Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Bali Jagadhita 2025, BI Ajak Investor Global Berinvestasi di Bali

BALIILU Tayang

:

Bali Jagadhita
KUNJUNGAN: Bank Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali saat menggelar Bali Jagadhita Investment Forum 2025 awal Juni 2025. Para peserta sempat mengunjungi Kura Kura Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Investasi merupakan engine of growth ekonomi Bali. Selama lima tahun terakhir kontribusi investasi terhadap perekonomian Bali mencapai 30%. Pada 2024, realisasi investasi di Bali menunjukkan kinerja yang impresif dengan realisasi investasi sebesar 36,5 triliun rupiah (225% dari target yang sebesar 16,2 triliun rupiah).

Realisasi investasi yang tinggi di Bali didukung dengan indeks daya saing daerah yang kompetitif. Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) Bali pada 2024 tercatat sebesar 3,91 (dari skala 5), lebih tinggi dibanding Daya Saing Nasional yang sebesar 3,43. Menguatnya investasi tentu memberikan multiplier effect, termasuk penciptaan lapangan kerja baru. Realisasi investasi Bali sepanjang 2024 mampu membuka penyerapan tenaga kerja sebanyak 53 ribu orang.

Kendati menunjukkan kinerja yang baik, masih terdapat sejumlah tantangan kinerja investasi Bali yakni dominasi realisasi investasi di wilayah Bali Selatan. Sebesar 81,5% realisasi investasi di Bali terpusat di Kabupaten Badung, Kota Denpasar, dan Kabupaten Gianyar. Tantangan lainnya yakni masih terpusatnya investasi pada sektor tersier. 94% realisasi investasi di Bali didominasi oleh sektor tersier diantaranya meliputi pembangunan perumahan, kawasan industri, dan perkantoran. Adapun sektor tersier sangat rentan terhadap guncangan eksternal sehingga kedepan perlu didorong perluasan investasi di sektor primer dan sekunder.

Menjawab tantangan tersebut, Bank Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen mendorong akselerasi investasi berkualitas sebagai bagian dari Tranformasi Ekonomi Kerthi Bali melalui penyelenggaraan Bali Jagadhita Investment Forum 2025. Kegiatan Bali Jagadhita Investment Forum 2025 merupakan ajang promosi investasi terintegrasi proyek potensial se-Bali yang mencakup berbagai sektor termasuk hilirisasi.

Rangkaian kegiatan Bali Jagadhita Investment Forum 2025 terdiri dari showcasing proyek potensial unggulan se-Bali dan Nusa Tenggara, presentasi proyek potensial, one on one meeting antara project owner dan calon investor, serta site visit ke salah satu kawasan ekonomi khusus terbesar di Bali yakni (KEK) Kura Kura Bali awal Juni lalu.

Baca Juga  TPID Bali Jaga Stabilitas Harga Jelang Hari Raya

Membuka Bali Jagadhita Investment Forum 2025, Advisor Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Indra Gunawan Sutarto menyampaikan bahwa Bali memiliki sejumlah proyek potensial yang mencakup berbagai sektor, termasuk hilirisasi dan ekonomi hijau. Dengan target realisasi investasi yang meningkat 181,1% dari target 2024 menjadi sebesar 45,6 triliun rupiah pada 2025, Indra mengajak investor domestik dan global yang hadir untuk berinvestasi di Bali. Indra juga berharap terselenggaranya Bali Jagadhita Investment Forum 2025 dapat menjadi katalis investasi berkualitas di Bali, khususnya diversifikasi sektor investasi Bali yang selama ini didominasi oleh sektor tersier. Berbagai proyek investasi potensial unggulan yang dipromosikan pada showcasing dan presentasi Bali Jagadhita Investment Forum, merupakan hasil kurasi Bali Investment Challenge 2025.

Pendalaman lebih lanjut terkait proyek dilakukan melalui sesi one on one meeting antara project owner dan calon investor, dimana sesi one on one meeting diikuti lebih dari 25 calon investor dari berbagai negara, termasuk hadir pula Duta Besar Kerajaan Bahrain, Duta Besar Republik Belarus, Penjabat Duta Besar Georgia, dan konsulat jenderal, serta atase dari berbagai negara sahabat. Program ini merupakan wujud kolaborasi Bank Indonesia bersama dengan Pemerintah Provinsi Bali melalui forum PIKBS (Pusat Investasi Kerthi Bali Sadhana), dan menghasilkan 14 (empat belas) proyek investasi potensial dari berbagai kabupaten/kota dan lembaga di Bali.

Beberapa proyek tersebut yaitu ekosistem electric vehicle, revitalisasi Bandara Letkol Wisnu, jaringan utilitas terpadu, kopi arabika, Singamandawa Kintamani, Kebun Raya Gianyar, Anjungan Cerdas Rambut Siwi, Pembangkit Listrik Tenaga Solar, Bukit Teletabis, Budidaya Rumput Laut, Sentra Pengolahan Mackarel, Revitalisasi Pasar Induk Gadarata Singasana, Fasilitator Produk UMKM, Kawasan Industri Terpadu Bali 6.0, dan Sistem Penyediaan Air Minum Ayung Sarbagita. Ke-14 proyek investasi potensial di Bali tersebut, kemudian disusun dalam buku katalog investasi, yang selanjutnya diserahkan oleh PIKBS kepada Pemerintah Provinsi Bali.

Baca Juga  “Jaga Pantai, Jaga Rupiah” Bersama BI Bali dan Korem 163/Wira Satya

Hadirnya buku katalog investasi ini diharapkan mampu mempermudah perluasan informasi dan promosi terintegrasi proyek investasi strategis kepada investor potensial yang selanjutnya diharapkan dapat mendukung peningkatan realisasi investasi.

Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Dedi Latif dalam acara talkshow Bali Jagadhita menyampaikan terdapat 3 hal yang menjadi kunci keberhasilan investasi yakni perizinan, regulasi, dan daya saing. Melalui PP No. 24 Tahun 2019, pemerintah berkomitmen memberikan insentif dan kemudahan investasi di Indonesia bagi investor yang memenuhi sejumlah kriteria diantaranya meningkatkan pendapatan masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan, melakukan alih teknologi, menyerap tenaga kerja, menggunakan sumber daya lokal, meningkatkan PDRB, berwawasan orientasi ekspor, dsb. Dedi turut menegaskan hilirisasi menjadi perhatian pemerintah untuk mendorong investasi yang berkualitas. Bali sendiri memiliki beberapa potensi industri hiliriasi seperti industri kreatif (kriya, fesyen, dll), industri agro (pengolahan hasil perkebunan), termasuk penguatan dari sisi pariwisata dengan pengembangan health tourism dan eco tourism.

Bank Indonesia memprakirakan outlook perekonomian Bali 2025 tetap solid pada kisaran 5,0- 5,8% (yoy). Dengan outlook ekonomi yang tetap kuat, terjaganya inflasi, tetap solidnya optimisme pelaku usaha, dukungan insentif oleh pemerintah, serta daya saing daerah Bali yang sangat baik tentunya semakin membuka peluang untuk peningkatan investasi di Bali. Strategi kolaboratif antar-pemangku kepentingan perlu terus didorong diantaranya melalui fasilitasi kemitraan strategis antara inevstor besar dengan UMKM, penguatan infrastruktur dan konektivitas, serta pengembangan kualitas SDM. Melalui penyelenggaraan Bali Jagadhita Investment Forum 2025 diharapkan dapat semakin mendorong tercapainya perekonomian Bali yang inklusif dan berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Cuaca Tak Menentu, Optimisme Konsumen di Bali pada Desember 2025 Melambat

Published

on

By

Optimisme konsumen bali
Warga masyarakat saat berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan. (Foto Ilustrasi: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Optimisme konsumen di Bali pada Desember 2025 melambat jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, seiring dengan kondisi cuaca pada bulan Desember yang tidak menentu dengan curah hujan yang cukup tinggi.

Survei Konsumen Bank Indonesia Provinsi Bali periode November 2025 menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 139,42 (turun -1,5%; mtm) dan masih berada pada level optimis (indeks > 100). Optimisme IKK berdasarkan kelompok usia mayoritas didorong oleh usia 20-30 tahun (150,5), usia 41-50 tahun (147,0), usia 31-40 tahun (130,2), usia 51-60 tahun (127,4), serta usia >60 tahun (110,4).

Optimisme IKK juga tercermin dari responden pekerja di sektor formal (144,6) dan informal (133,7). Survei Konsumen adalah survei yang dilaksanakan setiap bulan oleh Bank Indonesia untuk mengukur tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta harapan konsumen mengenai perkembangan perekonomian di masa mendatang.

Perlambatan komponen IKK terjadi pada Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dari 152,3 menjadi 147,8 (turun 3,0%; mtm). Faktor penahan laju pertumbuhan IKK berasal dari indeks penghasilan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar -6,7% (mtm) atau sebesar 152,5, serta indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar -4,6% (mtm) atau sebesar 144,5.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja menjelaskan, bahwa menurut responden, penurunan tersebut dipengaruhi oleh kondisi cuaca pada bulan Desember yang tidak menentu dengan curah hujan yang cukup tinggi. Hal tersebut berpengaruh terhadap penurunan pendapatan dari responden yang bergerak di usaha skala mikro. Peningkatan curah hujan sejalan dengan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan peningkatan frekuensi kejadian hujan lebat ekstrem di Provinsi Bali pada bulan Desember 2025 sebesar 20% (mtm).

Baca Juga  BI Bali Gelar Pasar Rakyat Go Digital: Jembatan Dua Dunia, Tradisi & Teknologi

Erwin lanjut mengungkapkan, perlambatan IKK juga disebabkan oleh normalisasi konsumsi pasca Hari Raya Galungan dan Kuningan yang berlangsung di bulan November 2025. Di sisi lain, optimisme IEK masih tercermin dari indeks prakiraan kegiatan usaha 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 3,2% (mtm) atau sebesar 146,5.

Lebih lanjut, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turut mengalami peningkatan moderat dari sebelumnya 130,8 menjadi 131,0 (naik 0,1%; mtm). Peningkatan IKE utamanya disebabkan oleh meningkatnya indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu dari sebelumnya 114,0 menjadi 117,0 (naik 2,6%; mtm). Hasil tersebut menunjukkan IKE dan IEK berada pada level optimis (> 100,0) yang mencerminkan optimisme konsumen terhadap prospek ekonomi masih terjaga.

Erwin menegaskan bahwa Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Bali terus berupaya untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. “Memasuki Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, TPID terus memastikan ketersediaan pasokan pangan melalui penyelenggaraan operasi pasar murah, pengawasan harga pada komoditas pangan utama, serta koordinasi rutin untuk memastikan jalur distribusi pangan tetap terjaga,” ujarnya.

Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat inflasi tahunan Provinsi Bali pada Desember 2025 sebesar 2,91% (yoy), berada dalam rentang target inflasi 2025 sebesar 2,5±1%. Tingkat inflasi yang terkendali akan mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga, menarik minat investor, serta memperkuat aktivitas perekonomian daerah. Demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah gejolak ekonomi dan politik global, Bank Indonesia pada 16-17 Desember 2025 mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%.

Baca Juga  IEK Bali Meningkat, BI Bali: Optimisme Konsumen Bali Meningkat

Untuk terus mendorong tingkat pertumbuhan konsumsi masyarakat, sebut Erwin, Pemerintah Provinsi Bali menetapkan kebijakan pengurangan pokok Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) mulai 5 Januari 2026. Berbagai upaya tersebut akan mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Tahun 2025, Inflasi Bali Terjaga dalam Sasaran

Published

on

By

Info Grafis Inflasi Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Rilis BPS Provinsi Bali pada 5 Januari 2026 menyebutkan bahwa perkembangan harga gabungan kabupaten/kota perhitungan inflasi di Provinsi Bali pada Desember 2025 secara bulanan mengalami inflasi sebesar 0,70% (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,40% (mtm).

Secara tahunan, inflasi Provinsi Bali mengalami peningkatan menjadi 2,91% (yoy) dari 2,51% (yoy) pada November 2025. Inflasi Bali pada Desember 2025 terjaga dalam sasaran 2,5±1% dan lebih rendah dibandingkan Nasional yang sebesar 2,92% (yoy). Capaian inflasi Bali sejalan dengan pertumbuhan Bali tahun 2025 yang diprakirakan berada pada batas atas kisaran 5,0-5,8% (yoy). Secara spasial, seluruh Kabupaten/Kota di Bali mengalami inflasi bulanan pada Desember 2025.

Denpasar mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,38% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,45% (yoy), diikuti Tabanan sebesar 1,02% (mtm) atau 2,70 (yoy). Selanjutnya, Singaraja mengalami inflasi bulanan sebesar 0,69% (mtm) atau inflasi tahunan 2,51% (yoy). Lebih lanjut Badung mengalami inflasi bulanan sebesar 1,12% (mtm) atau 2,37% (yoy). Inflasi di Provinsi Bali terutama disumbang oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, seiring dengan keterbatasan pasokan akibat curah hujan tinggi di daerah sentra penghasil Bali. Berdasarkan komoditasnya, secara bulanan inflasi Desember 2025 terutama bersumber dari kenaikan harga cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, tomat, dan pemeliharaan/service. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga canang sari, kangkung, cabai merah, beras, dan tongkol diawetkan.

Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode libur tahun baru dan berlanjutnya kenaikan harga emas dunia. Lebih lanjut, puncak musim hujan berisiko menyebabkan produksi hortikultura kurang optimal, gangguan distribusi, dan berpotensi meningkatkan risiko pertumbuhan hama dan organisme pengganggu tanaman yang dapat mengganggu produksi tanaman pangan dan hortikultura. Kewaspadaan tetap perlu dilakukan untuk mengawal stabilitas harga dalam menghadapi periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta libur Idulfitri dan Nyepi pada triwulan I 2026.

Baca Juga  BI Bali, Realisasi Pertumbuhan Ekonomi Bali Triwulan I/2022 Meningkat

Oleh karena itu, sinergi TPID perlu terus diperkuat dalam menjaga stabilitas harga komoditas pangan, khususnya beras dan hortikultura. Untuk menghadapi potensi tekanan inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Kabupaten/Kota se-Bali melalui implementasi strategi 4K, yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif. Strategi 4K akan diperkuat melalui 3 (tiga) fokus utama yakni stabilitas pasokan, efisiensi distribusi, dan penguatan regulasi.

Ke depan, TPID Provinsi dan seluruh TPID Kabupaten/Kota di Bali akan terus mendorong penguatan dan perluasan pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sebagai upaya menjaga inflasi yang stabil melalui penguatan regulasi, stabilitas pasokan, dan efisiensi distribusi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada TPID seluruh Pemerintah Daerah se-Provinsi Bali atas sinergi dan langkah konkret yang telah dilakukan secara konsisten, sehingga inflasi Bali tetap terjaga dan terkendali sepanjang tahun 2025.

“Pada tahun 2026 sinergi akan terus diperkuat melalui intensifikasi operasi pasar yang terencana, pengawasan dan percepatan penyaluran SPHP, penguatan produksi dalam daerah, kerja sama antardaerah baik intra-Bali maupun dengan luar Bali, peningkatan efisiensi rantai pasok pangan, dan membangun ekosistem ketahanan pangan yang inklusif dengan melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi,“ ujar Erwin.

Sinergi pengendalian inflasi pangan juga mencakup kolaborasi antara pelaku hulu dan hilir, mulai dari petani, penggilingan, Perumda pangan, KDKMP, SPPG, hingga sektor horeka (hotel, restoran, dan kafe), yang diperkuat melalui regulasi pemanfaatan produk pangan lokal oleh pelaku usaha di daerah. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Bank Indonesia Provinsi Bali optimis inflasi pada tahun 2026 akan tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5%±1%. (gs/bi)

Baca Juga  BI Bali Gelar Pasar Rakyat Go Digital: Jembatan Dua Dunia, Tradisi & Teknologi

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Hari Raya Keagamaan dan Musim Panen Dorong Optimisme Konsumen Bali

Published

on

By

Optimisme konsumen bali
Infografis Humas Bank Indonesia Provinsi Bali. (Foto Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Optimisme konsumen di Bali pada November 2025 berlanjut menguat jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, seiring dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali serta musim panen pada beberapa komoditas perkebunan yang meningkatkan optimisme konsumsi masyarakat. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia Provinsi Bali periode November 2025, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 141,58 (naik 1,2%; mtm) dan berada pada level optimis (indeks > 100). Optimisme IKK berdasarkan kelompok usia mayoritas didorong oleh usia 20-30 tahun (149,0), usia >60 tahun (147,2), 51-60 tahun (143,3), 31-40 tahun (137,7), serta usia 41-50 tahun (133,3). Optimisme IKK turut tercermin dari responden pekerja di sektor formal (140,3) dan informal (142,7). Survei Konsumen merupakan survei bulanan yang dilakukan Bank Indonesia untuk mengetahui tingkat keyakinan konsumen mengenai kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen terhadap kondisi perekonomian ke depan.

Peningkatan komponen IKK terjadi pada Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dari 148,3 menjadi 152,3 (naik 2,7%; mtm). Faktor pendorong laju pertumbuhan IKK berasal dari indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 3,4% (mtm) atau sebesar 151,5; indeks penghasilan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 3,2% (mtm) atau sebesar 163,5; serta indeks prakiraan kegiatan usaha 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 1,4% (mtm) atau sebesar 142,0. Peningkatan ekspektasi konsumsi masyarakat utamanya didorong oleh adanya Hari Raya Galungan dan Kuningan yang meningkatkan permintaan jasa penjahit pakaian. Lebih lanjut, terdapat musim panen pada beberapa komoditas perkebunan seperti buah jeruk dan mangga sehingga sebagian responden petani perkebunan optimis akan adanya peningkatan konsumsi.

Baca Juga  BI Bali, Realisasi Pertumbuhan Ekonomi Bali Triwulan I/2022 Meningkat

Di sisi lain, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) mengalami penurunan moderat dari sebelumnya 131,5 menjadi 130,8 (turun 0,5%; mtm). Perlambatan tersebut utamanya disebabkan oleh menurunnya indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar -5,1% (mtm) atau sebesar 131,0; serta indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar -3,8% (mtm) atau sebesar 114,0. Responden menyatakan tingginya persaingan dalam mencari pekerjaan, serta adanya kecenderungan untuk menahan pembelian barang tahan lama karena persediaan barang responden saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan. Di sisi lain, penurunan IKE lebih dalam tertahan oleh indeks penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu yang masih menunjukkan pertumbuhan sebesar 6,9% (mtm) atau sebesar 147,5. Hasil tersebut menunjukkan IKE dan IEK berada pada level optimis (> 100,0) yang mencerminkan optimisme konsumen terhadap prospek ekonomi terus bertumbuh.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan bahwa Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Bali terus berupaya untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. “Selama Hari Raya Galungan dan Kuningan, TPID terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan pangan melalui pelaksanaan operasi pasar murah, pengawasan harga pada komoditas pangan utama, serta koordinasi rutin untuk memastikan jalur distribusi pangan tetap terjaga. Dengan terjaganya tingkat inflasi, diharapkan dapat mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga, menarik minat investor, serta memperkuat aktivitas perekonomian daerah,“ ujarnya.

Lebih lanjut, demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah risiko curah hujan tinggi, Bank Indonesia pada 18-19 November 2025 mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Dalam hal mencegah risiko bencana hidrometeorologi, Pemerintah Provinsi Bali bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berkoordinasi untuk memetakan daerah rawan banjir, banjir bandang, dan longsor, serta melakukan inspeksi lebih awal terhadap saluran sungai dan daerah aliran sungai. Oleh karenanya, berbagai macam inisiatif tersebut akan mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)

Baca Juga  Dari Hasil Survei, Kinerja Penjualan Eceran Bali Bakal Terus Meningkat

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca