Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Pengukuhan Prajuru Desa Adat Sukawati, Dihadiri Gubernur Bali dan Bupati Gianyar

BALIILU Tayang

:

de
FOTO BERSAMA: Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Gianyar Agus Mahayastra bersama Ida Dalem Klungkung, pengelingsir puri di Gianyar foto bersama pada Prajuru Desa Adat Sukawati masa bakti 2021-2026 pada Sabtu (Caniscara Pon Pahang) 18 Desember 2021 di Wantilan Pura Dang Kahyangan Er Jeruk Sukawati Gianyar Bali. (Foto: gs)

Gianyar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster dan Bupati Gianyar Agus Mahayastra menghadiri pengukuhan (pelantikan) Prajuru Desa Adat Sukawati masa bakti 2021-2026 pada Sabtu (Caniscara Pon Pahang) 18 Desember 2021 di Wantilan Pura Dang Kahyangan Er Jeruk Sukawati Gianyar Bali. Pengukuhan dilakukan oleh Bandesa Madya Majelis Desa Adat Kabupaten Gianyar drh. AA Alit Asmara, dilanjutkan sore harinya upacara pejaya-jayaan di Pura Desa Sukawati.

Pada upacara pengukuhan tersebut juga disaksikan oleh Ida Dalem Semaraputra, pangelingsir Puri Ubud, Puri Peliatan, Puri Sukawati, anggota DPRD Bali Kadek Diana, MDA Provinsi dan krama Desa Adat Sukawati. Sebelumnya dilaksanakan penandatanganan Purana Pura Er Jeruk oleh Gubernur Bali.

Penandatanganan SK pengukuhan Prajuru Desa Adat Sukawati oleh Bandesa Madya MDA Gianyar AA Alit Asmara

Bandesa Madya MDA Kabupaten Gianyar Drh. AA Alit Asmara mengukuhkan Bandesa Desa Adat Sukawati Ir. I Made Sarwa yang terpilih secara musyawarah mufakat bersama prajuru Desa Adat Sukawati sesuai Keputusan MDA Bali Nomor 261 /SK-P/MDA-P Bali/XII/2021, tentang Penetapan dan Pengukuhan Prajuru Desa Adat Sukawati Kecamatan Sukawati Gianyar Bali masa bakti 2021-2026, tertanggal 15 Desember 2021. Bandesa Madya mengukuhkan prajuru Desa Adat Sukawati dengan membacakan SK pengukuhan, bahwa prajuru bersedia melaksanakan tugas (swadharma) sesuai awig-awig desa adat dan Perda No. 4 Tahun 2019 untuk kasukertan (kesejahteraan, kemakmuran) desa adat sesuai desa mawa cara dan Bali mawa cara di bawah kesatuan payung Desa Adat Bali.

Ketua Panitia Ngadegang Bandesa Made Arya Amitaba sebelumnya melaporkan proses pemilihan bandesa saat pandemi Covid-19. Panitia melakukan pemilihan bandesa sesuai perarem dari proses mendapat nomor registrasi hingga pengesahan di MDA. Panitia melaksanakan sosialisasi, mengajukan bakal calon bandesa masing-masing banjar, dimana muncul nama bakal calon tunggal Ir. I Made Sarwa yang kemudian ditetapkan calon bandesa. Pada saat pemilihan bandesa yang dihadiri peserta paruman, terpilih Ir. I Made Sarwa sebagai bandesa secara musyawarah mufakat. Sehingga dilakukan pengukuhan dan pejaya-jayaan Bandesa dan Prajuru Desa Adat Sukawati. Pejaya-jayaan dilaksanakan di Pura Desa Sukawati.

Ketua Panitia Made Arya Amitaba

Ketua Panitia Made Arya Amitaba yang keseharian menjabat Direktur BPR Kanti memaparkan Prajuru Desa Adat Sukawati ini merupakan putra-putra terbaik Desa Sukawati. Diharapkan bandesa dan prajuru ini ke depan membawa pemerintahan adat Sukawati yang trepti, santun kertaraharja mewujudkan Sukawati menjadi desa yang aman khususnya di Sukawati dan aman umumnya di Gianyar.

Pada kesempatan itu, Ketua Panitia Arya Amitaba mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya atas kehadiran Gubernur Bali, Bupati Gianyar, Ida Dalem Klungkung, para pengelingsir puri di Gianyar.

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutannya menyampaikan proses pemilihan prajuru pada intinya sudah sesuai dengan Perda Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali. ‘’Caranya pun sangat Bali, disebutnya ngadegang, memang mesti begitu, itu bagian dari ucapan untuk memuliakan keberadaan desa adat. Yang harus kita muliakan karena ini adalah warisan leluhur yang membuat desa adat di Bali sejak berabad-abad yang lalu,’’ papar Gubernur yang berkesempatan hadir setelah sebelumnya menandatangani Purana Pura Dang Kahyangan Er Jeruk, Sukawati Gianyar.

Gubernur Bali Wayan Koster

Gubernur Koster melihat pengukuhan bandesa dan prajuru Desa Adat Sukawati ini begitu luar biasa bisa disaksikan gubernur dan bupati, apalagi dihadiri Ida Dalem Klungkung, pengelingsir Puri Ubud, Peliatan dll, ini sangat terhormat. Pengukuhan dilakukan sangat detail dari busana, cara melantik dan yang penting niskalanya sesuai dengan spirit Mpu Kuturan. ‘’Menjadi prajuru desa adat harus tulus lurus. Gak boleh macam-macam, korup apalagi. Prajuru harus betul-betul ingat bahwa desa adat ini dibikin oleh beliau yang kita sungsung menjadi Bhatara, betapa mulianya desa adat ini. Menjadi pengurus spiritnya harus begitu, jadi Gubernur Bali juga harus begitu, fokus tulus lurus,’’ ujar Gubernur.

Gubernur asal Desa Sembiran Buleleng ini menegaskan bandesa adat kita hormati muliakan karena ini bukan pimpinan biasa. Bandesa punya kewenangan mengatur awig-awig dan perarem. Karena itu, menjadi bandesa harus betul-betul diniatin supaya kalugra apa yang dilakukan. Ia berharap bandesa yang sudah dilantik bisa menjalankan tugas dengan baik, melaksanakan perda pergub seperti yang dituangkan dalam buku panduan Tim Desa Kerti Sejahtera.

Di antaranya penerapan Aksara Bali, kebijakan pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai, pengelolaan sampah berbasis sumber, penggunaan produk lokal Bali. Jika betul-betul dijalankan dari lapisan paling bawah, 5-10 tahun ke depan Bali akan memiliki kepribadian, jati diri yang kuat dan berkarakter.

Untuk itu, Gubernur yang mantan anggota DPR-RI tiga periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini berharap kita semua kompak dan bersatu padu, segilik seguluk selulung sebayantaka paras paros sarpanaya. Prajuru desa bisa bekerja sama dengan kepala desa, lurah dengan semua komponen masyarakat.

Gubernur mengungkapkan kita harus bangga dengan Bali karena itu jangan dirusak. Segala bentuk upaya intervensi yang akan merusak adat istiadat tradisi budaya Bali jangan diberi ruang sedikit pun. Biarkan Bali tumbuh eksis dan kuat dengan tatatan kehidupan ini. Jangan ada nilai-nilai luar yang merusak, jangan diberi ruang sedikit pun sampradaya.

‘’Orang Bali sudah survive dengan cara begitu, orang tertarik datang ke Bali karena melihat itu (adat tradisi budaya Bali-red), kenapa kita bawa-bawa nilai luar masuk ke sini apalagi merusak, jangan.  Dosa kita sama para Dhang Hyang yang sudah susah payah membangun Bali ini. Kita menjadi generasi-generasi yang bertanggung jawab,’’ ucap Gubernur seraya memastikan prajuru ini bebas dan tak terpapar dari sampradaya, untuk menegakkan adat istiadat tradisi budaya Bali. (gs)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Rangkaian Mepeed dan Persembahyangan Bersama, Bupati Sanjaya Perkuat Kebersamaan Jajaran Pemkab Tabanan

Published

on

By

Sanjaya Ikuti Mepeed Pujawali Tri Kahyangan Tabanan
MEPEED: Nuansa kebersamaan dan keharmonisan mewarnai rangkaian Upacara Pujawali ring Tri Kahyangan Desa Adat Kota Tabanan, saat jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan dipimpin Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya mengikuti Mepeed dan persembahyangan bersama, Kamis (17/9). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Nuansa kebersamaan dan keharmonisan mewarnai rangkaian Upacara Pujawali ring Tri Kahyangan Desa Adat Kota Tabanan, saat jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan dipimpin Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya mengikuti Mepeed dan persembahyangan bersama, Kamis (17/9). Kegiatan berlangsung di Pura Puseh Desa Bale Agung Desa Adat Kota Tabanan dan dilanjutkan ke Pura Dalem Prajapati Desa Adat Kota Tabanan.

Tradisi Mepeed yang diikuti jajaran Pemkab Tabanan dan juga ratusan pegawai yang berjalan bersama dalam satu rangkaian menuju tempat persembahyangan tersebut, tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian upacara, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan dalam menjaga hubungan sosial serta nilai-nilai adat dan budaya di tengah masyarakat. Kehadiran bersama dalam rangkaian tersebut mencerminkan semangat gotong-royong sekaligus penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sanjaya bersama Wakil Bupati Tabanan beserta istri, Sekda Tabanan beserta istri, Asisten III, para kepala perangkat daerah dan kepala bagian di lingkungan Pemkab Tabanan, Camat Tabanan, Perbekel Delod Peken, Bendesa Adat Kota Tabanan, serta para pegawai mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan tertib dan khidmat.

Persembahyangan bersama yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali tersebut menjadi momentum bagi jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk memanjatkan doa bersama. Bupati Sanjaya menyampaikan bahwa kehadiran dalam rangkaian pujawali merupakan bagian dari upaya menjaga kebersamaan sekaligus memohon kerahayuan bagi seluruh masyarakat.

“Tujuan kami ngaturang ayah di pemerintah daerah ini adalah bagaimana kita bisa memupuk rasa persatuan dan kesatuan sesuai dengan visi dan misi yang sudah dicanangkan oleh bapak gubernur dan juga Pemkab Tabanan, aktualisasi dari visi misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, kita ajak pemerintah bersama jajaran ngayah, mepeed, nari rejang, menggambel di sini, kita ikut peran serta sehingga terjalin kebersamaan bagaimana kita kompak antara Pemerintah Kabupaten Tabanan dan desa adat sejebag Kabupaten Tabanan, rahayu,” ungkapnya.

Mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan khidmat, Bupati Sanjaya dan jajaran kemudian melanjutkan persembahyangan dari Pura Puseh Desa Bale Agung menuju Pura Dalem Prajapati Desa Adat Kota Tabanan. Rangkaian tersebut berlangsung penuh kekhusyukan sebagai wujud shrada bhakti sekaligus doa bersama untuk kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat Tabanan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara “Ngayah Nyangging” Serangkaian Karya di Pura Dalem Penataran Sari Banjar Pekandelan

Published

on

By

Walikota Jaya Negara Ngayah Nyangging di Pura Penataran Sari
NGAYAH NYANGGING: Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, saat ngayah nyangging serangkaian Karya Mamungkah Ngenteg Linggih di Pura Dalem Penataran Sari, Banjar Pekandelan, Desa Adat Denpasar, Kamis (17/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, melaksanakan ngayah nyangging serangkaian Karya Mamungkah Ngenteg Linggih di Pura Dalem Penataran Sari, Banjar Pekandelan, Desa Adat Denpasar, Kamis (17/9).

Kegiatan ngayah tersebut merupakan bentuk partisipasi dan kepedulian Walikota Denpasar dalam mendukung pelaksanaan kegiatan keagamaan dan adat di tengah masyarakat. Kehadiran Walikota juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara pemerintah dengan krama adat serta masyarakat Kota Denpasar.

Serangkaian karya di Pura Dalem Penataran Sari tersebut turut dirangkaikan dengan pelaksanaan upacara metatah yang diikuti 45 orang dan menek kelih diikuti 5 orang. Prawartaka Karya, I Wayan Arya, menyampaikan bahwa rangkaian karya dilaksanakan dengan semangat kebersamaan dan gotong-royong seluruh krama. Pelaksanaan metatah dan menek kelih yang dirangkaikan dalam karya tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga serta melestarikan adat dan tradisi Bali.

Walikota IGN Jaya Negara menyampaikan bahwa pelaksanaan karya keagamaan dan adat merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi, budaya, serta nilai-nilai kebersamaan masyarakat Bali.

“Melalui pelaksanaan karya seperti ini, kita tidak hanya menjalankan kewajiban keagamaan, tetapi juga menjaga adat, tradisi dan budaya Bali agar tetap lestari serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Jaya Negara.

Ia juga mengapresiasi semangat krama Banjar Pekandelan dan Desa Adat Denpasar yang secara bersama-sama menyukseskan rangkaian karya, termasuk pelaksanaan metatah massal dan menek kelih.

“Kebersamaan dan gotong-royong seperti ini menjadi kekuatan dalam menjaga adat dan budaya Bali. Semoga seluruh rangkaian karya berjalan lancar dan memberikan kerahayuan bagi seluruh krama,” tambahnya.

Pelaksanaan karya berlangsung dengan khidmat dan penuh kebersamaan, dengan melibatkan krama serta masyarakat dalam berbagai rangkaian kegiatan upacara. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Adi Arnawa dan Ketua DPRD Badung “Ngupasaksi Karya Utama” di Pura Dalem Kahyangan Tuban

Published

on

By

Bupati Adi Arnawa Tanda Tangani Prasasti Karya Pura Tuban
TANDA TANGAN PRASASTI: Bupati Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung Gusti Anom Gumanti menandatangani prasasti karya saat menghadiri sekaligus ngupasaksi upacara Melaspas di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Kamis (17/9). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menghadiri sekaligus ngupasaksi upacara Melaspas, Nyusun Pedagingan, Mecaru Manca Rupa, dan Rsi Gana di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Kamis (17/9). Upacara ini merupakan rangkaian dari Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Manawa Ratna, Tawur Balik Sumpah Utama yang puncak karyanya dipimpin Yadnyamana Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijayananda pada 26 September 2026.

Dalam prosesi tersebut, Bupati Adi Arnawa naik ke Padmasana setinggi 12 meter untuk ngunggahang kwangen, menandatangani prasasti pura. Bupati mendoakan agar karya berjalan sida sidaning don labda karya dan sida paripurna demi kerahayuan jagat Badung dan Bali, serta berharap krama Tuban tetap menjaga persatuan dengan semangat sagilik saguluk, salunglung sabayantaka.

“Kebersamaan ini penting untuk menjaga Desa Adat Tuban yang menjadi gerbang pertama pariwisata Bali melalui jalur udara. Melarapan subakti, kita memohon kelancaran dalam menata Badung menjadi lebih nyaman dan berdoa agar PAD meningkat sehingga semakin banyak program pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Adi Arnawa.

Pemkab Badung menegaskan komitmen melakukan penataan akses menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai guna mengurangi kemacetan.

Sementara itu, Bendesa Adat Tuban, I Wayan Mendra, mengungkapkan bahwa pemugaran Pura Dalem Kahyangan didanai melalui hibah Pemkab Badung TA 2025 sebesar Rp 15,9 miliar pada APBD induk. Namun, karena dana tersebut hanya untuk fisik bangunan pura, kas desa adat harus mengeluarkan biaya mandiri hingga hampir Rp 9 miliar, sehingga total pembangunan diperkirakan mencapai Rp 25 miliar.

Prosesi upacara sendiri telah dimulai sejak 1 Agustus 2026 yang diawali dengan Pemarisuda Bumi, Pecaruan, hingga Melaspas Tetaring. Rangkaian akan memuncak pada Purnamaning Kapat, Sabtu Umanis Bala, 26 September 2026, dilanjutkan penganyaran selama empat hari, dan prosesi sineb pada 30 Oktober 2026 yang ditutup ritual Nyegara Gunung.

Mendra menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas hibah besar dari Pemkab Badung, meski ia berharap dukungan ke depan terus ditingkatkan karena kebutuhan belum sepenuhnya tercukupi. Ia juga berharap pemerintah daerah serta PT. Angkasa Pura Indonesia memberikan perhatian lebih pada Desa Adat Tuban sebagai beranda depan dan belakang Bali.

Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah Anggota DPRD Badung Dapil Kuta seperti I Nyoman Graha Wicaksana, I Nyoman Sudana, I Wayan Puspa Negara, dan I Made Sada. Hadir pula Camat Kuta I Made Agus Suantara, Majelis Desa Adat, Lurah Tuban, unsur TNI-Polri, manajemen PT Angkasa Pura Indonesia, BBMKG Wilayah III, serta jajaran Jasa Marga Bali Tol. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca