Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Digagas Ny. Putri Koster, FSBJ jadi Ruang Ekspresi dan Berkreasi bagi Seniman Kontemporer Bali

BALIILU Tayang

:

de
PEMBICARA: Seniman multitalenta Ny. Putri Suastini Koster saat menjadi pembicara tamu pada Festival Bali-Dwipantara Waskita (Seminar Republik Seni Nusantara) bertajuk “Wana-Empu-Nuswantara (Lingkungan, Keempuan dan Jejaring Seni)” secara daring pada Rabu (27/10/2021) di Denpasar.

Denpasar, baliilu.com – Seniman multitalenta Ny. Putri Suastini Koster mengatakan pemerintah mempunyai peran besar dalam menyediakan ruang-ruang berkesenian bagi para seniman terutama seniman non-tradisi di Bali.

Hal itu disampaikan pendamping Orang Nomor Satu di Bali itu saat menjadi pembicara tamu pada Festival Bali-Dwipantara Waskita (Seminar Republik Seni Nusantara)  bertajuk “Wana-Empu-Nuswantara (Lingkungan, Keempuan dan Jejaring Seni)” secara daring pada Rabu (27/10/2021) di Denpasar.

“Saya sering katakan dari dulu, jangan biarkan para seniman non-tradisi atau yang di Bali biasa disebut seniman kontemporer dibiarkan berteriak di ruang-ruang sunyi, menggeluti kesunyian tanpa riuh tepuk tangan penonton dan panggung untuk eksistensinya,”  kata Ny. Putri Koster.

Dalam seminar digagas ISI Denpasar itu, Ny. Putri Koster menuturkan bahwa sejak lama melihat ada ketidakseimbangan ruang gerak dan perhatian dari pemerintah kepada seniman kontemporer di Bali. Hingga akhirnya ia menyetuskan gagasan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) untuk mengakomodir seniman non-tradisi. “Gagasan saya agar para penyair misalnya, tidak hanya dibiarkan berteriak di warung, di rumah sendiri atau di halaman. Sayang sekali, potensi yang sangat besar di wilayah seni modern tidak ada perhatian pemerintah,” tuturnya.

“Perhatian itu penting untuk memberikan gairah kesenian yang nantinya bisa jadi ‘mercusuar’ pada seniman. Beri kami ruang gerak yang sama,” imbuhnya.

Karena itulah, Ny. Putri Koster bersyukur Gubernur Bali  dapat menangkap gagasan itu yang kemudian digodok bersama para ahli, akademisi dan tim untuk merancang dan mewujudkan FSBJ. “Yang penting ada ruang dulu, kita buka ruang 100 persen untuk kreativitas seniman atau pelaku seni non-tradisi. Itu yang bisa saya persembahkan kepada teman-teman seniman kita di Bali. Membuka ruang pada karyanya supaya bisa tampil, bisa diapresiasi penonton,” kata Ny. Putri Koster.  “Tak hanya penyair, sastrawan, teater modern hingga musik dengan beragam genrenya bisa tampil untuk pembelajaran dan kreativitas,” tambahnya.

Ny. Putri Koster pun berharap dengan keberadaan FSBJ para seniman yang tampil akan bisa semakin mumpuni, semakin modern dengan perkembangan terkini serta bisa mandiri. “Dan jangan dilupakan untuk bisa kembali ke jati dirinya, berkepribadian secara budaya, menerapkan isi dari Tri Sakti Bung Karno,” harap Ny. Putri Koster. “Mumpung FSBJ ini masih baru berjalan, mari kita semua pemerintah bersama akademisi, seniman untuk menjaga bersama agar festival ini bisa berjalan sesuai dengan koridornya,” pintanya.

Menutup paparannya dihadapan ratusan peserta yang hadir secara daring, wanita yang juga dikenal sebagai pembaca puisi ulung ini juga mengharapkan ke depannya ke-empu-an seorang seniman, agar bisa ngempu (ngemong, red) orang-orang  di sekitarnya, memberikan vibrasi positif lewat karya-karyanya, agar berperan menjadikan kehidupan yang damai dan harmonis.

“Seniman dengan karya-karyanya, pemerintah membantu dengan wahananya, sehingga bisa tampil dan membawa pengaruh pada pembangunan anak bangsa dan Bali khususnya secara sekala niskala sesuai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Bangunkan kesadaran, buatlah hidup yang menghidupi banyak orang,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama pembicara kunci seminar Prof. M. Alie Humaedi dari Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, Badan Riset dan Inovasi Nasional RI senada dengan Ny. Putri Koster juga mengharapkan para seniman tidak hanya dibiarkan di ruang sunyi tanpa panggung untuk mempertunjukkan eksistensinya, atau yang dalam bahasa Prof. Alie disebut ruang sunyil (ruang keangkerannya). “Ruang sunyil, ruang kesendirian, ruang kesepian dalam seni sama saja dengan jalan menuju kepunahan, jalan untuk melestarikannya adalah dengan meramaikannya,” tandasnya.

Prof. Alie juga mengungkapkan, festival-festival yang digelar secara terpola dan terencana merupakan sebuah bagian besar dari revolusi kesenian yang nantinya akan memperkuat posisi seni di dalam gempuran ‘mega tren’ dunia. “Jadi seni tidak boleh dibiarkan di ruang kesendiriannya. Tidak hanya berhenti di ruang pameran tapi harus ada di ruang-ruang media sosial. Dan festival adalah wadah bagi ekosistem kesenian dan pemanfaatan digital media adalah harapan sekaligus tantangan bagi revolusi kesenian,’’ terangnya.

Akademisi Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta ini pun menekankan pada proses komodifikasi pada seni dan tradisi, dengan proses yang berbasiskan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menuju kepada ekonomi kreatif. “Kembali lagi kemasan dan tampilan baru memerlukan jejaring dan penggunaan teknologi digital,”  jelasnya.

Sementara itu, Rektor ISI Denpasar Wayan ‘kun ‘ Adnyana menjelaskan tema Wana-Empu-Nuswantara (Lingkungan, Keempuan dan Jejaring Seni) yang diangkat diharapkan menjadi sebuah akang atau khasanah gagasan tentang perspektif kita tentang kesenian lintas batas, mulai dari tradisi, kepercayaan,  hingga ritual konservasi hutan. “Kita harapkan ajang ini menjadi panggung bagi tokoh-tokoh yang benar-benar, sungguh-sungguh melakukan kerja kesenian. Ini adalah panggung bagi mereka yang sungguh menata lelaku seni, berbagi dengan sesama, ajang dialektika untuk memajukan seni Indonesia,” ujarnya.

Selain menghadirkan Ny. Putri Suastini Koster, ajang yang digelar selama 3 hari ini juga menghadirkan pembicara kompeten lain, yakni Sastrawan Putu Fajar Arcana serta akademisi AA Gde Rai Remawa. (gs)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Parade Baleganjur Bebarongan, Tampilkan Seni Sarat Makna Spiritual dan Nilai Budaya

Published

on

By

Parade Baleganjur gianyar
BALEGANJUR BEBARONGAN: Salah satu penampilan parade baleganjur bebarongan pada Pekan Budaya Gianyar di Open Stage Balai Budaya Gianyar, Kamis (9/4) malam. (Foto: Hms Gianyar)

Gianyar, baliilu.com – Pemerintah Kabupaten Gianyar menggelar Parade Baleganjur Bebarongan Kecamatan se-Kabupaten Gianyar sebagai rangkaian Pekan Budaya Gianyar di Open Stage Balai Budaya Gianyar, Kamis (9/4) malam. Kegiatan ini menampilkan kekayaan seni tradisional Bali yang sarat akan makna spiritual dan nilai-nilai budaya.

Dalam parade, masing-masing kecamatan di Kabupaten Gianyar menampilkan kreativitas dan ciri khasnya dalam mengemas seni baleganjur babarongan yang berpadu dengan unsur tradisi serta kearifan lokal.

Penampilan diawali oleh Sekaa Gong Satya Jnana dari Kecamatan Gianyar yang mempersembahkan garapan berjudul “Nyapuh”. Dilanjutkan dengan penampilan Yowana Kembang Swara Banjar Juga bersama Komunitas Seni Pitha Mahaswara, dari Kecamatan Ubud, yang membawakan garapan “Gerinsing”, Pengayah Gong Sekaa Teruna Dharma Adnyana dari Kecamatan Tegallalang melalui garapan “Bwah Rong”, disusul oleh Sanggar Seni Gita Lestari dari Kecamatan Blahbatuh dengan sajian berjudul “Swara Raksa”.

Penampilan berikutnya Pesraman Satya Kumara Shanti, Kecamatan Payangan, yang menghadirkan garapan “Ruwat Mala”, kemudian dilanjutkan oleh Sekeha Gong Sila Pertipa dari Kecamatan Sukawati dengan garapan “Sida Arsa”. Penampilan ditutup oleh Sekaa Balaganjur Gandara Shanti dari Kecamatan Tampaksiring melalui garapan berjudul “Lawat Liwat”.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Adi Parbawa, menyampaikan bahwa perhelatan Pekan Budaya Gianyar, salah satunya menampilkan parade baleganjur bebarongan, merupakan upaya nyata pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya yang hidup di desa adat.

Lebih lanjut, Adi Parbawa menegaskan bahwa estetika baleganjur bebarongan harus tetap ajeg dan lestari sebagai bagian dari kearifan lokal di masing-masing kecamatan.

Tak hanya itu, dirinya juga menambahkan bahwa baleganjur bebarongan telah menjadi salah satu identitas masyarakat Gianyar yang hadir hampir dalam setiap kegiatan keagamaan. “Kita ingin lebih menunjukkan cita karya kearifan lokal masing-masing, sehingga esensinya tetap terjaga, tradisinya tetap, dan spiritnya tetap,” tambahnya.

Sementara itu, tokoh seniman, Dr. I Wayan Sudirana, S.Sn., M.A., Ph.D., mengapresiasi pelaksanaan Pekan Budaya Gianyar yang dinilai mampu memberikan ruang bagi para seniman untuk menuangkan kreativitas. Ia berharap parade baleganjur bebarongan tidak hanya berlangsung tahun ini, tetapi dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam mempersiapkan diri menuju ajang Pesta Kesenian Bali (PKB).

“Saya ingin kegiatan ini tidak hanya tahun ini, melainkan terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya,” ungkapnya.

Terlebih, baleganjur bebarongan sendiri memiliki keterkaitan erat dengan tradisi ngunya atau Ngiring Ida Bhatara, yakni prosesi mengarak Sesuhunan berupa Barong dan Rangda mengelilingi desa sebagai bagian dari ritual keagamaan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

AA Istri Rai Setyawati, Seniman Tangguh yang Menjaga Nyala Tari dari Generasi ke Generasi

Published

on

By

Rai Setyawati
KASANGA FESTIVAL: Di tengah riuhnya pagelaran seni dalam rangkaian Kasanga Festival di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Minggu (8/3), sosok AA Istri Rai Setyawati, SST (kebaya biru) tampak berdiri di antara anak-anak yang bersiap tampil. (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Di tengah riuhnya pagelaran seni dalam rangkaian Kasanga Festival di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Minggu (8/3), sosok AA Istri Rai Setyawati, SST tampak berdiri di antara anak-anak yang bersiap tampil. Dengan tatapan lembut namun penuh ketegasan, perempuan berusia 73 tahun itu membimbing gerak demi gerak, memastikan setiap anak menari dengan percaya diri.

Usia boleh menua, namun semangat berkesenian dalam dirinya tetap menyala. Perempuan kelahiran Sayan, Gianyar ini telah menetap di Denpasar sejak menempuh pendidikan seni di Kokar. Sejak saat itu, hidupnya tak pernah jauh dari dunia tari Bali.

Bagi Rai Setyawati, seni tari bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga napas kehidupan yang terus ia rawat hingga kini. Ia dikenal sebagai bagian dari generasi seniman tari yang tumbuh bersama maestro tari Bali, I Nyoman Suarsa, yang akrab disapa Pak Yang Pung.

Kini, sebagian besar rekan seangkatannya telah berpulang. Namun bagi Rai Setyawati, perjalanan pengabdian pada seni belum pernah benar-benar selesai.

“Semangat saya masih tetap berkobar dalam mengabdikan diri di bidang seni. Saat ini saya juga dipercaya menjadi pendidik di PAUD Saraswati 3,” ujarnya dengan senyum hangat.

Di tempat itulah ia menanamkan kecintaan pada seni kepada generasi paling muda. Dengan kesabaran dan ketelatenan, ia membimbing anak-anak usia dini mempelajari dasar-dasar gerak tari Bali—mulai dari gerakan tangan, sorot mata, hingga langkah kaki yang diajarkan perlahan.

Selain mengajar di PAUD Saraswati 3 Denpasar, Rai Setyawati juga rutin membimbing anak-anak di Sanggar Tari Rimantaka yang ia kelola bersama putrinya. Dari ruang-ruang latihan sederhana itu, lahir keberanian anak-anak untuk tampil dalam berbagai agenda budaya dan pertunjukan seni di Kota Denpasar.

Bagi Rai Setyawati, melihat anak-anak menari dengan penuh semangat merupakan kebahagiaan tersendiri. Baginya, itu adalah tanda bahwa tradisi terus menemukan ruang hidupnya di tengah generasi baru.

Di balik ketekunannya sebagai seniman, Rai Setyawati juga merupakan ibu dari empat anak, tiga putra dan satu putri. Nilai kerja keras dan pengabdian yang ia tanamkan sejak lama turut membentuk perjalanan hidup anak-anaknya.

Salah satu putranya, Dedy Sutrisna Agung, SE, M.Ec.Dev., kini mengabdi di salah satu perangkat daerah di Kota Denpasar serta aktif dalam kepengurusan adat di Desa Adat Penatih Puri. Menurut Dedy, kecintaan ibunya pada seni menjadi sumber kekuatan dalam perjalanan hidup keluarga mereka.

“Saya dibesarkan dari perjuangan ibu saat berkesenian. Beliau tidak hanya berkarya, tetapi juga mampu membiayai kebutuhan hidup keluarga dari dunia seni,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa berkesenian seolah menjadi obat bagi sang ibu.

“Jika ibu diberi waktu dan kesempatan untuk terus berkesenian, sakitnya seperti hilang. Keluhan sebagai orang tua terasa berkurang ketika beliau bisa mengajarkan anak-anak menari,” katanya.

Bagi Rai Setyawati, seni tari bukan sekadar aktivitas. Ia adalah ruang pengabdian, tempat menyalurkan cinta pada budaya sekaligus sumber semangat untuk tetap berkarya.

Di usia yang semakin senja, ia masih setia berdiri di ruang latihan, mengajarkan gerak demi gerak kepada generasi penerus. Selama tubuh masih mampu bergerak dan ada anak-anak yang ingin belajar, baginya seni tari Bali harus terus hidup dan berkembang.

Dari tangan seorang guru seni seperti Rai Setyawati, nyala tradisi itu terus dijaga agar tetap menari dalam perjalanan waktu dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Pecah! 10 Tahun Vakum, Dentuman Jegog Suar Agung Kembali Guncang Jepang

Published

on

By

Jegog Suar Agung
TUR BUDAYA: Sekaa Jegog Suar Agung sukses mengawali rangkaian tur budaya mereka dengan pementasan perdana yang spektakuler di Toyota City, Jepang, Kamis (19/2/2026) malam. (Foto: Hms Jembrana)

Jembrana, baliilu.com – Dentuman instrumen bambu raksasa khas Jembrana akhirnya kembali mengguncang publik Negeri Sakura.

Setelah “puasa” selama 10 tahun, Sekaa Jegog Suar Agung sukses mengawali rangkaian tur budaya mereka dengan pementasan perdana yang spektakuler di Toyota City, Jepang, Kamis (19/2/2026) malam.

Ribuan pasang mata dibuat tak berkedip oleh resonansi nada rendah dan ritme eksplosif dari Bumi Makepung.

Kehadiran delegasi seni ini seolah menjadi obat rindu sekaligus bukti nyata bahwa Jegog tetap memiliki tempat istimewa di kancah internasional meski sempat absen selama satu dekade.

Penampilan sekaa Jegog Suar Agung dipimpin oleh I Gede Oka Artha Negara, sosok pimpinan Jegog Suar Agung yang dikenal sebagai konseptor dan pencipta komposisi musikal bambu berkarakter kuat dan dinamis.

Ia merupakan putra maestro almarhum I Ketut Suwentra, sosok legendaris yang dijuluki “Pekak Jegog” dan berjasa besar membawa Jegog ke panggung internasional. Pada pementasan kali ini, Gede Oka juga mengajak putra-putrinya Okky Junior Sadewa dan Ikko Suar Agung Dewi sebagai penari Jegog Suar Agung untuk regenerasi kesenian Jegog Suar Agung.

“Antusiasme penonton di Toyota City luar biasa. Ini membuktikan bahwa resonansi bambu Jembrana memiliki tempat spesial di hati warga Jepang,” ujar pimpinan Suar Agung, I Gede Oka Artha Negara.

Disisi lain, bagi Ikko Suar Agung Dewi, pementasan di Jepang kali ini memiliki tantangan tersendiri mengingat untuk pertama kalinya ia ikut mendampingi dan turun langsung dalam pertunjukan besar Jegog Suar Agung.

“Tur ini bukan sekadar agenda pementasan, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang untuk melestarikan dan mengembangkan Jegog Suar Agung,” ungkap Ikko Suar Agung Dewi.

Ia menegaskan pentingnya regenerasi, pembinaan generasi muda, serta penguatan jejaring internasional agar musikal bambu khas Jembrana tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

Melalui Jegog Suar Agung ini, Ikko Dewi bertekad menjaga warisan leluhur agar tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi terus bertumbuh sebagai kebanggaan budaya yang mendunia terlebih Kakek merupakan Sang Maestro Jegog.

Rombongan yang sebelumnya dilepas oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan ini, dijadwalkan akan berkeliling ke sejumlah kota besar di Jepang selama 12 hari ke depan. Misi ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan seni, tetapi juga memperkuat hubungan diplomatik Indonesia-Jepang lewat jalur kebudayaan.

Dentuman bambu dari Desa Sangkar Agung akan kembali menggema di Negeri Sakura—menegaskan bahwa Jegog Suar Agung bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan duta budaya yang mempererat hubungan Indonesia dan Jepang dari generasi ke generasi. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca