Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Sekaa Joged Akah Luki Duta Badung Pukau Penonton di PKB XLVIII 2026

BALIILU Tayang

:

joged bumbung
PARADE JOGED BUMBUNG TRADISI: : Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat, Desa Sobangan Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung, saat tampil pada acara Utsawa (Parade) Joged Bumbung Tradisi Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Kalangan Madya Mandala Art Centre Denpasar pada Kamis sore, 18 Juni 2026. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Penampilan Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat, Desa Sobangan Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung, pada Utsawa (Parade) Joged Bumbung Tradisi serangkaian Pesta Kesenian Bali Ke-48 Tahun 2026 mampu memukau penonton yang memadati Kalangan Madya Mandala Art Centre Denpasar pada Kamis sore, 18 Juni 2026.

Tari pergaulan tradisional masyarakat Bali yang merupakan Duta Kabupaten Badung ini tampil interaktif dan dinamis yang mampu menghibur para penonton yang hadir berjubel bertepatan hari Umanis Galungan.

Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat digarap oleh Penata Tabuh I Putu Sukadana, S.Sn, Pembina Tabuh I Putu Gede Aristana, Koordinator I Putu Rudityanto, S.Pd, dan Pembina Tari Ni Made Putri Ariani, S.Pd dengan empat orang penari joged yakni Ni Kadek Dewi Setiari, Ni Komang Ayu Sawitri Dewi, Ni Komang Tria Febriantari, dan Ni Putu Laksamiani. Para pengibing yakni I Ketut Juli Artawan, Wahyu, Nyoman Gunadi, dan Putu Muliani.

Pembina Tabuh I Putu Gede Aristana mengatakan pementasan Utsawa Jodeg Bumbung Tradisi dari Duta Badung menampilkan tabuh kreasi diawali tabuh Nilapati, Ulah Alih Ala, Semara Ratih Kumbang Ngisep Sari, Sunar Sunari, dan tabuh penutup.

Gede Aristana menjelaskan tabuh kreasi Nilapati adalah sebuah komposisi tabuh kreasi joged bumbung yang mengangkat konsep filosofi dan puncak ritual pitra yadnya atau ngaben. Nama Nilapati berasal dari konsep menuju kosong atau sunia. Dimana roh orang yang meninggal telah disucikan sepenuhnya untuk menyatukan dengan sang pencipta.

Dalam proses terciptanya tabuh kreasi ini, muncul intrumen pendukung yang tentunya ada dalam identitas iringan baleganjur ngarap yaitu tawa-tawa, dan nuansa angklung klentangan sebagai nuansa upacara atiwa-tiwa itu berlangsung. Adanya instrumen tambahan berupa tawa-tawa, bukan sebagai tempelan atau hanya mengkaitkan tetapi adanya sebuah penyatuan instrumen barungan gamelan joged bumbung dengan instrumen tawa-tawa, yang dalam proses eksplorasinya menemukan nuansa baru, yang tidak lepas dari unsur-unsur kerawitan yaitu kawitan, pengawak dan pengecet.

Titiang selaku pembina tabuh mengambil judul tabuh Nilapati ini adalah nike konsep ngelinggihang. Disana tiang tonjolkan ciri khas orang ngaben, ada orang megarapan, ada gending angklung yang saya tuangkan di bagian bawahnya. Dan konsep ini sesuai dengan tema PKB saat ini Atma Kerthi, gitu,“ ujar Gede Aristana.

Baca Juga  Pementasan Gong Kebyar Legendaris PKB Tahun 2025

Kemudian sebut Gede Aristana, tabuh berjudul Ulah Alih Ala. Ulah Alih diartikan perbuatan yang disengaja dan Ala merupakan bahaya yang diakibatkan dari perbuatan itu sendiri.

Ia menceritakan bahwa keharmonisan sepasang suami istri yang sedang bersenda gurau bercengkerama dan saling mengisi satu sama lain. Sampai suatu ketika prahara pun terjadi. Karena tidak dapat mengendalikan hawa nafsu dan terlena dengan kesenangan duniawi sehingga sang suami lupa akan keseimbangan jiwatman  yang menyebabkan ala atau baya bagi dirinya sendiri dan orang lain.  Dengan cinta kasih istrinya akhirnya suaminya pun sadar akan perbuatannya. Tabuh ini diiringi penari Ni Kadek Dewi Setiari, dengan pengibing I Ketut Juli Artawan.

Tabuh pepeson joged Semara Ratih, lanjut Aristana merupakan suatu iringan yang menggambarkan tentang cinta kasih, kelembutan dan keindahan yang mampu memikat hati seseorang. Tabuh pepeson ini diiringi penari Ni Komang Ayu Sawitri Dewi dengan pengibing Wahyu.

Selanjutnya Tabuh Kumbang Ngisep Sari menceritakan tentang kumbang yang berada di taman bunga. Dimana bau harum dari bunga yang bermekaran selalu menawan hati yang ada di sana. Tabuh ini diiringi penari Ni Putu Laksamiani dengan pengibing Putu Muliani.

Sedangkan tabuh Sunar Sunari menggambarkan tentang sinar bulan yang selalu menyinari gelapnya malam yang memberikan suasana keindahan di tengah kesunyian. Tabuh ini diiringi penari Ni Komang Tria Febriantari dengan pengibing Nyoman Gunadi.

Gede Aristana mengungkapkan Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat hingga bisa pentas di PKB hari ini telah melalui proses latihan sejak Februari 2026. Dalam proses latihan itu tentu banyak menemui kendala di antaranya masalah kekompakan. Pasalnya para penabuh dari berbagai kalangan ada yang sudah bekerja dan ada yang masih kuliah. “Tapi kami tetap semangat dan akhirnya kami bisa pentas sekarang ini,“ ucap Gede Aristana.

Baca Juga  Bupati Giri Prasta Resmikan Balai Banjar Adat Belulang

Sementara itu, salah seorang penari joged Ni Putu Laksamiani mengaku suka menari sejak dari TK. Namun untuk menekuni dunia perjogedan kurang lebih sudah hampir 6 tahun.

Dari pengalamannya sebagai penari ia mengaku pernah mendapat pandangan negatif, namun ia enggan menyebutkan di daerah mana. “Yang pasti kebanyakan kayak gitu di daerah pedesaan. Tapi saya sebagai penari joged sangat sedih sebenarnya kalau dikatakan joged itu sebagai tarian yang jaruh. Sebenarnya tidak, tergantung penarinya menarikan tarian tersebut,“ ucapnya.

Laksamiani menegaskan di setiap pementasan pasti ada anak-anak yang menonton. Oleh karena itu, kita harus bisa menjaga bagaimana joged itu sebenarnya nggak goyang, tapi kanan kiri, ngegol. “Pesan saya jangan malu untuk menjadi penari joged. Kalau kalian ingin menjadi penari joged, mohon selalu melihat pakem-pakem yang ada supaya joged itu tidak jelek,” katanya berpesan.

Untuk tampil di PKB ini, ia sudah mempersiapkan latihan sejak sebulan lebih. Rata-rata semua penari sudah biasa menarikan joged. “Jadi latihannya gak full karena sebagian besar yang join sekarang sudah biasa menarikan joged,” tutupnya.

Pada parade Joged Bumbung Tradisi tersebut, Duta Kabupaten Badung berdampingan dengan Duta Kabupaten Jembrana. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Dari Pengasingan Menuju Gagasan Besar, “Di Bawah Pohon Sukun” Menggugah FSBJ VIII 2026

Gubernur Wayan Koster dan Ny. Putri Koster Saksikan Pementasan yang Mengangkat Perjalanan Sukarno di Ende

Loading

Published

on

By

Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ny. Putri Koster menyaksikan pementasan teater Di Bawah Pohon Sukun dalam rangkaian FSBJ VIII 2026
FSBJ 2026: Pementasan teater "Di Bawah Pohon Sukun" dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pementasan teater “Di Bawah Pohon Sukun” menjadi salah satu sajian yang memikat perhatian penonton dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. Pertunjukan tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Ny. Putri Koster.

Pementasan yang ditulis dan disutradarai oleh Putu Satria Kusuma ini mengangkat kisah perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, saat menjalani masa pengasingan di Ende, Flores, pada 1934. Melalui alur dramatik, pertunjukan menghadirkan potret Sukarno yang tetap teguh menyalakan semangat perjuangan di tengah keterasingannya sebagai tahanan politik Pemerintah Hindia Belanda.

Meski dijauhkan dari rakyat, Sukarno tidak pernah menyerah. Ia membentuk kelompok sandiwara Tonel Kelimutu dan aktif mementaskan berbagai drama yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Di sela aktivitasnya, Sukarno kerap merenung di bawah pohon sukun, tempat yang kemudian dikenang sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan bangsa.

Dari ruang perenungan tersebut, Sukarno merumuskan nilai-nilai luhur yang kelak menjadi fondasi bagi cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kisah itu dihadirkan secara dramatik sekaligus mengajak penonton merefleksikan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pemikiran, kebudayaan, dan keteguhan menjaga cita-cita.

Pementasan “Di Bawah Pohon Sukun” mendapat apresiasi dari penonton yang memadati Gedung Ksirarnawa. Kehadirannya memperkaya rangkaian FSBJ VIII sebagai ruang ekspresi seni yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, kebangsaan, dan semangat perjuangan melalui karya teater. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Sembilan Peserta Badung Ikuti Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik Bali di PKB Ke-48, Dua Digembleng Sanggar
Lanjutkan Membaca

SENI

Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali melalui Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Adegan pementasan drama Prasasti karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian FSBJ VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa
PRASASTI: Salah satu adegan pementasan drama "Prasasti" karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Putri Suastini Koster, menyaksikan pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghadirkan dialog antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial melalui sebuah narasi yang mengajak penonton menafsirkan kembali identitas Bali dan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus yang terdiri atas Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma menjadi sebuah pembacaan ulang terhadap jejak sejarah yang terukir pada batu, sekaligus refleksi atas kegelisahan manusia modern yang semakin jauh dari akar peradabannya. Pementasan ini menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.

Naskah yang ditulis IB Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah terpenting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun, alih-alih menjadikannya materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak luwes antara masa lalu dan masa kini.

Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, mereka tiba-tiba diterpa badai dan terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Di masa silam, mereka menyaksikan langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak hadir sebagai deretan fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan.

Baca Juga  Sembilan Peserta Badung Ikuti Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik Bali di PKB Ke-48, Dua Digembleng Sanggar

Lapisan dramatik kemudian berkembang melalui kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat prasasti, dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah tersebut mengingatkan bahwa Bali sejak berabad-abad silam telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang mencatat keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Namun, “Prasasti” tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui sekelompok ibu yang resah melihat kehidupan yang dinilai semakin kehilangan arah. Mereka memulai pencarian “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban tentang asal-usul negeri ini.

Dalam pengembaraan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Sejumlah peristiwa ganjil dan simbolik pun bermunculan, membawa penonton memasuki ruang tafsir yang lebih luas mengenai kehidupan, sejarah, dan identitas.

Di sinilah kekuatan dramaturgi “Prasasti” terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, serta hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang telah selesai. Sejarah menjadi ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan Bali.

Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.

Baca Juga  Sanggar Seni Majalanggu Duta Badung, Tampilkan “Arja Cupak” dalam Pergelaran Revitalisasi Kesenian Klasik

“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.

Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali, Prasasti menunjukkan bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang tetap relevan dengan berbagai isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu sebagai cara memahami kegelisahan masa kini.

Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar kisah tentang Prasasti Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Semarak, Ny. Putri Koster Saksikan “Bintang 5 Musika Jani” FSBJ VIII di Ardha Candra

Published

on

By

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri pentas Bintang 5 Musika Jani di Panggung Terbuka Ardha Candra
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gelaran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 terus menghadirkan pertunjukan kreatif dan inovatif. Pada Jumat (17/7) malam, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi energi musik dalam pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung pertunjukan yang merupakan bagian dari program Pentas (Adilango) Musika Jani tersebut.

Musika Jani menjadi wadah ekspresi bagi para musisi untuk menampilkan karya-karya modern dengan sentuhan khas Bali. Sejumlah musisi dan grup turut memeriahkan acara ini, di antaranya Lolot, Bintang, Leeyonk Sinatra, Joni Agung & Double T, Radio Koplo, serta deretan band seperti State of Mind, Hottdog, Soullast Band, dan Six Aura Band.

Digelar mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai, acara ini sukses menyedot perhatian masyarakat dan pecinta musik yang memadati arena pertunjukan. Penampilan yang variatif, mulai dari rock, pop, hingga nuansa etnik modern, menciptakan atmosfer hiburan yang dinamis sekaligus artistik, sehingga suasana malam semakin semarak. Kehadiran ribuan penonton yang memadati tribun Panggung Terbuka Ardha Candra semakin menambah kemeriahan acara bertabur bintang tersebut.

Festival Seni Bali Jani merupakan ajang tahunan yang menitikberatkan pada pengembangan seni modern dan kontemporer di Bali. Kegiatan ini digelar setelah Pesta Kesenian Bali sebagai ruang alternatif bagi para seniman untuk berkreasi lebih bebas tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Dengan mengusung tema “Kembara Sukma Atma Kerthi”, FSBJ VIII Tahun 2026 menjadi simbol perjalanan spiritual dan kreativitas seni menuju nilai-nilai yang lebih luhur. Festival ini juga diharapkan mampu menjadi wadah tumbuhnya talenta muda sekaligus memperkuat eksistensi seni Bali di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga  Sekaa Baleganjur Dewa Ayu Duta Badung, Bawakan Cerita “Wayah” pada Lomba Baleganjur PKB Ke-46

Pentas “Bintang 5 Musika Jani” menjadi salah satu bukti semaraknya kolaborasi musik modern dalam balutan identitas budaya Bali yang terus berkembang dan tetap relevan bagi generasi masa kini. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca