Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Listibiya Dukung Pembangunan Pusat Kebudayaan Bali

BALIILU Tayang

:

de
Gubernur Bali Wayan Koster saat menerima audiensi pimpinan Listibiya antara lain Prof. Dr. I Made Bandem, Dr. I Wayan Astita, Ida Rsi Agung Wayabiya Sogata Karang, dan Drs. I Wayan Geriya. Hadir pula Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Gede Darmawa, Selasa (6/4).

Denpasar, baliilu.com – Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan Bali (Listibiya) menyampaikan dukungan terhadap pembangunan Pusat Kebudayaan Bali di Gunaksa, Klungkung. Dukungan itu disampaikan jajaran pimpinan Listibiya saat bertemu Gubernur Bali Dr. I Wayan Koster, Selasa (6/4), di Denpasar.

Pimpinan Listibiya yang hadir antara lain Prof. Dr. I Made Bandem, Dr. I Wayan Astita, Ida Rsi Agung Wayabiya Sogata Karang, dan Drs. I Wayan Geriya. Hadir pula  Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Gede Darmawa.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama hampir dua jam itu, Prof. Dr. I Made Bandem, sebagai Ketua Listibiya Provinsi Bali (2016-2021), menegaskan bahwa dukungan itu karena Bali membutuhkan ruang (sarana dan prasarana) yang modern dan canggih untuk melahirkan karya seni-karya seni bermutu tinggi serta berkualitas internasional.

“Saya meyakini bahwa pembangunan Pusat Kebudayaan Bali ini adalah bagian penting dari strategi pembinaan kebudayaan yang bersifat ‘horizontal’ dan ‘vertikal’,” ujar budayawan senior dan penulis sejumlah buku penting tentang seni pertunjukan Bali.

Pembinaan dan pengembangan yang bersifat horizontal adalah pembinaan dan pengembangan yang menekankan pada pemerataan, dimana kesenian Bali yang bersifat wali dan bebali (sakral dan seremonial) harus ditingkatkan keberadaan dan kualitasnya serta dikembalikan fungsinya untuk kepentingan upacara keagamaan. Kesenian ini menjadi sumber penciptaan kesenian balih-balihan (sekuler), dan apabila seni-seni sakral itu punah maka roh (taksu) kesenian Bali akan punah pula.

Sebaliknya, pembinaan dan pengembangan yang bersifat vertikal bertumpu sepenuhnya pada peningkatan mutu (kualitas) dan dilakukan dengan mengadakan festival-festival, parade, lomba-lomba, rekonstruksi, kreativitas, inovasi dan cara-cara lainnya agar kesenian itu memiliki standar nasional, dan internasional. Pembinaan dan pengembangan yang bersifat vertikal ini juga dilakukan dengan penetapan standarisasi dan sertifikasi terhadap sekaa-sekaa, sanggar-sanggar seni,  yayasan, dan galeri yang kini jumlahnya mencapai 10.049 buah menurut data Listibiya tahun 2015. Strategi pembinaan dan pengembangan dengan cara terakhir ini mutlak membutuhkan adanya Pusat Kebudayaan Bali.

Baca Juga  Gubernur dan Wagub Bali Mengucapkan Rahajeng Nyanggra Rahina Galungan dan Kuningan

“Festival, parade, lomba-lomba, rekonstruksi, serta berbagai kegiatan itu membutuhkan panggung serta ruang pamer dengan standar tinggi, yang tentunya nanti akan tersedia di Pusat Kebudayaan Bali,” ujarnya.

Sebelumnya, politisi Partai Golkar Gde Sumarjaya Linggih sempat mengkritisi pembangunan Pusat Kebudayaan Bali dengan meminta agar kebudayaan Bali jangan di-“museum”kan. Pernyataan itu telah memicu bantahan keras dari sejumlah budayawan terkemuka Bali.

Menanggapi hal itu, Prof. I Made Bandem menyatakan bahwa memang keliru jika ada yang beranggapan bahwa Pusat Kebudayaan Bali bertujuan untuk “memuseumkan kebudayaan Bali.”

“Kekeliruan terletak pada memaknai arti kata “museum” dan juga arti kata “kebudayaan”.  Museum bukanlah gudang untuk menyimpan benda-benda mati. Ia adalah gedung atau ruangan untuk memamerkan hasil karya kreativitas, karya budaya, peninggalan sejarah, bahkan tengkorak manusia purba. Tentu diikuti dengan “story telling” yang jelas dan menggugah. Fungsi utamanya adalah edukasi, mengajarkan dan memberi inspirasi tentang puncak-puncak kebudayaan,” tegasnya.

Prof. Bandem mengingatkan bahwa kebudayaan bukanlah sesuatu yang dibawa manusia sedari lahir. Manusia lahir hanya membawa kecerdasan atau bakat, seperti bakat matematika, bahasa, seni rupa, seni gerak, seni berkomunikasi, dan lain-lainnya.

“Kebudayaan adalah hasil pendidikan, interaksi, asimilasi, difusi, imaginasi, kreativitas, inovasi, bahkan hasil rekayasa. Jadi dengan demikian kebudayaan bersifat dinamis dan membutuhkan prasarana dan sarana seperti Pusat Kebudayaan Bali untuk pembinaan dan pengembangannya,” tutupnya.

Sementara itu, Gubernur Bali I Wayan Koster menyampaikan apresiasi atas dukungan Listibiya. “Semoga nantinya Pusat Kebudayaan Bali akan bisa sungguh-sungguh berperan tidak hanya dalam melestarikan warisan tradisi kita, tetapi juga dalam mengembangkan kesenian dan kebudayaan kita agar dapat menjawab persoalan dan tantangan jaman,” kata Gubernur yang juga menjabat sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Bali itu.

Baca Juga  Jadikan Wayan Koster Milik Anak Muda Bali

Gubernur Koster memaparkan bahwa Pusat Kebudayaan Bali, yang dibangun di atas lahan seluas lebih dari 300 hektar, akan terdiri dari bangunan-bangunan yang menggambarkan filosofi Sat Kerthi dalam bentuk Padma Bhuwana, seperti bangunan kawasan danu, segara, wana, atma, jana dan jagat kerthi. Di sentrifugal dari kawasan itu barulah dibangun berbagai teater dengan ukuran yang berbeda-beda seperti procenium stage (dua sisi), thrust stage (tapal kuda 3 sisi), arena stage (panggung 4 sisi), dan panggung yang lebih kecil untuk seni-seni khas  lainnya. Gedung untuk Pusat Data Kebudayaan Bali juga akan dibangun di sana.

Pusat Kebudayaan Bali ini juga dilengkapi dengan museum tematik, seperti Museum Seni Lukis, Museum Patung, Museum Tekstil, Museum Kerajinan (Ukir), Museum Obat, Museum Topeng, Museum Subak, dan Museum Digital lainnya. Kawasan ekonomi kreatif juga disiapkan untuk memperoleh dana pemeliharaan kawasan kebudayaan itu. Kompleks kawasan kebudayaan ini digunakan sebagai wahana, pemeliharaan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan seni dan budaya dalam berbagai bentuk kegiatan seperti Pesta Kesenian Bali, Festival Bali Jani, Jantra Kebudayaan Bali, dan Perayaan Kebudayaan Dunia.

Dalam pertemuan tersebut para pimpinan Listibiya juga melaporkan bahwa masa bakti mereka telah berakhir pada Januari 2021. Sesuai dengan Perda Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan Pemajuan Kebudayaan Bali, Listibiya Provinsi Bali akan dilebur menjadi Majelis Kebudayaan Bali (MKB), sebuah organisasi non-pemerintah dengan cakupan yang lebih luas dari Listibiya sendiri, betugas membantu pemerintah untuk memelihara, mengembangkan, memanfaatkan, dan membina kebudayaan Bali.

Listibiya Provinsi Bali didirikan oleh Pemerintah Daerah Propinsi Bali tahun 1966 dan selama  55 tahun eksistensinya telah  menghasilkan karya-karya monumental antara lain: (1) Mendirikan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar tahun 1967, (2) Merumuskan Klasifikasi Tari Bali: Wali, Bebali, Balih-balihan yang mengantar 9 tari Bali ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda tahun 2015, (3) Memberi inspirasi Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin untuk membentuk Dinas Kebudayaan DKI Jakarta (1970-an), dan menjadi landasan pembentukan Dinas Kebudayaan Bali tahun 1986, (4) Melahirkan Pesta Seni di Lilabhwana pada 1974, 1975, dan 1976 yang menjadi pijakan Pesta Kesenian Bali (PKB) pertama pada 1979, (5) Melahirkan Utsawa Merdangga (Festival Gong Kebyar se-Bali, 1966-1971 yang kini menjadi acara unggulan Pesta Kesenian Bali, dan sejumlah prestasi lainnya yang menjadi dasar pembinaan dan pengembangan kesenian dan kebudayaan Bali masa kini. (gs)

Baca Juga  Gubernur Koster Berhasil Lobi Pemerintah Pusat Dapatkan 700 Ribu Lebih Vaksin untuk Bali per 24 Maret 2021

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Walikota Apresiasi Upacara Adat Massal di Kesiman

Ringankan Beban Masyarakat, Walikota Jaya Negara “Ngayah Nyangging” Upacara Metatah Massal

Loading

Published

on

By

Walikota Jaya Negara Hadiri Metatah Massal Kesiman
METATAH MASSAL: Kehadiran Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam kesempatan prosesi Metatah Massal Desa Adat Kesiman yang berlangsung Senin (28/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri pelaksanaan Upacara Metatah atau Mepandes Massal Desa Adat Kesiman yang diikuti sebanyak 345 peserta dari 32 banjar adat. Upacara tersebut berlangsung di Pantai Padang Galak, Kecamatan Denpasar Timur, Senin (28/9).

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara turut ngayah nyangging kepada beberapa peserta metatah. Kehadirannya dalam rangkaian upacara tersebut juga diakhiri dengan penyerahan punia sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya adat dan keagamaan di Desa Adat Kesiman.

Didampingi Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, I Putu Agus Jayadi, Walikota Jaya Negara memberikan apresiasi kepada Jro Bendesa Adat Kesiman beserta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan rangkaian upacara secara massal. Menurutnya, pelaksanaan karya adat secara bersama-sama tidak hanya penting dalam menjaga kelestarian tradisi dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Jaya Negara menilai pelaksanaan upacara secara massal dapat membantu menghemat waktu sekaligus meringankan beban biaya masyarakat, khususnya para orang tua yang anaknya mengikuti upacara potong gigi.

“Rangkaian upacara keagamaan tersebut berlangsung khidmat dan runtut, dimulai dari prosesi Ngaben, Mepetik, Ngangkid ke Pasih, hingga pelaksanaan upacara Metatah atau potong gigi massal. Langkah dan kerja keras Jro Bendesa beserta pihak Desa Adat Kesiman ini sejalan dan turut mendukung program pemerintah daerah dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Jaya Negara.

Selebihnya Jaya Negara juga berharap pelaksanaan karya massal tersebut dapat terus memperkuat semangat kebersamaan dan gotong-royong masyarakat. Selain sebagai pelaksanaan kewajiban adat dan keagamaan, rangkaian kegiatan ini juga diharapkan menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi serta menjaga keharmonisan krama Desa Adat Kesiman.

Baca Juga  Gubernur Koster Berhasil Lobi Pemerintah Pusat Dapatkan 700 Ribu Lebih Vaksin untuk Bali per 24 Maret 2021

Sementara itu, Jro Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna mengatakan, rangkaian upacara keagamaan massal tersebut terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, termasuk Puri Pemayun Kesiman. Rangkaian kegiatan telah dimulai melalui prosesi Negteg Beras pada 9 September, dilanjutkan dengan Ngingsah pada 16 September serta Melaspas Peyadnyan pada 18 September. Sebelum pelaksanaan Metatah Massal, juga telah digelar ritual Mesasap Segara yang diikuti sebanyak 526 peserta.

“Pelaksanaan secara massal ini tentu memberikan kemudahan bagi masyarakat, terutama dari sisi efisiensi waktu dan biaya,” ujarnya.

Rangkaian karya massal Desa Adat Kesiman masih akan berlanjut hingga puncak acara pada 1 Oktober mendatang melalui prosesi Pengajum dan Mepetik yang rencananya dipuput oleh lima orang sulinggih. Selanjutnya, seluruh rangkaian karya akan ditutup dengan pelaksanaan upacara Nyegara Gunung pada 4 Oktober.

“Karya adat tersebut diharapkan tidak hanya menjadi momentum pelaksanaan kewajiban keagamaan, tetapi juga semakin memperkuat semangat gotong-royong dan kebersamaan krama Desa Adat Kesiman,” ujar I Ketut Wisna. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wagub Giri Prasta Hadiri “Pemelaspasan” Pura Lempuyang Madya

Ajak Umat Perkuat Semangat Menyama Braya dan Lestarikan Tradisi Bali

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Hadiri Pemelaspasan Pura Lempuyang Madya
HADIRI KARYA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Karangasem, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta mengajak umat Hindu untuk terus memperkuat persatuan, menjaga semangat menyama braya, serta melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Giri Prasta mengikuti prosesi mendem pedagingan bersama para pemedek. Prosesi ini merupakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian upacara penyucian bangunan suci yang sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Usai mengikuti prosesi mendem pedagingan, Giri Prasta didampingi istrinya, Ny. Seniasih Giri Prasta, melaksanakan persembahyangan bersama yang bertepatan dengan rahina Purnama Sasih Kapat.

Dalam sambrama wacana-nya, Giri Prasta menguraikan sejarah dan nilai spiritual Pura Lempuyang. Merujuk pada lontar kuno Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, ia menjelaskan bahwa keberadaan Pura Lempuyang berkaitan dengan legenda pemindahan puncak Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa oleh para dewa. Pecahan gunung tersebut kemudian membentuk sejumlah pegunungan di Jawa dan Bali, termasuk Gunung Lempuyang.

Menurut kisah dalam lontar tersebut, Batara Hyang Pasupati mengutus tiga putra-putrinya untuk berstana di sejumlah gunung guna menjaga keseimbangan spiritual Pulau Bali. Batara Hyang Putra Jaya berstana di Tohlangkir (Gunung Agung) dengan parahyangan di Pura Besakih, Batari Dewi Danuh berstana di Pura Ulun Danu Batur, sedangkan Batara Hyang Gni Jaya berstana di Gunung Lempuyang.

Giri Prasta berharap seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar serta membawa kerahayuan bagi umat dan masyarakat Bali.

Baca Juga  Gubernur Koster Berhasil Lobi Pemerintah Pusat Dapatkan 700 Ribu Lebih Vaksin untuk Bali per 24 Maret 2021

“Dumogi karya niki memargi antar, labda karya, sida sidaning don, nemu rahayu, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja,” doa Giri Prasta.

Lebih lanjut, Giri Prasta mengajak umat menjadikan pelaksanaan upacara keagamaan sebagai momentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat semangat menyama braya, dan membangun kebersamaan dalam menjalankan swadarma. Menurutnya, semangat gotong-royong dan persatuan umat memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan adat, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat Bali.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, serta kearifan lokal Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pelestarian tersebut diharapkan tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan upacara keagamaan, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Gubernur Koster Hadiri Puncak “Karya Panca Wali Krama” Ulun Danu Batur, Rawat Kesucian Alam Bali

Published

on

By

Gubernur Koster Hadiri Puncak Karya Panca Wali Krama
HADIRI PUNCAK KARYA: Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri Puncak Karya Panca Wali Krama yang digelar setiap sepuluh tahun sekali, di kawasan Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli, Sabtu (26/9). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Bangli, baliilu.com – Puncak Karya Panca Wali Krama yang digelar setiap sepuluh tahun sekali, terasa begitu khidmat dan penuh harmoni di kawasan Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli, Sabtu (26/9). Gubernur Bali Wayan Koster hadir langsung dalam puncak karya yang bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat tersebut.

Turut hadir Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta dan Danrem 163/Wira Satya, Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, bersama para pemangku, pengempon pura, tokoh masyarakat dan umat yang mengikuti persembahyangan.

Bagi Gubernur Wayan Koster, karya di Pura Ulun Danu Batur memiliki makna yang jauh melampaui sebuah ritual keagamaan. Di tempat yang menjadi salah satu pusat spiritual Bali sekaligus kawasan yang erat dengan sumber air dan kehidupan ini, nilai-nilai Sad Kerthi menemukan bentuknya secara nyata.

Wana Kerthi dan Danu Kerthi menjadi bagian penting dari rangkaian karya. Hutan dan air tidak hanya dipandang sebagai bagian dari alam yang harus dimanfaatkan, tetapi sebagai sumber kehidupan yang mesti dimuliakan dan dijaga keberlangsungannya.

Semangat tersebut sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang dikembangkan Wayan Koster, menempatkan keharmonisan alam, manusia dan kehidupan sebagai fondasi pembangunan Bali.

“Kalau kita menjaga alam, sesungguhnya kita sedang menjaga kehidupan kita sendiri”. Semangat inilah yang tercermin dalam pelaksanaan karya, ketika ritual keagamaan sekaligus menjadi pengingat tentang tanggung jawab manusia terhadap alam Bali.

Dua Bulan Menuju Puncak Karya

Rangkaian karya telah berlangsung sejak 12 Agustus 2026 dan akan berakhir pada 7 Oktober 2026. Berbagai prosesi dilaksanakan secara bertahap sesuai wariga dan dresta Bali.

Salah satu tahapan penting adalah Danu Kerthi atau Mapag Toya pada 8 September 2026, kemudian dilanjutkan Malasti, Mapekelem ring Danu dan Pakelem ring Gunung pada 18 September.

Baca Juga  Gubernur dan Wagub Bali Mengucapkan Rahajeng Nyanggra Rahina Galungan dan Kuningan

Tahapan inti berlangsung melalui Tawur Manca Wali Krama pada 21 September di Genah Peyadnyan. Puncaknya, Sabtu (26/9), umat melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura sebelum dilanjutkan dengan Ida Bhatara Tedun ke Peselang, Perayungan, Pedanaan dan Ngaturin Ageng di Pura Ulun Danu Batur.

Setelah puncak karya, rangkaian dilanjutkan dengan Subakti Penganyar secara bergiliran oleh pemerintah daerah dan masyarakat dari seluruh kabupaten/kota se-Bali hingga 7 Oktober.

Puncak karya ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga Bali bukan hanya tentang membangun dan memajukan daerah, tetapi juga tentang merawat kesucian alam, menghormati sumber kehidupan dan memastikan nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca