Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

KESEHATAN

Doktor Baru FK Unud IG Sastra Winata, Buktikan Parameter Risiko Kemoterapi Kanker Serviks

BALIILU Tayang

:

dokto baru
Dr. dr. I Gde Sastra Winata, Sp.OG., Subsp.Onk dinyatakan lulus sebagai Doktor Lulusan ke- 374 Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan predikat Cumlaude. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – dr. I Gde Sastra Winata, Sp.OG, Subsp.Onk. berhasil meraih gelar doktor Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Udayana setelah membuktikan parameter risiko terjadinya respons yang buruk terhadap kemoterapi pada kanker serviks. Keberhasilan Sastra Winata ini dicapai melalui ujian Promosi Doktor yang dilaksanakan pada Senin, 27 Maret 2023 bertempat di ruang sidang Pascasarjana Lt III, Gedung Pascasarjana Denpasar.

Promovendus dr. I Gde Sastra Winata, Sp.OG, Subsp.Onk., dalam disertasinya mengangkat judul “Ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor, Ki-67 dan Protein 53 yang Tinggi Merupakan Faktor Risiko Terjadinya Respons Kemoterapi Neoadjuvan Paklitaksel-Karboplatin yang Buruk pada Kanker Serviks Stadium IB3, IIA2 dan IIB”.

Sastra Winata memaparkan bahwa sampai saat ini strategi penatalaksanaan kanker serviks stadium IB3, IIA2 dan IIB masih menjadi kontroversi, dimana dapat dilakukan kemoradiasi, operasi radikal histerektomi atau pemberian neoadjuvan kemoterapi yang kemudian dilanjutkan dengan histerektomi radikal.

Respons terhadap kemoterapi ditentukan oleh faktor angiogenesis atau vaskularisasi tumor serviks, aktivitas proliferatif sel dan instabilitas genetik kanker serviks. Kemudian penanda adanya proliferasi sel tumor adalah protein Ki-67. Pada kanker serviks terjadi supresi gen p53 yang disebabkan oleh HPV. Protein HPV E6 mendorong degradasi p53 sehingga menghambat stabilisasi dan aktivasi p53. 

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa ekspresi VEGF, Ki-67 dan p53 yang tinggi merupakan faktor risiko terjadinya respons kemoterapi neoadjuvan yang buruk. Penelitian dengan nested case control dilakukan di Bagian/KSM Obstetri dan Ginekologi RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Denpasar sejak Oktober 2021 sampai April 2022.

Penelitian ini menggunakan 56 sampel yang didapat dengan simple random sampling, dibagi menjadi dua kelompok ekual yaitu 28 respons kemoterapi neoadjuvan yang baik sebagai kelompok kontrol dan 28 sampel respons kemoterapi neoadjuvan yang buruk sebagai kelompok kasus. Analisis data dengan SPSS-24 meliputi deskriptif, uji normalitas K-S, Chi-square, multiple regression logistic. Data disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.

Baca Juga  FK Unud Gelar ‘’Guest Lecture’’ Undang Profesor Benjamin Gregg dari University of Texas

Pada penelitian ini didapatkan risiko terjadinya respons kemoterapi yang buruk pada ekspresi VEGF adalah 11,5 kali, Ki-67 adalah 15,0 kali dan p53 adalah 8,33 kali. Hasil penelitian ini didapatkan suatu rumusan perhitungan respons kemoterapi yaitu y = -7,3+ 1,6 VEGF + 1,6 Ki-67 + 1,8 p53. Ekspresi VEGF, Ki-67 dan p53 yang tinggi diberi nilai (1) dan rendah (2). Nilai Batasan yang digunakan adalah 0,05. Hasil y < 0,05 berarti berisiko respons kemoterapi buruk dan nilai y >0,05 berespons baik. Dengan demikian, rumusan ini dapat digunakan sebagai parameter terhadap risiko terjadinya respons yang buruk terhadap kemoterapi neoadjuvan pada kanker serviks stadium IB3, IIA2 dan IIB melalui yang dapat diaplikasi dalam praktik klinis penanganan kanker serviks.

Ujian dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan FK Unud, Dr. dr. I Made Sudarmaja, M.Kes., dengan tim penguji Prof. Dr. dr. I Ketut Suwiyoga, Sp.OG., Subsp.Onk (Promotor); Prof. Dr. dr. I Made Jawi, M.Kes (Kopromotor I); Dr. dr. I Nyoman Gede Budiana, Sp.OG., Subsp.Onk (Kopromotor II); Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD-KHOM; Prof. drh. I Nyoman Mantik Astawa, Ph.D; Prof. Dr. dr. I Gusti Ayu Sri Mahendra Dewi, Sp.PA(K); Prof. Dr. dr. I Wayan Putu Sutirta Yasa, M.Si; Prof. Dr. dr. Yudi Mulyana Hidayat, Sp.OG(K)Onk; Dr. dr. A.A. Ngurah Jaya Kusuma, Sp.OG., Subsp.K.Fm., MARS; Dr. dr. I Nyoman Wande, S.Ked., Sp.PK(K).

Sedangkan undangan akademik adalah Dr. dr. I Wayan Artana Putra, Sp.OG., Subsp., K.Fm; Dr. dr. Ida Bagus Gede Fajar Manuaba, Sp.OG., MARS; Dr. dr. I Gede Ngurah Harry Wijaya Surya, Sp.OG.,Subsp.Obginsos; Dr. dr. I Nyoman Bayu Mahendra, Sp.OG., Subsp.Onk; Dr. dr. I Made Krisna Dinata, M.Erg. 

Pada ujian kali ini Dr. dr. I Gde Sastra Winata, Sp.OG., Subsp.Onk dinyatakan lulus sebagai Doktor Lulusan ke- 374 Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan predikat Cumlaude. Sumber: https://www.unud.ac.id/in/berita-fakultas2775-Doktor-Baru-Buktikan-Parameter-Risiko-Terjadinya-Respons-yang-Buruk-Terhadap-Kemoterapi-Pada-Kanker-Serviks.html (gs/bi)

Baca Juga  Mahasiswa PSSKPPN FK Unud Ikuti ‘’Student Exchange’’ di Kobe Women’s University Jepang

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KESEHATAN

Satu Suntikan Vaksin Heksavalen, Gabungkan Enam Perlindungan Penyakit

Bali Jadi Daerah Percontohan Vaksin Heksavalen

Loading

Published

on

By

Vaksin Heksavalen
Balita saat menerima suntikan Vaksin Heksavalen. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Orang tua kini bisa sedikit bernapas lega. Keluhan tentang banyaknya suntikan saat imunisasi dasar pada bayi akhirnya direspons pemerintah dengan meluncurkan Vaksin Heksavalen, inovasi yang menggabungkan enam perlindungan penyakit ke dalam satu suntikan.

Provinsi Bali menjadi salah satu dari tiga wilayah percontohan nasional bersama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mulai mengimplementasikan vaksin pada bulan Oktober tahun ini, dan menyasar bayi yang lahir setelah 9 Juli 2025.

Vaksin Heksavalen memberikan perlindungan terhadap Difteri, Pertusis, TetanusH hepatitis B, Haemophilus Influenzae tipe B (Hib), dan Polio, serta menggantikan jadwal imunisasi dasar pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Gede Nyoman Sebawa, menyebut terobosan ini merupakan hasil evaluasi lapangan terhadap berbagai keluhan masyarakat.

“Kami menemukan banyak orang tua mengeluhkan anaknya terlalu sering disuntik saat imunisasi. Kalau dulu dua jenis vaksin disuntikkan terpisah, sekarang cukup satu kali,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/10).

Menurutnya, pengurangan jumlah suntikan tidak hanya mengurangi rasa sakit dan trauma pada bayi, tetapi juga meningkatkan kepatuhan orang tua untuk menuntaskan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

Selain dari sisi kenyamanan, vaksin kombinasi ini juga menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan cakupan imunisasi yang sebelumnya kerap muncul antara vaksin Pentavalen dan Polio injeksi.

“Dengan dijadikan satu dosis Heksavalen, cakupannya akan sama. Ini langkah penting agar semua bayi mendapat perlindungan penuh,” jelas dr. Sebawa.

Dari sisi pelaksanaan, pihaknya menambahkan efisiensi juga dirasakan oleh tenaga kesehatan. Pemberian vaksin kini lebih praktis dan efektif, sehingga pelayanan dapat dioptimalkan di berbagai fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri, hingga posyandu.

Baca Juga  FK Unud Terima Audiensi Tim Pendirian Prodi Spesialis Bedah di FKIK Unwar

“Untuk Kabupaten Buleleng, sasaran awal bayi usia 2 bulan sampai 2 bulan 29 hari sudah terdata sekitar 2.450 bayi,” tambahnya.

Dr. Sebawa berharap, dengan penerapan vaksin Heksavalen ini, pemerintah menargetkan capaian IDL sebesar 95 persen, sekaligus mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat enam penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Pastikan Kesehatan, Dinkes Denpasar Rutin Cek Kesehatan Warga Terdampak Banjir

Published

on

By

SAFARI KESEHATAN: Pelaksanaan safari kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar dengan menyasar wilayah terdampak pada Minggu (14/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar terus berupaya memastikan kesehatan warga yang terdampak banjir melalui program Safari Kesehatan yang digelar secara rutin. Giat tersebut dikemas dengan sistem jemput bola yang menyasar titik-titik wilayah terdampak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, AA Ayu Agung Candrawati saat dikonfirmasi Minggu (14/9) menyatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk memantau dan menjaga kesehatan warga yang berada di kantong-kantong pengungsian akibat banjir.

“Sebagai upaya memastikan kesehatan warga terdampak banjir, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kesehatan secara rutin menggelar Safari Kesehatan. Pemeriksaan menyasar kantong-kantong pengungsian, dengan menerjunkan Tim Kesehatan Puskesmas yang mewilayahi,” kata Agung Candrawati.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan kesehatan warga terdampak banjir tetap terjaga dan dapat segera mendapatkan penanganan jika ditemukan masalah kesehatan.

“Harapannya dapat memastikan kesehatan warga terdampak,” ujarnya.

Bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, Agung Candrawati mengimbau untuk menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat, atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus di wilayah masing-masing.

“Warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dapat menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan Safari Kesehatan, tim kesehatan juga memberikan edukasi dan penyuluhan tentang kesehatan kepada warga terdampak, termasuk cara pencegahan penyakit yang umum terjadi pasca-banjir seperti diare dan penyakit kulit. Selain itu, dilakukan juga distribusi obat-obatan dan peralatan kesehatan dasar untuk mendukung pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian.

Dengan upaya ini, Dinkes Denpasar berharap dapat meminimalisir risiko kesehatan bagi warga terdampak banjir dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai.

“Kerja sama antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan pemerintah setempat diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan kesehatan warga terdampak dan mempercepat proses pemulihan pasca-banjir,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  FK Unud Terima Audiensi Tim Pendirian Prodi Spesialis Bedah di FKIK Unwar

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Kunjungan Spesialis Obgyn ke Puskesmas, Tingkatkan Keterampilan Nakes untuk Pelayanan Prima bagi Ibu Hamil

Published

on

By

obgyn puskesmas buleleng
Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng saat intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Program ini tidak hanya memberikan akses pemeriksaan bagi ibu hamil oleh dokter spesialis, tetapi juga bertujuan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas dalam memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Nyoman Budiastawan, menjelaskan bahwa melalui kunjungan ini, dokter umum dan bidan di Puskesmas mendapatkan pelatihan langsung dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi dalam hal pemeriksaan kehamilan, deteksi risiko tinggi, serta penggunaan USG dasar.

“Diharapkan setelah mendapatkan pendampingan dari dokter spesialis, tenaga medis di Puskesmas mampu melakukan pemeriksaan dengan USG secara mandiri. Ini akan sangat membantu dalam deteksi dini risiko kehamilan, sehingga ibu hamil dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak awal,” ujar Budiastawan, Jumat (14/3).

Budiastawan menjelaskan, pada semester pertama, program ini telah dilaksanakan di 16 Puskesmas, dengan setiap Puskesmas memeriksa 10 ibu hamil oleh dokter spesialis. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir 90% ibu hamil mengalami kehamilan berisiko tinggi, terutama akibat kurangnya perencanaan kehamilan, usia di atas 35 tahun, serta anemia.

Dengan adanya peningkatan keterampilan tenaga kesehatan, Puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan prima secara mandiri, mulai dari deteksi dini, pemeriksaan rutin, hingga penanganan awal bagi ibu hamil. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, maka rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut akan segera disiapkan.

Selain itu, Budiastawan mengimbau pasangan usia subur untuk merencanakan kehamilan dengan baik, termasuk memperhatikan usia dan kondisi kesehatan sebelum hamil. Bagi ibu hamil, pemeriksaan rutin ke Puskesmas setiap bulan sangat dianjurkan agar potensi risiko dapat terdeteksi sejak dini.

Baca Juga  FK Unud Sambut Mahasiswa ‘’Elective Study Travel Medicine’’ FK Unair di Bali

“Dengan peningkatan keterampilan tenaga medis di Puskesmas, kami berharap ibu hamil dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik, cepat, dan tepat. Langkah ini juga berkontribusi dalam menekan angka kematian ibu dan bayi, serta mencegah risiko seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, gizi buruk, dan stunting,” tutup Budiastawan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca