Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Libatkan 53 Pelukis, Pameran Seni Rupa Online Digelar di Tengah Pandemi

BALIILU Tayang

:

de
PAMERAN SENI RUPA: Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali yang diketuai Ny. Putri Suastini Koster memfasilitasi 53 perupa untuk mengikuti pameran seni rupa yang dibuka secara online, Senin (7/6) dari Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar..

Denpasar, baliilu.com – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali yang diketuai Ny. Putri Suastini Koster memfasilitasi 53 perupa untuk mengikuti pameran seni rupa secara online.

Pameran online kerjasama Dekranasda, BPD Bali dan Balimall.id ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Bali yang diwakili Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra dalam acara offline di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Provinsi Bali, Senin (7/6/2021). Pameran bertajuk ‘Merajut Rasa Menilik Rupa’ yang menampilkan 83 karya terbaik 53 perupa ini, berlangsung secara online di Balimall.id mulai 7 Juni hingga 21 Juni 2021.

Ketua Umum Dekranasda Bali Ny. Putri Koster dalam sambutannya mengetuk hati para donatur, kolektor lukisan dan pencinta seni untuk menunjukkan kepedulian kepada para perupa di masa pandemi dengan membeli hasil karya mereka. Menurutnya,  para seniman bukan ingin dimanja, namun sapaan dan sentuhan yang diberikan oleh berbagai komponen bisa memantik semangat mereka agar tak kehilangan asa serta harapan sehingga bisa tetap berkarya. Ia berkeyakinan, begitu saatnya tiba pandemi akan berlalu dan semangat mereka untuk berkarya akan kembali pulih. “Tapi saat ini mereka sangat membutuhkan sentuhan kita,” ucapnya. 

Lebih jauh  perempuan yang dikenal sebagai seniman serba bisa ini menyampaikan bahwa gagasan untuk memfasilitasi para perupa untuk berpameran secara virtual ini muncul dari sebuah tekad dan keberanian. “The power of kepepet. Ketika kita kepepet di masa pandemi, inovasi akan muncul. Salah satu inovasi itu adalah penggunaan platform digital,” cetusnya.

Tak hanya bertujuan menggairahkan seniman di masa pandemi, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk membiasakan pelaku seni untuk memanfaatkan platform digital dalam memasarkan karya mereka. “Mau tidak mau, suka atau tidak suka, para seniman harus mengikuti perkembangan IT agar mereka tetap bisa survive,” imbuhnya sembari berharap dukungan seluruh komponen khususnya para donator, penikmat seni, jajaran perbankan dan birokrasi untuk mengunjungi pameran online dan membeli karya para perupa.

Sementara itu, Gubernur Bali dalam sambutan yang dibacakan Sekda Dewa Made Indra menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Dekranasda yang telah memfaslitasi dan memberi ruang bagi pelaku IKM/UMKM dan seniman untuk memasarkan hasil karya mereka agar bisa survive di masa pandemi. Menurutnya, kehadiran pemerintah dan komponen terkait seperti Dekranasda memang sangat dibutuhkan oleh pelaku IKM/UMKM dan seniman karena mereka adalah kelompok yang sangat terdampak di masa pandemi Covid-19. Tak hanya memberi dampak ekonomi karena karya mereka laku terjual, tapi kegiatan pameran yang difasilitasi Dekranasda Bali diyakini dapat menjaga asa dan harapan  para seniman agar tak patah semangat dan terus berkreativitas.

“Kreativitas para seniman tak boleh terhenti, karena jika itu sampai terjadi, seni kita akan mengalami kemunduran,” ujarnya. Ke depannya, ia mendorong sinergitas seluruh elemen untuk memberi ruang yang lebih luas bagi pelaku IKM/UMKM dan para seniman untuk menumbuhkan kreativitas.

Pameran seni rupa online yang digagas Ny Putri Koster mendapat sambutan luar biasa dari perupa yang dilibatkan dalam pameran. Perupa Galung Wiratmaja menilai pameran virtual gagasan Ny. Putri Koster merupakan momen penting bagi kebangkitan seniman yang menekuni karya seni lukis. “Ini merupakan bukti kepedulian Ibu Putri Koster terhadap seluruh jenis kegiatan berkesenian,” ujarnya.

Galung menyebut, selama ini karya ‘main art’ seperti yang ditekuninya nyaris luput dari perhatian. “Kami bingung, harus minta support ke mana. Syukur Dekranasda yang saat ini diketuai Ibu Putri Koster memberi perhatian kepada kami. Terima kasih banyak atas perhatian dan kesempatan yang diberikan,” ucapnya. Ucapan terima kasih dan apresiasi juga disampaikan perupa Made Gunawan, Made Kaek dan lainnya.

Pembukaan pameran virtual ditandai dengan scan tangan oleh Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra didampingi Ny. Putri Koster, Owner Balimall.id Ni Wayan Sri Ariyani dan Dirut BPD Bali I Nyoman Sudharma. Pembukaan pameran juga dihadiri Wakapolda Bali Brigjen Pol I Ketut Suardana, Kepala OPD Pemprov Bali dan pimpinan organisasi kewanitaan.

Di pengujung acara, Ny. Putri Koster langsung membeli sebuah lukisan berjudul ‘Pilih-pilih’ karya perupa Nurul Huda. Menariknya, lukisan itu dipesan Gubernur Bali Wayan Koster yang tak bisa menghadiri acara pembukaan pameran karena pada saat yang sama harus mengikuti pertemuan dengan Presiden RI di Jakarta. 

“Ini khusus pesanan dari Pak Gubernur. Karena modelnya adalah saya sendiri,” ujar Ny. Putri Koster. Karya seharga Rp 20 juta itu merupakan jenis lukisan foto yang menggambarkan kegiatan Ny. Putri Koster ketika sedang memilih-milih kain di sebuah momen. Selain Ny. Putri Koster, owner Balimall.id Sri Ariani dan Dirut BPD Nyoman Sudharma juga membeli masing-masing sebuah lukisan. (gs)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Parade Baleganjur Bebarongan, Tampilkan Seni Sarat Makna Spiritual dan Nilai Budaya

Published

on

By

Parade Baleganjur gianyar
BALEGANJUR BEBARONGAN: Salah satu penampilan parade baleganjur bebarongan pada Pekan Budaya Gianyar di Open Stage Balai Budaya Gianyar, Kamis (9/4) malam. (Foto: Hms Gianyar)

Gianyar, baliilu.com – Pemerintah Kabupaten Gianyar menggelar Parade Baleganjur Bebarongan Kecamatan se-Kabupaten Gianyar sebagai rangkaian Pekan Budaya Gianyar di Open Stage Balai Budaya Gianyar, Kamis (9/4) malam. Kegiatan ini menampilkan kekayaan seni tradisional Bali yang sarat akan makna spiritual dan nilai-nilai budaya.

Dalam parade, masing-masing kecamatan di Kabupaten Gianyar menampilkan kreativitas dan ciri khasnya dalam mengemas seni baleganjur babarongan yang berpadu dengan unsur tradisi serta kearifan lokal.

Penampilan diawali oleh Sekaa Gong Satya Jnana dari Kecamatan Gianyar yang mempersembahkan garapan berjudul “Nyapuh”. Dilanjutkan dengan penampilan Yowana Kembang Swara Banjar Juga bersama Komunitas Seni Pitha Mahaswara, dari Kecamatan Ubud, yang membawakan garapan “Gerinsing”, Pengayah Gong Sekaa Teruna Dharma Adnyana dari Kecamatan Tegallalang melalui garapan “Bwah Rong”, disusul oleh Sanggar Seni Gita Lestari dari Kecamatan Blahbatuh dengan sajian berjudul “Swara Raksa”.

Penampilan berikutnya Pesraman Satya Kumara Shanti, Kecamatan Payangan, yang menghadirkan garapan “Ruwat Mala”, kemudian dilanjutkan oleh Sekeha Gong Sila Pertipa dari Kecamatan Sukawati dengan garapan “Sida Arsa”. Penampilan ditutup oleh Sekaa Balaganjur Gandara Shanti dari Kecamatan Tampaksiring melalui garapan berjudul “Lawat Liwat”.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Adi Parbawa, menyampaikan bahwa perhelatan Pekan Budaya Gianyar, salah satunya menampilkan parade baleganjur bebarongan, merupakan upaya nyata pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya yang hidup di desa adat.

Lebih lanjut, Adi Parbawa menegaskan bahwa estetika baleganjur bebarongan harus tetap ajeg dan lestari sebagai bagian dari kearifan lokal di masing-masing kecamatan.

Tak hanya itu, dirinya juga menambahkan bahwa baleganjur bebarongan telah menjadi salah satu identitas masyarakat Gianyar yang hadir hampir dalam setiap kegiatan keagamaan. “Kita ingin lebih menunjukkan cita karya kearifan lokal masing-masing, sehingga esensinya tetap terjaga, tradisinya tetap, dan spiritnya tetap,” tambahnya.

Sementara itu, tokoh seniman, Dr. I Wayan Sudirana, S.Sn., M.A., Ph.D., mengapresiasi pelaksanaan Pekan Budaya Gianyar yang dinilai mampu memberikan ruang bagi para seniman untuk menuangkan kreativitas. Ia berharap parade baleganjur bebarongan tidak hanya berlangsung tahun ini, tetapi dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam mempersiapkan diri menuju ajang Pesta Kesenian Bali (PKB).

“Saya ingin kegiatan ini tidak hanya tahun ini, melainkan terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya,” ungkapnya.

Terlebih, baleganjur bebarongan sendiri memiliki keterkaitan erat dengan tradisi ngunya atau Ngiring Ida Bhatara, yakni prosesi mengarak Sesuhunan berupa Barong dan Rangda mengelilingi desa sebagai bagian dari ritual keagamaan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

AA Istri Rai Setyawati, Seniman Tangguh yang Menjaga Nyala Tari dari Generasi ke Generasi

Published

on

By

Rai Setyawati
KASANGA FESTIVAL: Di tengah riuhnya pagelaran seni dalam rangkaian Kasanga Festival di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Minggu (8/3), sosok AA Istri Rai Setyawati, SST (kebaya biru) tampak berdiri di antara anak-anak yang bersiap tampil. (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Di tengah riuhnya pagelaran seni dalam rangkaian Kasanga Festival di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Minggu (8/3), sosok AA Istri Rai Setyawati, SST tampak berdiri di antara anak-anak yang bersiap tampil. Dengan tatapan lembut namun penuh ketegasan, perempuan berusia 73 tahun itu membimbing gerak demi gerak, memastikan setiap anak menari dengan percaya diri.

Usia boleh menua, namun semangat berkesenian dalam dirinya tetap menyala. Perempuan kelahiran Sayan, Gianyar ini telah menetap di Denpasar sejak menempuh pendidikan seni di Kokar. Sejak saat itu, hidupnya tak pernah jauh dari dunia tari Bali.

Bagi Rai Setyawati, seni tari bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga napas kehidupan yang terus ia rawat hingga kini. Ia dikenal sebagai bagian dari generasi seniman tari yang tumbuh bersama maestro tari Bali, I Nyoman Suarsa, yang akrab disapa Pak Yang Pung.

Kini, sebagian besar rekan seangkatannya telah berpulang. Namun bagi Rai Setyawati, perjalanan pengabdian pada seni belum pernah benar-benar selesai.

“Semangat saya masih tetap berkobar dalam mengabdikan diri di bidang seni. Saat ini saya juga dipercaya menjadi pendidik di PAUD Saraswati 3,” ujarnya dengan senyum hangat.

Di tempat itulah ia menanamkan kecintaan pada seni kepada generasi paling muda. Dengan kesabaran dan ketelatenan, ia membimbing anak-anak usia dini mempelajari dasar-dasar gerak tari Bali—mulai dari gerakan tangan, sorot mata, hingga langkah kaki yang diajarkan perlahan.

Selain mengajar di PAUD Saraswati 3 Denpasar, Rai Setyawati juga rutin membimbing anak-anak di Sanggar Tari Rimantaka yang ia kelola bersama putrinya. Dari ruang-ruang latihan sederhana itu, lahir keberanian anak-anak untuk tampil dalam berbagai agenda budaya dan pertunjukan seni di Kota Denpasar.

Bagi Rai Setyawati, melihat anak-anak menari dengan penuh semangat merupakan kebahagiaan tersendiri. Baginya, itu adalah tanda bahwa tradisi terus menemukan ruang hidupnya di tengah generasi baru.

Di balik ketekunannya sebagai seniman, Rai Setyawati juga merupakan ibu dari empat anak, tiga putra dan satu putri. Nilai kerja keras dan pengabdian yang ia tanamkan sejak lama turut membentuk perjalanan hidup anak-anaknya.

Salah satu putranya, Dedy Sutrisna Agung, SE, M.Ec.Dev., kini mengabdi di salah satu perangkat daerah di Kota Denpasar serta aktif dalam kepengurusan adat di Desa Adat Penatih Puri. Menurut Dedy, kecintaan ibunya pada seni menjadi sumber kekuatan dalam perjalanan hidup keluarga mereka.

“Saya dibesarkan dari perjuangan ibu saat berkesenian. Beliau tidak hanya berkarya, tetapi juga mampu membiayai kebutuhan hidup keluarga dari dunia seni,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa berkesenian seolah menjadi obat bagi sang ibu.

“Jika ibu diberi waktu dan kesempatan untuk terus berkesenian, sakitnya seperti hilang. Keluhan sebagai orang tua terasa berkurang ketika beliau bisa mengajarkan anak-anak menari,” katanya.

Bagi Rai Setyawati, seni tari bukan sekadar aktivitas. Ia adalah ruang pengabdian, tempat menyalurkan cinta pada budaya sekaligus sumber semangat untuk tetap berkarya.

Di usia yang semakin senja, ia masih setia berdiri di ruang latihan, mengajarkan gerak demi gerak kepada generasi penerus. Selama tubuh masih mampu bergerak dan ada anak-anak yang ingin belajar, baginya seni tari Bali harus terus hidup dan berkembang.

Dari tangan seorang guru seni seperti Rai Setyawati, nyala tradisi itu terus dijaga agar tetap menari dalam perjalanan waktu dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Pecah! 10 Tahun Vakum, Dentuman Jegog Suar Agung Kembali Guncang Jepang

Published

on

By

Jegog Suar Agung
TUR BUDAYA: Sekaa Jegog Suar Agung sukses mengawali rangkaian tur budaya mereka dengan pementasan perdana yang spektakuler di Toyota City, Jepang, Kamis (19/2/2026) malam. (Foto: Hms Jembrana)

Jembrana, baliilu.com – Dentuman instrumen bambu raksasa khas Jembrana akhirnya kembali mengguncang publik Negeri Sakura.

Setelah “puasa” selama 10 tahun, Sekaa Jegog Suar Agung sukses mengawali rangkaian tur budaya mereka dengan pementasan perdana yang spektakuler di Toyota City, Jepang, Kamis (19/2/2026) malam.

Ribuan pasang mata dibuat tak berkedip oleh resonansi nada rendah dan ritme eksplosif dari Bumi Makepung.

Kehadiran delegasi seni ini seolah menjadi obat rindu sekaligus bukti nyata bahwa Jegog tetap memiliki tempat istimewa di kancah internasional meski sempat absen selama satu dekade.

Penampilan sekaa Jegog Suar Agung dipimpin oleh I Gede Oka Artha Negara, sosok pimpinan Jegog Suar Agung yang dikenal sebagai konseptor dan pencipta komposisi musikal bambu berkarakter kuat dan dinamis.

Ia merupakan putra maestro almarhum I Ketut Suwentra, sosok legendaris yang dijuluki “Pekak Jegog” dan berjasa besar membawa Jegog ke panggung internasional. Pada pementasan kali ini, Gede Oka juga mengajak putra-putrinya Okky Junior Sadewa dan Ikko Suar Agung Dewi sebagai penari Jegog Suar Agung untuk regenerasi kesenian Jegog Suar Agung.

“Antusiasme penonton di Toyota City luar biasa. Ini membuktikan bahwa resonansi bambu Jembrana memiliki tempat spesial di hati warga Jepang,” ujar pimpinan Suar Agung, I Gede Oka Artha Negara.

Disisi lain, bagi Ikko Suar Agung Dewi, pementasan di Jepang kali ini memiliki tantangan tersendiri mengingat untuk pertama kalinya ia ikut mendampingi dan turun langsung dalam pertunjukan besar Jegog Suar Agung.

“Tur ini bukan sekadar agenda pementasan, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang untuk melestarikan dan mengembangkan Jegog Suar Agung,” ungkap Ikko Suar Agung Dewi.

Ia menegaskan pentingnya regenerasi, pembinaan generasi muda, serta penguatan jejaring internasional agar musikal bambu khas Jembrana tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

Melalui Jegog Suar Agung ini, Ikko Dewi bertekad menjaga warisan leluhur agar tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi terus bertumbuh sebagai kebanggaan budaya yang mendunia terlebih Kakek merupakan Sang Maestro Jegog.

Rombongan yang sebelumnya dilepas oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan ini, dijadwalkan akan berkeliling ke sejumlah kota besar di Jepang selama 12 hari ke depan. Misi ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan seni, tetapi juga memperkuat hubungan diplomatik Indonesia-Jepang lewat jalur kebudayaan.

Dentuman bambu dari Desa Sangkar Agung akan kembali menggema di Negeri Sakura—menegaskan bahwa Jegog Suar Agung bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan duta budaya yang mempererat hubungan Indonesia dan Jepang dari generasi ke generasi. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca