Connect with us

EKONOMI & BISNIS

Diplomasi Gubernur Koster dengan Christian Dior Angkat Martabat Produk Warisan Budaya Bali di Fashion Kelas Dunia

BALIILU Tayang

:

de
Gubernur Bali Wayan Koster perlihatkan dokumen memorandum saling pengertian.

Denpasar, baliilu.com – Diplomasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bali melalui Gubernur Bali Wayan Koster dengan Christian Dior yang difasilitasi oleh Sekjen Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar RI di Paris, dan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI terkait tentang pemanfaatan produk warisan budaya Bali adi luhung, yang digunakan sebagai fashion berkelas dunia merupakan momentum bersejarah bagi Bali yang mampu mengangkat kembali martabat warisan budaya berupa Kain Endek Bali yang diproduksi oleh para penenun di Bali.

Atas kesuksesan diplomasi ini, membuat Gubernur Koster memberikan apresiasi kepada Sekjen Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar RI di Paris, dan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI. Hal itu diungkapkannya saat menandatangani Memorandum Saling Pengertian (MSP) terkait Pernyataan Kehendak antara Pemerintah Provinsi Bali Republik Indonesia dan Christian Dior Couture S.A tentang Kerja Sama Dalam Mempromosikan Ekspresi Budaya Tradisional Indonesia, Jumat (8/1) secara virtual yang dilakukan oleh Senior Vice President General Counsel, Marie Champey, dan disaksikan langsung oleh Sekjen Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar RI di Paris, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Bali, Kepala Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Bali, dan Kepala Biro Hukum Setda Provinsi Bali.

Gubernur Koster yang juga menjabat sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini, lebih lanjut mengatakan model kerjasama antara Pemerintah Provinsi Bali dengan Christian Dior yang difasilitasi oleh Sekjen Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar RI di Paris, dan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan juga merupakan strategi promosi produk budaya lokal Bali dalam kancah dunia yang bermanfaat secara ekonomi dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Bali dengan tetap melestarikan warisan budaya.

Baca Juga  Dokar City Tour Denpasar Beroperasi Terapkan Prokes, Sabtu-Minggu Gratis

“Jadi, penggunaan Kain Endek Bali oleh Christian Dior akan semakin meningkatkan motivasi dan semangat para perajin produk budaya masyarakat Bali dalam rangka meningkatkan kualitas produksinya,” kata Koster di Gedung Gajah Jayasabha, Denpasar.

Untuk itu, mantan Anggota DPR RI 3 Periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini sangat mengharapkan agar model kerjasama seperti ini terus dapat dikembangkan di masa yang akan datang, tidak terbatas hanya pada Kain Endek Bali, tetapi juga untuk produk berbasis budaya branding Bali lainnya yang merupakan keunggulan inovasi dan kreasi masyarakat Bali. (gs)

Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Kodim Bangli Dukung Program Ketahanan Pangan, Lakukan Pendampingan Penanaman Padi

Published

on

By

Anggota Kodim 1626/Bangli turut melaksanakan pendampingan penanaman padi di Bangli.

Bangli, baliilu.com – Upaya pemerintah dalam mendukung program ketahanan pangan khususnya swasembada pangan, ditindaklanjuti Anggota Kodim 1626/Bangli dengan turut melaksanakan pendampingan penanaman padi.

Kegiatan dilakukan di beberapa wilayah binaan Koramil Jajaran Kodim 1626/Bangli seperti yang dilakukan Anggota Koramil 1626-02/Susut melaksanakan pendampingan ketahanan pangan menanam padi bersama kelompok tani milik Subak Sala, Desa Abuan Kecamatan Susut, Bangli, Sabtu (23/1/2021).

Dandim 1626/Bangli Letkol Inf. I Gde Putu Suwardana, S.I.P., menyampaikan, kegiatan pendampingan kepada kelompok tani merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan sebagai bagian dari fungsi pembinaan teritorial.

“Sudah merupakan tugas kami sebagai aparat komando kewilayahan membantu para petani dalam bidang pertanian, seperti kegiatan tanam padi yang dikerjakan saat ini,” terang Dandim.

Dandim juga memerintahkan anggota jajarannya untuk melaksanakan kegiatan ini dengan penuh rasa semangat dan kebersamaan dengan para petani dalam melakukan penanaman padi, bukan hanya saat panen raya saja tetapi juga di saat penyemaian bibit padi, pengolahan lahan sawah, perawatan sampai panen padi.

“Seperti saat ini yang sedang mereka lakukan adalah menanam padi di sawah, sebagai wujud rasa kepedulian terhadap para petani,” imbuhnya.

Dandim 1626/Bangli juga mengatakan, anggota jajaran yang diturunkan di lapangan bertujuan untuk membantu dengan harapan dapat memberikan motivasi dan nilai positif bagi petani agar lebih bersemangat dalam bekerja guna meningkatkan hasil yang bermuara pada terwujudnya swasembada pangan serta ketahanan pangan masyarakat terutama di wilayah pedesaan.(tri)

Baca Juga  Perekonomian Bali Alami Kontraksi Triwulan II -10,98%, Wagub Cok Ace: Berbagai Pemulihan Dilakukan Pemerintah Pusat dan Daerah
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Stok Berkurang, Harga Daging Babi Meroket

Published

on

By

de
Bibit babi jenis Landrace yang diternak oleh sejumlah masyarakat di Buleleng.

Buleleng, baliilu.com – Belakangan ini harga daging babi di pasaran meroket. Melambungnya harga daging babi itu, dipicu oleh kelangkaan daging babi karena menurunnya budidaya babi pasca mewabahnya Virus Suspecy African Swine Fever (ASF) di awal tahun 2020 lalu. Tak pelak, kondisi ini membuat pasokan daging babi menjadi langka.

Dari data yang dihimpun Dinas Perdagangan, Perindustrian Koperasi, dan UKM (Disdagprinkop UKM) Buleleng menyebut, saat ini harga daging babi di pasar untuk kualitas super tembus di angka Rp 100 ribu dari sebelumnya Rp 80 ribu per kilogram (Kg). Sementara, harga daging babi kualitas nomor dua naik menjadi Rp 95 ribu dari awalnya sekitar Rp 75 ribu per Kg.

Kepala Disdagprinkop UKM Buleleng Dewa Made Sudiarta ketika dikonfirmasi menjelaskan, kenaikan harga daging babi terjadi sejak akhir November 2020 lalu. Kenaikan ini, karena adanya hari-hari raya besar Agama Hindu. Dikatakan, kenaikan harga daging babi ini tidak signifikan.

“Sampai saat ini kenaikan harga daging babi masih bisa dijangkau masyarakat. Dengan kondisi seperti ini, pembelian daging juga tidak sering dilakukan paling hanya pada hari tertentu saja, jadi tidak berpengaruh signifikan ke masyarakat,” kata Dewa Sudiarta, Sabtu (23/1) melalui telepon seluler yang juga diterima media ini.

Menurutnya, saat ini stok daging babi sangat berkurang. Pasalnya, dengan adanya penyakit babi membuat para peternak lokal enggan beternak babi. Sehingga, kebutuhan akan daging babi saat ini dipasok dari luar Buleleng. “Kami sudah koordinasi dengan dinas pertanian untuk minimnya pasokan lokal,” terangnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Buleleng Made Sumiarta menegaskan, pasokan daging babi di awal tahun 2021 berkurang, karena peternak di Buleleng masih trauma sejak adanya virus babi yang hingga kini masih belum bisa dikendalikan. “Banyak warga takut memelihara babi, sehingga harga daging babi menjadi naik,” jelas Sumiarta.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Dinilai Tim IGA Pusat, Rai Mantra Paparkan Inovasi Dharma Negara Alaya

Meski begitu, Distan Buleleng telah meminta para peternak di Buleleng untuk lebih memilih beternak babi jenis Bali, meskipun daging yang dihasilkan lebih sedikit dari babi jenis landrace. Sebab, babi jenis landrace lebih rentan terpapar penyakit tersebut.

Terkait harga bibit babi saat ini, menurut Sumiarta, berkisar Rp 700 ribu hingga jutaan untuk jenis bibit babi Bali. 

“Kami coba arahkan ke babi Bali, hanya saja ini baru dimulai. Ya, karena dari segi jumlah daging dihasilkan sedikit, jadi jelas tidak menghasilkan bagi peternak. Tapi kami tetap upayakan, agar para peternak mau beralih ke babi Bali,” singkatnya. (*/gs)

Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Menteri KKP: Harapan Kita Menjadi Produsen Ekspor Lobster Terbesar di Dunia

Published

on

By

Foto: (kanan-kiri) Ketua GPLI Gunawan Suherman, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono, Sekjen KKP Antam Novambar, Bupati Buleleng Putu Gede Suradnyana, dan Sekjen GPLI Sofiyan

Buleleng, baliilu.com – Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono optimis Indonesia menjadi pengekspor lobster hasil budidaya terbesar di dunia. Optimisme ini didapat, setelah mendengar presentasi dari Gabungan Pengusaha Lobster Indonesia (GPLI) serta melihat langsung panen lobster hasil budidaya dikelola PT. Lautan Berkah Perkasa (LBP) yang tergabung dalam GPLI.

“Tuhan sudah memberikan alam kepada kita yang begitu luar biasa. Pesan saya jelas, budidaya ini akan kita kembangkan. Itu bukan menjadi tanggung jawab Dirjen Budidaya saja. Saya akan all out ini, untuk dapat dikembangkan di dalam negeri. Harapan kita menjadi produsen ekspor lobster terbesar di dunia,” tegas Menteri Trenggono di Simberkima Buleleng Bali, pada Rabu, 20 Januari 2021.

Menteri Trenggono meyakini, kalau sistem ini dikembangkan di beberapa wilayah, akan sangat bagus bisa meningkatkan ekonomi nelayan Indonesia. Dikatakan sudah terbukti, budidaya itu berkesinambungan dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Ini adalah satu bukti, saya meyakini budidaya itu berkesinambungan menjaga kelestarian lingkungan. Kelestarian sumberdaya lobster,” terangnya.

Sementara itu Ketua GPLI Gunawan menyampaikan, bahwa GPLI sangat mendukung pernyataan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut. Bahwa Indonesia memiliki semua potensi untuk menjadi negara pengekspor lobster terbesar di dunia.

“Kami akan jadikan Sumberkima sebagai Lobster Estate pertama di Indonesia dan berikutnya akan kami kembangkan sampai ke seluruh pelosok Nusantara. GPLI menargetkan ekspor lobster hasil budidaya sebesar 30 ribu ton per tahun yang kami capai dalam waktu 10 tahun. Sehingga ke depan semakin banyak benih yang terserap untuk dibudidayakan di dalam negeri,” papar Gunawan.

Lebih lanjut Gunawan mengatakan, Indonesia bisa mencapai target itu. Dengan melihat luas laut kaya sumber benih lobster dan pakan melimpah.

Baca Juga  I Wayan Arthana: Bonsai, Hiburan Positif di Tengah Pandemi

“Sebelumnya kerang-kerang tidak terlihat nilai ekonomisnya bagi masyarakat. Tapi sekarang masyarakat mencari kerang untuk dijual ke pembudidaya di sini. Begitu pun dengan bulu babi yang begitu melimpah. Sebelumnya hanya menjadi hama koral, kini dapat dimanfaatkan sebagai pakan lobster,” ungkapnya.

“Dan kami tentunya dari GPLI akan mengajak nelayan dan masyarakat pesisir untuk bergerak dan berusaha, salah satunya untuk budidaya lobster. Dengan adanya usaha lobster ini, akan sangat membantu menghidupi jutaan nelayan dan masyarakat pesisir Indonesia di saat pandemi Corona. Dan hari ini kita sudah melihat dan membuktikan bahwa di sini budidaya lobster dapat dilakukan,” kata Gunawan. (gs)

Lanjutkan Membaca