Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Dua Warisan Budaya Denpasar Ditetapkan Jadi WBTB Indonesia Tahun 2023

BALIILU Tayang

:

seni
Karya Budaya Langgam lukisan I Gusti Made Deblog dan Karya Budaya Tari Baris Kekupu yang ditetapkan menjadi WBTB Nasional Tahun 2023. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Kota Denpasar kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga tradisi, seni dan kebudayaan Bali. Dimana, di tahun 2023 sebanyak dua warisan budaya Kota Denpasar ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) secara Nasional. Dua karya budaya Kota Denpasar yang ditetapkan menjadi WBTB Indonesia Tahun 2023 yakni Gaya Lukisan I Gusti Made Deblog dengan domain Kemahiran Kerajinan Tradisional dan Tari Baris Kekupu Banjar Lebah Denpasar dengan domain Seni Pertunjukan.

Kadis Kebudayaan Kota Denpasar, Raka Purwantara didampingi Kabid Cagar Budaya, I Wayan Astawa saat diwawancarai Minggu (3/9) mengatakan bahwa penetapan dua tradisi dan kebudayaan asli Denpasar ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tahun 2023 merupakan angin segar bagi inventarisir dan pelestarian seni dan budaya di Kota Denpasar. Sehingga, kedepannya tidak ada lagi klaim sepihak atas seni budaya asli Indonesia khususnya yang berasal dari Bali dan Kota Denpasar. Dimana, dengan penetapan dua karya budaya tahun 2023 ini menjadikan WBTB Indonesia dari Kota Denpasar bertambah menjadi 13 sejak tahun 2018 – 2023.

“Usulan ini merupakan salah satu upaya melindungi seni, budaya, warisan budaya dan tradisi di Denpasar agar tidak diklaim negara lain dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dengan mendaftarkan seni dan budaya Denpasar dalam portal inventaris nasional,” paparnya.

Lebih lanjut dikatakan, setelah ditetapkan menjadi WBTB Indonesia tahun 2023, nantinya ketiga WBTB asal Denpasar ini akan terus dikawal sehingga mampu menjadi WBTB di tingkat Internasional yang ditetapkan oleh UNESCO.

“Kita patut bersyukur dengan ditetapkannya kebudayaan dan tradisi asli Denpasar masuk dalam WBTB Indonesia, kedepannya tradisi dan kebudayaan lainnya akan tetap kita perjuangkan untuk dapat masuk dalam WBTB Indonesia dan portal inventaris nasional,” pungkasnya.

Sementara itu, Tim Cagar Budaya Kota Denpasar, Dewa Gede Puwita bersama Dewa Gede Yadhu Basudewa mengatakan bahwa, sebelum ditetapkan, beragam tahapan telah diikuti dengan baik.

Baca Juga  Sosialisasi Warisan Budaya Tak Benda: Perkuat Pelestarian di Tengah Arus Globalisasi

“Setelah dua kali sidang tertutup pembahasan oleh Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan dilaksanakan verifikasi validasi lapangan, dilanjutkan dengan sidang penetapan selama 4 hari dari tanggal 28 – 31 Agustus 2023 di Jakarta, akhirnya usulan dua karya budaya dari Kota Denpasar berhasil ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia,” tuturnya.

Lebih lanjut dijelaskan, langkah yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Denpasar sejak tahun 2019 dalam proses penetapan WBTB Indonesia ini adalah dimulai dengan kegiatan inventarisasi karya budaya sekaligus penyusunan kajian akademis dan pembuatan video/film dokumenter. Selanjutnya, setelah penentuan karya budaya yang akan diusulkan lengkap sesuai persyaratan, dilanjutkan dengan pengusulan form pencatatan, setelah berhasil tercatat baru mulai disusun form usulan penetapan karya budaya yang dilengkapi dengan kajian akademis dan video/film dokumenter.

“Semoga langkah-langkah ini tetap bisa terus dilaksanakan sebagai upaya pelestarian obyek pemajuan kebudayaan di Kota Denpasar dalam langkah pelindungan dan pengembangan,” jelasnya.

Pihaknya menjelaskan, karya budaya pertama yakni Langgam lukisan I Gusti Made Deblog yang khas dengan langgam realis-naturalistik adalah temuan baru dalam lintasan sejarah seni rupa Bali yang ditemukan pada rentang waktu dekade 1930 dan populer pada masa setelahnya. Temuan gaya lukisan ini oleh I Gusti Made Deblog didapatkan dengan memadukan teknik melukis realis dari gurunya yang bernama Yap Sin Tin seorang pelukis wajah dengan kekuatannya mengolah tinta China/tinta bak sekaligus sebagai seorang tabib yang berasal dari Taiwan dan tinggal di Denpasar, teknik tersebut oleh I Gusti Made Deblog dipadukan dengan bahasa rupa ilustratif, naratif dan figuratif dari epos Ramayana, Bharatayudha dalam naskah kakawin, cerita-cerita gaguritan yang tertulis pada lontar maupun cerita lakon wayang kulit Bali.

Baca Juga  Payas Dirga dan Tenun Loloan Resmi Ditetapkan Sebagai WBTB Nasional

Sedangkan karya budaya kedua, yakni Tari Baris Kekupu yang diciptakan oleh I Nyoman Kaler (alm) dibantu oleh I Wayan Rindi (alm) pada tahun 1930-an yang diiringi dengan gamelan Gong Kebyar, semula ditarikan oleh empat orang penari, seperti Ni Luh Cawan (alm), Sadri (alm), I Wayan Rindi (alm), Ida Bagus Pidada (alm). Baris Kekupu awalnya ditarikan bukan sebagai kesenian sakral, hal ini sesuai dengan catatan Beryl de Zoete dan Walter Spies (1938) dalam bukunya berjudul Dance and Drama in Bali menyebutkan sebagai tari dekoratif. Kemudian tahun 1961 dengan penari generasi kedua seperti Ni Ketut Alit Arini, Nyenyep, Merti, dan Roni ditarikan untuk upacara pitra yadnya (mamukur), berdasarkan atas permintaan Griya Tegal Jingga Sumerta.

“Setelah itu hingga saat ini Baris Kekupu sering dipentaskan ketika ada upacara memukur di Griya Tagal Jingga, dan setiap 6 bulan sekali dipentaskan rutin ketika Upacara Piodalan di Pura Balai Banjar Lebah pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Wariga (Tumpek Uduh/Tumpek Wariga/Tumpek Bubuh),” tuturnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Wawali Arya Wibawa Hadiri Puncak “Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel“ Desa Adat Kesiman

Apresiasi Kolaborasi Ringankan Masyarakat Jalankan Upacara Yadnya

Loading

Published

on

By

Wawali Arya Wibawa Hadiri Puncak Karya Angasti Puja Kesiman
Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa saat menghadiri Puncak Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman, Kamis (1/10). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman yang dilaksanakan pada Wraspati Umanis Ugu, bertempat di Pantai Padang Galak, Kecamatan Denpasar Timur, Kamis (1/10).

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPD RI Dapil Bali, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, Bendesa Adat se-Kota Denpasar, perwakilan OPD di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar serta undangan terkait lainnya.

Di sela rangkaian upacara, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Desa Adat Kesiman.

“Sinergitas antara krama adat dengan pemerintah dalam melaksanakan upacara yadnya ini patut diberikan apresiasi. Tentunya pelaksanaan upacara yadnya yang kolaboratif ini dapat meringankan masyarakat dalam menjalankan kewajiban sebagai umat Hindu di Bali,” ujar Arya Wibawa.

Lebih lanjut, Arya Wibawa menegaskan, Pemerintah Kota Denpasar terus memberikan dukungan terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan keagamaan dan adat di Kota Denpasar sejalan dengan visi pembangunan Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju.

“Pemerintah Kota Denpasar juga berharap seluruh rangkaian Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman dapat berjalan baik dan memberikan kebaikan bagi masyarakat yang melaksanakannya,” tambah Arya Wibawa.

Bendesa Adat Kesiman, Jro Mangku Ketut Wisna di sela acara mengatakan, upacara Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman dapat terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, termasuk Puri Pemayun Kesiman.

“Rangkaian kegiatan telah dimulai melalui prosesi Negteg Beras pada 9 September 2026 lalu, dilanjutkan prosesi Ngingsah pada 16 September 2026 serta Melaspas Peyadnyan pada 18 September 2026. Dilanjutkan prosesi Nganget Don Bingin pada 24 September 2026, dilanjutkan upacara Mesasap Segara yang diikuti 526 peserta pada 27 September 2026. Lalu dilanjutkan upacara Metatah Massal yang diikuti 345 peserta, dilanjutkan prosesi Ngajum Puspa pada tanggal 29 hingga 30 September 2026,” jelasnya.

Baca Juga  Sosialisasi Warisan Budaya Tak Benda: Perkuat Pelestarian di Tengah Arus Globalisasi

Selanjutnya, Jro Mangku Ketut Wisna mengatakan setelah dilaksanakan rangkaian upacara tadi, dilanjutkan dengan rangkaian upacara lainnya.

“Barulah dilaksanakan puncak Karya yang diikuti 307 puspa pada 1 Oktober 2026 yang dipuput oleh lima sulinggih Siwa-Buddha. Selanjutnya seluruh rangkaian karya akan ditutup dengan pelaksanaan upacara Nyegara Gunung pada 4 Oktober 2026 mendatang,” imbuhnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Pemkot Denpasar “Ngaturang Bhakti Penganyar” di Pura Tuluk Biyu dan Pura Hulundanu Batur

Published

on

By

Pemkot Denpasar Ngaturang Bhakti Penganyar di Songan
BHAKTI PENGANYAR: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, bersama Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, saat mengikuti rangkaian Bhakti Penganyar di Pura Tuluk Biyu Batur dan Pura Hulun Danu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, bertepatan dengan Rahina Buda Kliwon Wuku Ugu, Rabu (30/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar melaksanakan Bhakti Penganyar serangkaian Karya Agung Medewasraya lan Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat di Pura Tuluk Biyu Batur serta Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, bertepatan dengan Rahina Buda Kliwon Wuku Ugu, Rabu (30/9).

Pelaksanaan Bhakti Penganyar dipimpin langsung oleh Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, bersama Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa.

Hadir dalam kesempatan tersebut Panglingsir Puri Agung Jro Kuta I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya, Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya, Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Ketua GOW Kota Denpasar Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, Ketua DWP Kota Denpasar Ny. Swandewi Eddy Mulya, pimpinan OPD, Perbekel/Lurah dan Bendesa se-Kota Denpasar serta para pemedek yang hadir untuk melaksanakan bhakti. Diiringi lantunan gamelan dan kidung, rangkaian Bhakti Penganyar diawali dengan pengilen tari dan topeng wali. Seluruh rangkaian berlangsung khidmat dan diakhiri dengan persembahyangan bersama.

Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengatakan Pura Tuluk Biyu Batur dan Pura Hulundanu Batur, Songan, merupakan bagian dari jaringan pura suci yang terikat secara historis, geografis, dan spiritual sebagai satu kesatuan pemujaan dengan Pura Ulun Danu Batur. Oleh karena itu, pelaksanaan karya agung di kedua pura tersebut menjadi momentum penting bagi umat Hindu untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Melalui momentum ini, kita bersama-sama meningkatkan sradha dan bhakti serta memohon asung kerta wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selain itu, momentum ini menjadi ajang mulat sarira untuk menjaga keseimbangan alam semesta beserta seluruh isinya,” jelasnya.

Baca Juga  Sosialisasi Warisan Budaya Tak Benda: Perkuat Pelestarian di Tengah Arus Globalisasi

Jaya Negara menekankan, rangkaian karya di kedua pura tersebut menitikberatkan pada konsep Wana Kerthi dan Danu Kerthi. Hutan dan air tidak hanya dipandang sebagai bagian dari alam yang dapat dimanfaatkan, tetapi juga sebagai sumber kehidupan yang harus dimuliakan dan dijaga keberlangsungannya. Karenanya, pelaksanaan Bhakti Penganyar menjadi wujud rasa syukur Pemerintah Kota Denpasar atas kelancaran dalam menjalankan swadharma pembangunan daerah dan pelayanan bagi masyarakat.

“Semangat menyama braya diharapkan terus terjaga, sehingga yadnya sebagai wujud syukur dapat selaras dengan visi pembangunan Kota Denpasar dan spirit Vasudhaiva Kutumbakam,” ujarnya.

Ketua Panitia Karya Agung Medewasraya lan Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat di Pura Tuluk Biyu Batur, I Wayan Gunawan, menjelaskan rangkaian Karya Agung Medewasraya diawali dengan ritual Bhakti Pakelem di Gunung Abang dan Danau Batur yang telah dilaksanakan pada Senin (21/9). Selanjutnya, pada Sabtu (26/9), digelar Bhakti Madewasraya yang didahului dengan ritual Mapepada Agung. Rangkaian upacara Medewasraya lan Pujawali Sasih Kapat di Pura Tuluk Biyu Batur dijadwalkan masineb pada 6 Oktober mendatang melalui prosesi ngaturan bhakti mapepranian.

“Tujuan upacara Madewasraya ini tidak lain adalah memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar jagat beserta seisinya diberikan keselamatan, ketenteraman, dan kedamaian,” ujar Gunawan.

Sementara itu, Ketua Panitia Karya Tawur Agung Manca Wali Krama Pura Hulundanu Batur, I Gede Darmawa, mengatakan berdasarkan Raja Purana Pura Hulundanu Batur, Karya Tawur Agung Manca Wali Krama dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali. Rangkaian karya telah berlangsung sejak 12 Agustus 2026 dan akan berakhir pada 7 Oktober 2026. Salah satu tahapan penting dalam rangkaian tersebut adalah Danu Kerthi atau Mapag Toya pada 8 September 2026, kemudian dilanjutkan dengan Malasti, Mapekelem ring Danu, dan Pakelem ring Gunung pada 18 September. Tahapan inti dilaksanakan melalui Tawur Manca Wali Krama pada 21 September di Genah Peyadnyan.

Puncak karya berlangsung pada Sabtu (26/9), saat umat melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura, kemudian dilanjutkan dengan Ida Bhatara Tedun ke Peselang, Perayungan, Pedanaan, dan Ngaturin Ageng di Pura Ulun Danu Batur. Setelah puncak karya, rangkaian dilanjutkan dengan Bhakti Penganyar secara bergiliran oleh pemerintah daerah dan masyarakat dari seluruh kabupaten/kota se-Bali hingga 7 Oktober mendatang.

Baca Juga  Payas Dirga dan Tenun Loloan Resmi Ditetapkan Sebagai WBTB Nasional

“Semoga dengan pelaksanaan karya agung ini memberikan vibrasi positif, sehingga alam Bali beserta seluruh isinya senantiasa berada dalam lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ujarnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Apresiasi Upacara Adat Massal di Kesiman

Ringankan Beban Masyarakat, Walikota Jaya Negara “Ngayah Nyangging” Upacara Metatah Massal

Loading

Published

on

By

Walikota Jaya Negara Hadiri Metatah Massal Kesiman
METATAH MASSAL: Kehadiran Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam kesempatan prosesi Metatah Massal Desa Adat Kesiman yang berlangsung Senin (28/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri pelaksanaan Upacara Metatah atau Mepandes Massal Desa Adat Kesiman yang diikuti sebanyak 345 peserta dari 32 banjar adat. Upacara tersebut berlangsung di Pantai Padang Galak, Kecamatan Denpasar Timur, Senin (28/9).

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara turut ngayah nyangging kepada beberapa peserta metatah. Kehadirannya dalam rangkaian upacara tersebut juga diakhiri dengan penyerahan punia sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya adat dan keagamaan di Desa Adat Kesiman.

Didampingi Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, I Putu Agus Jayadi, Walikota Jaya Negara memberikan apresiasi kepada Jro Bendesa Adat Kesiman beserta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan rangkaian upacara secara massal. Menurutnya, pelaksanaan karya adat secara bersama-sama tidak hanya penting dalam menjaga kelestarian tradisi dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Jaya Negara menilai pelaksanaan upacara secara massal dapat membantu menghemat waktu sekaligus meringankan beban biaya masyarakat, khususnya para orang tua yang anaknya mengikuti upacara potong gigi.

“Rangkaian upacara keagamaan tersebut berlangsung khidmat dan runtut, dimulai dari prosesi Ngaben, Mepetik, Ngangkid ke Pasih, hingga pelaksanaan upacara Metatah atau potong gigi massal. Langkah dan kerja keras Jro Bendesa beserta pihak Desa Adat Kesiman ini sejalan dan turut mendukung program pemerintah daerah dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Jaya Negara.

Selebihnya Jaya Negara juga berharap pelaksanaan karya massal tersebut dapat terus memperkuat semangat kebersamaan dan gotong-royong masyarakat. Selain sebagai pelaksanaan kewajiban adat dan keagamaan, rangkaian kegiatan ini juga diharapkan menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi serta menjaga keharmonisan krama Desa Adat Kesiman.

Baca Juga  Sosialisasi Warisan Budaya Tak Benda: Perkuat Pelestarian di Tengah Arus Globalisasi

Sementara itu, Jro Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna mengatakan, rangkaian upacara keagamaan massal tersebut terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, termasuk Puri Pemayun Kesiman. Rangkaian kegiatan telah dimulai melalui prosesi Negteg Beras pada 9 September, dilanjutkan dengan Ngingsah pada 16 September serta Melaspas Peyadnyan pada 18 September. Sebelum pelaksanaan Metatah Massal, juga telah digelar ritual Mesasap Segara yang diikuti sebanyak 526 peserta.

“Pelaksanaan secara massal ini tentu memberikan kemudahan bagi masyarakat, terutama dari sisi efisiensi waktu dan biaya,” ujarnya.

Rangkaian karya massal Desa Adat Kesiman masih akan berlanjut hingga puncak acara pada 1 Oktober mendatang melalui prosesi Pengajum dan Mepetik yang rencananya dipuput oleh lima orang sulinggih. Selanjutnya, seluruh rangkaian karya akan ditutup dengan pelaksanaan upacara Nyegara Gunung pada 4 Oktober.

“Karya adat tersebut diharapkan tidak hanya menjadi momentum pelaksanaan kewajiban keagamaan, tetapi juga semakin memperkuat semangat gotong-royong dan kebersamaan krama Desa Adat Kesiman,” ujar I Ketut Wisna. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca