Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

PARIWISATA

Akademisi Unud Sambut Positif Pembukaan Akses Masuk Bali bagi PPLN

BALIILU Tayang

:

de
Akademisi sekaligus Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Udayana (Unud), Dr. I Wayan Suardana, SST.Par., M.Par. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Kebijakan pemerintah untuk membuka kembali akses masuk Bali melalui kebijakan visa on arrival (VOA) dan uji coba bebas karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) mendapatkan sambutan positif dari berbagai pihak. Kebijakan itu dinilai sebagai angin segar bagi neraca pariwisata Bali yang sempat terjun bebas selama pandemi ini. 

Akademisi sekaligus Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Udayana (Unud), Dr. I Wayan Suardana, SST.Par., M.Par. mengatakan kebijakan ini  merupakan harapan baru bagi pariwisata Bali.

“Bali sebagai destinasi dunia sudah sangat tergantung dengan wisatawan mancanegara, sehingga hal ini menjadi informasi yang baik bagi pariwisata Bali.  Dibukanya pintu untuk wisatawan mancanegara akan memberikan  peluang besar bagi wisatawan untuk menjadwalkan kembali rencana kunjungannya yang sempat tertunda lama. Walaupun pasti kondisi ini tidak serta merta dapat langsung meningkatkan jumlah kunjungan seperti sebelum pandemi. Efek dari pandemi tidak hanya menahan wisatawan untuk berwisata tetapi juga menurunkan perekonomian dan daya beli masyarakat dunia. Hal ini akan sangat berdampak pada pilihan keputusan wisatawan dalam berkunjung.

Berdasarkan data, ekonomi dunia diperkirakan tumbuh rata-rata sekitar 3,2 persen, sedikit di bawah rata-rata 3,5 persen pada periode 2010-2019. Sementara untuk Indonesia, average propensity to consume ratio pada bulan Januari 2022 sebesar 74,1%, atau turun tipis dari 76,2% pada bulan Desember 2021 (Bank Indonesia (BI), dalam data Portal Indonesia, 2022),” jelas Suardana kepada awak media via WhatsApp, Jumat (11/3). 

Suardana mengatakan Bali sudah dalam kondisi siap untuk menerima wisatawan. “Bali dengan berbagai infrastruktur dan fasilitas pendukungnya yang selama 2 tahun  dapat melakukan pembenahan dan perbaikan pada berbagai hal, seperti fasilitas layanan di bandara yang lebih baik, di destinasi dengan kelengkapan CHSE, dan lain-lain.  Dengan berbagai infrastruktur dan SDM yang dimiliki, saya kira Bali sangat siap untuk menerima wisatawan ini. Bahkan mungkin saat ini ada kerinduan yang sangat mendalam dari pelaku dan wisatawan terhadap Bali itu sendiri. Ini bisa dijadikan momen bagi Bali untuk menciptakan image Bali yang terpercaya dan tangguh dari aspek Kesehatan,” katanya.

Baca Juga  Pemkab Jembrana Segera Luncurkan Program Permodalan bagi PMI dan PPLN

Untuk itu, Suardana mengingatkan pemerintah agar mulai menyiapkan strategi pemasaran yang efektif  terutama untuk menyasar pasar yang terkait dengan perhelatan atau event.

“Pariwisata dunia saat ini tidak hanya dibatasi oleh faktor administrasi dalam perjalanan, tetapi ada faktor ekonomi yang membuat wisatawan akan selektif memutuskan tujuan kunjungan. Untuk itu pemerintah benar-benar harus bisa membuat branding Bali sebagai destinasi yang sehat dan ramah. Pemerintah juga harus  menyasar pasar dengan aktivitas event yang terjadwal, sehingga ada subsidi pemerintah asal negara wisatawan untuk mendorong mereka berkunjung, seperti MICE, Sport Tourism, dan lain-lain. Momen Conference G20 sangat penting diperhatikan dan dijadikan momen bangkitnya pariwisata Bali,” jelasnya.

Terkait dengan pertanyaan publik, mengenai kapan estimasi waktu yang dibutuhkan bagi Bali untuk memulihkan sektor pariwisata, Suardana menegaskan banyak faktor yang harus dinilai, sehingga tidak bisa diprediksi dengan akurat.

“Waktu saya kira tidak bisa kita ukur dari satu faktor. Pariwisata sangat ditentukan oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal, selain faktor kesehatan dan ekonomi tadi. Saat ini dunia juga dihantui oleh adanya perang Rusia dengan Ukraina. Hal ini berdampak pada kecemasan dunia pada berbagai aspek. Kalau faktor tersebut nanti tidak beranjut terlalu lama, saya kira sangat optimis Bali cepat bisa recovery,’’ ujarnya.

Suardana, yang juga merupakan Dekan Fakultas Pariwisata Unud, mengatakan bahwa beberapa indikator seperti ekonomi, vaksinasi dan keamanan menjadi tolok ukur penting. “Seperti tadi pariwisata sangat tergantung dari lingkungan internal dan ekternal secara makro. Faktor ekonomi pasti menjadi ukuran utama, pendapatan per kapita masyarakat dunia, adanya kemudahan, dan kepastian kesehatan khusunya kesadraan vaksinasi di destinasi tersebut. Karena ini menjadi kunci dalam peningkatan imunity masyarakat. Selain itu faktor keamanan juga penting. Kita harapkan situasi perang Rusia dengan Ukraina tidak menjadi masalah global yang semakin serius,” imbuhnya.

Baca Juga  Gelar Kuliah Umum, STP Mataram Gandeng Akademisi Unud Bahas Pariwisata Berkelanjutan

Menurutnya, tantangan  Bali saat ini adalah dukungan masyarakat untuk memberikan jaminan bagi wisatawan bahwa Bali aman dari aspek kesehatan. “Tantangan yang paling berat adalah penyadaran masyarakat dalam menciptakan Bali sebagai destinasi wisata yang sehat. Sehingga tidak ada beban dalam kesehatan. Bali semakin bisa melakukan pengelolan yang baik sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Suardana mengingatkan bahwa pandemi ini harus dijadikan pelajaran bagi Bali untuk tidak hanya bertumpu pada industri pariwisata dan pergerakan wisatawan mancanegara. “Saya kira Bali juga harus segera mencari berbagai alternatif sinergi antara sektor pariwisata dengan sektor lainnya seperti pertanian, bahari, dan lain-lain. Kerapuhan pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Bali ke depan,” tambahnya. Sumber: www.unud.ac.id (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PARIWISATA

Peringkat Satu Top Destinasi Pariwisata Dunia, Gubernur Koster: Bali Tetap Kuat Meski Digoyang Isu Sampah, Macet dan Sepi

Published

on

By

Gubernur Bali Wayan Koster mengalungkan bunga menyambut wisatawan yang datang ke Bali saat Tahun Baru 2026. (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster gembira dan berterima kasih kepada semua stakeholders dan masyarakat yang terus aktif menjaga kualitas pariwisata Bali. Kerja keras semua pihak diapresiasi dunia. Bali Indonesia baru saja meraih peringkat 1 World’s Best Destination 2026, dalam ajang bergengsi Travelers’ Choice Awards: Best of the Best oleh TripAdvisor. Bali di posisi teratas, melampaui sembilan destinasi kenamaan dunia lainnya seperti London, Roma, Hanoi, Paris, New York (NY) hingga Dubai. 

Penghargaan dunia ini diakui Koster bahwa Bali tetap kuat dengan pariwisata berbasis budaya, tradisi, seni dan alam meskipun sering digoyang dengan isu sampah, macet dan sepi.

“Bali di posisi nomor 1 dari 10 Top Destinasi Pariwisata Dunia. Bali menempati posisi tertinggi di dunia sepanjang sejarah. Digoyang dengan isu sampah, macet, sepi dan lain ternyata tak bisa menggoyahkan posisi Bali,” kata Gubernur Koster, Jumat, 16 Januari 2026.

Tak hanya dianugerahi peringkat satu Top Destinasi Pariwisata Dunia oleh TripAdvisor, Bali juga diakui global dalam berbagai kategori lainnya seperti diakui sebagai peringkat pertama Honeymoon Destination. kemudian masuk Top 10 Cultural Destination, Top 10 Solo Travel Destination, Top 20 Trending Cities. 

Berikut ini data dan fakta Top 10 World’s Best Destinations Travelers’ Choice Awards Trip Advisor dan Bali Indonesia berada di posisi pertama. Setelah itu disusul urutan kedua London, Britania Raya, dan ketiga Dubai, Uni Emirat Arab, keempat Hanoi, Vietnam, kelima Paris, Prancis, keenam Roma, Italia, ketujuh Marrakesh, Maroko, kedelapan Bangkok, Thailand, kesembilan Kreta, Yunani dan sepuluh New York, Amerika Serikat. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Baca Juga  Gelar Kuliah Umum, STP Mataram Gandeng Akademisi Unud Bahas Pariwisata Berkelanjutan
Lanjutkan Membaca

PARIWISATA

Demi Bali, Koster Minta Pelaku Usaha Pariwisata Kontribusi dan Terlibat Aktif Sukseskan PWA

Janjikan Imbal Jasa, Koster Buka Peluang Pelaku Usaha Pariwisata Jadi Mitra Manfaat dan Endpoint PWA

Loading

Published

on

By

koster
PENGARAHAN PWA: Gubernur Bali, Wayan Koster mengumpulkan seluruh pelaku usaha pariwisata se-Provinsi Bali terkait pengarahan mengenai imbal jasa Pungutan Bagi Wisatawan Asing (PWA) di Art Centre Denpasar, Jumat (15/8). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com  – Gubernur Bali, Wayan Koster mengumpulkan seluruh pelaku usaha pariwisata se-Provinsi Bali di Art Centre Denpasar, Jumat (15/8). Hal tersebut terkait dengan pengarahan Gubernur Bali mengenai imbal jasa Pungutan Bagi Wisatawan Asing (PWA) untuk pelaku usaha pariwisata yang ikut berpartisipasi menjadi mitra manfaat dan endpoint PWA.

Koster menjelaskan bahwa capaian Pungutan Wisatawan Asing (PWA) yang dilakukan saat ini belum maksimal dimana per tahun 2024 jumlah PWA yang terkumpul hanya mencapai Rp. 318 miliar atau 32% dari total pembayaran yang seharusnya dibayar wisman. Sedangkan di tahun 2025 capaian PWA hingga pertengahan Agustus 2015 sudah Rp. 229 miliar atau 34% dari jumlah wisatawan asing yang datang ke Bali.

“Belum maksimal. Masih sangat jauh dari harapan kita,” ungkap Koster.

Namun ia menjelaskan, memang dalam penerapannya terdapat beberapa kendala yang dihadapi salah satunya adalah Perda Bali No. 6 Tahun 2023 tentang Pungutan Bagi Wisatawan Asing untuk melindungi kebudayaan dan lingkungan Alam Bali belum mengatur tentang imbal jasa bagi pelaku usaha yang terlibat sebagai mitra manfaat dan endpoint PWA.

“Saat itu intensif dan imbal jasa tidak kita atur dalam Perda karena itulah kita melakukan perubahan Perda menjadi Perda Provinsi Bali No. 2 Tahun 2025 dan astungkara disetujui oleh Kemendagri termasuk juga dengan Pergubnya,” kata Koster dihadapan para GM/pimpinan hotel dan stakeholder pariwisata lainnya.

Koster menyampaikan bahwa sosialisasi tersebut dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada seluruh usaha pariwisata di Bali untuk ikut berpartisipasi dengan melakukan Kerjasama menjadi mitra manfaat dan endpoint dalam rangka optimalisasi pungutan wisatawan asing (PWA).

“Mitra manfaat dan endpoint dapat diberikan imbal jasa setingi-tingginya 3% dari perolehan pembayaran dan akan dibayarkan tiap triwulan,” kata Koster.

Baca Juga  Singapore Airline Kembali Bawa PPLN Melalui Bandara Ngurah Rai, Polsek Udara Siapkan Pengamanan

Ia berharap para pelaku usaha pariwisaha dapat turut berkontribusi dan terlibat aktif dalam mensukseskan program Pungutan bagi Wisatawan Asing (PWA) dengan turut mendaftar sebagai mitra manfaat atau endpoint.

Sementara itu, penggunaan PWA nantinya akan difokuskan untuk perlindungan kebudayaan dan lingkungan alam Bali, peningkatan kualitas pelayanan dan penyelenggaraan kepariwisataan Budaya Bali serta penanganan sampah di Bali.

Gubernur Koster juga menjelaskan, para pelaku usaha pariwisata harus berperan aktif dan bekerja sama dengan mendaftar sebagai mitra manfaat atau endpoint agar penyelenggaraan Pungutan Bagi Wisatawan Asing berjalan dengan lancar dan sukses.

“Hasil pungutan dari Wisatawan Asing sungguh-sungguh memberikan manfaat nyata bagi Pemerintah Provinsi Bali dalam penyelenggaraan kepariwisataan Bali berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat. Hasilnya akan digunakan antara lain untuk melindungi lingkungan Alam, Kebudayaan, dan Aura Spiritual Bali; menciptakan ketertiban, kenyamanan, dan keamanan bagi wisatawan asing selama berada di Bali; meningkatkan pembangunan infrastruktur dan transportasi ramah lingkungan. Selain itu juga untuk penanganan sampah; dan meningkatkan layanan informasi kepariwisataan. Pemerintah Provinsi Bali akan memberikan informasi penerimaan serta penggunaan dari hasil Pungutan Bagi Wisatawan Asing secara transparan dan akuntabel,” tegas Koster. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

PARIWISATA

Jembrana Kembali Bangun Objek Wisata Green Cliff

Published

on

By

green cliff jembrana
NGERUAK: Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan menghadiri upacara ngeruak pembangunan objek wisata Green Cliff dilanjutkan peletakkan batu pertama, Senin (14/7). (Foto: Hms Jembrana)

Jembrana, baliilu.com – Objek wisata Green Cliff, yang berlokasi di Banjar Bangli, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, dibangun pada tahun 2017 lalu oleh masyarakat setempat sempat menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Jembrana.

Green Cliff menawarkan pesona alam yang indah dengan pemandangan perbukitan hijau dan udara sejuk, menjadikannya pilihan tepat bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam dan suasana yang menenangkan.

Kendati sempat menjadi destinasi wisata favorit, adanya Pandemi Covid-19 memaksa sektor pariwisata mengalami masa sulit. Hal itu juga dialami oleh objek wisata Green Cliff. Sempat tidur cukup lama, sejumlah fasilitas pun sudah mulai rusak sehingga cukup membahayakan bagi para pengunjung.

Dengan potensi besar yang dimilikinya, Green Cliff melalui bantuan dari Aviantion Fuel Terminal (AFT) Ngurah Rai, Green Cliff akan segera dibangkitkan kembali.

Hal tersebut ditandai dengan upacara ngeruak yang diawali dengan persembahyangan bersama di Pura Ulun Desa dan dilanjutkan dengan peletakkan batu pertama oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan bersama ketua DPRD Jembrana Ni Made Sri Sutharmi, Kadis Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, beserta anggota DPRD Jembrana, Senin (14/7).

Upacara ngeruak juga dihadiri oleh jajaran AFT Ngurah Rai, Balai Perhutanan Sosial Bali Nusra, KHP Bali Barat, Balai DAS Unda Anyar, KTH Wana Sari Asri serta masyarakat dan tokoh masyarakat setempat.

Bupati Kembang mengatakan segala pekerjaan harus dimulai dengan berdoa, agar apa yang akan dikerjakan bisa berjalan dengan baik. Termasuk dengan pembangunan daya tarik wisata Green Cliff ini.

“Tadi kita berdoa bersama, agar seluruh perjalanan terutama pembangunan Green Cliff ini bisa berjalan lancar sesuai dengan harapan,” ungkapnya.

Baca Juga  Gelar Kuliah Umum, STP Mataram Gandeng Akademisi Unud Bahas Pariwisata Berkelanjutan

Lebih lanjut, pihaknya mengatakan dengan adanya daya tarik wisata Green Cliff bisa memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat terutama masyarakat di Banjar Bangli, desa Yehembang Kangin.

“Semoga atas doa kita bersama dan restu Tuhan Yang Maha Esa, seluruh upaya keras yang kita lakukan bersama ditambah dengan niat yang kuat, semua kegiatan hari dan ke depan bisa berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Sementara itu, Aviantion Fuel Terminal Manager Ngurah Rai, I Komang Susila Gosa mengatakan pembangunan kembali Green Cliff diharapkan bisa kembali menjadi salah satu ikon destinasi wisata populer di Jembrana sehingga bisa memberikan dampak yang positif bagi masyarakat disekitarnya.

“Hari ini kita ngeruak bukan hanya sebuah lokasi melainkan simbol harapan bersama bahwa sebuah kawasan bisa tumbuh menjadi ikon wisata alam yang lestari jika dikelola dengan kolaboratif dan penuh kesadaran,” ucapnya.

Selain itu, pihaknya mengatakan pemanfaatan alam khususnya hutan bila dikelola dengan baik juga akan bisa memberikan banyak manfaat. Selain menjaga keseimbangan alam, juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Kegiatan hari ini bukan sekadar serimoni, ini adalah langkah awal menanam nilai, bukan hanya pohon. Kita sedang memulai babak baru dari perjalanan panjang pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Yang tidak hanya berbicara tentang konservasi, tapi juga kesejahteraan sosial dan budaya lokal,” tandasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca