Saturday, 13 July 2024
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Arja Klasik “Panca Yowana Kanti” Duta Denpasar Kisahkan Kerajaan Daha di PKB XLVI

BALIILU Tayang

:

Arja Klasik duta denpasar
DUTA DENPASAR: Arja Klasik "Panca Yowana Kanti" dari Penyatusan Abian Kapas-Ketapian, Kelurahan Sumerta, sebagai Duta Kota Denpasar turut meramaikan gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVI Tahun 2024 di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Denpasar Senin (17/6). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.comUtsawa (Parade) Arja Klasik “Panca Yowana Kanti” dari Penyatusan Abian Kapas-Ketapian, Kelurahan Sumerta, sebagai Duta Kota Denpasar turut meramaikan gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVI Tahun 2024 di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Denpasar Senin (17/6). Arja Klasik yang mengisahkan Kerajaan Daha dengan digawangi seniman muda ini sukses memukau penonton yang hadir.

Pementasan ini disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan Denpasar, Raka Purwantara bersama jajarannya, Camat Denpasar Timur, Ni Ketut Sri Karyawatu, Ketua TP. PKK Kelurahan, Kepala Lingkungan, serta aparatur kelurahan dan tokoh masyarakat setempat. Tidak ketinggalan, para penggemar kesenian Arja Klasik Bali turut hadir meramaikan pementasan.

Lurah Sumerta, I Wayan Eka Apriana, SST.Par, menjelaskan bahwa Arja Klasik yang dipentaskan ini mengangkat judul ‘‘Pangrabdaning Guna Sakti‘‘ dengan mengisahkan cerita dari Kerajaan Daha. Sang permaisuri memiliki dua orang putri, yaitu Diah Candra Dewi yang cantik dan merupakan anak tiri, serta Diah Trenggini, anak kandung permaisuri yang berperangai buruk.

Eka Apriana menuturkan bahwa kisahnya semakin menarik ketika Diah Candra Dewi menikah dengan Rahaden Darma Wijaya yang dikenal dengan julukan Prabu Jenggala, sementara Diah Trenggini juga menginginkan Rahaden Darma Wijaya sebagai suaminya. Dalam perjalanan pulang ke Jenggala, Diah Candra Dewi merasa lelah dan beristirahat, hingga tertidur. Saat itulah Diah Trenggini menggunakan ilmu hitam yang diberikan oleh ibunya untuk mencelakai Diah Candra Dewi.

Pementasan ini dibawakan oleh Sekaha Arja Panca Yowana Kanti, dengan koordinasi dari I Gusti Ngurah Rai Soman. Konseptor dan pembina Arja adalah Ni Wayan Ranten, bersama dengan Ni Wayan Rimit, Ni Nyoman Nik Suasti, dan Sang Ketut Pesan Sandiyasa. Sementara itu, pembina tabuhan dipegang oleh Made Sudarsana dan Made Dwijarsana.

Baca Juga  Disaksikan Pj. Gubernur Mahendra Jaya, Pergelaran Drama Gong Lawas Pukau Penonton PKB Ke-46

“Penampilan mereka berhasil memukau penonton, menghidupkan kembali pesona dan keindahan Arja Klasik Bali dalam Pesta Kesenian Bali tahun ini,” ungkap Eka Apriana. (eka/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan

SENI

Disaksikan Pj. Gubernur Mahendra Jaya, Pergelaran Drama Gong Lawas Pukau Penonton PKB Ke-46

Published

on

By

drama gong lawas
DRAMA GONG LAWAS: Pj. Gubernur Bali S.M. Mahendra Jaya berfoto bersama usai menyaksikan pergelaran drama gong lawas yang dibawakan Paguyuban Peduli Seni Drama Gong Lawas (Padsmagol) Provinsi Bali, Puri Gandapura, Desa Kesiman Kertalangu, Kota Denpasar, di Panggung Terbuka Ardha Chandra Taman Budaya Provinsi Bali serangkaian PKB ke-46, Kamis (11/7/2024) malam. (Foto: Hms Pemporv Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pj. Gubernur Bali S.M. Mahendra Jaya menyaksikan rekasadana (pergelaran) drama gong lawas yang dibawakan Paguyuban Peduli Seni Drama Gong Lawas (Padsmagol) Provinsi Bali, Puri Gandapura, Desa Kesiman Kertalangu, Kota Denpasar, Kamis (11/7/2024) malam.

Drama gong yang mengangkat judul “Manik Kilat Bumi” itu dipertunjukkan di Panggung Terbuka Ardha Chandra Taman Budaya Provinsi Bali serangkaian memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46 Tahun 2024. Penampilan sederet bintang drama gong kawakan memukau penonton yang memadati Panggung Terbuka Ardha Candra.

Penampilan I Nyoman Subrata yang berperan sebagai Petruk masih mampu mengocok perut penonton dengan guyonannya yang segar dan spontan. Bahkan di tengah pertunjukan, Petruk, Perak dan punakawan lainnya mengundang Pj. Gubernur Mahendra Jaya dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha naik ke atas panggung untuk berinteraksi dan membagikan hadiah berupa kaos kepada dua penonton.

Naskah drama yang ditulis Jro Dasaran Suyadnya dibawakan secara apik oleh jajaran pemain drama gong senior. Manik Kilat Bumi berkisah tentang Waringin Sungsang, raja angkuh dan sombong yang ingin menguasai kerajaan di sekitarnya seperti Ratna Dwipa, Windu Pura dan lainnya. Dari sekian banyak wilayah yang ingin dikuasai, hanya Kerajaan Merta Buana yang belum bisa ditaklukkan hingga ia pun menggunakan cara kotor dengan menggunakan ilmu hitam.

Diah Mertawati, putri satu-satunya kerajaan Merta Buana diteluh hingga sakit tanpa ada yang bisa mengobati. Karena kebingungan, putra-putra raja sepakat mencarikan orang pintar demi kesembuhan sang putri.

Kabar itu didengar Patih Agung yang melapor kepada Raja Waringin Sungsang. Lalu, sang raja memerintahkan Patih Agung mencegat putra dari Kerajaan Merta Buana. Karena tipu daya kelompok Waringin Sungsang, Raden Wira Jaya hampir kehilangan calon istri. Ia nyaris saling bunuh dengan Wira Darma karena memperebutkan Galuh Liku (Putri Raja Waringin Sungsang).

Baca Juga  Pesona Utsawa Busana Adat 2024 PKB XLVI, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya Dukung Peragaan Busana Ciri Khas Tabanan

Setelah serangkaian tipu daya, hari naas Raja Waringin Sungsang tiba dan ia akhirnya terkena tusukan keris Wira Jaya dan Wira Darma. Kematian Raja Waringin Sungsang membuat suasana menjadi gaduh. Atas restu Dukuh Banyu Biru yang memberikan Pusaka Manik Kilat Bumi, seluruh putra dari Kerajaan Merta Buana terselamatkan termasuk kesembuhan putri raja. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

“Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem”, Kisah Mengharukan dari Sanggar Surya Art di PKB Ke-46

Published

on

By

Sanggar Seni Surya Art
TOPENG: Topeng "Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem" dari Sanggar Seni Surya Art, duta Kabupaten Badung saat tampil di PKB ke-46, Rabu (10/7/2024), di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46 kembali menjadi ajang unjuk bakat bagi para seniman dari berbagai kabupaten di Bali. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian publik kali ini adalah Topeng “Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem” dari Sanggar Seni Surya Art, Kabupaten Badung, Rabu (10/7/2024). Pertunjukan ini digelar di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar dan berhasil memikat hati para pengunjung dengan cerita yang penuh makna.

Topeng “Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem” mengisahkan Hyang Pasupati yang beryoga hingga manik sinarnya jatuh ke sungai dan menimpa batu, melahirkan dua anak kembar bernama Dalem Batu Putih dan Dalem Batu Selem. Kedua anak tersebut terpisah sejak lahir dan tidak dapat hidup bersama hingga dewasa. Ketika dewasa, mereka teringat satu sama lain dan memutuskan untuk saling mencari.

Penampilan ini dipimpin oleh I Gusti Ngurah Artawan dan dibawakan oleh tujuh penari yaitu termasuk I Gusti Ngurah Artawan, I Wayan Eka Santa Purwita, I Gusti Ngurah Gede Oka Wiratmaja, Ketut Sumadi, I Gusti Made Darma Putra, Anak Agung Ketut Surya Adi Putra, dan Kadek Karunia Artha. Tari Topeng ini juga diiringi oleh 28 penabuh yang telah berlatih selama tiga bulan.

Anak Agung Ketut Surya Adi Putra, salah satu penari, menyampaikan harapannya agar pertunjukan ini dapat menginspirasi seniman muda untuk terus maju dan mengembangkan diri. Sementara itu, I Gusti Ngurah Artawan, yang juga menjabat sebagai Ketua Listibiya Kabupaten Badung, menekankan pentingnya pelestarian, pengembangan, dan pembinaan kebudayaan. Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan telah melakukan seleksi dan pembinaan selama setahun untuk memilih duta terbaik yang tampil di ajang PKB.

Baca Juga  Sekaa Gong Legendaris Kerthi Budaya Guncang PKB Ke-46

“Kami memilih yang terbaik dari Kabupaten Badung untuk ditampilkan di Pesta Kesenian Bali ini,” ujar Ngurah Artawan seusai pementasan.

Ia berharap semua pihak, baik dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali maupun kabupaten/kota, dapat bekerja sama untuk meningkatkan tata pementasan serta kualitas pertunjukan seni di masa depan.

Penampilan Topeng “Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem” menjadi bukti nyata dari dedikasi dan usaha para seniman dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Bali. Ajang PKB ke-46 ini tidak hanya menjadi tempat untuk menampilkan karya seni, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat ikatan budaya dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian tradisional. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Komunitas Seni Nyenit Nyenir Banjar Sulangai, Bawakan Joged Bumbung Tradisi di PKB Ke-46

Published

on

By

joged bumbung pkb
JOGED BUMBUNG: Joged Bumbung Tradisi dari Komunitas Seni Nyenit Nyenir, Banjar Sulangai, Desa Sulangai, Petang, sebagai duta Kabupaten Badung, saat tampil di PKB ke-46, di Kalangan Madya Mandala, Art Center Bali, Rabu, 10 Juli 2024. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Komunitas Seni Nyenit Nyenir, Banjar Sulangai, Desa Sulangai, Petang, sebagai duta Kabupaten Badung, tampil pada pementasan parade joged bumbung tradisi, Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46. Bertempat di Kalangan Madya Mandala, Art Center Bali, Rabu, 10 Juli 2024, sebanyak 4 penari tampil maksimal di hadapan pengunjung.

Menurut Ketua Komunitas Seni Nyenit Nyenir Sulangai, I Made Yudiarta, ditunjuk sebagai duta Badung dalam pementasan parade joged bumbung tradisi di PKB ke-46 ini, menjadi suatu kehormatan. Sebagai Ketua Komunitas, pihaknya menyampaikan terimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan, Listibya Badung, Listibya Kecamatan Petang dan Pemerintah Desa Sulangai, atas kepercayaan yang diberikan kepada Komunitas Nyenit Nyenir sebagai duta Badung. Termasuk dukungan masyarakat Badung dan masyarakat Bali dalam melestarikan joged bumbung tradisi. “Kami dari komunitas berharap kepada masyarakat Bali, agar tradisi ini bisa terus dilestarikan,” harapnya.

Untuk tabuh petegak yang ditampilkan, mengangkat cerita berjudul Jana Raga. Dikatakan, Jana Raga ini adalah keseimbangan dalam diri yang bertujuan untuk menguatkan energi positif pada diri sebagai manusia yang merupakan bagian dari Sad Kerthi secara sekala dan niskala. “Secara garis besar karya ini adalah sebuah implementasi konsep catur sadhana yang bermuara pada Jana Kerthi dan tertuang melalui karya tabuh kreasi joged bumbung yang berjudul Jana Raga,” bebernya.

Adapun penampilan joged yang dibawakan, pertama dengan judul tabuh “Kembang Rampe”. Kemudian untuk joged kedua dengan judul tabuh “Sekar Sandat”, joged ketiga dengan judul tabuh “Burat Wangi”, dan joged keempat dengan judul tabuh “Kembang Cempaka”. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Baca Juga  Pesona Utsawa Busana Adat 2024 PKB XLVI, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya Dukung Peragaan Busana Ciri Khas Tabanan
Lanjutkan Membaca