Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Berjuang Melawan Covid-19, Ny. Putri Koster: Kita harus Berani Keluar dari Zona Nyaman

BALIILU Tayang

:

de
Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster terus berupaya mengajak seluruh masyarakat, khususnya ibu-ibu selaku kader PKK untuk memajukan dan menyejahterakan keluarganya dengan usaha, baik internal dan juga eksternal.

Sebagai garda terdepan di dalam pola pengasuhan dan pendidikan karakter keluarga, peran ibu rumah tangga tentu saja menjadi prioritas utama dalam menjaga keberlangsungan hidup dan keberlanjutan ekonomi, terlebih pada masa pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Pandemi Covid-19 mengajarkan kita untuk lebih kuat menapaki serta menghadapi setiap tantangan yang muncul, dengan begitu diperlukan kreativitas dan inovasi dalam mengalihkan mata pencaharian yang tidak selalu diam.

“Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk berjuang melawan Covid-19, namun kita harus berani keluar dari zona nyaman. Karena apabila pariwisata belum bisa menjanjikan untuk pulih dalam waktu yang cepat, maka kita jangan berpangku tangan,” ajak Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster saat menjadi narasumber dalam acara Dialog Bahtera di TVRI Bali dengan tema ‘’Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga di Masa Pandemi Covid-19’’, yang juga menghadirkan narasumber dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Sayu Ketut Sutrisna Dewi, Rabu (24/11).

Lebih lanjut, pendamping Orang Nomor Satu di Pemerintah Provinsi Bali ini mengatakan, Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) menjadi salah satu program yang sedang digalakkan kader PKK untuk dapat berinovasi mendatangkan penghasilan, mulai dari mengasah kemampuan yang dimiliki dan kemudian menciptakan lapangan kerja baru bagi diri sendiri dan juga keluarga. Bukan hanya peningkatan pendapatan yang menjadi fokus dari program UP2K ini, melainkan penghematan pengeluaran yang harus dijaga sehingga terjadi penguatan ekonomi dalam sebuah keluarga, karena hidup harus tetap berjalan dan pendidikan anak-anak harus tetap menjadi prioritas utama.

‘’Pandemi Covid-19 mengajarkan kita semua untuk siap menggunakan kecerdasan yang kita miliki dan pelajari semasa di bangku sekolah dulu, dan mengelola keuangan dengan baik dan bijak juga menjadi kunci untuk dapat bertahan terus ke depan,’’ ujarnya.

Peralihan atau adaptasi terhadap kondisi saat ini akan mengarah ke era digitalisasi. Dengan menjadi wirausaha yang mandiri dan memanfaatkan digitalisasi khususnya E_market place untuk melakukan promosi (menjadi metode mendunia dalam hitungan detik) diharapkan mampu menjadi berkah bagi keluarganya.

Yang jauh lebih penting lagi, ungkap seniman multitalenta ini adalah kita semua berani untuk mencoba dan mengambil resiko, karena dengan keluar dari zona nyaman akan mengajarkan kita untuk menambah daya saing dalam berusaha. Namun perlu keberanian juga mengasah mental dengan cara berjualan di online dan menjaga kepercayaan para konsumen serta memelihara atau menanamkan kejujuran dalam diri.

“Digitalisasi menjadi platform ke depan, namun jangan sampai terjebak dan terjajah, kita harus siap untuk menguasai sistem digital di bidang teknologi dan informasi. Dan mari bersama kita hilangkan budaya gali lubang tutup lubang, terlebih terjebak dalam pinjaman on line, tentunya tetap survive menghadapi setiap tantangan di masa pandemi yang hingga saat ini belum berhenti,” ungkapnya lagi.

Sementara itu, Sayu Ketut Sutrisna Dewi menyampaikan istilah banting stir berkaitan erat dengan pasar, dimana mencapai target pasar baru dalam kondisi seperti saat ini menjadi tantangan bagi semua orang terlebih bagi mereka yang baru terjun ke dunia usaha/ wirausaha. “Di masa sekarang, apa pun bisa dilakukan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar atau masyarakat. Apabila sudah menemukan kebutuhan masyarakat, maka akan muncul ekspansi pasar dengan strategi marketing yang meluaskan diri dan pemasaran,” ujar Sutrisna Dewi.

Penghematan sangat setuju untuk dilakukan oleh semua pihak terdampak, khususnya bagi rumah tangga yang setelah pandemi terjadi mengalami guncangan bagi perekonomiannya. “Di satu sisi melakukan peningkatan pendapatan namun juga penghematan terhadap pengeluaran keuangan menjadikan hal yang harus dilakukan terutama oleh para ibu rumah tangga yang berperan sebagai bendahara di rumah yang mengatur agar pemasukan yang ada bisa mencukupi kebutuhan hidup termasuk biaya sekolah anak-anaknya. Dengan mengubah wanita Bali generasi sandwich (terhimpit) menjadikan hampir seluruh wanita Bali bekerja untuk mengatasi tekanan keuangan, kondisi sangat mendesak sehingga membuat mereka harus berani berhutang kepada tetangga, keluarga. Namun ketika rasa malu mereka keluar untuk meminjam lagi, akan dimanfaatkan oleh industri keuangan melalui pinjaman on-line. Hal ini yang akan menjerat para ibu-ibu semakin terlilit oleh beban yang harus dibayarkan. Layaknya pisau, jika benar dia akan bermanfaat, namun ketika tidak benar maka akan menyakiti,” imbuhnya.

Di masa pandemi ini kesiagaan harus ditingkatkan karena di balik kemudahan pasti akan ada resiko lebih besar yang harus ditanggung. “Jangan sampai mereka terjebak dalam hutang dan berhutang lagi, mari pikirkan sumber dana lain, dengan memanfaatkan keahlian diri yang dimiliki ‘memasak’, menjarit pakaian, menekuni bidang jasa dll,” ungkapnya lagi.

Dipaksa untuk meningkatkan daya kreasi, dimana kalimat the power of kepepet bisa menjadi kekuatan terakhir yang membawa seseorang kepada sebuah perubahan. Maka kondisi seperti saat ini harus dimanfaatkan dengan baik dan menjadikan momentum untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik karena waktu ada tersedia namun aktivitas kurang. Sehingga kita dapat memanfaatkannya untuk merenung, belajar dan mengikuti seminar online yang membuka peluang untuk dimanfaatkan oleh banyak pihak yang nantinya akan mengarahkan kita untuk melakukan action. Mari mulai untuk melakukan filter yang pas untuk dilakukan, yakni dengan meningkatkan daya kreasi, dan menyadari perubahan yang merupakan satu-satunya hal yang abadi, cepat mengambil peluang dan bergerak ke depan serta memiliki kesiapan untuk bergerak cepat dan berubah perlu menjadi kunci serta pembelajaran yang dipegang saat ini. Karena mengeluh tidak akan pernah menyelesaikan masalah, melainkan kita harus tetap fokus kepada solusi.

Setiap orang di kondisi yang tidak pasti ini akan menjadi belajar untuk berani melakukan sesuatu, belajar untuk berani melakukan kalkulasi, belajar untuk mengelola sumberdaya, belajar untuk menjaga relasi dan berani berproses yang natural sesuai dengan siklus. Sehingga nantinya yang lemah akan menyerah sedangkan yang eksis adalah mereka yang tetap bertahan. “Seseorang yang suka mengeluh akan tetap mengeluh dalam kondisi apa pun, maka dari itu mari stop/ berhenti untuk mengeluh, marilah kita hadapi dengan action. Hilangkan prinsip no action – talk only, namun gunakan prinsip action first – talk after,” tegas Sutrisna Dewi

Di tengah orientasi menghadapi perekonomian yang tidak pasti akibat pandemi Covid-19 dan belum pulihnya sektor pariwisata, maka salah satu hal yang dapat dilakukan adalah mengubah cara berfikir, yakni dari job seeker menjadi job kreater. Sehingga akan tumbuh sikap mental yang harus dimiliki oleh siapa saja yang ingin sukses. Pandemi juga mengajarkan kita semua kepada sebuah keharusan yang dihadapi sehingga menunjukkan sikap yang proaktif. Dengan siap menghadapi hal yang akan terjadi dalam segala macam kondisi. (gs)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

Polri Libatkan Ary Ginanjar dalam Assessment Jenderal, Perkuat Meritokrasi dan Keterbukaan

Published

on

By

KPRP Polri
ASSESSMENT: Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo berfoto bersama Founder ESQ Corp., Ary Ginanjar, dalam pelaksanaan Assessment Center Perwira Tinggi Polri pada Kepangkatan Brigadir Jenderal Polisi Tahun Anggaran 2026 di Mabes Polri, Selasa (9/6). (Foto: Hms Polri)

Jakarta, baliilu.com – Polri terus memperkuat reformasi internal melalui penguatan sistem meritokrasi dan manajemen talenta sebagai tindak lanjut rekomendasi Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP). Salah satu langkah yang dilakukan adalah melibatkan Founder ESQ Corp., Ary Ginanjar, dalam pelaksanaan Assessment Center Perwira Tinggi Polri pada Kepangkatan Brigadir Jenderal Polisi Tahun Anggaran 2026 yang dibuka Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Selasa (9/6).

Keterlibatan pihak eksternal tersebut menjadi bagian dari komitmen Polri untuk membangun tata kelola sumber daya manusia yang semakin transparan, objektif, dan berbasis kompetensi. Langkah ini sekaligus menjawab salah satu rekomendasi KPRP terkait penguatan sistem merit dalam kaderisasi dan pengisian jabatan strategis di lingkungan Polri.

Dalam arahannya, Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo menegaskan bahwa tantangan Polri ke depan semakin kompleks, mulai dari dinamika geopolitik global, ancaman siber, kejahatan transnasional, hingga meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik. Karena itu, Polri membutuhkan pemimpin yang adaptif, berintegritas, humanis, dan mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat melalui sistem kaderisasi yang objektif, transparan, dan berbasis meritokrasi.

Sementara itu, As SDM Kapolri Irjen Pol. Dr. Anwar menjelaskan bahwa Assessment Center Polri merupakan instrumen strategis dalam membangun sistem manajemen talenta yang modern dan berkelanjutan.

Menurutnya, perkembangan assessment center di berbagai institusi dunia saat ini tidak lagi sekadar digunakan untuk menilai kompetensi individu, tetapi telah berkembang menjadi instrumen untuk memetakan potensi kepemimpinan, kemampuan adaptasi, kapasitas kolaborasi, pengambilan keputusan, hingga kesiapan menghadapi perubahan yang dipicu perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.

Assessment Center Polri dibangun untuk memastikan bahwa pembinaan karier personel berjalan secara objektif dan berbasis data. Tujuannya bukan sekadar menilai seseorang layak atau tidak menduduki jabatan tertentu, tetapi menemukan potensi terbaik yang dimiliki setiap personel agar dapat dikembangkan secara optimal, ujar Anwar.

Ia mengatakan keberadaan Assessment Center menjadi salah satu fondasi penting dalam penerapan sistem merit dan manajemen talenta di lingkungan Polri.

Melalui assessment, kita dapat memetakan kompetensi, potensi, kesiapan, serta karakter kepemimpinan personel secara lebih komprehensif. Hasilnya menjadi dasar dalam pengembangan karier, pendidikan, promosi jabatan, maupun penyiapan kader-kader pimpinan Polri di masa depan, katanya.

Menurut Anwar, penguatan Assessment Center juga menjadi bagian dari upaya transformasi SDM Polri yang sejalan dengan Grand Strategy Polri 2025–2045 serta berbagai rekomendasi reformasi kelembagaan yang mendorong tata kelola SDM yang lebih profesional, transparan, dan akuntabel.

Kami ingin memastikan bahwa setiap personel memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang berdasarkan kompetensi, integritas, dan potensi yang dimiliki. Inilah esensi meritokrasi yang terus diperkuat di lingkungan Polri, tegasnya.

Sementara itu, Ary Ginanjar mengatakan dunia saat ini tengah memasuki era Talentism, yaitu periode ketika keunggulan organisasi semakin ditentukan oleh kemampuannya mengelola dan mengembangkan talenta manusia.

Mengacu pada berbagai kajian global, termasuk World Economic Forum (WEF), Ary menjelaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan robotika akan mengubah banyak pola kerja konvensional. Karena itu, kemampuan yang tidak dapat digantikan teknologi seperti kepemimpinan, kreativitas, kemampuan beradaptasi, pengaruh sosial, integritas, dan pengambilan keputusan akan menjadi faktor pembeda utama.

Di masa depan, organisasi tidak lagi bersaing berdasarkan siapa yang memiliki sumber daya terbesar, tetapi siapa yang paling mampu menemukan, mengembangkan, dan menempatkan talenta terbaiknya secara tepat, kata Ary.

Menurutnya, organisasi modern di berbagai negara kini mulai beralih dari pendekatan penilaian berbasis jabatan menuju pendekatan berbasis talenta dan potensi. Assessment tidak lagi dipandang sebagai alat evaluasi semata, tetapi menjadi instrumen strategis untuk memetakan kekuatan individu dan menyiapkan kepemimpinan masa depan.

Ary mengapresiasi langkah Polri yang mulai membangun Big Data talenta untuk memetakan potensi personel secara lebih akurat sebagai dasar pengembangan karier dan penempatan jabatan.

“Saya melihat Polri menjadi salah satu institusi pionir yang mulai membangun Big Data talenta untuk mengidentifikasi profil keunggulan setiap personel secara lebih presisi. Ini merupakan fondasi penting bagi sistem meritokrasi yang objektif dan terukur,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa asesmen modern tidak lagi berfokus pada pencarian kelemahan individu, melainkan mengungkap potensi autentik yang selama ini belum terpetakan.

“Assessment bukan tentang mencari siapa yang paling hebat, tetapi menemukan di mana seseorang dapat memberikan kontribusi terbaiknya. Ketika talenta ditempatkan secara tepat, organisasi akan bergerak lebih efektif dan manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Ary.

Menurut Ary, penempatan berbasis talenta akan menghasilkan personel yang lebih memahami makna tugasnya, lebih mandiri dalam bekerja, lebih cepat berkembang kompetensinya, dan mampu memberikan dampak yang lebih besar bagi organisasi maupun masyarakat.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan pemimpin yang sukses secara individu, tetapi membangun organisasi yang mampu berkembang secara berkelanjutan melalui sistem yang berjalan berdasarkan kompetensi, talenta, dan integritas,” tutupnya.

Assessment Center Perwira Tinggi Polri Tahun Anggaran 2026 diikuti 100 peserta dan menjadi bagian dari langkah konkret Polri menindaklanjuti rekomendasi Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP) dalam memperkuat sistem meritokrasi, manajemen talenta, dan tata kelola SDM yang profesional. Melalui proses yang objektif serta keterlibatan perspektif eksternal, Polri berupaya memastikan kaderisasi kepemimpinan berjalan berdasarkan kompetensi, integritas, dan potensi terbaik setiap personel. Pada akhirnya, penguatan kualitas pemimpin Polri diharapkan mampu menghadirkan pelayanan publik yang semakin profesional, humanis, transparan, dan semakin dipercaya masyarakat. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Presiden Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Indonesia Harus Dikelola untuk Kesejahteraan Rakyat

Published

on

By

Presiden Prabowo
BUKA MUNAS: Presiden Prabowo Subianto secara resmi membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang digelar di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, pada Rabu, 10 Juni 2026. (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr/presidenri.go.id)

Bandar Lampung, baliilu.com – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kemakmuran rakyat Indonesia akan terwujud apabila pengelolaan kekayaan alam dilakukan sesuai amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya Pasal 33. Menurut Presiden, Indonesia merupakan negara yang dikaruniai sumber daya alam yang melimpah, sehingga tantangan utama bangsa saat ini adalah mengelolanya secara optimal demi kesejahteraan rakyat.

“Dari dulu, Nusantara kita didatangi karena kekayaannya. Bangsa-bangsa asing itu datang ke sini waktu itu, berbulan-bulan ke sini. Bukan wisata, dia ke sini mencari kekayaan, sampai sekarang. Jadi saudara-saudara, segala kekayaan kita, tantangannya adalah harus dikelola oleh kita dengan sebaik-baiknya. Dengan secerdas-cerdasnya,” ucap Presiden Prabowo Subianto saat memberikan sambutan pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Provinsi Lampung, Rabu, 10 Juni 2026.

Dalam sambutannya, Presiden menekankan bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menyangkut hajat hidup orang banyak harus berada dalam penguasaan negara sebagaimana diamanatkan konstitusi. “Saudara-saudara, cabang-cabang produksi yang penting bagi negara, yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Ini bahasa Indonesia, tidak perlu ditafsirkan, tidak perlu diterjemahkan, harus dilaksanakan,” ungkap Presiden Prabowo.

Kepala Negara juga menyoroti pentingnya pengelolaan kekayaan alam nasional agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara maksimal oleh rakyat Indonesia. Kepala Negara mengatakan bahwa hasil pengelolaan sumber daya alam seharusnya menjadi modal pembangunan nasional dan memperkuat kesejahteraan masyarakat.

“Kita perang kemerdekaan dengan Undang-Undang Dasar ini dan logikanya, ini kekayaan kita. Masa kekayaan kita diolah, diambil, dijual ke luar negeri, hasil jualannya tidak ditaruh di Indonesia,” kata Presiden.

Lebih lanjut, Kepala Negara menyampaikan optimismenya terhadap masa depan Indonesia. Presiden meyakini bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara yang makmur apabila mampu mengelola kekayaan dan potensi nasional secara tepat.

Presiden Prabowo pun menegaskan pentingnya persatuan, kerja sama, dan semangat gotong royong dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera. “Rakyat paling ngerti. Rakyat ngerti bahwa untuk dapat hidup yang baik harus ada kerukunan. Harus ada apa? Harus ada paguyuban. Harus ada kerja sama. Harus ada saling mengisi. Bukan saling menghantam. Tapi elit semakin pintar,” pungkas Kepala Negara. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Presiden Prabowo Resmi Buka Munas XVIII HIPMI, Tekankan Nasionalisme sebagai Fondasi Kemajuan Ekonomi Bangsa

Published

on

By

presiden prabowo
BUKA MUNAS: residen Prabowo Subianto secara resmi membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang digelar di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, pada Rabu, 10 Juni 2026. (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr/presidenri.go.id)

Bandar Lampung, baliilu.com – Presiden Prabowo Subianto secara resmi membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang digelar di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, pada Rabu, 10 Juni 2026. Kehadiran Kepala Negara dalam forum tertinggi organisasi pengusaha muda tersebut menegaskan dukungan pemerintah terhadap peran strategis HIPMI dalam memperkuat perekonomian nasional dan mencetak generasi wirausahawan yang berdaya saing.

Setibanya di lokasi acara, Presiden Prabowo disambut antusias oleh ribuan peserta Munas yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Rangkaian acara pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan Hymne dan Mars HIPMI yang menggema di ruang pertemuan. Suasana khidmat kemudian dilanjutkan dengan doa bersama.

Ketua Umum BPP HIPMI Akbar Himawan Buchar dalam laporannya menegaskan bahwa Munas XVIII menjadi momentum penting bagi organisasi untuk memperkuat kontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi nasional. Menurutnya, semangat kemandirian ekonomi yang diwariskan para pendiri bangsa harus terus menjadi pedoman bagi generasi pengusaha muda Indonesia.

“Kita sangat meresapi pesan dari Bapak Prof. Sumitro Djojohadikusumo yang pernah mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tanpa kemandirian ekonomi hanyalah sebuah seremoni. Kita tidak ingin kemerdekaan kita hanya sekadar seremoni. Oleh karena itu, Munas ini menjadi ajang bagi HIPMI untuk merumuskan kontribusi nyata, memastikan Indonesia tidak hanya merdeka secara politik, tapi juga berdaulat secara ekonomi,” ujar Akbar.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa keberadaan HIPMI sebagai wadah pengusaha muda memiliki arti penting bagi masa depan Indonesia. Kepala Negara menilai semangat nasionalisme yang menjadi landasan lahirnya HIPMI merupakan faktor utama yang menentukan kemajuan suatu bangsa.

“HIPMI sebagai wadah pengusaha muda adalah wadah yang sangat penting dan lahirnya HIPMI dengan wawasan nasionalisme sebagaimana diutarakan adalah sangat penting. Sebenarnya tidak ada kemajuan suatu bangsa tanpa nasionalisme, sudah tidak ada. Bahkan, Mbah-mbahnya kapitalisme, guru-guru kapitalisme sekalipun mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya bisa datang dengan nasionalisme,” ujar Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo pun secara resmi membuka Munas XVIII HIPMI yang mengusung tema ‘Sinergi Pengusaha Muda Membangun Kekuatan Ekonomi Nasional’. Peresmian pembukaan ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional Lampung, oleh Presiden Prabowo didampingi oleh para tokoh HIPMI dan para calon ketua umum BPP HIPMI.

“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini, Rabu, 10 Juni 2026, saya Prabowo Subianto, dengan ini secara resmi saya buka Musyawarah Nasional ke-XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia,” ucap Presiden. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca