Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Duta Badung Memukau di Ajang Wimbakara Gender Wayang PKB XLVIII

BALIILU Tayang

:

lomba gender
LOMBA GENDER: Duta Kabupaten Badung dalam Wimbakara (lomba) gender tampil memukau di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar, Senin (15/6). (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Duta Kabupaten Badung dalam Wimbakara (lomba) gender tampil memukau di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar, Senin (15/6). Dalam penampilannya empat peserta putra dan putri dari Sanggar Batel Giri Sunari, Banjar Busana, Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal dengan membawakan tiga gending. Di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026 ini, mereka berhadapan dengan pesaing yakni Duta Kabupaten Karangasem.

Pembina Tabuh, I Made Gawi Antara mengatakan, ada empat orang yang tampil dalam gender anak-anak ini. Namun sebelum tampil sejumlah persiapan telah dilakukan untuk tampil mewakili Kabupaten Badung dalam ajang PKB 2026. Terlebih penampilan dari Sanggar Batel Giri Sunari ini adalah yang pertama kalinya.

“Penampilan ini adalah yang pertama kali dari Sanggar Batel Giri Sunari. Persiapannya sudah dari bulan Januari. Sebelumnya juga ada persiapan untuk mempersiapkan di ajang yang bergengsi ini,” ujar Gawi Antara.

Pihaknya menyebutkan, dalam penampilan ini ada tiga gending yang dibawakan, yakni Cangak Merengang, Pemungkah Wayah, dan Mesem. Sebelum tampil sanggar binaannya pun mengikuti seleksi yang telah digelar oleh Pemkab Badung. Mengingat saingan dalam lomba gender anak-anak ini lumayan kuat.

“Persaingannya lumayan, karena Gender Wayang ini kan ajang yang bergensi di PKB. Hampir setiap kabupaten, sudah pasti kalau sudah ke PKB-kan mempersiapkan diri untuk mewakili itu. Pasti ada seleksi. Seleksi yang terbaik, mewakili kabupaten dalam ajang itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Gawi Antara berharap, dapat meraih juara dalam lomba gender wayang anak-anak ini. Lantaran hal ini pun akan menjadi sebuah kebanggaan bagi peserta, sanggar, maupun Kabupaten Badung.

“Harapannya Jayanti. Kita membawa nama Badung, otomatis, kalau boleh, jangan minta juara lebih-lebih, juara satu lah,” paparnya.

Baca Juga  Badung Angkat Lakon “Kadga Maya” di PKB Ke-47

Pembina Tabuh lainnya, I Gede Kristya Dika Santana pun menambahkan, dalam ajang ini sebenarnya adalah untuk pelestarian seni dan budaya Bali. Terlebih setiap kabupaten/kota memiliki ciri khasnya tersendiri dalam setiap penampilan. “Tujuan utamanya yang pasti kan pelestarian. Pelestarian seni, penggalian seni-seni, karena setiap kabupaten memiliki style, memiliki ciri khas atau karakter masing-masing,” imbuhnya.

Sementara itu, Staf Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Badung, Wayan Wiryadi menyatakan, gender wayang adalah sebuah permainan alat musik yang sangat langka dan sulit. Namun menjadi progres yang sangat membanggakan ketika mampu tampil dengan memukau.

Astungkara apa yang terlihat dan disampaikan selama ini, anak-anak kami itu sudah luar biasa untuk penampilan ini, dan semoga pada hari ini mendapatkan hasilnya maksimal,” ujar Wiryadi.

Dirinya juga menyatakan, Pemkab Badung telah memberikan pembinaan dan motivasi semaksimal mungkin. Sebelum penampilan ini juga telah dilakukan seleksi selama dua bulan. “Harapannya adalah dalam proses ini, Badung tetap sempurna, tetap berprestasi,” imbuhnya. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Angkat Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg, “Seet Wangsul” Buleleng Curi Perhatian Penonton PKB

Published

on

By

duta buleleng
DUTA BALEGANJUR BULELENG DI PKB: Duta Baleganjur Kabupaten Buleleng saat tampil pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, Kamis (18/6) malam. (Foto: Hms Buleleng)

Denpasar, baliilu.com – Gemuruh gamelan Baleganjur menggema di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, Kamis (18/6) malam. Di hadapan ribuan penonton Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Duta Baleganjur Kabupaten Buleleng tampil memukau melalui garapan berjudul Seet Wangsul, sebuah karya yang mengangkat tradisi sakral Bebayuhan Sanan Empeg ke dalam sajian seni pertunjukan yang kaya makna spiritual.

Berbeda dari sajian Baleganjur pada umumnya yang menonjolkan kekuatan musikal dan dinamika gerak, Seet Wangsul menghadirkan narasi tentang perjalanan jiwa manusia. Karya ini berangkat dari sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun di masyarakat Bali, khususnya di Desa Anturan, Kecamatan Buleleng.

Komposer garapan, Komang Trisna Ardiana, menjelaskan bahwa judul Seet Wangsul memiliki makna filosofis yang mendalam. Kata Seet dimaknai sebagai ikatan atau keterhubungan, sedangkan Wangsul merujuk pada kain tenun Bali yang dibuat tanpa sambungan sehingga melambangkan sesuatu yang utuh dan tidak pernah terputus.

Seet Wangsul dapat diartikan sebagai sebuah karya komposisi Baleganjur yang seluruh unsurnya saling terikat satu sama lain dan tidak pernah terputus. Filosofi itu kami ambil dari kain tenun wangsul yang menjadi simbol keutuhan,” ujarnya.

Menurut Trisna, karya ini juga berangkat dari sebuah ritual yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia, kemudian dikemas ke dalam sebuah komposisi Baleganjur yang sarat pesan tentang keharmonisan dan pemuliaan jiwa.

Dari sisi musikalitas, garapan ini tetap berpijak pada struktur Baleganjur tradisional yang terdiri atas pengawit, pengawak, dan pengecet. Karakter khas Buleleng yang tegas, dinamis, dan energik juga dihadirkan melalui berbagai motif permainan dan pengolahan ritme yang menjadi identitas karawitan Buleleng.

Baca Juga  Sanggar Seni Majalanggu Duta Badung, Tampilkan “Arja Cupak” dalam Pergelaran Revitalisasi Kesenian Klasik

“Kami juga mentransfer beberapa pola-pola musikal khas Buleleng ke dalam karya ini karena menjadi salah satu identitas yang menarik untuk ditampilkan,” tambahnya.

Ditambahkannya, bahwa proses penciptaan Seet Wangsul ini tidak berjalan mudah. Tim penggarap harus berpacu dengan waktu karena proses latihan baru dimulai pada akhir Februari 2026. Namun berbagai tantangan tersebut berhasil diatasi hingga melahirkan sebuah sajian yang utuh dan sarat makna.

Sementara itu, konseptor garapan, Nyoman Sugita Rupiana, mengatakan ide karya ini berangkat dari tradisi Bebayuhan Sanan Empeg, yakni ritual peruwatan yang diperuntukkan bagi seseorang yang lahir dalam posisi diapit oleh saudara yang telah meninggal dunia.

Menurutnya, dalam pemahaman tradisi Bali, kondisi tersebut diyakini dapat memengaruhi perjalanan hidup seseorang sehingga perlu dilakukan proses penyucian atau peruwatan.

“Di Desa Anturan, Bebayuhan Sanan Empeg menggunakan sarana berupa kain tenun bernama wangsul. Kain ini ditenun tanpa sambungan sehingga menjadi simbol keutuhan dan kesinambungan kehidupan. Dari simbol itulah kami mengembangkan konsep karya ini,” jelas Sugita.

Ia menambahkan bahwa esensi dari ritual tersebut adalah memuliakan dan mengembalikan atman atau jiwa manusia agar kembali pada kesucian dan jati dirinya.

Bebayuhan Sanan Empeg bertujuan memuliakan jiwa yang masih hidup agar kembali pada jatinya. Atman dimuliakan melalui prosesi peruwatan yang menggunakan sarana kain wangsul. Nilai filosofis itulah yang menjadi landasan utama karya Seet Wangsul,” ungkapnya.

Kemudian konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam visual gerak oleh penata koreografi yaitu Putu Arif Mahendra. Menurutnya melalui rangkaian gerak, pola lantai, dan adegan dramatik, Arif membangun alur cerita yang menggambarkan perjalanan kehidupan manusia dari lahir hingga mencapai keharmonisan jiwa.

Baca Juga  Hadirkan Kekayaan Tradisi dan Spirit Agraris, Tabanan Semarakkan “Peed Aya” PKB XLVIII

Ia menegaskan bahwa seluruh elemen gerak dirancang untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan sehingga penonton tidak hanya menikmati dinamika Baleganjur, tetapi juga dapat merasakan perjalanan spiritual yang menjadi ruh dari karya tersebut.

“Koreografi yang kami hadirkan disusun berdasarkan konsep yang telah dirumuskan. Pada bagian awal ditampilkan simbol kelahiran, kemudian memasuki prosesi bebayuhan sebagai inti garapan. Setelah melalui proses penyucian, karya ditutup dengan suasana kebahagiaan yang menggambarkan jiwa telah dimuliakan dan kembali mencapai keseimbangan,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Sekaa Joged Akah Luki Duta Badung Pukau Penonton di PKB XLVIII 2026

Published

on

By

joged bumbung
PARADE JOGED BUMBUNG TRADISI: : Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat, Desa Sobangan Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung, saat tampil pada acara Utsawa (Parade) Joged Bumbung Tradisi Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Kalangan Madya Mandala Art Centre Denpasar pada Kamis sore, 18 Juni 2026. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Penampilan Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat, Desa Sobangan Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung, pada Utsawa (Parade) Joged Bumbung Tradisi serangkaian Pesta Kesenian Bali Ke-48 Tahun 2026 mampu memukau penonton yang memadati Kalangan Madya Mandala Art Centre Denpasar pada Kamis sore, 18 Juni 2026.

Tari pergaulan tradisional masyarakat Bali yang merupakan Duta Kabupaten Badung ini tampil interaktif dan dinamis yang mampu menghibur para penonton yang hadir berjubel bertepatan hari Umanis Galungan.

Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat digarap oleh Penata Tabuh I Putu Sukadana, S.Sn, Pembina Tabuh I Putu Gede Aristana, Koordinator I Putu Rudityanto, S.Pd, dan Pembina Tari Ni Made Putri Ariani, S.Pd dengan empat orang penari joged yakni Ni Kadek Dewi Setiari, Ni Komang Ayu Sawitri Dewi, Ni Komang Tria Febriantari, dan Ni Putu Laksamiani. Para pengibing yakni I Ketut Juli Artawan, Wahyu, Nyoman Gunadi, dan Putu Muliani.

Pembina Tabuh I Putu Gede Aristana mengatakan pementasan Utsawa Jodeg Bumbung Tradisi dari Duta Badung menampilkan tabuh kreasi diawali tabuh Nilapati, Ulah Alih Ala, Semara Ratih Kumbang Ngisep Sari, Sunar Sunari, dan tabuh penutup.

Gede Aristana menjelaskan tabuh kreasi Nilapati adalah sebuah komposisi tabuh kreasi joged bumbung yang mengangkat konsep filosofi dan puncak ritual pitra yadnya atau ngaben. Nama Nilapati berasal dari konsep menuju kosong atau sunia. Dimana roh orang yang meninggal telah disucikan sepenuhnya untuk menyatukan dengan sang pencipta.

Dalam proses terciptanya tabuh kreasi ini, muncul intrumen pendukung yang tentunya ada dalam identitas iringan baleganjur ngarap yaitu tawa-tawa, dan nuansa angklung klentangan sebagai nuansa upacara atiwa-tiwa itu berlangsung. Adanya instrumen tambahan berupa tawa-tawa, bukan sebagai tempelan atau hanya mengkaitkan tetapi adanya sebuah penyatuan instrumen barungan gamelan joged bumbung dengan instrumen tawa-tawa, yang dalam proses eksplorasinya menemukan nuansa baru, yang tidak lepas dari unsur-unsur kerawitan yaitu kawitan, pengawak dan pengecet.

Titiang selaku pembina tabuh mengambil judul tabuh Nilapati ini adalah nike konsep ngelinggihang. Disana tiang tonjolkan ciri khas orang ngaben, ada orang megarapan, ada gending angklung yang saya tuangkan di bagian bawahnya. Dan konsep ini sesuai dengan tema PKB saat ini Atma Kerthi, gitu,“ ujar Gede Aristana.

Baca Juga  Badung Angkat Lakon “Kadga Maya” di PKB Ke-47

Kemudian sebut Gede Aristana, tabuh berjudul Ulah Alih Ala. Ulah Alih diartikan perbuatan yang disengaja dan Ala merupakan bahaya yang diakibatkan dari perbuatan itu sendiri.

Ia menceritakan bahwa keharmonisan sepasang suami istri yang sedang bersenda gurau bercengkerama dan saling mengisi satu sama lain. Sampai suatu ketika prahara pun terjadi. Karena tidak dapat mengendalikan hawa nafsu dan terlena dengan kesenangan duniawi sehingga sang suami lupa akan keseimbangan jiwatman  yang menyebabkan ala atau baya bagi dirinya sendiri dan orang lain.  Dengan cinta kasih istrinya akhirnya suaminya pun sadar akan perbuatannya. Tabuh ini diiringi penari Ni Kadek Dewi Setiari, dengan pengibing I Ketut Juli Artawan.

Tabuh pepeson joged Semara Ratih, lanjut Aristana merupakan suatu iringan yang menggambarkan tentang cinta kasih, kelembutan dan keindahan yang mampu memikat hati seseorang. Tabuh pepeson ini diiringi penari Ni Komang Ayu Sawitri Dewi dengan pengibing Wahyu.

Selanjutnya Tabuh Kumbang Ngisep Sari menceritakan tentang kumbang yang berada di taman bunga. Dimana bau harum dari bunga yang bermekaran selalu menawan hati yang ada di sana. Tabuh ini diiringi penari Ni Putu Laksamiani dengan pengibing Putu Muliani.

Sedangkan tabuh Sunar Sunari menggambarkan tentang sinar bulan yang selalu menyinari gelapnya malam yang memberikan suasana keindahan di tengah kesunyian. Tabuh ini diiringi penari Ni Komang Tria Febriantari dengan pengibing Nyoman Gunadi.

Gede Aristana mengungkapkan Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat hingga bisa pentas di PKB hari ini telah melalui proses latihan sejak Februari 2026. Dalam proses latihan itu tentu banyak menemui kendala di antaranya masalah kekompakan. Pasalnya para penabuh dari berbagai kalangan ada yang sudah bekerja dan ada yang masih kuliah. “Tapi kami tetap semangat dan akhirnya kami bisa pentas sekarang ini,“ ucap Gede Aristana.

Baca Juga  ‘’Peed Aya’’ Duta Kabupaten Badung Angkat Cerita Gugurnya I Gusti Ngurah Rai

Sementara itu, salah seorang penari joged Ni Putu Laksamiani mengaku suka menari sejak dari TK. Namun untuk menekuni dunia perjogedan kurang lebih sudah hampir 6 tahun.

Dari pengalamannya sebagai penari ia mengaku pernah mendapat pandangan negatif, namun ia enggan menyebutkan di daerah mana. “Yang pasti kebanyakan kayak gitu di daerah pedesaan. Tapi saya sebagai penari joged sangat sedih sebenarnya kalau dikatakan joged itu sebagai tarian yang jaruh. Sebenarnya tidak, tergantung penarinya menarikan tarian tersebut,“ ucapnya.

Laksamiani menegaskan di setiap pementasan pasti ada anak-anak yang menonton. Oleh karena itu, kita harus bisa menjaga bagaimana joged itu sebenarnya nggak goyang, tapi kanan kiri, ngegol. “Pesan saya jangan malu untuk menjadi penari joged. Kalau kalian ingin menjadi penari joged, mohon selalu melihat pakem-pakem yang ada supaya joged itu tidak jelek,” katanya berpesan.

Untuk tampil di PKB ini, ia sudah mempersiapkan latihan sejak sebulan lebih. Rata-rata semua penari sudah biasa menarikan joged. “Jadi latihannya gak full karena sebagian besar yang join sekarang sudah biasa menarikan joged,” tutupnya.

Pada parade Joged Bumbung Tradisi tersebut, Duta Kabupaten Badung berdampingan dengan Duta Kabupaten Jembrana. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Usung Baradwara, Sekaa Gong Cakradhara Duta Badung Tampil Maksimal di PKB 2026

Published

on

By

duta badung
TAMPIL MAKSIMAL: Sekaa Gong Cakradhara, Desa Adat Sedang, Desa Sedang Kecamatan Abiansemal saat tampil di Wimbakara (Lomba) Balaganjur Remaja pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026 di panggung terbuka Art Centre, Denpasar pada Kamis 18 Juni 2026 malam. (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Duta Kabupaten Badung kembali hadir dengan karya penuh makna pada ajang Wimbakara (Lomba) Balaganjur Remaja pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026. Tampil urutan pertama di panggung terbuka Art Centre, Denpasar, Duta Badung yang diwakili Sekaa Gong Cakradhara, Desa Adat Sedang, Desa Sedang Kecamatan Abiansemal tampil maksimal pada Kamis 18 Juni 2026 malam.

Setelah berhasil meraih juara pertama pada PKB 2025 lalu, kali ini Badung mengusung garapan bertajuk Baradwara yang terinspirasi dari ritual sakral Sanghyang Jaran di Pura Dalem Solo, Desa Adat Sedang. Karya tersebut mengangkat konsep hati sebagai pusat perjalanan spiritual manusia menuju penyucian diri.

Baradwara dimaknai sebagai “Gerbang Api”, sebuah ruang transisi spiritual tempat segala mala atau kekotoran jasmani dan rohani dilebur untuk mencapai kesadaran yang lebih luhur.

Koreografer tari dan gerak, Ida Bagus Yodhie Harischandra saat ditemui usai pementasan mengakui bahwa persiapan garapan tahun ini telah berlangsung cukup panjang.

“Untuk persiapan kami kurang lebih sudah berproses selama enam bulan. Kalau dihitung efektif, sekitar empat bulan. Para penabuh kami rekrut dari beberapa sekaa yang ada di Desa Sedang, kemudian kami satukan menjadi satu barung yang siap tampil di ajang lomba tahun ini,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Gus De itu mengakui, tantangan terbesar yang dihadapi selama proses latihan adalah pengaturan waktu. Sebab para penabuh dan penari memiliki aktivitas masing-masing di luar kegiatan kesenian.

“Kendalanya tentu mengatur waktu karena para penabuh dan penari juga harus bekerja dan menjalankan aktivitas mereka sehari-hari. Namun dari situ kami belajar bersama untuk menyatukan waktu, rasa, dan tempat dalam proses berkarya tahun ini,” katanya.

Baca Juga  Usung Tema “Dharma Cakra Wastra”, Duta Badung Manjakan Mata Pengunjung Parade Busana Adat Khas Daerah pada PKB XLVI

Meski Badung berstatus juara bertahan setelah meraih posisi tertinggi pada 2025, Yodhie menegaskan pihaknya tidak ingin terlalu terbebani oleh target mempertahankan gelar.

“Kalau dibilang optimis, tentu optimis. Apalagi tahun lalu Badung meraih juara satu. Tetapi bagi saya, teman-teman tim Belaganjur sudah menunjukkan usaha maksimal mereka. Itu sudah cukup bagi kami sebagai pembina. Soal hasil, kami serahkan kepada Tuhan dan tim juri. Namun semua itu menjadi bonus bagi kami,” ungkapnya.

Secara artistik, Baradwara berangkat dari pemaknaan api sebagai media pemurnian dalam ritus Sanghyang Jaran. Puncak penyucian tersebut digambarkan melalui fase Nadi, yakni kondisi ketika energi transendental diyakini menguasai tubuh dan kesadaran manusia sehingga mampu melampaui batas-batas ragawi.

Konsep itu diterjemahkan ke dalam komposisi musik atau gambelan yang berlandaskan konsep tri angga. Energi gerbang api dan transformasi spiritual diwujudkan melalui struktur musikal yang dinamis, ledakan ritmis yang kuat, serta pengolahan melodi yang menggambarkan karakter kuda Sanghyang Jaran yang lincah dan penuh tenaga.

Eksplorasi ritme menjadi salah satu kekuatan utama karya ini. Fenomena grubug diwujudkan melalui persilangan subdivisi lima (quintuplet) dengan subdivisi konvensional pada instrumen ceng-ceng sehingga menghasilkan jalinan ritmis yang kompleks namun tetap terstruktur.

Eksplorasi tekstur bunyi ceng-ceng yang menghadirkan sonoritas gongseng, berpadu dengan stimulasi magis Gending Sanghyang Jaran Khas Desa Adat Sedang dan membentuk suasana musikal yang energik dan mistis sebagai representasi perjalanan jiwa menuju pemurnian. Kombinasi tersebut menghadirkan suasana energik sekaligus mistis yang merepresentasikan perjalanan jiwa menuju pemurnian.

Untuk diketahui Karya Baradwara dikonseptualisasikan oleh I Gusti Made Darma Putra. Komposisi musik digarap oleh I Made Adipramana Suparsa dan I Nyoman Arista Adiwijaya, sementara koreografi ditata oleh Ida Bagus Yodhie Harischandra bersama Komang Jana Arta Suputra. (gs/bi)

Baca Juga  PLN Pastikan Pasokan Listrik Andal, Pembukaan PKB XLVIII 2026 Berlangsung Lancar dan Meriah

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca