Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Pameran ‘’Prasikala Nukilan Taru Mahottama’’ Rangkaian Bulan Bahasa Bali

BALIILU Tayang

:

de
Kurator Prasara Prasikala Nukilan Taru Mahottama I Wayan Sujana Suklu, S.Sn.,M.Sn.

Denpasar, baliilu.com – Serangkaian acara Bulan Bahasa Bali, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali menyelenggarakan Prasara Prasikala Nukilan Taru Mahottama di Gedung pameran Kryiya Hall Art Center Taman Budaya Denpasar. Seniman yang terlibat dari lintas generasi berjumlah 60 orang, menghadirkan 89 karya lontar prasi. Koleksi Taman Budaya dan Pusat Dokumentasi Lontar Disbud Provinsi Bali juga dihadirkan dalam prasara (pameran) ini.

Hal itu dikatakan salah satu Kurator Prasara Prasikala Nukilan Taru Mahottama I Wayan Sujana Suklu, S.Sn.,M.Sn., Senin (2/1) di Taman Budaya Denpasar jelang dibukanya Bulan Bahasa Bali oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Senin ini (1/2-2021) di Taman Budaya Art Center Denpasar. Sujana Suklu menyampaikan selain menampilkan lontar prasi yang terus mengalami perkembangan bentuk, tema, dan perlakuan medium, dihadirkan dua karya instalasi berjudul “Taru Manah” karya Made Ruta dan “Pula Kerti” karya Made Suparta. Kedua karya ini menggunakan daun ental sebagai elemen utama.

‘’Megibung adalah karya partisipatori pemirsa yang berkesempatan berkarya di ruang pameran, disediakan tiga site sebagai tempat pemajangan karya bersama,’’ terang Sujana Suklu yang juga dosen Seni Lukis ISI Denpasar.

Sujana Suklu lanjut menguraikan prasi anak kandung sastra lontar yang dinikmati sekarang merupakan penggalan sejarah panjang dimana raganya mengalami kontraksi, menggunakan bahan daun ental (Barasus Flabellifer) khusus, alat melukis pangrupak, dan olahan kemiri hitam sebagai pewarna. Dengan dukungan budaya dan ilmu pengetahuan, lontar prasi  mengalami perkembangan yang mengagumkan. Minat pengkoleksian ikut andil dalam pemajuan ekonomi perupanya.

Penggagas Sanggar Batubelah Lepang Klungkung ini mengungkapkan, perkembangan tersebut layak dicatat sebagai bahan refleksi dan orientasi ke masa yang akan datang. Kurasi pameran ini berangkat dari dinamika  lontar prasi yang terus berbenah. Kemudian pameran ini diharapkan dapat mendorong adanya dialog perihal medium serta perspektif perupa yang mengitarinya.

Medium sebagai raga seni salah satu pertimbangan penting dalam menciptakan karya seni, selanjutnya menimbang alat-alat yang  digunakan serta perspektif sang perupa. Perkembangan teknologi telah mengubah tatanan medium yang digunakan perupa. Bahkan kini kita berada pada pasaraya multimedia, alih-alih terkini artvirtual menggema ke seluruh jagad. Pelosok Bali pada komunitas -komunitas tertentu perupanya masih menggunakan daun  ental  sebagai media pembuatan  lontar prasi, pengembangannya sudah berlangsung dari 600 tahun silam bila mengacu catatan sejarah.

‘’Ada apa gerangan dengan daun ental, relasinya dengan adat dan budaya yang  menyokong upakara ke-Agama-an Hindu Bali, atau karena entitas daun ental memang tidak tergantikan spesifikasi kekuatan, serat, kelenturan, dan warnanya?’’ Pertanyaan itu oleh Sujana Suklu dijawab dengan mengatakan menengok kertas yang masih menjadi medium utama dalam Chinase painting barangkali dapat dijadikan pembanding dalam pemilihan media-media yang khas ini.

Bali unik, tiada tara di muka bumi. Budaya material memang, membuka jalan bagi para perupa menjelajahi sifat dan karakter dari berbagai jenis bahan. Namun setiap perupa memiliki ideologi menggunakan bahan. Sebagian perupa masih setia membuat lontar prasi  sebagaimana dicetuskan perupa lampau; menggunakan daun ental, pola, serta teknik masih dimasifkan sampai sekarang.

Pengrupak, salah satu alat membuat karya prasi

Generasi muda Bali yang telah mengenyam pendidikan modern mencoba mengembangkan pola  lontar prasi  lebih dinamis, tetap menggunakan daun ental namun struktur ekspresinya dikembangkan. Tradisi lontar prasi ditafsir ulang, dibedah, ada bagian-bagian yang diambil ditambahkan sebagai sebuah projek revitalisasi, irisan-irisan bahasa rupa dan pertukaran kreatif dengan berbagai entitas melahirkan pemikiran, bentuk, dan presentasi baru.

Sebagian perupa melihat daun ental sebagai bahan yang universal melepaskan citra lontar-prasi. Perupa golongan ini menawarkan cara melihat bahan secara personal, aturan baku diremajakan, struktur presentasinya sangat dinamis. Kolektivisme dihidupkan melalui projek emansipatori, adab seni genius lokal Bali yang masih hidup dalam konsep-konsep persembahan keagamaan dipinjam. Hal hasil lahir jenis presentasi yang sangat cair, dinamis, dan kosmologis.

Sujana Suklu mengatakan, peradaban terus bergulir membangun generasi mewakili zamannya, tiga generasi tampil bersama pada perhelatan prasara prasikala. Lontar prasi kitab tuntunan masyarakat Bali pada umumnya masih digarap oleh generasi tua. Dan penerusan lontar prasi selalu menyisipkan kreativitas pada karya, perupa menunjukkan bahasa rupa yang individual dan mendalam.

Gusti Bagus Sudiasta dari Bungkulan Buleleng misalnya, selain sebagai penekun lontar prasi  adalah seorang  dalang,  penembang, pembuat  tapel  (topeng), dan keterampilan lainnya yang dibutuhkan dalam adat dan budaya Bali. Begitu juga Wayan Mudita Adnyana dari Tenganan Karangasem selain sebagai perupa  lontar prasi  merupakan seorang  dalang, penembang, dan pemusik gender yang handal.

Perupa generasi baru (sebagian besar perupa akademis) mengembangkan gagasan-gagasannya dalam upaya menjawab tantangan masa kini. Tradisi dilihat sebagai sejarah yang terus berkembang, eksplorasi ide-ide dan keterampilan dalam menaklukkan material dan teknik terus dikembangkan, hal hasil beberapa dari mereka menemukan bahasa ekspresi lebih dinamis dengan meminjam pola  lontar prasi. Dua komunitas pengembang lontar prasi yakni; “Komunitas Operasi” 14 anggotanya anak-anak muda energik dari alumnus Undiksha dan “Komunitas Amarasi” beranggotakan mahasiswa DKV FSRD ISI Denpasar.

Perupa lebih senior Made Ruta dan Made Suparta menampilkan karya instalasi, daun  ental  bukanlah media ruang ilusi, daun ental  dijadikan objek menjalar di ruang-ruang konkrit, membangun penanda-penanda baru terhadap ruang.

Lontar prasi masih hidup dan sudah menjadi pakem di Bali, demikian pula di belahan dunia lain seperti di India, Burma (Myanmar), Sri Langka, dan Thailand, berkelindan dan kental dengan idioleknya masing-masing. Tradisi penggunaan bahan ental sebagai medium sudah meng-global sejak berabad-abad, menjadikan tubuh lontar prasi sebagai rajahan rupa perupa sesuai genius masing-masing.

Dinas Kebudayaan Provinsi Bali melalui  event  Bulan Bahasa Bali, kata Sujana Suklu, sangat tepat mengambil langkah memuliakan, mengembangkan dan menjangkar lontar prasi melalui presentasi ke ruang publik. Rupa, serta akar dan semak belukar lontar prasi juga akan  dibincangkan melalui seminar dan workshop yang akan digelar serangkaian pameran.

Prasara “Prasikala Taru Mahottama” berambisi menghadirkan raga lontar prasi Bali yang mengalami dinamika dari musim ke musim. Cara pandang, sikap, dan kerja kreatif seniman yang beragam menunjukkan artikulasi sangat kaya yang tetap mengacu pada tradisi dan budaya masa lalu.

Para perupa yang hidup pada kultur yang khas memberi jalan kreatif yang khas pula, kepiawaian aspek keterampilan yang masih diyakini sebagai cara ungkap untuk menyampaikan pesan. Prasikala dalam pameran ini membaca lebih luas pentingnya gelagat perubahan lontar prasi abad lalu sampai masa kini baik bentuk, konsep, serta konteks. (gs)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Wabup Bagus Alit Sucipta Hadiri “Karya Rsi Gana” di Pura Desa Sibanggede

Published

on

By

Wabup Alit Sucipta
HADIRI KARYA: Wabup Bagus Alit Sucipta, menghadiri pelaksanaan Karya Rsigana, Melaspas dan Mendem Pedagingan di Pura Desa, Desa Adat Sibanggede, Abiansemal Badung, Selasa (2/6). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta bersama Ketua WHDI Badung Nyonya Yunita Alit Sucipta, menghadiri pelaksanaan Karya Rsi Gana, Melaspas dan Mendem Pedagingan yang merupakan rangkaian Karya Piodalan Padudusan Agung, Menawa Ratna, Medasar Caru Labuh Gentuh, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini di Pura Desa, Desa Adat Sibanggede, Abiansemal Badung, Selasa (2/6). Karya suci tersebut dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Geniten dari Griya Dalem Sibanggede dan Ida Pedanda Gede Watulumbang dari Griya Watulumbang Sibangkaja.

Wabup turut melaksanakan persembahyangan bersama serta mengikuti prosesi mendem pedagingan. Upacara ini merupakan rangkaian Piodalan Padudusan Agung, Menawa Ratna, Medasar Caru Labuh Gentuh, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang bertujuan memohon kerahayuan jagat, keselamatan, kesejahteraan, serta menjaga keseimbangan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Selain sebagai wujud rasa syukur dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, upacara ini juga menjadi sarana memohon anugerah kesehatan, kesuburan, kemakmuran, keharmonisan, serta perlindungan dari berbagai mara bahaya dan bencana bagi seluruh Krama Desa Adat Sibanggede. Sebagai bentuk komitmen dan dukungan Pemkab Badung terhadap pelaksanaan yadnya tersebut, Wabup Bagus Alit Sucipta secara simbolis menyerahkan bantuan dana sebesar Rp. 1,5 miliar yang diterima oleh Ketua Panitia Karya, I Ketut Darma.

Dalam sambrama wacananya, Wabup Bagus Alit Sucipta menyampaikan apresiasi kepada seluruh krama Desa Adat Sibanggede yang telah bergotong royong menyelenggarakan karya suci tersebut. Ia mengaku bangga dapat hadir dan berbaur bersama masyarakat yang sedang melaksanakan yadnya sebagai bentuk rasa syukur dan sembah bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan kebersamaan serta mendukung berbagai program pembangunan Pemerintah Kabupaten Badung dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karya suci ini merupakan wujud nyata sraddha dan bhakti kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa, semoga seluruh rangkaian karya dapat berjalan lancar, labda karya, serta memberikan kerahayuan, kesehatan, dan keseimbangan bagi alam semesta beserta seluruh krama sehingga tercipta kehidupan yang rembah ripah loh jinawi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Karya I Ketut Darma melaporkan bahwa pelaksanaan Karya Piodalan Padudusan Agung Menawa Ratna Medasar Caru Labuh Gentuh di Pura Desa Sibanggede dilaksanakan berdasarkan hasil paruman krama Desa Adat Sibanggede. Puncak karya dijadwalkan berlangsung pada 7 Juli 2026 mendatang sedangkan Upacara Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini akan dilaksanakan pada 9 Juli 2026.

Terkait pendanaan, I Ketut Darma menjelaskan bahwa pelaksanaan karya didukung bantuan hibah Pemkab Badung sebesar Rp. 1,5 miliar, punia dari krama Desa Adat Sibanggede, serta punia dari para pengusaha yang berada di wilayah Desa Sibanggede. Selain bantuan dana, masyarakat juga memberikan dukungan berupa beras dan berbagai sarana upakara lainnya.

Ia juga menyampaikan bahwa persiapan pelaksanaan karya dalam pembuatan berbagai sarana upakara dilakukan secara bersama-sama oleh para serati, tukang ulam, serta krama adat yang berasal dari 12 banjar.  Dengan jumlah kepala keluarga (KK) yang terlibat mencapai kurang lebih 1.500 KK.

Turut hadir pada kegiatan tersebut anggota DPRD Provinsi Bali I Nyoman Laka, anggota DPRD Kabupaten Badung I Nyoman Gede Wiradana, Ketua WHDI Kabupaten Badung Nyonya Yunita Alit Sucipta, Camat Abiansemal yang diwakili Kasi Pelayanan Umum Made Parmita, Bendesa Adat Sibanggede I Nyoman Surianta, Perbekel Sibanggede I Wayan Darmika, serta undangan lainnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wawali Arya Wibawa Hadiri Upacara “Melaspas” Wantilan di Pura Dalem Tegeh Gumi

Published

on

By

wawali arya wibawa
HADIRI UPACARA: Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa saat menghadiri Upacara Melaspas Wantilan di Pura Dalem Tegeh Gumi, Desa Dauh Puri Kauh bertepatan dengan Anggara Kasih Julungwangi, Selasa (2/6). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Upacara Melaspas Wantilan di Pura Dalem Tegeh Gumi, Desa Dauh Puri Kauh bertepatan dengan Anggara Kasih Julungwangi, Selasa (2/6). Upacara tersebut dilaksanakan lantaran proses renovasi bangunan wantilan tuntas dilaksanakan dengan bantuan hibah dari Pemkot Denpasar.

Hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPRD Kota Denpasar, AA Putu Gede Wibawa, Dirut PT. Jamkrida Bali Mandara, AA Ngurah Adhi Ardhana, Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka, Kadis Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkim) Kota Denpasar, I Gede Cipta Sudewa Atmaja, Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, IB Alit Surya Antara, Camat Denpasar Barat, I Wayan Yusswara serta undangan lainnya.

Perwakilan Pengempon Pura, I Putu Adiana mengucapkan terima kasih atas dukungan serta bantuan semua pihak dalam pelaksanaan pembangunan Wantilan Pura Dalem Tegeh Gumi. Dimana, dengan berakhirnya upacara melaspas ini maka tuntas pula proses pemugaran Wantilan ini.

“Kami atas nama pengempon pura mengucapkan terima kasih atas dukungan dan sumbangsih semua pihak, terutama Pemkot Denpasar dalam mensukseskan pembangunan Wantilan Pura Dalem Tegeh Gumi,” ujarya.

Lebih lanjut pihaknya menjelaskan, keberadaan wantilan ini tentunya memberikan manfaat bagi krama dalam mendukung pelaksanaan yadnya di Pura Dalem Tegeh Gumi.

“Tentunya kehadiran wantilan ini akan memberikan kemanfaatan bagi krama pengempon dalam pelaksanaan yadnya dan aci di Pura Salem Tegeh Gumi,” ujarnya.

Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa memberikan apresiasi atas semangat krama pengempon Pura Dalem Tegeh Gumi. Kedepan, dengan adanya bangunan wantilan ini dapat memberikan kemanfaatan serta senantiasa menumbuhkan semangat menyama braya di lingkungan krama pengempon.

“Kami dari Pemerintah Kota Denpasar memberikan apresiasi atas semangat gotong royong krama pengempon Pura Dalem Tegeh Gumi. Semoga wantilan ini memberi kemanfaatan dalam menunjang kegiatan adat dan keagamaan, serta meningkatkan persatuan dan rasa menyama braya krama pengempon,” ujarnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Hadiri “Ngenteg Linggih” di Batunya, Wagub Giri Prasta Tekankan Pentingnya Gotong-royong dan Persatuan Krama

Published

on

By

Wagub Giri Prasta
HADIRI KARYA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri saat menghadiri Upacara Ngenteg Linggih Wraspati Kalpa dan Mapadudusan Alit di Pura Desa, Desa Adat Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Selasa (2/6). (Foto: Hms Pemprov Bali)  

Tabanan, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menekankan pentingnya menjaga semangat gotong-royong dan persatuan dalam kehidupan bermasyarakat sebagai fondasi untuk mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bersama.

Pesan tersebut disampaikannya saat menghadiri Upacara Ngenteg Linggih Wraspati Kalpa dan Mapadudusan Alit di Pura Desa, Desa Adat Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Selasa (2/6).

Dalam sambutannya, Giri Prasta mengaku bangga dan mengapresiasi kekompakan krama Desa Adat Batunya yang mampu melaksanakan karya besar secara bersama-sama. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan yadnya tidak terlepas dari semangat kebersamaan dan kerja sama seluruh masyarakat adat.

Ia juga mengingatkan agar sarana dan prasarana suci yang telah dibangun dapat dipelihara dengan baik sebagai warisan bagi generasi penerus. Dengan demikian, anak cucu di masa mendatang dapat lebih fokus melanjutkan tradisi dan pengabdian kepada adat serta agama tanpa harus terbebani oleh pembangunan fisik pura.

“Kita banyak menjalankan adat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melaksanakan yadnya. Oleh karena itu, masyarakat harus tetap bersatu agar perjuangan mewujudkan kesejahteraan dan kedamaian dapat terlaksana dengan baik. Kebersamaan dan gotong-royong menjadi kunci eratnya persaudaraan di antara kita,” ujar Giri Prasta.

Mantan Bupati Badung dua periode tersebut juga mendorong masyarakat untuk terus memupuk nilai-nilai saling asah, asih, dan asuh dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, semangat gotong-royong akan membuat setiap pekerjaan terasa lebih ringan dan berbagai rencana pembangunan dapat diwujudkan secara bersama-sama.

Ia mencontohkan, apabila masih terdapat bangunan pura yang memerlukan penyempurnaan, termasuk Pura Pengubengan, maka perbaikannya dapat dilakukan melalui kebersamaan dan partisipasi seluruh krama.

“Kita terlahir sebagai makhluk sosial dan tidak bisa hidup sendiri. Oleh sebab itu, kolaborasi, sinergi, gotong-royong, dan kerja sama yang baik menjadi kunci keberhasilan,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Bali didampingi Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga turut melaksanakan persembahyangan bersama masyarakat setempat dalam rangkaian piodalan yang nyejer selama tiga hari.

Sementara itu, Bendesa Adat Batunya menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya atas kehadiran Wakil Gubernur Bali dan Wakil Bupati Tabanan dalam rangkaian karya tersebut. Kehadiran kedua pemimpin daerah itu dinilai sebagai bentuk perhatian dan dukungan pemerintah terhadap pelestarian adat, agama, seni, tradisi, dan budaya Bali.

Selain memberikan punia, keduanya juga berkesempatan menyaksikan secara langsung jalannya Upacara Ngenteg Linggih Wraspati Kalpa dan Mapadudusan Alit yang berlangsung khidmat dengan partisipasi penuh dari krama Desa Adat Batunya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca