Connect with us

KESEHATAN

5 Wilayah Masuk Zone Orange, GTPP Covid-19 Denpasar Lakukan Langkah Taktis dan Pendampingan

BALIILU Tayang

:

de
Walikota Denpasar selaku Ketua GTPP Covid-19 Kota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra saat memimpin Rapat Evaluasi Penanganan Covid-19 Kota Denpasar di Kantor Walikota Denpasar, Jumat (20/11).

Denpasar, baliilu.com – Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kota Denpasar mengingatkan satgas desa dan kelurahan yang wilayahnya masih zona orange untuk menggenjot penanganan Covid-19 sehingga kasusnya bisa diturunkan. Hal ini terungkap saat pelaksanaan Rapat Evaluasi Penanganan Covid-19 Kota Denpasar, Jumat (20/11).

Hingga saat ini, dalam peta sebaran zona resiko Covid-19 di Kota Denpasar per 15 November 2020, sebanyak 24 desa/kelurahan berstatus zona hijau, 14 desa/kelurahan berstatus zona kuning dan 5 desa/kelurahan berstatus zona orange. Bahkan, khusus Desa Ubung Kaja berada pada zona orange yang cukup lama.

Ketua GTPP Covid-19 Kota Denpasar yang juga Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan jika merujuk pada data sebaran resiko, maka untuk jangka pendek agar dirancang langkah taktis. Dimana, desa/kelurahan yang mengalami stagnasi atau tetap berada pada zona resiko orange cukup lama akan dilaksanakan pendampingan oleh GTPP Kota Denpasar.

“Jadi bagi desa/kelurahan yang masih bertengger di zona resiko orange akan kami laksanakan pendampingan, dimana para camat akan memimpin koordinasi untuk lebih memaksimalkan upaya pencegahan penularan dengan lebih disiplin dalam pengawasan penerapan protokol kesehatan dengan harapan kasus dapat dikendalikan dan penurunan zona resiko dapat dimaksimalkan. Bagi desa/kelurahan lainnya kita harus terus semangat sehingga dapat menjadi zona hijau,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, hingga saat ini ada beberapa langkah yang sudah dan akan ditempuh. Yakni menggencarkan serta memaksimalkan penerapan 3 T (Test, Tracing dan Treatment). Penerapan ini juga sejalan dengan arahan Satgas Covid-19 Nasional sebagai upaya percepatan penanganan dan pencegahan penularan Covid-19. Selain itu penegakan dengan menggelar Operasi Yustisi Protokol Kesehatan akan semakin digencarkan di daerah dengan tingkat penyebaran kasus yang tidak terkendali. Sosialisasi dan edukasi berkelanjutan secara rutin dengan menggunakan mobil calling atau door to door, serta melaksanakan penyemprotan disinfektan wilayah secara terpadu.

“Tentunya juga kami berharap kepada tokoh-tokoh masyarakat agar ikut andil menjadi panutan dalam penerapan 3 M atau disiplin penerapan protokol kesehatan di masyarakat,” terangnya.

Selain itu, Rai Mantra yang didampingi Jubir GTPP Kota Denpasar Dewa Gede Rai menambahkan GTPP juga mewanti-wanti masyarakat yang hendak melaksanakan upacara adat dan keagamaan. Dimana, GTPP pada prinsipnya tidak melarang pelaksanaan upacara adat dan keagamaan, namun pelaksanaan wajib menerapkan disiplin protokol kesehatan. Sehingga pelaksanaan upacara adat dan keagamaan tidak menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

“Lakukan 3 M (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak), hindari 3 R (ramai-ramai, rumpi-rumpi dan ruang sempit), jadi ini merupakan upaya untuk menekan penularan yang bermuara pada menurunya kasus secara komulatif,” ujarnya.

Selanjutnya untuk upaya menekan angka kematian, GTPP Covid-19 Kota Denpasar juga turut memberikan perhatian serius klaster rumah tangga. Hal ini lantaran dengan adanya pola penyebaran yang tidak terkendali di dalam keluarga dapat memberikan dampak serius bagi usia rentan. Karenanya, GTPP memutuskan untuk memberikan ruang karantina atau isolasi di rumah singgah bagi pasien positif Covid-19 yang tanpa gejala.

Sedangkan untuk mendukung meningkatnya angka kesembuhan pasien Covid-19, GTPP Covid-19 Kota Denpasar turut memaksimalkan peran serta rumah sakit rujukan serta memastikan ketersediaan ruang isolasi. Selain itu, penanganan dengan melaksanakan program kerja juga difokuskan bagi daerah yang penyebaranya beresiko tinggi.

“Kami akan terus berupaya semaksimal mungkin untuk menekan kasus dan penularan, menekan angka kematian dan meningkatkan kesembuhan pasien, tentu kami juga berharap partisipasi dan kesadaran masyarakat untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan berkelanjutan,” ujarnya.

Pun demikian, seluruh upaya yang dirancang dan dilaksanakan memerlukan kesadaran semua pihak untuk mendukung langkah-langkah strategis GTPP. Sehingga dalam pelaksanaan dapat terintegrasi dan terpadu.

“Jadi diperlukan kesadaran kolektif untuk mendukung langkah strategis GTPP, sehingga percepatan penanganan dapat dimaksimalkan dan Covid-19 dapat segera teratasi, selain juga penegakan aturan bagi pelanggar disiplin prokes sesuai dengan Pergub dan Perwali juga akan terus digencarkan,” pungkasnya. (eka)

Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KESEHATAN

Ny. IA Selly Mantra Paparkan Inovasi TP PKK Kota Denpasar Cegah Penyebaran Covid-19

Published

on

By

bt
Ketua Tim Penggerak PKK Denpasar Ny. IA Selly Dharmawijaya Mantra

Denpasar, baliilu.com – Sebagai upaya untuk menyosialisasikan pencegahan dan penanganan Covid-19, Ketua Tim Penggerak PKK Denpasar Ny. IA Selly Dharmawijaya Mantra memaparkan berbagai inovasi pencegahan Covid-19 dalam kegiatan talk show bertajuk Ngopi Siang tanggap Covid-19 #ingatpesanibu3M yang digelar secara on air oleh CDBS Radio Bali. Dipandu langsung oleh annoucer, Yanti Putri. Pembicara lainnya adalah Sekretaris TP PKK Provinsi Bali, Ni Mande Swastini. Kegiatan ini berlangsung, Kamis (26/11) di Denpasar.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua TP PKK Kota Denpasar, IA Selly Dharmawijaya Mantra menjelaskan berbagai inovasi dan kreativitas TP PKK Kota Denpasar dalam menghadapi pandemi Covid-19 dengan mendukung, mendorong, dan mencegah Covid-19 dengan sasaran keluarga sebagai unit kecil dari masyarakat.

“Dengan menyosialisasikan pencegahan dan penanganan Covid-19 secara virtual dan webinar dengan menggandeng komunitas serta layanan psikolog gratis melalui kegiatan layanan mobile WA, Instagram, dan Youtube dapat menghindari kerumunan warga,” kata Selly Mantra.

Lebih lanjut Selly Mantra menjelaskan dalam pandemi Covid-19 peran ibu sangat penting di dalam keluarga dimana peran ibu dalam memberdayakan keluarga sehingga dapat mempercepat Gerakan PKK yang terbentuk sangat nyata di masyarakat begitu pula percepatan penyampaian informasi-informasi terkait tentang disiplin dalam Protokol Kesehatan.

“Ibu – ibu diharapkan mampu beradaptasi lebih cepat dalam mengahadapi Covid-19 dikarenakan kini klaster keluarga menjadi penyebab tingginya kasus Covid-19 sehingga ibu menjadi pendamping dan bisa menyosialisasikan penerapan  protokol kesehatan di keluarga,” ucapnya.

Selebihnya Selly Mantra mengatakan TP PKK Kota Denpasar terus berupaya untuk menyosialisasikan Gerakan Pesan Ibu 3M di masyarakat dengan melalui layanan Mobile Konseling “SIMELLING CERIA” layanan ini  dilakukan dengan metode penyuluhan keliling dan penyuluhan jemput bola yang terpadu dengan OPD menyasar Desa/Kelurahan, Kelompok Posyandu se- Kota Denpasar.

“TP-PKK Kota Denpasar juga melaksanakan Gerakan CTS (Cek Tetangga Sebelah) yang merupakan inovasi TP-PKK Kota Denpasar di masa pandemi Covid-19  dalam melakukan pemberdayaan keluarga melalui kelompok Dasa Wisma yang mempermudah pelaksanaan sosialisasi protokol Kesehatan menjalani adaptasi kebiasaan baru,” pungkas Selly Mantra. (eka)

Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Zona Orange Menurun, GTPP Kota Denpasar Apresiasi Kiat Satgas Desa/Lurah Dukung Percepatan Penanganan Covid-19

Published

on

By

bt
Pelaksanaan Rapat Evaluasi Penanganan Covid-19 Kota Denpasar secara virtual pada (26/11).

Denpasar, baliilu.com – Sebagai upaya untuk mendukung percepatan penanganan Covid-19 di Kota Denpasar, Gugus Tugas Percepatan Penangana  (GTPP) Covid-19  melaksanakan sinkronisasi data persebaran kasus. Hal ini dilaksanakan sebagai upaya mendukung pemenuhan database yang sesuai alamat tinggal dan sesuai identitas kependudukan. Hal ini terungkap saat pelaksanaan Rapat Evaluasi Penanganan Covid-19 Kota Denpasar pada Kamis (26/11).

Hingga saat ini, dalam peta sebaran zona risiko Covid-19 di Kota Denpasar per 25 November 2020, sebanyak 17 desa/kelurahan berstatus zona hijau, 24 desa/kelurahan berstatus zona kuning dan 2 desa/kelurahan berstatus zona orange. Dimana, Desa Peguyangan Kangin dan Kelurahan Padangsambian saat ini bertenger dengan status zona risiko berwarna orange.

Sekretaris GTPP Covid-19 Kota Denpasar yang juga Kadiskominfo, I Dewa Made Agung mengatakan bahwa GTPP Covid-19 Kota Denpasar mengingatkan Satgas Desa dan Kelurahan yang wilayahnya masih berada pada zona orange untuk menggenjot penanganan Covid-19 sehingga kasusnya bisa diturunkan. Dikatakannya bahwa jika merujuk pada data sebaran risiko, maka untuk jangka pendek agar dirancang langkah taktis. Dimana, desa/kelurahan yang mengalami stagnansi atau tetap berada pada zona risiko orange cukup lama akan dilaksanakan pendampingan oleh GTPP Kota Denpasar.

“Jadi bagi desa/kelurahan yang masih bertengger di zona risiko orange akan kami laksanakan pendampingan, dimana para Camat akan memimpin koordinasi untuk lebih memaksimalkan upaya pencegahan penularan dengan lebih disiplin dalam pengawasan penerapan protokol kesehatan dengan harapan kasus dapat dikendalikan dan penurunan zona risiko dapat dimaksimalkan, bagi desa/kelurahan lainya kita harus terus semangat sehingga dapat menjadi zona hijau,” ujarnya.

Pun demikian pihaknya turut memberikan apresiasi terhadap upaya Satgas desa/kelurahan yang dikomandani oleh perbekel/lurah yang telah memberikan upaya maksimal  dalam mendukung percepatan penanganan Covid-19 saat ini.

“Dengan adanya sinkronisasi data persebaran kasus diharapkan data dapat tersaji by name and by address, sehingga pengawasan isolasi dan penanganan dapat dioptimalkan serta mampu mencegah penyebaran lanjutan yang tidak terkendali. Pada kesempatan ini kami atas nama GTPP turut mengapresiasi perbekel/lurah bersama Satgas desa/kelurahan serta Satgas lingkungan yang tak kenal lelah dan terus berupaya maksimal dalam pencegahan dan penanganan Covid-19 ini,” ujarnya.

Ditambahkannya bahwa hingga saat ini ada beberapa langkah yang sudah dan akan ditempuh. Yakni menggencarkan serta memaksimalkan penerapan 3 T (Test, Tracing dan Treatment). Penerapan ini juga sejalan dengan arahan Satgas Covid-19 Nasional sebagai upaya percepatan penanganan dan pencegahan penularan Covid-19. Selain itu, penegakan dengan menggelar Operasi Yustisi Protokol Kesehatan akan semakin digencarkan di daerah dengan tingkat penyebaran kasus yang tidak terkendali. Sosialisasi dan edukasi berkelanjutan secara rutin dengan menggunakan mobile calling atau door to door, serta melaksanakan penyemprotan disinfektan wilayah secara terpadu.

“Tentunya juga kami berharap kepada tokoh-tokoh masyarakat agar ikut andil menjadi panutan dalam penerapan 3 M atau disiplin penerapan protokol kesehatan di masyarakat,” terangnya.

Di tempat terpisah, Rai Mantra yang didampingi Jubir GTPP Kota Denpasar Dewa Gede Rai menambahkan bahwa GTPP juga mewanti-wanti masyarakat yang hendak melaksanakan upacara adat dan keagamaan agar betul-betul memperhatikan tata laksana kegiatan sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19. Dimana, GTPP pada prinsipnya tidak melarang pelaksanaan upacara adat dan keagamaan, tetapi pelaksanaan wajib menerapkan disiplin protokol kesehatan. Sehingga pelaksanaan upacara adat dan keagamaan tidak menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

“Lakukan 3 M (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak), Hindari 3 R (ramai-ramai, rumpi-rumpi dan ruang sempit), jadi ini merupakan upaya untuk menekan penularan yang bermuara pada menurunya kasus secara komulatif,” ujarnya.

Selanjutnya untuk upaya menekan angka kematian, GTPP Covid-19 Kota Denpasar juga turut memberikan perhatian serius Klaster Rumah Tangga. Hal ini lantaran dengan adanya pola penyebaran yang tidak terkendali di dalam keluarga dapat memberikan dampak serius bagi usia rentan. Karenanya, GTPP memutuskan untuk memberikan ruang karantina atau isolasi di rumah singgah bagi pasien positif Covid-19 yang tanpa gejala.

Sedangkan untuk mendukung meningkatnya angka kesembuhan pasien Covid-19, GTPP Covid-19 Kota Denpasar turut memaksimalkan peran serta rumah sakit rujukan serta memastikan ketersediaan ruang isolasi. Selain itu, penanganan dengan melaksanakan program kerja juga difokuskan bagi daerah yang penyebarannya berisiko tinggi.

Pun demikian, seluruh upaya yang dirancang dan dilaksanakan memerlukan kesadaran semua pihak untuk mendukung langkah-langkah strategis GTPP. Sehingga dalam pelaksanaan dapat terintegrasi dan terpadu.

“Jadi diperlukan kesadaran kolektif untuk mendukung langkah strategis GTPP, sehingga percepatan penanganan dapat dimaksimalkan dan Covid-19 dapat segera teratasi, selain juga penegakan aturan bagi pelanggar disiplin prokes sesuai dengan Pergub dan Perwali juga akan terus digencarkan,” pungkasnya. (eka)

Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Ny. Putri Koster: Anak-anak adalah Aset Bangsa, Mari Jaga dengan Cegah Stunting

Published

on

By

de
Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster

Denpasar, baliilu.com – Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster mengingatkan pentingnya gaya hidup sehat untuk mencegah stunting sejak dini.

“Kita bisa mulai dari diri sendiri dulu, terutama untuk kalangan remaja. Jika melaksanakan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat-red) terlebih dahulu itu akan memberikan dampak positif untuk jangka panjang, dan juga bisa memberikan efek positif untuk keturunan kita kelak,” ujar Ny. Putri Koster saat berkesempatan menjadi keynote speaker dalam webinar Hari Kesehatan Nasional ke-56 dengan tema ‘’Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanganan Stunting’’, di Gedung Jaya Sabha Denpasar, Rabu (25/11).

Dalam acara yang diikuti 500 lebih peserta itu juga menghadirkan Kepala Dinas Kesehatan dr. Ketut Suarjaya dan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Putu Anom Agustina sebagai narasumber.

Berikutnya, Ny. Putri Koster melanjutkan jika peranan orangtua juga amat diperlukan. Khususnya dalam menjaga perilaku hidup bersih dan asupan bergizi sejak bayi dalam kandungan. Dimana hal ini sangat diperlukan demi menjaga kesehatan janin dan upaya pencegahan stunting sejak dini. “Para orangtua juga bisa membekali putra-putri mereka yang masih remaja untuk mengambil peranan dalam upaya pencegahan stunting bagi keturunan mereka kelak,” imbuhnya dalam webinar yang juga dihadiri oleh kader PKK Kab/Kota serta desa seluruh Bali.

Ny. Putri Koster menyatakan bahwa keberlangsungan bangsa dan negara ke depan bergantung pada generasi penerus yang tidak hanya sehat fisik dan rohani, namun juga berakhlak serta cerdas. Dan fenomena stunting merupakan penghambat atas tujuan utama tersebut. “Jadi di sini semua orang berperan dalam memajukan bangsa dan negara kita ke depan,” imbuhnya.

Ia menyatakan, meskipun Bali mendapat predikat angka terendah stunting secara nasional, namun semua pihak tidak boleh lengah. Semua stakeholder harus bahu-membahu menghapus stunting di Bali. “Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, karena butuh peranan semua pihak. Pemerintah mungkin bisa mengeluarkan skema dan rencana pencegahan, namun tetap ujung tombak pencegahan stunting ada di masyarakat terutama keluarga,” beber seniman multitalenta ini.

Ia juga meyakini dengan kerja keroyokan dari berbagai instansi, baik PPK, Dinas Kesehataan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Adat, serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, maka masalah ini akan cepat terselesaikan.

Ny. Putri Suastini Koster

Lebih lanjut, pendamping orang nomor satu di Bali ini juga mengapresiasi langkah-langkah posyandu dalam menjaga kesehatan bayi dan balita. Meskipun di tengah pandemi yang melarang kegiatan berkerumun, kader posyandu tak lelah mengunjungi warga untuk memeriksa kesehatan bayi dan balita. “Saya sangat berterima kasih atas pengabdian para kader posyandu. Ke depan mungkin pemerintah desa bisa berkoordinasi dengan posyandu setempat agar mengalokasikan APBDes untuk kegiatan pemenuhan gizi anak dan balita,” tambahnya seraya mengatakan akan mengajak kader-kader PKK dan Posyandu di seluruh desa untuk terus berupaya melakukan edukasi untuk mengurangi angka stunting.

Sementara Kadis Kesehatan dr. Suarjaya mengatakan jika indikator kesehatan untuk anak-anak adalah menurunkan angka kematian bayi dan balita, berikutnya menurunkan angka stunting. Ia menjelaskan stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang terjadi sejak masih dalam kandungan. “Pertumbuhan meliputi bertambahnya ukuran anak secara fisik, sementara perkembangan berkaitan dengan perubahan kognitif berupa bertambah pintar dan spiritual. Jadi stunting adalah gangguan pertumbuhan fisik dan mental,” jelasnya.

Ia sepakat dengan Ny. Putri Koster jika pencegahan stunting bisa dilakukan sejak dini, dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. “Jika kebiasaan itu sudah ada minimal sejak remaja, tentu itu berguna jika kelak kita sudah menjadi calon ibu dan menjadi ibu kelak,” imbuhnya.

Sementara mengenai pencegahan stunting, ia menyatakan harus mulai memperhatikan tumbuh kembang anak sejak masih dalam kandungan. Ia menambahkan periode emas berlangsung sejak anak dalam kandungan selama 9 bulan hingga berumur 2 tahun. “Pada fase ini, pentingnya orangtua memonitor perkembangan dan pertumbuhan anak, karena ciri-ciri stunting juga bisa dilihat pada periode ini,” bebernya.

Senada dengan Ny. Putri Koster, ia menegaskan stunting bukan hanya ranah kesehatan semata, namun juga menjadi tanggung jawab bersama. Dalam kesempatan ini, ia juga mengajak masyarakat dan kader PKK untuk bahu-membahu mencegahnya.

Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Putu Anom Agustina juga menekankan pentingnya peranan masyarakat desa dalam mencegah stunting. Menurutnya sesuai dengan Permendagri No. 18 Tahun 2018 dalam sinergi pencegahan stunting, Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) mempunyai peranan seperti peningkatan peran Posyandu dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak, serta memfasilitasi kegiatan TP PKK dalam kegiatan pembinaan kesehatan masyarakat.

“Hal lainnya adalah melakukan pembinaan, pengawasan dan memfasilitasi penganggaran dalam APBDes, termasuk mendorong, optimalisasi Pemanfaatan Dana Desa untuk kegiatan pemberdayaan seperti peningkatan kualitas dan akses pelayanan dasar dan pencegahan stunting,” jelasnya.

Ia juga menambahkan prioritas dana desa tahun 2021 salah satunya sesuai dengan program prioritas nasional diprioritaskan untuk pencapaian SDGs Desa yaitu penguatan ketahanan pangan dan pencegahan stunting. “Hal tersebut membuktikan betapa seriusnya pemerintah untuk menurunkan angka stunting di tingkat nasional,” katanya. (gs)

Lanjutkan Membaca