Gianyar, baliilu.com
– Keberpihakan terhadap keberadaan desa adat di Bali sebagai warisan adiluhung
yang mesti terus dilestarikan dan dijaga keberlangsungannya betul-betul sangat
nyata ditunjukkan oleh Gubernur Bali Wayan Koster melalui berbagai kebijakan
dan kerja konkret. Hal ini dibuktikan dengan diterbitkan Peraturan Daerah
(Perda) Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat sebagai perlindungan dan landasan
hukum positif terhadap keberadaan desa adat di Pulau Dewata yang keberadaannya
telah berlangsung lebih dari seribu tahun. Disusul kemudian dengan dibentuknya
Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemajuan Desa Adat Pemerintah Provinsi
(Pemprov) Bali yang secara khusus bertugas menangani berbagai kepentingan dan
kebutuhan terkait keberlangsungan keberadaan desa adat di Bali.
Tak berhenti di situ saja, Gubernur Koster juga sangat
memperhatikan penunjuang infrastruktur yang dibutuhkan. Salah satunya dengan
pembangunan Kantor Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali hingga tingkat
kabupaten/kota se-Bali. Untuk tingkat kabupaten/kota hal itu ditandai dengan
peletakan batu pertama secara perdana pembangunan Kantor Majelis Desa Adat
(MDA) Kabupaten Gianyar, Selasa (18/8) yang bertepatan hari Tilem Sasih Karo di
kawasan Kesatrian, Kota Gianyar. Selanjutnya akan disusul dengan pembangunan
kantor MDA tingkat kabupaten/kota lainnya se-Bali. Nantinya Kantor MDA Kabupaten
Gianyar ini sendiri akan diperuntukan pula untuk Kantor PHDI Gianyar.
Dalam sambutan saat acara peletakan batu pertama Kantor MDA
Gianyar, Gubernur Koster menegaskan desa adat di Bali adalah warisan adiluhung
yang sudah sepantasnya dihargai dengan hal-hal konkret. “Bayangkan, desa
adat di Bali sudah ada sejak abad ketujuh. Mengurusi segala hal, adat istiadat,
tradisi, seni, budaya, sekala dan niskala, tapi sejak dulu tidak ada yang
khusus dan konkret mengurusi desa adat ini. Untuk itu, sekarang saya urus
betul. (Saya, red) buatkan perda-nya, dinas-nya (OPD, red). Ini yang disebut
keberpihakan,” kata Gubernur Koster.
Menurut Gubernur, dirinya merasa miris melihat kenyataan
selama bertahun-tahun bahwa bagian penting dari tata kehidupan dan kearifan
lokal Bali seperti desa adat, cuma diurus dan dibidangi oleh pejabat setingkat
kepala bidang (kabid). “Untuk itu saya buatkan Dinas Pemajuan Masyarakat
Adat, jadi jelas tupoksinya (tugas pokok dan fungsi, red). Kantornya kita
buatkan, baru dengan tiga lantai, tidak lagi ‘numpang’ di Dinas Kebudayaan. Dan
tidak hanya gedung, kita siapkan tenaga administrasinya, operasionalnya,
sehingga bisa berjalan baik turun langsung ke desa-desa,” jelasnya.
Dikatakan Gubernur Koster yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan
Provinsi Bali ini, pembangunan kantor MDA untuk tingkat kabupaten/kota
se-Bali akan dilakukan secara simultan.
Sehingga MDA akan mampu melaksanakan tugas besar mereka untuk menghubungkan dan
memfasilitasi desa adat dengan pihak pemerintah. “Dananya bersumber dari
CSR (Corporate Social Responsibility)
BUMN yang kita betul-betul alokasikan. Setelah selesai di provinsi (pembanguan
gedung kantor MDA Provinsi, red), lalu dilanjutkan (pembangunan kantor MDA
tingkat kabupaten/kota, red) ke kabupaten/kota. Tahun ini diawali dari Gianyar,
lalu Jembrana, Bangli, Denpasar, Buleleng, Karangasem, dan awal tahun depan
menyusul Klungkung , Badung dan Tabanan,” sebut anggota DPR RI tiga
periode ini.
Lebih jauh, Gubernur kelahiran Desa Sembiran, Kabupaten
Buleleng ini menyebut terbitnya Perda Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat
adalah sebuah perjuangan yang sangat panjang. “Saya memperjuangkan dan
berdebat di Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri, red) agar perda ini bisa lolos, dan sekarang desa adat di Bali
ada ‘bapaknya’, ada landasan (hukum)-nya. Perda eksklusif sebagai identitas
desa adat kita,” terang Gubernur Koster.
Selanjutnya Gubernur Koster berpesan agar para bendesa dan
jajaran betul-betul serius dalam menjaga kuat dan kokohnya desa adat sebagai
tiang adat dan kebudayaan Bali. “Dari landasan hukum hingga infratruktur
sudah tuntas kita urus. Maka dari itu, ingat bahwa desa adat ini punya tugas niskala dan sekala. Jika kita kerja
tulus dan lurus, maka ada dua manfaatnya. Jadi jangan main-main,” pesan
Gubernur seraya mengingatkan bahwa Bali yang kecil ini luasnya cuma 546 km2,
penduduknya 4,3 juta kurang sedikit, 9 kab kota, 636 desa, 80 kelurahan, 1.493
desa adat. Bali ini kecil dibandingkan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa.
Bali yang kecil ini dianugerahi kekayaaan yang tidak dimiliki
daerah lain. Keunikannya adalah budaya dengan berbagai unsur yang ada baik adat,
tradisi dan kearifan lokalnya. ‘’Cuma di Bali ada kekayaan dan keunikan seperti
ini, tak ada di tempat lain. Inilah yang membuat Bali tersohor di seluruh dunia,
membuat orang datang ke Bali berwisata sehingga meningkatkan kesejahteraan kita,’’
ujarnya.
Bali tak punya gas, tak punya minyak, batubara, karena itu kita
harus hidup survive dengan budaya. Budaya inilah yang kita pelihara dan budaya ini
dijadikan basis perkembangan perekonomian, industri sandang, pangan dan
lainnya. ‘’Jadi, majelis desa adat provinsi, kabupaten, kecamatan sampai bendesa
adat, bapak harus kokoh, kuat menjaga adat istiadat, tradisi, seni, budaya menjalankan
tata kehidupan beragama dengan kearifan lokal, dengan tata cara adat istiadat
di Bali, ’’ ujarnya sambil mengingatkan seperti yang pernah disampaikan Bung Karno
kalau jadi orang Hindu jadilah orang Hindu Indonesia.
“Desa adat dan budaya Bali harus dijaga betul dari
penggerusan dari luar. Kita sudah punya yang baik, jadi mari jaga sama-sama.
Bali ini kecil, namun punya kearifan lokal yang unik dan cuma ada di Bali. Kalau
ini hilang, maka Bali hanya tinggal nama,” imbuhnya kembali mengingatkan.
PELETAKAN BATU: Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Bupati Gianyar Agus Mahayastra meletakkan batu pertama tanda mulai dibangunnya Kantor MDA Kabupaten Gianyar, Selasa (18/8).
Peletakan Batu Pertama Pembangunan Kantor MDA Gianyar
Sementara itu, Bupati Gianyar I Made Agus Mahayastra
mengatakan pembangunan kantor MDA Kabupaten
Gianyar ini adalah sebagai sebuah sejarah. “Ini salah satu
terobosan Bapak Gubernur (Wayan Koster, red) untuk adat dan budaya Bali. Mulai
dari Perda dan Pergub (Peraturan
Gubernur, red), infrastruktur hingga pembangunan SDM. Tidak pernah terjadi
sebelumnya,” sebut Mahayastra.
Bupati Mahayastra kemudian menyebut bahwa Gubernur Koster
sebagai sosok tokoh ‘langka’ di Bali.
Pasalnya tak hanya fasih menjalankan roda pemerintahan, namun pula mempunyai
kemahiran diplomasi ditunjang jaringan yang sangat kuat dengan Pemerintah
Pusat. “Bargaining Bali kini di Pusat sangat luar biasa. Pembangunan di
(Pura, red) Besakih, pelabuhan segitiga emas, Pusat Kebudayaan, Stadion Dipta,
jalan tol, pasar seni, dan yang lain. Mungkin nilainya lebih dari Rp 5 triliun.
Sepanjang sejarah, tidak pernah ada dana Pusat sebesar itu turun ke Bali. Ini
prestasi yang suka tidak suka harus diapresiasi, sebuah kerja keras dari bapak
Gubernur,” ungkapnya.
Sedangkan menurut penuturan Majelis Desa Adat (MDA)
Kabupaten Gianyar Anak Agung Gde Alit Asmara, gedung untuk Kantor MDA Kabupaten
Gianyar akan dibangun di atas lahan aset milik Pemprov Bali dengan luas
mencapai kurang lebih tujuh are. Gedung ini nantinya akan dibangun dua lantai.
Dan Gianyar merupakan kabupaten pertama di Bali yang melakukan peletakan batu
pertama untuk pembangunan gedung kantor MDA. Sumber dana berasal dari APBD
Kabupaten Gianyar dengan nilai sebesar Rp 3,4 miliar lebih. Sedangkan
kabupaten/kota lainnya, seperti Jembrana, Karangasem, Bangli, Denpasar,
Klungkung, Tabanan dan Buleleng akan menggunakan bantuan dana CSR.
Tampak hadir pula dalam acara ini, Sekda Provinsi Bali Dewa
Made Indra dan Bendesa Agung MDA Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet. (gs)
MEPEED: Nuansa kebersamaan dan keharmonisan mewarnai rangkaian Upacara Pujawali ring Tri Kahyangan Desa Adat Kota Tabanan, saat jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan dipimpin Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya mengikuti Mepeed dan persembahyangan bersama, Kamis (17/9). (Foto: Hms Tbn)
Tabanan, baliilu.com – Nuansa kebersamaan dan keharmonisan mewarnai rangkaian Upacara Pujawali ring Tri Kahyangan Desa Adat Kota Tabanan, saat jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan dipimpin Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya mengikuti Mepeed dan persembahyangan bersama, Kamis (17/9). Kegiatan berlangsung di Pura Puseh Desa Bale Agung Desa Adat Kota Tabanan dan dilanjutkan ke Pura Dalem Prajapati Desa Adat Kota Tabanan.
Tradisi Mepeed yang diikuti jajaran Pemkab Tabanan dan juga ratusan pegawai yang berjalan bersama dalam satu rangkaian menuju tempat persembahyangan tersebut, tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian upacara, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan dalam menjaga hubungan sosial serta nilai-nilai adat dan budaya di tengah masyarakat. Kehadiran bersama dalam rangkaian tersebut mencerminkan semangat gotong-royong sekaligus penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sanjaya bersama Wakil Bupati Tabanan beserta istri, Sekda Tabanan beserta istri, Asisten III, para kepala perangkat daerah dan kepala bagian di lingkungan Pemkab Tabanan, Camat Tabanan, Perbekel Delod Peken, Bendesa Adat Kota Tabanan, serta para pegawai mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan tertib dan khidmat.
Persembahyangan bersama yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali tersebut menjadi momentum bagi jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk memanjatkan doa bersama. Bupati Sanjaya menyampaikan bahwa kehadiran dalam rangkaian pujawali merupakan bagian dari upaya menjaga kebersamaan sekaligus memohon kerahayuan bagi seluruh masyarakat.
“Tujuan kami ngaturang ayah di pemerintah daerah ini adalah bagaimana kita bisa memupuk rasa persatuan dan kesatuan sesuai dengan visi dan misi yang sudah dicanangkan oleh bapak gubernur dan juga Pemkab Tabanan, aktualisasi dari visi misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, kita ajak pemerintah bersama jajaran ngayah, mepeed, nari rejang, menggambel di sini, kita ikut peran serta sehingga terjalin kebersamaan bagaimana kita kompak antara Pemerintah Kabupaten Tabanan dan desa adat sejebag Kabupaten Tabanan, rahayu,” ungkapnya.
Mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan khidmat, Bupati Sanjaya dan jajaran kemudian melanjutkan persembahyangan dari Pura Puseh Desa Bale Agung menuju Pura Dalem Prajapati Desa Adat Kota Tabanan. Rangkaian tersebut berlangsung penuh kekhusyukan sebagai wujud shrada bhakti sekaligus doa bersama untuk kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat Tabanan. (gs/bi)
NGAYAH NYANGGING: Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, saat ngayah nyangging serangkaian Karya Mamungkah Ngenteg Linggih di Pura Dalem Penataran Sari, Banjar Pekandelan, Desa Adat Denpasar, Kamis (17/9). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, melaksanakan ngayah nyangging serangkaian Karya Mamungkah Ngenteg Linggih di Pura Dalem Penataran Sari, Banjar Pekandelan, Desa Adat Denpasar, Kamis (17/9).
Kegiatan ngayah tersebut merupakan bentuk partisipasi dan kepedulian Walikota Denpasar dalam mendukung pelaksanaan kegiatan keagamaan dan adat di tengah masyarakat. Kehadiran Walikota juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara pemerintah dengan krama adat serta masyarakat Kota Denpasar.
Serangkaian karya di Pura Dalem Penataran Sari tersebut turut dirangkaikan dengan pelaksanaan upacara metatah yang diikuti 45 orang dan menek kelih diikuti 5 orang. Prawartaka Karya, I Wayan Arya, menyampaikan bahwa rangkaian karya dilaksanakan dengan semangat kebersamaan dan gotong-royong seluruh krama. Pelaksanaan metatah dan menek kelih yang dirangkaikan dalam karya tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga serta melestarikan adat dan tradisi Bali.
Walikota IGN Jaya Negara menyampaikan bahwa pelaksanaan karya keagamaan dan adat merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi, budaya, serta nilai-nilai kebersamaan masyarakat Bali.
“Melalui pelaksanaan karya seperti ini, kita tidak hanya menjalankan kewajiban keagamaan, tetapi juga menjaga adat, tradisi dan budaya Bali agar tetap lestari serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Jaya Negara.
Ia juga mengapresiasi semangat krama Banjar Pekandelan dan Desa Adat Denpasar yang secara bersama-sama menyukseskan rangkaian karya, termasuk pelaksanaan metatah massal dan menek kelih.
“Kebersamaan dan gotong-royong seperti ini menjadi kekuatan dalam menjaga adat dan budaya Bali. Semoga seluruh rangkaian karya berjalan lancar dan memberikan kerahayuan bagi seluruh krama,” tambahnya.
Pelaksanaan karya berlangsung dengan khidmat dan penuh kebersamaan, dengan melibatkan krama serta masyarakat dalam berbagai rangkaian kegiatan upacara. (eka/bi)
TANDA TANGAN PRASASTI: Bupati Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung Gusti Anom Gumanti menandatangani prasasti karya saat menghadiri sekaligus ngupasaksi upacara Melaspas di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Kamis (17/9). (Foto: Hms Badung)
Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menghadiri sekaligus ngupasaksi upacara Melaspas, Nyusun Pedagingan, Mecaru Manca Rupa, dan Rsi Gana di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Kamis (17/9). Upacara ini merupakan rangkaian dari Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Manawa Ratna, Tawur Balik Sumpah Utama yang puncak karyanya dipimpin Yadnyamana Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijayananda pada 26 September 2026.
Dalam prosesi tersebut, Bupati Adi Arnawa naik ke Padmasana setinggi 12 meter untuk ngunggahang kwangen, menandatangani prasasti pura. Bupati mendoakan agar karya berjalan sida sidaning don labda karya dan sida paripurna demi kerahayuan jagat Badung dan Bali, serta berharap krama Tuban tetap menjaga persatuan dengan semangat sagilik saguluk, salunglung sabayantaka.
“Kebersamaan ini penting untuk menjaga Desa Adat Tuban yang menjadi gerbang pertama pariwisata Bali melalui jalur udara. Melarapan subakti, kita memohon kelancaran dalam menata Badung menjadi lebih nyaman dan berdoa agar PAD meningkat sehingga semakin banyak program pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Adi Arnawa.
Pemkab Badung menegaskan komitmen melakukan penataan akses menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai guna mengurangi kemacetan.
Sementara itu, Bendesa Adat Tuban, I Wayan Mendra, mengungkapkan bahwa pemugaran Pura Dalem Kahyangan didanai melalui hibah Pemkab Badung TA 2025 sebesar Rp 15,9 miliar pada APBD induk. Namun, karena dana tersebut hanya untuk fisik bangunan pura, kas desa adat harus mengeluarkan biaya mandiri hingga hampir Rp 9 miliar, sehingga total pembangunan diperkirakan mencapai Rp 25 miliar.
Prosesi upacara sendiri telah dimulai sejak 1 Agustus 2026 yang diawali dengan Pemarisuda Bumi, Pecaruan, hingga Melaspas Tetaring. Rangkaian akan memuncak pada Purnamaning Kapat, Sabtu Umanis Bala, 26 September 2026, dilanjutkan penganyaran selama empat hari, dan prosesi sineb pada 30 Oktober 2026 yang ditutup ritual Nyegara Gunung.
Mendra menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas hibah besar dari Pemkab Badung, meski ia berharap dukungan ke depan terus ditingkatkan karena kebutuhan belum sepenuhnya tercukupi. Ia juga berharap pemerintah daerah serta PT. Angkasa Pura Indonesia memberikan perhatian lebih pada Desa Adat Tuban sebagai beranda depan dan belakang Bali.
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah Anggota DPRD Badung Dapil Kuta seperti I Nyoman Graha Wicaksana, I Nyoman Sudana, I Wayan Puspa Negara, dan I Made Sada. Hadir pula Camat Kuta I Made Agus Suantara, Majelis Desa Adat, Lurah Tuban, unsur TNI-Polri, manajemen PT Angkasa Pura Indonesia, BBMKG Wilayah III, serta jajaran Jasa Marga Bali Tol. (gs/bi)