Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Buka Pameran IKM Bali Bangkit Tahap 4, Ny. Putri Koster: Jadi Pembelajaran Peningkatan Kualitas dan Pemasaran bagi IKM

BALIILU Tayang

:

de
BUKA PAMERAN: Ny. Putri Suastini Koster selaku Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bali membuka Pameran IKM Bali Bangkit Tahap 4 di Lantai Dasar Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa (19/10/2021).

Denpasar, baliilu.com – Ny. Putri Suastini Koster selaku Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bali membuka Pameran IKM Bali Bangkit Tahap 4 di Lantai Dasar Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa (19/10/2021).

Pameran IKM Bali Bangkit Tahap 4 akan berlangsung hingga 17 November 2021, melibatkan 71 pelaku IKM yang mengisi stand di Gedung Ksirarnawa dan Ardha Candra. Selain memamerkan berbagai produk kerajinan, Pameran IKM Bali Bangkit ke-4 juga dimeriahkan stand kuliner yang memanjakan lidah pengunjung dengan makanan khas kabupaten/kota. Untuk mengisi stand makanan, pihak penyelenggara menggandeng TP PKK Kabupaten/Kota agar bisa memperkenalkan kuliner khas dari daerah masing-masing.

Sama seperti pelaksanaan sebelumnya, Pameran IKM Bali Bangkit menerapkan kombinasi penjualan online dan konvensional. Produk yang dipamerkan secara konvensional di stand, juga dipasarkan secara online melalui e-marketplace Balimall.id. Kendati perkembangan kasus Covid-19 telah melandai, pelaksanaan pameran tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat dengan penggunaan aplikasi PeduliLindungi.

Ny. Putri Koster bersama jajaran TP PKK Kabupaten usai membuka Pameran IKM Bali Bangkit Tahap 4, Selasa (19/10)

Ny. Putri Koster dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pameran IKM Bali Bangkit ini bukan semata berorientasi pada omzet penjualan. Yang lebih penting menurutnya adalah ajang ini bisa menjadi media pembelajaran bagi pelaku IKM dalam meningkatkan kualitas produk dan strategi pemasaran sejalan dengan berkembangnya era digital. “Kegiatan ini bisa menjadi evaluasi dan saling mengingatkan apa yang seharusnya kita lakukan tapi belum kita lakukan dan yang sudah kita lakukan padahal hal itu tak seharusnya kita lakukan,” ucapnya. Apa yang disampaikannya itu mengandung makna yang sangat dalam, berkaitan dengan tugas pelestarian yang harus menjadi perhatian semua pihak.

Ia lantas mencontohkan fenomena kain tenun endek yang banyak diproduksi di luar daerah. “Endek itu kan salah satu kearifan lokal kita, motifnya dibuat dengan sentuhan seni dan tak boleh sembarangan diambil,” sebutnya. Ia bersyukur, Pemprov Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster yang getol dalam pelestarian kain tenun tradisional seolah mendapat restu semesta ketika tiba-tiba rumah mode Christian Dior memilih endek sebagai bahan koleksi busana mereka.

Baca Juga  Percepat Bali Bangkit, BI Dukung Program Vaksinasi dan Dorong Geliat Aktivitas Ekonomi

Terpilihnya endek menjadi bahan busana Dior kemudian membuka jalan dalam pengurusan hak kekayaan komunal untuk kain endek. “Sekarang endek telah memiliki hak kekayaan komunal, artinya pemerintah telah hadir untuk menyelamatkan salah satu kearifan lokal yang kita miliki,” jelasnya.

Sejalan dengan upaya yang dilakukan pemerintah, ia mengajak pelaku IKM dan UMKM mengambil peran dengan memasarkan produk endek yang benar-benar diproduksi oleh perajin lokal Bali. “Saya minta jangan mengambil hasil produk kain endek yang diproduksi di luar Bali. Sebab itu sangat merugikan para penenun yang akhirnya enggan mengambil pekerjaan itu karena hasil tenunan mereka tak terserap pasar,” tambahnya.

Pada bagian lain, seniman  multi talenta ini juga memberi pemahaman kepada konsumen tentang bagaimana cara memperlakukan produk tenun tradisional Bali. “Tenun tradisional kita seperti endek, itu sifatnya limited edition. Jadi jangan kita bikin jadi produksi massal. Itu pasti akan jadi kendala bagi penenun,” ujarnya. Selain endek, Putri Koster juga memberi penekanan pada penggunaan kain songket yang sebaiknya jangan dijadikan bahan busana karena akan merusak nilai seni yang terkandung dalam motifnya. “Kalau songket itu, penggunaannya ya untuk kain kamen. Kalau dibuat baju, kesannya berat dan motifnya akan rusak,” pungkasnya

Kadisperindag Bali yang juga selaku Ketua Harian Dekranasda I Wayan Jarta merasa bersyukur karena dengan dorongan dan motivasi dari Ny. Putri Koster, pelaku IKM di Bali tak tenggelam dalam keterpurukan di tengah pandemi Covid-19. Pameran IKM Bali Bangkit yang pelaksanaannya sudah memasuki tahap ke-4 menjadi cambuk bagi pelaku industri kecil untuk tetap kreatif dan produktif di masa pandemi.

Ia menyebut, hingga tahap ke-4 pelaksanaannya, Pameran IKM Bali Bangkit telah memfasilitasi 247 pelaku IKM dengan omzet mencapai Rp 13 miliar. Untuk mencegah kesan monoton, atas arahan Ketua Umum Dekranasda Bali, ia terus mencari potensi hasil kerajinan kreatif untuk dilibatkan dalam ajang pameran. “IKM yang dilibatkan dalam pameran telah melalui proses kurasi sehingga dianggap layak menampilkan produknya di ajang ini,” ucapnya.

Baca Juga  IKM Unggulan Kota Denpasar Ikuti Pameran Indonesia Maju Expo & Forum 2024 di Jakarta

Selain menggilir para peserta, pihaknya juga menghadirkan stand kuliner agar pameran menjadi lebih menarik. Pembukaan Pameran IKM Bali Bangkit Tahap 4 dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Klungkung Ny. Ayu Suwirta, perwakilan TP PKK Kota Denpasar dan jajaran pengurus TP PKK Provinsi Bali. (gs)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

EKONOMI & BISNIS

September 2026, Inflasi Bali Melandai

Published

on

By

BI Bali
Infografis inflasi Provinsi Bali per September 2026. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 Oktober 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada September 2026 mengalami inflasi sebesar 0,32% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan Agustus yang mengalami inflasi sebesar 0,61% (mtm). Inflasi bulanan Provinsi Bali dipengaruhi oleh meningkatnya biaya produksi, khususnya harga pakan, yang mendorong kenaikan harga ayam ras di tingkat Konsumen, serta kemarau berkepanjangan yang diiringi oleh El Nino dan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang mempengaruhi harga cabai dan beras. Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 3,45% (yoy) pada Agustus 2026 menjadi 3,79% (yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,28% (yoy).

Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani dalam keterangan tertulisnya mengatakan bahwa secara spasial, seluruh kabupaten/kota IHK di Bali mencatat inflasi bulanan pada September 2026. Kabupaten Badung mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,55% (mtm), diikuti Kabupaten Tabanan sebesar 0,46% (mtm), Kota Denpasar sebesar 0,21% (mtm), dan Singaraja sebesar 0,19% (mtm). Sementara secara tahunan, inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Tabanan sebesar 4,54% (yoy), diikuti Kabupaten Badung sebesar 3,95% (yoy), Singaraja sebesar 3,87% (yoy), dan Kota Denpasar sebesar 3,42% (yoy).

Berdasarkan komoditas, lanjut Achris Sarwani, secara bulanan inflasi pada September 2026 bersumber dari peningkatan harga daging ayam ras, cabai rawit, air kemasan, biaya akademik/perguruan tinggi, jeruk, bahan bakar rumah tangga, dan beras. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga angkutan udara, canang sari, cabai merah, bawang putih, sawi hijau, ketimun, emas perhiasan, bawang merah, terong, dan kangkung.

Achris Sarwani menegaskan bahwa Bank Indonesia Provinsi Bali terus mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar agar capaian inflasi Provinsi Bali pada akhir tahun dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%. Ke depan, beberapa risiko inflasi yang perlu dicermati antara lain berlanjutnya fenomena El Niño dan mundurnya awal musim hujan yang berpotensi mengganggu produksi pangan, khususnya komoditas hortikultura. Selain itu, potensi gangguan distribusi pangan antardaerah termasuk melalui jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, serta masih tingginya biaya angkutan barang global juga perlu menjadi perhatian. Di sisi lain, meredanya aktivitas kunjungan wisatawan setelah periode puncak liburan diprakirakan dapat mengurangi tekanan inflasi dari sisi permintaan.

Baca Juga  Terima Rombongan dari NTB, Ibu Putri Koster Berbagi Pengalaman Memajukan Sektor Kerajinan

Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, kata Achris Sarwani, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Adapun langkah-langkah implementasinya diantaranya melalui Rakor Inflasi TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), pemantauan harga secara berkala, fasilitasi distribusi pangan dan optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan, pemberian bantuan sarpras kepada kelompok tani, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Dengan dukungan sinergi yang kuat antara Bank Indonesia dan Pemerintah Daerah melalui TPID se-Bali, inflasi Bali pada tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5%±1%, sehingga dapat mendukung stabilitas perekonomian dan daya beli masyarakat. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Survei Agustus 2026, Penjualan Eceran Bali Tetap Kuat

Published

on

By

Penjualan Eceran Bali Tetap Kuat pada Agustus 2026
Infografis indeks penjualan riil Provinsi Bali bulan Agustus 2026. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Kinerja penjualan eceran Bali tetap menunjukkan tren positif pada Juli 2026. Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali yang berada pada level 128,6 dan meningkat 1,7% (mtm), sekaligus mempertahankan level optimis (indeks >100). Peningkatan kinerja tersebut terutama didorong oleh meningkatnya permintaan pada kategori sandang sebesar 7,9% (mtm), kategori makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,9% (mtm), serta kategori barang budaya dan rekreasi sebesar 3,5% (mtm). Penguatan tersebut mencerminkan tetap kuatnya permintaan ritel pada periode libur sekolah serta meningkatnya aktivitas pariwisata Bali yang memasuki periode peak season. Kinerja penjualan eceran yang tetap kuat juga sejalan dengan membaiknya fundamental perekonomian Bali. Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,78% (yoy), didukung oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas sektor pariwisata yang tetap kuat. Di sisi lain, inflasi Bali pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,42% (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional. Kondisi ini mendorong terjaganya daya beli masyarakat. Selain itu, aktivitas pariwisata Bali yang memasuki periode puncak kunjungan pada Juli-September 2026 turut mendorong permintaan barang dan jasa serta menjaga momentum konsumsi rumah tangga sebagai motor utama perekonomian daerah.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani melalui siaran pers mengungkapkan bahwa kinerja penjualan eceran pada Agustus 2026 diprakirakan tetap kuat. Hal ini tercermin dari IPR Agustus 2026 yang diprakirakan berada pada level 129,2, atau meningkat 0,5% (mtm), ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori bahan bakar kendaraan bermotor, barang budaya dan rekreasi, serta suku cadang dan aksesori. Perkembangan tersebut terutama didukung oleh berlanjutnya aktivitas pariwisata selama periode peak season, meningkatnya mobilitas masyarakat pada momentum Hari Kemerdekaan RI, serta tingginya kegiatan sosial dan adat yang mendorong permintaan berbagai komoditas ritel.

Baca Juga  Ketua Dekranasda Provinsi Bali Hadiri ''Fashion Show'' di Pameran IKM Bali Bangkit Tahap IV 2022

Sementara itu, Achris Sarwani menegaskan bahwa ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Oktober 2026 dan Januari 2027 diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Oktober 2026 dan Januari 2027 masing-masing sebesar 198 dan 200. Meskipun meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, inflasi Bali pada Agustus 2026 sebesar 3,45% (yoy) masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Kondisi tersebut mendukung terjaganya daya beli masyarakat dan memberikan ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk tetap tumbuh.

Optimisme pelaku usaha tetap terjaga meskipun mengalami moderasi dibandingkan survei sebelumnya. Hal tersebut tercermin pada Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang masih berada pada level optimis (indeks >100), baik untuk tiga bulan maupun enam bulan mendatang. IEP enam bulan mendatang (Januari 2027) lebih rendah menjadi 188 dari 198 pada survei sebelumnya.

Sementara itu, Achris Sarwani menyampaikan bahwa IEP tiga bulan mendatang (Oktober 2026) tercatat sebesar 180, sedikit lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya sebesar 184. Meskipun mengalami moderasi jangka pendek, pelaku usaha tetap meyakini prospek penjualan ritel Bali akan meningkat, terutama didukung aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga yang masih kuat. Keyakinan pelaku usaha tersebut turut didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha Perdagangan yang hingga Juli 2026 tercatat tumbuh 1,86% (yoy).

Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli masyarakat, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan. Sejalan dengan itu, implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) akan terus diperkuat untuk menjaga inflasi tetap terkendali dan menopang momentum pertumbuhan ekonomi daerah. (gs/bi)

Baca Juga  Terima Rombongan dari NTB, Ibu Putri Koster Berbagi Pengalaman Memajukan Sektor Kerajinan

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Optimisme Konsumen Bali Tetap Kuat di Tengah Normalisasi Aktivitas Ekonomi

Published

on

By

Infografis Indeks Keyakinan Konsumen Bali Agustus 2026
Infografis indeks keyakinan konsumen di Provinsi Bali. (Foto; Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pada Agustus 2026, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali tetap berada pada level optimis sebesar 123,1 (indeks >100), serta lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang tercatat sebesar 118,5. Sejalan dengan proses normalisasi aktivitas ekonomi pasca periode libur sekolah dan tingginya basis keyakinan pada bulan sebelumnya, IKK Bali mengalami penyesuaian terbatas dari 126,3 pada Juli 2026 menjadi 123,8 pada Agustus 2026. Optimisme konsumen tetap terjaga terutama pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran lebih dari Rp 8 juta, Rp 6-7 juta, dan Rp 3-4 juta per bulan.

Selain itu, optimisme juga tercermin pada pekerja di sektor formal (128,3) dan sektor informal (116,8). Optimisme yang terjaga didukung oleh membaiknya kinerja pariwisata dan tetap kuatnya aktivitas sektor jasa.

Lebih detail, penurunan IKK pada periode Agustus 2026 turut dipengaruhi oleh penurunan pada Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) mengalami penurunan dari 122,3 pada Juli 2026 menjadi 118,0 pada Agustus 2026 atau turun sebesar 3,5% (mtm). Penurunan IKE bersumber dari ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (128,0), penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (124,5), serta konsumsi barang tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (101,5). Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turut mengalami penurunan dari 130,3 pada Juli 2026 menjadi 128,2 pada Agustus 2026 atau turun sebesar 1,7% (mtm). Penurunan terutama terjadi pada komponen perkiraan penghasilan (127,0), perkiraan ketersediaan lapangan kerja (129,5) dan perkiraan kegiatan usaha (128,0).

Kepala kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa meskipun mengalami penyesuaian, tingkat keyakinan konsumen Bali masih berada pada zona optimis. Perkembangan tersebut mencerminkan proses normalisasi pasca periode libur sekolah dan tingginya aktivitas konsumsi pada bulan sebelumnya. Di sisi lain, masyarakat tetap menunjukkan optimisme terhadap kondisi ekonomi ke depan seiring dengan masih kuatnya aktivitas sektor pariwisata, perdagangan, dan jasa yang menjadi penggerak utama perekonomian Bali.

Baca Juga  Ny. Rai Wahyuni Sanjaya Hadiri Bazar BKOW Provinsi Bali

Tetap terjaganya optimisme konsumen juga sejalan dengan berbagai indikator ekonomi Bali yang masih menunjukkan kinerja positif. Aktivitas pariwisata yang memasuki periode peak season pada Juli-September 2026 turut mendorong peningkatan mobilitas wisatawan dan permintaan barang serta jasa di Bali. Di sisi lain, inflasi Bali pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,45% (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga. Kondisi tersebut menjadi faktor penopang keyakinan konsumen terhadap prospek perekonomian Bali ke depan.

Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah, TP2ED, TPID, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan. Di tengah dinamika perekonomian global, sinergi tersebut diharapkan dapat menjaga optimisme masyarakat dan memperkuat ketahanan ekonomi Bali ke depan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca