Badung, baliilu.com – Memasuki hari kelima kasus kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Bali mulai terasa memukul operasional industri pariwisata. Sejumlah agen perjalanan kesulitan menyediakan kendaraan untuk menjemput dan mengantar wisatawan ke berbagai destinasi.
Dampak nyata dirasakan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kabupaten Tabanan. Kunjungan wisatawan ke destinasi unggulan Tabanan tersebut dilaporkan merosot tajam hingga hampir 50 persen, setelah sebelumnya turun sekitar 30 persen (Rabu, 14 Oktober 2026, red).
Ketua DPC Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Kabupaten Tabanan sekaligus Manajer Operasional DTW Jatiluwih, I Ketut Purna, mengatakan kelangkaan BBM membuat wisatawan kesulitan mencapai destinasi wisata Jatiluwih.
Kondisi itu terjadi, ungkap Ketut Purna yang akrab disapa John Purna, karena sejumlah sopir dan agen perjalanan tidak memiliki cukup BBM untuk mengoperasikan kendaraan pengangkut wisatawan. Bahkan, beberapa karyawan DTW Jatiluwih dilaporkan tidak dapat masuk kerja akibat persoalan serupa.
“Kita benar-benar merasa dirugikan dengan dampak kelangkaan BBM yang ada di Bali. Dan saya yakin, bukan di tourism saja, suplai makanan juga kayaknya kita akan masalah banget di Bali, kalau terus kelangkaan ini berjalan,” ujar John Purna, praktisi dan tokoh pariwisata senior Bali, memberikan keterangan di sela-sela pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XV ASITA Bali Tahun 2026 dengan mengusung tema Repositioning the Future of Tourism di InterContinental Bali Resort, Jimbaran, Badung, Jumat (16/10/2026).
Menurut John Purna, pihaknya tidak memiliki banyak pilihan untuk mengantisipasi situasi tersebut. Sebab, persoalan utama bukan terletak pada kesiapan pengelola destinasi, melainkan ketidakmampuan wisatawan dan pengemudi untuk melakukan perjalanan akibat keterbatasan BBM.
Oleh karena itu, John Purna berharap pemerintah dan pemangku kebijakan segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan pasokan BBM di Bali, mengingat pulau ini merupakan destinasi pariwisata bertaraf internasional.
John Purna menilai sektor pariwisata menjadi salah satu bidang yang paling merasakan dampak kelangkaan BBM, terutama ketika mobilitas wisatawan terganggu.
“Memang reservasi yang paling banyak kemarin ke Jatiluwih itu kan datang dari wisatawan domestik. Tapi memang dari reservasi, saya dengar dari restoran yang ada di Jatiluwih yang masuk itu memang banyak sekali juga ada pembatalan untuk datang ke Jatiluwih. Karena alasan utama, yaitu tidak punya amunisi untuk datang karena tidak ada mobil yang dipakai untuk memuat tamunya ke situ. Itu info cancel dari guide atau travel agent-nya,” ucap John Purna.
Ia berharap situasi segera membaik sehingga aktivitas perjalanan wisata dapat kembali normal. Berdasarkan pengamatannya, kondisi ketersediaan BBM mulai menunjukkan perubahan dibandingkan dua hingga tiga hari sebelumnya. Meski demikian, John Purna masih menunggu perkembangan kunjungan wisatawan untuk memastikan apakah penurunan tersebut dapat ditekan.
“Tapi mudah-mudahan hari ini kita lihat ada perubahan, besok mungkin saya akan kasih statement lagi tentang penurunan. Mudah-mudahan kemarin saya lihat kunjungannya sudah hampir 50 persen turun, dari 30 persen dua hari yang lalu,” kata John Purna.
Bertahan di Hotel
John Purna menjelaskan, wisatawan yang berkunjung ke DTW Jatiluwih didominasi turis asal negara-negara Eropa. Gangguan transportasi akibat kelangkaan BBM berpotensi memengaruhi pengalaman wisatawan selama berada di Bali.
John Purna menegaskan, pembatalan kunjungan ke Jatiluwih bukan berarti wisatawan mengalihkan perjalanan ke destinasi lain. Sebagian wisatawan justru terpaksa tetap berada di hotel karena tidak tersedia kendaraan dengan BBM yang cukup untuk mengantarkan mereka berwisata.
“Tamu itu berhenti di hotel. Itu kan dampaknya jelek banget. Dia sebenarnya ke Bali untuk berkunjung ke objek wisata yang ada di Bali, tapi sekarang tidak bisa. Ini sebenarnya komplain dari tamu sudah mulai banyak,” terangnya.
Menurutnya, situasi tersebut tidak hanya merugikan pengelola objek wisata, tetapi juga berpotensi mencoreng citra Bali di mata wisatawan internasional.
John Purna mengingatkan bahwa Bali saat ini bersaing dengan berbagai destinasi di kawasan Asia Tenggara, seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand. Karena itu, persoalan mendasar yang menghambat mobilitas wisatawan harus segera ditangani agar tidak memengaruhi kepercayaan pasar internasional.
“Nama Bali juga akan jelek. Saat ini, sebenarnya kita bersaing bukan antara pulau di Indonesia saja, sebenarnya kita bersaing banget dengan negara seperti Vietnam, Malaysia, Thailand, dan lain sebagainya. Ini akan jelek banget mata Bali di dunia internasional,” ucap John Purna.
Untuk itu, John Purna meminta pemerintah, khususnya pihak yang berwenang menangani distribusi BBM, segera menyelesaikan persoalan tersebut sebelum dampaknya semakin meluas ke berbagai lini usaha pariwisata.
Dorong Langkah Bersama
Di tengah kondisi tersebut, John Purna berharap Musda XV ASITA Bali dapat menjadi momentum bagi para pelaku industri pariwisata untuk memperkuat kekompakan dan menyuarakan persoalan yang tengah dihadapi Bali.
John Purna menilai diperlukan koordinasi dan langkah bersama agar persoalan kelangkaan BBM mendapat perhatian serius di tingkat daerah maupun nasional.
“Tapi, kalau kita nih kan satu tujuan. Padahal kan ada wakil rakyat di Bali. Nanti kita akan ngomongin disini, di dalam Musda. Ini kan sudah krusial sekali dampaknya bagi kita,” kata John Purna.
Sementara itu, terkait keberadaan PUTRI di Kabupaten Tabanan, John Purna menyebut organisasi tersebut menaungi sekitar 10 hingga 13 pengelola daya tarik wisata, termasuk destinasi yang dikelola dalam skala lebih kecil.
John Purna menjelaskan, kepengurusan PUTRI Tabanan melibatkan sejumlah pengelola destinasi wisata, di antaranya Tanah Lot dan Ulun Danu.
Dengan meluasnya dampak kelangkaan BBM, John Purna berharap pemerintah segera memastikan ketersediaan bahan bakar agar mobilitas wisatawan, operasional destinasi, serta kegiatan ekonomi yang bergantung pada sektor pariwisata dapat kembali berjalan normal. (gs/bi)