Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Februari 2023, Tekanan Inflasi di Bali Menurun

BALIILU Tayang

:

trnso
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali, inflasi gabungan dua kota di Provinsi Bali (Denpasar dan Singaraja) pada Februari 2023 sebesar 0,07% (mtm), menurun dibandingkan bulan sebelumnya (0,66%, mtm) dan  lebih rendah dari inflasi Nasional (0,16%, mtm). Penurunan inflasi Februari 2023 tidak terlepas dari pengaruh positif respons kebijakan moneter Bank Indonesia dan sinergi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID). Meskipun demikian, inflasi secara tahunan masih cukup tinggi sebesar 6,35% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya 5,81% (yoy) akibat pengaruh base effect periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengungkapkan, berdasarkan komoditasnya, terjadinya inflasi disebabkan oleh kenaikan harga pada komoditas beras, bahan bakar rumah tangga (gas LPG), bawang merah, dan cabai merah. Kenaikan harga beras karena terbatasnya pasokan gabah dan belum masuknya masa panen padi, sedangkan kenaikan harga gas LPG disebabkan oleh pembatasan pembelian gas LPG 3 kg dan penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET).

Adapun kenaikan harga bawang merah dan cabai merah akibat penurunan produksi seiring dengan tingginya curah hujan pada Februari 2023. Meskipun demikian, inflasi yang lebih tinggi dapat tertahan dengan menurunnya harga canang sari, daging ayam ras, telur ayam ras, tomat dan angkutan udara. Harga canang sari kembali menurun sejalan dengan normalisasi permintaan pasca-berakhirnya perayaan Galungan- Kuningan. Adapun penurunan harga daging ayam ras, telur ayam ras dan tomat didorong oleh peningkatan pasokan, sedangkan penurunan tarif angkutan udara terjadi seiring dengan penurunan harga avtur.

Pada Maret 2023, kata Trisno Nugroho, beberapa risiko yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kenaikan inflasi antara lain kenaikan permintaan bahan makanan dan makanan jadi menjelang bulan puasa dan hari raya Nyepi, kenaikan harga BBM Non-Subsidi (Pertamax, Pertamax Plus) per 1 Maret 2023 yang berpotensi menyebabkan first and second round effect terhadap inflasi, dan curah hujan yang masih tinggi dapat menyebabkan penurunan produksi hortikultura. ‘’Sebaliknya, peningkatan pasokan beras oleh Bulog dan mulainya musim panen padi pada Maret 2023 diperkirakan menurunkan tekanan kenaikan harga beras,’’ ujarnya.

Baca Juga  Tekan Inflasi, Pemkot Denpasar Manfaatkan Bekas Pasar Loak sebagai Lahan Perkebunan Perkotaan

Trisno Nugroho menegaskan, TPID Provinsi dan Kabupaten/Kota di Bali terus aktif melakukan pengendalian inflasi melalui kerangka 4K. Beberapa upaya yang telah dilakukan antara lain melalui kegiatan operasi pasar untuk komoditas pangan strategis, peningkatan kerjasama antara Bulog dan Perumda, serta pemberian subsidi ongkos angkut untuk menekan kenaikan harga komoditas pangan. Selain itu, TPID juga mendorong peningkatan kualitas data komoditas yang keluar masuk Bali, peningkatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dalam Provinsi Bali dan dengan wilayah di luar Provinsi Bali, serta peningkatan komunikasi kepada masyarakat melalui berbagai media mengenai perkembangan harga dan ketersediaan pasokan pangan di Bali. (gs/bi)

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Cuaca Tak Menentu, Optimisme Konsumen di Bali pada Desember 2025 Melambat

Published

on

By

Optimisme konsumen bali
Warga masyarakat saat berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan. (Foto Ilustrasi: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Optimisme konsumen di Bali pada Desember 2025 melambat jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, seiring dengan kondisi cuaca pada bulan Desember yang tidak menentu dengan curah hujan yang cukup tinggi.

Survei Konsumen Bank Indonesia Provinsi Bali periode November 2025 menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 139,42 (turun -1,5%; mtm) dan masih berada pada level optimis (indeks > 100). Optimisme IKK berdasarkan kelompok usia mayoritas didorong oleh usia 20-30 tahun (150,5), usia 41-50 tahun (147,0), usia 31-40 tahun (130,2), usia 51-60 tahun (127,4), serta usia >60 tahun (110,4).

Optimisme IKK juga tercermin dari responden pekerja di sektor formal (144,6) dan informal (133,7). Survei Konsumen adalah survei yang dilaksanakan setiap bulan oleh Bank Indonesia untuk mengukur tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta harapan konsumen mengenai perkembangan perekonomian di masa mendatang.

Perlambatan komponen IKK terjadi pada Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dari 152,3 menjadi 147,8 (turun 3,0%; mtm). Faktor penahan laju pertumbuhan IKK berasal dari indeks penghasilan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar -6,7% (mtm) atau sebesar 152,5, serta indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar -4,6% (mtm) atau sebesar 144,5.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja menjelaskan, bahwa menurut responden, penurunan tersebut dipengaruhi oleh kondisi cuaca pada bulan Desember yang tidak menentu dengan curah hujan yang cukup tinggi. Hal tersebut berpengaruh terhadap penurunan pendapatan dari responden yang bergerak di usaha skala mikro. Peningkatan curah hujan sejalan dengan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan peningkatan frekuensi kejadian hujan lebat ekstrem di Provinsi Bali pada bulan Desember 2025 sebesar 20% (mtm).

Baca Juga  Penguatan Ketahanan Pangan, Kelurahan Padangsambian Tanam Ratusan Pohon Cabai

Erwin lanjut mengungkapkan, perlambatan IKK juga disebabkan oleh normalisasi konsumsi pasca Hari Raya Galungan dan Kuningan yang berlangsung di bulan November 2025. Di sisi lain, optimisme IEK masih tercermin dari indeks prakiraan kegiatan usaha 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 3,2% (mtm) atau sebesar 146,5.

Lebih lanjut, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turut mengalami peningkatan moderat dari sebelumnya 130,8 menjadi 131,0 (naik 0,1%; mtm). Peningkatan IKE utamanya disebabkan oleh meningkatnya indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu dari sebelumnya 114,0 menjadi 117,0 (naik 2,6%; mtm). Hasil tersebut menunjukkan IKE dan IEK berada pada level optimis (> 100,0) yang mencerminkan optimisme konsumen terhadap prospek ekonomi masih terjaga.

Erwin menegaskan bahwa Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Bali terus berupaya untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. “Memasuki Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, TPID terus memastikan ketersediaan pasokan pangan melalui penyelenggaraan operasi pasar murah, pengawasan harga pada komoditas pangan utama, serta koordinasi rutin untuk memastikan jalur distribusi pangan tetap terjaga,” ujarnya.

Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat inflasi tahunan Provinsi Bali pada Desember 2025 sebesar 2,91% (yoy), berada dalam rentang target inflasi 2025 sebesar 2,5±1%. Tingkat inflasi yang terkendali akan mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga, menarik minat investor, serta memperkuat aktivitas perekonomian daerah. Demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah gejolak ekonomi dan politik global, Bank Indonesia pada 16-17 Desember 2025 mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%.

Baca Juga  Kinerja Penjualan Eceran Bali Diprakirakan Terus Meningkat

Untuk terus mendorong tingkat pertumbuhan konsumsi masyarakat, sebut Erwin, Pemerintah Provinsi Bali menetapkan kebijakan pengurangan pokok Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) mulai 5 Januari 2026. Berbagai upaya tersebut akan mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Tahun 2025, Inflasi Bali Terjaga dalam Sasaran

Published

on

By

Info Grafis Inflasi Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Rilis BPS Provinsi Bali pada 5 Januari 2026 menyebutkan bahwa perkembangan harga gabungan kabupaten/kota perhitungan inflasi di Provinsi Bali pada Desember 2025 secara bulanan mengalami inflasi sebesar 0,70% (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,40% (mtm).

Secara tahunan, inflasi Provinsi Bali mengalami peningkatan menjadi 2,91% (yoy) dari 2,51% (yoy) pada November 2025. Inflasi Bali pada Desember 2025 terjaga dalam sasaran 2,5±1% dan lebih rendah dibandingkan Nasional yang sebesar 2,92% (yoy). Capaian inflasi Bali sejalan dengan pertumbuhan Bali tahun 2025 yang diprakirakan berada pada batas atas kisaran 5,0-5,8% (yoy). Secara spasial, seluruh Kabupaten/Kota di Bali mengalami inflasi bulanan pada Desember 2025.

Denpasar mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,38% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,45% (yoy), diikuti Tabanan sebesar 1,02% (mtm) atau 2,70 (yoy). Selanjutnya, Singaraja mengalami inflasi bulanan sebesar 0,69% (mtm) atau inflasi tahunan 2,51% (yoy). Lebih lanjut Badung mengalami inflasi bulanan sebesar 1,12% (mtm) atau 2,37% (yoy). Inflasi di Provinsi Bali terutama disumbang oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, seiring dengan keterbatasan pasokan akibat curah hujan tinggi di daerah sentra penghasil Bali. Berdasarkan komoditasnya, secara bulanan inflasi Desember 2025 terutama bersumber dari kenaikan harga cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, tomat, dan pemeliharaan/service. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga canang sari, kangkung, cabai merah, beras, dan tongkol diawetkan.

Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode libur tahun baru dan berlanjutnya kenaikan harga emas dunia. Lebih lanjut, puncak musim hujan berisiko menyebabkan produksi hortikultura kurang optimal, gangguan distribusi, dan berpotensi meningkatkan risiko pertumbuhan hama dan organisme pengganggu tanaman yang dapat mengganggu produksi tanaman pangan dan hortikultura. Kewaspadaan tetap perlu dilakukan untuk mengawal stabilitas harga dalam menghadapi periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta libur Idulfitri dan Nyepi pada triwulan I 2026.

Baca Juga  Sinergi Digitalisasi, Dukung Pengendalian Inflasi Buleleng

Oleh karena itu, sinergi TPID perlu terus diperkuat dalam menjaga stabilitas harga komoditas pangan, khususnya beras dan hortikultura. Untuk menghadapi potensi tekanan inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Kabupaten/Kota se-Bali melalui implementasi strategi 4K, yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif. Strategi 4K akan diperkuat melalui 3 (tiga) fokus utama yakni stabilitas pasokan, efisiensi distribusi, dan penguatan regulasi.

Ke depan, TPID Provinsi dan seluruh TPID Kabupaten/Kota di Bali akan terus mendorong penguatan dan perluasan pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sebagai upaya menjaga inflasi yang stabil melalui penguatan regulasi, stabilitas pasokan, dan efisiensi distribusi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada TPID seluruh Pemerintah Daerah se-Provinsi Bali atas sinergi dan langkah konkret yang telah dilakukan secara konsisten, sehingga inflasi Bali tetap terjaga dan terkendali sepanjang tahun 2025.

“Pada tahun 2026 sinergi akan terus diperkuat melalui intensifikasi operasi pasar yang terencana, pengawasan dan percepatan penyaluran SPHP, penguatan produksi dalam daerah, kerja sama antardaerah baik intra-Bali maupun dengan luar Bali, peningkatan efisiensi rantai pasok pangan, dan membangun ekosistem ketahanan pangan yang inklusif dengan melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi,“ ujar Erwin.

Sinergi pengendalian inflasi pangan juga mencakup kolaborasi antara pelaku hulu dan hilir, mulai dari petani, penggilingan, Perumda pangan, KDKMP, SPPG, hingga sektor horeka (hotel, restoran, dan kafe), yang diperkuat melalui regulasi pemanfaatan produk pangan lokal oleh pelaku usaha di daerah. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Bank Indonesia Provinsi Bali optimis inflasi pada tahun 2026 akan tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5%±1%. (gs/bi)

Baca Juga  Desa Dangin Puri Klod Realisasi PKTD Lewat Penebaran 8000 Benih Lele

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Hari Raya Keagamaan dan Musim Panen Dorong Optimisme Konsumen Bali

Published

on

By

Optimisme konsumen bali
Infografis Humas Bank Indonesia Provinsi Bali. (Foto Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Optimisme konsumen di Bali pada November 2025 berlanjut menguat jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, seiring dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali serta musim panen pada beberapa komoditas perkebunan yang meningkatkan optimisme konsumsi masyarakat. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia Provinsi Bali periode November 2025, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 141,58 (naik 1,2%; mtm) dan berada pada level optimis (indeks > 100). Optimisme IKK berdasarkan kelompok usia mayoritas didorong oleh usia 20-30 tahun (149,0), usia >60 tahun (147,2), 51-60 tahun (143,3), 31-40 tahun (137,7), serta usia 41-50 tahun (133,3). Optimisme IKK turut tercermin dari responden pekerja di sektor formal (140,3) dan informal (142,7). Survei Konsumen merupakan survei bulanan yang dilakukan Bank Indonesia untuk mengetahui tingkat keyakinan konsumen mengenai kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen terhadap kondisi perekonomian ke depan.

Peningkatan komponen IKK terjadi pada Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dari 148,3 menjadi 152,3 (naik 2,7%; mtm). Faktor pendorong laju pertumbuhan IKK berasal dari indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 3,4% (mtm) atau sebesar 151,5; indeks penghasilan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 3,2% (mtm) atau sebesar 163,5; serta indeks prakiraan kegiatan usaha 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 1,4% (mtm) atau sebesar 142,0. Peningkatan ekspektasi konsumsi masyarakat utamanya didorong oleh adanya Hari Raya Galungan dan Kuningan yang meningkatkan permintaan jasa penjahit pakaian. Lebih lanjut, terdapat musim panen pada beberapa komoditas perkebunan seperti buah jeruk dan mangga sehingga sebagian responden petani perkebunan optimis akan adanya peningkatan konsumsi.

Baca Juga  Sinergi Digitalisasi, Dukung Pengendalian Inflasi Buleleng

Di sisi lain, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) mengalami penurunan moderat dari sebelumnya 131,5 menjadi 130,8 (turun 0,5%; mtm). Perlambatan tersebut utamanya disebabkan oleh menurunnya indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar -5,1% (mtm) atau sebesar 131,0; serta indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar -3,8% (mtm) atau sebesar 114,0. Responden menyatakan tingginya persaingan dalam mencari pekerjaan, serta adanya kecenderungan untuk menahan pembelian barang tahan lama karena persediaan barang responden saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan. Di sisi lain, penurunan IKE lebih dalam tertahan oleh indeks penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu yang masih menunjukkan pertumbuhan sebesar 6,9% (mtm) atau sebesar 147,5. Hasil tersebut menunjukkan IKE dan IEK berada pada level optimis (> 100,0) yang mencerminkan optimisme konsumen terhadap prospek ekonomi terus bertumbuh.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan bahwa Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Bali terus berupaya untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. “Selama Hari Raya Galungan dan Kuningan, TPID terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan pangan melalui pelaksanaan operasi pasar murah, pengawasan harga pada komoditas pangan utama, serta koordinasi rutin untuk memastikan jalur distribusi pangan tetap terjaga. Dengan terjaganya tingkat inflasi, diharapkan dapat mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga, menarik minat investor, serta memperkuat aktivitas perekonomian daerah,“ ujarnya.

Lebih lanjut, demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah risiko curah hujan tinggi, Bank Indonesia pada 18-19 November 2025 mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Dalam hal mencegah risiko bencana hidrometeorologi, Pemerintah Provinsi Bali bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berkoordinasi untuk memetakan daerah rawan banjir, banjir bandang, dan longsor, serta melakukan inspeksi lebih awal terhadap saluran sungai dan daerah aliran sungai. Oleh karenanya, berbagai macam inisiatif tersebut akan mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)

Baca Juga  Jelang Idul Fitri, Bank Indonesia Jamin Layanan Operasional dan Keamanan Transaksi Nontunai

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca