Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

KESEHATAN

Dinkes Provinsi Bali Bentuk Forum Komunikasi Risiko ‘’One Health’’ untuk Tangani Pandemi Covid-19, Rabies, dan Krisis Kesehatan lain

BALIILU Tayang

:

de
LOKAKARYA: Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Made Rentin bersama agen pembaharu dan ketua forum saat Lokakarya Komunikasi Risiko dalam Menghadapi Krisis Kesehatan di Provinsi Bali pada 19 dan 20 Januari 2022. (Foto: Ist)

Badung, baliilu.com – Pemerintah Provinsi Bali mengadakan Lokakarya Komunikasi Risiko dalam Menghadapi Krisis Kesehatan di Provinsi Bali pada 19 dan 20 Januari 2022 di Nusa Dua, Badung, yang berhasil menelurkan rencana kerja penanganan Covid-19 dan Rabies dengan menggunakan kekuatan komunikasi risiko, serta membentuk “Forum Komunikasi Risiko One Health” yang menjadi wujud kolaborasi lintas sektor dan lintas pihak, dalam menyikapi ancaman penyakit yang melibatkan manusia dan hewan (zoonosis). Kegiatan yang dimotori oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bali ini didukung oleh Australia-Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) – sebuah kemitraan antara Pemerintah Indonesia dan Australia untuk Ketahanan Kesehatan.

Agenda Provinsi Bali untuk menekan angka kasus Covid-19 dan Rabies menjadi prioritas utama untuk mewujudkan Bali yang berketahanan kesehatan kuat, terutama karena Bali telah membuka diri bagi kunjungan dari pihak luar pulau dan sudah mulai menjadi tuan rumah bagi kegiatan-kegiatan berskala internasional. Forum Komunikasi Risiko One Health yang dibentuk hari ini diharapkan dapat menjadi salah satu aktor aktif untuk memastikan percepatan pencegahan Covid-19 dan Rabies, serta krisis kesehatan lain.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Made Rentin dalam sambutannya menyampaikan, “Merujuk kepada konsep Pentahelix dimana pemerintah, organisasi masyarakat, kelompok akademia, insan pers, dan pelaku usaha bersatu dan bergerak bersama, maka sesi yang diikuti oleh ragam pihak hari ini merupakan pengejawantahan dari apa yang kami gaungkan selama ini. Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kesadaran dan komitmen para peserta lokakarya untuk bekerja sama menghadapi tantangan Covid-19, Rabies dan penyakit zoonosis lainnya di Provinsi Bali.”

Rencana Kerja Komunikasi Risiko yang dihasilkan dari forum ini menekankan pada rancangan produksi informasi berkualitas berbasis pengetahuan yang disesuaikan dengan target khalayak, agar dapat membekali mereka dalam memahami berbagai risiko Covid-19 dan Rabies yang masih mengancam, dan membantu menentukan sikap yang tepat bagi keselamatan diri dan lingkungan sekitarnya.

Baca Juga  Peringatan World Rabies Day 2023, Distanpangan Bali Sapa 1.200 Anak SD untuk Edukasi Rabies

Peserta Lokakarya juga telah memetakan potensi media massa, media sosial dan kerja sama dengan berbagai kelompok komunitas untuk menyalurkan pesan-pesan komunikasi risiko, untuk mencapai tujuan Bali yang taat promosi kesehatan, disiplin dalam melaksanakan tracking, testing dan treating, serta mengoptimalkan cakupan vaksinasi.

Koordinator Substansi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Kesehatan, Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan, drg. Marlina Ginting M.Kes, yang menjadi salah satu pemateri kegiatan ini menegaskan, “Komunikasi Risiko Menjadi Semakin Penting mengingat Coronavirus terus bermutasi. Misalnya, saat ini kita berhadapan dengan varian Omicron, sementara kelompok lansia, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lain, terutama yang belum berkesempatan mendapatkan vaksin memerlukan perhatian lebih tinggi agar selamat melewati pandemi ini.”

Pada kesempatan ini, dua agen pembaharu yaitu Ni Ketut Sri Umayanti, Kader Kebersihan “Laskar Pertiwi” Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar dan inisiator pembuatan Perarem Pengendalian Rabies, I Gede Suarta, dari Desa Bengkala, Kabupaten Buleleng, berbagi praktik baik tentang pelibatan warga dalam menangani permasalahan kesehatan Rabies secara mandiri. I Gede Suarta juga memberdayakan penyandang disabilitas tuli dan netra di desanya untuk bersama-sama melaporkan kasus Rabies.

Ir. I Gede Arya Sena, M.Kes. yang diaklamasikan sebagai Ketua Forum, membacakan komitmen tertulisnya di akhir acara, “Selain terbuka bagi berbagai inovasi dalam Rencana Kerja Komunikasi Risiko yang diinisiasi hari ini, serta kolaborasi erat antarpihak, kita semua menyadari pentingnya untuk memiliki sistem monitoring yang andal agar Provinsi Bali dapat belajar dari hasil evaluasi dan terus menyempurnakan langkah prevensi maupun penanganannya.” (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

KESEHATAN

Satu Suntikan Vaksin Heksavalen, Gabungkan Enam Perlindungan Penyakit

Bali Jadi Daerah Percontohan Vaksin Heksavalen

Loading

Published

on

By

Vaksin Heksavalen
Balita saat menerima suntikan Vaksin Heksavalen. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Orang tua kini bisa sedikit bernapas lega. Keluhan tentang banyaknya suntikan saat imunisasi dasar pada bayi akhirnya direspons pemerintah dengan meluncurkan Vaksin Heksavalen, inovasi yang menggabungkan enam perlindungan penyakit ke dalam satu suntikan.

Provinsi Bali menjadi salah satu dari tiga wilayah percontohan nasional bersama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mulai mengimplementasikan vaksin pada bulan Oktober tahun ini, dan menyasar bayi yang lahir setelah 9 Juli 2025.

Vaksin Heksavalen memberikan perlindungan terhadap Difteri, Pertusis, TetanusH hepatitis B, Haemophilus Influenzae tipe B (Hib), dan Polio, serta menggantikan jadwal imunisasi dasar pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Gede Nyoman Sebawa, menyebut terobosan ini merupakan hasil evaluasi lapangan terhadap berbagai keluhan masyarakat.

“Kami menemukan banyak orang tua mengeluhkan anaknya terlalu sering disuntik saat imunisasi. Kalau dulu dua jenis vaksin disuntikkan terpisah, sekarang cukup satu kali,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/10).

Menurutnya, pengurangan jumlah suntikan tidak hanya mengurangi rasa sakit dan trauma pada bayi, tetapi juga meningkatkan kepatuhan orang tua untuk menuntaskan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

Selain dari sisi kenyamanan, vaksin kombinasi ini juga menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan cakupan imunisasi yang sebelumnya kerap muncul antara vaksin Pentavalen dan Polio injeksi.

“Dengan dijadikan satu dosis Heksavalen, cakupannya akan sama. Ini langkah penting agar semua bayi mendapat perlindungan penuh,” jelas dr. Sebawa.

Dari sisi pelaksanaan, pihaknya menambahkan efisiensi juga dirasakan oleh tenaga kesehatan. Pemberian vaksin kini lebih praktis dan efektif, sehingga pelayanan dapat dioptimalkan di berbagai fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri, hingga posyandu.

Baca Juga  Pemprov Gelar Upacara Ngrastiti Bhakti, Mohon Agar Pandemi Covid-19 Segera Berakhir

“Untuk Kabupaten Buleleng, sasaran awal bayi usia 2 bulan sampai 2 bulan 29 hari sudah terdata sekitar 2.450 bayi,” tambahnya.

Dr. Sebawa berharap, dengan penerapan vaksin Heksavalen ini, pemerintah menargetkan capaian IDL sebesar 95 persen, sekaligus mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat enam penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Pastikan Kesehatan, Dinkes Denpasar Rutin Cek Kesehatan Warga Terdampak Banjir

Published

on

By

SAFARI KESEHATAN: Pelaksanaan safari kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar dengan menyasar wilayah terdampak pada Minggu (14/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar terus berupaya memastikan kesehatan warga yang terdampak banjir melalui program Safari Kesehatan yang digelar secara rutin. Giat tersebut dikemas dengan sistem jemput bola yang menyasar titik-titik wilayah terdampak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, AA Ayu Agung Candrawati saat dikonfirmasi Minggu (14/9) menyatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk memantau dan menjaga kesehatan warga yang berada di kantong-kantong pengungsian akibat banjir.

“Sebagai upaya memastikan kesehatan warga terdampak banjir, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kesehatan secara rutin menggelar Safari Kesehatan. Pemeriksaan menyasar kantong-kantong pengungsian, dengan menerjunkan Tim Kesehatan Puskesmas yang mewilayahi,” kata Agung Candrawati.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan kesehatan warga terdampak banjir tetap terjaga dan dapat segera mendapatkan penanganan jika ditemukan masalah kesehatan.

“Harapannya dapat memastikan kesehatan warga terdampak,” ujarnya.

Bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, Agung Candrawati mengimbau untuk menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat, atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus di wilayah masing-masing.

“Warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dapat menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan Safari Kesehatan, tim kesehatan juga memberikan edukasi dan penyuluhan tentang kesehatan kepada warga terdampak, termasuk cara pencegahan penyakit yang umum terjadi pasca-banjir seperti diare dan penyakit kulit. Selain itu, dilakukan juga distribusi obat-obatan dan peralatan kesehatan dasar untuk mendukung pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian.

Dengan upaya ini, Dinkes Denpasar berharap dapat meminimalisir risiko kesehatan bagi warga terdampak banjir dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai.

“Kerja sama antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan pemerintah setempat diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan kesehatan warga terdampak dan mempercepat proses pemulihan pasca-banjir,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  Antisipasi Penyebaran Rabies, Distan Denpasar Gencar Lakukan Vaksinasi dan Sosialisasi kepada Pemilik Anjing

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Kunjungan Spesialis Obgyn ke Puskesmas, Tingkatkan Keterampilan Nakes untuk Pelayanan Prima bagi Ibu Hamil

Published

on

By

obgyn puskesmas buleleng
Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng saat intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Program ini tidak hanya memberikan akses pemeriksaan bagi ibu hamil oleh dokter spesialis, tetapi juga bertujuan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas dalam memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Nyoman Budiastawan, menjelaskan bahwa melalui kunjungan ini, dokter umum dan bidan di Puskesmas mendapatkan pelatihan langsung dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi dalam hal pemeriksaan kehamilan, deteksi risiko tinggi, serta penggunaan USG dasar.

“Diharapkan setelah mendapatkan pendampingan dari dokter spesialis, tenaga medis di Puskesmas mampu melakukan pemeriksaan dengan USG secara mandiri. Ini akan sangat membantu dalam deteksi dini risiko kehamilan, sehingga ibu hamil dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak awal,” ujar Budiastawan, Jumat (14/3).

Budiastawan menjelaskan, pada semester pertama, program ini telah dilaksanakan di 16 Puskesmas, dengan setiap Puskesmas memeriksa 10 ibu hamil oleh dokter spesialis. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir 90% ibu hamil mengalami kehamilan berisiko tinggi, terutama akibat kurangnya perencanaan kehamilan, usia di atas 35 tahun, serta anemia.

Dengan adanya peningkatan keterampilan tenaga kesehatan, Puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan prima secara mandiri, mulai dari deteksi dini, pemeriksaan rutin, hingga penanganan awal bagi ibu hamil. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, maka rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut akan segera disiapkan.

Selain itu, Budiastawan mengimbau pasangan usia subur untuk merencanakan kehamilan dengan baik, termasuk memperhatikan usia dan kondisi kesehatan sebelum hamil. Bagi ibu hamil, pemeriksaan rutin ke Puskesmas setiap bulan sangat dianjurkan agar potensi risiko dapat terdeteksi sejak dini.

Baca Juga  Dinas Pertanian Denpasar Cegah Rabies dan Perkembangan Anjing Liar

“Dengan peningkatan keterampilan tenaga medis di Puskesmas, kami berharap ibu hamil dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik, cepat, dan tepat. Langkah ini juga berkontribusi dalam menekan angka kematian ibu dan bayi, serta mencegah risiko seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, gizi buruk, dan stunting,” tutup Budiastawan. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca