Badung, baliilu.com – Di tengah suasana pandemi Covid-19, Pengurus Harian dan Sabha Walaka MGPSSR Provinsi Bali dari Gedung Serba Guna Rumah Jabatan Bupati Badung menghadiri Pesamuhan Agung Ke-15 Mahagotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Pusat yang dilaksanakan secara hybrid baik online dan offline, pada Sukra Kliwon Bala (25/12-2020) di Gedung STIKOM Denpasar.
Pesamuhan Agung yang pertama setelah Mahasabha X MGPSSR Pusat digelar 25 Desember 2019 ini dihadiri seluruh pengurus MGPSSR Provinsi se-Indonesia. Pesamuhan Agung yang mengambil tema ‘’Melalui Pesamuhan Agung Ke-15 Kita Mantapkan Pelaksanaan Hasil Mahasabha X dalam Tatanan Kehidupan Era Baru’’, dibuka Ketua Umum MGPPSR Pusat Prof. Dr. dr. I Wayan Wita, Sp.JP, dengan agenda pokok pengarahan dari Ketua Sabha Pandita Pusat, laporan pertanggungjawaban pengurus pusat, dan laporan MGPSSR Provinsi se-Indonesia.
Sekretaris MGPSSR Provinsi Bali Pandu P. Lagosa, SH, MH mewakili Ketua MGPSSR Bali I Nyoman Giri Prasta, S.Sos yang berhalangan hadir karena kesibukan dalam tugasnya sebagai Bupati Badung, setelah mengikuti pesamuhan dari awal hingga sidang pleno berakhir menyampaikan Pesamuhan Agung sudah berjalan dengan baik. Walau selama pesamuhan ada dinamika yang berkembang baik saran dan kritik, itu tidak lebih karena sebagai pasemetonan yang sangat mengharapkan organisasi MGPSSR menjadi lebih baik, lebih dewasa dan lebih berdaya guna untuk kemajuan organisasi, kemajuan kita bersama.
Pengurus MGPSSR Bali sedang mendengarkan laporan pertanggungjawaban MGPSSR Pusat
‘’Kami dari Mahagotra Bali (MGPSSR Bali-red) mengapresiasi pelaksanaan Pesamuhan Agung walaupun dalam suasana pandemi Covid, kegiatan rutinitas organisasi bisa tetap dilaksanakan dengan baik,’’ terang Pandu P Lagosa yang juga saat mengikuti Pesamuhan Agung didampingi Ketua Sabha Walaka Wisnu Bawa Temaja serta seluruh pengurus MGPSSR Bali di antaranya Bendahara Bagus Sapta Tenaya, Ketua Bidang Organisasi Gde Muliarsana, Ketua Bidang Kaderisasi Putu Bagus Suryadi dll.
Pandangan yang sama demi kemajuan pasemetonan Pasek juga dilontarkan Ketua MGPSSR Provinsi Kepulauan Riau bahwa organisasi MGPSSR sudah berjalan baik dan benar tetapi mari kita tingkatkan lagi atas dasar pasemetonan ini agar ke depan lebih maju, bahwa Pasek itu adalah warga yang anggotanya besar di Bali dan bisa diwujudkan dalam sebuah visi dan misi organisasi kembali kepada bhisama Pasek itu sendiri.
Pandu P Lagosa kembali mengimbuhkan bahwa terbentuknya MGPSSR bertujuan untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Ida Bhatara Kawitan sesuai Bhisama untuk kepentingan agama, bangsa dan negara yang sesuai dengan filosofi Catur Swadharmaning Kepasekan (astiti ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Bhakti ring Ida Bhatara Kawitan, Satia ring Bhisama, dan Guyub ring Semeton).
Karena itulah untuk mewujudkan dan tercapainya tujuan itu, MGPSSR Provinsi Bali melaksanakan Lokasabha Utama pada 15 Maret 2020 dengan menetapkan keputusan di antaranya Pembentukan Sabha Pandita, Sabha Walaka, dan Pengurus Harian MGPSSR Provinsi Bali, pembentukan Jaga Baya Pasek MGPSSR Provinsi Bali, pembentukan Lembaga Bantuan Hukum MGPSSR Provinsi Bali.
Begitu juga terkait dengan kegiatan sosial di saat pandemi, MGPSSR Bali telah membentuk Satgas Covid-19 yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, khususnya menyalurkan sembako sumbangan dari semeton Pasek kepada semeton Pasek yang membutuhkan yang tersebar di kabupaten/kota seluruh Bali. Juga menghadiri Loka Sabha MGPSSR Kota Denpasar, Buleleng, menghadiri kegiatan Sisya Pariksa, Munggah Bhawati, Diksa Pariksa, dan Padiksaan Munggah Sulinggih.
‘’Untuk tahun 2021, program MGPSSR Bali di antaranya pendataan semeton pasek, konsolidasi dan melaksanakan hasil lokasabha yang kemarin,’’ pungkas Pandu P Lagosa.
Sementara itu, Ketua Umum MGPSSR Pusat Prof. Dr. dr. I Wayan Wita, Sp.JP dalam sambutan pembuka dan juga penutupnya mengingatkan kepada pasemetonan bahwa pandemi Covid telah membawa ikmah yang luar biasa dalam kehidupan kita. Jika biasanya pesamuhan dilakukan dengan bertatap muka langsung kini melalui virtual, termasuk juga upacara piodalan yang mesti menyesuaikan penerapan protokol kesehatan.
Namun ia menyampaikan apa pun yang terjadi Basudewa Kutum Bakam, kita semua adalah bersaudara. ‘’Sebesar apa pun masalahnya bisa diselesaikan secara paras paros sarpanaya, segilik segulukselulung sebayantaka menuju jagadita ya caiti dharma,’’ tuturnya sebelum menutup Pesamuhan Agung MGPSSR Pusat yang melahirkan beberapa keputusan dan program kerja tahun 2021. (gs)
Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, turut ngayah sebagai sangging dalam pelaksanaan Metatah Massal yang digelar Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar di Pura Agung Lokanatha Denpasar, Sabtu (3/10). Keterlibatan tersebut menjadi bentuk kebersamaan sekaligus kepedulian dalam membantu masyarakat melaksanakan upacara keagamaan.
Metatah massal tersebut diikuti sebanyak 157 peserta. Selain metatah, kegiatan juga dirangkaikan dengan upacara Menek Kelih yang diikuti 107 peserta dan Mewinten Saraswati sebanyak 35 peserta. Kegiatan turut dihadiri Anggota DPD RI Dapil Bali, IB Rai Dharmawijaya Mantra, yang juga turut ngayah sebagai sangging.
Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengatakan keterlibatannya sebagai sangging merupakan bagian dari ngayah sekaligus wujud kebersamaan bersama masyarakat dalam pelaksanaan yadnya.
“Kegiatan ini merupakan bentuk kebersamaan dan gotong-royong dalam meringankan beban masyarakat dalam melaksanakan yadnya. Semoga seluruh peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan lancar dan mendapatkan kerahayuan,” ujar Jaya Negara.
Menurutnya, pelaksanaan metatah massal tidak hanya menjadi sarana pelaksanaan kewajiban keagamaan, tetapi juga memiliki makna penting dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai agama Hindu serta memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat.
Pemerintah Kota Denpasar, kata Jaya Negara, akan terus mendukung pelaksanaan kegiatan keagamaan, adat, dan budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali.
Sementara itu, Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas partisipasi Walikota Denpasar yang turut ngayah sebagai sangging dalam pelaksanaan metatah massal. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari semangat kebersamaan dalam memberikan pelayanan keagamaan kepada masyarakat.
“Melalui pelaksanaan Metatah Massal, Menek Kelih, dan Mewinten Saraswati, PHDI Kota Denpasar berharap seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar dan khidmat. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaga keberlangsungan adat, agama, dan budaya Bali di tengah kehidupan masyarakat,” ujarnya. (eka/bi)
HADIRI KARYA: Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri Muspayang Bhakti Nganyarin serangkaian Karya Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat (Ida Betara/Betari Tedun Kabeh) di Pura Bukit Mentik, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Kamis (1/10) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)
Bangli, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan peradaban Bali melalui penguatan desa adat dan pelestarian kawasan sakral. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Muspayang Bhakti Nganyarin serangkaian Karya Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat (Ida Betara/Betari Tedun Kabeh) di Pura Bukit Mentik, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Kamis (1/10) sore.
Dalam kesempatan tersebut, Koster menyebut Pura Bukit Mentik sebagai salah satu simbol penting peradaban Bali yang memiliki nilai spiritual dan budaya yang harus terus dijaga.
Menurutnya, kawasan Kintamani memiliki anugerah alam yang sangat besar dengan keberadaan Gunung dan Danau Batur. Kekayaan tersebut, kata Koster, harus dirawat secara berkelanjutan agar tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bali.
“Ini harus kita rawat dengan baik,” tegas Koster.
Koster juga menyampaikan bahwa dirinya memberikan perhatian serius terhadap pembangunan di Kabupaten Bangli. Pembangunan, menurutnya, harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam, budaya, adat, dan kehidupan spiritual masyarakat.
Komitmen tersebut, lanjut Koster, menjadi bagian dari haluan pembangunan Bali untuk 100 tahun ke depan. Arah pembangunan tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik dan ekonomi, tetapi juga memastikan Bali tetap ajeg dengan kekuatan adat dan budaya sebagai fondasinya.
“Jaga Bali agar tetap ajeg,” ujarnya.
Ia menegaskan, penguatan seluruh desa adat di Bali menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Bali ke depan. Desa adat dinilai memiliki peran strategis dalam mempertahankan nilai-nilai budaya, tradisi, serta kehidupan sosial masyarakat Bali. (gs/bi)
Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa saat menghadiri Puncak Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman, Kamis (1/10). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman yang dilaksanakan pada Wraspati Umanis Ugu, bertempat di Pantai Padang Galak, Kecamatan Denpasar Timur, Kamis (1/10).
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPD RI Dapil Bali, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, Bendesa Adat se-Kota Denpasar, perwakilan OPD di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar serta undangan terkait lainnya.
Di sela rangkaian upacara, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Desa Adat Kesiman.
“Sinergitas antara krama adat dengan pemerintah dalam melaksanakan upacara yadnya ini patut diberikan apresiasi. Tentunya pelaksanaan upacara yadnya yang kolaboratif ini dapat meringankan masyarakat dalam menjalankan kewajiban sebagai umat Hindu di Bali,” ujar Arya Wibawa.
Lebih lanjut, Arya Wibawa menegaskan, Pemerintah Kota Denpasar terus memberikan dukungan terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan keagamaan dan adat di Kota Denpasar sejalan dengan visi pembangunan Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju.
“Pemerintah Kota Denpasar juga berharap seluruh rangkaian Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman dapat berjalan baik dan memberikan kebaikan bagi masyarakat yang melaksanakannya,” tambah Arya Wibawa.
Bendesa Adat Kesiman, Jro Mangku Ketut Wisna di sela acara mengatakan, upacara Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman dapat terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, termasuk Puri Pemayun Kesiman.
“Rangkaian kegiatan telah dimulai melalui prosesi Negteg Beras pada 9 September 2026 lalu, dilanjutkan prosesi Ngingsah pada 16 September 2026 serta Melaspas Peyadnyan pada 18 September 2026. Dilanjutkan prosesi Nganget Don Bingin pada 24 September 2026, dilanjutkan upacara Mesasap Segara yang diikuti 526 peserta pada 27 September 2026. Lalu dilanjutkan upacara Metatah Massal yang diikuti 345 peserta, dilanjutkan prosesi Ngajum Puspa pada tanggal 29 hingga 30 September 2026,” jelasnya.
Selanjutnya, Jro Mangku Ketut Wisna mengatakan setelah dilaksanakan rangkaian upacara tadi, dilanjutkan dengan rangkaian upacara lainnya.
“Barulah dilaksanakan puncak Karya yang diikuti 307 puspa pada 1 Oktober 2026 yang dipuput oleh lima sulinggih Siwa-Buddha. Selanjutnya seluruh rangkaian karya akan ditutup dengan pelaksanaan upacara Nyegara Gunung pada 4 Oktober 2026 mendatang,” imbuhnya. (eka/bi)