Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Olah Limbah Kulit Kopi Arabika Jadi Teh Cascara

Dosen Prodi Teknologi Pangan FTP Unud Dukung Bangkitnya Agrowisata di Kintamani

Loading

BALIILU Tayang

:

dukung kintamani
Kegiatan pengabdian masyarakat dosen Prodi Teknologi Pangan FTP Unud dilaksanakan pada Rabu, 5 Oktober 2022 di Banjar Petung, Desa Batur Tengah, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. (Foto: Ist)

Bangli, baliilu.com – Dosen Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana (FTP Unud) Sayi Hatiningsih, S.TP., M.Si., berkolaborasi dan tergabung dalam tim bersama Prof. Dr. Ir. Bambang Admadi H., M.P., dari Program Studi Teknologi Industri Pertanian, FTP Unud, I Komang Budi Mas Aryawan, S.Pd., M.Pd., dari Fakultas Informatika dan Komputer, ITB STIKOM Bali serta Putu Devi Yustisia Utami, S.H., M.Kn., dari Fakultas Hukum Universitas Udayana, bersama mahasiswa dari Program Studi Teknologi Pangan FTP Unud yaitu Muhammad Eriansyah Al Hakim, Aulia Rahayu Ramadhani,  Nicholas Wilbert, dan Gilbert Febian siap mendukung bangkitnya agrowisata di Kintamani, Bangli.

Melalui program Hibah Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah dilaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat dengan memilih UPT Agrowisata Giri Alam dikelola oleh Kelompok Tani Harapan Maju yang merupakan sebuah UMKM sebagai mitra kegiatan. Kegiatan ini telah dilaksanakan pada Rabu, 5 Oktober 2022 di Banjar Petung, Desa Batur Tengah, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

Untuk diketahui, komoditas kopi Arabika di Kabupaten Bangli Provinsi Bali pada tahun 2020 mencapai 2.249 ton (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, 2022). Besarnya hasil perkebunan kopi ini berdampak pada besarnya hasil limbah kulit kopi yang dihasilkan yakni mencapai 45% atau sekitar 1.012 ton pada tahun 2020. Selama ini limbah kulit kopi hanya sebagian kecil yang dijadikan pakan ternak, pupuk dan terkadang hanya ditumpuk/langsung dibuang, atau belum banyak dilakukan penanganan sehingga menyebabkan kontaminasi dan masalah lingkungan di sekitar perkebunan kopi.

Melalui sentuhan teknologi pangan, limbah kulit kopi ini bisa ditingkatkan nilai ekonomisnya dengan pengolahan menjadi teh Cascara yang kaya antioksidan. Kegiatan yang telah dilakukan adalah pelatihan pengolahan, pengemasan, pelabelan yang menarik, serta penyimpanan produk teh Cascara. Selanjutnya, dilakukan pendampingan secara berkala terkait penggunaan website dan media sosial Instagram sebagai media pemasaran produk (digital marketing), termasuk pengurusan perijinan usahanya.

Pembina dan Ketua Kelompok Tani Harapan Maju yakni Ketut Putra Wijaya dan Wayan Sudarma mengatakan bahwa adanya program ini sangat diperlukan petani untuk menghasilkan produk kopi dan teh Cascara yang berkualitas. Adanya program ini juga dapat membantu meningkatkan nilai ekonomis kulit kopi, yang selama ini menjadi limbah dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Harapan Ketut Putra Wijaya dan Wayan Sudarma, program ini dapat berkelanjutan sehingga petani dapat terus didampingi dan UPT Agrowisata Giri Alam dapat bangkit dan lahir kembali pascapandemi Covid-19. Sumber: https://www.unud.ac.id/in/berita-fakultas1995-Dukung-Bangkitnya-Agrowisata-di-Kintamani-Dosen-Prodi-Teknologi-Pangan-FTP-Unud-Olah-Limbah-Kulit-Kopi-Arabika-Menjadi-Teh-Cascara-yang-Kaya-Antioksidan-dan-Bernilai-Ekonomis.html (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

“Satu Jiwa, Tiga Rupa”, Konsep Ny. Putri Koster Kembangkan Wastra Bali Menuju Panggung Mode Global

Seni Beri Taksu, Bisnis Hidupi Perajin, Politik Kebudayaan Beri Perlindungan

Loading

Published

on

By

Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri Dekranasda Bali Fashion Road Show Wastra Hita Kara di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Jembrana.
WASTRA HITA KARA: Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat menghadiri Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Jembrana, Kamis (27/8/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Jembrana, baliilu.com – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, memperkenalkan konsep “Satu Jiwa, Tiga Rupa” sebagai strategi mengembangkan wastra Bali agar tidak hanya lestari sebagai warisan budaya, tetapi juga tumbuh menjadi kekuatan ekonomi kreatif dan mampu menembus panggung mode global. Konsep tersebut disampaikan dalam Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Jembrana, Kamis (27/8/2026).

Ny. Putri Koster mengatakan, Dekranasda Provinsi Bali secara berkelanjutan menjalankan tiga program peragaan busana, yakni Dekranasda Bali Fashion Day, Dekranasda Bali Fashion Week, dan Dekranasda Bali Fashion Road Show. Ketiga program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem industri mode berbasis wastra sekaligus meninggalkan warisan bagi perkembangan mode Bali.

“Dekranasda Provinsi Bali ingin mendapatkan legacy terkait dengan fashion di Pulau Bali. Astungkara, ke depannya Bali bisa menjadi pusat mode dunia. Ini harus kita lakukan secara kontinu dan konsisten,” ujarnya.

Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Jembrana merupakan pelaksanaan ketiga setelah sebelumnya digelar di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Kegiatan ini tidak hanya menjadi panggung peragaan busana, tetapi juga ruang untuk membuka wawasan mengenai arah pengembangan industri mode berbasis wastra yang ingin dibangun Bali.

“Satu Jiwa, Tiga Rupa”

Menurut Ny. Putri Koster, membawa wastra Bali menuju industri mode global membutuhkan lebih dari sekadar kreativitas dan estetika. Wastra Bali harus memiliki jiwa yang bersumber dari kekayaan seni dan budaya Bali, kemudian dikembangkan melalui tiga “rupa”, yakni seni, bisnis, dan politik kebudayaan.

“Satu jiwa itu muncul dari rasa seni dan estetika masyarakat Bali, baik dari leluhur kita maupun generasi muda yang ada saat ini, yang diwujudkan dalam bentuk wastra tradisional. Kemudian ada tiga rupa yang bisa memunculkan, mengagungkan, dan memuliakan wastra kita, yaitu seni, bisnis, dan politik kebudayaan,” jelasnya.

Rupa pertama, seni. Seni menjadi roh dan jiwa yang membedakan wastra tradisional Bali dengan tekstil pabrikan. Motif dan ikatan dalam wastra Bali tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga mengandung filosofi, identitas, dan nilai spiritual.

“Seni yang memberi roh dan jiwa dari kain-kain dalam ikatan itu. Di dalamnya mengandung filosofi kuat sebagai anak Bali yang mewakili tanah Bali, yang konon adalah Pulau Dewata, pulau kesenian. Seni akan mengangkat sehingga kain itu punya taksu. Itulah yang membedakan tenun tradisional dengan bahan tekstil pabrikan yang begitu dingin,” ungkapnya.

Rupa kedua, bisnis. Ny. Putri Koster menekankan bahwa pelestarian wastra harus berjalan beriringan dengan peningkatan nilai ekonominya. Wastra Bali harus mampu menggerakkan roda perekonomian dan memberikan manfaat langsung kepada para perajin, khususnya penenun yang berada di desa-desa. Nilai ekonomi yang semakin baik diharapkan meningkatkan kesejahteraan perajin sekaligus mendorong regenerasi agar tradisi menenun terus berlanjut.

Rupa ketiga, politik kebudayaan. Aspek ini dinilai menjadi pemungkas dalam menjaga keberlangsungan wastra Bali. Pemerintah perlu hadir melalui kebijakan dan regulasi untuk melindungi kain tradisional beserta nilai filosofis, spiritual, dan identitas budaya yang terkandung di dalamnya.

“Politik kebudayaan ini menjadi pemungkas dari semuanya karena di dalamnya ada aturan-aturan hukum. Bila kain tenun ini tidak kita lindungi dengan aturan hukum, maka akan hilang,” tegasnya.

Menurut Ny. Putri Koster, kekuatan ekonomi wastra tidak dapat dipisahkan dari perlindungan hukum. Tanpa regulasi, produk budaya lokal berisiko terdesak dalam persaingan pasar dan kehilangan nilai serta identitasnya.

“Perekonomian tidak akan terjaga jika tidak ada aturan. Karena dalam dunia bisnis seperti hutan rimba. Kain-kain kita akan menjadi terpuruk dan turun kastanya, tidak punya roh dan taksu-nya,” katanya.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak bergerak bersama menjaga keberlanjutan wastra Bali. Pelestarian, kreativitas, pengembangan pasar, hingga perlindungan hukum harus dijalankan secara kontinu dan konsisten.

“Mari kita tenun sepenuh jiwa dan kita lestarikan. Syaratnya harus kontinu dan konsisten. Mari bergerak bersama,” ajaknya.

Dorong Desainer Jembrana Mengglobal

Khusus di Kabupaten Jembrana, Ny. Putri Koster berharap semakin banyak desainer lokal tumbuh dan mampu membawa kreativitas berbasis wastra daerah menuju panggung yang lebih luas. Kehadiran desainer lokal dinilai penting untuk menghubungkan perajin, kekayaan motif tradisional, kreativitas, dan kebutuhan pasar sehingga terbentuk ekosistem mode yang kuat.

“Di Jembrana saya ingin tumbuh lagi desainer-desainer lokal yang kemampuannya mengglobal. Kalau itu tumbuh, maka akan terbangun ekosistem,” ujarnya.

Ketua Dekranasda Kabupaten Jembrana, Ny. Ani Setiawarini Kembang Hartawan, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Jembrana untuk menjadi bagian dari Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara”.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Jembrana dan Dekranasda Jembrana, ini merupakan suatu kehormatan bagi Kabupaten Jembrana karena dapat menjadi bagian dari Dekranasda Bali Fashion Road Show ‘Wastra Hita Kara’,” ungkapnya.

Menurut Ny. Ani, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menjaga warisan budaya lokal sekaligus mempertemukan desainer, pelaku IKM, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi produk sekaligus kesejahteraan para perajin.

“Kami berharap melalui kegiatan ini dapat menjadi momentum dalam mempertemukan para desainer, pelaku IKM, pelaku usaha, dan berbagai pihak lainnya sehingga tercipta kolaborasi yang berkelanjutan dan mampu memberikan nilai tambah ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan para perajin dan pelaku UMKM,” ujarnya.

Jembrana sendiri memiliki beragam potensi budaya yang terus dikembangkan, salah satunya penggunaan cepaka purih sebagai ciri khas masyarakat setempat. Dekranasda Jembrana juga telah memilih Duta Tenun Jembrana yang diharapkan tidak hanya menjadi ikon, tetapi turut mengedukasi generasi muda serta memperkenalkan tenun Jembrana kepada masyarakat yang lebih luas.

“Kami harap melalui Dekranasda Bali Fashion Road Show ini akan semakin banyak para perajin yang semakin naik dan berkelas serta mampu berkancah di tingkat nasional maupun internasional,” harap Ny. Ani.

Tampilkan Tujuh Desainer, IKM, dan UKM

Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Jembrana menampilkan karya tujuh desainer, yakni Busana Adat AAA Turah Mayun, Body N Mine, Urban Etnik, Kacarita, Deluxe, Luh Jaum, dan Taksu. Peragaan busana turut diiringi musik dari Gus Teja.

Selain peragaan busana, kegiatan dimeriahkan dengan pameran produk IKM dan UKM. Sebanyak 11 IKM ambil bagian, yakni Putri Mas Collection, Kembar Sari, Arca Collection, Ani Galery, Caka Kembang, Bali Rajut, Linggasari, Ariati Embroidery & Handlace, Butik Jepun, Surya Putra, dan Dana Jaya. Pameran juga menghadirkan 10 UKM kuliner, yaitu Sibabui, Warung Bu Alit, Lumpia Potong Tugu, Kopi Kelana, Jamu Kunyit Asam, Uma Pia Kasih, Umah Tuak, Sambal Gorlin, Bakii, dan JeCo.

Melalui Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara”, Dekranasda Provinsi Bali bersama Dekranasda Kabupaten Jembrana mendorong terbentuknya ekosistem mode dan ekonomi kreatif yang berpijak kuat pada identitas budaya. Dengan sinergi seni, bisnis, dan politik kebudayaan, wastra Bali diharapkan tidak hanya lestari sebagai warisan leluhur, tetapi juga mampu memberikan kesejahteraan bagi perajin serta membawa identitas Bali menuju panggung mode nasional dan global. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Ny. Putri Koster Tutup Bimtek Bina Posyandu Angkatan XI Tahun 2026

Published

on

By

Ketua TP Posyandu Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster menutup Bimtek Bina Posyandu Angkatan XI Tahun 2026 di Bapelkesmas Dinas Kesehatan Provinsi Bali.
TUTUP BIMTEK: Ketua Tim Pembina (TP) Posyandu Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster menutup Bimtek Bina Posyandu Angkatan XI Tahun 2026 di UPTD Balai Pelatihan Kesehatan dan Masyarakat (Bapelkesmas) Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Jumat (28/8). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Berlangsung selama tiga hari sejak Rabu (26/8), Bimbingan Teknis (Bimtek) Bina Posyandu Angkatan XI Tahun 2026 di UPTD Balai Pelatihan Kesehatan dan Masyarakat (Bapelkesmas) Dinas Kesehatan Provinsi Bali resmi ditutup oleh Ketua Tim Pembina (TP) Posyandu Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, Jumat (28/8).

Penutupan Bimtek yang melibatkan 111 peserta dari Kabupaten Jembrana ini ditandai dengan penyerahan piagam penghargaan kepada peserta terbaik oleh Ny. Putri Koster.

Dalam sambutannya, Ny. Putri Koster menginformasikan bahwa total pengurus TP Posyandu yang telah mengikuti Bimtek hingga Angkatan XI tercatat sebanyak 1.257 orang. Mereka yang telah mengikuti Bimtek dan memperoleh pemahaman terkait perluasan bidang tugas Posyandu, yang saat ini mencakup enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), diminta menularkan ilmu yang diperoleh di wilayah tugas masing-masing.

“Apa yang diperoleh di sini, sosialisasikan hingga kader Posyandu yang bertugas di masing-masing banjar. Kalau apa yang diperoleh dalam Bimtek didiamkan, ya tidak akan ada gunanya,” ujarnya.

Guna mengatasi kendala anggaran, Ny. Putri Koster menyarankan kerja sama dengan Dinas Kominfo di kabupaten/kota sehingga sosialisasi dapat dilaksanakan secara daring.

Masih dalam arahannya, Ny. Putri Koster mengajak jajaran pengurus di setiap jenjang untuk memahami secara utuh transformasi Posyandu yang saat ini berstatus sebagai Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD).

Menurutnya, tantangan terbesar yang saat ini dihadapi kader Posyandu adalah mengubah pola pikir tentang Posyandu yang sebelumnya hanya identik dengan kegiatan penimbangan bayi.

“Kita harus cepat mengalihkan pemikiran bahwa saat ini ada bidang-bidang selain kesehatan yang menjadi tugas Posyandu,” cetusnya.

Para kader juga diingatkan agar tidak berpikir terlalu rumit dalam menjalankan tugas sesuai bidang masing-masing yang mengacu pada enam SPM. Ia mencontohkan, kader yang mendapat tugas di bidang pekerjaan umum bukan berarti harus turun langsung memperbaiki jalan atau rumah warga. Kader Posyandu memiliki tugas utama menyerap aspirasi dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi warga untuk selanjutnya disampaikan dan dikoordinasikan dengan perangkat desa. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Kasat Binmas Polresta Denpasar Sosialisasikan Anti-Perundungan di SD Negeri 5 Padangsambian

Published

on

By

Kasat Binmas Polresta Denpasar Sosialisasi Anti Perundungan
SOSIALISASI: Kasat Binmas Polresta Denpasar AKP Gede Endrawan, S.H., M.H. saat melaksanakan kegiatan sosialisasi tentang pencegahan dan penanganan perundungan di Sekolah Dasar Negeri 5 Padangsambian, Denpasar Barat, Jumat (28/8/2026). (Foto: Hms Polresta Dps)

Denpasar, baliilu.com – Kasat Binmas Polresta Denpasar AKP Gede Endrawan, S.H., M.H. melaksanakan kegiatan sosialisasi tentang pencegahan dan penanganan perundungan di Sekolah Dasar Negeri 5 Padangsambian, Denpasar Barat, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya memberikan pemahaman kepada para siswa mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk perundungan.

Dalam kesempatan tersebut, AKP Gede Endrawan menyampaikan materi mengenai pengertian perundungan, dampak yang dapat ditimbulkan, serta pentingnya saling menghormati dan menghargai sesama teman di lingkungan sekolah.

Para siswa juga diimbau agar tidak melakukan tindakan yang dapat menyakiti, mengintimidasi, maupun merendahkan teman. Selain itu, apabila mengetahui atau mengalami tindakan perundungan, siswa diharapkan segera menyampaikan kepada guru maupun orang tua agar dapat ditangani dengan baik.

Kasat Binmas Polresta Denpasar menekankan bahwa peran seluruh pihak, baik guru, orang tua, maupun para siswa, sangat penting dalam mencegah terjadinya perundungan di lingkungan pendidikan.

Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, diharapkan para siswa SD Negeri 5 Padangsambian dapat memahami pentingnya membangun sikap saling menghormati, menjaga persahabatan, serta bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan kondusif.

Kegiatan berlangsung dengan lancar dan mendapat respons positif dari para siswa serta pihak sekolah. Sosialisasi ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Polresta Denpasar dalam memberikan edukasi dan pembinaan kepada generasi muda guna menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca