Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

“Festival Fronteira 2023” di Timor Leste

Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Unud Berpartisipasi Dalam Festival Fronteira

Loading

BALIILU Tayang

:

Festival Tapal Batas 2023
FESTIVAL:  Festival Fronteira atau Festival Tapal Batas berlangsung di Distrik Maliana Timor Leste pada 15 - 19 November 2023. Salah satu gambar yang memperlihatkan bahwa Timor Leste dan Timor bagian barat (Indonesia) memiliki akar kebudayaan yang sama. Rekonsiliasi yang berpijak pada akar kebudayaan yang sama diyakini lebih mudah membuka ruang-ruang perdamaian untuk: tinggalkan konflik demi kemajuan pembangunan manusia. (Foto: Maria Matildis Banda).

KEMENTERIAN Pemuda, Olahraga, Seni, dan Budaya, Sekretariat Negara Urusan Seni dan Budaya, dan Direktur Eksekutif Centro Nacionale Chegal! I. P., Republika Demokratik Timor-Leste, menyelenggarakan “Seminar Fronteira 2023 atau Festival Tapal Batas 2023”. Festival Fronteira diselenggarakan di Distrik Maliana Timor Leste, 15 – 19 November 2023. Kesadaran pemerintah Republika Demokratik Timor-Leste untuk meninggalkan konflik dan mengutamakan pembangunan menjadi salah satu alasan berlangsungnya kegiatan ini. Tujuan utamanya adalah menghasilkan suatu pengertian bersama yaitu gagasan tentang estetika tertentu di bidang seni dan sastra yang dapat menjadi acuan dalam mengolah sejarah dan ingatan masa lalu sebagai sebuah katarsis di tengah masyarakat paska konflik.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) ikut berpartisipasi dalam Festival Fronteira tersebut dengan topik khusus: ‘’Sastra dan Rekonsiliasi’’. Materi disampaikan oleh Dr. Dra. Maria Matildis Banda, M.S, yang merupakan dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Unud. Partisipasi Dr. Maria dalam kegiatan ini berdasarkan surat undangan dari pemerintahan Timor Leste dan Surat Tugas dari Dekan FIB Unud. Topik ini disajikan sebagai salah satu bentuk pengabdian FIB Unud kepada masyarakat Timor Leste, khususnya peserta Festival Fronteira. Subtopik artikel ini memaparkan suatu panorama umum tentang apa dan bagaimana karya sastra dapat menjadi sarana rekonsiliasi di tengah masyarakat paska konflik.

Sastra dan Rekonsiliasi

Kata ‘’rekonsiliasi’’ digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua pihak yang bertikai karena suatu alasan. Rekonsiliasi berkaitan dengan relasi atau hubungan dalam keluarga kecil maupun keluarga besar dalam arti luas karena mengalami konflik serius menyangkut kehidupan bersama. Ada ruang yang disiapkan dan direncanakan dengan baik agar konflik terurai dan hubungan keluarga menjadi lebih baik. Hal ini sering kali terjadi berkali-kali karena hubungan kesepakatan untuk perdamaian belum tercapai; belum sanggup mengembalikan situasi kondisi hubungan sebagaimana sebelum terjadi konflik.

Sastra dan rekonsiliasi berkaitan dengan peran karya sastra sebagai media rekonsiliasi. Sesuai dengan fungsi karya sastra: 1) fungsi refleksi dan pendidikan moral. Melalui karya sastra pembaca memiliki kesempatan untuk refleksi dan memperoleh pengetahuan tentang moral dan nilai-nilai hidup; 2) fungsi religius. Karya sastra mengandung unsur-unsur keagamaan yang dapat dimanfaatkan sebagai pedoman atau arah hidup; 3) fungsi hiburan dan keindahan. Karya sastra memberi hiburan dan keindahan kepada pembacanya; 4) fungsi dokumentatif. Karya sastra mendokumentasikan berbagai peristiwa bahagia maupun mengenaskan dalam hidup; dan 5) fungsi hirtoris dan kebudayaan. Karya sastra menjadi salah satu media perekam sejarah dan kebudayaan. Fungsi kelima berkaitan dengan rekonsiliasi; dimana peserta festival diajak untuk berdiskusi, membuka pikiran bersama, tentang peran sastra bagi masyarakat pembaca.

Baca Juga  Jalin Kerja Sama dengan Kwansei Gakuin University Jepang, Prodi Sastra Jepang FIB Unud Gelar Diseminasi Hasil Penelitian

Ada berbagai fakta historis yang menjelaskan peran sastra (relasi teks sastra) dengan berbagai problem dan konflik di tengah masyarakat. Apalagi jika sumber konflik berkaitan dengan identitas keluarga, identitas komunal, serta identitas masyarakat yang berhadapan dengan perbedaan pilihan dan perbedaan kepentingan.

Peserta festival diajak untuk membangun pengertian bersama bahwa rekonsiliasi akan mudah dilaksanakan jika kedua belah pihak saling percaya satu terhadap yang lain, sehingga proses penerimaan kembali dapat berlangsung dengan baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kedua belah pihak mesti sanggup mengendalikan diri dengan tenang, sabar, menjadi pendengar yang baik untuk saling berdiskusi dan saling memaafkan. Rekonsiliasi juga memerlukan tekad dan keberanian untuk menghadapi hari esok yang lebih baik bagi semua pihak.

Surat-Surat dari Dili

Sastra dan Rekonsiliasi yang disampaikan dalam Festival Fronteira tersebut berdasarkan karya sastra karya Maria Matildis Banda: berbentuk puisi surat pertama sampai surat kedua puluh dengan judul “Surat Untuk Mgr. Carlos Ximenes Belo (1999 – 2000); cerpen “Pulang” (1981), “Rebung Gading” (1997), dan “Noelbaki” (1999); serta novel Surat-Surat dari Dili (2005) dan Doben (2000). Tiga di antaranya dibahas secara singkat dalam festival tersebut: novel Surat-Surat dari Dili dan Doben, serta cerpen “Noelbaki”.

Surat-Surat dari Dili (280 halaman) ditulis dengan  latar waktu, tempat, dan peristiwa berawal dari peristiwa Santa Cruz. Novel ini merupakan media yang baik dalam membahas rekonsiliasi karena sikap tokoh-tokoh yang “terlibat” dengan peristiwa yang dijadikan latar cerita; serta bagaimana tokoh-tokoh menyikapinya; demi menyelamatkan hubungan keluarga yang “hancur” akibat pilihan politik yang berbeda.

Dalam catatan sejarah diketahui bahwa tahun 1999 itu terjadi eksodus masyarakat secara besar-besaran dari Propinsi Termuda RI itu sampai ke Atambua, TTU, TTS, dan sampai Kupang, bahkan daerah lainnya. Banyak warga yang menetap di terminal Noelbaki Kupang, salah satu tempat tinggal sementara warga Timor Timur. Latar ini melahirkan cerpen “Noelbaki”.  Cerpen ini merupakan salah satu media rekonsiliasi yang melonggarkan pikiran dan hati untuk mengambil sikap berpihak pada penderitaan sesama yang eksodus dari tanah leluhurnya demi situasi politik yang mereka sendiri tidak mengerti benar. Karya sastra mencatat bahwa meja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), meja Jakarta, Australia, dan negara-negara yang ikut ambil bagian dalam problem politik di Timor Timur pada waktu itu adalah meja yang tinggi dan sangat jauh dari realitas pahitnya pengalaman keluarga-keluarga yang terpisah satu sama lain, eksodus tanpa mengerti, serta menjadi warga yang tinggalkan rumah tanpa mengerti benar apa yang akan terjadi.

Baca Juga  Unud Bersama 15 Universitas Tanda Tangani MoU dengan PT PLN (Persero)

Selanjutnya novel Doben (70 halaman). Doben adalah novel yang melukiskan hubungan manusia dan kuda yang bernama Doben; hubungan antara anak dan ibunya, hubungan kakak adik bersaudara kandung yang hancur lebur karena pilihan politik berbeda.

Beberapa contoh karya sastra tersebut menjelaskan bagaimana karya sastra sebagai cermin masyarakatnya; cermin sejarah dan kebudayaan. Dengan sifat karya sastra yang universal, Surat-Surat dari Dili, Doben, dan “Noelbaki” tidak hanya menjelaskan persoalan Timor Leste tetapi persoalan humanisme universal; dari belahan dunia dimana saja yang berperang akibat masalah pilihan politik dan ideologi yang berbeda. Sejumlah karya sastra lainnya yang mengungkapkan persoalan humanisme universal (termasuk persoalan humanisme yang terjadi di Timor Timur dan Timor Leste) antara lain Saksi Mata (1994 Seno Gumira Aji Darma), Jazz, Parfum, dan Insiden (1996, Seno Gumira Aji Darma), Vitoria Helena’s Brown Box (2015, Viera dan Soeriapoetra), dan Orang-Orang Oetimu (2019, Felix K. Nesi).

Bercermin pada Sejarah Sendiri

Festival Fronteira juga menjelaskan bahwa tentang sastra dan rekonsiliasi akan jauh lebih meyakinkan ketika “penderita” bercermin pada sejarahnya sendiri; juga menulis sendiri apa yang dirasakannya dalam rangka rekonsiliasi. Para sastrawan memiliki kesempatan menatap berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi seputar tahun 1975 sampai dengan 1999 dan seterusnya. Perempuan yang dikemas sebagai tokoh utama dalam cerita adalah sosok yang paling menderita dengan berbagai bentuk kekerasan seksual sebagaimana dialami, Lilia dan perempuan lainnya dalam Surat-Surat dari Dili dan tokoh perempuan lainnya dalam Doben. Mereka adalah sosok yang menjelaskan apa yang terjadi ketika bencana perang dan perebutan kekuasaan datang tanpa ampun. Tidak ada ruang yang cukup bagi mereka untuk bertanya apa sebenarnya yang terjadi? Bahkan kesempatan untuk mengerti pun tidak ada. Mereka hanya menerima akibat yang paling pedih dari perang dan perebutan kekuasaan yang terjadi di hadapan mata. Yang mereka lihat dan rasakan langsung adalah kerusuhan terjadi dan pembunuhan dan penghakiman terjadi di hadapan mata. Mereka berteriak tetapi suara mereka tidak didengar.

Baca Juga  FMIPA Gelar Pembahasan dan Pelaporan Hasil AMI 2023

Festival Fronteira menggarisbawahi bahwa para sastrawan sekarang ini perlu mengangkat berbagai kenangan sejarah masa lalu melalui karya sastra demi rekonsiliasi yang penting bagi masa depan anak-anak bangsa di dunia. Timor Leste adalah salah satunya. Ciri universal karya sastra terbaca antara lain dalam Surat-Surat dari Dili, Doben, dan “Noelbaki”. Dalam kaitannya dengan sastra dan rekonsiliasi, karya sastra berkaitan dengan makna apa yang ingin disampaikan dan bagaimana makna itu sampai dan menetap dalam pikiran dan kalbu pembacanya. Ada bagian yang sama dari bangsa-bangsa (apapun latar belakangnya) di jagat raya ini: harga diri dan martabat yang mesti dijunjung tinggi bangsa lain. Ada bagian yang sama dari setiap manusia (darimana pun dia berasal): hasrat tentang cinta dan rindu, hasrat menikmati sunyi, sepi, ditinggalkan, dan hasrat untuk berpeluk dan memeluk masa depan cerah bagi sejarah dan kebudayaan yang lebih baik bagi anak-anak penerus generasi. Sumber: https://www.unud.ac.id/in/berita-fakultas4208-Dosen-Program-Studi-Sastra-Indonesia-FIB-Unud-Berpartisipasi-dalam-Kegiatan-Pengabdian-kepada-Masyarakat-bertajuk-Festival-Fronteira-2023-di-Timor-Leste.html (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

Kapolsek Gianyar Bersama Kabagops Polres Gianyar Pimpin Pencarian Nelayan Hilang di Sepanjang Pantai Siyut hingga Perbatasan Pantai Lebih

Published

on

By

Kapolsek Gianyar Kompol I Made Adi Suryawan bersama Kabagops Polres Gianyar Kompol I Nyoman Sukadana memimpin pencarian nelayan hilang di Pantai Saba
PENCARIAN: Kapolsek Gianyar Kompol I Made Adi Suryawan, S.H., M.M. bersama Kabagops Polres Gianyar Kompol I Nyoman Sukadana, S.H., M.H. memimpin langsung operasi gabungan pencarian seorang nelayan asal Desa Lebih berinisial IND (51) pada Sabtu pagi (18/7/2026). (Foto: Hms Polres Gianyar)

Gianyar, baliilu.com – Kapolsek Gianyar Kompol I Made Adi Suryawan, S.H., M.M. bersama Kabagops Polres Gianyar Kompol I Nyoman Sukadana, S.H., M.H. memimpin langsung operasi gabungan pencarian seorang nelayan asal Desa Lebih berinisial IND (51) yang dilaporkan hilang setelah perahunya ditemukan terdampar tanpa awak di Pantai Saba. Pencarian dilaksanakan pada Sabtu pagi (18/7/2026) dengan melibatkan personel gabungan dari Basarnas, Satpolairud Polres Gianyar, Ditpolairud Polda Bali, Brimob Polda Bali, Ditsamapta Polda Bali, BPBD Kabupaten Gianyar, Balawista, personel Polsek Gianyar dan Polsek Blahbatuh, Pemerintah Desa Lebih, serta paguyuban nelayan dan masyarakat.

Dalam pelaksanaan operasi, Kapolsek Gianyar bersama Kabagops Polres Gianyar turun langsung memantau sekaligus memimpin penyisiran di sepanjang pesisir Pantai Siyut hingga perbatasan Pantai Lebih, sementara tim lainnya melakukan pencarian melalui jalur laut untuk memperluas area penyisiran. Sinergi seluruh unsur yang terlibat menjadi kekuatan utama dalam mengoptimalkan upaya pencarian korban.

Kapolsek Gianyar Kompol I Made Adi Suryawan, S.H., M.M., mengatakan bahwa seluruh personel gabungan bekerja secara maksimal dengan membagi area pencarian agar setiap titik yang berpotensi dapat segera diperiksa. Koordinasi juga terus dilakukan dengan seluruh instansi terkait dan keluarga korban untuk memastikan setiap perkembangan dapat segera ditindaklanjuti.

“Kami bersama Kabagops Polres Gianyar, seluruh personel gabungan, Basarnas, Balawista, BPBD, pemerintah desa, paguyuban nelayan, dan masyarakat terus berupaya semaksimal mungkin melakukan pencarian melalui jalur darat maupun laut. Kami berharap korban dapat segera ditemukan dan proses pencarian berjalan dengan aman serta lancar,” ujar Kompol I Made Adi Suryawan, S.H., M.M.

Hingga saat ini, operasi pencarian masih terus berlangsung dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang ada. Situasi di lokasi tetap aman dan kondusif, sementara personel gabungan terus melakukan penyisiran di sepanjang kawasan pesisir sesuai dengan pembagian tugas masing-masing. (gs/bi)

Baca Juga  Unud Bersama 15 Universitas Tanda Tangani MoU dengan PT PLN (Persero)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Sebuah Jukung Ditemukan Terdampar Tanpa Awak di Pantai Saba

Published

on

By

Tim SAR melakukan pencarian korban terjatuh dari jukung di Pantai Saba, Gianyar
PENCARIAN: Tim SAR saat melakukan pencarian korban terjatuh dari jukung di Pantai Saba, Gianyar, Jumat (17/7/2026). (Foto: Hms SAR)

Gianyar, baliilu.com – Warga sekitaran Pantai Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar dikejutkan dengan penemuan sebuah jukung terdampar tanpa awak pada Jumat (17/7/2026) sekitar pukul 15.15 Wita. Awalnya Nyoman Darin (51) berangkat melaut dari Pantai Lebih, Gianyar pagi harinya, kurang lebih pukul 06.00 Wita. Dengan adanya penemuan jukung tersebut, dicurigai ia terjatuh ke laut.

Petugas siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar menerima informasi pada hari yang sama, pukul 17.40 Wita dari Gede Budha, Kasat Polair Gianyar. “Merespons adanya laporan orang terjatuh ke laut, kami berangkatkan 4 personel menuju pantai Saba,” terang I Nyoman Sidakarya, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar.

Pada pukul 19.30 Wita mereka baru tiba di Pantai Saba dan berkoordinasi dengan unsur SAR terkait serta pihak keluarga korban. Selanjutnya tim SAR gabungan melakukan penyisiran di sepanjang bibir pantai.

“Tim SAR tidak menurunkan alut laut untuk penyisiran, karena air laut surut sehingga banyak bebatuan di bibir pantai dan juga jarak pandang sangat terbatas hingga beresiko membahayakan personel,” jelas Sidakarya. Penyisiran darat dilakukan ke arah barat dan timur Pantai Saba sejauh 1,5 KM dari posisi jukung terdampar. Penyisiran darat yang dilaksanakan sampai dengan pukul 22.00 Wita belum menemukan adanya tanda-tanda keberadaan korban.

Usai berkoordinasi dengan unsur SAR terkait dan hasil komunikasi bersama pihak keluarga, upaya pencarian akan kembali dilanjutkan pagi ini. Rencana pergerakan operasi SAR hari ini akan menurunkan 3 unit rubber boat dan 10 jukung nelayan dengan total luas area pencarian 27,99 NM2 dan drone thermal untuk pantauan udara. Di samping itu juga digerakkan SRU darat menyisiri sepanjang bibir pantai arah barat dan timur dari lokasi penemuan jukung sejauh 3 KM.

Baca Juga  Jalin Kerja Sama dengan Kwansei Gakuin University Jepang, Prodi Sastra Jepang FIB Unud Gelar Diseminasi Hasil Penelitian

Selama berlangsungnya proses pencarian turut melibatkan unsur SAR dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, TNI-AL, Pol Airud Polres Gianyar, Polsek Gianyar, BPBD Gianyar, Ditsamapta Polda Bali, SAR Brimob Polda Bali, Babinsa Desa Saba, Bhabinkamtibmas Desa Saba, Balawista Gianyar, pihak keluarga korban dan masyarakat setempat. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Sasar Tiga Kecamatan di Tabanan, Aksi Sosial TP PKK Serahkan Bantuan Sosial

Published

on

By

Tim Penggerak PKK Provinsi Bali menggelar Aksi Sosial Bergerak dan Berbagi di tiga desa di Kabupaten Tabanan, Jumat (17/7)
AKSI SOSIAL: Tim Penggerak PKK Provinsi Bali saat menggelar Aksi Sosial Bergerak dan Berbagi di tiga lokasi di Kabupaten Tabanan, yakni Desa Bangli, Kecamatan Baturiti; Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel; serta Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, pada Jumat (17/7). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Tabanan, baliilu.com – Tim Penggerak PKK Provinsi Bali kembali turun ke masyarakat melalui Aksi Sosial Bergerak dan Berbagi dengan memberikan bantuan kepada 150 warga di tiga lokasi di Kabupaten Tabanan, yakni Desa Bangli, Kecamatan Baturiti; Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel; serta Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, pada Jumat (17/7).

Bersinergi dan berkolaborasi dengan TP PKK Kabupaten Tabanan serta perangkat daerah terkait di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali, TP PKK Provinsi Bali menyerahkan bantuan sosial berupa 4.500 kilogram beras, 300 krat telur, dan 300 kotak susu kepada masing-masing 30 lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, balita, dan kader PKK di ketiga lokasi tersebut.

Selain itu, di setiap lokasi aksi sosial juga diserahkan bantuan berupa 50 paket Gemarikan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, 10 paket sembako oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Bali, paket susu kepada masing-masing 10 balita dan ibu hamil oleh PD IBI Bali, 20 paket multivitamin untuk masing-masing 10 balita dan lansia oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 50 pak telur serta 1.000 bibit cabai oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, serta 50 bibit pohon oleh Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali.

Kepala Dinas PMD Dukcapil Provinsi Bali, I Made Dwi Dewata, mewakili Ketua TP PKK Provinsi Bali, menyampaikan bahwa kegiatan Bergerak dan Berbagi merupakan salah satu program kerja TP PKK Provinsi Bali. Tujuannya adalah menggerakkan dan memperkuat sinergi berbagai pihak untuk membantu masyarakat, khususnya lansia, balita, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan kader PKK di seluruh wilayah Bali.

Baca Juga  Teknik Sipil Udayana Lolos Mewakili Indonesia ke Jenjang Internasional

“Ini adalah bentuk perhatian Ketua TP PKK Provinsi Bali. Kami berharap para penerima dapat memanfaatkan bantuan tersebut dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan pelaksanaan Aksi Sosial Bergerak dan Berbagi di Kabupaten Tabanan tidak terlepas dari sinergi antara TP PKK Provinsi Bali, TP PKK Kabupaten Tabanan, dan pemerintah daerah setempat. Kolaborasi tersebut memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, tepat sasaran, serta benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

“Aksi sosial ini merupakan wujud sinergi antara TP PKK Provinsi Bali dan TP PKK Kabupaten Tabanan. Berkat kerja sama yang baik, pendataan penerima manfaat hingga penyaluran bantuan dapat terlaksana dengan baik sehingga bantuan benar-benar diterima oleh masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan, Rai Wahyuni Sanjaya, menyampaikan apresiasi kepada TP PKK Provinsi Bali atas bantuan yang diberikan kepada masyarakat Tabanan melalui Aksi Sosial Bergerak dan Berbagi.

“Terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh TP PKK Provinsi Bali. Bantuan tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat Tabanan. Kami berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan di daerah lainnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kepala Dinas Sosial PPPA Provinsi Bali, A.A. Sagung Mas Dwipayani, menyosialisasikan keberadaan Sekolah Rakyat di Bali kepada masyarakat yang hadir. Ia menjelaskan bahwa anak-anak usia sekolah yang belum memperoleh kesempatan bersekolah, baik karena keterbatasan kuota maupun kondisi ekonomi keluarga, dapat mendaftar sebagai peserta didik di Sekolah Rakyat yang berlokasi di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem.

Selanjutnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Putu Sumardiana, mengajak masyarakat untuk gemar mengonsumsi ikan. Menurutnya, kandungan protein pada ikan lebih tinggi dibandingkan sumber protein hewani lainnya.

Baca Juga  FMIPA Gelar Pembahasan dan Pelaporan Hasil AMI 2023

“Asupan ikan sangat penting karena mengandung protein sebesar 17–25 persen yang berperan penting dalam mendukung kecerdasan dan perkembangan fungsi otak,” ungkapnya.

Aksi Sosial Bergerak dan Berbagi kemudian ditutup dengan peninjauan pelayanan kesehatan gratis oleh RS Bali Mandara, vaksinasi rabies gratis oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, serta demonstrasi memasak oleh anggota PKK setempat yang didukung Bali Chef Community dan Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah Provinsi Bali. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca