Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Gubernur Wayan Koster: Batur Sumber Peradaban dan Kesucian Bali

Gubernur Koster Ikuti Persembahyangan Upacara Melaspas Purwa Mandala Pura Ulun Danu Batur dan Desa Adat Batur Dalam Rangka Paiketan Karya 100 Tahun (1926–2026) Rarud Desa Adat Batur

Loading

BALIILU Tayang

:

Gubernur Bali Wayan Koster mengikuti persembahyangan Melaspas Purwa Mandala Pura Ulun Danu Batur di Titik Nol Desa Adat Batur Kuno, Kintamani, Rabu (29/7).
PERSEMBAHYANGAN: Gubernur Bali Wayan Koster mengikuti persembahyangan serangkaian upacara Melaspas Purwa Mandala Pura Ulun Danu Batur dan Desa Adat Batur dalam rangka Paiketan Karya 100 Tahun (1926–2026) Rarud Desa Adat Batur, di Titik Nol Desa Adat Batur Kuno, Kintamani, Bangli, Rabu (29/7). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Bangli, baliilu.com – Suasana khidmat menyelimuti Titik Nol Desa Adat Batur Kuno, Kintamani, Bangli, Rabu (29/7), ketika Gubernur Bali Wayan Koster mengikuti persembahyangan serangkaian upacara Melaspas Purwa Mandala Pura Ulun Danu Batur dan Desa Adat Batur dalam rangka Paiketan Karya 100 Tahun (1926–2026) Rarud Desa Adat Batur.

Pelaksanaan upacara yang bertepatan dengan rahina Purnama Karo itu menjadi momentum penting untuk mengenang kembali jejak sejarah Desa Adat Batur sekaligus meneguhkan komitmen menjaga kawasan yang diyakini sebagai salah satu sumber peradaban dan kesucian Bali.

Gubernur Bali Wayan Koster mengapresiasi pelaksanaan pemlaspasan yang dilakukan bertepatan dengan Purnama Karo.

Menurutnya, setiap pelaksanaan kegiatan adat dan keagamaan di Bali idealnya tetap berpedoman pada hari baik, sehingga seluruh rangkaian berjalan selaras dengan nilai-nilai spiritual dan tradisi Bali.

Lebih dari sekadar sebuah kawasan dengan keindahan alam Gunung Batur dan Danau Batur, Gubernur Wayan Koster menegaskan Batur memiliki kedudukan istimewa dalam kultur spiritual Bali. Bahkan, berdasarkan sastra Batur Kalawasan, Batur merupakan salah satu sumber peradaban tertua di Bali.

“Batur ini adalah salah satu sumber peradaban tertua di Bali. Karena itu, orang Bali, apalagi pemimpin Bali, wajib hukumnya mengetahui tentang peradaban Bali dengan wilayah Batur di dalamnya,” tegas Wayan Koster.

Pemahaman tersebut, lanjutnya, penting agar setiap kebijakan yang dibuat tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan kawasan, tetapi benar-benar mampu mengayomi, melindungi, memuliakan, dan merawat warisan leluhur yang ada di Batur.

Wayan Koster juga mengajak masyarakat melihat Batur bukan semata-mata sebagai tempat suci, melainkan sebagai sumber kesucian. Makna tersebut dinilainya jauh lebih tinggi dan mendalam karena sumber kesucian diyakini mampu memancarkan kesucian bagi wilayah di sekitarnya, sekaligus menjadi sumber kehidupan apabila dimanfaatkan secara tepat.

Baca Juga  Gubernur Koster Tutup Turnamen Gateball Nasional

Karena itu, menurut Gubernur Koster, masyarakat tetap dapat menjadikan kawasan Batur sebagai sumber penghidupan, tetapi harus dilakukan dengan cara yang baik dan tidak merusak kesucian maupun keseimbangan alam.

“Kalau sampai merusak, dampaknya luas. Kalau sumber peradaban di Gunung Batur ini kita rusak, auranya akan terganggu dan tidak akan lagi memancarkan kesucian,” ujarnya.

Ia menekankan perlunya menjaga jarak antara kawasan yang menjadi sumber kesucian dengan aktivitas pemanfaatan untuk kepentingan ekonomi. Kawasan di sekitar Batur, kata Gubernur Koster, dapat ditata dengan menyediakan tempat-tempat yang baik untuk menikmati panorama Gunung dan Danau Batur, tanpa mengganggu kawasan yang memiliki nilai spiritual dan historis.

Dengan demikian, pengembangan kawasan tidak harus mempertentangkan antara pelestarian dengan penghidupan masyarakat. Keduanya justru harus berjalan berdampingan dengan tetap menempatkan kesucian, kelestarian alam, serta warisan leluhur sebagai pijakan utama.

“Yang utama adalah bagaimana kita merawat, menjaga, memuliakan dan memajukan berbagai warisan leluhur yang adiluhung yang ada di sini secara totalitas. Kita harus kembali kepada nilai-nilai itu,” kata Gubernur Koster.

Napak Tilas 100 Tahun Rarud Desa Batur

Makna historis peringatan 100 tahun Rarud Desa Adat Batur semakin kuat karena kegiatan tersebut digelar di lokasi yang diyakini sebagai asal-muasal pemukiman masyarakat Batur sebelum relokasi akibat letusan Gunung Batur.

Panitia Karya Nengah Santika menjelaskan, Melaspas Pelinggih Padmasana dan Pelinggih Pertiwi menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 tahun Rarud Desa Batur, yang berlangsung sejak 1926 hingga 2026.

Lokasi tersebut menjadi pengingat bagi generasi penerus mengenai keberadaan awal Desa Batur sebelum masyarakatnya berpindah akibat bencana letusan Gunung Batur. Pada 3 Agustus 1926, masyarakat Batur akan melaksanakan napak tilas untuk mengenang sejarah perpindahan warga dari lokasi lama hingga ke Desa Bayung Gede, tempat masyarakat Batur sempat bermukim selama sekitar 20 tahun sebelum kemudian menempati Desa Batur yang sekarang.

Baca Juga  Usulan Visioner Koster Direspons Positif, Menkes Bantu Alkes RSUD Wangaya dan Menteri Hukum Dukung Pemindahan LP Kerobokan

Jro Gede Batur Duuran yang diwakili Jro Penyarikan Duuran Ketut Eriadi Ariana menyampaikan terima kasih atas kehadiran Gubernur Bali dan seluruh undangan dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Ia menjelaskan, nama Purwa Mandala Desa Adat Batur atau Desa Let Batur diberikan karena lokasi itu merupakan pusat permukiman masyarakat Batur pada masa lalu, sekaligus lokasi Pura Ulun Danu Batur terdahulu.

“Di sinilah persis asal-muasal keberadaan pemukiman warga Desa Adat Batur dan lokasi Pura Ulun Danu Batur terdahulu,” jelasnya.

Penelusuran sejarah lokasi tersebut dilakukan selama sekitar 12 tahun melalui berbagai metode dan diperkuat bukti-bukti autentik, termasuk dokumentasi foto peninggalan masa penjajahan Belanda.

Dari dokumentasi tersebut diketahui, bangunan Pura Ulun Danu Batur terdahulu hanya terdiri atas bangunan awal berupa Pelinggih Meru Tumpang 11 dan Kori Agung.

Ke depan, kawasan tersebut tidak diarahkan untuk dibangun kembali menjadi pura seperti sebelumnya. Sebaliknya, keberadaan situs akan dipertahankan sebagai ruang edukasi dan pengingat sejarah bagi masyarakat Batur mengenai asal-usul desa mereka.

Rangkaian peringatan 100 tahun Rarud Desa Batur juga dikemas melalui Batur Village Festival yang berlangsung 2–8 Agustus. Salah satu agenda utamanya adalah napak tilas pada 3 Agustus menuju Desa Bayung Gede.

Sinergi Menjaga Kesucian Batur

Dalam kesempatan itu, Gubernur Koster secara khusus meminta Kepala BKSDA Provinsi Bali untuk membangun sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bangli dan prajuru adat Batur sebagai penguasa wilayah yang masih kuat memegang adat dan tradisi.

Sinergi tersebut dinilai penting untuk bersama-sama menjaga, membangun, memuliakan, sekaligus mengharmoniskan kawasan Batur.

Gubernur Koster juga mengingatkan agar setiap program yang direncanakan di kawasan tersebut terlebih dahulu dikoordinasikan dengan para tetua adat Batur. Dengan demikian, setiap pembangunan dan kegiatan dapat berjalan searah dengan nilai, kepercayaan, serta tatanan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga  Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Reaktivasi Sekretariat Transformasi Ekonomi Kerthi Bali

Pesan itu menjadi semakin relevan di tengah tuntutan pengembangan kawasan. Batur tidak hanya memiliki panorama alam yang memikat, tetapi juga menyimpan ingatan kolektif tentang perjalanan masyarakat Bali. Menjaga Batur, pada akhirnya, bukan hanya menjaga sebuah tempat, melainkan merawat mata rantai peradaban agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Wakil Bupati Bangli Wayan Diar, Danrem 163/Wirasatya Ida I Dewa Agung Hadisaputra, Kepala BKSDA Provinsi Bali Ratna Hendratmoko, serta Penglingsir Puri Agung Klungkung Ida Dalem Semara Putra. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Jajaran Pemkab Tabanan Laksanakan “Bhakti Penganyar” di Pura Giri Salaka Alas Purwo

Published

on

By

Jajaran Pemkab Tabanan Gelar Persembahyangan Bhakti Penganyar di Pura Giri Salaka
BHAKTI PENGANYAR: Jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan melaksanakan persembahyangan Bhakti Penganyar di Pura Giri Salaka, Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (4/11). (Foto: ist)

Tabanan, baliilu.com – Jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan melaksanakan persembahyangan Bhakti Penganyar di Pura Giri Salaka, Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (4/11). Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Suci Pagerwesi ini diikuti oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Tabanan I Gede Susila beserta Ny. Santi Susila yang hadir mewakili Bupati Tabanan. Turut hadir Ketua DPRD Kabupaten Tabanan beserta istri dan anggota DPRD, para Asisten Sekda, para Camat, serta para Kepala Perangkat Daerah beserta staf di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan.

Persembahyangan Bhakti Penganyar berlangsung dengan khidmat sebagai wujud sradha dan bhakti umat ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui persembahyangan bersama, yang dilanjutkan dengan penyerahan punia sebagai bentuk ketulusan dan dukungan terhadap keberlangsungan kegiatan keagamaan di Pura Giri Salaka.

Momentum Hari Suci Pagerwesi yang dimaknai sebagai hari untuk memperkuat keteguhan pikiran dan spiritualitas menjadi pengingat bagi umat Hindu agar senantiasa membentengi diri dengan ilmu pengetahuan, nilai-nilai dharma, serta kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan. Melalui momentum suci ini, diharapkan mampu meningkatkan sraddha dan bhakti serta menjaga keseimbangan dalam kehidupan.

Pelaksanaan Bhakti Penganyar juga dimeriahkan dengan persembahan seni dan budaya Bali, yakni Tari Rejang Tridatu, Tari Dadong Rerod, serta tabuhan Sekaa Gong Wanita Kabupaten Tabanan. Persembahan tersebut menambah semarak sekaligus kekhidmatan suasana, serta menjadi wujud nyata pelestarian seni, adat, dan budaya Bali yang senantiasa berjalan selaras dengan kehidupan spiritual masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Tabanan berharap nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, dan sradha bhakti umat semakin kuat. Selain menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi keagamaan, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat rasa persatuan serta menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan sesuai dengan ajaran Tri Hita Karana. (gs/bi)

Baca Juga  Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Reaktivasi Sekretariat Transformasi Ekonomi Kerthi Bali

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Adi Arnawa Upasaksi “Karya Padudusan Agung” di Sigaran Mekar Bhuwana

Published

on

By

Bupati Adi Arnawa Munggah Kwangen di Bagia Pula Kerti Saat Padudusan Agung
MUNGGAH KWANGEN: Bupati Adi Arnawa “munggah kwangen” di Bagia Pula Kerti saat menghadiri sekaligus menjadi upasaksi pada Puncak Piodalan Pedudusan Agung di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Sigaran Mekar Bhuwana, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Senin (2/11). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menghadiri sekaligus menjadi upasaksi pada Puncak Piodalan Padudusan Agung serangkaian Karya Ngenteg Linggih, Mamungkah, Mupuk Pedagingan, Pedudusan Agung, Menawa Ratna, Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Sigaran Mekar Bhuwana, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Senin (2/11).

Karya yang dilaksanakan berdasarkan rangkaian upacara Tawur Balik Sumpah Utama tersebut dipuput oleh Ida Pedanda Gede Griya Cau Belayu, Ida Pedanda Gede Gria Dalem Sibanggede, dan Ida Pedanda Ulun Uma. Sebagai wujud nyata dukungan Pemerintah Kabupaten Badung terhadap pelestarian adat dan budaya Bali, Bupati Adi Arnawa menyerahkan bantuan dana sebesar Rp 3,5 miliar kepada Bendesa Adat Sigaran.

Bupati Adi Arnawa juga melaksanakan persembahyangan bersama krama pengempon serta melakukan prosesi munggah kwangen di Bagia Pula Kerti. Dalam sambramanya, Bupati mengapresiasi karya yadnya ini sebagai wujud nyata sradha dan bhakti masyarakat.

“Pemerintah Kabupaten Badung senantiasa berkomitmen untuk mendukung pelestarian adat, agama, seni, dan budaya Bali. Pelaksanaan karya yadnya seperti ini merupakan wujud nyata sradha dan bhakti masyarakat sekaligus bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga warisan leluhur agar tetap ajeg dan lestari,” ujarnya.

Ia menegaskan, tradisi lokal merupakan fondasi penting pariwisata karena sudah menjadi kewajiban bersama untuk menjaga, merawat, dan mewariskan adat serta budaya Bali kepada generasi penerus. “Jangan sampai perkembangan zaman membuat kita melupakan akar budaya dan tradisi yang menjadi jati diri masyarakat Bali,” tegasnya.

Sementara itu, Manggala Karya Wayan Suja menyampaikan bahwa rangkaian karya telah dimulai sejak 27 Agustus 2026 dan akan berlangsung hingga 16 Desember 2026 mendatang. Tahapan upacara yang dilaksanakan meliputi Atur Piuning, Dharma Wacana, Nyukat Genah, Melaspas, Nyengker Setra, Netegan Nyangling, Mendak Tirta, hingga Yasa Kerti. Disebutkan pula bahwa pengempon pura berjumlah 109 paon, yang mencakup 430 kepala keluarga (KK) atau 2.425 jiwa.

Baca Juga  Jadikan Bali Sebagai Pulau Organik, Ny. Putri Koster Ajak Semua Pihak untuk Berpartisipasi

Turut hadir Anggota DPRD Badung Nyoman Wiradana, Plt. Camat Abiansemal Wayan Bagiarta Gunawan, unsur Tripika, Perbekel Desa Mekar Bhuwana, serta Bendesa Adat Mekar Bhuwana. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Pemkot Denpasar Gelar Persembahyangan Bersama Rahina Saraswati di Pura Agung Jagatnatha

Published

on

By

Persembahyangan Rahina Saraswati di Pura Agung Jagatnatha
PERSEMBAHYANGAN SARASWATI: Suasana persembahyangan yang diikuti oleh Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, Pangdam IX Udayana, Mayjen TNI Putra Widiastawa, dan masyarakat Kota Denpasar serangkaian Rahina Saraswati, Saniscara Umanis Wuku Watugunung, di Pura Agung Jagatnatha, Sabtu (31/10). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Pemerintah Kota Denpasar melaksanakan persembahyangan bersama serangkaian Hari Suci Saraswati di Pura Agung Jagatnatha Kota Denpasar, pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung, Sabtu (31/10).

Persembahyangan tersebut merupakan wujud sradha bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati, Dewi Ilmu Pengetahuan.

Hadir langsung pada momentum tersebut, Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, bersama pimpinan OPD di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar. Tampak hadir pula Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Putra Widiastawa, dan Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya.

Usai persembahyangan, Sekda Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya mengatakan, Hari Suci Saraswati dimaknai sebagai turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia. Pada hari ini umat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati yang diidentikkan sebagai dewi pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Dewi Saraswati diyakini sebagai sakti dari Dewa Brahma, Dewa Pencipta dalam mitologi Hindu.

“Hari Saraswati menjadi hari yang penting bagi siswa sekolah dan penggelut dunia pendidikan, karena ilmu pengetahuan merupakan bekal dalam kehidupan manusia yang dapat menuntun ke arah kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan peningkatan keberadaban,” ujarnya.

Pada Rahina Saraswati, umat Hindu melaksanakan persembahyangan dan persembahan kepada Dewi Saraswati di pura, sekolah, dan rumah masing-masing. Selain itu, umat juga menghaturkan banten Saraswati pada pustaka, lontar, kitab, dan buku-buku.

“Kami menghaturkan terima kasih kepada masyarakat Kota Denpasar termasuk siswa-siswi dan mahasiswa yang sudah hadir pada perayaan Hari Suci Saraswati di Kota Denpasar ini. Perayaan ini telah digelar secara rutin, mudah-mudahan melalui persembahyangan ini semua umat diberikan pengetahuan dan kecerdasan dalam menjalankan swadharma masing-masing,” ujar Sekda Eddy Mulya.

Baca Juga  Audisi Mixologi Arak Bali Tampilkan Racikan Inovatif dengan Sentuhan Budaya Lokal

Sementara itu, Kabag Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Denpasar, Putu Agus Jayadi mengatakan, rangkaian persembahyangan Hari Suci Saraswati di Kota Denpasar dipusatkan di Pura Agung Jagatnatha. Adapun rangkaian persembahyangan dilaksanakan dari pagi hingga malam hari.

“Persembahyangan Rahina Saraswati hari ini akan dilaksanakan dari pagi sampai dengan malam hari. Untuk pemedek yang akan tangkil, dapat melaksanakan dengan tertib dan khusyuk,” katanya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca