Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

“Festival Fronteira 2023” di Timor Leste

Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Unud Berpartisipasi Dalam Festival Fronteira

Loading

BALIILU Tayang

:

Festival Tapal Batas 2023
FESTIVAL:  Festival Fronteira atau Festival Tapal Batas berlangsung di Distrik Maliana Timor Leste pada 15 - 19 November 2023. Salah satu gambar yang memperlihatkan bahwa Timor Leste dan Timor bagian barat (Indonesia) memiliki akar kebudayaan yang sama. Rekonsiliasi yang berpijak pada akar kebudayaan yang sama diyakini lebih mudah membuka ruang-ruang perdamaian untuk: tinggalkan konflik demi kemajuan pembangunan manusia. (Foto: Maria Matildis Banda).

KEMENTERIAN Pemuda, Olahraga, Seni, dan Budaya, Sekretariat Negara Urusan Seni dan Budaya, dan Direktur Eksekutif Centro Nacionale Chegal! I. P., Republika Demokratik Timor-Leste, menyelenggarakan “Seminar Fronteira 2023 atau Festival Tapal Batas 2023”. Festival Fronteira diselenggarakan di Distrik Maliana Timor Leste, 15 – 19 November 2023. Kesadaran pemerintah Republika Demokratik Timor-Leste untuk meninggalkan konflik dan mengutamakan pembangunan menjadi salah satu alasan berlangsungnya kegiatan ini. Tujuan utamanya adalah menghasilkan suatu pengertian bersama yaitu gagasan tentang estetika tertentu di bidang seni dan sastra yang dapat menjadi acuan dalam mengolah sejarah dan ingatan masa lalu sebagai sebuah katarsis di tengah masyarakat paska konflik.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) ikut berpartisipasi dalam Festival Fronteira tersebut dengan topik khusus: ‘’Sastra dan Rekonsiliasi’’. Materi disampaikan oleh Dr. Dra. Maria Matildis Banda, M.S, yang merupakan dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Unud. Partisipasi Dr. Maria dalam kegiatan ini berdasarkan surat undangan dari pemerintahan Timor Leste dan Surat Tugas dari Dekan FIB Unud. Topik ini disajikan sebagai salah satu bentuk pengabdian FIB Unud kepada masyarakat Timor Leste, khususnya peserta Festival Fronteira. Subtopik artikel ini memaparkan suatu panorama umum tentang apa dan bagaimana karya sastra dapat menjadi sarana rekonsiliasi di tengah masyarakat paska konflik.

Sastra dan Rekonsiliasi

Kata ‘’rekonsiliasi’’ digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua pihak yang bertikai karena suatu alasan. Rekonsiliasi berkaitan dengan relasi atau hubungan dalam keluarga kecil maupun keluarga besar dalam arti luas karena mengalami konflik serius menyangkut kehidupan bersama. Ada ruang yang disiapkan dan direncanakan dengan baik agar konflik terurai dan hubungan keluarga menjadi lebih baik. Hal ini sering kali terjadi berkali-kali karena hubungan kesepakatan untuk perdamaian belum tercapai; belum sanggup mengembalikan situasi kondisi hubungan sebagaimana sebelum terjadi konflik.

Sastra dan rekonsiliasi berkaitan dengan peran karya sastra sebagai media rekonsiliasi. Sesuai dengan fungsi karya sastra: 1) fungsi refleksi dan pendidikan moral. Melalui karya sastra pembaca memiliki kesempatan untuk refleksi dan memperoleh pengetahuan tentang moral dan nilai-nilai hidup; 2) fungsi religius. Karya sastra mengandung unsur-unsur keagamaan yang dapat dimanfaatkan sebagai pedoman atau arah hidup; 3) fungsi hiburan dan keindahan. Karya sastra memberi hiburan dan keindahan kepada pembacanya; 4) fungsi dokumentatif. Karya sastra mendokumentasikan berbagai peristiwa bahagia maupun mengenaskan dalam hidup; dan 5) fungsi hirtoris dan kebudayaan. Karya sastra menjadi salah satu media perekam sejarah dan kebudayaan. Fungsi kelima berkaitan dengan rekonsiliasi; dimana peserta festival diajak untuk berdiskusi, membuka pikiran bersama, tentang peran sastra bagi masyarakat pembaca.

Baca Juga  Unud Jalin Kerja Sama dengan HMECC-CAEDA dan Tianjin University

Ada berbagai fakta historis yang menjelaskan peran sastra (relasi teks sastra) dengan berbagai problem dan konflik di tengah masyarakat. Apalagi jika sumber konflik berkaitan dengan identitas keluarga, identitas komunal, serta identitas masyarakat yang berhadapan dengan perbedaan pilihan dan perbedaan kepentingan.

Peserta festival diajak untuk membangun pengertian bersama bahwa rekonsiliasi akan mudah dilaksanakan jika kedua belah pihak saling percaya satu terhadap yang lain, sehingga proses penerimaan kembali dapat berlangsung dengan baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kedua belah pihak mesti sanggup mengendalikan diri dengan tenang, sabar, menjadi pendengar yang baik untuk saling berdiskusi dan saling memaafkan. Rekonsiliasi juga memerlukan tekad dan keberanian untuk menghadapi hari esok yang lebih baik bagi semua pihak.

Surat-Surat dari Dili

Sastra dan Rekonsiliasi yang disampaikan dalam Festival Fronteira tersebut berdasarkan karya sastra karya Maria Matildis Banda: berbentuk puisi surat pertama sampai surat kedua puluh dengan judul “Surat Untuk Mgr. Carlos Ximenes Belo (1999 – 2000); cerpen “Pulang” (1981), “Rebung Gading” (1997), dan “Noelbaki” (1999); serta novel Surat-Surat dari Dili (2005) dan Doben (2000). Tiga di antaranya dibahas secara singkat dalam festival tersebut: novel Surat-Surat dari Dili dan Doben, serta cerpen “Noelbaki”.

Surat-Surat dari Dili (280 halaman) ditulis dengan  latar waktu, tempat, dan peristiwa berawal dari peristiwa Santa Cruz. Novel ini merupakan media yang baik dalam membahas rekonsiliasi karena sikap tokoh-tokoh yang “terlibat” dengan peristiwa yang dijadikan latar cerita; serta bagaimana tokoh-tokoh menyikapinya; demi menyelamatkan hubungan keluarga yang “hancur” akibat pilihan politik yang berbeda.

Dalam catatan sejarah diketahui bahwa tahun 1999 itu terjadi eksodus masyarakat secara besar-besaran dari Propinsi Termuda RI itu sampai ke Atambua, TTU, TTS, dan sampai Kupang, bahkan daerah lainnya. Banyak warga yang menetap di terminal Noelbaki Kupang, salah satu tempat tinggal sementara warga Timor Timur. Latar ini melahirkan cerpen “Noelbaki”.  Cerpen ini merupakan salah satu media rekonsiliasi yang melonggarkan pikiran dan hati untuk mengambil sikap berpihak pada penderitaan sesama yang eksodus dari tanah leluhurnya demi situasi politik yang mereka sendiri tidak mengerti benar. Karya sastra mencatat bahwa meja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), meja Jakarta, Australia, dan negara-negara yang ikut ambil bagian dalam problem politik di Timor Timur pada waktu itu adalah meja yang tinggi dan sangat jauh dari realitas pahitnya pengalaman keluarga-keluarga yang terpisah satu sama lain, eksodus tanpa mengerti, serta menjadi warga yang tinggalkan rumah tanpa mengerti benar apa yang akan terjadi.

Baca Juga  Calon Kandidat IISMA dan IISMAVO 2023 Ikuti Seleksi Internal dan Interview Sesi 2

Selanjutnya novel Doben (70 halaman). Doben adalah novel yang melukiskan hubungan manusia dan kuda yang bernama Doben; hubungan antara anak dan ibunya, hubungan kakak adik bersaudara kandung yang hancur lebur karena pilihan politik berbeda.

Beberapa contoh karya sastra tersebut menjelaskan bagaimana karya sastra sebagai cermin masyarakatnya; cermin sejarah dan kebudayaan. Dengan sifat karya sastra yang universal, Surat-Surat dari Dili, Doben, dan “Noelbaki” tidak hanya menjelaskan persoalan Timor Leste tetapi persoalan humanisme universal; dari belahan dunia dimana saja yang berperang akibat masalah pilihan politik dan ideologi yang berbeda. Sejumlah karya sastra lainnya yang mengungkapkan persoalan humanisme universal (termasuk persoalan humanisme yang terjadi di Timor Timur dan Timor Leste) antara lain Saksi Mata (1994 Seno Gumira Aji Darma), Jazz, Parfum, dan Insiden (1996, Seno Gumira Aji Darma), Vitoria Helena’s Brown Box (2015, Viera dan Soeriapoetra), dan Orang-Orang Oetimu (2019, Felix K. Nesi).

Bercermin pada Sejarah Sendiri

Festival Fronteira juga menjelaskan bahwa tentang sastra dan rekonsiliasi akan jauh lebih meyakinkan ketika “penderita” bercermin pada sejarahnya sendiri; juga menulis sendiri apa yang dirasakannya dalam rangka rekonsiliasi. Para sastrawan memiliki kesempatan menatap berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi seputar tahun 1975 sampai dengan 1999 dan seterusnya. Perempuan yang dikemas sebagai tokoh utama dalam cerita adalah sosok yang paling menderita dengan berbagai bentuk kekerasan seksual sebagaimana dialami, Lilia dan perempuan lainnya dalam Surat-Surat dari Dili dan tokoh perempuan lainnya dalam Doben. Mereka adalah sosok yang menjelaskan apa yang terjadi ketika bencana perang dan perebutan kekuasaan datang tanpa ampun. Tidak ada ruang yang cukup bagi mereka untuk bertanya apa sebenarnya yang terjadi? Bahkan kesempatan untuk mengerti pun tidak ada. Mereka hanya menerima akibat yang paling pedih dari perang dan perebutan kekuasaan yang terjadi di hadapan mata. Yang mereka lihat dan rasakan langsung adalah kerusuhan terjadi dan pembunuhan dan penghakiman terjadi di hadapan mata. Mereka berteriak tetapi suara mereka tidak didengar.

Baca Juga  Perhatikan Mahasiswa Kurang Mampu, Unud Gencarkan KIP-Kuliah

Festival Fronteira menggarisbawahi bahwa para sastrawan sekarang ini perlu mengangkat berbagai kenangan sejarah masa lalu melalui karya sastra demi rekonsiliasi yang penting bagi masa depan anak-anak bangsa di dunia. Timor Leste adalah salah satunya. Ciri universal karya sastra terbaca antara lain dalam Surat-Surat dari Dili, Doben, dan “Noelbaki”. Dalam kaitannya dengan sastra dan rekonsiliasi, karya sastra berkaitan dengan makna apa yang ingin disampaikan dan bagaimana makna itu sampai dan menetap dalam pikiran dan kalbu pembacanya. Ada bagian yang sama dari bangsa-bangsa (apapun latar belakangnya) di jagat raya ini: harga diri dan martabat yang mesti dijunjung tinggi bangsa lain. Ada bagian yang sama dari setiap manusia (darimana pun dia berasal): hasrat tentang cinta dan rindu, hasrat menikmati sunyi, sepi, ditinggalkan, dan hasrat untuk berpeluk dan memeluk masa depan cerah bagi sejarah dan kebudayaan yang lebih baik bagi anak-anak penerus generasi. Sumber: https://www.unud.ac.id/in/berita-fakultas4208-Dosen-Program-Studi-Sastra-Indonesia-FIB-Unud-Berpartisipasi-dalam-Kegiatan-Pengabdian-kepada-Masyarakat-bertajuk-Festival-Fronteira-2023-di-Timor-Leste.html (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

NEWS

Pastikan Hadir di Tengah Masyarakat, Bupati Jembrana Instruksikan Satpol PP dan Dishub Turun Langsung Kawal SPBU

Published

on

By

Bupati Jembrana Pimpin Apel Koordinasi Antrean BBM
PIMPIN APEL: Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, saat pimpin apel koordinasi yang digelar di Gedung Kesenian Ir. Soekarno pada Jumat (16/10), guna menyikapi situasi dan kondisi terkini terkait kelangkaan BBM di wilayah Jembrana. (Foto: Hms Jembrana)

Jembrana, baliilu.com – Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, menegaskan pentingnya kehadiran aparat di lapangan untuk membantu masyarakat yang tengah kesulitan akibat antrean panjang Bahan Bakar Minyak (BBM). Penegasan tersebut disampaikan dalam apel koordinasi yang digelar di Gedung Kesenian Ir. Soekarno pada Jumat (16/10), guna menyikapi situasi dan kondisi terkini di wilayah Jembrana.

​Pemerintah Kabupaten Jembrana memfokuskan upaya ini untuk meringankan beban masyarakat yang harus mengantre berjam-jam demi mendapatkan BBM, agar mereka dapat kembali beraktivitas mencari nafkah.

​Dalam arahannya, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jembrana diminta untuk bahu-membahu serta berkolaborasi dengan pihak kepolisian. Fokus pengamanan diarahkan secara khusus ke setiap stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di berbagai wilayah Jembrana.

“Gerakkan semua Satpol PP dan Polprades yang ada di masing-masing desa. Saya minta fokus sekarang di wilayah yang ada SPBU,” kata Bupati Jembrana Kembang Hartawan.

​Aparat diinstruksikan untuk memastikan antrean berjalan tertib, mencegah aksi keserobotan yang dapat memicu kericuhan, serta mengatur kelancaran arus lalu lintas guna menghindari kemacetan parah di jalan nasional akibat mengularnya antrean kendaraan.

“Kita harus hadir, pemerintah tidak boleh diam. Selama masih terjadi antrean, kita harus ada di sana. Kemarin saya sudah melihat teman-teman Satpol PP dan Perhubungan berupaya di lapangan untuk membantu masyarakat, dan ini saya harapkan terus berlangsung,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Fakultas Kedokteran Hewan Unud Gelar Puncak Perayaan ‘’World Veterinary Day 2022’’
Lanjutkan Membaca

NEWS

Pastikan Pasokan BBM, Bupati Sutjidra Minta Pertamina Prioritaskan Buleleng dan Kawal Distribusi Bersama Forkopimda

Published

on

By

Bupati Sutjidra Pimpin Rakor Penanganan Antrean BBM
PIMPIN RAKOR: Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra saat memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Antrean dan Pemantauan Penyaluran BBM Bersubsidi di Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Sabtu (17/10). (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bergerak cepat memastikan kepastian pasokan bahan bakar minyak (BBM) bagi Kabupaten Buleleng. Usai memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Antrean dan Pemantauan Penyaluran BBM Bersubsidi di Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Sabtu (17/10), Bupati langsung terhubung dengan pihak Pertamina. Pembicaraan itu melibatkan Sales Area Manager Pertamina dan Kepala Depo Manggis, depo yang selama ini menjadi sumber pasokan BBM Buleleng.

“Kami sudah berkomunikasi selama lebih dari dua jam untuk membahas kepastian pasokan BBM bagi Kabupaten Buleleng,” ujar Bupati Sutjidra.

Dalam beberapa waktu terakhir, informasi mengenai pasokan BBM di Buleleng beredar simpang siur di tengah masyarakat. Kondisi ini membuat Pemkab Buleleng mendesak adanya jawaban yang pasti dari PT. Pertamina. Kepastian tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menyusun langkah pengawalan di lapangan.

“Jika tidak ada kepastian, informasi akan terus simpang siur dan masyarakat akan terus menunggu tanpa kejelasan. Apabila sudah ada kepastian, akan segera kami sampaikan kepada masyarakat,” tegasnya.

Bupati Sutjidra juga menyoroti pemerataan pasokan ke puluhan SPBU yang tersebar di Buleleng. Menurutnya, pasokan yang diterima daerah ini belum mencukupi dalam kondisi normal.  Hal inilah yang disampaikan kepada Pertamina agar Buleleng mendapat prioritas.

“Sekarang pasokan yang diberikan Pertamina di bawah 50 persen dari kebutuhan. Ini yang menjadi persoalan, karena itu kami memperjuangkan kebutuhan BBM di Kabupaten Buleleng untuk menjadi prioritas juga,” ungkapnya.

Pemkab Buleleng turut menggandeng unsur Forkopimda untuk memastikan distribusi berjalan aman begitu pasokan tiba. Dalam beberapa hari terakhir, TNI dan Polri telah membantu mengamankan SPBU yang mengalami antrean panjang. Kapolres dan Dandim juga menyatakan kesiapan ikut mengawasi. Namun ditekankan, bahwa ia bersama Forkopimda Buleleng memperjuangkan ke Pertamina agar pasokan BBM ke Buleleng bisa dipenuhi sesuai kebutuhan kondisi normal.

Baca Juga  Edukasi APBN, Kemenkeu Bersama FEB Unud Gelar Kelas Simulasi APBN

“Kami akan mengawal distribusi bersama Forkopimda, tapi yang utama kami perjuangkan adalah pasokannya,” jelas Sutjidra.

Untuk memperkuat pengawasan, Pemkab mempercepat pembentukan Satuan Tugas (Satgas) pemantauan dan pengawasan penyaluran BBM. Satgas ini akan bekerja memantau pasokan sekaligus pendistribusian, serta menelusuri penyebab menurunnya pasokan ke Buleleng. Struktur, pembagian tugas, mekanisme koordinasi, dan pola pelaporannya diminta segera dituntaskan.

“Satgas inilah yang akan memantau terus perkembangan pasokan dan pendistribusian BBM. Saat ini yang paling kami butuhkan adalah kepastian pasokan BBM untuk Buleleng, termasuk jumlah yang benar-benar dialokasikan,” pungkas Bupati Sutjidra.

Pemkab juga mendorong perluasan akses BBM hingga ke desa-desa melalui Pertashop. Saat ini, pasokan yang diterima gerai-gerai tersebut dinilai masih terlalu kecil dibandingkan kebutuhan warga. Selain itu, Pertamina diminta mengkaji pelibatan BUMDes agar distribusi menjangkau masyarakat yang jauh dari SPBU, dengan tetap memperhatikan ketentuan, kewenangan, dan aspek keselamatan.

Terkait antrean, Bupati Sutjidra menyampaikan memahami kondisi warga yang rela mengantre sejak malam hari, bahkan ada yang menginap di SPBU. Bupati Sutjidra juga mengucapkan terimaksih kepada masyarakat dan semua pihak, sehingga masyarakat yang mengantre BBM bisa tertib dan lancar. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Tim SAR Evakuasi Lansia Terjatuh ke Jurang Sedalam 45 Meter di Sidemen Karangasem

Published

on

By

Tim SAR Evakuasi Korban Jatuh ke Jurang di Sidemen
EVAKUASI: Tim SAR saat mengevakuasi korban yang terjatuh di jurang, di Banjar Dinas Dukuh, Desa Sangkan Gunung, Sidemen Karangasem, Minggu (18/10/2026). (Foto: Hms SAR)

Karangasem, baliilu.com – Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar melalui Pos Pencarian dan Pertolongan Karangasem melaksanakan operasi SAR terhadap seorang warga lanjut usia yang ditemukan terjatuh ke jurang sedalam kurang lebih 45 meter di Banjar Dinas Dukuh, Desa Sangkan Gunung, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, Bali, Minggu (18/10/2026).

Informasi kejadian diterima oleh petugas siaga SAR Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar pada pukul 12.15 Wita. “Kami di Pos SAR Karangasem menerima laporan dari Polsek Sidemen bahwa ada 1 orang warga terjatuh ke jurang kedalaman 45 meter, dan memohon bantuan evakuasi,“ jelas Putu Handika Bhayangkara, Koordinator Pos Pencarian dan Pertolongan Karangasem.

Korban diketahui bernama I Made Rauh, laki-laki, berusia 70 tahun. Berdasarkan laporan yang diterima, peristiwa tersebut diperkirakan terjadi pada Minggu dini hari sekitar pukul 01.00 Wita. Menurut kronologi awal, korban meninggalkan rumah pada Minggu dini hari. Beberapa waktu kemudian, anak-anak yang sedang memetik buah manggis menemukan korban di dasar jurang dengan kedalaman sekitar 45 meter. Lokasi penemuan berjarak kurang lebih 300 meter ke arah timur dari rumah korban.

Mengingat kondisi medan yang terjal dan jalur evakuasi yang sangat sulit dijangkau, pihak terkait kemudian melaporkan kejadian tersebut untuk meminta bantuan tim SAR dalam proses evakuasi jenazah korban.

Pada pukul 12.35 Wita, personel Pos Pencarian dan Pertolongan Karangasem diberangkatkan menuju lokasi menggunakan kendaraan Rapid Deployment Land SAR. Tim tiba di lokasi pada pukul 13.15 Wita dan segera berkoordinasi dengan unsur terkait serta masyarakat setempat untuk mempersiapkan proses evakuasi.

Setelah melakukan persiapan selama kurang lebih lima menit, mereka melaksanakan evakuasi dengan menggunakan sistem lifting atau pengangkatan korban dari dasar jurang. Berkat koordinasi dan kerja sama seluruh unsur yang terlibat, jenazah I Made Rauh berhasil dievakuasi pada pukul 13.50 Wita.

Baca Juga  Edukasi APBN, Kemenkeu Bersama FEB Unud Gelar Kelas Simulasi APBN

“Kendala yang kami hadapi yaitu di jurang yang kedalaman 45 meter dengan sudut 45 derajat,” terang Bhayangkara. Atas permintaan pihak keluarga, jenazah selanjutnya dibawa ke rumah duka.

Operasi SAR ini melibatkan unsur dari Pos Pencarian dan Pertolongan Karangasem, Polsek Sidemen, Polres Karangasem, Babinsa Desa Sangkan Gunung, Damkar Karangasem, BPBD Karangasem, masyarakat setempat, serta pihak keluarga korban. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca