Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Buktikan Peran Diabetes Mellitus pada Pasien Gagal Jantung, Oliva Saraswati Raih Gelar Doktor di FK Unud

BALIILU Tayang

:

fk unud
dr. Luh Oliva Saraswati Suastika, Sp.JP(K), FIHA. berhasil meraih gelar Doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Selasa, 9 Mei 2023. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Berhasil membuktikan peran Diabetes Mellitus pada pasien gagal jantung, dr. Luh Oliva Saraswati Suastika, Sp.JP(K), FIHA. meraih gelar Doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Gelar Doktor disandang promovenda Olivia Saraswati setelah mengikuti ujian promosi doktor pada Selasa, 9 Mei 2023 di ruang dr. A.A. Made Djelantik Lt IV, Gedung FK Unud Denpasar, dengan judul disertasi “Perbedaan Kadar HS-Troponin I, Galectin-3, dan Cartilage Intermediate Layer Protein-1 Serum pada Pasien Gagal Jantung dengan Fraksi Ejeksi Menurun dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 Dibandingkan Tanpa Diabetes Mellitus Tipe 2”. 

Olivia Saraswati mengungkapkan, pada gagal jantung dengan fraksi ejeksi menurun atau heart failure with reduced ejection fraction (HFrEF) terjadi kematian kardiomiosit dan fibrosis miokard yang menyebabkan penurunan left ventricular ejection fraction (LVEF). Diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) diduga memperburuk kematian kardiomiosit dan fibrosis miokard, ditandai dengan perubahan kadar high sensitive (hs)-troponin I, galectin-3 dan cartilage intermediate layer protein-1 (CILP-1) di sirkulasi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar hs-troponin I, galectin-3 dan CILP-1 serum pada pasien HFrEF dengan dan tanpa DMT2; serta pengaruh DMT2 terhadap perubahan LVEF melalui ketiga biomarka tersebut pada pasien HFrEF. 

Penelitian ini melibatkan total 80 pasien HFrEF (43 subyek dengan DMT2 dan 37 subyek tanpa DMT2) yang berkunjung ke Poliklinik Jantung Rumah Sakit Prof. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar, Bali. Kadar galectin-3, CILP-1 dan NT-proBNP diperiksa menggunakan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), kadar hs-troponin I diperiksa dengan Abbott automated assay. Pemeriksaan LVEF menggunakan mesin ekokardiografi Philips Epiq 7. Perbedaan kadar biomarka dianalisis dengan uji Mann-Whitney U dan uji pengaruh dengan partial least square-structured equation model (PLS-SEM).

Baca Juga  Kaji Potensi Anti-Aging dari Tari Cendrawasih, Dwi Primayanti Raih Gelar Doktor di FK Unud

Kadar hs-troponin I, galectin-3 dan CILP-1 tidak berbeda antara subyek dengan dan tanpa DMT2. Diabetes mellitus tipe 2 berpengaruh langsung terhadap NT-proBNP. Sedangkan, NT-proBNP berpengaruh langsung terhadap galectin-3 dan CILP-1, serta berpengaruh tidak langsung terhadap CILP-1 melalui galectin-3. Baik DMT2 maupun NT-proBNP tidak berpengaruh terhadap hs-troponin I. Hs-troponin I dan CILP-1 memiliki pengaruh langsung terhadap LVEF. Pengaruh total DMT2 terhadap LVEF sangat lemah melalui NT-proBNP, galectin-3 dan CILP-1.

Pada HFrEF, tidak ada perbedaan kadar hs-troponin I, galectin-3 dan CILP-1 antara pasien dengan dan tanpa DMT2. Namun DMT2 berpengaruh terhadap LVEF melalui NT-proBNP, galectin-3 dan CILP-1. Penelitian ini menunjukkan bahwa DMT2 tidak membuat kematian kardiomiosit dan fibrosis miokard yang lebih berat pada HFrEF, namun DMT2 berpengaruh terhadap fibrosis miokard dan fungsi sistolik ventrikel kiri melalui proses regangan miokard.

Ujian dipimpin oleh Dekan FK Unud, Dr. dr. Komang Januartha Putra Pinatih, M.Kes., dengan tim penguji : Prof. Dr. dr. I Gde Raka Widiana, Sp.PD-KGH) (Promotor); Prof. Dr. dr. I Wayan Wita, Sp.JP (K) (Kopromotor I); Prof. Dr. dr. Agung Pranoto, Sp.PD-KEMD.,FINASIM.,M.Sc (Kopromotor II); Prof. Dr. dr. I Made Jawi, M.Kes; Prof. Dr. dr. Yudi Her Oktaviono, Sp.JP(K),MM; Prof. Dr. dr.A.A.Wiradewi Lestari, Sp.PK(K); Dr. dr. Desak Made Wihandani, M.Kes; Dr. dr. Dyah Kanya Wati, Sp.A (K); Dr. rer. nat. dr. Ni Nyoman Ayu Dewi, M.Si; dr. Ni Nengah Dwi Fatmawati, S.Ked., Sp.MK(K).,Ph.D. 

Sedangkan undangan akademik adalah : Dr. dr. Luh Made Mas Rusyati, Sp.KK(K); Dr. dr. Yenny Kandarini, Sp.PD-KGH(K); Dr. dr. Ni Wayan Winarti, S.Ked.,Sp.PA ; Dr. dr. I Wayan Eka Sutyawan, Sp. M(K); Dr. dr. I Made Pande Dwipayana, Sp.PD-KEMD, FINASIM. 

Pada ujian kali ini Dr. dr. Luh Oliva Saraswati Suastika, Sp.JP(K),FIHA dinyatakan lulus sebagai Doktor Lulusan ke-377 Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan predikat Cumlaude. Sumber: https://www.unud.ac.id/in/berita-fakultas2919-Buktikan-Peran-Diabetes-Mellitus-Pada-Pasien-Gagal-Jantung-Oliva-Saraswati-Meraih-Gelar-Doktor.html (gs/bi)

Baca Juga  Kembangkan Aplikasi Disfungsi Ereksi, Mahasiswa FK Unud Menangkan Nominasi Tingkat Internasional

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

Sudah Berjalan 9 Tahun, Gubernur Koster: Masyarakat Bali Respons Sangat Positif Kebijakan Penggunaan Busana Adat Bali

Published

on

By

Gubernur Koster Sampaikan Pergub Busana Adat Bali
SAMPAIKAN PERGUB: Gubernur Bali Wayan Koster saat menyampaikan Pergub berkaitan dengan Penggunaan Busana Adat Bali bertepatan menghadiri Karya Pamahayu Bumi Wana Kerthi lan Danu Kerthi, Mamungkah Tawur Balik Sumpah, Melaspas Ngenteg Linggih Mepeselang Mepedudusan Agung Menawa Ratna di Pura Puncak Duwur Sari, Desa Adat Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, pada Rahina Purnama Kapat, Sabtu (Saniscara Umanis, Bala), 26 September 2026. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Buleleng, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan bahwa masyarakat Bali memberikan respons yang sangat positif terhadap kebijakan Penggunaan Busana Adat Bali yang sudah berjalan 9 tahun. Hal ini terlihat dari semaraknya para pegawai pemerintah, hotel, restoran, bank, mall, para siswa, dan generasi muda, serta berbagai komponen masyarakat lainnya yang dengan bangga menggunakan Busana Adat Bali.

Antusiasme terlihat dari kegemaran masyarakat yang demikian semarak menggunakan Busana Adat Bali, tidak saja pada hari Kamis, Purnama, dan Tilem, tetapi juga tampak digunakan pada hari-hari lain.

“Titiang menyampaikan, bahwa penggunaan Busana Adat Bali merupakan bagian dari strategi untuk semakin memperkuat identitas, karakter, dan jati diri, serta rasa cinta masyarakat Bali dalam menampilkan diri sebagai Nak Bali yang berbudaya,” ujar Gubernur Koster saat menyampaikan Pergub berkaitan dengan Penggunaan Busana Adat Bali bertepatan menghadiri Karya Pamahayu Bumi Wana Kerthi lan Danu Kerthi, Mamungkah Tawur Balik Sumpah, Melaspas Ngenteg Linggih Mepeselang Mepedudusan Agung Menawa Ratna di Pura Puncak Duwur Sari, Desa Adat Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, pada Rahina Purnama Kapat, Sabtu (Saniscara Umanis, Bala), 26 September 2026. Pura yang sakral dan bersejarah ini sebagai titik awal peradaban Bali Kuno.

Gubernur Koster lanjut mengungkapkan ternyata, penggunaan Busana Adat Bali berdampak sangat positif terhadap perkembangan industri busana adat, meliputi: penenun, penjahit, desain busana adat Bali untuk kegiatan adat dan kantor, peningkatan produksi busana adat Bali, UMKM, Butik, dan mata rantai lainnya yang berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian Masyarakat Bali.

Sebagai Gubernur Bali, pada Periode 2018-2023 pihaknya telah memberlakukan kebijakan Penggunaan Busana Adat Bali yang diatur dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018, mulai berlaku tanggal 26 September 2018, diluncurkan tanggal 11 Oktober 2018. Tepat pada hari ini, hari suci yang penuh anugerah ini, angayubagia kebijakan Penggunaan Busana Adat Bali telah berjalan selama 9 tahun.

Baca Juga  Pelajari Konversi SKS Sistem Blok ke Sistem BKD SISTER, FK Unud Lakukan Studi Banding ke FK UB

Dalam Peraturan Gubernur diatur Penggunaan Busana Adat Bali, pada setiap Hari Kamis, Purnama, Tilem, dan Hari Jadi Provinsi pada tanggal 14 Agustus.

Penggunaan Busana Adat Bali dilaksanakan berdasarkan pertimbangan bahwa Busana Adat Bali merupakan bagian dari kekayaan budaya nasional yang perlu dilestarikan dalam rangka pembinaan dan pengembangan budaya nasional.

Gubernur Koster menegaskan bahwa Hari Penggunaan Busana Adat Bali bertujuan untuk: menjaga dan memelihara kelestarian Busana Adat Bali dalam rangka meneguhkan jati diri, karakter, dan budi pekerti; menyelaraskan fungsi Busana Adat Bali dalam kehidupan masyarakat sejalan dengan arah pemajuan Kebudayaan Bali dan Indonesia; mengenali nilai-nilai estetika, etika, moral, dan spiritual yang terkandung dalam budaya Bali untuk digunakan sebagai upaya pembinaan dan pengembangan kebudayaan Nasional; dan mendorong peningkatan pemanfaatan produk dan industri busana lokal Bali.

Penggunaan Busana Adat Bali berlaku di lingkungan Lembaga Pemerintahan dan Lembaga Swasta. Diatur bahwa, bagi masyarakat adat Nusantara lainnya yang tinggal di wilayah Provinsi dapat menggunakan Busana Adat Bali atau busana adat daerah masing-masing.

“Sebagai Gubernur Bali, Titiang menyampaikan apresiasi, penghargaan, dan terima kasih yang tulus kepada Pemerintah Kota/Kabupaten, instansi vertikal, lembaga pendidikan, hotel, restoran, mall, pelaku usaha lainnya, serta seluruh komponen Masyarakat Bali yang telah dengan tertib dan disiplin menggunakan busana adat Bali sesuai Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018,” ucapnya.

Atas restu Ida Bhatara yang berlinggastana di Pura Puncak Duwur Sari ini, Koster mengimbau kepada semua pihak, terutama yang belum menggunakan busana adat Bali, hendaknya dengan penuh kesadaran dan penuh tanggung jawab mematuhi Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018.

Koster menegaskan, bahwa kepatuhan dalam menggunakan busana adat Bali merupakan bentuk nyata tanggung jawab Kita bersama sebagai Masyarakat Bali dalam memuliakan Bali, melestarikan budaya Bali, menjaga masa depan Bali untuk generasi penerus.

Baca Juga  FK Unud Inisiasi Kerja Sama dengan Go Study AS, Bergen-Norwegia

“Kalau bukan kita masyarakat Bali, siapa lagi yang harus bertanggungjawab atas keberlanjutan masa depan Bali. Busana Adat Bali adalah Kita, Nak Bali,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Ketua WHDI Badung Dukung Lomba Tradisional di Festival Kapal

Published

on

By

Ketua WHDI Badung Hadiri Festival Kelurahan Kapal
HADIRI FESTIVAL: Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Badung, Nyonya Yunita Alit Sucipta, saat menghadiri langsung rangkaian Festival Kelurahan Kapal 2026 yang dimeriahkan berbagai kegiatan pelestarian seni dan adat Bali pada Sabtu (26/9/2026). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Rangkaian Festival Kelurahan Kapal 2026 kembali dimeriahkan oleh berbagai kegiatan pelestarian seni dan adat Bali pada Sabtu (26/9/2026). Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Badung, Nyonya Yunita Alit Sucipta, hadir langsung meninjau sekaligus menyerahkan dukungan nyata pada pelaksanaan Lomba Penjor Mini, Lomba Cane antar-Sekaa Teruna, serta Lomba Ngulat Tipat tingkat SD/SMP se-Kelurahan Kapal.

Acara yang terintegrasi dengan Tradisi Siat Tipat Tabuh Rah, Aci Pengangon, dan Jong Fest ini bertujuan mempererat kebersamaan dan menjaga eksistensi kearifan lokal di kalangan generasi muda.

“Saya memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia, prajuru, serta adik-adik yowana yang turut menyukseskan rangkaian Jong Festival sekaligus Tabuh Rah Aci Pengangon dan Ngulat Tipat, yang merupakan tradisi luhur dari Desa Adat Kapal,” ungkap Ny. Yunita Alit Sucipta.

Sementara Jero Bendesa Adat Kapal, I Ketut Sudarsana, menyampaikan rasa terima kasih atas sokongan dana yang diberikan pemerintah daerah demi kelancaran ruang kreatif edukatif ini. “Kami mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan dana hibah dari Kabupaten Badung sebesar Rp 500 juta, serta tambahan dana pribadi dari Ibu Wakil Bupati sekaligus Ketua WHDI Kabupaten Badung sebesar Rp 3 juta yang diserahkan untuk para pemenang lomba,” ujarnya.

Peninjauan lomba tradisional yang berlangsung kompetitif ini turut dihadiri Camat Mengwi I Nyoman Suhartana, Lurah Kapal I Nyoman Adi Setiawan, Ketua TP PKK Kecamatan Mengwi, Ketua TP PKK Kelurahan Kapal, serta jajaran prajuru adat se-Desa Adat Kapal. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Teliti Dampak Buruk Pelatihan Fisik Berlebihan, Oka Putrawan Raih Gelar Doktor Ilmu Kedokteran
Lanjutkan Membaca

NEWS

Buka Jong Festival, Bupati Badung Komit Dorong UMKM dan Lestarikan Sejarah Desa Kapal

Published

on

By

Bupati Adi Arnawa Buka Jong Festival 2026 di Kapal
BUKA JONG FEST: Bupati Badung Wayan Adi Arnawa secara resmi membuka Jong Festival (Jong Fest) 2026 di Lapangan Pratu Made Linggih, Kelurahan Kapal, Kecamatan Mengwi, Jumat (25/9/2026). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Pemerintah Kabupaten Badung secara resmi membuka Jong Festival (Jong Fest) 2026 di Lapangan Pratu Made Linggih, Kelurahan Kapal, Kecamatan Mengwi, Jumat (25/9/2026). Festival perdana yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 25 – 27 September 2026 ini dibuka langsung oleh Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dengan pemukulan Gentora, sekaligus penyerahan dana stimulus pemerintah sebesar Rp 30 juta kepada pihak panitia penyelenggara.

Bupati Adi Arnawa mengapresiasi masyarakat dan yowana Desa Adat Kapal atas inisiasi festival yang dinilai sukses mengawinkan pelestarian sejarah dengan pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

“Kegiatan Jong Fest 2026 ini merupakan ajang yang sangat positif, tidak hanya sebagai wadah menampilkan potensi krama, tetapi juga menumbuhkan UMKM lokal melalui produk dan kuliner setempat. Selain itu, festival ini menjadi ruang hiburan karena hidup butuh refreshing. Kalau masyarakat bahagia, tingkat kesehatan meningkat dan berujung usia panjang. Tugas pemerintah memastikan warganya bahagia,” ujarnya.

Mengingat nama “Jong” memiliki ikatan historis yang sangat kuat dengan purana lokal, Bupati meminta agar festival ini dievaluasi secara matang agar bisa naik kelas menjadi agenda pariwisata tahunan. “Jong Fest yang pertama ini harus dievaluasi dengan baik untuk persiapan di tahun 2027 dan seterusnya. Kita ingin menyajikan suguhan yang semakin berkualitas dan membuat orang selalu penasaran untuk berkunjung,” tegas Adi Arnawa.

Ketua Panitia sekaligus Bendesa Adat Kapal, I Ketut Sudarsana, memaparkan bahwa nama “Jong” diambil dari Purana Pura Kahyangan Jagat Purusada. Berdasarkan catatan sejarah tahun 1221 Masehi, wilayah tersebut dahulu bernama Desa Jong Karam (perahu karam) atau Paluwanegara, sebelum akhirnya berkembang menjadi Desa Kapal setelah kedatangan rombongan Kerajaan Kalingga Jawa. Melalui Jong Fest I ini, generasi muda diharapkan dapat melatih kemandirian dan menggali potensi lokal secara berkelanjutan. (gs/bi)

Baca Juga  FK Unud Inisiasi Kerja Sama dengan Go Study AS, Bergen-Norwegia

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca