Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

“Festival Fronteira 2023” di Timor Leste

Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Unud Berpartisipasi Dalam Festival Fronteira

Loading

BALIILU Tayang

:

Festival Tapal Batas 2023
FESTIVAL:  Festival Fronteira atau Festival Tapal Batas berlangsung di Distrik Maliana Timor Leste pada 15 - 19 November 2023. Salah satu gambar yang memperlihatkan bahwa Timor Leste dan Timor bagian barat (Indonesia) memiliki akar kebudayaan yang sama. Rekonsiliasi yang berpijak pada akar kebudayaan yang sama diyakini lebih mudah membuka ruang-ruang perdamaian untuk: tinggalkan konflik demi kemajuan pembangunan manusia. (Foto: Maria Matildis Banda).

KEMENTERIAN Pemuda, Olahraga, Seni, dan Budaya, Sekretariat Negara Urusan Seni dan Budaya, dan Direktur Eksekutif Centro Nacionale Chegal! I. P., Republika Demokratik Timor-Leste, menyelenggarakan “Seminar Fronteira 2023 atau Festival Tapal Batas 2023”. Festival Fronteira diselenggarakan di Distrik Maliana Timor Leste, 15 – 19 November 2023. Kesadaran pemerintah Republika Demokratik Timor-Leste untuk meninggalkan konflik dan mengutamakan pembangunan menjadi salah satu alasan berlangsungnya kegiatan ini. Tujuan utamanya adalah menghasilkan suatu pengertian bersama yaitu gagasan tentang estetika tertentu di bidang seni dan sastra yang dapat menjadi acuan dalam mengolah sejarah dan ingatan masa lalu sebagai sebuah katarsis di tengah masyarakat paska konflik.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) ikut berpartisipasi dalam Festival Fronteira tersebut dengan topik khusus: ‘’Sastra dan Rekonsiliasi’’. Materi disampaikan oleh Dr. Dra. Maria Matildis Banda, M.S, yang merupakan dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Unud. Partisipasi Dr. Maria dalam kegiatan ini berdasarkan surat undangan dari pemerintahan Timor Leste dan Surat Tugas dari Dekan FIB Unud. Topik ini disajikan sebagai salah satu bentuk pengabdian FIB Unud kepada masyarakat Timor Leste, khususnya peserta Festival Fronteira. Subtopik artikel ini memaparkan suatu panorama umum tentang apa dan bagaimana karya sastra dapat menjadi sarana rekonsiliasi di tengah masyarakat paska konflik.

Sastra dan Rekonsiliasi

Kata ‘’rekonsiliasi’’ digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua pihak yang bertikai karena suatu alasan. Rekonsiliasi berkaitan dengan relasi atau hubungan dalam keluarga kecil maupun keluarga besar dalam arti luas karena mengalami konflik serius menyangkut kehidupan bersama. Ada ruang yang disiapkan dan direncanakan dengan baik agar konflik terurai dan hubungan keluarga menjadi lebih baik. Hal ini sering kali terjadi berkali-kali karena hubungan kesepakatan untuk perdamaian belum tercapai; belum sanggup mengembalikan situasi kondisi hubungan sebagaimana sebelum terjadi konflik.

Sastra dan rekonsiliasi berkaitan dengan peran karya sastra sebagai media rekonsiliasi. Sesuai dengan fungsi karya sastra: 1) fungsi refleksi dan pendidikan moral. Melalui karya sastra pembaca memiliki kesempatan untuk refleksi dan memperoleh pengetahuan tentang moral dan nilai-nilai hidup; 2) fungsi religius. Karya sastra mengandung unsur-unsur keagamaan yang dapat dimanfaatkan sebagai pedoman atau arah hidup; 3) fungsi hiburan dan keindahan. Karya sastra memberi hiburan dan keindahan kepada pembacanya; 4) fungsi dokumentatif. Karya sastra mendokumentasikan berbagai peristiwa bahagia maupun mengenaskan dalam hidup; dan 5) fungsi hirtoris dan kebudayaan. Karya sastra menjadi salah satu media perekam sejarah dan kebudayaan. Fungsi kelima berkaitan dengan rekonsiliasi; dimana peserta festival diajak untuk berdiskusi, membuka pikiran bersama, tentang peran sastra bagi masyarakat pembaca.

Baca Juga  Biro Kemahasiswaan Unud Bareng BPR Lestari Gelar LEC Goes to Campus

Ada berbagai fakta historis yang menjelaskan peran sastra (relasi teks sastra) dengan berbagai problem dan konflik di tengah masyarakat. Apalagi jika sumber konflik berkaitan dengan identitas keluarga, identitas komunal, serta identitas masyarakat yang berhadapan dengan perbedaan pilihan dan perbedaan kepentingan.

Peserta festival diajak untuk membangun pengertian bersama bahwa rekonsiliasi akan mudah dilaksanakan jika kedua belah pihak saling percaya satu terhadap yang lain, sehingga proses penerimaan kembali dapat berlangsung dengan baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kedua belah pihak mesti sanggup mengendalikan diri dengan tenang, sabar, menjadi pendengar yang baik untuk saling berdiskusi dan saling memaafkan. Rekonsiliasi juga memerlukan tekad dan keberanian untuk menghadapi hari esok yang lebih baik bagi semua pihak.

Surat-Surat dari Dili

Sastra dan Rekonsiliasi yang disampaikan dalam Festival Fronteira tersebut berdasarkan karya sastra karya Maria Matildis Banda: berbentuk puisi surat pertama sampai surat kedua puluh dengan judul “Surat Untuk Mgr. Carlos Ximenes Belo (1999 – 2000); cerpen “Pulang” (1981), “Rebung Gading” (1997), dan “Noelbaki” (1999); serta novel Surat-Surat dari Dili (2005) dan Doben (2000). Tiga di antaranya dibahas secara singkat dalam festival tersebut: novel Surat-Surat dari Dili dan Doben, serta cerpen “Noelbaki”.

Surat-Surat dari Dili (280 halaman) ditulis dengan  latar waktu, tempat, dan peristiwa berawal dari peristiwa Santa Cruz. Novel ini merupakan media yang baik dalam membahas rekonsiliasi karena sikap tokoh-tokoh yang “terlibat” dengan peristiwa yang dijadikan latar cerita; serta bagaimana tokoh-tokoh menyikapinya; demi menyelamatkan hubungan keluarga yang “hancur” akibat pilihan politik yang berbeda.

Dalam catatan sejarah diketahui bahwa tahun 1999 itu terjadi eksodus masyarakat secara besar-besaran dari Propinsi Termuda RI itu sampai ke Atambua, TTU, TTS, dan sampai Kupang, bahkan daerah lainnya. Banyak warga yang menetap di terminal Noelbaki Kupang, salah satu tempat tinggal sementara warga Timor Timur. Latar ini melahirkan cerpen “Noelbaki”.  Cerpen ini merupakan salah satu media rekonsiliasi yang melonggarkan pikiran dan hati untuk mengambil sikap berpihak pada penderitaan sesama yang eksodus dari tanah leluhurnya demi situasi politik yang mereka sendiri tidak mengerti benar. Karya sastra mencatat bahwa meja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), meja Jakarta, Australia, dan negara-negara yang ikut ambil bagian dalam problem politik di Timor Timur pada waktu itu adalah meja yang tinggi dan sangat jauh dari realitas pahitnya pengalaman keluarga-keluarga yang terpisah satu sama lain, eksodus tanpa mengerti, serta menjadi warga yang tinggalkan rumah tanpa mengerti benar apa yang akan terjadi.

Baca Juga  FEB Unud Terima Kunjungan FEB Unram, Bahas Strategi Peningkatan Pengelolaan SDM

Selanjutnya novel Doben (70 halaman). Doben adalah novel yang melukiskan hubungan manusia dan kuda yang bernama Doben; hubungan antara anak dan ibunya, hubungan kakak adik bersaudara kandung yang hancur lebur karena pilihan politik berbeda.

Beberapa contoh karya sastra tersebut menjelaskan bagaimana karya sastra sebagai cermin masyarakatnya; cermin sejarah dan kebudayaan. Dengan sifat karya sastra yang universal, Surat-Surat dari Dili, Doben, dan “Noelbaki” tidak hanya menjelaskan persoalan Timor Leste tetapi persoalan humanisme universal; dari belahan dunia dimana saja yang berperang akibat masalah pilihan politik dan ideologi yang berbeda. Sejumlah karya sastra lainnya yang mengungkapkan persoalan humanisme universal (termasuk persoalan humanisme yang terjadi di Timor Timur dan Timor Leste) antara lain Saksi Mata (1994 Seno Gumira Aji Darma), Jazz, Parfum, dan Insiden (1996, Seno Gumira Aji Darma), Vitoria Helena’s Brown Box (2015, Viera dan Soeriapoetra), dan Orang-Orang Oetimu (2019, Felix K. Nesi).

Bercermin pada Sejarah Sendiri

Festival Fronteira juga menjelaskan bahwa tentang sastra dan rekonsiliasi akan jauh lebih meyakinkan ketika “penderita” bercermin pada sejarahnya sendiri; juga menulis sendiri apa yang dirasakannya dalam rangka rekonsiliasi. Para sastrawan memiliki kesempatan menatap berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi seputar tahun 1975 sampai dengan 1999 dan seterusnya. Perempuan yang dikemas sebagai tokoh utama dalam cerita adalah sosok yang paling menderita dengan berbagai bentuk kekerasan seksual sebagaimana dialami, Lilia dan perempuan lainnya dalam Surat-Surat dari Dili dan tokoh perempuan lainnya dalam Doben. Mereka adalah sosok yang menjelaskan apa yang terjadi ketika bencana perang dan perebutan kekuasaan datang tanpa ampun. Tidak ada ruang yang cukup bagi mereka untuk bertanya apa sebenarnya yang terjadi? Bahkan kesempatan untuk mengerti pun tidak ada. Mereka hanya menerima akibat yang paling pedih dari perang dan perebutan kekuasaan yang terjadi di hadapan mata. Yang mereka lihat dan rasakan langsung adalah kerusuhan terjadi dan pembunuhan dan penghakiman terjadi di hadapan mata. Mereka berteriak tetapi suara mereka tidak didengar.

Baca Juga  Mahasiswa Keperawatan Unud Gelar PKM-PM Bantu Remaja Mengelola Masalah Emosional dengan Praktik Yoga dan Meditasi

Festival Fronteira menggarisbawahi bahwa para sastrawan sekarang ini perlu mengangkat berbagai kenangan sejarah masa lalu melalui karya sastra demi rekonsiliasi yang penting bagi masa depan anak-anak bangsa di dunia. Timor Leste adalah salah satunya. Ciri universal karya sastra terbaca antara lain dalam Surat-Surat dari Dili, Doben, dan “Noelbaki”. Dalam kaitannya dengan sastra dan rekonsiliasi, karya sastra berkaitan dengan makna apa yang ingin disampaikan dan bagaimana makna itu sampai dan menetap dalam pikiran dan kalbu pembacanya. Ada bagian yang sama dari bangsa-bangsa (apapun latar belakangnya) di jagat raya ini: harga diri dan martabat yang mesti dijunjung tinggi bangsa lain. Ada bagian yang sama dari setiap manusia (darimana pun dia berasal): hasrat tentang cinta dan rindu, hasrat menikmati sunyi, sepi, ditinggalkan, dan hasrat untuk berpeluk dan memeluk masa depan cerah bagi sejarah dan kebudayaan yang lebih baik bagi anak-anak penerus generasi. Sumber: https://www.unud.ac.id/in/berita-fakultas4208-Dosen-Program-Studi-Sastra-Indonesia-FIB-Unud-Berpartisipasi-dalam-Kegiatan-Pengabdian-kepada-Masyarakat-bertajuk-Festival-Fronteira-2023-di-Timor-Leste.html (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

3 Desa di Nusa Penida Jadi Sasaran Aksi Sosial “Bergerak dan Berbagi” TP PKK Provinsi Bali

Perkuat Pemberdayaan Keluarga, Edukasi Pengelolaan Sampah, dan Pencegahan Stunting

Loading

Published

on

By

TP PKK) Provinsi Bali melaksanakan aksi sosial “Bergerak dan Berbagi” di tiga desa di Kecamatan Nusa Penida
SERAHKAN BANTUAN: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ibu Putri Koster menyerahkan sembako saat menghadiri aksi sosial “Bergerak dan Berbagi” di tiga desa di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, pada Jumat (17/4). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Klungkung, baliilu.com – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Bali melaksanakan aksi sosial “Bergerak dan Berbagi” di tiga desa di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, pada Jumat (17/4).

Adapun tiga desa yang menjadi sasaran kegiatan tersebut yakni Desa Bunga Mekar, Desa Batukandik, dan Desa Suana.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ibu Putri Koster, dalam sambutannya menyampaikan bahwa TP PKK terus bergerak aktif mendukung program pemerintah melalui berbagai aksi nyata di masyarakat. Fokus utamanya adalah memberdayakan perempuan, meningkatkan kualitas keluarga, serta menyukseskan pembangunan daerah.

Putri Koster menjelaskan bahwa salah satu program prioritas Pemerintah Provinsi Bali saat ini adalah penanganan masalah lingkungan, khususnya sampah, melalui pengelolaan berbasis sumber.

Penanganan sampah dari rumah tangga dilakukan melalui pemilahan sampah menjadi organik, anorganik, dan residu. Pengelolaan yang efektif melibatkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), pengolahan sampah dapur menjadi kompos, serta penyediaan tempat sampah terpisah guna meningkatkan efisiensi daur ulang dan mengurangi volume sampah ke TPA.

“Di Nusa Penida jangan sampai ada sampah yang menumpuk seperti di TPA Suwung. Untuk itu, kita harus bisa menyelesaikan sampah dari sumbernya, mulai dari rumah tangga. Nusa Penida sebagai daerah wisata harus dijaga keindahan alamnya dengan baik,” ujarnya sembari mengajak masyarakat mendukung kebijakan kepala daerah.

Di sisi lain, Putri Koster juga menyoroti gangguan kesehatan pada anak-anak atau generasi muda yang seharusnya dapat dicegah sejak masa kehamilan. Untuk itu, ia mengajak masyarakat meningkatkan konsumsi ikan guna mencegah stunting.

“Ikan merupakan sumber protein yang sangat baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian anak guna memaksimalkan fase tumbuh kembangnya. Ikan juga mengandung omega-3 yang sangat penting bagi perkembangan otak. Konsumsi ikan sangat direkomendasikan karena kaya protein dan zat gizi penting yang mendukung perkembangan kognitif, daya ingat, serta kesehatan mata dan jantung,” ungkapnya.

Baca Juga  FEB Unud Terima Kunjungan FEB Unram, Bahas Strategi Peningkatan Pengelolaan SDM

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Klungkung, Ny. Eva Satria, menyampaikan terima kasih kepada TP PKK Provinsi Bali atas pelaksanaan aksi sosial di Kecamatan Nusa Penida.

“Terima kasih kepada Ibu Ketua TP PKK Provinsi Bali yang telah menyerahkan bantuan kepada masyarakat kami di Kecamatan Nusa Penida,” ujarnya.

Di masing-masing desa tersebut, diserahkan berbagai bantuan, antara lain 50 paket Gemarikan yang berisi 1 kg ikan tuna bluefin, 1 kg ikan nila, dan 1 kg ikan kembung; 10 paket sembako yang terdiri atas beras 10 kg, minyak goreng 2 pcs, gula pasir 3 kg, kopi bubuk 2 bungkus, serta makanan ringan.

Selain itu, diberikan pula paket susu SGM Explor 150 gram (@2 kotak) kepada 10 balita dan paket susu SGM Bunda 150 gram (@2 kotak) kepada 10 ibu hamil. Bantuan lainnya berupa paket multivitamin untuk balita dan dewasa, 50 pak telur (@40 butir), 1.000 bibit cabai, 25 bibit jambu kristal, 25 bibit nangka, serta buku resep kuliner olahan kue dan pangan lokal dalam rangka kegiatan aksi sosial tahun 2026.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan layanan cek kesehatan gratis dan demo memasak yang menghadirkan Bali Chef Community.

Selain melaksanakan aksi sosial, TP PKK Provinsi Bali juga melakukan kunjungan ke tempat pengolahan rumput laut menjadi kerupuk yang diproduksi oleh Sarining Segara Semaya di Banjar Semaya, Desa Suana, Nusa Penida, Klungkung.

Turut hadir dalam kegiatan ini Sekretaris I TP PKK Provinsi Bali Ny. Seniasih Giri Prasta, Sekretaris I TP PKK Kabupaten Klungkung Ny. Kusuma Surya Putra, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil (PMD Dukcapil) Provinsi Bali I Made Dwi Dewata, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali Putu Sumardiana, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Nyoman Gede Anom, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Provinsi Bali Sagung Mas Dwipayani, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali Tri Arya Dhyana Kubontubuh, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada, Direktur Utama Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM) I Gusti Ngurah Putra Dharma Jaya, serta Camat Nusa Penida I Kadek Yoga Kusuma. (gs/bi)

Baca Juga  Mahasiswa Keperawatan Unud Gelar PKM-PM Bantu Remaja Mengelola Masalah Emosional dengan Praktik Yoga dan Meditasi

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Ribuan Umat, Menko PMK dan Gubernur Koster Serukan Harmoni di Tengah Kebisingan Global pada Dharma Santi Nyepi 1948

Published

on

By

Dharma Santi Nyepi
DHARMA SANTI NYEPI: Gubernur Bali Wayan Koster mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dalam acara Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra,Taman Budaya Art Center Denpasar, Jumat (17/4). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dalam acara Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra,Taman Budaya Art Center Denpasar, Jumat (17/4). Kegiatan yang dihadiri sekitar 5.500 umat tersebut menjadi puncak rangkaian Hari Raya Nyepi sekaligus momentum mempererat persaudaraan, memperkuat toleransi, dan menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat Bali.

Acara diisi dengan dharma wacana (siraman rohani), pertunjukan seni budaya, serta hiburan musik yang memperkuat nuansa spiritual sekaligus kebersamaan. Selain digelar secara nasional di Bali, Dharma Santi juga dilaksanakan di berbagai daerah seperti Sulawesi Selatan, Papua Selatan, dan Sumatera Selatan sebagai bentuk perayaan serentak umat Hindu di seluruh Indonesia.

Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Isyana Bagoes Oka, Ketua Umum PHDI Pusat Wisnu Bawa Tenaya, anggota DPR RI dan DPD RI dapil Bali, serta jajaran Forkopimda Provinsi Bali dan tokoh masyarakat Hindu dari berbagai daerah.

Dalam sambutan yang disampaikan secara virtual, Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa Dharma Santi merupakan momentum penting untuk memperkuat nilai persaudaraan, toleransi, dan persatuan bangsa.

“Atas nama pribadi dan Pemerintah Republik Indonesia, saya mengucapkan selamat merayakan Dharma Santi Tahun Baru Saka 1948 kepada seluruh umat Hindu di tanah air,” ujarnya.

Presiden juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan hidup dan keharmonisan dalam keberagaman sebagai kekuatan utama bangsa Indonesia. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menghidupkan semangat gotong-royong serta nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga  PDIH FH Unud Gelar Sosialisasi Pengelolaan Hutan Adat Sebagai Daerah Tujuan Wisata

“Kita adalah bangsa besar yang rukun dalam perbedaan. Berbeda tetapi tetap satu. Kita harus terus saling menghormati, saling mendukung, dan saling mengasihi,” tegasnya.

Lebih lanjut, Presiden mengajak umat Hindu untuk senantiasa mengamalkan ajaran Tri Hita Karana sebagai fondasi menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam, sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam menjaga persatuan nasional.

Menko PMK Pratikno dalam sambutannya menyoroti tantangan kehidupan modern yang dipenuhi “kebisingan” informasi. Ia menilai derasnya arus media sosial dan informasi digital seringkali membuat masyarakat kehilangan ruang untuk hening dan refleksi diri.

“Kadang kemarahan lebih cepat daripada kebijaksanaan, ketersinggungan lebih cepat daripada pengertian,” ujarnya.

Menurutnya, nilai-nilai Nyepi seperti amati geni, amati karya, dan amati lelungan sangat relevan untuk membangun pribadi yang lebih tenang, reflektif, dan bijaksana. Ia juga mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan di tengah meningkatnya bencana alam seperti banjir dan kebakaran hutan di berbagai wilayah.

Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menekankan bahwa Dharma Santi bukan sekadar perayaan, melainkan momen kembali pada keheningan diri. Ia mengaitkannya dengan ajaran dalam Bhagavad Gita tentang karma yoga—bertindak tanpa keterikatan pada hasil.

Acara ini menjadi penutup rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dengan mengusung semangat Vasudhaiva Kutumbakam—satu bumi satu keluarga—yang diharapkan semakin memperkuat kerukunan umat beragama serta kesadaran kolektif menjaga bumi sebagai rumah bersama.

Usai acara, suasana hangat dan penuh antusiasme terlihat di area pelataran Taman Budaya Art Center Denpasar. Gubernur Wayan Koster menjadi pusat perhatian para peserta yang berebut kesempatan untuk berfoto bersama. Dengan ramah, ia melayani permintaan swafoto dari masyarakat, tokoh adat, hingga generasi muda. (gs/bi)

Baca Juga  Mahasiswa Keperawatan Unud Gelar PKM-PM Bantu Remaja Mengelola Masalah Emosional dengan Praktik Yoga dan Meditasi

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Gubernur Koster Dampingi Menteri LH Tinjau TPA Suwung, TPST Kertalangu, Tahura I dan II hingga TOSS Center Klungkung

Menteri LH Minta Jangan Kendurkan Semangat Memilah Sampah dan Semua Bupati/Walikota Mengakhiri Praktik “Open Dumping”

Loading

Published

on

By

gubernur koster
DAMPINGI MENTERI: Gubernur Bali Wayan Koster mendampingi Menteri Lingkungan Hidup RI, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P saat meninjau Pengolahan Cacahan Sampah Organik menjadi material kompos di kawasan Embung Tukad Unda, Kabupaten Klungkung pada, Jumat (17/4/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster mendampingi Menteri Lingkungan Hidup RI, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P meninjau TPA Suwung, TPST Tahura I dan TPST Tahura II, TPST Kertalangu di Kota Denpasar serta melakukan kunjungan kerja ke pengelolaan sampah TOSS Center di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan dan Pengolahan Cacahan Sampah Organik menjadi material kompos di kawasan Embung Tukad Unda, Kabupaten Klungkung pada, Jumat (17/4/2026).

Dalam tinjauannya di TPA Suwung, TPST Tahura I dan TPST Tahura II, Menteri Hanif Faisol Nurofiq bersama Gubernur Koster yang didampingi oleh Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara melihat langsung pengelolaan sampah organik dan anorganik yang dikerjakan secara sistematis oleh puluhan pekerja di TPST.

Menteri Lingkungan Hidup RI menyampaikan terimakasih kepada Gubernur Bali, Walikota Denpasar serta Bupati Badung, karena dalam kurun waktu satu bulan, Pemerintah Kota Denpasar bersama Pemerintah Kabupaten Badung telah mampu memilah sampah lebih dari 50 persen. Semangat ini dimintanya tidak boleh kendur. Ada upaya yang harus kita lakukan lagi untuk membangun kapasitas TPST.

“Sampai saat ini, pengelolaan sampah di TPST terus kita pantau, karena itu TPST Tahura I kita minta ditingkatkan kapasitasnya menjadi 200 ton per hari dan TPST Tahura II menjadi 100 ton per hari,” pesan Menteri LH seraya menjelaskan tadi alat – alat sudah datang dan saya yakin akhir bulan Juli sampah bisa ditangani dengan baik.

Selain memberikan perhatian terhadap TPST, Menteri Lingkungan Hidup juga berharap agar Pemerintah Kota Denpasar dan Pemerintah Kabupaten Badung meningkatkan kapasitas TPS-3R. “Untuk di kawasan Denpasar – Badung, kami minta kapasitas pengelolaan sampah di TPS-3R ditingkatkan.

Baca Juga  Ciptakan Pengusaha Muda di Bidang Kelautan, Prodi Ilmu Kelautan FKP Unud Adakan Training Entrepreneurship untuk Mahasiswa

Kemudian terkait Tindak Pidana Ringan (Tipiring) bagi yang melanggar aturan pemilahan sampah, Saya minta Pangdam IX Udayana, Kejati Bali, Kapolda Bali dan Kasi Intel agar mendukung sepenuhnya dari Bupati/Walikota untuk segera mempertajam pelaksanaan Tipiring, karena tidak adil, bilamana masyarakat yang sudah pilah, tidak dilindungi dengan perlindungan hukum, pada saat ada yang tidak pilah,” tegas Menteri Hanif Faisol Nurofiq saat didampingi Gubernur Wayan Koster di TPA Suwung.

Mengakhiri kunjungannya di TPA Suwung dan TPST Tahura I – TPST Tahura II, Menteri Lingkungan Hidup menegaskan pihaknya akan mendatangi semua TPA di Bali. Menteri Hanif Faisol Nurofiq juga meminta Gubernur Wayan Koster untuk memanggil semua Bupati/Walikota se-Bali tanpa terkecuali, agar diingatkan untuk mengakhiri praktik open dumping.

“Jadi, ini kita maknai sebagai upaya bersama dalam menyelesaikan sampah tidak hanya di Bali, namun kami menggunakan kewenangan yang diberikan Undang – Undang untuk memaksa kita semua mengakhiri open dumping di seluruh tanah air,” tegasnya.

Usai meninjau TPA Suwung, TPST Tahura I dan TPST Tahura II di Kota Denpasar, Menteri Lingkungan Hidup RI bersama Gubernur Bali langsung bergerak ke Kabupaten Klungkung melihat kondisi pengelolaan sampah TOSS Centre di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan dan Pengolahan Cacahan Sampah Organik menjadi material kompos di kawasan Embung Tukad Unda.

Setibanya di TOSS Center, kehadiran Menteri Lingkungan Hidup bersama Gubernur Bali disambut langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Klungkung, Anak Agung Gede Lesmana.

Menteri Hanif Faisol Nurofiq bersama Gubernur Koster melihat kondisi TOSS Center yang telah melakukan pengolahan sampah organik sampai menjadi pupuk. Kata Sekda Klungkung, hasil pupuk organik yang diolah ini, kami berikan kepada petani secara gratis.

Baca Juga  PDIH FH Unud Gelar Sosialisasi Pengelolaan Hutan Adat Sebagai Daerah Tujuan Wisata

Selain melihat adanya pupuk organik, Menteri Lingkungan Hidup kemudian menyoroti adanya tumpukan sampah plastik dan anorganik di bagian Selatan TOSS Center.

Atas kondisi itu, Menteri Hanif Faisol Nurofiq meminta Sekda Klungkung untuk menjaga kawasan TOSS Centre, supaya tidak ada open dumping, dan meminta Pemerintah Klungkung untuk terus mensosialisasikan ke masyarakat melakukan pemilahan sampah.

“Ini cukup terpilah, kalau tercampur akan tambah parah lagi. Kalau bisa dijaga di hulunya, agar lebih murah anggaran dalam kelola sampahnya. Untuk tumpukan sampah ini harus ditangani, agar tidak ada potensi kerusakan lingkungan.

Jadi seluruh Bali sampai bulan Agustus ini agar mengakhiri open dumping,” tutupnya sembari langsung menuju ke Embung Tukad Unda, Klungkung untuk melihat Pengolahan Cacahan Sampah Organik menjadi material kompos. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca