Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Bupati Tabanan Apresiasi ‘’Karya Pitra Yadnya’’ dan ‘’Manusa Yadnya’’ Desa Adat Belayu

BALIILU Tayang

:

ngaben desa adat belayu
NGUPESAKSI: Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., berfoto bersama saat Ngupasaksi Uleman Karya Ngaben Bersama Desa Adat Belayu, Marga, yang dipusatkan di Wantilan Pura Prajapati Apit Toya, Desa Adat Belayu, Marga, Tabanan, Selasa (16/1) pagi. (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Kehadiran Murdaning Jagat Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., dalam mengiringi pembangunan di masyarakat, secara konsisten terus dibuktikannya. Saat itu, Selasa (16/1) pagi, Bupati Tabanan Ngupasaksi Uleman Karya Ngaben Bersama Sawa Pranawa Agung, Atma Wedana (Memukur) lan Manusa Yadnya Kerti Panca Pasa Pitra Yadnya Desa Adat Belayu, Marga, yang dipusatkan di Wantilan Pura Prajapati Apit Toya, Desa Adat Belayu, Marga, Tabanan.

Karya Ngaben Bersama, Pitra Yadnya yang dirangkaikan dengan Karya Manusa Yadnya, puncak upacara pada 17 Januari 2024 dan sudah dimulai sejak 25 Desember di tahun 2023 lalu. Turut dihadiri oleh Perwakilan Pj. Gubernur Bali, Ketua DPRD Provinsi Bali dan salah satu Anggota, Ketua DPRD Kabupaten Tabanan dan salah satu anggota, Asisten 2, para Kepala OPD terkait dan Kepala Bagian di lingkungan Pemkab Tabanan, beserta Camat dan unsur Forkopimcam Marga, Perbekel, Bendesa Adat serta tokoh masyarakat setempat.

Karya Agung yang dikatakan terhitung masif tersebut, dipuput oleh Ida Pedanda Gede Made Paketan dari Griya Gede Belayu dan Ida Pedanda Gede Putra Gel-Gel dari Griya Kelodan Belayu. Yang menarik dari karya Agung ini, selain dipenuhi dengan antusias warga, Karya juga dilaksanakan pertama kali dengan menggabungkan 5 banjar dan dua desa, yakni Banjar Batannyuh dan Banjar Umadiwang yang termasuk dalam Desa Batannyuh dan Banjar Pekandelan, Peken dan Gunung Siku dan termasuk ke Desa Peken, namun masih satu Desa Adat, yakni Desa Adat Belayu.

Dengan mengedepankan gotong-royong dan kebersamaan warga, Karya diikuti oleh 121 sawa gede dengan iuran yang dikenakan masing-masing sawa sebesar 4 juta rupiah. Dilanjutkan dengan peserta Ngelungah sebanyak 7 diri, dengan jumlah biaya sebesar 1,2 juta rupiah dan Meparisuda sebanyak 38 peserta dengan biaya masing-masing 1,1 juta rupiah. Tak hanya itu, karya yang juga dirangkaikan dengan upacara Manusa Yadnya tersebut diikuti oleh peserta Metelubulanan sebanyak 40 peserta dan juga Metatah atau Mesangih sebanyak 56 peserta.

Baca Juga  Konsisten Dukung Masyarakat, Bupati Tabanan ‘’Ngupasaksi Karya’’ di Desa Perean dan Desa Payangan

Di kesempatan itu, orang nomor satu di Tabanan, menyampaikan apresiasi yang sangat baik kepada warga setempat atas kerja sama yang luar biasa, mampu menyelenggarakan karya gabungan dari 2 Desa dan 5 Banjar ini. Baginya, pelaksanaan Karya Agung tidak hanya perwujudan kewajiban kita sebagai umat Hindu Bali dalam memberikan penghargaan bagi sang leluhur, namun juga sebagai bentuk pelestarian tradisi, adat, agama dan seni budaya yang ada di Tabanan.

“Hari ini, saya Bupati Tabanan datang Ngupasakasi Pitra Yadnya, pengabenan bersama yang sangat luar baisa. Karena ada sawa sampai 121 dari 2 desa dan 5 banjar, semuanya kompak bersatu. Membuktikan bahwa konsep para leluhur kita di masa lalu dalam membangun karya secara gotong-royong, tujuannya yaitu meringankan beban masyarakat. Bayangkan dengan biaya di bawah 10 juta kita sudah bisa membangun karya yang sangat agung sekali,” terang Sanjaya saat itu.

Pihaknya juga menekankan, bahwa Pemerintah selalu hadir untuk memberikan kontribusi, senantiasa mengayomi dan membantu meringankan beban masyarakat, saling bersinergi. Masyarakat berkewajiban ngewangiang leluhur dalam bentuk iuran, karena tidak boleh gratis, jadi wajib harus Meyadnya. Begitu juga Pemerintah hadir mengayomi, ini pola pendekatan gotong-royong yang luar biasa dan harapan Pemerintah agar saat masyarakat melaksanakan karya, semua bisa menjadi ringan dalam segi materi dan dilaksanakan secara tulus ikhlas.

Bersamaan dengan itu, I Nyoman Semadi selaku Ketua Panitia dan perwakilan dari masyarakat, sampaikan ucapan terimakasihnya atas kehadiran Murdaning Jagat beserta jajaran saat itu. Pihaknya juga mengakui pelaksanaan karya ini sudah rutin dilakukan dan masuk dalam Perarem Adat.

“Tujuannya penggabungan 5 banjar ini artinya agar Pitra Yadnya ini bisa dipercepat dan saya sangat menghargai sekali masyarakat semua memberikan support dan dukungan. Karya ini juga diperuntukkan bagi rakyat, untuk membantu meringankan beban masyarakat dalam melaksanakan karya,” ucapnya. (gs/bi)

Baca Juga  Pemkab Tabanan Gelar Dharma Shanti Penyepian Saka 1945

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Wawali Arya Wibawa Hadiri Rangkaian “Pengratep Karya Mamungkah” di Pura Gede Batur Sari, Pusat Kawitan Arya Tegeh Kori Desa Adat Tonja

Published

on

By

HADIRI KARYA MAMUNGKAH : Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, saat menghadiri Pengratep Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Agung, miwah Caru Balik Sumpah di Pura Gede Batur Sari, Pusat Kawitan Arya Tegeh Kori, Desa Adat Tonja, bertepatan dengan Rahina Buda Cemeng Klawu, Rabu (14/10). (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, menghadiri Pengratep Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Agung, miwah Caru Balik Sumpah di Pura Gede Batur Sari, Pusat Kawitan Arya Tegeh Kori, Desa Adat Tonja, bertepatan dengan Rahina Buda Cemeng Klawu, Rabu (14/10).

Di sela upacara, Wawali Arya Wibawa menjelaskan, pelaksanaan upacara keagamaan di Pura Gede Batur Sari ini merupakan wujud peningkatan sradha bhakti umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Apalagi di komunitas masyarakat seperti pasemetonan dan desa adat, hal ini perlu diapresiasi sebagai upaya membangun sradha bhakti melalui upakara yang dilaksanakan,” ujarnya.

Ia mengatakan, Pemkot Denpasar terus mengedepankan pemberdayaan masyarakat yang tidak terlepas dari sektor keagamaan. Yang patut diapresiasi adalah tumbuhnya kemandirian masyarakat untuk membangun kesadaran, sehingga manfaat yang diperoleh dalam penyelenggaraan upacara keagamaan dapat diwujudkan melalui Tri Guna Karya dan Satwika Karya.

Arya Wibawa juga berharap, setelah dilaksanakannya Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Agung, miwah Caru Balik Sumpah Madya di Pura Gede Batur Sari ini, seluruh umat, terutama warga dan pengempon, dapat terus meningkatkan rasa persaudaraan dan persatuan.

“Tentu pelaksanaan yadnya ini sebagai sarana peningkatan nilai spiritual sebagai umat beragama. Kami berharap upacara yadnya ini dapat memberikan energi positif dan menetralisir hal-hal negatif di lingkungan desa setempat,” katanya.

Sementara itu, Panitia Karya, I Made Oka Bagiartha, mengatakan rangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Agung, miwah Caru Balik Sumpah Madya di Pura Gede Batur Sari telah dimulai sejak 13 Oktober 2026 dan puncaknya dilaksanakan hari ini, 14 Oktober 2026, yakni Upacara Puncak Pengratep Karya yang dipuput oleh Ida Pedanda Gde Made Karang dari Griya Gede Karang Tampakgangsul.

Baca Juga  Bupati Sanjaya Apresiasi Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan untuk PSN

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wakil Wali Kota Denpasar yang sudah hadir menyaksikan upacara puncak pengratep karya dan ngaturang punia kepada kami. Semoga karya ini labda karya lan memargi antar,” ungkapnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wawali Arya Wibawa Hadiri Karya Memungkah, Ngenteg Linggih dan Padudusan Alit di Merajan Pande Wesi Desa Adat Renon

Published

on

By

HADIRI KARYA: Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, menghadiri Karya Memungkah, Ngenteg Linggih, dan Padudusan Alit di Merajan Pande Wesi, Banjar Pande, Desa Adat Renon, Kecamatan Denpasar Selatan, bertepatan dengan Rahina Buda Wage Klawu, Rabu (14/10) pagi. (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, menghadiri Karya Memungkah, Ngenteg Linggih, dan Padudusan Alit di Merajan Pande Wesi, Banjar Pande, Desa Adat Renon, Kecamatan Denpasar Selatan, bertepatan dengan Rahina Buda Wage Klawu, Rabu (14/10) pagi.

Turut mendampingi, Camat Denpasar Selatan I Kadek Ermanto, Lurah Renon I Gede Suweca, Kabag Kesra Setda Kota Denpasar I Putu Agus Jayadi, serta tokoh masyarakat setempat.

Wawali Arya Wibawa menyambut baik pelaksanaan karya yang dipuput oleh Sri Mpu Griya Taman Punggul, Abiansemal tersebut.

“Semoga dengan lancarnya pelaksanaan karya ini yang dilaksanakan dengan kebersamaan dan rasa tulus ikhlas, dapat memberikan berkah kerahayuan bagi masyarakat pengempon, sejalan dengan spirit Vasudhaiva Kutumbakam,” ucapnya.

Ia menambahkan, sinergi Pemerintah Kota Denpasar dengan masyarakat dalam mewujudkan spirit Vasudhaiva Kutumbakam atau semangat gotong-royong inilah yang membingkai jati diri Kota Denpasar sebagai kota berbasis kebudayaan.

Ketua Panitia Karya, Made Budana, menjelaskan rangkaian karya dimulai sejak 30 September 2026 melalui Nuasen Karya. Dilanjutkan 11 Oktober 2026 Mendak Nuntun Dewa Hyang ring Pura Dalem Puri, dan 13 Oktober 2026 Melasti ke Segara.

Puncak karya dilaksanakan hari ini, Rahina Buda Wage Klawu, 14 Oktober 2026. Sementara upacara Nyineb Karya dan Nyegara Gunung di Pura Goa Lawah akan dilaksanakan pada 17 Oktober 2026 mendatang.

“Kami berharap pelaksanaan karya dengan rasa tulus ikhlas ini dapat memberikan kebaikan bagi warga kami dalam mendukung pembangunan di Kota Denpasar,” ujarnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Bupati Giri Prasta Hadiri ‘’Karya Ngodak Tapakan’’ Pura Desa Banjar Kiadan Petang
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Sanjaya Apresiasi Semangat Gotong-royong Krama Kembang Merta dalam Pelaksanaan Karya Pitra Yadnya

Published

on

By

Bupati Tabanan Hadiri Karya Pelebon dan Memukur
HADIRI KARYA: Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya beserta jajaran saat menghadiri pelaksanaan Karya Pelebon Sawa Prateka lan Memukur di Desa Adat Kembang Merta di Bale Subak Abian Taman Giri Merta, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Senin (12/10). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Semangat gotong-royong dan ketulusan dalam menjalankan kewajiban beragama menjadi wujud nyata keharmonisan sekala dan niskala di tengah masyarakat. Hal tersebut tercermin dalam pelaksanaan Karya Pelebon Sawa Prateka lan Memukur di Desa Adat Kembang Merta, yang dihadiri Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya beserta jajaran di Bale Subak Abian Taman Giri Merta, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Senin (12/10).

Turut hadir Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, Sekda Kabupaten Tabanan, anggota DPRD Kabupaten Tabanan, kepala perangkat daerah terkait, Camat Baturiti beserta unsur Forkopimcam, pimpinan DTW Ulun Danu dan The Blooms, perbekel, bendesa adat, serta masyarakat setempat. Karya Pitra Yadnya ini diikuti 26 sawa dengan biaya Rp 16 juta per sawa, termasuk 14 sawa ngelangkir dan 4 sawa ngelungah. Rangkaian upacara juga mencakup Manusa Yadnya yakni metatah yang diikuti 58 orang dengan biaya Rp 300 ribu per orang, serta nelubulanin/mepetik sebanyak 16 orang. Kegiatan yang melibatkan masyarakat dari 480 kepala keluarga ini mencapai puncaknya pada Selasa (13/10), dengan upacara dipuput oleh Ida Pedanda Griya Bukit Kembang Merta.

Dalam sambutannya, Bupati Sanjaya mengapresiasi krama Desa Adat Kembang Merta yang telah melaksanakan kewajiban beragama melalui Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya. Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Tabanan senantiasa mendukung pelaksanaan yadnya sebagai bagian dari upaya menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat, sejalan dengan visi pembangunan daerah dan Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

“Esensi yadnya tidak diukur dari besarnya materi yang dihabiskan, melainkan dari ketulusan, keikhlasan, dan semangat gotong-royong krama dalam melaksanakannya. Seberat apa pun yadnya, jika dilaksanakan bersama-sama, pasti dapat diselesaikan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Bupati Sanjaya menjelaskan bahwa pelaksanaan yadnya merupakan wujud tanggung jawab umat Hindu dalam menjalankan ajaran Tri Rna, khususnya membayar utang kepada leluhur dan orang tua. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya sebagai bagian dari keharmonisan sekala dan niskala serta implementasi nilai Tri Hita Karana.

Menurutnya, yadnya yang dilaksanakan dengan tulus, didukung semangat gotong-royong, serta dipuput oleh sulinggih dan disaksikan murdaning jagat dalam hal ini, unsur pemerintah, akan menjadi karya yang satwika, utamaning utama. Komitmen tersebut senantiasa diwujudkan melalui kehadiran dan dukungan Pemerintah Kabupaten Tabanan terhadap masyarakat dalam menjalankan kegiatan keagamaan.

Baca Juga  Upacara HUT Kota Tabanan Ke-530 Berlangsung Khidmat

Sementara itu, Ketua Panitia I Nyoman Widastra, menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan dukungan Bupati Tabanan beserta jajaran dalam pelaksanaan karya tersebut. Ia mengapresiasi perhatian pemerintah daerah yang senantiasa hadir mendukung kegiatan adat dan keagamaan masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Tabanan beserta jajaran yang telah hadir sebagai murdaning jagat sekaligus memberikan dukungan dalam pelaksanaan Karya Pitra Yadnya ini,” ungkapnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca