Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

“Festival Fronteira 2023” di Timor Leste

Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Unud Berpartisipasi Dalam Festival Fronteira

Loading

BALIILU Tayang

:

Festival Tapal Batas 2023
FESTIVAL:  Festival Fronteira atau Festival Tapal Batas berlangsung di Distrik Maliana Timor Leste pada 15 - 19 November 2023. Salah satu gambar yang memperlihatkan bahwa Timor Leste dan Timor bagian barat (Indonesia) memiliki akar kebudayaan yang sama. Rekonsiliasi yang berpijak pada akar kebudayaan yang sama diyakini lebih mudah membuka ruang-ruang perdamaian untuk: tinggalkan konflik demi kemajuan pembangunan manusia. (Foto: Maria Matildis Banda).

KEMENTERIAN Pemuda, Olahraga, Seni, dan Budaya, Sekretariat Negara Urusan Seni dan Budaya, dan Direktur Eksekutif Centro Nacionale Chegal! I. P., Republika Demokratik Timor-Leste, menyelenggarakan “Seminar Fronteira 2023 atau Festival Tapal Batas 2023”. Festival Fronteira diselenggarakan di Distrik Maliana Timor Leste, 15 – 19 November 2023. Kesadaran pemerintah Republika Demokratik Timor-Leste untuk meninggalkan konflik dan mengutamakan pembangunan menjadi salah satu alasan berlangsungnya kegiatan ini. Tujuan utamanya adalah menghasilkan suatu pengertian bersama yaitu gagasan tentang estetika tertentu di bidang seni dan sastra yang dapat menjadi acuan dalam mengolah sejarah dan ingatan masa lalu sebagai sebuah katarsis di tengah masyarakat paska konflik.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) ikut berpartisipasi dalam Festival Fronteira tersebut dengan topik khusus: ‘’Sastra dan Rekonsiliasi’’. Materi disampaikan oleh Dr. Dra. Maria Matildis Banda, M.S, yang merupakan dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Unud. Partisipasi Dr. Maria dalam kegiatan ini berdasarkan surat undangan dari pemerintahan Timor Leste dan Surat Tugas dari Dekan FIB Unud. Topik ini disajikan sebagai salah satu bentuk pengabdian FIB Unud kepada masyarakat Timor Leste, khususnya peserta Festival Fronteira. Subtopik artikel ini memaparkan suatu panorama umum tentang apa dan bagaimana karya sastra dapat menjadi sarana rekonsiliasi di tengah masyarakat paska konflik.

Sastra dan Rekonsiliasi

Kata ‘’rekonsiliasi’’ digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua pihak yang bertikai karena suatu alasan. Rekonsiliasi berkaitan dengan relasi atau hubungan dalam keluarga kecil maupun keluarga besar dalam arti luas karena mengalami konflik serius menyangkut kehidupan bersama. Ada ruang yang disiapkan dan direncanakan dengan baik agar konflik terurai dan hubungan keluarga menjadi lebih baik. Hal ini sering kali terjadi berkali-kali karena hubungan kesepakatan untuk perdamaian belum tercapai; belum sanggup mengembalikan situasi kondisi hubungan sebagaimana sebelum terjadi konflik.

Sastra dan rekonsiliasi berkaitan dengan peran karya sastra sebagai media rekonsiliasi. Sesuai dengan fungsi karya sastra: 1) fungsi refleksi dan pendidikan moral. Melalui karya sastra pembaca memiliki kesempatan untuk refleksi dan memperoleh pengetahuan tentang moral dan nilai-nilai hidup; 2) fungsi religius. Karya sastra mengandung unsur-unsur keagamaan yang dapat dimanfaatkan sebagai pedoman atau arah hidup; 3) fungsi hiburan dan keindahan. Karya sastra memberi hiburan dan keindahan kepada pembacanya; 4) fungsi dokumentatif. Karya sastra mendokumentasikan berbagai peristiwa bahagia maupun mengenaskan dalam hidup; dan 5) fungsi hirtoris dan kebudayaan. Karya sastra menjadi salah satu media perekam sejarah dan kebudayaan. Fungsi kelima berkaitan dengan rekonsiliasi; dimana peserta festival diajak untuk berdiskusi, membuka pikiran bersama, tentang peran sastra bagi masyarakat pembaca.

Baca Juga  Kolaborasi Lintas Institusi, Mahasiswa FK Unud Menangkan Hackathon Bergengsi

Ada berbagai fakta historis yang menjelaskan peran sastra (relasi teks sastra) dengan berbagai problem dan konflik di tengah masyarakat. Apalagi jika sumber konflik berkaitan dengan identitas keluarga, identitas komunal, serta identitas masyarakat yang berhadapan dengan perbedaan pilihan dan perbedaan kepentingan.

Peserta festival diajak untuk membangun pengertian bersama bahwa rekonsiliasi akan mudah dilaksanakan jika kedua belah pihak saling percaya satu terhadap yang lain, sehingga proses penerimaan kembali dapat berlangsung dengan baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kedua belah pihak mesti sanggup mengendalikan diri dengan tenang, sabar, menjadi pendengar yang baik untuk saling berdiskusi dan saling memaafkan. Rekonsiliasi juga memerlukan tekad dan keberanian untuk menghadapi hari esok yang lebih baik bagi semua pihak.

Surat-Surat dari Dili

Sastra dan Rekonsiliasi yang disampaikan dalam Festival Fronteira tersebut berdasarkan karya sastra karya Maria Matildis Banda: berbentuk puisi surat pertama sampai surat kedua puluh dengan judul “Surat Untuk Mgr. Carlos Ximenes Belo (1999 – 2000); cerpen “Pulang” (1981), “Rebung Gading” (1997), dan “Noelbaki” (1999); serta novel Surat-Surat dari Dili (2005) dan Doben (2000). Tiga di antaranya dibahas secara singkat dalam festival tersebut: novel Surat-Surat dari Dili dan Doben, serta cerpen “Noelbaki”.

Surat-Surat dari Dili (280 halaman) ditulis dengan  latar waktu, tempat, dan peristiwa berawal dari peristiwa Santa Cruz. Novel ini merupakan media yang baik dalam membahas rekonsiliasi karena sikap tokoh-tokoh yang “terlibat” dengan peristiwa yang dijadikan latar cerita; serta bagaimana tokoh-tokoh menyikapinya; demi menyelamatkan hubungan keluarga yang “hancur” akibat pilihan politik yang berbeda.

Dalam catatan sejarah diketahui bahwa tahun 1999 itu terjadi eksodus masyarakat secara besar-besaran dari Propinsi Termuda RI itu sampai ke Atambua, TTU, TTS, dan sampai Kupang, bahkan daerah lainnya. Banyak warga yang menetap di terminal Noelbaki Kupang, salah satu tempat tinggal sementara warga Timor Timur. Latar ini melahirkan cerpen “Noelbaki”.  Cerpen ini merupakan salah satu media rekonsiliasi yang melonggarkan pikiran dan hati untuk mengambil sikap berpihak pada penderitaan sesama yang eksodus dari tanah leluhurnya demi situasi politik yang mereka sendiri tidak mengerti benar. Karya sastra mencatat bahwa meja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), meja Jakarta, Australia, dan negara-negara yang ikut ambil bagian dalam problem politik di Timor Timur pada waktu itu adalah meja yang tinggi dan sangat jauh dari realitas pahitnya pengalaman keluarga-keluarga yang terpisah satu sama lain, eksodus tanpa mengerti, serta menjadi warga yang tinggalkan rumah tanpa mengerti benar apa yang akan terjadi.

Baca Juga  Tingkatkan Capaian IKU, Prodi Ilmu Sejarah FIB Unud Gelar Workshop RPS dan Kurikulum

Selanjutnya novel Doben (70 halaman). Doben adalah novel yang melukiskan hubungan manusia dan kuda yang bernama Doben; hubungan antara anak dan ibunya, hubungan kakak adik bersaudara kandung yang hancur lebur karena pilihan politik berbeda.

Beberapa contoh karya sastra tersebut menjelaskan bagaimana karya sastra sebagai cermin masyarakatnya; cermin sejarah dan kebudayaan. Dengan sifat karya sastra yang universal, Surat-Surat dari Dili, Doben, dan “Noelbaki” tidak hanya menjelaskan persoalan Timor Leste tetapi persoalan humanisme universal; dari belahan dunia dimana saja yang berperang akibat masalah pilihan politik dan ideologi yang berbeda. Sejumlah karya sastra lainnya yang mengungkapkan persoalan humanisme universal (termasuk persoalan humanisme yang terjadi di Timor Timur dan Timor Leste) antara lain Saksi Mata (1994 Seno Gumira Aji Darma), Jazz, Parfum, dan Insiden (1996, Seno Gumira Aji Darma), Vitoria Helena’s Brown Box (2015, Viera dan Soeriapoetra), dan Orang-Orang Oetimu (2019, Felix K. Nesi).

Bercermin pada Sejarah Sendiri

Festival Fronteira juga menjelaskan bahwa tentang sastra dan rekonsiliasi akan jauh lebih meyakinkan ketika “penderita” bercermin pada sejarahnya sendiri; juga menulis sendiri apa yang dirasakannya dalam rangka rekonsiliasi. Para sastrawan memiliki kesempatan menatap berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi seputar tahun 1975 sampai dengan 1999 dan seterusnya. Perempuan yang dikemas sebagai tokoh utama dalam cerita adalah sosok yang paling menderita dengan berbagai bentuk kekerasan seksual sebagaimana dialami, Lilia dan perempuan lainnya dalam Surat-Surat dari Dili dan tokoh perempuan lainnya dalam Doben. Mereka adalah sosok yang menjelaskan apa yang terjadi ketika bencana perang dan perebutan kekuasaan datang tanpa ampun. Tidak ada ruang yang cukup bagi mereka untuk bertanya apa sebenarnya yang terjadi? Bahkan kesempatan untuk mengerti pun tidak ada. Mereka hanya menerima akibat yang paling pedih dari perang dan perebutan kekuasaan yang terjadi di hadapan mata. Yang mereka lihat dan rasakan langsung adalah kerusuhan terjadi dan pembunuhan dan penghakiman terjadi di hadapan mata. Mereka berteriak tetapi suara mereka tidak didengar.

Baca Juga  Tiga Mahasiswa FPar Unud Belajar Meneliti ke BRIN Jakarta

Festival Fronteira menggarisbawahi bahwa para sastrawan sekarang ini perlu mengangkat berbagai kenangan sejarah masa lalu melalui karya sastra demi rekonsiliasi yang penting bagi masa depan anak-anak bangsa di dunia. Timor Leste adalah salah satunya. Ciri universal karya sastra terbaca antara lain dalam Surat-Surat dari Dili, Doben, dan “Noelbaki”. Dalam kaitannya dengan sastra dan rekonsiliasi, karya sastra berkaitan dengan makna apa yang ingin disampaikan dan bagaimana makna itu sampai dan menetap dalam pikiran dan kalbu pembacanya. Ada bagian yang sama dari bangsa-bangsa (apapun latar belakangnya) di jagat raya ini: harga diri dan martabat yang mesti dijunjung tinggi bangsa lain. Ada bagian yang sama dari setiap manusia (darimana pun dia berasal): hasrat tentang cinta dan rindu, hasrat menikmati sunyi, sepi, ditinggalkan, dan hasrat untuk berpeluk dan memeluk masa depan cerah bagi sejarah dan kebudayaan yang lebih baik bagi anak-anak penerus generasi. Sumber: https://www.unud.ac.id/in/berita-fakultas4208-Dosen-Program-Studi-Sastra-Indonesia-FIB-Unud-Berpartisipasi-dalam-Kegiatan-Pengabdian-kepada-Masyarakat-bertajuk-Festival-Fronteira-2023-di-Timor-Leste.html (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

Dukung Swasembada Pangan Nasional, Pangdam IX/Udayana Pimpin Panen Raya TNI di Tabanan

Published

on

By

Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto melakukan panen raya bersama Forkopimda Provinsi Bali dan kelompok tani di Tabanan.
PANEN RAYA: Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto melakukan panen raya bersama Forkopimda Provinsi Bali dan kelompok tani di Desa Adat Wangaya Betan, Desa Mangesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Jumat (17/7/2026). (Foto: Pendam IX)

Tabanan, baliilu.com – Komitmen TNI dalam mendukung program ketahanan pangan nasional kembali diwujudkan melalui Panen Raya Bersama TNI yang dipimpin Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto bersama Forkopimda Provinsi Bali dan kelompok tani di Desa Adat Wangaya Betan, Desa Mangesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Jumat (17/7/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Panen Raya Serentak Tebu, Padi, dan Kedelai yang dipimpin secara daring oleh Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto dari Kabupaten Malang, Jawa Timur. Panen raya dilaksanakan serentak di 43 titik di seluruh Indonesia sebagai bentuk sinergi nasional dalam mempercepat terwujudnya swasembada pangan.

Secara nasional, panen raya meliputi panen tebu yang didampingi TNI Angkatan Udara di delapan lokasi, panen padi yang didampingi TNI Angkatan Darat di 31 lokasi, serta panen kedelai yang didampingi TNI Angkatan Laut di empat lokasi. Kegiatan tersebut mencerminkan kolaborasi nyata seluruh matra TNI dalam mendukung peningkatan produksi pangan nasional.

Melalui kegiatan ini, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya penguatan sektor pangan secara terpadu, mulai dari peningkatan produksi, pendampingan kepada petani, hingga hilirisasi hasil pertanian agar mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat.

Dalam arahannya, Presiden juga menekankan bahwa keberhasilan ketahanan pangan merupakan hasil kerja gotong royong seluruh komponen bangsa. Pelibatan TNI dan Polri dalam mendukung program ketahanan pangan menunjukkan bahwa kedua institusi tidak hanya berperan sebagai penjaga keamanan negara, tetapi juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rakyat serta memiliki tanggung jawab bersama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di Bali, kegiatan Panen Raya Kodam IX/Udayana dihadiri Forkopimda Provinsi Bali, Kasdam IX/Udayana, Irdam IX/Udayana, Kapoksahli Pangdam IX/Udayana, Danrem 163/Wira Satya, Asrendam IX/Udayana, para Asisten Kasdam, LO TNI AL, LO TNI AU, para Dan/Kabalakdam IX/Udayana, Forkopimda Kabupaten Tabanan, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta kelompok tani.

Baca Juga  FIB Unud Gelar Seminar Alumni Serangkaian Pelepasan Calon Wisudawan Ke-151

Dalam sambutannya, Pangdam IX/Udayana menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para petani, kelompok tani, penyuluh pertanian, pemerintah daerah, serta seluruh pihak yang telah bekerja keras sehingga panen raya dapat terlaksana dengan baik.

“Keberhasilan panen hari ini merupakan hasil kerja keras dan sinergi semua pihak. Untuk itu saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para petani, kelompok tani, penyuluh pertanian, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat yang terus berkomitmen menjaga produktivitas sektor pertanian,” ujar Pangdam.

Pangdam menegaskan bahwa TNI Angkatan Darat memiliki komitmen kuat untuk terus mendukung program ketahanan pangan nasional melalui pendampingan kepada petani, memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, serta mengoptimalkan pemanfaatan lahan-lahan produktif guna meningkatkan hasil pertanian.

Lebih lanjut, Pangdam mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan produktivitas pertanian melalui penerapan inovasi dan teknologi modern.

“Kedepan kita harus berani berinovasi. Optimalisasi teknologi pertanian, penggunaan benih unggul seperti Merah Cendana, pengelolaan irigasi yang baik, hingga manajemen pascapanen yang tepat harus terus kita dorong agar hasil pertanian semakin meningkat, berkualitas, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi petani,” tegasnya.

Mengakhiri sambutannya, Pangdam berharap Panen Raya Bersama TNI tidak hanya menjadi simbol keberhasilan musim tanam, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat gotong-royong dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Presiden Prabowo: Anggaran Pertahanan dan Polri Bila Perlu Dikurangi untuk Hapus Kemiskinan

Published

on

By

Presiden Prabowo Subianto memberikan pidato usai memimpin panen raya serentak di Kabupaten Malang, Jawa Timur.
BERIKAN PIDATO: Presiden Prabowo Subianto memberikan pidato usai memimpin panen raya serentak yang digelar di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, pada Jumat, 17 Juli 2026. (Foto: BPMI Setpres/Cahyo/presidenri.go.id)

Malang, Jateng, baliilu.com – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah akan terus melakukan efisiensi anggaran demi mempercepat penghapusan kelaparan, kemiskinan, dan kemiskinan ekstrem di Indonesia. Presiden bahkan menyatakan bahwa apabila diperlukan, anggaran pertahanan dan kepolisian dapat dikurangi untuk memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi.

“Kita harus hilangkan kelaparan. Kita harus hilangkan kemiskinan. Kemiskinan, apalagi kemiskinan ekstrem harus kita hilangkan. Insyaallah kita akan hilangkan. Kita akan hemat anggaran kita. Kita akan bikin efisien. Bila perlu, anggaran pertahanan kita kurangi, anggaran polisi kita kurangi, untuk menghilangkan kemiskinan,” tegas Presiden dalam pidatonya usai memimpin panen raya serentak yang digelar di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, pada Jumat, 17 Juli 2026.

Presiden menyampaikan bahwa langkah efisiensi tersebut menjadi bagian dari upaya besar mempersiapkan masa depan Indonesia di mana Indonesia diproyeksikan sebagai salah satu negara terbesar di dunia pada 2045–2050. Menurut Presiden, cita-cita Indonesia menjadi negara maju hanya dapat terwujud apabila generasi muda saat ini benar-benar dipersiapkan dengan baik.

“Jadi anak-anak yang sekarang umur 10 tahun, yang di SD, dia nanti 25 tahun lagi dia 35 tahun, dia intinya bangsa Indonesia. Jadi kalau kita sekarang tidak urus anak-anak itu, dia bagaimana akan menjadi negara keempat terbesar di dunia?” ujar Presiden.

Dalam konteks tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kekuatan negara tidak hanya ditentukan oleh pertahanan dan keamanan dalam arti sempit, tetapi juga oleh kesejahteraan rakyat. Menurut Presiden, rakyat yang kuat, sehat, dan sejahtera merupakan fondasi utama pertahanan nasional.

“Pertahanan terbaik adalah rakyat yang kuat dan sejahtera. Kalau ada yang macam-macam sama bangsa Indonesia, seluruh rakyat, seluruh rakyat akan membela bangsa ini. Makanya dari sekarang TNI dan Polri di tengah-tengah rakyat, di tengah-tengah petani dan nelayan,” kata Presiden.

Baca Juga  Tiga Mahasiswa FPar Unud Belajar Meneliti ke BRIN Jakarta

Presiden juga menyampaikan apresiasi terhadap peran TNI dan Polri yang telah membantu masyarakat melalui berbagai program nyata, termasuk pembangunan jembatan dan penyediaan titik air. Menurut Presiden, kesulitan rakyat harus menjadi perhatian bersama seluruh unsur negara.

“Hari ini saya bangga, hari ini saya bahagia. Saya sungguh bahagia dan saya sungguh merasa terharu. TNI bangun berapa ribu jembatan, Polri juga, berapa ribu titik air. Kita atasi, kesulitan rakyat kita atasi,” ungkap Presiden.

Menutup pidatonya, Presiden menegaskan bahwa TNI dan Polri merupakan milik rakyat, sehingga keberadaannya harus selalu diarahkan untuk membantu rakyat dan mengatasi kesulitan yang dihadapi masyarakat.

“Ini Indonesia, TNI, Polri milik rakyat, kesulitan rakyat harus kita atasi. TNI, Polri harus mengatasi kesulitan rakyat,” pungkas Presiden. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya Serentak Tiga Komoditas, Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Published

on

By

Presiden Prabowo Subianto menyaksikan panen raya tebu di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
PANEN RAYA: Presiden Prabowo Subianto menyaksikan secara langsung panen raya tebu di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, pada Jumat, 17 Juli 2026. (Foto: BPMI Setpres/Cahyo/presidenri.go.id)

Malang, Jateng, baliilu.com – Presiden Prabowo Subianto memimpin panen raya serentak yang digelar di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, pada Jumat, 17 Juli 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari sinergi TNI dalam mendukung program ketahanan pangan nasional melalui panen tiga komoditas strategis yang dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia, yakni tebu oleh TNI Angkatan Udara, kedelai oleh TNI Angkatan Laut, serta padi oleh TNI Angkatan Darat.

Setibanya di lokasi, Kepala Negara meninjau insinerator atau alat pembakar sampah, serta melihat berbagai hasil dan inisiatif hilirisasi yang dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus memperkuat industri nasional. Kedatangan Kepala Negara disambut dengan pertunjukan Tari Beskalan Putri, sebelum kemudian meninjau sejumlah stan yang menampilkan program-program unggulan TNI di bidang ketahanan pangan.

Presiden Prabowo kemudian menyaksikan secara langsung proses panen raya tebu yang dilaksanakan di Lanud Abdulrachman Saleh. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari panen raya serentak yang dilaksanakan secara nasional sebagai wujud kolaborasi TNI dalam memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Dalam laporannya, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyampaikan bahwa panen raya serentak tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pendampingan terpadu oleh seluruh matra TNI.

“Menindaklanjuti arahan Bapak Presiden, TNI melaksanakan pendampingan terpadu, TNI Angkatan Udara pada komoditas tebu, TNI Angkatan Laut pada komoditas kedelai, dan TNI Angkatan Darat pada komoditas padi,” ujar Panglima TNI.

Secara khusus, Panglima TNI menjelaskan bahwa panen tebu di Lanud Abdulrachman Saleh mencakup lahan seluas 800,5 hektare dengan estimasi hasil panen mencapai 72.045 ton.

Baca Juga  Tingkatkan Capaian IKU, Prodi Ilmu Sejarah FIB Unud Gelar Workshop RPS dan Kurikulum

“Luas siap panen mencapai 800,5 hektare dengan estimasi hasil 72.045 ton dengan nilai diterima pabrik rata-rata Rp720 ribu per ton. Hilirisasi tebu turut menghasilkan molase, bioetanol, industri ataupun farmasi, pupuk organik, dan produk turunan lainnya yang meningkatkan nilai bagi perekonomian nasional,” lanjutnya.

Selanjutnya, Presiden Prabowo dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Panen Raya TNI Terintegrasi yang dilaksanakan secara serentak di 43 titik di seluruh Indonesia. Menurut Kepala Negara, kegiatan tersebut mencerminkan bahwa upaya mewujudkan ketahanan pangan merupakan gerakan nasional yang melibatkan seluruh komponen bangsa.

“Saya ucapkan selamat atas terselenggaranya Panen Raya TNI terintegrasi yang dilaksanakan serentak di 43 titik di seluruh Indonesia. Kegiatan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya urusan Kementerian Pertanian, tetapi merupakan gerakan nasional yang melibatkan seluruh kekuatan bangsa,” ujar Presiden.

Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa keterlibatan TNI dalam mendukung sektor pangan merupakan wujud nyata pengabdian kepada rakyat. Kepala Negara menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Ini menunjukkan bahwa TNI dan Polri tidak hanya merupakan penjaga pertahanan dan keamanan negara, tapi TNI dan Polri adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari rakyat Indonesia. TNI dan Polri adalah anak kandung rakyat. TNI dan Polri harus selalu bersama rakyat di tengah-tengah rakyat. Kesulitan rakyat adalah kesulitan TNI dan Polri,” tegas Presiden. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca