Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Hidupkan Peninggalan Leluhur, Gandrung Padma Sandhi Abasan Meriahkan Denfes Ke-14 Tahun 2021

BALIILU Tayang

:

Tari Gandrung Petak bersama pengibing. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Gandrung Padma Sandhi Banjar Abasan Desa Padang Sambian Klod Denpasar Barat kembali ikut memeriahkan Denpasar Festival ke-14 yang dilangsungkan sejak 10-23 Desember 2021 di beberapa titik lokasi di Denpasar, di antaranya di Banjar Abasan Padang Sambian Klod, Denpasar.

Gandrung Padma Sandhi berkesempatan mengisi pagelaran pada 14-15 Desember 2021 di Balai Banjar Abasan Padang Sambian Klod, Denpasar. Ketua Sanggar Gandrung Padma Sandhi I Made Gede Ary Sujaya didampingi Pembina I Gede Yudana mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Denpasar atas segala kebijaksanaan mengadakan Denpasar Festival di tengah pandemi Covid-19, yang sangat bermanfaat untuk kemajuan seni dan budaya Bali pada khususnya dan pada puncaknya menuju kebudayaan nasional (nusantara). ‘’Semoga Denpasar tetap jaya dan semakin jaya memunculkan seniman seniwati muda yang bersemangat untuk berkreativitas dalam adat seni dan budaya,’’ ucap Gede Yudana.

Pada pementasan gandrung kali ini, Gede Yudana menyampaikan Sanggar Padma Sandhi mementaskan beberapa tari di antaranya Tari Pendet, Jauk Keras, Condong, Legong Ketaron (Prabu Lasem), Gandrung Petak, dan Gandrung Bang. Kesenian Gandrung Padma Sandhi sebagai media hiburan, dimana masyarakat turut serta menari (ngibing) bersama penari gandrung dengan berpedoman pada pakem tari Bali.

Tari Gandrung Bang bersama pengibing

Lebih lanjut, Gede Yudana menuturkan, kesenian Gandrung diketahui telah ada di wilayah Banjar Abasan sebelum tahun 1930-an yang aktif pentas dari desa ke desa. Memasuki tahun 1930, Gandrung di Br. Abasan mulai meredup. Namun beberapa peninggalan leluhur berupa alat gamelan gandrung berupa kajar dan ceng-ceng masih tersimpan sampai saat ini.

Mengingat di Br. Abasan pernah ada kesenian gandrung, Gede Yudana yang lahir di Br. Abasan mencoba merangkai kembali kesenian gandrung di wilayahnya. Ia mulai membuat perangkat gamelan gandrung dengan menggunakan bambu dan kayu. ‘’Gamelan gandrung ini dibuat sedikit berbeda dengan gamelan gandrung pada umumnya yaitu pada bagian pelawah. Tetapi tetap mempertahankan warna nada menggunakan bilah bambu dengan nada pelog lima nada,’’ tutur Yudana.

Hampir 10 tahun, gamelan gandrung akhirnya rampung dikerjakan, dilanjutkan dengan terbentuknya Sekaa Gandrung Padma Sandhi. Sejak saat itu, Sekaa Gandrung Padma Sandhi diajak mengisi kegiatan upacara di pura dan acara-acara yang bersifat hiburan.

Tari Legong Karaton

‘’Gandrung Padma Sandhi ini bukanlah gandrung sesuhunan seperti di wilayah lain, tetapi gandrung yang bisa dipentaskan pada acara-acara keagamaan atau acara lainnya yang bersifat hiburan. Namun dalam melaksanakan pementasan kami senantiasa memohon anugerah kepada Tuhan yang bermanifestasi sebagai Sang Hyang Taksu agar pementasan berjalan dengan baik,’’ paparnya.

Pada umumnya, Yudana memaparkan, dalam sebuah pementasan diawali dengan tabuh petegak. Tabuh petegak disajikan dengan mengungkapkan rasa keindahan melalui media suara gamelan berupa gamelan rindik gegandrangan yang terbuat dari bambu. Alunan tabuh ini diciptakan dengan memperhatikan pakem seni tanpa meninggalkan unsur bite, balance, harmony, ritme dan melody.

Teknik permainan dalam tabuh petegak ini didasarkan atas ketulusan hati, untuk mempersembahkan seni suara kehadapan Yang Maha Kuasa. Adapun tekniknya seperti oncan-oncangan, kekenyongan, netdet, noret, nerot dan kotekan.

Komposisi dari tabuh ini yaitu tanpa meninggalkan pakem Tri Angga Sarira, dimana komposisi Tabuh Petegak Saron diwujudkan berdasarkan pengawit yaitu kepala, pengawak yaitu badan, dan pengecet / pekaad yaitu kaki / ekor. Serta dilengkapi dengan peralihan-peralihan sebagai jembatan untuk menyambung lagu demi keutuhannya.

Adapun tujuan dari Tabuh Petegak berfungsi sebagai pengundang Taksu. Persembahan tabuh ini ditujukan kehadapan Tuhan yang bermanifestasi sebagai Sang Hyang Taksu. Di samping itu tabuh ini juga disajikan kepada para hadirin sebagai pengaksama atau ucapan selamat datang.

Selanjutnya dipentaskan Tari Pendet, Tari Jauk Keras, Tari Condong, Tari Legong Keraton, Gandrung Petak dan ditutup Tari Gandrung Bang. Gadrung artinya senang, mengasihi, rindu, tergila-gila akan asmara. Tari gandrung pada umumnya diciptakan untuk menghibur. Tujuannya mengajak masyarakat menari bersama untuk melepaskan beban serta menghibur diri dengan gerakan yang dinamis. (gs)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Jajaran Pemkab Tabanan Laksanakan “Bhakti Penganyar” di Pura Giri Salaka Alas Purwo

Published

on

By

Jajaran Pemkab Tabanan Gelar Persembahyangan Bhakti Penganyar di Pura Giri Salaka
BHAKTI PENGANYAR: Jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan melaksanakan persembahyangan Bhakti Penganyar di Pura Giri Salaka, Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (4/11). (Foto: ist)

Tabanan, baliilu.com – Jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan melaksanakan persembahyangan Bhakti Penganyar di Pura Giri Salaka, Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (4/11). Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Suci Pagerwesi ini diikuti oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Tabanan I Gede Susila beserta Ny. Santi Susila yang hadir mewakili Bupati Tabanan. Turut hadir Ketua DPRD Kabupaten Tabanan beserta istri dan anggota DPRD, para Asisten Sekda, para Camat, serta para Kepala Perangkat Daerah beserta staf di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan.

Persembahyangan Bhakti Penganyar berlangsung dengan khidmat sebagai wujud sradha dan bhakti umat ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui persembahyangan bersama, yang dilanjutkan dengan penyerahan punia sebagai bentuk ketulusan dan dukungan terhadap keberlangsungan kegiatan keagamaan di Pura Giri Salaka.

Momentum Hari Suci Pagerwesi yang dimaknai sebagai hari untuk memperkuat keteguhan pikiran dan spiritualitas menjadi pengingat bagi umat Hindu agar senantiasa membentengi diri dengan ilmu pengetahuan, nilai-nilai dharma, serta kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan. Melalui momentum suci ini, diharapkan mampu meningkatkan sraddha dan bhakti serta menjaga keseimbangan dalam kehidupan.

Pelaksanaan Bhakti Penganyar juga dimeriahkan dengan persembahan seni dan budaya Bali, yakni Tari Rejang Tridatu, Tari Dadong Rerod, serta tabuhan Sekaa Gong Wanita Kabupaten Tabanan. Persembahan tersebut menambah semarak sekaligus kekhidmatan suasana, serta menjadi wujud nyata pelestarian seni, adat, dan budaya Bali yang senantiasa berjalan selaras dengan kehidupan spiritual masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Tabanan berharap nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, dan sradha bhakti umat semakin kuat. Selain menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi keagamaan, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat rasa persatuan serta menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan sesuai dengan ajaran Tri Hita Karana. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Adi Arnawa Upasaksi “Karya Padudusan Agung” di Sigaran Mekar Bhuwana

Published

on

By

Bupati Adi Arnawa Munggah Kwangen di Bagia Pula Kerti Saat Padudusan Agung
MUNGGAH KWANGEN: Bupati Adi Arnawa “munggah kwangen” di Bagia Pula Kerti saat menghadiri sekaligus menjadi upasaksi pada Puncak Piodalan Pedudusan Agung di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Sigaran Mekar Bhuwana, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Senin (2/11). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menghadiri sekaligus menjadi upasaksi pada Puncak Piodalan Padudusan Agung serangkaian Karya Ngenteg Linggih, Mamungkah, Mupuk Pedagingan, Pedudusan Agung, Menawa Ratna, Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Sigaran Mekar Bhuwana, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Senin (2/11).

Karya yang dilaksanakan berdasarkan rangkaian upacara Tawur Balik Sumpah Utama tersebut dipuput oleh Ida Pedanda Gede Griya Cau Belayu, Ida Pedanda Gede Gria Dalem Sibanggede, dan Ida Pedanda Ulun Uma. Sebagai wujud nyata dukungan Pemerintah Kabupaten Badung terhadap pelestarian adat dan budaya Bali, Bupati Adi Arnawa menyerahkan bantuan dana sebesar Rp 3,5 miliar kepada Bendesa Adat Sigaran.

Bupati Adi Arnawa juga melaksanakan persembahyangan bersama krama pengempon serta melakukan prosesi munggah kwangen di Bagia Pula Kerti. Dalam sambramanya, Bupati mengapresiasi karya yadnya ini sebagai wujud nyata sradha dan bhakti masyarakat.

“Pemerintah Kabupaten Badung senantiasa berkomitmen untuk mendukung pelestarian adat, agama, seni, dan budaya Bali. Pelaksanaan karya yadnya seperti ini merupakan wujud nyata sradha dan bhakti masyarakat sekaligus bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga warisan leluhur agar tetap ajeg dan lestari,” ujarnya.

Ia menegaskan, tradisi lokal merupakan fondasi penting pariwisata karena sudah menjadi kewajiban bersama untuk menjaga, merawat, dan mewariskan adat serta budaya Bali kepada generasi penerus. “Jangan sampai perkembangan zaman membuat kita melupakan akar budaya dan tradisi yang menjadi jati diri masyarakat Bali,” tegasnya.

Sementara itu, Manggala Karya Wayan Suja menyampaikan bahwa rangkaian karya telah dimulai sejak 27 Agustus 2026 dan akan berlangsung hingga 16 Desember 2026 mendatang. Tahapan upacara yang dilaksanakan meliputi Atur Piuning, Dharma Wacana, Nyukat Genah, Melaspas, Nyengker Setra, Netegan Nyangling, Mendak Tirta, hingga Yasa Kerti. Disebutkan pula bahwa pengempon pura berjumlah 109 paon, yang mencakup 430 kepala keluarga (KK) atau 2.425 jiwa.

Turut hadir Anggota DPRD Badung Nyoman Wiradana, Plt. Camat Abiansemal Wayan Bagiarta Gunawan, unsur Tripika, Perbekel Desa Mekar Bhuwana, serta Bendesa Adat Mekar Bhuwana. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Pemkot Denpasar Gelar Persembahyangan Bersama Rahina Saraswati di Pura Agung Jagatnatha

Published

on

By

Persembahyangan Rahina Saraswati di Pura Agung Jagatnatha
PERSEMBAHYANGAN SARASWATI: Suasana persembahyangan yang diikuti oleh Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, Pangdam IX Udayana, Mayjen TNI Putra Widiastawa, dan masyarakat Kota Denpasar serangkaian Rahina Saraswati, Saniscara Umanis Wuku Watugunung, di Pura Agung Jagatnatha, Sabtu (31/10). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Pemerintah Kota Denpasar melaksanakan persembahyangan bersama serangkaian Hari Suci Saraswati di Pura Agung Jagatnatha Kota Denpasar, pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung, Sabtu (31/10).

Persembahyangan tersebut merupakan wujud sradha bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati, Dewi Ilmu Pengetahuan.

Hadir langsung pada momentum tersebut, Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, bersama pimpinan OPD di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar. Tampak hadir pula Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Putra Widiastawa, dan Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya.

Usai persembahyangan, Sekda Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya mengatakan, Hari Suci Saraswati dimaknai sebagai turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia. Pada hari ini umat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati yang diidentikkan sebagai dewi pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Dewi Saraswati diyakini sebagai sakti dari Dewa Brahma, Dewa Pencipta dalam mitologi Hindu.

“Hari Saraswati menjadi hari yang penting bagi siswa sekolah dan penggelut dunia pendidikan, karena ilmu pengetahuan merupakan bekal dalam kehidupan manusia yang dapat menuntun ke arah kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan peningkatan keberadaban,” ujarnya.

Pada Rahina Saraswati, umat Hindu melaksanakan persembahyangan dan persembahan kepada Dewi Saraswati di pura, sekolah, dan rumah masing-masing. Selain itu, umat juga menghaturkan banten Saraswati pada pustaka, lontar, kitab, dan buku-buku.

“Kami menghaturkan terima kasih kepada masyarakat Kota Denpasar termasuk siswa-siswi dan mahasiswa yang sudah hadir pada perayaan Hari Suci Saraswati di Kota Denpasar ini. Perayaan ini telah digelar secara rutin, mudah-mudahan melalui persembahyangan ini semua umat diberikan pengetahuan dan kecerdasan dalam menjalankan swadharma masing-masing,” ujar Sekda Eddy Mulya.

Sementara itu, Kabag Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Denpasar, Putu Agus Jayadi mengatakan, rangkaian persembahyangan Hari Suci Saraswati di Kota Denpasar dipusatkan di Pura Agung Jagatnatha. Adapun rangkaian persembahyangan dilaksanakan dari pagi hingga malam hari.

“Persembahyangan Rahina Saraswati hari ini akan dilaksanakan dari pagi sampai dengan malam hari. Untuk pemedek yang akan tangkil, dapat melaksanakan dengan tertib dan khusyuk,” katanya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca