa Wisnu.

Dalam cerita tersebut, Dewa Siwa menguji kedua dewa melalui lingga suci untuk menunjukkan bahwa tidak ada kekuatan yang melebihi kemahakuasaan-Nya. Nilai filosofis tentang kerendahan hati dan kebijaksanaan menjadi pesan utama dari garapan klasik ini.

Sebagai penutup, Sanggar Seni Dharmawangsa menghadirkan Tabuh Palegongan Kreasi “Rong Telu” yang mengusung tema Ananta Atma Kertih. Komposisi ini memaknai “Rong Telu” bukan sebagai simbol kematian, melainkan perjalanan jiwa menuju kesadaran yang lebih tinggi.

Melalui eksplorasi bunyi gamelan Palegongan, karya ini menggambarkan transformasi manusia dari kehidupan yang penuh dualitas menuju ketenangan dan kesatuan batin.

Yodhie mengatakan seluruh garapan tersebut dirancang agar mampu menunjukkan bahwa seni tradisi Bali terus berkembang tanpa meninggalkan akar budaya yang diwariskan para leluhur.

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa Palegongan bukan hanya warisan klasik yang harus dijaga, tetapi juga ruang untuk terus berkarya, berefleksi, dan menyampaikan nilai-nilai kehidupan sesuai perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya,” kata Gusde.

Ia berharap penampilan Duta Kabupaten Badung di PKB XLVIII Tahun 2026 tidak hanya menjadi tontonan yang memanjakan mata, tetapi juga memberikan pengalaman batin dan memperkuat kecintaan masyarakat terhadap seni budaya Bali.

Melalui empat garapan yang memadukan nilai sejarah, spiritualitas, dan kreativitas, Sanggar Seni Dharmawangsa berupaya menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi media edukasi sekaligus pelestarian seni Palegongan bagi generasi mendatang. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Tampilkan Perjalanan Bima Sarat Makna Pengabdian, “Angkus Prana” Duta Badung Getarkan PKB 2026

Published

on

By

Kesenian Tradisional Badung
PENAMPILAN DUTA BADUNG DI PKB 2026: Sanggar Tari dan Tabuh Prabha Semara Jaya asal Kelurahan Sempidi, Kecamatan Mengwi yang merupakan Duta Badung saat tampil dalam Rekasadana (Pergelaran) Kesenian Tradisional Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026 di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center, Denpasar, Sabtu (27/6). (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Sanggar Tari dan Tabuh Prabha Semara Jaya tampil memukau dalam Rekasadana (Pergelaran) Kesenian Tradisional Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026. Duta Kabupaten Badung asal Kelurahan Sempidi, Kecamatan Mengwi ini mengangkat lakon “Angkus Prana” mampu tampil spektakuler di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center, Denpasar, Sabtu (27/6).

Pementasan ini mengisahkan perjalanan Bima dalam mencari roh kedua orang tuanya, Pandu dan Dewi Madri, yang masih terkurung di kawah Candradimuka. Dalam perjalanan penuh rintangan, Bima menghadapi pertempuran dengan para cikrabala. Namun berkat keteguhan hati dan restu Dewa Siwa, ia berhasil membawa pulang roh kedua orang tuanya. Kisah ini menjadi simbol pengabdian dalam mewujudkan Atma Kerthi.

Ketua Sanggar sekaligus Koordinator Seni, I Gst. Ngurah Gede Karma Saputra, S.Pd mengaku optimis mampu tampil maksimal dan menggetarkan panggung PKB.

“Dengan kemampuan dari personil yang kami akan libatkan, astungkara malam ini bisa menggetarkan Art Center di Kalangan Aryodia,” ungkapnya.

Ia menceritakan lakon yang mengisahkan perjalanan Bima mencari roh kedua orang tuanya, yakni Sang Pandu dan Dewi Madri. Dimana Sang Bima harus melaksanakan tugas ini, agar karya atau yandnya upacara yang digelar di Puri Astinapura bisa berjalan dengan lancar.

“Harapan kami atau kita bersama, semoga di ajang Pesta Kesenian Bali tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, bisa memotivasi, memunculkan bakat-bakat seniman muda untuk bisa tetap berkarya, guna menjaga dan melestarikan seni budaya yang kita miliki di Bali,” jelasnya.

Dalam pementasan ini, sebanyak 11 penari dan 16 penabuh terlibat aktif. Proses latihan telah dimulai sejak Februari, diawali dengan rapat, nuasen, hingga latihan intensif sesuai jadwal yang disepakati.

Baca Juga  Usung “Bima Swarga”, Janger Tradisi Remaja Duta Badung Sampaikan Pesan Moral Bakti kepada Orang Tua dan Leluhur

Meski menghadapi berbagai kendala, seperti bertepatan dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan serta kegiatan adat di desa, tim tetap mampu menjaga konsistensi latihan. Koordinasi yang baik menjadi kunci keberhasilan hingga akhirnya tampil maksimal di panggung PKB 2026.

“Kendala selama latihan tentu saja pasti ada. Jadi kita ketahui bersama, Pesta Kesenian Bali tahun ini bersama dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan, dan juga betul-betul ada karya di desa kami, tapi astungkara dengan komunikasi dan koordinasi yang baik, kami bisa mencarikan solusi untuk latihan sesuai jadwal yang telah disepakati,” katanya. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Lewat “Titi Gonggang”, GKA Duta Gianyar Curi Perhatian Insan Seni

Published

on

By

gong kebyar gianyar
GKA DUTA GIANYAR: Gong Kebyar Anak-anak (GKA) Duta Kabupaten Gianyar saat tampil di ajang Parade Gong Kebyar Anak-anak pada PKB 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Jumat (26/6) malam. (Foto: Hms Gianyar)

Denpasar, baliilu.com – Di tengah semarak suasana dan riuhnya tabuh pepanggulan, penampilan Gong Kebyar Anak-anak (GKA) Duta Kabupaten Gianyar berhasil mencuri perhatian para pecinta seni yang memadati Panggung Terbuka Ardha Candra, Jumat (26/6) malam. Mengenakan balutan busana bernuansa  hitam dengan sentuhan khas Blahbatuh, para penabuh tampil penuh percaya diri, ditingkahi tarian puluhan seniman cilik Gianyar.  Setiap hentakan panggul berpadu harmonis dengan gerak tubuh yang luwes, seolah menari di atas bilah-bilah gamelan. Kekompakan, energi, dan penguasaan panggung mereka menghadirkan daya tarik tersendiri yang mengundang decak kagum penonton.

Tabuh pepanggulan “Titi Gonggang” menjadi pembuka yang sarat makna filosofis. Karya ini mengangkat konsep kepercayaan Hindu di Bali tentang lintasan perjalanan Atman setelah kematian. “Titi” berarti jembatan, sedangkan “Gonggang” melambangkan keseimbangan sekaligus ujian kehidupan.

Di alam duniawi, Titi Gonggang menjadi cerminan sifat dan perilaku manusia dalam memisahkan kepentingan ego dengan kesadaran murni sehingga keseimbangan hidup tetap terjaga. Filosofi tersebut kemudian dikontekstualisasikan dengan kehidupan anak-anak di era modern. Di tengah berbagai tantangan perkembangan zaman, mereka diharapkan mampu melewati “titi gonggang” kehidupan dengan memilih hal-hal yang baik dan benar untuk dijalani serta menjauhkan diri dari kebiasaan yang dapat menghambat masa depan.

Usai memukau melalui tabuh pembuka, GKA Gianyar menghadirkan Tari Puspa Bala Agung, sebuah tari penyambutan yang dibawakan penari putra dan putri dengan gerak dinamis, penuh semangat, dan ekspresi yang hidup. Tarian ini bukan sekadar bentuk penghormatan kepada tamu agung, melainkan juga simbol penyambutan Atman suci yang kembali hadir di tengah keluarga melalui prosesi Atma Wedana.

Dalam konteks penyucian Atman, Puspa Bala Agung dimaknai sebagai persembahan bunga jiwa. Gerak agem, ngeseh, hingga ngegol melambangkan keharmonisan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Setiap hentakan kaki ke bumi dan sembah ke angkasa menjadi doa agar Atman memperoleh jalan menuju tempat yang terang, sementara keluarga yang ditinggalkan dianugerahi ketabahan. Properti bunga dan tedung semakin memperkuat simbol keharuman doa suci yang mengantarkan roh menuju pelepasan sempurna.

Baca Juga  Tampil Memukau, Taksu Mandala Ungasan Hadirkan Legong Kreasi Manohara di PKB 2025

Puncak pertunjukan malam itu ditutup dengan dolanan “Masemal Semalan”, sebuah mahakarya yang menghidupkan kembali permainan tradisional anak-anak dalam balutan pementasan yang jenaka, lincah, dan menghibur. Gelak tawa penonton pecah berkali-kali mengikuti tingkah polos para pemain. Namun di balik nuansa ringan tersebut tersimpan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kebersamaan, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya sejak usia dini.

Karya dolanan ini lahir dari kisah nyata di Banjar Kebon, Desa Bona. Berawal dari kegelisahan para tetua melihat anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain telepon genggam di balai banjar, mereka kemudian mengajak generasi muda kembali mengenal akar budayanya. Dari sanalah terbentuk Sekehe Semal yang menjadi cikal bakal Sekaa Gong Anak-anak Banjar Kebon. Anak-anak tidak hanya belajar megambel, tetapi juga menganyam daun lontar, menarikan Kecak dan Sanghyang, hingga memainkan wayang.

Koordinator Gong Kebyar Anak-anak Banjar Kebon, Desa Bona, I Gusti Nyoman Oka Arsila, mengatakan pembentukan sekaa gong anak-anak pada awalnya bertujuan sebagai wadah regenerasi seni di lingkungan banjar. Namun melihat perkembangan kemampuan, potensi, dan semangat anak-anak yang begitu besar, pembinaan kemudian dilakukan secara lebih serius hingga dipercaya menjadi Duta Kabupaten Gianyar pada Pesta Kesenian Bali 2026.

“Awalnya kami membentuk sekaa gong ini untuk regenerasi. Tetapi melihat perkembangan, potensi, dan semangat anak-anak yang luar biasa, kami semakin serius melakukan pembinaan. Untuk persiapan tampil di PKB, kami berlatih selama kurang lebih enam bulan,” ujarnya.

Oka Arsila juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah memberikan dukungan penuh selama proses pembinaan hingga pementasan berlangsung.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat, Kelihan Banjar, Perbekel Desa Bona, para pembina tabuh dan tari, serta semua pihak yang telah terlibat. Berkat dukungan dan kebersamaan semua pihak, anak-anak dapat tampil maksimal di panggung PKB,” katanya.

Baca Juga  Geladi Bersih Sekaa Gong Kerthi Budaya Banjar Pengabetan dan Sanggar Seni Kumara Agung Banjar Temacun Desa Kuta

Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Gianyar, I Ketut Pasek Lanang Sadia, mengaku bangga sekaligus terpukau menyaksikan penampilan para seniman cilik Gianyar. Menurutnya, kemampuan teknis yang dimiliki anak-anak berpadu dengan mental yang kuat sehingga mampu tampil percaya diri di hadapan ribuan penonton.

“Penampilan mereka sungguh luar biasa. Anak-anak ini memiliki kemauan belajar yang tinggi, kemampuan yang sangat baik, serta mental yang kuat untuk tampil di panggung sebesar PKB. Ini menjadi bukti bahwa regenerasi seni budaya di Gianyar berjalan dengan baik dan harus terus mendapat dukungan dari semua pihak,” ungkapnya.

Melalui keseluruhan garapan yang berpijak pada nilai-nilai tradisi namun dikemas secara segar dan komunikatif, Gong Kebyar Anak-anak Duta Kabupaten Gianyar tidak hanya menyuguhkan tontonan yang memukau, tetapi juga menghadirkan tuntunan tentang pentingnya menjaga warisan budaya, membentuk karakter generasi muda, dan memastikan denyut kesenian Bali terus hidup dari generasi ke generasi. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Bupati Adi Arnawa Apresiasi Penampilan Gong Kebyar Anak-anak Duta Badung

Published

on

By

gong kebyar badung
HADIRI GONG KEBYAR ANAK-ANAK: Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti berfoto bersama usai menyaksikan langsung pementasan Sanggar Tari dan Tabuh Rajapala, Br. Basangkasa, Kelurahan Seminyak, Kuta sebagai Duta Badung dalam ajang Parade Gong Kebyar Anak-anak pada PKB XLVIII tahun 2026 yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art cemter Denpasar, Jumat (26/6/2026). (Foto: Hms Badung)

Denpasar, baliilu.com – Duta Kabupaten Badung kembali tampil memukau di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026. Kali ini, Badung unjuk gigi melalui Gong Kebyar Anak-anak (GKA) yang diwakili oleh Sanggar Tari dan Tabuh Rajapala, Br. Basangkasa, Kelurahan Seminyak, Kuta di Panggung Terbuka Ardha Candra. Pada saat bersamaan, Topeng Bebadungan dari Sanggar Seni Wayang Waduk, Br. Uma Kepuh, Desa Buduk, Mengwi juga tampil memikat di Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Art Center Denpasar, Jumat (26/6/2026).

Penampilan energik dan menghibur dari kedua duta Badung tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa yang hadir bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menyaksikan langsung pementasan. Turut mendampingi Sekda Badung IB Surya Suamba, Ketua TP PKK Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, Ketua Gatriwara Nyonya Trisna Dewi Anom Gumanti, Ketua DWP Nyonya Oliviana Surya Suamba, Kadis Kebudayaan I Gede Sukadana, serta jajaran pejabat terkait di lingkungan Pemkab Badung.

Bupati Adi Arnawa mengaku sangat bangga atas semangat para penabuh dan penari muda Badung. Menurutnya, mereka tampil maksimal dan menyuguhkan setiap materi garapan dengan sangat luar biasa. “Anak-anak tampil lepas dan sangat menghibur. Bahkan banyak mengeksplor hal-hal yang edukatif pada suguhan dolanan. Semoga memberikan warna baru khususnya bagi anak-anak kita kedepan, tidak hanya bermain gadget saja, namun berkegiatan seni budaya dan tidak keluar dari akar budaya kita,” jelasnya usai pementasan.

Ia menambahkan, penampilan ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Badung memiliki potensi besar dalam melestarikan sekaligus mengembangkan seni budaya Bali. “Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh anak-anak, pelatih, pembina, dan orang tua yang telah bekerja keras mempersiapkan penampilan ini. Mereka telah menunjukkan dedikasi luar biasa sehingga mampu membawa nama baik Kabupaten Badung di ajang Pesta Kesenian Bali,” tambahnya.

Baca Juga  Penuh Percaya Diri, Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala Tampil ‘’Mebarung’’ di PKB 2025

Bupati berharap momentum PKB ini benar-benar dijadikan wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat dan kreativitas seni mereka. Kesempatan tampil di panggung besar diharapkan mampu memotivasi generasi muda lainnya untuk mempersiapkan diri ambil bagian pada PKB tahun depan.

Pemerintah Kabupaten Badung pun menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pembinaan seni dan budaya, khususnya bagi generasi muda. Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah dalam menjaga kelestarian seni tradisi Bali agar tetap hidup, berkembang, dan diwariskan dengan baik kepada generasi penerus.

Dalam pementasan yang dikemas dalam bentuk mebarung (parade bersanding) dengan GKA Duta Kabupaten Gianyar tersebut, Sanggar Tari dan Tabuh Rajapala sukses membawakan tiga materi garapan. Ketiganya meliputi Tabuh Kreasi Pepanggulan “Bayung Bidak”, Tari Kreasi Penyambutan “Adnyaswari”, dan Tari Dolanan “Jong Jang Sir”. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca