Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Dari Capacity Building Media BI: Digitalisasi, Perkuat Kebijakan Pengelolaan Uang Rupiah

BALIILU Tayang

:

de
Capacity Building Media yang menghadirkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho (nomor dua dari kiri), Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali GA Diah Utari (paling kiri), Kepala Divisi Implementasi Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah dan Manajemen Intern Agus Sistyo Widjajati (paling kanan) dan Rizki W Wimanda. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali kembali menggelar Capacity Building Media. Kali ini mengangkat tema ‘’Digitalisasi Pengelolaan Uang Rupiah’’ yang dilaksanakan di Big Garden Corner Jalan By Pass Ngurah Rai Denpasar, Kamis, 21 April 2022.

Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali GA Diah Utari, Kepala Divisi Implementasi Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah dan Manajemen Intern Agus Sistyo Widjajati serta Rizki W Wimanda yang sebentar lagi bertugas di Surabaya.

Agus Sistyo Widjajati sebagai pembicara menyampaikan ada tiga pilar Bank Indonesia melakukan digitalisasi pengelolaan uang Rupiah. Pertama digitalisasi cetak uang, digitalisasi di dalam melakukan pengedaran, pendistribusian, dan ketiga adalah digitalisasi pemusnahan terhadap uang rupiah yang sudah expired dan lusuh.

Agus menyebut tujuan digitalisasi pengelolaan uang Rupiah oleh Bank Indonesia baik mencetak, mengedarkan sampai memusnahkan karena ingin uang yang beredar di masyarakat punya masa edar yang cukup lama. ‘’Jadi kita ingin menjaga kualitas uang yang beredar di masyarakat,’’ ujar Agus.

Selain itu, tujuannya untuk menjaga uang tidak mudah dipalsukan, dengan melalui digitalisasi di percetakan. Digitalisasi pendistribusian untuk efisiensi karena amanah undang-undang mengatakan Bank Indonesia wajib menyediakan uang dalam jumlah dan pecahan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Bagaimana kebutuhan uang itu bisa disediakan dalam jumlah yang cepat sehingga ada proses digitalisasi peredaran atau distribusi. Juga untuk pemenuhan masyarakat berbasis spasial sesuai dengan pecahan yang ditunjukkan.

Agus memaparkan ada frame work policy untuk mendigitalisasi pencetakan mata uang dan pendistribusiannya. Adapun tahapan Bank Indonesia di dalam melakukan pencetakan uang diawali perencanaan. Mulai semester kedua setiap tahun sudah mulai menghitung berapa jumlah uang yang harus dicetak. Ini melibatkan dua pihak, Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan.

Baca Juga  Johnny G Plate Buka DTE, Gambarkan Berbagai Aspek Digitalisasi dengan Rasa yang Unik

‘’Digitalisasinya, kita akan estimasi kebutuhan uang. Berapa triliun dicetak, kalau manual proyeksinya seperti apa. Faktor apa yang harus dimasukkan di dalam perhitungan, pertumbuhan ekonomi dan lain lain akan dimasukkan secara digital sehingga akan muncul jumlah berapa uang yang harus dicetak,’’ paparnya.

Kemudian membuat perencanaan Currency Design e-Catalogue. Mulai membuat jenis dan mata uang, karena masa edar uang itu ada batasnya. Setiap beberapa waktu Bank Indonesia akan mengeluarkan disain baru. Supaya tidak mengulang, belajar dari disain sebelumnya maka setiap jenis dan mata uang yang dicetak dibuatkan Currency Design e-Catalogue. Langkah pencetakan membutuhkan persetujuan antara Bank Indonesia, Pemerintah dan juga Peruri.

‘’Di dalam percetakan pun, kita akan melakukan digitalisasi dalam rangka untuk meningkatkan pengamanan uang itu sendiri. Jadi bagaimana kita mencetak uang bagaimana keamanananya ada di uang itu harus semakin hari semakin kita kembangkan. Salah satunya ada terkait dengan optical banknote inspection system. Kalau mencetak uang, pasti ada kemungkinan hasil cetak itu rusak. Jadi kalau kita lihat di pabrik Peruri, secara manual lihat cacat atau tidak,’’ bebernya.

Sekarang ini memang masih dilakukan secara manual, namun Agus menyebut ke depan untuk efisiensi proses manual tersebut dengan teknologi optical banknote inspection system. Lewat robot dicek cacat atau tidak. Kalau lolos layak lanjut diedarkan.

Setelah dicetak oleh Peruri, uang diserahkan ke Bank Indonesia yang kemudian dimasukkan ke dalam gudang dengan aplikasi central racking system. Setiap hari uang yang jumlahnya 4 triliunan di BI Bali dihitung pagi dan sore secara digitalisasi yang membutuhkan 1,5 jam untuk sekali hitung. Aplikasi central packing system juga untuk tujuan berkomunikasi dengan bank secara digital menginformasikan antara bank dengan Bank Indonesia.

Baca Juga  Pantau Pelayanan Masyarakat di GSD, Sekda Alit Wiradana Ingatkan ASN Terus Tingkatkan Kompetensi di Era Digital

Terkait uang tidak mudah dipalsukan, uang rupiah menggunakan bahan durable paper seperti plastik dua sisi yang ditempel menjadi satu. Bahkan untuk desain uang rupiah 75 ribu menggunakan dua teknik yang tidak ada di uang pecahan lainnya. Yakni dengan pengamanan micro lens seperti benang pengaman yang bisa gerak-gerak dan dengan optically variable magnetic ink spark, seperti bunga yang ada di pojok kiri. Juga mengadoptsi tinta vernis supaya mengkilat.

‘’Disain dengan pengamanan itu membawa UPK 75 RI menjadi finalis best commemorative currency award 2022 karena menggunakan teknik yang berbeda dari pencetakan yang ada di dunia,’’ ujar Agus.

Agus menyampaikan dari tiga pilar pengelolaan uang rupiah, Bank Indonesia melakukan digitalisasi dalam mencintai rupiah dengan melakukan sosialisasi dengan cara bermain dengan aplikasi AR Rupiah berbais augmented reality yang seperti metaverse. Kita masuk seperti ada di dalam uang tersebut.

Bank Indonesia juga menggunakan aplikasi Pintar atau Penukaran dan Tarik Uang Rupiah. Dimana langsung menyediakan uang dalam bentuk yang layak edar dan baru.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho dalam sambutannya menyampaikan atas nama Bank Indonesia mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi rekan-rekan media yang selalu membantu melakukan komunikasi kepada masyarakat.

Trisno Nugroho berharap acara Capacity Building Media ini bisa menambah kompetensi dan tidak salah memahami terkait dengan peran dan tugas Bank Indonesia yang terus baru. Baik masalah program dan layanan seperti aplikasi QRIS, AR Rupiah atau cinta bangga paham rupiah, dan aplikasi Pintar termasuk digitalisasi pengelolaan uang rupiah. Kebijakan Bank Indonesia dalam memperkuat pengelolaan uang sudah direalisasikan dari tahap perencanaan hingga pemusnahan. (gs/bi)

Baca Juga  Dukung KTT G20, Wakil Gubernur Bali Buka “Official IOH 5G ”

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

EKONOMI & BISNIS

Bali Jagadhita Investment Forum 2026 Hadirkan 22 Proyek Strategis Bali-Nusra kepada 35 Investor

Published

on

By

kinerja investasi bali
BJIF: Bank Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali dalam Pusat Investasi Kerthi Bali Sadhana (PIKBS) berkomitmen mendorong resiliensi dan peningkatan kualitas investasi guna mencapai Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui penyelenggaraan Bali Jagadhita Investment Forum 2026. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Kinerja investasi Bali terus menguat di tengah ketidakpastian global. Investasi Bali tumbuh 6,78% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,47% (yoy), dengan kontribusi mencapai 28% terhadap perekonomian daerah. Sepanjang 2025, realisasi investasi PMA dan PMDN tercatat sebesar Rp 42,82 triliun serta menyerap lebih dari 68 ribu tenaga kerja, menegaskan peran investasi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Bali.

Di balik capaian tersebut, Bali masih menghadapi tantangan pemerataan dan kualitas investasi. Sebanyak 88% realisasi investasi masih terkonsentrasi di wilayah Bali Selatan, sementara 97% investasi didominasi sektor tersier. Kondisi ini mendorong perlunya penguatan investasi yang lebih inklusif, merata, dan terdiversifikasi antarwilayah maupun sektor ekonomi.

Bank Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali dalam Pusat Investasi Kerthi Bali Sadhana (PIKBS) berkomitmen mendorong resiliensi dan peningkatan kualitas investasi guna mencapai Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui penyelenggaraan Bali Jagadhita Investment Forum 2026.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani menyampaikan bahwa Bali Jagadhita Investment Forum 2026 merupakan forum promosi investasi proyek potensial yang ready to offer (IPRO) dari Bali-Nusra yang mencakup berbagai sektor yaitu infrastruktur, hilirisasi, pariwisata, perdagangan, dan sektor unggulan lainnya. Menurut Achris, pendekatan kawasan Bali-Nusra dilakukan untuk memperkuat konektivitas ekonomi regional dan menciptakan peluang investasi yang saling melengkapi antarwilayah.

Rangkaian kegiatan Bali Jagadhita Investment Forum 2026 terdiri dari showcasing proyek unggulan se-Bali, serta Nusa Tenggara sebagai kawasan yang terintegrasi, one on one business meeting antara project owner dan calon investor, serta site visit ke KEK Kesehatan pertama di Indonesia, yaitu KEK Sanur Bali.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Adakan Pelatihan Program Goverment Transformation Academy

Di hadapan para investor global saat membuka Bali Jagadhita Investment Forum 2026, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Bali, Ketut Sukra Negara menyebutkan bahwa Bali memiliki berbagai proyek unggulan yang sangat terbuka bagi investor. Investasi di Bali didukung sejumlah insentif oleh Pemerintah dan Bali memiliki keunggulan sebagi destinasi yang telah dikenal secara global. Sukra turut mengajak investor domestik dan global yang hadir untuk berinvestasi di Bali. Sukra juga berharap terselenggaranya Bali Jagadhita Investment Forum 2026 dapat menjadi katalis investasi berkualitas di Bali.

Berbagai proyek investasi unggulan yang dipromosikan pada showcasing dan presentasi Bali Jagadhita Investment Forum, merupakan hasil kurasi Bali Investment Challenge 2026. Pendalaman lebih lanjut terkait proyek dilakukan melalui sesi one on one business meeting antara project owner dan calon investor, dimana sesi one on one meeting diikuti lebih dari 35 calon investor dari berbagai negara, termasuk hadir pula Duta Besar Bulgaria, Duta Besar Kerajaan Bahrain, Duta Besar Kesultanan Oman, Duta Besar Republik Armenia, Duta Besar Republik Islam Pakistan, Duta Besar Rumania, serta perwakilan konsulat dan atase perdagangan dari berbagai negara sahabat.

Program ini merupakan wujud kolaborasi PIKBS dalam menghasilkan 22 proyek investasi potensial dari Bali, NTB, dan NTT. Beberapa proyek tersebut diantaranya KEK Kesehatan Sanur, proyek penerangan jalan, dan proyek pengadaan electric vehicle yang kemudian disusun dalam Katalog Investasi, dan selanjutnya diserahkan oleh PIKBS kepada perwakilan duta besar dan perwakilan delegasi yang hadir. Melalui publikasi Katalog Investasi ini diharapkan mampu mempermudah perluasan informasi dan promosi proyek investasi strategis kepada investor potensial yang selanjutnya diharapkan dapat mendukung peningkatan realisasi investasi.

Baca Juga  Lansia Desa Penglatan Dapatkan Edukasi Era Digital Lewat Sosialisasi “Boomer Berkarya”

Bank Indonesia memprakirakan outlook perekonomian Bali 2026 tetap solid di tengah gejolak geopolitik global, yakni pada kisaran 5,4-5,9% (yoy). Dengan outlook ekonomi yang tetap kuat, terjaganya inflasi, tetap solidnya optimisme pelaku usaha, dukungan insentif oleh pemerintah, serta daya saing daerah Bali yang sangat baik tentunya semakin membuka peluang untuk peningkatan investasi di Bali.

Melalui Bali Jagadhita Investment Forum 2026, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen memperluas akses investor terhadap proyek-proyek strategis daerah, mendorong pemerataan investasi antarwilayah, serta memperkuat transformasi ekonomi Bali menuju pertumbuhan yang lebih inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Inflasi Provinsi Bali Mei 2026: TPID Bali Bersinergi Menjaga Stabilitas Harga di Tengah Tensi Geopolitik Global

Published

on

By

inflasi bali
Infografis inflasi Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 2 Juni 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,42% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan April sebesar 0,01% (mtm), dan lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional bulan Mei sebesar 0,28% (mtm). Inflasi bulanan meningkat terutama didorong oleh kenaikan harga BBM dan LPG nonsubsidi, serta tekanan harga komoditas global yang turut memengaruhi dinamika pergerakan inflasi secara bulanan.

Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 2,08% (yoy) pada April 2026 menjadi 2,99% (yoy). Meskipun inflasi meningkat, level inflasi masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Secara spasial, 4 (empat) Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Mei 2026 yakni Kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,54% (mtm) atau 2,78% (yoy).

Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,50% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,19% (yoy), diikuti Singaraja dengan inflasi bulanan sebesar 0,37% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,17% (yoy), dan selanjutnya Kabupaten Badung yang juga mengalami inflasi bulanan sebesar 0,25% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,64% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Mei 2026 bersumber dari kenaikan harga beras, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, cabai merah, dan angkutan udara. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga canang sari, tomat, bawang merah, jeruk, dan bawang putih. Inflasi yang terjaga mendukung daya beli masyarakat di tengah konflik geopolitik global. Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%.

Baca Juga  Dukung KTT G20, Wakil Gubernur Bali Buka “Official IOH 5G ”

Ke depan, sebut Achris Sarwani, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode HBKN Galungan-Kuningan serta periode high season wisatawan nusantara (libur sekolah), ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau disertai potensi El Nino berupa gangguan cuaca dan risiko kekeringan pada beberapa sentra produksi pangan yang mempengaruhi produksi pertanian, serta berlanjutnya ketidakpastian global berpotensi pada kenaikan lanjutan harga bensin dan bahan bakar rumah tangga. Per 1 Juni 2026, terdapat kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali senantiasa bersinergi dan berinovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K. Adapun strategi tersebut diantaranya intensifikasi operasi pasar murah dan pemantauan harga secara berkala, termasuk monitoring dan sidak pasokan LPG bersubsidi, fasilitasi distribusi pangan serta optimalisasi kerjasama antar daerah oleh Perumda pangan, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah kepada masyarakat di kab/kota. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, inflasi tahun 2026 diprakirakan terjaga dalam sasaran 2,5%±1%. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Libur HBKN dan Perayaan Festival Daerah Dorong Penjualan Ritel Bali

Published

on

By

IPR Bali
Infografis indek penjualan riil. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Optimisme penjualan eceran di Provinsi Bali pada bulan April 2026 masih tumbuh secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 125,6 atau secara tahunan tumbuh 6,5% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). IPR Bali secara bulanan turut meningkat sebesar 1,0% (mtm) didukung dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, diantaranya seperti kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) di Kabupaten Gianyar dan Klungkung. Agenda tersebut meliputi pameran-pameran yang mendorong konsumsi pada sub sektor Barang Budaya dan Rekreasi (mainan anak-anak, kertas, karton, alat tulis, alat olahraga, dan alat musik). Belanja masyarakat masih relatif kuat yang didorong libur panjang momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung yang diprakirakan meningkatkan penjualan eceran, khususnya pada kelompok kebutuhan rekreasi, gaya hidup, elektronik, serta produk rumah tangga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Berdasarkan komponennya, dari 7 komponen pembentuknya, pertumbuhan bulanan tertinggi ada pada kategori Suku Cadang dan Aksesori dengan peningkatan sebesar 3,9% (mtm); Barang Budaya dan Rekreasi dengan peningkatan sebesar 3,3% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dengan peningkatan sebesar 2,6% (mtm); Makanan, Minuman dan Tembakau dengan peningkatan sebesar 1,4% (mtm); Sandang dengan peningkatan sebesar 0,3% (mtm); Barang Lainnya (farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan barang kimia untuk rumah tangga) dengan peningkatan sebesar 0,2% (mtm); serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya dengan peningkatan sebesar 0,1% (mtm). Tingkat konsumsi April 2026 masih tumbuh terkendali berdasarkan inflasi tahunan pada bulan April 2026 sebesar 2,08% (yoy) dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Dari sisi pembiayaan, aktivitas perdagangan juga masih didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) yang hingga Maret 2026 tercatatat tumbuh positif sebesar 1,09% (yoy).

Baca Juga  IETPD Kota Denpasar Tembus 3 Besar Nasional, Wawali Arya Wibawa: Momentum Perluasan Digitalisasi, Optimalisasi Pendapatan Daerah

Meskipun demikian, prospek positif penjualan ritel di Bali diprakirakan melandai berdasarkan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP menggambarkan keyakinan pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah. Para responden memprakirakan penjualan dalam 3 bulan yang tercermin dari IEP Juni 2026 sebesar 170,0, lebih rendah dari IEP Mei 2026 sebesar 174,0. Prakiraan penjualan dalam 6 bulan ke depan, tepatnya pada September 2026 sebesar 184, lebih rendah dibandingkan IEP Agustus 2026 sebesar 194. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100). Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan di bulan April 2026.

Lebih lanjut, Pemerintah melanjutkan kebijakan subsidi BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk mendukung pertumbuhan perekonomian. Lebih lanjut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus bersinergi dan berupaya mengimplementasikan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) agar inflasi terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca