Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Desa Adat Kota Tabanan Gelar Upacara Tawur Gempang, Harapkan Keseimbangan Jagat

BALIILU Tayang

:

TAWUR: Pemkab Tabanan menggelar Upacara Tawur Nawa Gempang yang diadakan di Catus Pata Kota Tabanan oleh Desa Adat Kota Tabanan, Senin (17/2). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Upacara Tawur Nawa Gempang yang diadakan di Catus Pata Kota Tabanan oleh Desa Adat Kota Tabanan, Senin (17/2) mendapat perhatian besar dari masyarakat setempat.

Bupati Tabanan, yang diwakili oleh Plt. Asisten III Kabupaten Tabanan, I Nyoman Gede Gunawan, hadir dalam pelaksanaan acara sakral ini. Upacara tersebut memiliki makna mendalam, yaitu untuk memohon dan menjaga keseimbangan jagat/alam serta mengembalikannya agar tetap berkesinambungan.

Tawur Nawa Gempang sendiri merupakan bagian dari rangkaian upacara adat yang memiliki tujuan untuk menjaga keharmonisan antara alam, manusia, dan Tuhan. 

“Melalui upacara ini, kita memohon agar keseimbangan alam tetap terjaga, sehingga kehidupan dapat berjalan harmonis dan berkelanjutan,” ujar Gunawan saat itu meneruskan harapan Bupati Tabanan, Sanjaya. Menurutnya, upacara ini juga merupakan wujud rasa syukur atas segala anugerah yang diberikan oleh alam.

Dalam upacara tersebut, nampak pula kehadiran sejumlah Perangkat Daerah terkait di lingkungan Pemkab Tabanan, di mana kehadiran mereka menunjukkan dukungan penuh terhadap pelaksanaan ritual yang merupakan bagian dari tradisi adat Bali ini. Selain itu, para perbekel dan bendesa adat setempat juga hadir memberikan penghormatan.

“Keberadaan kita di sini adalah bentuk sinergi antara pemerintah dan masyarakat untuk menjaga tradisi yang sudah turun temurun,” imbuh Gunawan.

Upacara Tawur Nawa Gempang ini juga menarik perhatian masyarakat yang datang untuk menyaksikan dan turut serta dalam mendoakan agar Tabanan senantiasa diberikan kedamaian serta kesejahteraan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ritual spiritual semata, tetapi juga menjadi ajang untuk mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kearifan dan tradisi lokal.

Lebih lanjut, Pemkab Tabanan menghimbau agar seluruh elemen masyarakat terus menjaga hubungan baik, khususnya dengan alam. Pihaknya juga menekankan pentingnya menjaga alam dan warisan budaya agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang, sekaligus harapan ini mencerminkan komitmen bersama dalam menjaga kelestarian alam dan budaya Bali, serta memastikan tradisi Tawur Nawa Gempang terus dilaksanakan dengan penuh rasa hormat dan makna. (gs/bi)

Baca Juga  Walikota Jaya Negara Hadiri “Karya Tawur” di Pura Kahyangan dan Mrajapati Desa Adat Sumerta

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri “Karya Ngenteg Linggih” di Pura Dalem Kedatuan Kesiman

Published

on

By

Pura Dalem Kedatuan Kesiman
HADIRI KARYA: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat menghadiri Karya Padudusan Alit, Ngenteg Linggih, dan Pecaruan Wreshpati Kalpha di Pura Dalem Kedatuan Kesiman, bertepatan dengan rahina Anggara Kliwon Medangsia, Selasa (7/7). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Karya Padudusan Alit, Ngenteg Linggih, dan Pecaruan Wreshpati Kalpha di Pura Dalem Kedatuan Kesiman, bertepatan dengan rahina Anggara Kliwon Medangsia, Selasa (7/7). Dalam kesempatan tersebut Walikota Jaya Negara turut Ngelingga Tangan atau menandatangani Prasasti Karya Padudusan Alit, Ngenteg Linggih, dan Pecaruan Wreshpati Kalpha di Pura Dalem Kedatuan Kesiman yang beberapa bagian pura baru selesai dipugar, serta ngelinggihang Ida Bhetara Ssuhunan di bale tajuk dan ngaturang punia.

Tampak hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Surya Antara, Camat Denpasar Timur, Ketut Sri Karyawati beserta tokoh agama dan masyarakat setempat.

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara di sela upacara mengatakan, pelaksanaan upacara keagamaan di Pura Dalem Kedatuan Kesiman ini adalah salah satu bentuk meningkatkan sradha bhakti umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

“Apalagi di komunitas masyarakat seperti pesemetonan dan desa adat perlu diapresiasi bagaimana membangun sradha bhakti masyarakat melalui upakara yang dilaksanakan,” ujarnya.

Dikatakannya, mengenai pelaksanaannya, Pemkot Denpasar terus mengedepankan pemberdayaaannya yang tidak terlepas dari sektor keagamaan. Namun demikian, yang juga patut diapresiasi adalah muncul kemandirian masyarakat untuk memunculkan kesadaran. Sehingga manfaat yang diperoleh dalam penyelenggaraan upacara keagamaan yang dikenal dengan istilah Tri Guna Karya serta Satwika Karya.

Jaya Negara juga mengharapkan setelah dilaksanakannya upacara Padudusan Alit, Ngenteg Linggih, dan Pecaruan Wreshpati Kalpha di Pura Dalem Kedatuan Kesiman ini, seluruh umat terutama warga dan pengempon dapat terus meningkatkatkan rasa persaudaraan dan persatuan antara sesama umat.

Baca Juga  ‘’Karya Panca Wali Krama’’ di Pura Uluwatu, Sekda Adi Arnawa ‘’Melasti, Tawur, Mapakelem’’ ke Segara Labuan Sait

“Tentu pelaksanaan yadnya ini sebagai sarana peningkatan nilai spiritual sebagai umat beragama. Kami berharap ke depan upacara yadnya ini dapat memberikan energi positif yang dapat memancarkan hal positif bagi umat serta menetralisir hal- hal negatif di lingkungan desa setempat,” katanya.

Sementara Manggala Karya, Wayan Wiranatha mengatakan Karya Padudusan Alit, Ngenteg Linggih, dan Pecaruan Wreshpati Kalpha di Pura Dalem Kedatuan Kesiman dilaksanakan karena rampungnya beberapa palinggih pura yang di perbaharui.

Dimana karya ini sudah di mulai dari tanggal 5 Juni 2026 lalu dan hari ini tanggal 7 Juli 2026 dilaksanakan upacara puncak karya yang dipuput oleh Ida Peranda Gde Putra Bajing dari Griya Tegal Jingga.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Walikota Denpasar karena sudah hadir menyaksikan upacara ngenteg linggih dan meresmikan karya ini dengan Ngelingga Tangan atau menandatangani Prasasti Karya dan mepunia kepada kami. Semoga karya ini labda karya dan memargi antar,” ungkapnya. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Badung Ikuti Prosesi “Mulang Pekelem” pada Puncak “Pujawali Padudusan Agung” di Pura Luhur Uluwatu

Published

on

By

pujawali Pura Uluwatu
MULANG PEKELEM: Bupati Wayan Adi Arnawa mengikuti prosesi “Mulang Pekelem” pada puncak “Pujawali Pedudusan Agung” di Pura Luhur Uluwatu di Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Selasa (7/7). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa mengikuti prosesi Mulang Pekelem serangkaian puncak Pujawali Padudusan Agung (Catur Niri) Panca Lingga di Pura Luhur Uluwatu di kawasan Pantai Pura Luhur Uluwatu, Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Selasa (7/7).

Sebelum mengikuti prosesi Mulang Pekelem, Bupati bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti, jajaran pimpinan perangkat daerah Kabupaten Badung, Ketua TP PKK Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, Bendesa Adat Pecatu, pengemong, pengempon pura, terlebih dahulu menghaturkan bhakti ring Utama Mandala Pura Luhur Uluwatu.

Mulang Pekelem merupakan salah satu proses utama dalam pelaksanaan Tawur Balik Sumpah Agung sebagai simbol penyelarasan hubungan manusia dengan alam semesta serta persembahan suci ke tengah samudra untuk memohon keseimbangan, keselamatan, dan kerahayuan jagat. Prosesi ini dilaksanakan di kawasan Pantai Pura Luhur Uluwatu setelah seluruh rangkaian upacara utama di mandala pura selesai dilaksanakan. Puncak karya dipuput oleh Yadnyamana Karya Ida Pedanda Gede Sari Arimbawa dari Griya Sari Denpasar, Ida Pedanda Gede Putra Telaga dari Griya Telaga Sanur bersama Ida Pedanda Gede Made Darma Kerti dari Griya Saraswati, Batuan, Gianyar.

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa mengatakan, Pemerintah Kabupaten Badung berkomitmen mendukung seluruh pelaksanaan karya agung di Pura Luhur Uluwatu sebagai salah satu Pura Sad Kahyangan Jagat di Bali.

“Kami hadir bersama masyarakat sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus mendukung pelaksanaan Karya Tawur Balik Sumpah Agung. Melalui yadnya ini, kita bersama-sama memohon agar alam semesta tetap harmonis, masyarakat diberikan keselamatan, serta Kabupaten Badung senantiasa berada dalam suasana yang damai dan sejahtera,” ujarnya ditemui di sela-sela upacara.

Baca Juga  Walikota Jaya Negara ‘’Mendem Dasar’’ Serangkaian ‘’Karya Melaspas’’, ‘’Ngenteg’’ dan ‘’Tawur’’ di Pura Luhur Uluwatu

Menurutnya, pelaksanaan tawur juga menjadi bentuk doa bersama agar situasi di Kabupaten Badung, Bali, hingga Indonesia tetap aman dan kondusif, terlebih di tengah dinamika geopolitik dunia yang sedang berlangsung.

Bupati juga menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Badung dalam mendukung pelaksanaan upacara keagamaan, khususnya di Pura Luhur Uluwatu yang merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan di Bali dan berada di wilayah Kabupaten Badung. Menurutnya, dukungan pemerintah telah diberikan sejak awal rangkaian karya hingga puncak pujawali sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus wujud bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Sebagai pemerintah, tentu kami berkomitmen mendukung seluruh rangkaian pelaksanaan karya ini. Pura Luhur Uluwatu merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan yang ada di Badung, bersama Pura Luhur Puncak Mangu. Dukungan ini merupakan ungkapan rasa bhakti dan syukur kami, dengan harapan kerahajengan dan kasukertan jagat senantiasa tercipta di Kabupaten Badung,” tegasnya.

Sementara itu, Bendesa Adat Pecatu I Made Sumerta menjelaskan puncak pujawali dilaksanakan tepat pada Anggara Kliwon Medangsia dan berlangsung serentak di Pura Luhur Uluwatu beserta pura prasanaknya, yakni Pura Parerepan dan Pura Kulat.

Dia mengatakan rangkaian karya sebenarnya telah dimulai sekitar satu bulan lalu dan akan berlanjut hingga prosesi penyineban pada 14 Juli 2026. Selama tujuh hari ke depan, Ida Bhatara akan nyejer di Pura Luhur Uluwatu sebelum ditutup dengan upacara penyineban bertepatan dengan Tilem.

“Rangkaian karya sudah dimulai sekitar satu bulan lalu. Hari ini merupakan puncaknya, kemudian Ida Bhatara nyejer selama tujuh hari hingga penyineban pada 14 Juli nanti,” jelas Sumerta.

Menurut Sumerta, selama masa pujawali jumlah pemedek yang datang diperkirakan mencapai puluhan ribu orang setiap harinya. Berdasarkan perhitungan pengempon, jumlah pemedek yang melakukan persembahyangan dapat mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000 orang dalam sehari, meski pada hari puncak biasanya jumlahnya justru lebih landai karena banyak umat juga melaksanakan pujawali di sanggah maupun paibon masing-masing.

Baca Juga  Walikota Jaya Negara Hadiri “Karya Tawur” di Pura Kahyangan dan Mrajapati Desa Adat Sumerta

Untuk mengantisipasi kepadatan, pengempon pura menerapkan pengaturan khusus pelaksanaan persembahyangan. Pada hari puncak, pemedek diarahkan melakukan persembahyangan di area penyawang atau bagian bawah pura mulai pukul 08.00 hingga 18.00 Wita. Kebijakan tersebut diambil karena di Utama Mandala dan Madya Mandala sedang berlangsung rangkaian upacara dan upakara.

Selanjutnya, mulai Rabu (8/7) hingga penyineban, rangkaian penganyaran akan dilaksanakan secara bergiliran oleh masing-masing kecamatan di Kabupaten Badung. Selama prosesi penganyaran berlangsung pukul 10.00 hingga 12.00 Wita, persembahyangan umum juga tetap dipusatkan di area bawah sebelum kembali dibuka secara normal setelah rangkaian penganyar selesai.

Penglingsir Puri Agung Jro Kuta sekaligus Pengempon Pura Luhur Uluwatu, I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya alias Turah Joko, mengatakan inti dari pelaksanaan Pedudusan Agung adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala anugerah yang diberikan kepada umat.

“Hari ini adalah Padudusan Agung, di mana kita mengucapkan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berstana di Pura Luhur Uluwatu agar senantiasa memberikan kedamaian dan kesejukan bagi umat Hindu se-Nusantara, khususnya masyarakat Bali,” ujar Turah Joko. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Pemkot Denpasar “Ngaturang Bhakti Penganyar” di Pura Mandhara Giri Semeru Agung

Published

on

By

BHAKTI PENGANYAR : Jajaran Pemkot Denpasar yang dipimpin Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Sekda Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya saat melaksanakan Bhakti Penganyar serangkajan Piodalan Satunggil Warsa di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Lumajang bertepatan dengan Rahina Redite Pon Wuku Medangsia, Minggu (5/7). (Foto: Hms Dps)

Lumajang, Jatim, baliilu.com – Jajaran Pemerintah Kota Denpasar melaksanakan Bhakti Penganyar serangkaian Piodalan Satunggil Warsa di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Kabupaten Lumajang bertepatan dengan Rahina Redite Pon Wuku Medangsia, Minggu (5/7). Hadir serta berbaur bersama pemedek, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Sekda Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, serta pimpinan OPD di lingkungan Pemkot Denpasar.

Tampak pula Pangrajeg Karya yang juga Panglingsir Puri Ubud, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Anggota DPRD Kota Denpasar, I Made Mudra, Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka, Ketua TP. PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Ketua GOW Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, serta Ketua DWP Kota Denpasar, Ny. Swandewi Eddy Mulya.

Rangkaian Bhakti Penganyar diawali dengan pangilen Tari Rejang Renteng yang dibawakan oleh WHDI dan DWP Kota Denpasar serta Tari Rejang Taksu Bhuwana yang dibawakan PHDI Kota Denpasar, dilanjutkan dengan Tari Baris Gede yang dibawakan Forum Perbekel Lurah Kota Denpasar serta Topeng Wali yang dibawakan oleh Paguyuban Seniman Kota Denpasar. Dalan kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara turut andil mesolah Topeng Keras. Diiringi suara Kidung dan Gembelan, rangkaian Bhakti Penganyar berlangsung khidmat diakhiri dengan persembahyangan bersama yang dipuput Ida Pedanda Gede Dwija Padang Rata, Griya Kutri, Gianyar.

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan bahwa Piodalan Satunggil Warsa di Pura Mandhara Giri Semeru Agung ini merupakan momentum bagi seluruh masyarakat untuk selalu eling dan meningkatkan srada bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sehingga menjadi sebuah momentum untuk menjaga keharmonisan antara parahyangan, palemahan, dan pawongan sebagai impelementasi dari Tri Hita Karana.

“Dengan pelaksanaan pujawali ini mari kita tingkatkan rasa sradha bhakti kita sebagai upaya menjaga harmonisasi antara parahyangan, pawongan, dan palemahan sebagai impelementasi Tri Hita Karana,” ujar Jaya Negara.

Baca Juga  Pemkab Tabanan Dukung dan Apresiasi Pembukaan Kolaborasi Siswa Dikmaba TNI AD dan Siswa Diktukba Polri 2022

Manggala Karya, Cokorda Gede Indrayana mengatakan, Piodalan itu sendiri merupakan upacara tahunan yang diselenggarakan oleh pengempon pura dan masyarakat sekitar.

Dikatakannya, keberadaan Pura Mandhara Giri Semeru Agung merupakan momentum perpaduan antara Hindu Jawa dan Hindu Bali. Karenanya, setiap pelaksanaan Bhakti Penganyar selalu dipadukan dengan Pemkab/Pemkot di Provinsi Jawa Timur.

“Seperti hari ini Bhakti Penganyar dari Pemkot Denpasar juga dilaksanakan bersama-sama dengan Pemkab Sidoarjo dan Pemkot Surabaya,” jelasnya.

Di tahun 2026 ini, lanjut Indrayana, Piodalan di Pura Mandara Giri Semeru akan berlangsung selama 11 hari yang dimulai sejak Purnama Kasa pada Senin (29/6) lalu, hingga Jumat (10/7) mendatang. Dalam rentan waktu itu, umat Hindu yang sebagian besar dari Bali akan silih berganti datang selama 24 jam untuk melakukan persembahyangan. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca