Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

KESEHATAN

Kemenkes Nyatakan 133 Obat Bentuk Sirup Tak Mengandung 4 Zat Berbahaya

Kadinkes Bali Imbau Fasilitas Kesehatan Dapat Kembali Meresepkan dan Memberikan Obat Tersebut

Loading

BALIILU Tayang

:

kadinkes
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Dr. I Nyoman Gede Anom (tengah), didampingi Kepala BPOM Denpasar Drs. I Made Bagus Gerametta, Apt (kiri) dan Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Bali dr. I Gusti Ngurah Putra Sanjaya, Sp.A (K) saat konferensi pers, Sabtu (29/10/2022) di kantor Dinkes Bali. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Terkait kasus gangguan ginjal akut, Pemerintah Provinsi Bali melalui Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Dr. I Nyoman Gede Anom menyampaikan bahwa Kemenkes RI telah merilis surat edaran yang menyatakan sebanyak 133 obat dalam bentuk cair atau sirup tidak mengandung 4 bahan yakni Propilen Glikol, Polientilen Glikol, Sorbitol dan Gliserin atau Gliserol yang dicurigai sebagai penyebab dari gangguan ginjal akut.

Dr. I Nyoman Gede Anom menyatakan, dengan adanya penelitian terbaru dari BPOM RI tersebut, Kemenkes mengimbau kepada fasilitas pelayanan kesehatan mulai surat edaran ini berlaku dapat kembali meresepkan dan memberikan obat dalam bentuk cair atau sirup berdasarkan rilis BPOM RI.

‘’Kemenkes juga mengimbau kepada pihak apotik atau toko obat, dapat menjual bebas dan atau bebas terbatas kepada masyarakat obat-obatan yang sudah dianggap aman oleh BPOM,’’ ucap Kadinkes Bali Gede Anom didampingi Ketua IDAI Bali dan Kepala Balai POM Denpasar kepada media, Sabtu, 29 Oktober 2022 di Kantor Dinkes Bali Jalan Melati Denpasar.

Sedangkan kepada masyarakat, terutama orangtua yang mempunyai anak 0-18 tahun khususnya balita tetap dianjurkan kalau anaknya ada atau tidak gejala batuk pilek demam muntah diare yang disertai oleh menurunnya frekuensi dan jumlah air kencing agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan. ‘’Jangan dulu membeli obat sendiri, sembarangan, jika ada anak yang sakit dengan gejala batuk pilek demam muntah diare tapi disertai dengan penurunan frekuensi dan volume air kencing segera diajak ke fasilitas kesehatan terdekat, puskesmas, klinik, dokter. Jadi minumlah obat yang diberikan tenaga kesehatan,’’ ujar Gede Anom seraya mengingatkan pola hidup bersih dan sehat dengan makan bergizi tetap dianjurkan untuk anak-anak.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Sosialisasikan Penerapan ILP di UPT Puskesmas

Selanjutnya terkait perkembangan kasus gangguan ginjal akut di Bali, Gede Anom menyebutkan ada tambahan satu kasus pasien perempuan umur 9 tahun yang kini sedang dirawat di Rumah Sakit Prof. Ngoerah Denpasar. Selain itu ada bertambah satu kasus meninggal dunia sehingga secara rinci disebutkan dari jumlah kasus di Bali sebanyak 18 orang, 12 meninggal dunia, 5 sembuh dan seorang masih dalam perawatan.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Bali dr. I Gusti Ngurah Putra Sanjaya, Sp.A (K) menambahkan pasien tersebut merupakan pasien yang digolongkan gangguan ginjal akut progresifitas atipikal. Artinya terjadi gangguan ginjal akut yang progresif, cepat yang bukan tipikel daripada gangguan ginjal akut. Gangguan ginjal akut yang tipikal karena gangguan prerenal sebelum masuk ke ginjal, derenal sendiri dan di porenal atau di bawah ginjal misalnya ada batu.

Untuk kasus gangguan ginjal progresifitas atipikal penyebabnya sangat banyak dan bukan intoksitasi saja. ‘’Dari hasil penelusuran yang sedang dirawat ini mengarah ke atipikel yang tidak keras bukan mengarah ke intoksitasi,’’ bebernya.

Dikatakan, kasus terakhir gejalanya di masalah produksi kencing yang berkurang. Sempat fungsi ginjalnya menurun 15 persen namun kini sudah mencapai 55 persen.

Sementara Kepala BPOM Denpasar Drs. I Made Bagus Gerametta, Apt mengungkapkan, dari hasil registrasi BPOM RI pada rilis keenam menyatakan ada tambahan sebanyak 65 obat cair atau sirup yang ditemukan tidak menggunakan 4 pelarut zat berbahaya. Dengan demikian, total obat yang sudah diliris BPOM sebanyak 198 dimana 133 sudah turun SE dari Kemenkes dan 65 obat lagi sedang menunggu SE Kemenkes tambahan berikutnya.

‘’Balai POM juga menyampaikan obat dalam bentuk sirup kering dan cairan oral untuk pengganti cairan tubuh tidak menggunakan 4 pelarut berbahaya tersebut. Dan ini digunakan aman sepanjang aturan pakai,’’ ujarnya.

Baca Juga  Optimalisasi Tangani Stunting, Pemkot Denpasar dan IDAI Bali Lakukan Pencegahan Berkelanjutan

‘’Kami juga menunggu surat edaran terbaru dari Kemenkes untuk tambahan 65 obat. Sementara surat edaran yang kami terima pada 24 Oktober sebanyak 133 obat yang boleh bebas dan diresepkan dan dijual,’’ imbuh Kadinkes Gede Anom. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KESEHATAN

Satu Suntikan Vaksin Heksavalen, Gabungkan Enam Perlindungan Penyakit

Bali Jadi Daerah Percontohan Vaksin Heksavalen

Loading

Published

on

By

Vaksin Heksavalen
Balita saat menerima suntikan Vaksin Heksavalen. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Orang tua kini bisa sedikit bernapas lega. Keluhan tentang banyaknya suntikan saat imunisasi dasar pada bayi akhirnya direspons pemerintah dengan meluncurkan Vaksin Heksavalen, inovasi yang menggabungkan enam perlindungan penyakit ke dalam satu suntikan.

Provinsi Bali menjadi salah satu dari tiga wilayah percontohan nasional bersama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mulai mengimplementasikan vaksin pada bulan Oktober tahun ini, dan menyasar bayi yang lahir setelah 9 Juli 2025.

Vaksin Heksavalen memberikan perlindungan terhadap Difteri, Pertusis, TetanusH hepatitis B, Haemophilus Influenzae tipe B (Hib), dan Polio, serta menggantikan jadwal imunisasi dasar pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Gede Nyoman Sebawa, menyebut terobosan ini merupakan hasil evaluasi lapangan terhadap berbagai keluhan masyarakat.

“Kami menemukan banyak orang tua mengeluhkan anaknya terlalu sering disuntik saat imunisasi. Kalau dulu dua jenis vaksin disuntikkan terpisah, sekarang cukup satu kali,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/10).

Menurutnya, pengurangan jumlah suntikan tidak hanya mengurangi rasa sakit dan trauma pada bayi, tetapi juga meningkatkan kepatuhan orang tua untuk menuntaskan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

Selain dari sisi kenyamanan, vaksin kombinasi ini juga menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan cakupan imunisasi yang sebelumnya kerap muncul antara vaksin Pentavalen dan Polio injeksi.

“Dengan dijadikan satu dosis Heksavalen, cakupannya akan sama. Ini langkah penting agar semua bayi mendapat perlindungan penuh,” jelas dr. Sebawa.

Dari sisi pelaksanaan, pihaknya menambahkan efisiensi juga dirasakan oleh tenaga kesehatan. Pemberian vaksin kini lebih praktis dan efektif, sehingga pelayanan dapat dioptimalkan di berbagai fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri, hingga posyandu.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Sosialisasikan Penerapan ILP di UPT Puskesmas

“Untuk Kabupaten Buleleng, sasaran awal bayi usia 2 bulan sampai 2 bulan 29 hari sudah terdata sekitar 2.450 bayi,” tambahnya.

Dr. Sebawa berharap, dengan penerapan vaksin Heksavalen ini, pemerintah menargetkan capaian IDL sebesar 95 persen, sekaligus mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat enam penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Pastikan Kesehatan, Dinkes Denpasar Rutin Cek Kesehatan Warga Terdampak Banjir

Published

on

By

SAFARI KESEHATAN: Pelaksanaan safari kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar dengan menyasar wilayah terdampak pada Minggu (14/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar terus berupaya memastikan kesehatan warga yang terdampak banjir melalui program Safari Kesehatan yang digelar secara rutin. Giat tersebut dikemas dengan sistem jemput bola yang menyasar titik-titik wilayah terdampak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, AA Ayu Agung Candrawati saat dikonfirmasi Minggu (14/9) menyatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk memantau dan menjaga kesehatan warga yang berada di kantong-kantong pengungsian akibat banjir.

“Sebagai upaya memastikan kesehatan warga terdampak banjir, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kesehatan secara rutin menggelar Safari Kesehatan. Pemeriksaan menyasar kantong-kantong pengungsian, dengan menerjunkan Tim Kesehatan Puskesmas yang mewilayahi,” kata Agung Candrawati.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan kesehatan warga terdampak banjir tetap terjaga dan dapat segera mendapatkan penanganan jika ditemukan masalah kesehatan.

“Harapannya dapat memastikan kesehatan warga terdampak,” ujarnya.

Bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, Agung Candrawati mengimbau untuk menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat, atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus di wilayah masing-masing.

“Warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dapat menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan Safari Kesehatan, tim kesehatan juga memberikan edukasi dan penyuluhan tentang kesehatan kepada warga terdampak, termasuk cara pencegahan penyakit yang umum terjadi pasca-banjir seperti diare dan penyakit kulit. Selain itu, dilakukan juga distribusi obat-obatan dan peralatan kesehatan dasar untuk mendukung pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian.

Dengan upaya ini, Dinkes Denpasar berharap dapat meminimalisir risiko kesehatan bagi warga terdampak banjir dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai.

“Kerja sama antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan pemerintah setempat diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan kesehatan warga terdampak dan mempercepat proses pemulihan pasca-banjir,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  Optimalisasi Tangani Stunting, Pemkot Denpasar dan IDAI Bali Lakukan Pencegahan Berkelanjutan

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Kunjungan Spesialis Obgyn ke Puskesmas, Tingkatkan Keterampilan Nakes untuk Pelayanan Prima bagi Ibu Hamil

Published

on

By

obgyn puskesmas buleleng
Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng saat intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Program ini tidak hanya memberikan akses pemeriksaan bagi ibu hamil oleh dokter spesialis, tetapi juga bertujuan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas dalam memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Nyoman Budiastawan, menjelaskan bahwa melalui kunjungan ini, dokter umum dan bidan di Puskesmas mendapatkan pelatihan langsung dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi dalam hal pemeriksaan kehamilan, deteksi risiko tinggi, serta penggunaan USG dasar.

“Diharapkan setelah mendapatkan pendampingan dari dokter spesialis, tenaga medis di Puskesmas mampu melakukan pemeriksaan dengan USG secara mandiri. Ini akan sangat membantu dalam deteksi dini risiko kehamilan, sehingga ibu hamil dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak awal,” ujar Budiastawan, Jumat (14/3).

Budiastawan menjelaskan, pada semester pertama, program ini telah dilaksanakan di 16 Puskesmas, dengan setiap Puskesmas memeriksa 10 ibu hamil oleh dokter spesialis. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir 90% ibu hamil mengalami kehamilan berisiko tinggi, terutama akibat kurangnya perencanaan kehamilan, usia di atas 35 tahun, serta anemia.

Dengan adanya peningkatan keterampilan tenaga kesehatan, Puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan prima secara mandiri, mulai dari deteksi dini, pemeriksaan rutin, hingga penanganan awal bagi ibu hamil. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, maka rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut akan segera disiapkan.

Selain itu, Budiastawan mengimbau pasangan usia subur untuk merencanakan kehamilan dengan baik, termasuk memperhatikan usia dan kondisi kesehatan sebelum hamil. Bagi ibu hamil, pemeriksaan rutin ke Puskesmas setiap bulan sangat dianjurkan agar potensi risiko dapat terdeteksi sejak dini.

Baca Juga  Optimalisasi Tangani Stunting, Pemkot Denpasar dan IDAI Bali Lakukan Pencegahan Berkelanjutan

“Dengan peningkatan keterampilan tenaga medis di Puskesmas, kami berharap ibu hamil dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik, cepat, dan tepat. Langkah ini juga berkontribusi dalam menekan angka kematian ibu dan bayi, serta mencegah risiko seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, gizi buruk, dan stunting,” tutup Budiastawan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca