Menparekraf Sandiaga Uno (nomor dua dari kiri) bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho (nomor dua dari kanan) meninjau proses pengeringan kakao di KTK Merta Abadi. (Foto: gs)
Jembrana, baliilu.com – Sejak berdiri tahun 2017, Kelompok Tani Kakao (KTK) Merta Abadi Desa Ekasari Kecamatan Melaya, Jembrana yang didukung Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Jembrana kini telah berhasil melakukan ekspor kakao dan menjadi role model bagi kelompok tani kakao di Jembrana.
Ketua KTK Merta Abadi I Kadek Suantara mengatakan, kelompok yang beranggotakan 29 orang ini menjadi role model kelompok tani kakao dengan kelompok pendamping beranggotakan 35 orang. Ada potensi luas lahan 70-an hektar, yang ditanami kakao baru 25 Ha, tetapi yang produktif menghasilkan baru 15 Ha, dimana sampai saat ini baru melakukan pengolahan biji permentasi saja.
Menparekraf dan Kepala PwBI Bali saat panen kakao. (Foto: gs)
‘’Ini memang masih kecil. Namun Maret ini kita disupport oleh pemerintah sebanyak 100 ribu bibit kakao yang digelontorkan ke kelompok karena di Desa Ekasari akan dijadikan kawasan agrowisata,” ujar Suantara, Rabu (23/2/2022) di sela launching 1 ton kakao ke Temanggung Jateng dari rencana 5 ton per minggu oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno yang didampingi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho, dan Wakil Bupati Jembrana I Gede Ngurah Patriana Krisna.
Selain menyasar pasar nasional, lanjut Suantara, KTK Merta Abadi juga telah ekspor melalui pihak ketiga ke beberapa negara seperti Prancis, Belanda, dan Jepang. Hal ini karena untuk ekspor mandiri membutuhkan sertifikasi. Dengan menjadikan Desa Ekasari sebagai Desa Organik dan adanya sertifikat organik maka ke depan bisa ekspor sendiri. Sedangkan sebagai kawasan agowisata, KTK Merta Abadi akan melakukan edukasi kakao kepada teman-teman kelompok yang ingin belajar menanam kakao.
Suantara memaparkan, apa yang dicapai KTK Merta Abadi hari ini tidak terlepas dari peran Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali yang telah membantu mulai dari nol sejak tahun 2017. “Peran Bank Indonesia sangat vital dari awal kita dibantu,” ujarnya.
Menparekraf dan Kepala PwBI Bali bersama anggota KTK Merta Abadi. (Foto: gs)
Dikatakan, KTK Merta Abadi dibina sejak awal dari budi daya cara bertanam tanaman organik, sampai ke hilir, disupport bibit, pupuk, pelatihan-pelatihan, bantek-bantek, alat-alat, sampai pemasaran hingga digitalisasi. ‘’Kami sangat bersyukur selalu dibina sampai akhirnya bisa berkembang dan maju seperti sekarang,’’ katanya seraya menambahkan tahun 2022 ini, Bank Indonesia melalui Program Sosial Bank Indonesia akan membantu merehab balai kelompok agar bisa dipakai untuk display, kantor dan untuk tempat pelatihan sehingga menjadikan ini tempat wisata.
Untuk menjaga kontinuitas produksi agar bisa ekspor langsung, KTK Merta Abadi membuka Pasar Minggu Kakao untuk menyerap hasil produksi kelompok di Desa Ekasari. KTK Merta Abadi membeli biji basah yang kemudian dikeringkan melalui solar drum untuk menjaga quality kontrolnya.
Melalui Kelompok Wanita Tani Candi Kesuma, hasil permentasi kakao ini juga diolah menjadi produk jadi berupa serbuk dan juga coklat batangan yang diberi label CK.
Menparekraf Sandiaga Uno bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho launching biji coklat ke Temanggung Jateng. (Foto: gs)
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengatakan apa yang sudah diraih KTK Merta Abadi merupakan hasil kolaborasi antara Bank Indonesia dengan Pemerintah Kabupaten Jembrana.
Dikatakan, pemilihan petani melalui survei yang seken-seken, saja-saja dan beneh-beneh. Artinya, petani yang sungguh-sungguh atau serius yang dipilih. ‘’Jadi kita pilih petani yang seken-seken, saja-saja dan beneh-beneh,’’ ujarnya.
Awalnya, BI dan Pemkab Jembrana melakukan pembinaan dengan memakai MA11 untuk organik tanaman. Juga melakukan pelatihan-pelatihan, memberikan bantuan sarana gudang solar drum dan mendorong KWT Candi Kesuma mengolah produksi seperti CK untuk meningkatkan nilai tambah.
Trisno menegaskan, yang menjadi penting ke depan adalah bagaimana melangkah ke pasar ekspor secara mandiri yang terkendala sertifikasi, setelah merealisasikan ke pasar domestik seperti ke Temanggung hari ini.
Wakil Bupati Jembrana Patriana Krisna menyampaikan Desa Ekasari yang memperoleh anugerah desa wisata 100 terbaik 2021, berharap bisa dikembangkan menjadi satu daerah agrowisata. Bukan hanya produksi yang kita bisa harapkan ke depan, tetapi karena mereka adalah berasal dari pelaku pariwisata, maka desa ini bisa dikembangkan menjadi objek wisata yang berhubungan dengan coklat.
Sementara, Menparekraf Sandiaga Uno menyampaikan, apa yang sudah dilakukan oleh KTK Merta Abadi merupakan bagian dari kebangkitan ekonomi dan transformasi ekonomi Bali.
Hasil olahan biji coklat yang dilakukan KWT Candi Kesuma dengan label CK. (Foto: gs)
‘’Kami di Kemenparekraf sebagai bagian dari pemerintah tentunya sangat mengapresiasi. Ini Langkah menurut saya sangat inovatif dan nanti kita akan bantu pengemasannya. Kemasan produk CK bisa diikutsertakan di program Bedahkan. Untuk ekspornya kita punya program Bangga Buatan Indonesia dan Indonesia Spice Up The World. Jadi kita ingin melepas sekali-sekali nanti coklat dari Jembrana ke mancanegara,’’ ujarnya seraya berharap tahun ini anugerah desa wisata bisa mengikutsertakan sebanyak-banyaknya desa wisata di Kabupaten Jembrana, apalagi sudah ada mesin barunya yaitu desa kreatif.
‘’Harapan kami tentunya teman-teman KTK Merta Abadi semakin sejahtera, dan juga pariwisata dan ekonomi kreatif segera pulih dan ini yang menjadi keinginan kami di pemerintah bahwa kehadiran kami berdampak positif bagi masyarakat,’’ imbuhnya.
Soal potensi yang ada, Sandiaga Uno berjanji bakal melakukan kolaborasi pentahelik. Pihaknya akan berbicara dengan wakil bupati, teman-teman di pertanian dan dunia usaha sehingga bisa mengoptimalkan potensi yang ada. Karena lahan ini tentunya memiliki peluang untuk menyejahterakan warga. ‘’Kita penting sama-sama bersinergi, berkolaborasi dan saya akan tunggu feedback, masukan dari pemangku kepentingan, stakeholder dan nanti di hilirnya membantu pengemasan dan pemasarannya. Untuk hulunya kita kolaborasikan dengan teman-teman BI dan Kementerian Pertanian,’’ ujarnya. (gs/bi)
Infografis Indek Penjualan Riil Provinsi Bali. (Foto: Hms BI Bali)
Denpasar, baliilu.com – Pada Juni 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) Provinsi Bali tetap kuat sebesar 126,4 dan masih berada di level optimis (>100). Kinerja tersebut meningkat sebesar 0,5% (mtm), terutama didorong oleh meningkatnya penjualan pada kategori Barang Budaya dan Rekreasi sebesar 2,2% (mtm), Makanan, Minuman dan Tembakau 2,0% (mtm), serta Barang Lainnya sebesar 0,5% (mtm). Penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama periode libur sekolah serta persiapan berbagai aktivitas pariwisata yang berlangsung pada musim wisata pertengahan tahun. Kinerja penjualan eceran yang tetap kuat juga sejalan dengan membaiknya fundamental perekonomian Bali. Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,78% (yoy), didukung oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas sektor pariwisata yang tetap kuat, sehingga turut menopang kinerja perdagangan dan penjualan eceran di Bali.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan kinerja penjualan eceran pada Juli 2026 diprakirakan tetap kuat. Hal ini tercermin dari IPR Juli 2026 diprakirakan tumbuh sebesar 128,7, atau meningkat 1,8% (mtm), ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori Sandang, Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Barang Budaya dan Rekreasi. Perkembangan tersebut sejalan dengan tetap kuatnya permintaan masyarakat memasuki periode ajaran baru serta momentum high season. Sementara itu, ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu September 2026 dan Desember 2026 diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) September 2026 dan Desember 2026 masing-masing sebesar 192 dan 200. Sementara itu, inflasi Bali pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,42% (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Inflasi yang tetap terkendali tersebut mendukung terjaganya daya beli masyarakat, sehingga memberikan ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk tetap tumbuh dan menopang aktivitas perdagangan eceran.
Optimisme pelaku usaha tetap terjaga sebagaimana tercermin pada Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang berada di level optimis (>100). IEP enam bulan mendatang (Desember 2026) meningkat menjadi 198 dari 190 pada survei sebelumnya. Sementara itu, IEP tiga bulan mendatang (September 2026) tercatat 184, sedikit lebih rendah dibandingkan ekspektasi Agustus 2026 sebesar 190. Meskipun mengalami moderasi jangka pendek, pelaku usaha tetap meyakini prospek penjualan ritel Bali akan meningkat, terutama didukung aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga yang masih kuat. Keyakinan pelaku usaha tersebut turut didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha Perdagangan yang hingga Juni 2026 tercatat tumbuh 1,47% (yoy).
Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga (pro stability) sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali akan terus memperkuat implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) guna mencapai inflasi yang stabil dan terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan mendukung perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)
Denpasar, baliilu.com – Pada Juli 2026, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali mengalami peningkatan sebesar 126,3 (nilai indeks > 100) dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 121,5. IKK Bali lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang tercatat sebesar 116,8. Peningkatan pada Juli 2026 didorong oleh peningkatan IKK pada masyarakat dengan kelompok pengeluaran >Rp 8 juta sebesar 32,5% (mtm), Rp 7-8 juta sebesar 12,5% (mtm), Rp 6-7 juta sebesar 7,8% (mtm), Rp 5-6 juta sebesar 11,4% (mtm), Rp 4-5 juta sebesar 9,0% (mtm), dan Rp 2-3 juta sebesar 7,2% (mtm). Meski demikian, masih terdapat moderasi keyakinan pada sebagian responden kelompok pengeluaran Rp 1-2 juta dan Rp 3-4 juta, masing-masing sebesar 2,6% (mtm) dan 10,4% (mtm). Selain itu, optimisme juga tercermin pada pekerja di sektor formal (127,3) dan sektor informal (124,8).
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa lebih detail, peningkatan IKK pada Juli 2026 didorong oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) mengalami peningkatan dari 119,3 pada Juni 2026 menjadi 122,3 pada Juli 2026 atau tumbuh sebesar 2,5% (mtm). Peningkatan IKE bersumber dari ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (132,0), penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (128,5), serta konsumsi barang tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (106,5). Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga mengalami peningkatan dari 123,7 pada Juni 2026 menjadi 130,3 pada Juli 2026 atau tumbuh sebesar 5,4% (mtm). Peningkatan terutama terjadi pada komponen perkiraan penghasilan (127,5), perkiraan ketersediaan lapangan kerja (133,0), dan perkiraan kegiatan usaha (130,5).
Achris Sarwani lanjut mengungkapkan, peningkatan IKK Bali pada Juli 2026 mencerminkan semakin kuatnya optimisme masyarakat terhadap perekonomian Bali, setelah menunjukkan tren moderasi sepanjang Semester I 2026. Kondisi tersebut sejalan dengan akselerasi pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 yang tumbuh 5,78% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Triwulan I 2026 sebesar 5,58% (yoy). Pertumbuhan tersebut juga berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29% (yoy), didukung peningkatan aktivitas konstruksi, perdagangan, pertanian, serta berlanjutnya aktivitas pariwisata pada periode libur sekolah dan rangkaian Hari Raya Keagamaan. Optimisme konsumen juga tercermin dari meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat selama periode liburan sekolah dan masih kuatnya aktivitas sektor pariwisata dan perdagangan yang mendorong peluang usaha serta penyerapan tenaga kerja di Bali. Menguatnya keyakinan konsumen ini menjadi sinyal positif bagi prospek konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi Bali ke depan, seiring dengan semakin baiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi perekonomian.
Achris Sarwani menegaskan bahwa menguatnya keyakinan konsumen juga ditopang oleh terjaganya daya beli masyarakat di tengah perkembangan harga yang kondusif. Inflasi Bali pada Juli 2026 tetap rendah dan berada dalam rentang sasaran nasional. Kondisi tersebut didukung oleh terjaganya pasokan serta menurunnya harga sejumlah komoditas pangan strategis. Kondisi tersebut turut memperkuat persepsi positif masyarakat terhadap kemampuan konsumsi dan prospek ekonomi ke depan.
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta sinergi dengan pemangku kepentingan terkait. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penguatan pengendalian inflasi, antara lain melalui pelaksanaan operasi pasar, pemantauan harga komoditas strategis, serta penguatan kelancaran distribusi pangan guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia juga menetapkan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. Sinergi bauran kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi tetap rendah dan stabil sehingga menciptakan fondasi yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan. (gs/bi)
Denpasar, baliilu.com – Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali mengindikasikan harga property residensial di pasar primer pada triwulan II 2026 mengalami peningkatan. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (HPR) pada triwulan II 2026 yang tumbuh sebesar 1,02% (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode triwulan I 2026 sebesar 0,87% (yoy).
Peningkatan IHPR Provinsi Bali utamanya disebabkan oleh kenaikan harga jenis properti menengah (luas bangunan antara 36 m² sampai dengan 70 m²), dan besar (luas bangunan> 70 m²) yang masing-masing meningkat sebesar 1,52 % (yoy), dan 0,82% (yoy).
Pada triwulan II 2026, pertumbuhan IHPR terutama dipicu oleh kenaikan harga bangunan yang dipengaruhi oleh peningkatan biaya faktor produksi. Sebanyak 81,3% responden menyatakan kenaikan harga bahan bangunan menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga rumah, diikuti oleh peningkatan upah tenaga kerja yang disampaikan oleh 46,9% responden. Selain itu, tekanan harga juga berasal dari peningkatan biaya perizinan, kenaikan harga BBM, serta penambahan fasilitas dan fasilitas sosial perumahan.
Di tengah tren kenaikan harga properti, para pengembang di Bali memandang sejumlah faktor masih menjadi tantangan dalam penjualan properti residensial primer. Beberapa hambatan utama tersebut meliputi tingginya suku bunga KPR, keterbatasan ketersediaan lahan, beban pajak, serta besarnya uang muka pembelian rumah.
Dari sisi pembiayaan, survei menunjukkan bahwa sumber utama pendanaan untuk pembangunan property residensial di Bali masih bersumber dari dana sendiri (develope) dengan pangsa sebesar 56,6%, dikuti oleh pinjaman bank, dana nasabah, serta pinjaman Lembaga Keuangan (LK) non bank, masing-masing sebesar 35,3%, 5,9%, dan 2,2%. Dari sisi konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih memiliki porsi terbesar atas pembelian rumah dengan porsi sebesar 67,6% dari total pembelian rumah.
Ke depan, responden memperkirakan harga properti residensial masih akan mengalami peningkatan pada triwulan II 2026. Kenaikan harga diperkirakan terjadi baik pada harga tanah maupun harga rumah, termasuk untuk rumah yang dibeli melalui skema tunai maupun KPR. Namun demikian, ekspektasi kenaikan harga tersebut relatif terbatas, sejalan dengan kehati-hatian responden dalam melakukan penyesuaian harga di tengah kondisi penjualan yang masih menghadapi berbagai tantangan. (gs/bi)