FOTO BERSAMA: Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Gianyar Agus Mahayastra bersama Ida Dalem Klungkung, pengelingsir puri di Gianyar foto bersama pada Prajuru Desa Adat Sukawati masa bakti 2021-2026 pada Sabtu (Caniscara Pon Pahang) 18 Desember 2021 di Wantilan Pura Dang Kahyangan Er Jeruk Sukawati Gianyar Bali. (Foto: gs)
Gianyar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster dan Bupati Gianyar Agus Mahayastra menghadiri pengukuhan (pelantikan) Prajuru Desa Adat Sukawati masa bakti 2021-2026 pada Sabtu (Caniscara Pon Pahang) 18 Desember 2021 di Wantilan Pura Dang Kahyangan Er Jeruk Sukawati Gianyar Bali. Pengukuhan dilakukan oleh Bandesa Madya Majelis Desa Adat Kabupaten Gianyar drh. AA Alit Asmara, dilanjutkan sore harinya upacara pejaya-jayaan di Pura Desa Sukawati.
Pada upacara pengukuhan tersebut juga disaksikan oleh Ida Dalem Semaraputra, pangelingsir Puri Ubud, Puri Peliatan, Puri Sukawati, anggota DPRD Bali Kadek Diana, MDA Provinsi dan krama Desa Adat Sukawati. Sebelumnya dilaksanakan penandatanganan Purana Pura Er Jeruk oleh Gubernur Bali.
Penandatanganan SK pengukuhan Prajuru Desa Adat Sukawati oleh Bandesa Madya MDA Gianyar AA Alit Asmara
Bandesa Madya MDA Kabupaten Gianyar Drh. AA Alit Asmara mengukuhkan Bandesa Desa Adat Sukawati Ir. I Made Sarwa yang terpilih secara musyawarah mufakat bersama prajuru Desa Adat Sukawati sesuai Keputusan MDA Bali Nomor 261 /SK-P/MDA-P Bali/XII/2021, tentang Penetapan dan Pengukuhan Prajuru Desa Adat Sukawati Kecamatan Sukawati Gianyar Bali masa bakti 2021-2026, tertanggal 15 Desember 2021. Bandesa Madya mengukuhkan prajuru Desa Adat Sukawati dengan membacakan SK pengukuhan, bahwa prajuru bersedia melaksanakan tugas (swadharma) sesuai awig-awig desa adat dan Perda No. 4 Tahun 2019 untuk kasukertan (kesejahteraan, kemakmuran) desa adat sesuai desa mawa cara dan Bali mawa cara di bawah kesatuan payung Desa Adat Bali.
Ketua Panitia Ngadegang Bandesa Made Arya Amitaba sebelumnya melaporkan proses pemilihan bandesa saat pandemi Covid-19. Panitia melakukan pemilihan bandesa sesuai perarem dari proses mendapat nomor registrasi hingga pengesahan di MDA. Panitia melaksanakan sosialisasi, mengajukan bakal calon bandesa masing-masing banjar, dimana muncul nama bakal calon tunggal Ir. I Made Sarwa yang kemudian ditetapkan calon bandesa. Pada saat pemilihan bandesa yang dihadiri peserta paruman, terpilih Ir. I Made Sarwa sebagai bandesa secara musyawarah mufakat. Sehingga dilakukan pengukuhan dan pejaya-jayaan Bandesa dan Prajuru Desa Adat Sukawati. Pejaya-jayaan dilaksanakan di Pura Desa Sukawati.
Ketua Panitia Made Arya Amitaba
Ketua Panitia Made Arya Amitaba yang keseharian menjabat Direktur BPR Kanti memaparkan Prajuru Desa Adat Sukawati ini merupakan putra-putra terbaik Desa Sukawati. Diharapkan bandesa dan prajuru ini ke depan membawa pemerintahan adat Sukawati yang trepti, santun kertaraharja mewujudkan Sukawati menjadi desa yang aman khususnya di Sukawati dan aman umumnya di Gianyar.
Pada kesempatan itu, Ketua Panitia Arya Amitaba mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya atas kehadiran Gubernur Bali, Bupati Gianyar, Ida Dalem Klungkung, para pengelingsir puri di Gianyar.
Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutannya menyampaikan proses pemilihan prajuru pada intinya sudah sesuai dengan Perda Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali. ‘’Caranya pun sangat Bali, disebutnya ngadegang, memang mesti begitu, itu bagian dari ucapan untuk memuliakan keberadaan desa adat. Yang harus kita muliakan karena ini adalah warisan leluhur yang membuat desa adat di Bali sejak berabad-abad yang lalu,’’ papar Gubernur yang berkesempatan hadir setelah sebelumnya menandatangani Purana Pura Dang Kahyangan Er Jeruk, Sukawati Gianyar.
Gubernur Bali Wayan Koster
Gubernur Koster melihat pengukuhan bandesa dan prajuru Desa Adat Sukawati ini begitu luar biasa bisa disaksikan gubernur dan bupati, apalagi dihadiri Ida Dalem Klungkung, pengelingsir Puri Ubud, Peliatan dll, ini sangat terhormat. Pengukuhan dilakukan sangat detail dari busana, cara melantik dan yang penting niskalanya sesuai dengan spirit Mpu Kuturan. ‘’Menjadi prajuru desa adat harus tulus lurus. Gak boleh macam-macam, korup apalagi. Prajuru harus betul-betul ingat bahwa desa adat ini dibikin oleh beliau yang kita sungsung menjadi Bhatara, betapa mulianya desa adat ini. Menjadi pengurus spiritnya harus begitu, jadi Gubernur Bali juga harus begitu, fokus tulus lurus,’’ ujar Gubernur.
Gubernur asal Desa Sembiran Buleleng ini menegaskan bandesa adat kita hormati muliakan karena ini bukan pimpinan biasa. Bandesa punya kewenangan mengatur awig-awig dan perarem. Karena itu, menjadi bandesa harus betul-betul diniatin supaya kalugra apa yang dilakukan. Ia berharap bandesa yang sudah dilantik bisa menjalankan tugas dengan baik, melaksanakan perda pergub seperti yang dituangkan dalam buku panduan Tim Desa Kerti Sejahtera.
Di antaranya penerapan Aksara Bali, kebijakan pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai, pengelolaan sampah berbasis sumber, penggunaan produk lokal Bali. Jika betul-betul dijalankan dari lapisan paling bawah, 5-10 tahun ke depan Bali akan memiliki kepribadian, jati diri yang kuat dan berkarakter.
Untuk itu, Gubernur yang mantan anggota DPR-RI tiga periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini berharap kita semua kompak dan bersatu padu, segilik seguluk selulung sebayantaka paras paros sarpanaya. Prajuru desa bisa bekerja sama dengan kepala desa, lurah dengan semua komponen masyarakat.
Gubernur mengungkapkan kita harus bangga dengan Bali karena itu jangan dirusak. Segala bentuk upaya intervensi yang akan merusak adat istiadat tradisi budaya Bali jangan diberi ruang sedikit pun. Biarkan Bali tumbuh eksis dan kuat dengan tatatan kehidupan ini. Jangan ada nilai-nilai luar yang merusak, jangan diberi ruang sedikit pun sampradaya.
‘’Orang Bali sudah survive dengan cara begitu, orang tertarik datang ke Bali karena melihat itu (adat tradisi budaya Bali-red), kenapa kita bawa-bawa nilai luar masuk ke sini apalagi merusak, jangan. Dosa kita sama para Dhang Hyang yang sudah susah payah membangun Bali ini. Kita menjadi generasi-generasi yang bertanggung jawab,’’ ucap Gubernur seraya memastikan prajuru ini bebas dan tak terpapar dari sampradaya, untuk menegakkan adat istiadat tradisi budaya Bali. (gs)
HADIRI KARYA: Bupati Wayan Adi Arnawa saat hadiri “Karya Maligia Punggel” yang dirangkaikan dengan “nyekah” massal di Griya Agung Banjar Aseman, Desa Abiansemal. Rabu (15/4). (Foto: Hms Badung)
Badung, baliilu.com – Komitmen Pemerintah Kabupaten Badung dalam meringankan beban masyarakat kembali ditunjukkan melalui dukungan nyata terhadap pelaksanaan Karya Maligia Punggel yang dirangkaikan dengan nyekah massal di Griya Agung Banjar Aseman, Desa Abiansemal. Rabu (15/4).
Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus hadir mendukung kegiatan adat dan keagamaan masyarakat guna memastikan pelaksanaannya berjalan lancar. Bupati juga menyampaikan rasa bangga dan syukur atas kelancaran pelaksanaan karya. Ia berharap seluruh rangkaian yadnya dapat berjalan dengan lancar hingga mencapai sida purna.
“Pemerintah akan terus hadir untuk membantu masyarakat, tidak hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam pelestarian adat dan budaya. Kegiatan seperti ini sangat penting karena mampu meringankan beban sekaligus memperkuat kebersamaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bupati mengingatkan agar bantuan yang diberikan dimanfaatkan secara tepat sasaran serta diawasi bersama. “Pelaksanaan nyekah massal ini tidak hanya memberikan keringanan biaya bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat nilai solidaritas dan gotong-royong, sekaligus menjaga kelestarian adat dan budaya Bali, tiyang selaku murdaning jagat Badung akan terus mendukung kegiatan secara berkelanjutan sebagai bagian dari pembangunan yang berpihak pada masyarakat dan berakar pada budaya lokal,” pungkasnya sembari mengajak dan mengimbau masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
Kegiatan yang dipusatkan di Bale Peyadnyan Tegal Suci ini berlangsung secara bertahap sejak 3 Maret 2026, diawali dengan matur piuning, hingga mencapai puncak karya pada 16 April 2026, dan ditutup pada 17 April 2026 dengan rangkaian pralina puja, nganyut, sangkud, serta nilapati. Seluruh rangkaian upacara dilaksanakan secara gotong-royong dengan melibatkan sekitar 63 pengiring serta dukungan swadaya krama.
Sementara itu, Perbekel Abiansemal sekaligus panitia, Ida Bagus Bisma Wiratma, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah serta kekompakan krama Banjar Aseman. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan biaya upacara mencapai ratusan juta rupiah, sehingga pelaksanaan secara massal menjadi solusi yang efektif.
“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan Bapak Bupati dan seluruh pihak. Bantuan ini sangat membantu krama sehingga seluruh rangkaian upacara dapat berjalan lancar sesuai rencana,” ungkapnya.
Hadir pada acara tersebut Anggota DPRD Badung Ni Luh Putu Gede Rara Hita Sukma Dewi, Kadisdukcapil I Nyoman Rudiarta, Sekcam Abiansemal beserta Tripika Abiansemal. (gs/bi)
HADIRI KARYA: Bupati Wayan Adi Arnawa, menghadiri “Karya Atma Wedana“ dan Manusia Yadnya Desa Adat Padonan di Pura Dalem Desa Adat Padonan, Kuta Utara, Rabu (15/4). (Foto: Hms Badung)
Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, menghadiri Parikrama Tigang Sasih dan Mapetik Mejaya-jaya serangkaian Karya Atma Wedana dan Manusia Yadnya Desa Adat Padonan. Kegiatan tersebut berlangsung di Pura Dalem Desa Adat Padonan, Kuta Utara, Rabu (15/4), dan dipuput oleh Ida Pedanda Istri Griya Buduk.
Dalam sambutannya, Bupati Adi Arnawa menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya yadnya suci tersebut serta mendoakan agar seluruh rangkaian upacara berjalan lancar. Ia juga mengapresiasi dukungan pendanaan dari Desa Dinas, Desa Adat, serta LPD Desa Adat Padonan.
“Sebagai pratisentana, kita memiliki kewajiban melaksanakan yadnya sebagai wujud bakti kepada leluhur. Saya berharap Desa Adat Padonan dapat terus mandiri dan mampu menjaga tradisi di tengah perkembangan pariwisata,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh krama desa untuk menjaga keamanan, kebersihan, serta mengelola sampah dengan baik melalui pemilahan sejak dari rumah tangga. Lebih lanjut disampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Badung terus berupaya mengurai kemacetan dengan membangun ruas-ruas jalan baru di lokasi strategis guna memberikan kenyamanan bagi wisatawan.
Sementara itu, Bendesa Adat Padonan, I Made Sutarma, menyampaikan terima kasih atas kehadiran Bupati Badung beserta undangan lainnya. Ia menjelaskan bahwa rangkaian upacara telah diawali dengan upacara Ngerit (Ngelungah) pada 31 Maret 2026.
Karya Atma Wedana ini merupakan program Desa Adat Padonan yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali, yang bertujuan menjaga tradisi leluhur, sima dresta, serta memperkuat kebersamaan dan semangat gotong-royong. Selain itu, kegiatan ini juga untuk meringankan beban krama desa dalam melaksanakan upacara adat dan Manusa Yadnya.
Sebelumnya, kegiatan serupa dilaksanakan pada tahun 2022. Meski sesuai jadwal berikutnya akan digelar pada 2027, namun dimajukan ke tahun 2026 karena adanya rencana pembangunan karya di Pura Desa dan Puseh Desa Adat Padonan.
Adapun pendanaan kegiatan bersumber dari Rp 900 juta dana Desa Dinas, Rp 200 juta dari Desa Adat, serta sisa hasil usaha LPD Desa Adat Padonan. Dengan dukungan tersebut, pelaksanaan karya tahun ini tidak membebankan biaya kepada krama desa.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain anggota DPRD Badung Wayan Sandra, Camat Kuta Utara Putu Eka Parmana, Majelis Madya dan Majelis Alit Kuta Utara, Perbekel Tibubeneng, serta krama Desa Adat Padonan. (gs/bi)
HADIRI KARYA: Bupati Wayan Adi Arnawa saat menghadiri rangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, di Pura Dalem Mandi, Banjar Karangenjung Bhakti, Desa Sembung, Kecamatan Mengwi, Sabtu (11/4). (Foto: Hms Badung)
Badung, baliilu.com – Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, menghadiri rangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Mendem Pedagingan, Padudusan Alit, Wraspati Kalpa di Pura Dalem Mandi, Banjar Karangenjung Bhakti, Desa Sembung, Kecamatan Mengwi, Sabtu (11/4).
Kehadiran orang nomor satu di Badung tersebut disambut hangat oleh Perbekel Desa Sembung I Ketut Sukerta, Bendesa Adat Sembung, serta tokoh masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Bupati Adi Arnawa menyampaikan apresiasi mendalam atas semangat gotong royong masyarakat Banjar Karangenjung Bhakti. Menurutnya, kekompakan warga dalam ngayah merupakan cerminan nilai luhur yang harus diwariskan ke generasi penerus.
“Pelaksanaan yadnya ini bukan hanya wujud sradha bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga sarana memperkuat keharmonisan di tengah masyarakat. Pemerintah Kabupaten Badung senantiasa mendukung upaya warga dalam menjaga kelestarian adat dan budaya. Semoga upacara ini berjalan lancar, labda karya, sida sidaning don,” ujar Bupati Adi Arnawa.
Selain aspek spiritual, Bupati juga menyelipkan pesan penting terkait isu lingkungan. Ia mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran dalam pengelolaan sampah, dimulai dengan memilah dari tingkat rumah tangga. Hal ini selaras dengan program strategis Pemerintah Kabupaten Badung yang saat ini tengah fokus menangani masalah sampah, kemacetan, dan banjir.
Sementara itu, Manggala Prawartaka Karya, I Gusti Made Oka, menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan dukungan Bupati Badung. Ia menjelaskan bahwa rangkaian upacara besar ini telah dimulai sejak 26 Maret 2026 yang diawali dengan prosesi nancep surya.
“Rangkaian berlanjut pada 4 April dengan upacara Mecaru Panca dan Rsi Gana. Kemudian pada 7 April dilaksanakan Melasti ke Segara Batu Bolong, dan puncak karya jatuh pada 8 April lalu. 11 April, merupakan prosesi Nyegara Gunung ke Pura Ulun Danu Beratan, yang kemudian dilanjutkan dengan mekebat daun, mendem bagia, nyenuk hingga prosesi nyineb sebagai penutup seluruh rangkaian karya,” pungkasnya. (gs/bi)