Bangli, baliilu.com – KPU Republik Indonesia dan KPU Provinsi Bali bersama KPU Kabupaten Bangli memperkuat pendidikan pemilih berkelanjutan dengan menyasar generasi muda melalui kegiatan Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan Tahun 2026 di Museum Geopark Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli, Kamis (8/10/2026). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 70 peserta dari berbagai kalangan, terutama siswa SMA/SMK se-Kabupaten Bangli, serta pemilih dari segmen disabilitas, kelompok marginal, dan perempuan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai demokrasi dan kepemiluan sekaligus menyiapkan pemilih yang memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab. Dari kalangan pelajar, peserta berasal dari berbagai SMA dan SMK di Kabupaten Bangli, di antaranya SMA Negeri 1 Bangli, SMA Negeri 2 Bangli, SMA Negeri 1 Susut, SMA Negeri 1 Kintamani, SMA Negeri 1 Tembuku, SMK Negeri 1 Bangli, SMK Negeri 2 Bangli, SMK Negeri 3 Bangli, SMK Negeri 4 Bangli, SMK Negeri 1 Susut, SMK Negeri 1 Tembuku, serta sejumlah sekolah swasta di Kabupaten Bangli.
Ketua KPU Kabupaten Bangli, I Kadek Adiawan menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi para pelajar untuk memperoleh pengetahuan kepemiluan yang belum tentu didapatkan secara khusus di lingkungan sekolah. Ia berharap peserta dapat memanfaatkan kegiatan untuk memperluas wawasan sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas partisipasi masyarakat di Kabupaten Bangli. Pada Pemilu 2024, tingkat partisipasi pemilih di Bangli mencapai 86 persen, sedangkan pada Pilkada 2024 mencapai 78,40 persen. Capaian tersebut menempatkan Bangli sebagai salah satu daerah dengan tingkat partisipasi pemilih yang tinggi di Bali.
Ketua KPU Provinsi Bali I Dewa Agung Gede Lidartawan mengajak generasi muda untuk tidak menjadikan pemberian materi atau iming-iming lainnya sebagai dasar dalam menentukan pilihan politik. Pemilih, menurutnya, perlu menggunakan hati nurani dengan mempertimbangkan kapabilitas, integritas, serta rekam jejak calon pemimpin. Ia juga mendorong lahirnya bibit-bibit pemimpin baru dari Bangli yang memahami kepemiluan dan memiliki komitmen terhadap demokrasi. Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat agar pemilih tidak menggadaikan masa depan daerah hanya karena kepentingan sesaat.
Sementara itu, Anggota KPU RI Idham Holik menekankan pentingnya pendidikan pemilih di tengah perubahan lingkungan informasi yang semakin cepat. Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan Artificial Intelligence (AI) memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memperoleh informasi, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tantangan berupa informasi yang tidak akurat, hoaks, maupun konten yang dapat memengaruhi nalar masyarakat. Karena itu, pemilih perlu memiliki kemampuan untuk menelaah informasi, memeriksa sumber, dan tidak menerima setiap informasi secara mentah. Menurutnya, akses informasi yang tidak terbatas tidak selalu menghasilkan informasi yang tepat, sehingga pengetahuan menjadi bagian penting dalam membangun demokrasi yang sehat.
Penguatan pendidikan pemilih juga diarahkan untuk membangun kesadaran demokrasi sejak usia muda. Para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai prinsip dan mekanisme kepemiluan, tetapi juga diajak mengenali calon pemimpin, mencermati visi dan misi, serta melakukan penelusuran informasi sebelum menentukan pilihan. Dalam kegiatan tersebut disampaikan pula bahwa KPU Kabupaten Bangli sebelumnya telah melaksanakan pemilihan ketua OSIS (pemilos) secara serentak di SMA/SMK se-Kabupaten Bangli dengan konsep yang menyerupai proses pemilu, mulai dari pencalonan hingga debat. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengalaman praktis bagi pelajar untuk mengenal proses demokrasi sejak dini.
Materi pendidikan pemilih disampaikan oleh Dr. Ni Made Ras Amanda Gelgel, S.Sos., M.Si. dan Dr. Made Gde Subha Karma Resen, S.H., M.Kn. Keduanya memberikan perspektif mengenai pentingnya menjadi pemilih yang kritis, mengenali calon dan memahami informasi yang menjadi dasar dalam menentukan pilihan. Pendidikan pemilih tidak berhenti pada pemahaman mengenai teknis pemungutan suara, tetapi juga diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi terhadap arah kepemimpinan dan pembangunan daerah.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif. Sejumlah siswa menyampaikan pertanyaan mengenai pentingnya menerapkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (luber jurdil), makna satu suara dalam pemilu, penggunaan AI, kualitas calon pemimpin, perubahan sikap pejabat sebelum dan sesudah menjabat, hingga dampak golput. Para narasumber juga mengingatkan peserta untuk menyampaikan kembali pengetahuan yang diperoleh kepada lingkungan sekitarnya dengan cara berdiskusi dan menggunakan sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui pendidikan pemilih berkelanjutan, KPU mendorong terbentuknya pemilih yang tidak hanya hadir menggunakan hak pilihnya di tempat pemungutan suara, tetapi juga memahami alasan pentingnya berpartisipasi dalam demokrasi. Pemilih yang memiliki pengetahuan, kritis terhadap informasi, mampu mengenali calon, serta menentukan pilihan berdasarkan hati nurani dan rekam jejak menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas demokrasi. Kegiatan di Bangli diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus investasi demokrasi untuk melahirkan generasi pemilih dan calon pemimpin masa depan yang berintegritas, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap kemajuan daerah serta bangsa. (gs/bi)