Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Ribuan ”Pinandita” Lakukan Doa Bersama untuk Kesuksesan KTT G20

BALIILU Tayang

:

G20
Pemuka agama Hindu mengikuti kegiatan doa bersama jelang penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (26/10/2022). (Foto : Ist)

Nusa Dua, Badung, baliilu.com – Ribuan Pinandita atau rohaniwan Hindu dari berbagai penjuru Provinsi Bali berkumpul melakukan doa bersama untuk pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang akan diselenggarakan di Bali pada 15-16 November 2022.

Mereka berdiri dengan tangan kiri memegang serta membunyikan genta bersamaan, di Peninsula kawasan ITDC, Nusa Dua, Bali. Suara genta yang menggaung, mengiringi Ida Sri Bhagawan Natha Nawa Wangsa Pemayun memanjatkan mantra doa puja dan puji Genta Pinara Pitu G20, Rabu (26/10/2022) malam.

“Damai lan kewecikan mangde ngiringin Paruman Agung G20, Sinar suci sinar padang memahayu rahayu buana santi jagat dhita

Salah satu bait doa harapan yang diucapkan Ida Sri Bhagawan Natha, malam itu. Damai dan kebaikan serta sinar suci terang mengiringi perhelatan besar G20 untuk dunia.

Selain sebanyak 1.200 orang Pinandita, pada acara itu hadir juga puluhan pemimpin agama Islam, Budha, Katolik, Kristen, serta 1.493 orang bendesa adat melalui luring di masing-masing desa bersama Pemangku Pura Puseh lan Desa. Tamu-tamu undangan yang hadir turut larut dalam doa.

“Seribu ini tersebar, tidak terpusat karena di masing-masing daerah itu kan ada piodalan jadi tidak semua harus ke sana,” ujar Ketua PHDI Provinsi Bali I Nyoman Kenak.

Perhelatan KTT G20 memang tinggal menghitung hari. Semua persiapan sudah dan sedang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dari berbagai sisi. Berbagai pihak juga terus memberikan dukungan demi suksesnya perhelatan internasional tersebut.

Salah satu komponen masyarakat yang turut mendukung suksesnya KTT G20 ini adalah Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali. Tentu dukungan mereka dipersembahkan dalam bentuk doa.

Baca Juga  Kakanwil Kemenkumham Bali bersama Kepala Biro Kepegawaian Gelar Meeting Kesiapan Petugas Imigrasi

Ketua Paruman Welaka PHDI Bali Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana menjelaskan, segala hal positif melalui doa, salah satunya dilakukan secara bersama atau kelompok dengan jumlah besar. Dengan kebersamaan, lanjutnya, narasi doa yang dipanjatkan akan semakin bagus.

Para pinandita saat mengumandangkan doa bersama jelang penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (26/10/2022). (Foto : Ist)

Doa Puja Genta Pinara Pitu, menurut Sudiana, merupakan upaya niskala yang dipersembahkan sebagai wujud partisipasi tokoh umat beragama melalui mantra Bali, untuk KTT G20.

“Doa bersama ini sudah biasa dilakukan, khususnya dalam tradisi umat Hindu Bali. Perbedaannya dalam sarana upacaranya saja. Antara doa bersama seluruh agama dengan doa bersama yang diberlakukan untuk umat Hindu Bali,” katanya.

Genta merupakan alat semacam lonceng kecil yang biasa dipergunakan Pemangku Hindu Bali, dibunyikan sebagai pengiring mantra ketika memimpin suatu upacara. Genta Pinara Pitu, menurut berbagai sumber, merupakan nada-nada Brahman yang dibunyikan sehingga yang menyebar adalah vibrasi kebaikan. Harapannya, gemanya mampu memberi vibrasi segala kebaikan kepada seluruh delegasi G20 serta umat dunia.

Sebagai Perantara Umat

Keterlibatan ribuan Pinandita dalam doa bersama ini menjadi hal yang menarik. Di Bali, khususnya bagi para pemeluk Hindu, Pinandita dipandang sebagai rohaniwan. Namun, rohaniwan Hindu, bukan hanya Pinandita. Ada juga Pandita. Kendati sama-sama berperan sebagai rohaniwan, ada perbedaan yang signifikan di antara keduanya.

Kata Pandita berasal dari bahasa Sansekerta, yang bisa diterjemahkan menjadi pendeta atau Brahmana. Akar kata Pandita adalah ‘Pand’, yang artinya ‘mengetahui’. Itulah sebabnya, Pandita disandangkan kepada seseorang yang berpengetahuan dan berkemampuan ihwal ilmu pengetahuan suci Veda dan bersifat arif bijaksana.

Sedangkan, Pinandita berasal dari kata dasar Pandita dan mendapat sisipan ‘in’, yang memiliki artinya ‘di’. Pinandita dapat dimaknai sebagai seseorang yang dianggap sebagai wakil Pandita. Sebagaimana dikutip dari mutiarahindu.com, secara hierarki, Pinandita berada di bawah Pandita. Walau begitu, keduanya sangat penting dalam kehidupan beragama umat Hindu.

Baca Juga  Provinsi Bali Jadi yang Teratas Dalam Indeks Keterbukaan Informasi Publik secara Nasional

Sejak 1968, PHDI menetapkan tugas Pinandita sebagai pembantu yang mewakili Pandita atau Pendeta. Meski demikian, Pinandita dalam sebuah upacara berfungsi sebagai perantara umat yang bekerja dengan Ida Sang Hyang Widhi atau Leluhur.

Sesuai keputusan tersebut, maka dalam hal beribadah, Pinandita juga bertugas untuk melaksanakan upacara dalam agama Hindu. Hanya, upacara yang mereka pimpin skalanya relatif kecil. Dalam upacara, mereka juga tidak diperkenankan menggunakan alat pemujaan, seperti halnya yang dipakai Pandita atau Sulinggih. Pinandita juga dilarang menggunakan Mudra.

Dalam kesehariannya, Pinandita juga terikat dengan kode etik yang disebut dengan sasana. Ini adalah segala aturan-aturan atau tata tertib yang berhubungan dengan ‘kawikon’ (aturan-aturan kehidupan yang wajib dilaksanakan oleh seorang Pinandita). (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Rangkaian Mepeed dan Persembahyangan Bersama, Bupati Sanjaya Perkuat Kebersamaan Jajaran Pemkab Tabanan

Published

on

By

Sanjaya Ikuti Mepeed Pujawali Tri Kahyangan Tabanan
MEPEED: Nuansa kebersamaan dan keharmonisan mewarnai rangkaian Upacara Pujawali ring Tri Kahyangan Desa Adat Kota Tabanan, saat jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan dipimpin Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya mengikuti Mepeed dan persembahyangan bersama, Kamis (17/9). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Nuansa kebersamaan dan keharmonisan mewarnai rangkaian Upacara Pujawali ring Tri Kahyangan Desa Adat Kota Tabanan, saat jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan dipimpin Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya mengikuti Mepeed dan persembahyangan bersama, Kamis (17/9). Kegiatan berlangsung di Pura Puseh Desa Bale Agung Desa Adat Kota Tabanan dan dilanjutkan ke Pura Dalem Prajapati Desa Adat Kota Tabanan.

Tradisi Mepeed yang diikuti jajaran Pemkab Tabanan dan juga ratusan pegawai yang berjalan bersama dalam satu rangkaian menuju tempat persembahyangan tersebut, tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian upacara, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan dalam menjaga hubungan sosial serta nilai-nilai adat dan budaya di tengah masyarakat. Kehadiran bersama dalam rangkaian tersebut mencerminkan semangat gotong-royong sekaligus penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sanjaya bersama Wakil Bupati Tabanan beserta istri, Sekda Tabanan beserta istri, Asisten III, para kepala perangkat daerah dan kepala bagian di lingkungan Pemkab Tabanan, Camat Tabanan, Perbekel Delod Peken, Bendesa Adat Kota Tabanan, serta para pegawai mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan tertib dan khidmat.

Persembahyangan bersama yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali tersebut menjadi momentum bagi jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk memanjatkan doa bersama. Bupati Sanjaya menyampaikan bahwa kehadiran dalam rangkaian pujawali merupakan bagian dari upaya menjaga kebersamaan sekaligus memohon kerahayuan bagi seluruh masyarakat.

“Tujuan kami ngaturang ayah di pemerintah daerah ini adalah bagaimana kita bisa memupuk rasa persatuan dan kesatuan sesuai dengan visi dan misi yang sudah dicanangkan oleh bapak gubernur dan juga Pemkab Tabanan, aktualisasi dari visi misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, kita ajak pemerintah bersama jajaran ngayah, mepeed, nari rejang, menggambel di sini, kita ikut peran serta sehingga terjalin kebersamaan bagaimana kita kompak antara Pemerintah Kabupaten Tabanan dan desa adat sejebag Kabupaten Tabanan, rahayu,” ungkapnya.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Hadiri Prosesi “Nganyarin” oleh Pemkab Bangli di Pura Mandhara Giri Semeru Agung

Mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan khidmat, Bupati Sanjaya dan jajaran kemudian melanjutkan persembahyangan dari Pura Puseh Desa Bale Agung menuju Pura Dalem Prajapati Desa Adat Kota Tabanan. Rangkaian tersebut berlangsung penuh kekhusyukan sebagai wujud shrada bhakti sekaligus doa bersama untuk kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat Tabanan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara “Ngayah Nyangging” Serangkaian Karya di Pura Dalem Penataran Sari Banjar Pekandelan

Published

on

By

Walikota Jaya Negara Ngayah Nyangging di Pura Penataran Sari
NGAYAH NYANGGING: Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, saat ngayah nyangging serangkaian Karya Mamungkah Ngenteg Linggih di Pura Dalem Penataran Sari, Banjar Pekandelan, Desa Adat Denpasar, Kamis (17/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, melaksanakan ngayah nyangging serangkaian Karya Mamungkah Ngenteg Linggih di Pura Dalem Penataran Sari, Banjar Pekandelan, Desa Adat Denpasar, Kamis (17/9).

Kegiatan ngayah tersebut merupakan bentuk partisipasi dan kepedulian Walikota Denpasar dalam mendukung pelaksanaan kegiatan keagamaan dan adat di tengah masyarakat. Kehadiran Walikota juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara pemerintah dengan krama adat serta masyarakat Kota Denpasar.

Serangkaian karya di Pura Dalem Penataran Sari tersebut turut dirangkaikan dengan pelaksanaan upacara metatah yang diikuti 45 orang dan menek kelih diikuti 5 orang. Prawartaka Karya, I Wayan Arya, menyampaikan bahwa rangkaian karya dilaksanakan dengan semangat kebersamaan dan gotong-royong seluruh krama. Pelaksanaan metatah dan menek kelih yang dirangkaikan dalam karya tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga serta melestarikan adat dan tradisi Bali.

Walikota IGN Jaya Negara menyampaikan bahwa pelaksanaan karya keagamaan dan adat merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi, budaya, serta nilai-nilai kebersamaan masyarakat Bali.

“Melalui pelaksanaan karya seperti ini, kita tidak hanya menjalankan kewajiban keagamaan, tetapi juga menjaga adat, tradisi dan budaya Bali agar tetap lestari serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Jaya Negara.

Ia juga mengapresiasi semangat krama Banjar Pekandelan dan Desa Adat Denpasar yang secara bersama-sama menyukseskan rangkaian karya, termasuk pelaksanaan metatah massal dan menek kelih.

“Kebersamaan dan gotong-royong seperti ini menjadi kekuatan dalam menjaga adat dan budaya Bali. Semoga seluruh rangkaian karya berjalan lancar dan memberikan kerahayuan bagi seluruh krama,” tambahnya.

Pelaksanaan karya berlangsung dengan khidmat dan penuh kebersamaan, dengan melibatkan krama serta masyarakat dalam berbagai rangkaian kegiatan upacara. (eka/bi)

Baca Juga  Wagub Cok Ace Hadiri Prosesi “Nganyarin” oleh Pemkab Bangli di Pura Mandhara Giri Semeru Agung

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Adi Arnawa dan Ketua DPRD Badung “Ngupasaksi Karya Utama” di Pura Dalem Kahyangan Tuban

Published

on

By

Bupati Adi Arnawa Tanda Tangani Prasasti Karya Pura Tuban
TANDA TANGAN PRASASTI: Bupati Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung Gusti Anom Gumanti menandatangani prasasti karya saat menghadiri sekaligus ngupasaksi upacara Melaspas di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Kamis (17/9). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menghadiri sekaligus ngupasaksi upacara Melaspas, Nyusun Pedagingan, Mecaru Manca Rupa, dan Rsi Gana di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Kamis (17/9). Upacara ini merupakan rangkaian dari Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Manawa Ratna, Tawur Balik Sumpah Utama yang puncak karyanya dipimpin Yadnyamana Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijayananda pada 26 September 2026.

Dalam prosesi tersebut, Bupati Adi Arnawa naik ke Padmasana setinggi 12 meter untuk ngunggahang kwangen, menandatangani prasasti pura. Bupati mendoakan agar karya berjalan sida sidaning don labda karya dan sida paripurna demi kerahayuan jagat Badung dan Bali, serta berharap krama Tuban tetap menjaga persatuan dengan semangat sagilik saguluk, salunglung sabayantaka.

“Kebersamaan ini penting untuk menjaga Desa Adat Tuban yang menjadi gerbang pertama pariwisata Bali melalui jalur udara. Melarapan subakti, kita memohon kelancaran dalam menata Badung menjadi lebih nyaman dan berdoa agar PAD meningkat sehingga semakin banyak program pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Adi Arnawa.

Pemkab Badung menegaskan komitmen melakukan penataan akses menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai guna mengurangi kemacetan.

Sementara itu, Bendesa Adat Tuban, I Wayan Mendra, mengungkapkan bahwa pemugaran Pura Dalem Kahyangan didanai melalui hibah Pemkab Badung TA 2025 sebesar Rp 15,9 miliar pada APBD induk. Namun, karena dana tersebut hanya untuk fisik bangunan pura, kas desa adat harus mengeluarkan biaya mandiri hingga hampir Rp 9 miliar, sehingga total pembangunan diperkirakan mencapai Rp 25 miliar.

Prosesi upacara sendiri telah dimulai sejak 1 Agustus 2026 yang diawali dengan Pemarisuda Bumi, Pecaruan, hingga Melaspas Tetaring. Rangkaian akan memuncak pada Purnamaning Kapat, Sabtu Umanis Bala, 26 September 2026, dilanjutkan penganyaran selama empat hari, dan prosesi sineb pada 30 Oktober 2026 yang ditutup ritual Nyegara Gunung.

Mendra menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas hibah besar dari Pemkab Badung, meski ia berharap dukungan ke depan terus ditingkatkan karena kebutuhan belum sepenuhnya tercukupi. Ia juga berharap pemerintah daerah serta PT. Angkasa Pura Indonesia memberikan perhatian lebih pada Desa Adat Tuban sebagai beranda depan dan belakang Bali.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Hadiri Prosesi “Nganyarin” oleh Pemkab Bangli di Pura Mandhara Giri Semeru Agung

Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah Anggota DPRD Badung Dapil Kuta seperti I Nyoman Graha Wicaksana, I Nyoman Sudana, I Wayan Puspa Negara, dan I Made Sada. Hadir pula Camat Kuta I Made Agus Suantara, Majelis Desa Adat, Lurah Tuban, unsur TNI-Polri, manajemen PT Angkasa Pura Indonesia, BBMKG Wilayah III, serta jajaran Jasa Marga Bali Tol. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca