Denpasar, baliilu.com – Gandrung Padma Sandhi Banjar Abasan Desa Padang Sambian Klod Denpasar Barat kembali ikut memeriahkan Denpasar Festival ke-14 yang dilangsungkan sejak 10-23 Desember 2021 di beberapa titik lokasi di Denpasar, di antaranya di Banjar Abasan Padang Sambian Klod, Denpasar.
Gandrung Padma Sandhi berkesempatan mengisi pagelaran pada 14-15 Desember 2021 di Balai Banjar Abasan Padang Sambian Klod, Denpasar. Ketua Sanggar Gandrung Padma Sandhi I Made Gede Ary Sujaya didampingi Pembina I Gede Yudana mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Denpasar atas segala kebijaksanaan mengadakan Denpasar Festival di tengah pandemi Covid-19, yang sangat bermanfaat untuk kemajuan seni dan budaya Bali pada khususnya dan pada puncaknya menuju kebudayaan nasional (nusantara). ‘’Semoga Denpasar tetap jaya dan semakin jaya memunculkan seniman seniwati muda yang bersemangat untuk berkreativitas dalam adat seni dan budaya,’’ ucap Gede Yudana.
Pada pementasan gandrung kali ini, Gede Yudana menyampaikan Sanggar Padma Sandhi mementaskan beberapa tari di antaranya Tari Pendet, Jauk Keras, Condong, Legong Ketaron (Prabu Lasem), Gandrung Petak, dan Gandrung Bang. Kesenian Gandrung Padma Sandhi sebagai media hiburan, dimana masyarakat turut serta menari (ngibing) bersama penari gandrung dengan berpedoman pada pakem tari Bali.
Tari Gandrung Bang bersama pengibing
Lebih lanjut, Gede Yudana menuturkan, kesenian Gandrung diketahui telah ada di wilayah Banjar Abasan sebelum tahun 1930-an yang aktif pentas dari desa ke desa. Memasuki tahun 1930, Gandrung di Br. Abasan mulai meredup. Namun beberapa peninggalan leluhur berupa alat gamelan gandrung berupa kajar dan ceng-ceng masih tersimpan sampai saat ini.
Mengingat di Br. Abasan pernah ada kesenian gandrung, Gede Yudana yang lahir di Br. Abasan mencoba merangkai kembali kesenian gandrung di wilayahnya. Ia mulai membuat perangkat gamelan gandrung dengan menggunakan bambu dan kayu. ‘’Gamelan gandrung ini dibuat sedikit berbeda dengan gamelan gandrung pada umumnya yaitu pada bagian pelawah. Tetapi tetap mempertahankan warna nada menggunakan bilah bambu dengan nada pelog lima nada,’’ tutur Yudana.
Hampir 10 tahun, gamelan gandrung akhirnya rampung dikerjakan, dilanjutkan dengan terbentuknya Sekaa Gandrung Padma Sandhi. Sejak saat itu, Sekaa Gandrung Padma Sandhi diajak mengisi kegiatan upacara di pura dan acara-acara yang bersifat hiburan.
Tari Legong Karaton
‘’Gandrung Padma Sandhi ini bukanlah gandrung sesuhunan seperti di wilayah lain, tetapi gandrung yang bisa dipentaskan pada acara-acara keagamaan atau acara lainnya yang bersifat hiburan. Namun dalam melaksanakan pementasan kami senantiasa memohon anugerah kepada Tuhan yang bermanifestasi sebagai Sang Hyang Taksu agar pementasan berjalan dengan baik,’’ paparnya.
Pada umumnya, Yudana memaparkan, dalam sebuah pementasan diawali dengan tabuh petegak. Tabuh petegak disajikan dengan mengungkapkan rasa keindahan melalui media suara gamelan berupa gamelan rindik gegandrangan yang terbuat dari bambu. Alunan tabuh ini diciptakan dengan memperhatikan pakem seni tanpa meninggalkan unsur bite, balance, harmony, ritme dan melody.
Teknik permainan dalam tabuh petegak ini didasarkan atas ketulusan hati, untuk mempersembahkan seni suara kehadapan Yang Maha Kuasa. Adapun tekniknya seperti oncan-oncangan, kekenyongan, netdet, noret, nerot dan kotekan.
Komposisi dari tabuh ini yaitu tanpa meninggalkan pakem Tri Angga Sarira, dimana komposisi Tabuh Petegak Saron diwujudkan berdasarkan pengawit yaitu kepala, pengawak yaitu badan, dan pengecet / pekaad yaitu kaki / ekor. Serta dilengkapi dengan peralihan-peralihan sebagai jembatan untuk menyambung lagu demi keutuhannya.
Adapun tujuan dari Tabuh Petegak berfungsi sebagai pengundang Taksu. Persembahan tabuh ini ditujukan kehadapan Tuhan yang bermanifestasi sebagai Sang Hyang Taksu. Di samping itu tabuh ini juga disajikan kepada para hadirin sebagai pengaksama atau ucapan selamat datang.
Selanjutnya dipentaskan Tari Pendet, Tari Jauk Keras, Tari Condong, Tari Legong Keraton, Gandrung Petak dan ditutup Tari Gandrung Bang. Gadrung artinya senang, mengasihi, rindu, tergila-gila akan asmara. Tari gandrung pada umumnya diciptakan untuk menghibur. Tujuannya mengajak masyarakat menari bersama untuk melepaskan beban serta menghibur diri dengan gerakan yang dinamis. (gs)
MEPEED: Nuansa kebersamaan dan keharmonisan mewarnai rangkaian Upacara Pujawali ring Tri Kahyangan Desa Adat Kota Tabanan, saat jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan dipimpin Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya mengikuti Mepeed dan persembahyangan bersama, Kamis (17/9). (Foto: Hms Tbn)
Tabanan, baliilu.com – Nuansa kebersamaan dan keharmonisan mewarnai rangkaian Upacara Pujawali ring Tri Kahyangan Desa Adat Kota Tabanan, saat jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan dipimpin Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya mengikuti Mepeed dan persembahyangan bersama, Kamis (17/9). Kegiatan berlangsung di Pura Puseh Desa Bale Agung Desa Adat Kota Tabanan dan dilanjutkan ke Pura Dalem Prajapati Desa Adat Kota Tabanan.
Tradisi Mepeed yang diikuti jajaran Pemkab Tabanan dan juga ratusan pegawai yang berjalan bersama dalam satu rangkaian menuju tempat persembahyangan tersebut, tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian upacara, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan dalam menjaga hubungan sosial serta nilai-nilai adat dan budaya di tengah masyarakat. Kehadiran bersama dalam rangkaian tersebut mencerminkan semangat gotong-royong sekaligus penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sanjaya bersama Wakil Bupati Tabanan beserta istri, Sekda Tabanan beserta istri, Asisten III, para kepala perangkat daerah dan kepala bagian di lingkungan Pemkab Tabanan, Camat Tabanan, Perbekel Delod Peken, Bendesa Adat Kota Tabanan, serta para pegawai mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan tertib dan khidmat.
Persembahyangan bersama yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali tersebut menjadi momentum bagi jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk memanjatkan doa bersama. Bupati Sanjaya menyampaikan bahwa kehadiran dalam rangkaian pujawali merupakan bagian dari upaya menjaga kebersamaan sekaligus memohon kerahayuan bagi seluruh masyarakat.
“Tujuan kami ngaturang ayah di pemerintah daerah ini adalah bagaimana kita bisa memupuk rasa persatuan dan kesatuan sesuai dengan visi dan misi yang sudah dicanangkan oleh bapak gubernur dan juga Pemkab Tabanan, aktualisasi dari visi misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, kita ajak pemerintah bersama jajaran ngayah, mepeed, nari rejang, menggambel di sini, kita ikut peran serta sehingga terjalin kebersamaan bagaimana kita kompak antara Pemerintah Kabupaten Tabanan dan desa adat sejebag Kabupaten Tabanan, rahayu,” ungkapnya.
Mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan khidmat, Bupati Sanjaya dan jajaran kemudian melanjutkan persembahyangan dari Pura Puseh Desa Bale Agung menuju Pura Dalem Prajapati Desa Adat Kota Tabanan. Rangkaian tersebut berlangsung penuh kekhusyukan sebagai wujud shrada bhakti sekaligus doa bersama untuk kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat Tabanan. (gs/bi)
NGAYAH NYANGGING: Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, saat ngayah nyangging serangkaian Karya Mamungkah Ngenteg Linggih di Pura Dalem Penataran Sari, Banjar Pekandelan, Desa Adat Denpasar, Kamis (17/9). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, melaksanakan ngayah nyangging serangkaian Karya Mamungkah Ngenteg Linggih di Pura Dalem Penataran Sari, Banjar Pekandelan, Desa Adat Denpasar, Kamis (17/9).
Kegiatan ngayah tersebut merupakan bentuk partisipasi dan kepedulian Walikota Denpasar dalam mendukung pelaksanaan kegiatan keagamaan dan adat di tengah masyarakat. Kehadiran Walikota juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara pemerintah dengan krama adat serta masyarakat Kota Denpasar.
Serangkaian karya di Pura Dalem Penataran Sari tersebut turut dirangkaikan dengan pelaksanaan upacara metatah yang diikuti 45 orang dan menek kelih diikuti 5 orang. Prawartaka Karya, I Wayan Arya, menyampaikan bahwa rangkaian karya dilaksanakan dengan semangat kebersamaan dan gotong-royong seluruh krama. Pelaksanaan metatah dan menek kelih yang dirangkaikan dalam karya tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga serta melestarikan adat dan tradisi Bali.
Walikota IGN Jaya Negara menyampaikan bahwa pelaksanaan karya keagamaan dan adat merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi, budaya, serta nilai-nilai kebersamaan masyarakat Bali.
“Melalui pelaksanaan karya seperti ini, kita tidak hanya menjalankan kewajiban keagamaan, tetapi juga menjaga adat, tradisi dan budaya Bali agar tetap lestari serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Jaya Negara.
Ia juga mengapresiasi semangat krama Banjar Pekandelan dan Desa Adat Denpasar yang secara bersama-sama menyukseskan rangkaian karya, termasuk pelaksanaan metatah massal dan menek kelih.
“Kebersamaan dan gotong-royong seperti ini menjadi kekuatan dalam menjaga adat dan budaya Bali. Semoga seluruh rangkaian karya berjalan lancar dan memberikan kerahayuan bagi seluruh krama,” tambahnya.
Pelaksanaan karya berlangsung dengan khidmat dan penuh kebersamaan, dengan melibatkan krama serta masyarakat dalam berbagai rangkaian kegiatan upacara. (eka/bi)
TANDA TANGAN PRASASTI: Bupati Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung Gusti Anom Gumanti menandatangani prasasti karya saat menghadiri sekaligus ngupasaksi upacara Melaspas di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Kamis (17/9). (Foto: Hms Badung)
Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menghadiri sekaligus ngupasaksi upacara Melaspas, Nyusun Pedagingan, Mecaru Manca Rupa, dan Rsi Gana di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Kamis (17/9). Upacara ini merupakan rangkaian dari Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Manawa Ratna, Tawur Balik Sumpah Utama yang puncak karyanya dipimpin Yadnyamana Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijayananda pada 26 September 2026.
Dalam prosesi tersebut, Bupati Adi Arnawa naik ke Padmasana setinggi 12 meter untuk ngunggahang kwangen, menandatangani prasasti pura. Bupati mendoakan agar karya berjalan sida sidaning don labda karya dan sida paripurna demi kerahayuan jagat Badung dan Bali, serta berharap krama Tuban tetap menjaga persatuan dengan semangat sagilik saguluk, salunglung sabayantaka.
“Kebersamaan ini penting untuk menjaga Desa Adat Tuban yang menjadi gerbang pertama pariwisata Bali melalui jalur udara. Melarapan subakti, kita memohon kelancaran dalam menata Badung menjadi lebih nyaman dan berdoa agar PAD meningkat sehingga semakin banyak program pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Adi Arnawa.
Pemkab Badung menegaskan komitmen melakukan penataan akses menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai guna mengurangi kemacetan.
Sementara itu, Bendesa Adat Tuban, I Wayan Mendra, mengungkapkan bahwa pemugaran Pura Dalem Kahyangan didanai melalui hibah Pemkab Badung TA 2025 sebesar Rp 15,9 miliar pada APBD induk. Namun, karena dana tersebut hanya untuk fisik bangunan pura, kas desa adat harus mengeluarkan biaya mandiri hingga hampir Rp 9 miliar, sehingga total pembangunan diperkirakan mencapai Rp 25 miliar.
Prosesi upacara sendiri telah dimulai sejak 1 Agustus 2026 yang diawali dengan Pemarisuda Bumi, Pecaruan, hingga Melaspas Tetaring. Rangkaian akan memuncak pada Purnamaning Kapat, Sabtu Umanis Bala, 26 September 2026, dilanjutkan penganyaran selama empat hari, dan prosesi sineb pada 30 Oktober 2026 yang ditutup ritual Nyegara Gunung.
Mendra menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas hibah besar dari Pemkab Badung, meski ia berharap dukungan ke depan terus ditingkatkan karena kebutuhan belum sepenuhnya tercukupi. Ia juga berharap pemerintah daerah serta PT. Angkasa Pura Indonesia memberikan perhatian lebih pada Desa Adat Tuban sebagai beranda depan dan belakang Bali.
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah Anggota DPRD Badung Dapil Kuta seperti I Nyoman Graha Wicaksana, I Nyoman Sudana, I Wayan Puspa Negara, dan I Made Sada. Hadir pula Camat Kuta I Made Agus Suantara, Majelis Desa Adat, Lurah Tuban, unsur TNI-Polri, manajemen PT Angkasa Pura Indonesia, BBMKG Wilayah III, serta jajaran Jasa Marga Bali Tol. (gs/bi)