Gianyar, baliilu.com
– Keberpihakan terhadap keberadaan desa adat di Bali sebagai warisan adiluhung
yang mesti terus dilestarikan dan dijaga keberlangsungannya betul-betul sangat
nyata ditunjukkan oleh Gubernur Bali Wayan Koster melalui berbagai kebijakan
dan kerja konkret. Hal ini dibuktikan dengan diterbitkan Peraturan Daerah
(Perda) Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat sebagai perlindungan dan landasan
hukum positif terhadap keberadaan desa adat di Pulau Dewata yang keberadaannya
telah berlangsung lebih dari seribu tahun. Disusul kemudian dengan dibentuknya
Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemajuan Desa Adat Pemerintah Provinsi
(Pemprov) Bali yang secara khusus bertugas menangani berbagai kepentingan dan
kebutuhan terkait keberlangsungan keberadaan desa adat di Bali.
Tak berhenti di situ saja, Gubernur Koster juga sangat
memperhatikan penunjuang infrastruktur yang dibutuhkan. Salah satunya dengan
pembangunan Kantor Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali hingga tingkat
kabupaten/kota se-Bali. Untuk tingkat kabupaten/kota hal itu ditandai dengan
peletakan batu pertama secara perdana pembangunan Kantor Majelis Desa Adat
(MDA) Kabupaten Gianyar, Selasa (18/8) yang bertepatan hari Tilem Sasih Karo di
kawasan Kesatrian, Kota Gianyar. Selanjutnya akan disusul dengan pembangunan
kantor MDA tingkat kabupaten/kota lainnya se-Bali. Nantinya Kantor MDA Kabupaten
Gianyar ini sendiri akan diperuntukan pula untuk Kantor PHDI Gianyar.
Dalam sambutan saat acara peletakan batu pertama Kantor MDA
Gianyar, Gubernur Koster menegaskan desa adat di Bali adalah warisan adiluhung
yang sudah sepantasnya dihargai dengan hal-hal konkret. “Bayangkan, desa
adat di Bali sudah ada sejak abad ketujuh. Mengurusi segala hal, adat istiadat,
tradisi, seni, budaya, sekala dan niskala, tapi sejak dulu tidak ada yang
khusus dan konkret mengurusi desa adat ini. Untuk itu, sekarang saya urus
betul. (Saya, red) buatkan perda-nya, dinas-nya (OPD, red). Ini yang disebut
keberpihakan,” kata Gubernur Koster.
Menurut Gubernur, dirinya merasa miris melihat kenyataan
selama bertahun-tahun bahwa bagian penting dari tata kehidupan dan kearifan
lokal Bali seperti desa adat, cuma diurus dan dibidangi oleh pejabat setingkat
kepala bidang (kabid). “Untuk itu saya buatkan Dinas Pemajuan Masyarakat
Adat, jadi jelas tupoksinya (tugas pokok dan fungsi, red). Kantornya kita
buatkan, baru dengan tiga lantai, tidak lagi ‘numpang’ di Dinas Kebudayaan. Dan
tidak hanya gedung, kita siapkan tenaga administrasinya, operasionalnya,
sehingga bisa berjalan baik turun langsung ke desa-desa,” jelasnya.
Dikatakan Gubernur Koster yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan
Provinsi Bali ini, pembangunan kantor MDA untuk tingkat kabupaten/kota
se-Bali akan dilakukan secara simultan.
Sehingga MDA akan mampu melaksanakan tugas besar mereka untuk menghubungkan dan
memfasilitasi desa adat dengan pihak pemerintah. “Dananya bersumber dari
CSR (Corporate Social Responsibility)
BUMN yang kita betul-betul alokasikan. Setelah selesai di provinsi (pembanguan
gedung kantor MDA Provinsi, red), lalu dilanjutkan (pembangunan kantor MDA
tingkat kabupaten/kota, red) ke kabupaten/kota. Tahun ini diawali dari Gianyar,
lalu Jembrana, Bangli, Denpasar, Buleleng, Karangasem, dan awal tahun depan
menyusul Klungkung , Badung dan Tabanan,” sebut anggota DPR RI tiga
periode ini.
Lebih jauh, Gubernur kelahiran Desa Sembiran, Kabupaten
Buleleng ini menyebut terbitnya Perda Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat
adalah sebuah perjuangan yang sangat panjang. “Saya memperjuangkan dan
berdebat di Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri, red) agar perda ini bisa lolos, dan sekarang desa adat di Bali
ada ‘bapaknya’, ada landasan (hukum)-nya. Perda eksklusif sebagai identitas
desa adat kita,” terang Gubernur Koster.
Selanjutnya Gubernur Koster berpesan agar para bendesa dan
jajaran betul-betul serius dalam menjaga kuat dan kokohnya desa adat sebagai
tiang adat dan kebudayaan Bali. “Dari landasan hukum hingga infratruktur
sudah tuntas kita urus. Maka dari itu, ingat bahwa desa adat ini punya tugas niskala dan sekala. Jika kita kerja
tulus dan lurus, maka ada dua manfaatnya. Jadi jangan main-main,” pesan
Gubernur seraya mengingatkan bahwa Bali yang kecil ini luasnya cuma 546 km2,
penduduknya 4,3 juta kurang sedikit, 9 kab kota, 636 desa, 80 kelurahan, 1.493
desa adat. Bali ini kecil dibandingkan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa.
Bali yang kecil ini dianugerahi kekayaaan yang tidak dimiliki
daerah lain. Keunikannya adalah budaya dengan berbagai unsur yang ada baik adat,
tradisi dan kearifan lokalnya. ‘’Cuma di Bali ada kekayaan dan keunikan seperti
ini, tak ada di tempat lain. Inilah yang membuat Bali tersohor di seluruh dunia,
membuat orang datang ke Bali berwisata sehingga meningkatkan kesejahteraan kita,’’
ujarnya.
Bali tak punya gas, tak punya minyak, batubara, karena itu kita
harus hidup survive dengan budaya. Budaya inilah yang kita pelihara dan budaya ini
dijadikan basis perkembangan perekonomian, industri sandang, pangan dan
lainnya. ‘’Jadi, majelis desa adat provinsi, kabupaten, kecamatan sampai bendesa
adat, bapak harus kokoh, kuat menjaga adat istiadat, tradisi, seni, budaya menjalankan
tata kehidupan beragama dengan kearifan lokal, dengan tata cara adat istiadat
di Bali, ’’ ujarnya sambil mengingatkan seperti yang pernah disampaikan Bung Karno
kalau jadi orang Hindu jadilah orang Hindu Indonesia.
“Desa adat dan budaya Bali harus dijaga betul dari
penggerusan dari luar. Kita sudah punya yang baik, jadi mari jaga sama-sama.
Bali ini kecil, namun punya kearifan lokal yang unik dan cuma ada di Bali. Kalau
ini hilang, maka Bali hanya tinggal nama,” imbuhnya kembali mengingatkan.
PELETAKAN BATU: Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Bupati Gianyar Agus Mahayastra meletakkan batu pertama tanda mulai dibangunnya Kantor MDA Kabupaten Gianyar, Selasa (18/8).
Peletakan Batu Pertama Pembangunan Kantor MDA Gianyar
Sementara itu, Bupati Gianyar I Made Agus Mahayastra
mengatakan pembangunan kantor MDA Kabupaten
Gianyar ini adalah sebagai sebuah sejarah. “Ini salah satu
terobosan Bapak Gubernur (Wayan Koster, red) untuk adat dan budaya Bali. Mulai
dari Perda dan Pergub (Peraturan
Gubernur, red), infrastruktur hingga pembangunan SDM. Tidak pernah terjadi
sebelumnya,” sebut Mahayastra.
Bupati Mahayastra kemudian menyebut bahwa Gubernur Koster
sebagai sosok tokoh ‘langka’ di Bali.
Pasalnya tak hanya fasih menjalankan roda pemerintahan, namun pula mempunyai
kemahiran diplomasi ditunjang jaringan yang sangat kuat dengan Pemerintah
Pusat. “Bargaining Bali kini di Pusat sangat luar biasa. Pembangunan di
(Pura, red) Besakih, pelabuhan segitiga emas, Pusat Kebudayaan, Stadion Dipta,
jalan tol, pasar seni, dan yang lain. Mungkin nilainya lebih dari Rp 5 triliun.
Sepanjang sejarah, tidak pernah ada dana Pusat sebesar itu turun ke Bali. Ini
prestasi yang suka tidak suka harus diapresiasi, sebuah kerja keras dari bapak
Gubernur,” ungkapnya.
Sedangkan menurut penuturan Majelis Desa Adat (MDA)
Kabupaten Gianyar Anak Agung Gde Alit Asmara, gedung untuk Kantor MDA Kabupaten
Gianyar akan dibangun di atas lahan aset milik Pemprov Bali dengan luas
mencapai kurang lebih tujuh are. Gedung ini nantinya akan dibangun dua lantai.
Dan Gianyar merupakan kabupaten pertama di Bali yang melakukan peletakan batu
pertama untuk pembangunan gedung kantor MDA. Sumber dana berasal dari APBD
Kabupaten Gianyar dengan nilai sebesar Rp 3,4 miliar lebih. Sedangkan
kabupaten/kota lainnya, seperti Jembrana, Karangasem, Bangli, Denpasar,
Klungkung, Tabanan dan Buleleng akan menggunakan bantuan dana CSR.
Tampak hadir pula dalam acara ini, Sekda Provinsi Bali Dewa
Made Indra dan Bendesa Agung MDA Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet. (gs)
HADIRI PUNCAK KARYA: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara yang juga selaku Penglingsir Puri Penatih, Ketua Umum Paiketan Warga Arya Wang Bang Pinatih sekaligus Pengrajeg Karya didampingi Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara saat mengikuti rangkaian Puncak Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Tawur Tabuh Gentuh, dan Padudusan Agung Menawa Ratna di Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek dan Pura Taman Beji Segara Rupek, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Minggu (14/6). (Foto: Hms Dps)
Buleleng, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Puncak Karya Padudusan Agung Menawa Ratna di Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek dan Pura Taman Beji Segara Rupek, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Minggu (14/6), bertepatan dengan Tilem Sasih Sadha. Kehadiran Jaya Negara yang juga selaku Penglingsir Puri Penatih, Ketua Umum Paiketan Warga Arya Wang Bang Pinatih sekaligus Pengrajeg Karya tersebut didampingi Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara.
Puncak karya yang berlangsung khidmat sejak pagi hari itu dipuput oleh sembilan sulinggih dari berbagai griya di Bali. Yakni Ida Pedanda Gede Sukawati Manuaba selaku Wiku Yajamana, Ida Pedanda Bhoda dari Griya Gede Tegal Jadi Tabanan, Ida Rsi Bhujangga Hari Dantam dari Griya Tumbak Bayuh Badung, Ida Pedanda Reshi Agung Pinatih Kusuma Yoga dari Griya Agung Tulikup Gianyar, Ida Rsi Agung Sidemen Sumurdha Gotama Karang dari Griya Bhuda Klungkung, Ida Pedanda Gede Putra Sidhanta Manuaba dari Griya Gede Bantas Gali Ukir Pupuan Tabanan, Ida Rsi Agung Wayabya Suprabhu Sogata Karang dari Griya Agung Buduk Badung, Ida Rsi Agung Putra Sidhimantra dari Griya Agung Bumbak Badung, serta Ida Pedanda Gede Dwija Putra Manuaba dari Griya Bedulu, Jembrana.
Jaya Negara menjelaskan, sebelum pelaksanaan puncak karya, terlebih dahulu telah dilaksanakan prosesi Melasti dan Mulang Pakelem sebagai bagian dari rangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Tawur Tabuh Gentuh, dan Padudusan Agung Menawa Ratna pada Sabtu (13/6). Upacara Melasti dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Dalem dari Griya Dalem Sibang, Ida Pedanda Dwija Padang Rata dari Griya Kutri Gianyar, serta Ida Pedanda Nabe Istri Rai Sigaran dari Griya Manistutu, Jembrana.
Menurut Jaya Negara, rangkaian Melasti memiliki makna penting sebagai prosesi penyucian dan permohonan kerahayuan sebelum memasuki puncak karya. Melalui upacara tersebut, umat memohon agar seluruh rangkaian yadnya dapat berjalan lancar serta memberikan keselamatan dan keseimbangan bagi alam semesta.
“Melalui pelaksanaan Melasti ini, diharapkan seluruh rangkaian Karya Agung di Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek dapat berlangsung lancar dan memberikan kerahayuan bagi umat serta alam semesta,” ujar Jaya Negara.
Lebih lanjut, Jaya Negara mengapresiasi semangat pengabdian seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan karya. Menurutnya, yadnya yang dilaksanakan tidak hanya menjadi sarana meningkatkan sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga mempererat persaudaraan umat serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali.
Dalam kesempatan tersebut, Jaya Negara juga menyampaikan terima kasih kepada para sulinggih, pemerintah, pengempon dan pengemong pura, para donatur, serta masyarakat yang turut ngayah dan memberikan punia. Dukungan yang diberikan, baik moril maupun materiil, menjadi bukti nyata semangat gotong-royong dalam menjaga keberlangsungan warisan spiritual dan budaya Bali.
Jaya Negara menjelaskan bahwa Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek merupakan salah satu pura kahyangan jagat yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi bagi umat Hindu. Karena itu, keberadaan pura tersebut perlu terus dijaga, dipelihara, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya dan spiritual Bali.
“Karya ini merupakan wujud bhakti yang tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga kesucian dan kelestarian Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek sebagai pura kahyangan jagat,” ujar Jaya Negara.
Jaya Negara juga mengapresiasi dukungan Gubernur Bali Wayan Koster, pemerintah daerah se-Bali, Bank BPD Bali, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi sehingga pelaksanaan karya dapat berlangsung dengan baik. Menurutnya, sinergi dan kebersamaan tersebut menjadi kekuatan utama dalam menjaga eksistensi pura dan tradisi keagamaan yang diwariskan para leluhur. Menurut Jaya Negara, karya yang dipuput para sulinggih dari berbagai soroh dan wangsa di Bali tersebut tidak hanya bertujuan menyucikan kawasan pura, tetapi juga menyucikan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.
“Melalui karya ini kita bersama-sama memohon agar alam semesta senantiasa dianugerahi keselamatan, kedamaian, dan kerahayuan. Nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong, dan bhakti yang terbangun selama pelaksanaan karya menjadi kekuatan penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat Bali,” ujar Jaya Negara. (eka/bi)
Pengrajeg Karya Agung Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek Walikota Jaya Negara Dampingi Gubernur Koster dan Bupati Se-Bali Ikuti Prosesi “Karya Tawur Tabuh Gentuh“
UPACARA TAWUR: Kehadiran Gubernur Bali Wayan Koster, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital Prananda Prabowo didampingi Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dan para bupati/wakil bupati se-Bali dalam rangkaian Upacara Tawur di Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek dan Pura Taman Beji Segara Rupek, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Jumat (12/6). (Foto: Hms Dps)
Buleleng, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara selaku Penglingsir Puri Penatih, Ketua Umum Paiketan Warga Arya Wang Bang Pinatih sekaligus Pengrajeg Karya mendampingi Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri Upacara Tawur sebagai rangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Tawur Tabuh Gentuh, Mapadudusan Agung, dan Manawa Ratna di Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek dan Pura Taman Beji Segara Rupek, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Jumat (12/6/2026).
Upacara tersebut dipuput oleh Ida Pedanda Gede Sukawati Manuaba, Ida Pedanda Gede Badjra Sikara Yoga, serta Ida Rsi Bhujangga Hari Dantam dan Ida Pedanda Gede Putra Shidanta Manuaba. Turut hadir Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, para bupati dan wakil bupati se-Bali, Ketua DPRD Kabupaten Badung I Gusti Anom Gumanti, Sekda Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya. Tampak hadir pula Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital Prananda Prabowo, Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Ketua GOW Kota Denpasar Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, serta Ketua DWP Kota Denpasar Ny. I Gusti Ayu Putu Suwandewi Eddy Mulya serta sejumlah tokoh masyarakat dan undangan lainnya.
Puncak Karya Padudusan Agung Manawa Ratna dilaksanakan pada Redite Paing Dungulan, Minggu (14/6), bertepatan dengan Tilem Sasih Sadha. Upacara dipuput oleh Ida Pedanda Gede Sukawati Manuaba selaku Wiku Yajamana, Ida Pedanda Bhoda Griya Gede Tegal Jadi Tabanan, Ida Rsi Bhujangga Hari Dantam, Ida Pedanda Rsi Agung Pinatih Kusuma Yoga, dan Ida Rsi Agung Sidemen Sumurdha. Rangkaian puncak karya turut diisi prosesi peselang, pengubengan, dan pedanan yang diiringi kesenian wali seperti Topeng Wali, Wayang Lemah, Tari Rejang, dan Tari Baris Gede yang dipersembahkan para pengayah Jero Bendesa Adat se-Kota Denpasar.
Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara selaku Penglingsir Puri Penatih, Ketua Umum Paiketan Warga Arya Wang Bang Pinatih sekaligus Pengrajeg Karya dalam sambutannya menjelaskan bahwa pelaksanaan karya ini dilaksanakan setelah rampungnya pembangunan Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek yang mendapat dukungan hibah dari Pemerintah Provinsi Bali. Menurutnya, lima tahun lalu telah dilaksanakan Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Mendem Pedagingan, dan Melaspas Alit, sehingga tahun ini dapat kembali dilaksanakan Karya Mapadudusan Agung Manawa Ratna.
Jaya Negara mengatakan seluruh rangkaian pujawali dilaksanakan dengan Wiku Yajamana Ida Pedanda Gede Sukawati Manuaba dan Tapini Karya Ida Pedanda Istri Anom. Karya agung ini diharapkan mampu menghadirkan vibrasi kebaikan bagi umat, masyarakat, dan alam semesta. Selain sebagai wujud rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, pelaksanaan yadnya juga menjadi sarana memperkuat nilai kebersamaan, persaudaraan, dan semangat ngayah di tengah kehidupan masyarakat Bali.
“Pelaksanaan karya ini merupakan bentuk rasa syukur sekaligus upaya bersama menjaga kesucian pura sebagai pusat spiritual umat. Semangat ngayah dan gotong-royong yang ditunjukkan masyarakat patut dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Jaya Negara.
Jaya Negara juga menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Bali, para kepala daerah se-Bali, serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan karya. Menurutnya, nilai-nilai Tri Hita Karana yang diwujudkan dalam karya ini tetap relevan sebagai landasan menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.
Rangkaian yadnya telah dimulai sejak awal Mei 2026 melalui prosesi Matur Piuning, dilanjutkan Nuasen Karya, Melaspas Pelinggih, hingga berbagai tahapan penyucian lainnya. Setelah puncak karya, rangkaian penganyaran akan berlangsung hingga 25 Juni 2026, dilanjutkan Upacara Nyineb pada 28 Juni dan Nyegara Gunung pada 29 Juni 2026. Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan Upacara Bulan Pitung Dina pada akhir Juli mendatang. Pelaksanaan Upacara Tawur juga diakhiri dengan persembahyangan bersama, penandatanganan prasasti, serta penyerahan punia sebagai simbol dukungan dan kebersamaan dalam menyukseskan karya agung tersebut. (eka/bi)
HADIRI UPACARA NGERATEP: Wabup Bagus Alit Sucipta menyerahkan dana hibah saat menghadiri Upacara “Ngeratep Tapakan” di Pura Dalem Bebalang, Desa Adat Carangsari, Kecamatan Petang, Badung, Rabu (10/6). (Foto: Hms Badung)
Badung, baliilu.com – Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta, menghadiri Upacara Ngeratep Tapakan di Pura Dalem Bebalang, Desa Adat Carangsari, Kecamatan Petang, Badung, Rabu (10/6). Upacara ini dipuput oleh Ida Pedanda Gede Manuaba dari Griya Gede Carangsari.
Sebagai bentuk nyata dukungan dan apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Badung, menyerahkan bantuan dana hibah secara simbolis sebesar Rp 700 juta untuk proses Ngodakin Tapakan. Turut hadir dalam kesempatan tersebut, anggota DPRD Badung I Gusti Lanang Umbara dan I Nyoman Artawa, Kepala Dinas Kebudayaan Badung I Gede Sukadana, Camat Petang A.A. Ngurah Darma Putra, Tripika Kecamatan Petang, Perbekel Desa Carangsari I Made Sudana, Perbekel Desa Petang Dewa Gede Usadi, serta para tokoh adat dan penglingsir Puri Agung Carangsari.
Dalam sembrama wacananya, Wakil Bupati Bagus Alit Sucipta menyampaikan apresiasi mendalam kepada krama (warga) Desa Adat Carangsari atas semangat gotong-royong dalam melaksanakan pujawali ini. Menurutnya, perbaikan (ngodakan) Pelawatan Ida Betara Barong ini menjadi simbol persatuan dan ketulusan bakti masyarakat.
“Kehadiran pemerintah di tengah masyarakat tidak lain adalah untuk meringankan beban krama. Kami berharap kebersamaan dan semangat gotong-royong ini terus dijaga demi kelancaran upacara (sida purna, sida sidaning don),” ujar Bagus Alit Sucipta.
Sementara itu, Manggala (Ketua) Karya, I Gusti Ngurah Mudra, menjelaskan bahwa Pura Dalem Bebalang kini berstatus sebagai Pura Kahyangan Tiga yang diempon oleh tiga banjar, yaitu Banjar Pemijian, Banjar Bedauh, dan Banjar Mekarsari. Total pengempon terdiri dari 96 pengempon pokok dan 326 pengempon kaplekan.
Gusti Ngurah Mudra menambahkan, keputusan untuk melakukan upacara ngodakan ini lahir dari hasil musyawarah warga pada 17 Desember 2025 lalu. Proses perbaikan Pelawatan Ida Betara melibatkan undagi (arsitek tradisional) dan sangging terpercaya dari wilayah Puaya dan Taro Tegalalang, Gianyar.
“Total biaya keseluruhan untuk proses ngodakan ini mencapai lebih dari Rp 2 miliar. Sumber dana berasal dari hibah Pemkab Badung sebesar Rp 700 juta, Pemerintah Desa Carangsari Rp 150 juta, CSR BPD Bali Rp 50 juta, urunan (peson-peson) pemaksan Pura Rp 437 juta, serta dana punia sukarela dari krama sebesar Rp 415 juta,” papar Mudra.
Pihaknya juga menyampaikan terima kasih atas perhatian berkelanjutan dari Pemkab Badung, mengingat pada tahun 2024 lalu, Pura Dalem Bebalang juga telah menerima bantuan sebesar Rp 4,8 miliar yang dialokasikan untuk pembangunan fisik di area (wewidangan) Pura. (gs/bi)