Wednesday, 22 May 2024
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Dari Talkshow “Belanja Praktis dengan QRIS”, Trisno Nugroho: Februari 2020 Merchant QRIS Sudah Tembus 60 Ribu Lebih

BALIILU Tayang

:

de
TRISNO NUGROHO DAN AMERIZA M. MOESA

Denpasar, baliilu.com – Meski baru diluncurkan Bank Indonesia pada, 17 Agustus 2019 lalu, namun perkembangan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) demikian pesat. Di Bali saja hingga Februari ini tercatat merchant yang sudah masuk QRIS menembus 60 ribu lebih dan pada akhir tahun 2020 ditargetkan mencapai 100 ribu merchant QRIS.

“Merchant ini tidak hanya sebatas pedagang atau penjual barang dan jasa, tetapi juga tempat ibadah, kantin dan koperasi di lingkungan sekolah/universitas hingga destinasi wisata,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho pada acara talkshow dengan tema “Belanja Praktis dengan QRIS”, Rabu (26/2-2020) di Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) Lumintang Denpasar.

Talkshow “Belanja Praktis dengan QRIS” yang diikuti sekitar 500 peserta sebagian besar ibu-ibu PKK dan milenial, juga dirangkai dengan seminar “QRIS dan Lembaga Keuangan Mikro” yang akan digelar, Kamis (27/2-2020). Di acara ini juga berlangsung pameran “UMKM QRIS dan Perbankan” untuk dapat secara langsung bertransaksi menggunakan QRIS. Talkshow menghadirkan narasumber di antaranya dari Kantor Pusat Bank Indonesia, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar, dan Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Provinsi Bali.

TALKSHOW: Dihadiri ibu-ibu PKK dan Milenial.

Trisno Nugroho menegaskan target 100 ribu merchant QRIS tahun 2020 optimis bisa diwujudkan. Pasalnya mengingat manfaat ‘UNGGUL’ yang dimiliki yakni Universal, Gampang, Untung, dan Langsung. “Dengan adanya talkshow ini, besar harapan kami masyarakat baik dari sisi pengguna maupun merchant akan lebih paham dan tidak khawatir untuk menggunakan QRIS dalam bertransaksi,” jelas Trisno.

Untuk mencapai target itu, berbagai upaya dilakukan seperti yang dilakukan saat ini berupa sosialisasi kepada ibu-ibu (PKK) dan milenial. Pasalnya dalam rumah tangga pengelola keuangan kebanyakan di tangan ibu-ibu, jadi segmen ini yang dituju. “Yang pegang duit kebanyakan ibu-ibu. Di rumah, istri saya yang belanja segala kebutuhan. Jadi ibu-ibu yang harus paham dengan QRIS ini,” tegas Trisno seraya menambahkan setelah meng-QRIS-kan Denpasar, kemudian akan meng-QRIS-kan Buleleng, Badung dan seterusnya.

Kata Trisno, Bali akan terus didorong dan kini merchant yang sudah di-QRIS-kan membuat Bali masuk peringkat kesembilan dari 34 provinsi di Indonesia. ‘’Kita tahu, Bali backgroundnya adalah UMKM dan kita akan sasar seluruh UMKM akan kita QRIS-kan,’’ ujar Trisno.

de
AMERIZA M. MOESA: Manfaat QRIS di antaranya tidak dibebani oleh beaya-beaya yang besar karena modalnya hanya stiker.

Sementara itu Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Ameriza M. Moesa mengatakan penetrasi QRIS di Indonesia saat ini sudah mencapai 2,8 juta dan hampir 100 persen merchant sudah menerapkan QRIS. Dikatakan QRIS ini sudah merupakan trend global. Banyak negara yang sudah menerapkan seperti Cina dan India. Dan Indonesia menjadi negara ketiga yang memakai QRIS. “Jadi kita bukan asal ikut-ikutan,” tegas Ameriza M Moesa.

Namun diingatkan pula merchant yang banyak ini harus pula diimbangi dengan jumlah penggunanya (konsumen). “Jangan sampai yang pakai hanya sedikit,” tambahnya.

Menurutnya QRIS bagi merchant memberi banyak manfaat di antaranya tidak dibebani oleh beaya-beaya yang besar karena modalnya hanya stiker, akan memperluas akses pasar, memudahkan operasional yakni mengurangi kebutuhan akan uang fisik untuk kembalian dalam transaksi, mengurangi resiko uang palsu karena tidak memakai uang tunai dalam bertransaksi secara otomastis akan mengurangi resiko menerima uang palsu, tidak perlu melakukan penghitungan uang secara manual yang cukup memakan waktu, meningkatkan keamanan karena berkurangnya uang tunai yang mengendap di perusahaan dapat mengurangi resiko pencurian uang, meningkatkan image positif dimana fasilitas dan kemudahan yang diberikan customer akan meningkatkan image positif perusahaan di mata costumernya.

Juga dari sisi kesehatan. Seperti Tiongkok yang kini membatasi uang tunai karena dampak virus corona bisa menjadi media penyaluran virus, sehingga otomatis tingkat kesehatan lebih baik.

Terakhir yang lebih penting keuangan inklusif yang selama ini merchant tidak punya akses ke rekening dan dengan menggunakan QRIS akses merchant UMKM terhadap bank akan makin terbuka. Dari sisi konsumen juga dimudahkan seperti tak harus banyak bawa uang cash, uang recehan dan tanpa kartu kredit sudah bisa bertransaksi.

Sosialisasi QRIS di Bali saat ini cukup gencar. Untuk merchant pedagang sangat bervariasi, mulai pedagang di pusat-pusat perbelanjaan modern, pedagang UMKM khas daerah, bahkan hingga pedagang pasar tradisional yang saat ini sudah bisa dijumpai di pasar-pasar rakyat dan di sejumlah pasar tradisional lainnya di kabupaten. (balu1)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Survei April 2024, Penjualan Eceran Bali Diprakirakan Terus Tumbuh

Published

on

By

penjualan eceran bali
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Kinerja penjualan eceran di Provinsi Bali pada April 2024 diprakirakan melanjutkan peningkatan dari bulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali pada April 2024 yang diprakirakan sebesar 110,7 atau meningkat 9,6% (yoy) dibandingkan bulan April 2023.  Hal ini mencerminkan kinerja penjualan eceran di Provinsi Bali masih tetap terjaga atau berada di level optimis (>100).

Peningkatan IPR ini didorong oleh kegiatan konsumsi masyarakat pada periode Bulan Ramadhan hingga Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri. IPR Bali terus dalam tren peningkatan selama 14 (empat belas) bulan terakhir. Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arahan pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menyampaikan meningkatnya penjualan eceran tersebut didorong oleh pertumbuhan Sub Kelompok Sandang yang meningkat sebesar 4,7% (mtm), Kelompok Barang Lainnya sebesar 3,4% (mtm) dan Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi sebesar 3,1% (mtm). Hal ini sejalan dengan peningkatan kegiatan masyarakat pada saat periode HKBN Idul Fitri dan kuatnya daya beli karena adanya tambahan tunjangan hari raya (THR) bagi para pekerja dan banyaknya program potongan harga menjelang Lebaran.

Sementara itu, terdapat kelompok barang yang terkontraksi menahan penguatan penjualan eceran yakni pada Kelompok Barang Peralatan Informasi dan Komunikasi sebesar -3,5% (mtm) dan kelompok barang Suku Cadang dan Aksesori sebesar -1,4% (mtm). Dari sisi harga, tekanan inflasi pada Juni 2024 diprakirakan menurun, tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 bulan mendatang tercatat sebesar 198,0 lebih rendah dari IEH bulan sebelumnya sebesar 200,0.

Dalam menjaga kinerja penjualan eceran dan tingkat konsumsi masyarakat, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bali senantiasa berkoordinasi erat dalam menjaga stabilitas harga komoditas agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan ekonomi Bali tetap tumbuh kuat. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Survei Konsumen April 2024: Optimisme Meningkat, Perekonomian Menguat

Published

on

By

survei konsumen bali
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi Bali semakin membaik. Survei Konsumen Bank Indonesia pada April 2024 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi Bali meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Provinsi Bali di bulan April 2024 yang tercatat sebesar 144,5 meningkat dibandingkan periode Maret 2024 yang tercatat 142,0 dan tetap terjaga pada area optimis (indeks > 100).

Optimisme konsumen yang meningkat disebabkan oleh adanya Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri pada April 2024. Peningkatan IKK Bali pada April 2024 sejalan dengan kondisi IKK nasional yang tercatat meningkat sebesar 127,7 dibandingkan periode bulan sebelumnya sebesar 123,8. Survei Konsumen merupakan survei bulanan Bank Indonesia untuk mengetahui keyakinan konsumen mengenai kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen terhadap kondisi perekonomian ke depan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja menyampaikan bahwa meningkatnya terjaganya optimisme keyakinan konsumen di Bali pada April 2024 ditopang oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Meningkatnya IKE dipengaruhi oleh peningkatan salah satu komponen pembentuknya yaitu Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja dari sebelumnya 145,0 menjadi 151,0. Sementara itu peningkatan IEK dipengaruhi oleh peningkatan seluruh komponen pembentuknya, terutama pada Ekspektasi Kegiatan Usaha dari sebelumnya 147,0 menjadi 154,5, dan Ekspektasi Lapangan Kerja dari sebelumnya 144,50 menjadi 151,0.

Selain itu, Ekspektasi Penghasilan juga meningkat dari sebelumnya 146,5 menjadi 148,5. Ekspektasi konsumen yang meningkat di masa mendatang mempengaruhi perkembangan konsumsi rumah tangga ke depan dan membuka peluang mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang lebih kuat. ‘’Hal ini tetap perlu diiringi dengan sejumlah langkah untuk untuk menjaga daya beli Masyarakat,’’ ujar Erwin.

Untuk itu Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Bali melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Bali berkoordinasi erat guna menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas guna menjaga tingkat inflasi Provinsi Bali tetap pada rentang kisaran target. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Belanja Negara Berkualitas, Tingkatkan Ketahanan Fiskal

Published

on

By

belanja apbn
KONFERENSI PERS: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati saat konferensi APBN Kita edisi April 2024 hari ini, Jumat (26/4) di kantor Kementerian Keuangan, di Jakarta.  (Foto: kemenkeu.go.id)

Jakarta, baliilu.com – Belanja negara yang berkualitas merupakan bentuk kehadiran negara melalui dukungan APBN untuk penguatan ekonomi sekaligus meningkatkan ketahanan fiskal.

Dalam hal ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa pada kuartal pertama tahun 2024, pemerintah pusat telah membelanjakan anggaran sebesar Rp 427,6 triliun atau 17,3 persen dari target APBN. Angka ini menunjukkan kenaikan yang signifikan sebesar 23,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menurutnya, kenaikan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk aktivitas penyelenggaraan Pemilu.

“(Selain itu) Kemudian juga ada beberapa bantuan sembako pangan. Dan kalau kita lihat realisasi subsidi juga cukup besar mempengaruhi dari sisi belanja non Kementerian/Lembaga (K/L) kita,” ungkapnya pada konferensi APBN Kita edisi April 2024 hari ini, Jumat (26/4) di kantor Kementerian Keuangan, di Jakarta.

Selanjutnya, Menkeu menjelaskan bahwa hingga akhir Maret 2024, belanja K/L telah mencapai 20,4 persen dari pagu yang telah ditetapkan yaitu Rp 222,2 triliun. Dimana terjadi peningkatan signifikan pada komponen belanja pegawai sebesar 42,8 persen dibanding periode yang sama dari tahun sebelumya. Utamanya dikarenakan kenaikan gaji pegawai dan pensiunan, serta pemberian penuh 100 persen tukin pada THR.

Selain belanja pegawai, Menkeu juga menyebut terdapat kenaikan pada belanja barang hingga mencapai Rp 80,6 triliun atau 38,9 persen, disebabkan belanja operasional terkait Pemilu. Sementara, belanja modal dan bantuan sosial juga dikatakan Menkeu menunjukan kenaikan yang cukup impresif dibandingkan tahun sebelumnya.

“Untuk belanja bansos yang mencapai Rp 43,3 triliun, ada kenaikan dari tahun lalu yang base-nya rendah yaitu Rp 35,9 triliun,” sambung Menkeu.

Sementara, selain belanja K/L juga terdapat belanja non K/L yang realisasinya sudah mencapai Rp 205,4 triliun atau setara 14,9 persen dari pagu. Menkeu menyebut, pemberian subsidi dan kenaikan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi penyumbang terbesar dalam realisasi belanja tersebut.

“Debitur KUR jumlah orangnya meningkat 937,4 (ribu) dan itu cukup baik karena memang kita berharap akan lebih banyak dan lebih merata, jadi naiknya 88,6 persen,” ucapnya. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca