Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Duta Badung Getarkan Wimbakara Taman Penasar PKB XLVIII 2026

Tokoh Antagonis Wayan Akhirnya Sadar Berkat Tutur Sastra yang Dikemas Dalam Sekar Alit, Sekar Madya, Sekar Agung, Sloka-sloka, dan Palawakya

Loading

BALIILU Tayang

:

Penasar duta badung
TAMAN PENASAR DUTA BADUNG: Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru, Desa Adat Tanjung Benoa, Kelurahan Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Duta Kabupaten Badung saat tampil di Kalangan Ratna Kanda, Art Centre, Denpasar serangkaian Wimbakara (Lomba) Taman Penasar Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026 bertepatan dengan Umanis Galungan, Kamis, 18 Juni 2026.  (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Tokoh Wayan berulangkali mengocok perut ratusan penonton yang memenuhi Kalangan Ratna Kanda, Art Centre, Denpasar serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026 bertepatan dengan Umanis Galungan, Kamis, 18 Juni 2026.

Tak hanya ngocok perut, tokoh Wayan juga membuat penonton Wimbakara (Lomba) Taman Penasar, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru, Desa Adat Tanjung Benoa, Kelurahan Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Duta Kabupaten Badung berpikir keras plus mengernyitkan dahi.

Pasalnya, selentingan-selentingan yang dilontarkan Wayan menyisir wilayah sensitif warga adat Bali, di antaranya kapahin menyama braya hingga mengungkit ketimpangan ekonomi warga adat di kehidupan nyata saat kewajiban adat kian menghimpit.

Berulang kali dinasehati, Wayan malah menggambarkan posisi dirinya ibarat “batu yang direbus” alias sampai kapan pun tidak akan bisa mengubah nasib sekencang apapun ia melestarikan kearifan lokal menyama braya di banjar adat.

I Wayan Citra, Ketua Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru, Banjar Anyar, Desa Adat Tanjung Benoa, Kelurahan Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan tak menampik tokoh Wayan mewakili situasi riil di masyarakat Bali saat ini.

“Wayan ini sosok yang antagonis. Ketika dia tidak melihat istrinya di rumah, dia marah. Wayan ini tidak tahu bahwa ada orang meninggal atau kalayu sekar. Ketika dia lapar, tidak ada istri di rumah, Wayan emosi. Sosok Wayan kami hadirkan karena begitulah fakta di masyarakat. Hanya bisa melihat dari satu sisi; tidak keseluruhan, tapi marah-marah. Ini riil kehidupan masyarakat, pola pikir masyarakat,” ucap I Wayan Citra diwawancarai usai pementasan.

Epilog atau bagian akhir Duta Kabupaten Badung serangkaian Wimbakara (Lomba) Taman Penasar ini adalah Wayan sadar.

Baca Juga  Bawakan Karya ‘’Pasir dan Ukir, Seniman Muda Badung Guncang Panggung Ardha Candra PKB 2025

Wayan terbuka hati nuraninya berkat tutur sastra yang dikemas dalam sekar alit, sekar madya, sekar agung, sloka-sloka, dan palawakya.

Salah satunya dikutip dari tutur atau Geguritan Dharma Sunyata yang merupakan karya sastra klasik Bali (geguritan) karya I Made Menaka yang berisi tuntunan etika, filosofi Hindu, dan moderasi beragama.

“Karena tutur-tutur yang disampaikan Jero Kelian dan masyarakat akhirnya Wayan sadar. Tutur Jero Kelian membuat Wayan paham makna menyama braya. Kalau perut lapar, tidak ada istri di rumah, makanan tak ada kan timbul sifat marah. Sedharma apapun seseorang, pasti akan marah. Artinya, yadnya dan ekonomi itu harus seimbang. Kalau cari uang terus lupa meyadnya, tidak baik. Sebaliknya, yadnya terus-menerus juga tidak bagus karena ada keluarga yang harus kita nafkahi. Di sanalah akan timbul kemarahan karena uang tidak ada, kan kacau juga,” pesan I Wayan Citra.

Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru jelasnya mulai berkiprah sejak tahun 9 Juli 2005 diprakarsai oleh sejumlah seniman otodidak asal Desa Adat Tanjung Benoa.

“Seiring perjalanan sanggar ini baru ada Wayan Dedi Sumantra yang kuliah di ISI (Institut Seni Indonesia). Dari sanalah kita mulai berbenah secara struktur organisasi, pola mengelola sanggar, sehingga Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru sampai detik ini masih ajeg serta meraih berbagai penghargaan hingga akhirnya diberitakan kepercayaan untuk tampil di PKB,” ungkap I Wayan Citra.

Pada PKB sebelumnya, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru antara lain menampilkan Rekonstruksi Gamelan Tua “Angklung Kakelentangan” di PKB ke-45 dan tampil dalam Wimbakara (Lomba) Taman Penasar sebagai Duta Kabupaten Badung.

“Pada Wimbakara (Lomba) Taman Penasar sebagai Duta Kabupaten Badung beberapa tahun lalu astungkara kami jayanti, juara 1 waktu itu. Dulu masih diperbolehkan menambahkan instrumen. Sekarang murni geguntangan,” ungkap I Wayan Citra.

Baca Juga  Taman Penasar “Ceraken” Duta Denpasar Tampil Memukau di Ajang PKB XLVI

Soal target juara di Wimbakara (Lomba) Taman Penasar Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026, ia menyebut mulai dari awal proses Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru sudah berusaha berbuat maksimal.

“Betapa sulitnya mengumpulkan orang yang dibatasi umurnya. Wimbakara Taman Penasar tahun ini dibatasi umurnya. Mulai dari 17 tahun sampai 28 tahun maksimal. Dan kalau kita riil melihat di lapangan, peminat Wimbakara Taman Penasar ini sedikit. Ini kesulitan yang harus saya sampaikan. Umur kurang sedikit atau lebih tidak boleh. Ketika (pemain) ditemukan, banyak yang terkendala. Ada yang kendala baru sekolah. Ada yang kendala baru dapat pekerjaan. Ada kendala baru tamat mau mencari kuliah. Nah, kami bingung. Jujur kami sampaikan, di pertengahan persiapan ini, kami sempat agak-agak frustasi. Dua bulan pertama, kami manfaatkan yang ada. Panembang masih kurang, penabuh masih kurang, tapi kami berinisiatif jujukin malu. Personil kami murni semua dari Kuta Selatan, kecuali pembina. Panembang, penyaji, sekaa gamelan geguntangan, semua anak-anak kami dari Kuta Selatan,” tegas I Wayan Citra.

Membawakan naskah karya I Nyoman Wija Widastra (Wijil Akah Canging) dengan pembina tembang I Nyoman Wija Widastra dan I Putu Raka Wijana; pembina tabuh I Ketut Aditya Putra, S.Sn, M.Sn. dan I Wayan Pradnya Pitala, S.Sn., Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru, mengangkat judul Upahayu Atmeng Tanu dalam Wimbakara Taman Penasar PKB) XLVIII 2026.

Upahayu Atmeng Tanu berasal dari kata upahayu dan atma ing tanu. Upahayu berarti memelihara; Atma ing Tanu, yaitu Sang Hyang Atma yang berada di tubuh kita. Jadi Upahayu Atmeng Tanu memiliki arti memelihara Sang Hyang Atma yang berada di dalam tubuh atau angga sarira,” tutup I Wayan Citra. (gs/bi)

Baca Juga  Bawakan Kisah ‘’Pralaya Senopati Salya’’ Khas Sulangai, Sanggar Seni Wayang Kulit Parwa Bendu Semara Tampil di PKB 2025

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Sekaa Joged Akah Luki Duta Badung Pukau Penonton di PKB XLVIII 2026

Published

on

By

joged bumbung
PARADE JOGED BUMBUNG TRADISI: : Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat, Desa Sobangan Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung, saat tampil pada acara Utsawa (Parade) Joged Bumbung Tradisi Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Kalangan Madya Mandala Art Centre Denpasar pada Kamis sore, 18 Juni 2026. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Penampilan Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat, Desa Sobangan Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung, pada Utsawa (Parade) Joged Bumbung Tradisi serangkaian Pesta Kesenian Bali Ke-48 Tahun 2026 mampu memukau penonton yang memadati Kalangan Madya Mandala Art Centre Denpasar pada Kamis sore, 18 Juni 2026.

Tari pergaulan tradisional masyarakat Bali yang merupakan Duta Kabupaten Badung ini tampil interaktif dan dinamis yang mampu menghibur para penonton yang hadir berjubel bertepatan hari Umanis Galungan.

Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat digarap oleh Penata Tabuh I Putu Sukadana, S.Sn, Pembina Tabuh I Putu Gede Aristana, Koordinator I Putu Rudityanto, S.Pd, dan Pembina Tari Ni Made Putri Ariani, S.Pd dengan empat orang penari joged yakni Ni Kadek Dewi Setiari, Ni Komang Ayu Sawitri Dewi, Ni Komang Tria Febriantari, dan Ni Putu Laksamiani. Para pengibing yakni I Ketut Juli Artawan, Wahyu, Nyoman Gunadi, dan Putu Muliani.

Pembina Tabuh I Putu Gede Aristana mengatakan pementasan Utsawa Jodeg Bumbung Tradisi dari Duta Badung menampilkan tabuh kreasi diawali tabuh Nilapati, Ulah Alih Ala, Semara Ratih Kumbang Ngisep Sari, Sunar Sunari, dan tabuh penutup.

Gede Aristana menjelaskan tabuh kreasi Nilapati adalah sebuah komposisi tabuh kreasi joged bumbung yang mengangkat konsep filosofi dan puncak ritual pitra yadnya atau ngaben. Nama Nilapati berasal dari konsep menuju kosong atau sunia. Dimana roh orang yang meninggal telah disucikan sepenuhnya untuk menyatukan dengan sang pencipta.

Dalam proses terciptanya tabuh kreasi ini, muncul intrumen pendukung yang tentunya ada dalam identitas iringan baleganjur ngarap yaitu tawa-tawa, dan nuansa angklung klentangan sebagai nuansa upacara atiwa-tiwa itu berlangsung. Adanya instrumen tambahan berupa tawa-tawa, bukan sebagai tempelan atau hanya mengkaitkan tetapi adanya sebuah penyatuan instrumen barungan gamelan joged bumbung dengan instrumen tawa-tawa, yang dalam proses eksplorasinya menemukan nuansa baru, yang tidak lepas dari unsur-unsur kerawitan yaitu kawitan, pengawak dan pengecet.

Titiang selaku pembina tabuh mengambil judul tabuh Nilapati ini adalah nike konsep ngelinggihang. Disana tiang tonjolkan ciri khas orang ngaben, ada orang megarapan, ada gending angklung yang saya tuangkan di bagian bawahnya. Dan konsep ini sesuai dengan tema PKB saat ini Atma Kerthi, gitu,“ ujar Gede Aristana.

Baca Juga  Bawakan Kisah ‘’Pralaya Senopati Salya’’ Khas Sulangai, Sanggar Seni Wayang Kulit Parwa Bendu Semara Tampil di PKB 2025

Kemudian sebut Gede Aristana, tabuh berjudul Ulah Alih Ala. Ulah Alih diartikan perbuatan yang disengaja dan Ala merupakan bahaya yang diakibatkan dari perbuatan itu sendiri.

Ia menceritakan bahwa keharmonisan sepasang suami istri yang sedang bersenda gurau bercengkerama dan saling mengisi satu sama lain. Sampai suatu ketika prahara pun terjadi. Karena tidak dapat mengendalikan hawa nafsu dan terlena dengan kesenangan duniawi sehingga sang suami lupa akan keseimbangan jiwatman  yang menyebabkan ala atau baya bagi dirinya sendiri dan orang lain.  Dengan cinta kasih istrinya akhirnya suaminya pun sadar akan perbuatannya. Tabuh ini diiringi penari Ni Kadek Dewi Setiari, dengan pengibing I Ketut Juli Artawan.

Tabuh pepeson joged Semara Ratih, lanjut Aristana merupakan suatu iringan yang menggambarkan tentang cinta kasih, kelembutan dan keindahan yang mampu memikat hati seseorang. Tabuh pepeson ini diiringi penari Ni Komang Ayu Sawitri Dewi dengan pengibing Wahyu.

Selanjutnya Tabuh Kumbang Ngisep Sari menceritakan tentang kumbang yang berada di taman bunga. Dimana bau harum dari bunga yang bermekaran selalu menawan hati yang ada di sana. Tabuh ini diiringi penari Ni Putu Laksamiani dengan pengibing Putu Muliani.

Sedangkan tabuh Sunar Sunari menggambarkan tentang sinar bulan yang selalu menyinari gelapnya malam yang memberikan suasana keindahan di tengah kesunyian. Tabuh ini diiringi penari Ni Komang Tria Febriantari dengan pengibing Nyoman Gunadi.

Gede Aristana mengungkapkan Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat hingga bisa pentas di PKB hari ini telah melalui proses latihan sejak Februari 2026. Dalam proses latihan itu tentu banyak menemui kendala di antaranya masalah kekompakan. Pasalnya para penabuh dari berbagai kalangan ada yang sudah bekerja dan ada yang masih kuliah. “Tapi kami tetap semangat dan akhirnya kami bisa pentas sekarang ini,“ ucap Gede Aristana.

Baca Juga  Disambut Antusias, Sanggar Seni Cakup Kaler Duta Badung Dalam Pagelaran Semara Pegulingan PKB 2025

Sementara itu, salah seorang penari joged Ni Putu Laksamiani mengaku suka menari sejak dari TK. Namun untuk menekuni dunia perjogedan kurang lebih sudah hampir 6 tahun.

Dari pengalamannya sebagai penari ia mengaku pernah mendapat pandangan negatif, namun ia enggan menyebutkan di daerah mana. “Yang pasti kebanyakan kayak gitu di daerah pedesaan. Tapi saya sebagai penari joged sangat sedih sebenarnya kalau dikatakan joged itu sebagai tarian yang jaruh. Sebenarnya tidak, tergantung penarinya menarikan tarian tersebut,“ ucapnya.

Laksamiani menegaskan di setiap pementasan pasti ada anak-anak yang menonton. Oleh karena itu, kita harus bisa menjaga bagaimana joged itu sebenarnya nggak goyang, tapi kanan kiri, ngegol. “Pesan saya jangan malu untuk menjadi penari joged. Kalau kalian ingin menjadi penari joged, mohon selalu melihat pakem-pakem yang ada supaya joged itu tidak jelek,” katanya berpesan.

Untuk tampil di PKB ini, ia sudah mempersiapkan latihan sejak sebulan lebih. Rata-rata semua penari sudah biasa menarikan joged. “Jadi latihannya gak full karena sebagian besar yang join sekarang sudah biasa menarikan joged,” tutupnya.

Pada parade Joged Bumbung Tradisi tersebut, Duta Kabupaten Badung berdampingan dengan Duta Kabupaten Jembrana. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Calonarang ‘Geseng Waringin’ Sukses Pukau Penonton PKB, Angkat Pesan Kemurnian Hati

Published

on

By

pkb
TAMPIL MEMUKAU: Rekasadana (Pergelaran) Calonarang bertajuk Geseng Waringin yang dibawakan Sanggar Seni Majalangu, Banjar Padang, Desa Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara yang merupakan duta Badung dalam PKB ke-48, tampil memukau di Kalangan Ayodya, Art Centre Denpasar, Selasa (16/6). (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.comRekasadana (Pergelaran) Calonarang bertajuk Geseng Waringin yang dibawakan Sanggar Seni Majalangu, Banjar Padang, Desa Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, tampil memukau di Kalangan Ayodya, Art Centre Denpasar, Selasa (16/6), sebagai Duta Kabupaten Badung dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.

Pementasan tersebut mengangkat nilai-nilai spiritual yang selaras dengan tema PKB tahun ini, yakni Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha, melalui kisah pertemuan antara Mpu Bharadah dan Walunateng Dirah atau Calonarang. Melalui cerita tersebut, penonton diajak merenungkan pentingnya menjaga kemurnian hati dan pikiran sebagai landasan dalam menjalani kehidupan.

Ketua Sanggar Seni Majalangu, I Made Agus Adi Santikayasa yang akrab disapa Gus Cupak, mengatakan pihaknya sengaja memilih lakon Geseng Waringin karena memiliki keterkaitan erat dengan tema besar PKB tahun ini.

”Kami dari Sanggar Seni Majalangu, Desa Kerobokan, Kabupaten Badung, pada malam hari ini akan menampilkan pementasan Calonarang dengan judul Geseng Waringin,” ujar Gus Cupak.

Ia menjelaskan, dalam alur cerita yang dipentaskan, Mpu Bharadah memberikan nasihat kepada Walunateng Dirah agar selalu mengingat nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan.

”Dalam cerita nanti akan menampilkan pertemuan antara Mpu Bharadah dan Walunateng Dirah atau Calonarang. Di sana Mpu Bharadah akan menasihati Walunateng Dirah supaya eling tekening dewek pedidi (tahu akan diri sendiri), artinya melakukan hal yang baik, berbuat yang baik, sehingga dapat menjaga atma yang ada dalam diri agar tetap suci,” katanya.

Menurutnya, pesan yang terkandung dalam pertunjukan tersebut masih sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Ia menilai segala tindakan manusia berawal dari kebersihan hati dan pikiran.

”Konsep ini bisa dikaitkan dengan kehidupan hari ini. Dari pikiran, dari hati, akan lahir perkataan yang baik dan akan ada tindakan yang baik. Yang penting harus menjaga hati. Atma kerthi itu bagaimana kita menjaga hati nurani agar tetap bersih,” ujarnya.

Baca Juga  Bawakan Karya ‘’Pasir dan Ukir, Seniman Muda Badung Guncang Panggung Ardha Candra PKB 2025

Lebih lanjut, Gus Cupak menambahkan bahwa hati yang bersih juga akan melahirkan ketenangan serta kreativitas, termasuk bagi para seniman dalam menghasilkan karya-karya seni yang berkualitas.

”Sehingga akan bisa menghasilkan ketenangan, ide-ide kreatif untuk para seniman dalam berkarya,” katanya.

Untuk pementasan kali ini, Sanggar Seni Majalangu melibatkan sekitar 75 seniman yang sebagian besar berasal dari kalangan generasi muda. Keterlibatan seniman muda tersebut menjadi bagian dari upaya regenerasi pelaku seni tradisi di Kabupaten Badung.

”Untuk PKB tahun ini kami melibatkan kurang lebih 75 seniman. Seniman ini terdiri dari seniman muda semua. Tidak ada seniman-seniman tua, kecuali satu bintang tamu saya yang asli dari Kerobokan, yaitu Kak Kumis,” ungkapnya.

Persiapan pementasan dilakukan sejak akhir Februari 2026. Rentang waktu latihan yang cukup panjang dinilai memberi ruang bagi para seniman untuk mematangkan garapan tanpa harus terburu-buru.

”Kami persiapan dari bulan Februari akhir, sehingga waktu kami untuk latihan sampai bulan Juni ini lumayan. Jadi waktu untuk latihan cukup dan tidak terburu-buru,” ujarnya.

Sebagai salah satu perwakilan Kabupaten Badung, Gus Cupak juga menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan PKB yang dinilai konsisten menjadi ruang ekspresi sekaligus ajang pelestarian seni budaya Bali.

”Kami dari seniman, khususnya yang mewakili seniman Badung, selalu mengapresiasi Pesta Kesenian Bali. Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan selalu bersinergi dengan para seniman untuk memfasilitasi setiap kegiatan kami,” katanya.

Ia berharap PKB tetap menjadi agenda budaya yang berkelanjutan dan terus menjadi wadah kreativitas bagi para seniman Bali.

”Harapan kami semoga Pesta Kesenian Bali ini tetap sebagai ikon Bali, tetap menjadi euforia bagi para seniman, dan semoga tetap terjaga sehingga tetap ada agenda seperti ini,” ujarnya.

Baca Juga  Bupati Adi Arnawa Tinjau Gladi Bersih “Peed Aya” Duta Badung untuk PKB 2026

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Sukadana, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan seni dan budaya melalui berbagai program pembinaan yang menyentuh langsung masyarakat.

”Pemerintah Kabupaten Badung di bawah Dinas Kebudayaan sangat men-support potensi-potensi seni yang ada di Kabupaten Badung,” kata Sukadana saat ditemui sebelum pementasan.

Ia mengungkapkan, pada tahun 2026 pihaknya mengembangkan program Banjar Menari yang dimulai dari tingkat desa dengan melibatkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang seni tari maupun seni tabuh.

”Program ini kami inovasi di tahun 2026. Kami melakukan kegiatan Banjar Menari, tetapi start-nya dari desa. Kami memanfaatkan potensi SDM yang punya kompetensi di bidang seni, baik seni tari maupun seni tabuh, untuk membina di masing-masing desa. Sekarang berjalan di 62 desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Badung,” jelasnya.

Menurut Sukadana, hingga saat ini program tersebut berjalan dengan baik dan belum menemui kendala berarti. Namun evaluasi tetap dilakukan untuk memastikan pelaksanaannya semakin optimal.

”Sampai saat ini kendala belum kami temukan, tetapi seiring waktu berjalan kami pasti akan tetap evaluasi untuk bekerja lebih baik ke depannya,” ujarnya.

Ia menilai PKB memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan seni budaya Bali sekaligus menjadi ruang pengembangan kreativitas para seniman daerah.

”Pesta Kesenian Bali ini sangat besar sekali pengaruhnya terhadap pelestarian, pengembangan, dan penggalian potensi-potensi seni yang ada di Bali dan di Kabupaten Badung,” katanya.

Komitmen tersebut, lanjutnya, sejalan dengan visi pembangunan pariwisata berkualitas yang tengah dijalankan Pemerintah Kabupaten Badung.

”Ketika kita berbicara pariwisata berkualitas, khususnya di Kabupaten Badung, pasti di dalamnya ditunjang oleh unsur-unsur seni dan budaya yang ada di Kabupaten Badung,” ujar Sukadana.

Baca Juga  Bawakan Kisah ‘’Pralaya Senopati Salya’’ Khas Sulangai, Sanggar Seni Wayang Kulit Parwa Bendu Semara Tampil di PKB 2025

Sebagai bentuk keseriusan dalam mendukung pelestarian seni budaya, Pemerintah Kabupaten Badung mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk mendukung partisipasi seniman dalam PKB tahun ini.

”Buktinya sekarang di Pesta Kesenian Bali yang ke-48 ini, Pemerintah Kabupaten Badung men-support dana kurang lebih sekitar Rp 7 miliar. Ini sebuah keseriusan dari pimpinan kami dalam mengembangkan dan menggali potensi-potensi seni yang ada di Kabupaten Badung,” tegasnya.

Melalui dukungan tersebut, Kabupaten Badung berharap seni budaya Bali tidak hanya tetap lestari, tetapi juga mampu berkembang sebagai fondasi penting dalam mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Dolanan “Upih Jaran” Tampil Apik di Panggung Ardha Candra

Walikota Jaya Negara Apresiasi Duta GKA Denpasar

Loading

Published

on

By

gong kebyar anak anak
SAKSIKAN GONG KEBYAR ANAK-ANAK: Gubernur Bali Wayan Koster, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Ketua Komisi II DPRD Kota Denpasar I Wayan Sutama, Sekda Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya, Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara dalam kesempatan menyaksikan penampilan Duta Gong Kebyar Anak-aak Duta Kota Denpasar dalam ajang PKB XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin (15/6) malam. (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Penampilan memukau ditunjukkan Duta Gong Kebyar Anak-anak (GKA) Kota Denpasar dari Sanggar Cilinaya, Desa Peguyangan Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, saat tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin (15/6) malam.

Penampilan yang mengangkat nilai budaya dan permainan tradisional melalui dolanan Upih Jaran itu mendapat apresiasi langsung dari Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara. Turut hadir memberikan dukungan dalam kesempatan tersebut Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Ketua Komisi II DPRD Kota Denpasar I Wayan Sutama, Sekda Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya, Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara. Penampilan kedua duta kabupaten/kota tersebut turut disaksikan Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta dan Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar.

Dalam pementasan tersebut, Duta GKA Kota Denpasar yang menempati panggung sisi utara berhadapan dengan Duta GKA Kabupaten Bangli dari Sekaa Gong Kebyar Anak-anak Santika Murti, Banjar Demulih, Desa Adat Demulih, Kecamatan Susut. Masing-masing sekaa menampilkan tabuh kreasi pepanggulan, tari kreasi, dan dolanan sebagai penutup sajian seni di hadapan ratusan penonton yang memadati arena pertunjukan.

Usai menyaksikan penampilan, Walikota Jaya Negara menyampaikan apresiasi kepada seluruh penabuh, penari, pelatih, serta keluarga besar Sanggar Cilinaya yang telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjaga dan melestarikan seni budaya Bali. Menurutnya, penampilan yang ditunjukkan anak-anak Denpasar tidak hanya menampilkan kualitas artistik, tetapi juga menjadi bukti bahwa generasi muda tetap memiliki semangat untuk mencintai dan merawat warisan budaya leluhur.

Baca Juga  Tutup PKB Badung, Bupati Adi Arnawa Lepas 26 Duta Seni ke Provinsi

“Adik-adik penabuh dan penari telah menunjukkan semangat luar biasa. Ini menjadi kebanggaan bagi Kota Denpasar karena generasi mudanya terus berlatih, berkarya, dan menjaga adat serta budaya Bali,” ujar Jaya Negara.

Sementara itu, Koordinator Sanggar Cilinaya, I Ketut Sudiarta, menjelaskan bahwa Duta GKA Kota Denpasar membawakan tiga garapan utama, yakni Tabuh Kreasi Pepanggulan Sudhi Atma, Tari Kreasi Puja Prasamya, dan dolanan Upih Jaran. Tabuh Sudhi Atma merupakan karya I Made Suwendra yang menggambarkan proses penyucian jiwa untuk mencapai keheningan batin melalui harmonisasi nada dan teknik permainan Gong Kebyar. Sedangkan Tari Puja Prasamya merupakan tari penyambutan yang mengandung pesan kebersamaan, saling menghormati, dan kasih sayang sebagai landasan terciptanya kedamaian.

Penampilan ditutup dengan dolanan Upih Jaran, sebuah garapan yang terinspirasi dari permainan tradisional anak-anak menggunakan daun upih yang dibentuk menyerupai kuda. Karya yang ditata oleh Yan Ove bersama Tu dan Tik ini mengangkat pesan tentang pentingnya menjaga alam, menghormati roh dan jiwa yang menyertai kehidupan, serta melestarikan tradisi budaya sebagai bagian dari identitas masyarakat Bali.

“Melalui permainan sederhana yang sarat makna tersebut, para penampil berhasil menghadirkan suasana ceria, penuh semangat, sekaligus mengingatkan pentingnya sportivitas, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya sejak usia dini,” ujarnya. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca