Denpasar, baliilu.com – DPRD Provinsi Bali menggelar Sidang Paripurna Istimewa Ke-47 dengan agenda penyampaian pidato Gubernur Bali dalam rangka memperingati Hari Jadi Ke-68 Provinsi Bali, Jumat (14/8/2026) bertempat di Ruang Sidang Utama, Kantor DPRD Provinsi Bali, Denpasar.
Sidang Paripurna Istimewa tersebut dipimpin Ketua DPRD Provinsi Bali Dewa Made Mahyadnya, didampingi para Wakil Ketua bersama segenap anggota DPRD Bali. Hadir Gubernur Bali Wayan Koster, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Bali, Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta beserta Ny. Seniasih Giri Prasta, Sekretaris Daerah Provinsi Bali, para Ketua DPRD Kabupaten/Kota se-Bali, serta tokoh masyarakat dan undangan lainnya.
Mengawali persidangan, Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya menyampaikan salam pembuka dengan menggunakan bahasa Bali. Ia menyampaikan rasa syukur atas pelaksanaan Sidang Paripurna Istimewa Ke-47 DPRD Provinsi Bali yang bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat Bali untuk menjadikan momentum hari jadi provinsi sebagai kesempatan untuk mengingat kembali perjalanan sejarah sekaligus melihat perkembangan pembangunan Bali.
“Galah puniki pinaka pamiteket ring Krama Bali makasami, mangda setata éling ring sejarah miwah panglimbak wewangunan Bali,” ungkap Dewa Mahayadnya yang akrab disapa Dewa Jack.
Dalam pidatonya, Dewa Jack juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan kebersamaan dalam menjalankan tanggung jawab masing-masing. Dengan menggunakan istilah Bali seperti gilik-saguluk dan paras-paro, Dewa Jack menggambarkan semangat kebersamaan, saling membantu, serta menjaga keharmonisan dalam kehidupan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa peringatan Hari Jadi Provinsi Bali harus menjadi momentum untuk memperkuat tekad bersama dalam menjaga Bali agar tetap kokoh sekaligus mampu berkembang menghadapi tantangan zaman.
“Ngiring sareng-sareng ngulengang kayun, nelebin nyuksmayang sloka sané jagi kewacén puniki,” ucapnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sloka yang mengangkat tema Suci Lascarya, Nusa Wijaya. Pesan yang disampaikan menekankan pentingnya ketulusan dalam berkarya dan pengabdian kepada masyarakat serta tanah kelahiran.
Dewa Mahayadnya kemudian menterjemahkan makna sloka tersebut bahwa setiap karya dan perjuangan semestinya tidak hanya ditujukan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk keluarga, masyarakat, dan Bali. “Bali, Nusa yang kita jaga, Bali, Nusa yang kita banggakan,” tambahnya.
Di bagian akhir persidangan, Dewa Made Mahayadnya kembali menggunakan Bahasa Bali saat menutup persidangan. Ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mengikuti Sidang Paripurna DPRD Provinsi Bali serta mengajak seluruh pihak menjaga suasana kebersamaan. “Pinaka panguntat, puputang titiang antuk ngaturang parama santih,” ucapnya menutup persidangan.
Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster dalam pidatonya menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Bali untuk melanjutkan pembangunan Bali secara fundamental dan komprehensif dengan berlandaskan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru.
Dalam momentum tersebut, Gubernur mengajak seluruh masyarakat Bali untuk tidak melupakan sejarah dan meneruskan semangat pengabdian para pemimpin Bali terdahulu yang telah meletakkan fondasi pembangunan Bali.
“Kita sebagai generasi penerus yang mewarisi spirit pengabdian Beliau, wajib meneruskan perjuangan dan pengabdian Beliau, membangun Bali pada masa kini dan masa depan sebagai bentuk tanggung jawab untuk menjaga eksistensi keberlanjutan Bali sepanjang masa,” tegas Gubernur Koster.
Gubernur Koster mengatakan, dalam melanjutkan kepemimpinan pembangunan Bali, dirinya bersama Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta mengemban amanah masyarakat Bali untuk ngayah secara total, Lascarya Niskala-Sakala, dengan bekerja sungguh-sungguh, ekstra keras, fokus, tulus dan lurus. (gs/bi)