Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Barong Ket Duta Denpasar Tampil Memukau di PKB XLVIII

Sekaa Telung Barung Penatih Sajikan Tari Barong Ket Dalam Gaya Ekspresif dan Energik

Loading

BALIILU Tayang

:

barong ket denpasar
BARONG KET DUTA DENPASAR: Sekaa Telung Barung, Desa Adat Penatih, Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur sukses memukau penonton lewat penampilan terbaiknya dalam Wimbakara (Lomba) Tari Barong Ket yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center, Provinsi Bali, Rabu (24/6) malam. (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Duta Seni Kota Denpasar kembali menunjukkan kepiawaiannya pada panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Kali ini datang dari Sekaa Telung Barung, Desa Adat Penatih, Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur yang sukses memukau penonton lewat penampilan terbaiknya dalam Wimbakara (Lomba) Tari Barong Ket yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center, Provinsi Bali, Rabu (24/6) malam.

Tampil bergiliran bersama Sekaa Gong Satya Yowana Giskara Kayana, Desa Menanga, Kecamatan Rendang, Duta Kabupaten Karangasem, Sanggar Swara Padma Bhuana, Desa Undisan, Kecamatan Tembuku, Duta Kabupaten Bangli dan Sanggar Seni Wahana Santhi, Banjar Dinas Umahjero, Desa Umejero, Kecamatan Busungbiu, Duta Kabupaten Buleleng, Sekaa Telung Barung, Desa Adat Penatih, Kelurahan Penatih tampil konsisten dan apik. Tak jarang, riuh apresiasi dan tepuk tangan penonton menghiasi sepanjang penampilan.

Hadir langsung memberikan dukungan kepada Duta Kota Denpasar yakni Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya dan AA Gede Agung Suyoga, pimpinan OPD Pemkot Denpasar serta undangan lainnya.

Koordinator Duta Tari Barong Ket Kota Denpasar Sekaa Telung Barung, Desa Adat Penatih, Kelurahan Penatih, Gusti Agung Febriana Iswara Putra menjelaskan bahwa Barong Ket merupakan makhluk mitologi, memiliki kekuatan magis, simbol kebajikan, sesuhunan yang sangat disakralkan oleh masyarakat Bali. Wujud Barong Ket sangat artistik, menggugah naluri imajinatif untuk mengekspresikan ke dalam gaya ekspresif, energik, spektakuler, dan berwibawa.

“Karismatik estetika artistika pertunjukan Barong Ket menjadi inspirasi pelestarian nilai kearifan lokal Bali, serta tantangan bagi juru Bapang (penari barong) dan juru kendang (penabuh kendang) untuk unjuk kemampuan dalam paraga teknik, tenaga, dan naluri keindahan sebagai abdi Sesuhunan,” ujarnya.

Baca Juga  Wawali Arya Wibawa Hadiri Pembinaan PKB Tingkat Kota

Dikatakannya, orientasi tersebut menjadi pemantik konservasi nilai filosofi Tari Barong, dan generasi juru bapang serta juru kendang di Kota Denpasar sebagai dampak keberlanjutan. Srada bhakti Ngayah Sasolahan Barong bukan sekedar partisipasi, tetapi praktik penerapan teknik tari dengan kompleksitas gegedig kendang terangkum dalam wujud pertunjukannya mengedepankan nilai spiritual vertikal.

Dikatakannya, nilai filosofis itu menuntun kreativitas perkembangan pertunjukan Barong Denpasar dengan memuliakan tradisi yang bermuara dari unsur spiritualitas dan takeh (gaya) Denpasar. Meski dikemas dengan variasi atau pengembangan struktur pertunjukan, namun identitas tetekes, kipekan, sesimbaran, milpil, dan takeh igel terpadu dengan gamelan dan pupuh gegedig kendang Denpasar tetap menjadi fokus tradisi pertunjukannya.

Secara musikal, struktur pertunjukan mengkombinasikan gending gilak babarisan dengan patopengan, menguatkan aksentuasi gamelan dengan penari Barong saat ngigelang pajeng bernuasa kenyang lempung. Sentuhan motif gegandrungan dielaborasi dalam bagian tari condong, goak macok, pelayon ketika penari menggunakan kepet (kipas).

“Saat gineman suling ngintip jangkrik, memperkuat interaksi gegedig kendang dengan improvisasi penari Barong, dan pekaed (penutup) diakhiri gending omang,” ujarnya.

Agung Febriana mengaku bersyukur atas keberhasilan penampilan ini. Pihaknya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung selama proses persiapan hingga pementasan berlangsung yang telah mencurahkan dedikasi selama ini.

“Kami sangat bersyukur karena penampilan berjalan maksimal. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan mendampingi selama beberapa bulan proses latihan. Semoga penampilan ini terus memotivasi kami menghasilkan karya yang semakin baik lagi dalam bingkai melestarikan seni budaya Bali,” ujarnya.

Sementara, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara memberikan apresiasi setinggi-tingginya dan rasa bangga atas penampilan Duta Tari Barong Ket Kota Denpasar Sekaa Telung Barung, Desa Adat Penatih, Kelurahan Penatih yang sangat memukau dan “metaksu”.

Baca Juga  Walikota Jaya Negara Apresiasi Seluruh Duta Denpasar di PKB XLVI

Jaya Negara menilai progres yang selama ini dilakukan Sekaa Telung Barung telah optimal, mulai dari sisi latihan, pembinaan, hingga pada malam penampilan di hadapan para juri Lomba Barong Ket ini. Jaya Negara berharap, dengan maksimalnya penampilan Sekaa Tari Barong Ket Duta Kota Denpasar ini dapat juga memotivasi seniman lainnya di Kota Denpasar untuk berkreativitas berkarya.

“Dengan penampilan maksimal ini kita berharap Duta Kota Denpasar dapat menjadi yang terbaik. Namun terlepas dari itu semua, kita juga menghormati keputusan dewan juri. Penampilan yang telah disajikan menunjukkan kualitas, luapan kreativitas, dan semangat pelestarian seni budaya yang terus tumbuh di Kota Denpasar, “ tegasnya.

Tak hanya itu, Jaya Negara mengaku kagum dengan garapan Tari Barong Duta Kota Denpasar yang dikemas secara harmonis melalui perpaduan gerak juru bapang (penari barong) dan juru kendang (penabuh kendang) diisi penghayatan yang kuat sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton.

“Kita menyaksikan penampilan yang sangat luar biasa dari Duta Tari Barong Ket Kota Denpasar Sekaa Telung Barung yang tidak hanya menarik dari sisi artistik, tetapi juga memiliki filosofi yang mendalam,” ujar Jaya Negara. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Drama Gong Tradisi “Tirta Usada Segara” Angkat Sejarah dan Kearifan Lokal Desa Tengkulung di PKB 2026

Published

on

By

drama gong tradisi
DUTA BADUNG: Drama Gong Tradisi Duta Badung yang diiringi Sekaa Gong Gita Swastika dari Banjar Adat Tengkulung, Desa Adat Tengkulung, Kecamatan Kuta Selatan, saat tampil pada ajang PKB 2026 di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Bali, Rabu, 24 Juni 2026. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Sekaa Gong Gita Swastika dari Banjar Adat Tengkulung, Desa Adat Tengkulung, Kecamatan Kuta Selatan, tampil sebagai Duta Kabupaten Badung dalam Utsawa (Parade) Drama Gong Tradisi pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026 di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Bali, Rabu, 24 Juni 2026.

Penampilan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian seni Drama Gong yang terus menghadapi tantangan regenerasi pemain di tengah perkembangan zaman. Kecamatan Kuta Selatan mendapat kesempatan mewakili Kabupaten Badung melalui sistem pergiliran yang diterapkan di enam kecamatan.

Ketua Listibiya Kuta Selatan, Dr. I Wayan Deddy Sumantra, S.Sn., M.Si., menjelaskan bahwa pihaknya memberikan dukungan penuh sejak awal proses persiapan. Seluruh pemain, penabuh, hingga kru pendukung berasal dari Kuta Selatan, dengan sekitar 90 persen di antaranya merupakan warga Desa Adat Tengkulung.

Pelestarian Drama Gong Tradisi dinilai penting karena tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pendidikan budaya bagi generasi muda. “Kesenian ini mampu melahirkan generasi seniman yang memiliki kemampuan berbahasa Bali yang baik sekaligus menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya lokal,” kata Deddy saat ditemui sebelum pementasan.

Dalam pementasan kali ini, Sekaa Gong Gita Swastika mengangkat lakon berjudul “Tirta Usada Segara” yang terinspirasi dari keberadaan Tirta Amerta di kawasan pesisir Desa Adat Pedungan Peluh. Tirta tersebut dipercaya memiliki fungsi penting dalam berbagai upacara penyucian dan pengobatan tradisional.

Ketua Sekaa Gong Gita Swastika, Wayan Wiana Aditya Pratama, mengatakan kisah yang diangkat juga berkaitan dengan sejarah dan perjalanan spiritual Pura Dalam Tengkulung.

“Cerita ini dikemas dalam bentuk Drama Gong agar dapat menjadi media pembelajaran bagi generasi muda mengenai asal-usul dan warisan budaya desa mereka,” ucapnya.

Baca Juga  Duta Gong Kebyar Anak-anak Jembrana Tampilkan Seni Filosofis dan Kritik Sosial Berbalut Dolanan di PKB 2026

Persiapan pementasan dilakukan selama kurang lebih empat bulan. Tantangan terbesar yang dihadapi panitia adalah menyatukan waktu latihan para anggota yang memiliki kesibukan berbeda, mulai dari bekerja hingga masih bersekolah. Menurutnya, keberhasilan pementasan tidak lepas dari kerja sama seluruh anggota yang berupaya mengesampingkan ego demi tujuan bersama.

Pertunjukan drama gong ini menceritakan Diah Manik Gegelang, seorang putri kerajaan Daa yang tersesat akibat diterbangkan angin kencang dan kemudian ditemukan oleh Bapa Dukuh di Padukuhan Taman Sari. Sebuah sabda dari langit memerintahkan agar sang putri dipelihara hingga tiba waktunya dijemput. Di lokasi jatuhnya topi Bapa Dukuh kemudian dibangun Pura Taman Segara yang kelak menjadi tempat suci bagi Diah Manik Gegelang dan pasangannya.

Di sisi lain, Raja Daa jatuh sakit akibat kehilangan putrinya. Raden Bagus Panji dari Kerajaan Madra kemudian melakukan pencarian hingga berhasil menemukan Diah Manik Gegelang di Padukuhan Taman Sari. Sebelum kembali ke kerajaan, mereka memohon Tirta Suci di Pura Taman Segara sebagai obat bagi sang raja.

Konflik memuncak ketika pihak kerajaan lain berupaya merebut kekuasaan dan merencanakan pembunuhan Raja Daa. Namun rencana tersebut berhasil digagalkan setelah kedatangan Diah Manik Gegelang dan Raden Bagus Panji. Sang raja akhirnya disembuhkan dengan Tirta Usada Segara, sementara para pelaku kejahatan diusir. Kisah ditutup dengan pernikahan Diah Manik Gegelang dan Raden Bagus Panji yang kemudian dinobatkan sebagai pemimpin kerajaan. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Bupati Adi Arnawa Tinjau Kesiapan Angklung Kebyar Duta Badung untuk PKB 2026

Published

on

By

Angklung Kebyar
TINJAU GLADI BERSIH: Bupati Wayan Adi Arnawa meninjau langsung gladi bersih Angklung Kebyar Duta Kabupaten Badung di halaman Gedung Wisma Budaya Desa Adat Legian, Kuta, Selasa (23/6). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa meninjau langsung gladi bersih Angklung Kebyar Duta Kabupaten Badung di halaman Gedung Wisma Budaya Desa Adat Legian, Kuta, Selasa (23/6). Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan kontingen Badung yang akan tampil di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.

Turut mendampingi Bupati, Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti, anggota DPRD Dapil Kuta I Made Sada dan I Wayan Puspa Negara, serta jajaran Dinas Kebudayaan dan tokoh masyarakat setempat.

Bupati Adi Arnawa mengapresiasi penampilan para seniman muda tersebut. Meski kategori Angklung Kebyar ini tidak dilombakan, ia mengingatkan bahwa gengsi dan ekspektasi masyarakat terhadap Duta Badung sangat tinggi. “Penampilan hari ini sudah sangat luar biasa. Badung selalu menjadi perhatian utama di PKB. Saya meminta para penari dan penabuh untuk tetap fokus, konsisten, serta menjaga kesehatan agar tampil kompak dan prima pada hari H nanti,” ujar Adi Arnawa.

Bupati menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mengawal kelestarian seni budaya. Menurutnya, sektor pariwisata Badung bersumber langsung dari kekuatan adat, agama, dan seni.

Ketua DPRD Badung, I Gusti Anom Gumanti, turut memberikan dukungan penuh terhadap pembinaan sanggar seni lokal. Namun, ia memberikan sedikit catatan teknis untuk penyempurnaan penampilan. “Secara keseluruhan sudah luar biasa. Catatan saya hanya pada keserasian ekspresi wajah dan kekompakan gerakan mikro antarpemain yang perlu disamakan lagi sebelum pentas,” kata Anom Gumanti.

Bendesa Adat Legian, AA. Made Mantra, menjelaskan bahwa Duta Badung diwakili oleh Sanggar Seni Taksu Murti Kemanisan. Mereka dijadwalkan tampil pada 1 Juli 2026 mendatang. “Kami sudah berlatih berbulan-bulan. Nanti di PKB, kami akan membawakan empat materi, yaitu tari kreasi, tabuh kreasi, tabuh Keklentangan, dan tari Wiranata. Kami akan mebarungan (tampil bersama) dengan Duta Kota Denpasar,” jelas Made Mantra. (gs/bi)

Baca Juga  Walikota Jaya Negara Apresiasi Seluruh Duta Denpasar di PKB XLVI

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Sanggar Titi Bah Tampil Total di PKB 2026, Arja Klasik Badung Tebar Pesan Kehidupan

Published

on

By

Arja Klasik
ARJA KLASIK DUTA BADUNG: Sanggar Titi Bah, Banjar Teguan, Desa Punggul, Kecamatan Abiansemal, Badung saat menghadirkan garapan Arja Klasik bertajuk “Kembar Buncing” dalam Utsawa (Parade) Arja Klasik rangkaian PKB 2026 di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Art Center Denpasar, Selasa (23/6/2026). (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Duta Kabupaten Badung dalam Utsawa (Parade) Arja Klasik berhasil memukau penonton di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Art Center Denpasar, Selasa (23/6/2026), dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Sanggar Titi Bah, Banjar Teguan, Desa Punggul, Kecamatan Abiansemal, menghadirkan garapan Arja Klasik bertajuk “Kembar Buncing” yang sarat akan nilai spiritual, filosofi kehidupan, serta pesan tentang kemurnian jiwa.

Ketua sekaligus pembina tari Sanggar Titi Bah, I Gusti Made Sunadi, menjelaskan bahwa “Kembar Buncing” diangkat dari cerita dalam Geguritan Ganda Wirasa yang sebelumnya pernah diproduksi oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar.

Cerita tersebut mengisahkan perjalanan Putra Mahkota Kerajaan Supala yang sejak kecil hidup dan dibesarkan di tengah hutan demi menghindari ancaman musuh. Setelah dewasa, sang putra melakukan perjalanan untuk mencari saudara kembarnya yang terpisah sejak kecil hingga akhirnya bertemu kembali di Kerajaan Candra Buwana.

Menurut Sunadi, pemilihan cerita tersebut juga memiliki keterkaitan dengan tema besar PKB 2026, yakni Atma Kerthi, yang menitikberatkan pada upaya menjaga kesucian dan kemurnian jiwa manusia.

“Setiap manusia memiliki kemurnian jiwa. Dalam perjalanan hidup, manusia tidak lepas dari pengaruh karma dan berbagai godaan duniawi. Melalui Atma Kerthi, manusia diajak untuk membersihkan diri dan kembali pada kemurnian jiwa tersebut,” ungkapnya.

Pementasan Arja Klasik “Kembar Buncing” melibatkan total 24 seniman yang terdiri dari 12 pemain serta 12 penabuh gamelan. Persiapan pementasan telah dilakukan sejak Februari 2026 dengan durasi pertunjukan sekitar tiga setengah jam.

Ia menambahkan, pemilihan cerita tersebut bukan semata-mata karena inspirasi baru, melainkan bentuk pengembangan dan pengalihwujudan cerita klasik dalam Geguritan Ganda Wirasa menjadi sebuah pertunjukan Arja yang tetap berpijak pada pakem tradisi.

Baca Juga  Wawali Arya Wibawa Hadiri Pembinaan PKB Tingkat Kota

Di tengah tantangan regenerasi, Sunadi mengakui minat generasi muda terhadap seni Arja masih menjadi pekerjaan rumah. Namun demikian, dirinya optimistis generasi muda Bali tetap memiliki ruang dan keinginan untuk mempelajari serta melestarikan kesenian tradisi.

“Anak-anak sekarang mungkin belum banyak yang tertarik dengan Arja, tetapi kita harus optimistis mereka pasti bisa, mau, dan mencintai seni tradisi jika terus diberikan ruang dan kesempatan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Sukada, menyebut Arja Klasik merupakan warisan seni adiluhung yang tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan karena mengandung nilai-nilai filosofis yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

“Arja Klasik memiliki makna dan pesan kehidupan yang sangat dalam. Ini adalah warisan budaya Kabupaten Badung yang wajib kita jaga dan lestarikan bersama,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Badung, lanjut Sukada, di bawah kepemimpinan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, memiliki komitmen kuat untuk menggali dan mengembangkan potensi seni budaya yang tersebar di seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Badung.

Pementasan Arja Klasik oleh Sanggar Titi Bah diharapkan menjadi pemantik bagi banjar-banjar lain untuk kembali membangkitkan potensi seni tradisi yang dimiliki masing-masing wilayah, sejalan dengan visi pembangunan pariwisata berkualitas yang berlandaskan nilai-nilai budaya Bali.

Menurut Sukada, kekuatan Arja Klasik terletak pada perpaduan unsur tari, vokal, dialog, dan tabuh gamelan yang tersusun dalam pakem kesenian Bali. Melalui penampilan Sanggar Titi Bah, masyarakat dapat melihat kekhasan Arja Klasik gaya Badung yang diharapkan menjadi inspirasi bagi sanggar maupun komunitas seni lainnya.

Terkait regenerasi seniman muda, Sukada menilai antusias generasi muda Badung terhadap seni tradisi masih sangat besar. Hal itu tercermin dari tingginya minat dalam program Banjar Menari, di mana pemerintah menyiapkan tenaga pengajar tari dan tabuh yang akan disebar ke 62 desa dan kelurahan di Kabupaten Badung.

Baca Juga  Taman Penasar “Ceraken” Duta Denpasar Tampil Memukau di Ajang PKB XLVI

“Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki semangat untuk menggali, melestarikan, bahkan mengembangkan seni tradisi ke arah yang lebih baik,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca