Gubernur Bali Wayan Koster pada Kamis, 14 Januari 2021 di Rumah Sakit Bali Mandara Denpasar menjadi orang pertama di Bali yang menerima vaksin Covid-19 buatan Sinovac dalam program vaksinasi massal secara gratis di Provinsi Bali.
Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster pada Kamis, 14 Januari 2021 di Rumah Sakit Bali Mandara Denpasar menjadi orang pertama di Bali yang menerima vaksin Covid-19 buatan Sinovac dalam program vaksinasi massal secara gratis di Provinsi Bali. Setelah membuka secara resmi program pelaksanaan vaksinasi di Bali, Gubernur Koster langsung mengikuti vaksinasi yang dilakukan dr. Putu Gede Surya Wibawa, M Biomed, Sp.PD yang merupakan salah satu dokter penyakit dalam di RSBM, setelah melalui beberapa tahapan yang harus diikutinya.
‘’Saya menyambut baik rencana kerja dari Dinas Kesehatan dalam rangka program vaksinasi massal ini karena memang menjadi kebijakan dan arahan Bapak Presiden. Bahkan Bapak Presiden kemarin sudah langsung mengikuti vaksinasi yang telah memberikan contoh dan teladan kepada seluruh masyarakat Indonesia termasuk juga di Provinsi Bali,’’ terang Gubernur Koster dalam sambutannya.
Gubernur Koster (tengah) didampingi Kapolda Bali, Wagub Bali, Kasdam IX/Udayana, Kajati Bali, Sekda Bali usai mengikuti vaksinasi, Kamis (14/1).
Gubernur asal Desa Sembiran Buleleng ini menyampaikan kita semua memahami, bahwa pandemi Covid-19 sudah hampir setahun, sejak Maret 2020 hingga sekarang. Dan Bali belakangan ini juga mulai ada peningkatan kasus positif setelah wisatawan di akhir tahun yang sekaligus menyambut tahun baru datang ke Bali sebanyak 400 ribu lebih. ‘’Saya memperkirakan pasti begitu pulang akan banyak kasus positif dan ternyata benar,’’ ungkap Gubernur Koster.
Dalam minggu ini, kata Koster, kasus positif per harinya meningkat tajam. Dua hari yang lalu bertambah 300 orang lebih, kemarin 260 orang. Tertinggi munculnya per hari dibandingkan dengan hari per hari ketika kasus ini baru muncul Maret 2020 yang lalu.
Kapolda Bali saat divaksin Covid-19
Karena itu, Gubernur yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini menegaskan tidak bisa mengendorkan tertib di dalam melaksanakan protokol kesehatan. ‘’Bahkan sekarang Bapak Presiden sudah menggariskan kita semua untuk mengikuti vaksinasi yang tujuannya untuk menumbuhkan kekebalan dalam tubuh, memperkecil resiko penularan, dan tentu kita berharap agar pandemi Covid-19 di Bali dan di Indonesia segera berakhir,’’ ujar Gubernur.
Gubernur mengingatkan bahwa kita sudah merasakan dan melihat bahwa pariwisata di Bali sudah sangat terpuruk akibat Covid-19. Dalam satu tahun ini kita berharap pandemi ini bisa segera berlalu, dilewati dengan baik, dengan tetap melaksanakan prokes sehingga pariwisata di Bali cepat pulih, perekonomian pulih, dengan demikian kita bisa kembali melakukan upaya kebijakan percepatan pemulihan perekonomian di Provinsi Bali.
Kasdam IX/Udayana saat divaksin Covid-19
Itu sebabnya, ungkap Koster, dalam koordinasi di berbagai rapat secara virtual dengan Menko Maritim dan Investasi, Menteri Kesehatan, Kepala BNPB, dalam konteks vaksinasi ini Bali diberikan prioritas karena Bali merupakan destinasi pariwisata dunia yang harus cepat dipulihkan agar pariwisata ini mendapatkan titik awal untuk memulai pemulihan.
Karena itu, pemerintah pusat sudah menyiapkan porsi yang cukup untuk Bali dijadikan sebagai prioritas untuk mengalokasikan jumlah vaksin yang diberikan ke Provinsi Bali sehingga bisa mencapai target 70 persen dari total populasi penduduk Bali.
Sekda Bali saat divaksin Covid-19
‘’Kita berterimakasih kepada pemerintah pusat yang telah memberi perhatian serius dalam kaitan penanganan Covid-19 termasuk dengan vaksinasi,’’ ujar Gubernur Koster seraya memohon kepada media untuk menyebarluaskan agar masyarakat memahami dengan baik dan benar dengan persepsi yang positif.
‘’Kita ikuti kebijakan pemerintah pusat. Karena pemerintah apalagi Bapak Presiden sudah memberikan contoh, saya yakin vaksin ini sudah betul-betul bisa diterapkan secara bertanggung jawab. Saya kira pemerintah tak mungkin melakukan kebijakan yang mengorbankan masyarakatnya. Kita tak perlu tergoda oleh pihak-pihak yang ingin menggagalkan upaya pemerintah dalam melaksanakan program vaksin ini dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 di seluruh Indonesia,’’ ucap Gubernur Koster.
Kadis Kesehatan Provinsi Bali saat divaksin Covid-19
Setelah sempat istirahat 30 menit usai divaksin, Gubernur Koster mengaku, ‘’Terus terang dari kemarin malam agak ngeri ngeri sedap, agak tegang ternyata tadi dengan diiringi doa semuanya niat baik untuk menjalankan kebijakan dalam upaya meyakinkan masyarakat bahwa kebijakan vaksinasi adalah pilihan terbaik dalam menjaga imunitas tubuh kita, membangun kekebalan dalam tubuh dan meminimalkan resiko penyebaran Covid-19 dapat berjalan dengan baik sehingga Covid ini segera dapat dilewati secara bersama.’’
Turut hadir pada pembukaan vaksinasi massal secara gratis di Bali ini Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Ketua DPRD Bali Adi Wiryatama, Kapolda Bali Irjen Pol. Putu Jayan Danu Putra, S.H., M.Si, Kasdam IX/Udayana Brigjen TNI Candra Wijaya, Sekda Bali Dewa Made Indra, Kajati Bali Erbagyo Rohan, SH, MH, Kepala Badan POM dra. Ni GAN Suarningsih, Kepala BPKP Bali Muhammad Masykur, BPK RI Wilayah Bali DR. Drs. Sri Haryono, DPD -RI Perwakilan Bali Bambang Suseno, Kepala BPBD Bali I Made Rentin, Asisten dan Pimpinan Perangkat Daerah, Ketua PHDI, Ketua Dewan Masjid Indonesia Provinsi Bali, Direktur RSUP Sanglah dr. I Wayan Sudana, M Kes, Deputi BPJS Wilayah Bali Nusra, dan pimpinan organisasi. Sementara yang lolos screening dan mengikuti vaksinasi Kapolda Bali, Sekda Bali, Kasdam IX/Udayana, Kajati Bali, Kepala Dinas Kesehatan Bali, Kepala BPBD Bali, Direktur RSUP Sanglah, dll.
Ketua PHDI Bali saat divaksin Covid-19
Sementara itu dalam laporannya, Kepada Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya mengatakan setelah kick off vaksinasi Covid di Bali dengan dimulainya vaksinasi para pejabat publik akan diikuti oleh vaksinasi para tenaga kesehatan yang saat ini dilakukan di tiga kabupaten di Bali yakni di Kota Denpasar 12.032 orang, di Kabupaten Badung 5.533 orang, dan di Kabupaten Gianyar 4.231 orang.
Vaksinasi ini akan diberikan sebanyak dua kali dengan vaksin yang sama dengan interval 14 hari. Kemudian vaksinasi menyusul 6 kabupaten lain mulai Februari sampai selesai. (gs)
Balita saat menerima suntikan Vaksin Heksavalen. (Foto: Hms Buleleng)
Buleleng, baliilu.com – Orang tua kini bisa sedikit bernapas lega. Keluhan tentang banyaknya suntikan saat imunisasi dasar pada bayi akhirnya direspons pemerintah dengan meluncurkan Vaksin Heksavalen, inovasi yang menggabungkan enam perlindungan penyakit ke dalam satu suntikan.
Provinsi Bali menjadi salah satu dari tiga wilayah percontohan nasional bersama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mulai mengimplementasikan vaksin pada bulan Oktober tahun ini, dan menyasar bayi yang lahir setelah 9 Juli 2025.
Vaksin Heksavalen memberikan perlindungan terhadap Difteri, Pertusis, TetanusH hepatitis B, Haemophilus Influenzae tipe B (Hib), dan Polio, serta menggantikan jadwal imunisasi dasar pada usia 2, 3, dan 4 bulan.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Gede Nyoman Sebawa, menyebut terobosan ini merupakan hasil evaluasi lapangan terhadap berbagai keluhan masyarakat.
“Kami menemukan banyak orang tua mengeluhkan anaknya terlalu sering disuntik saat imunisasi. Kalau dulu dua jenis vaksin disuntikkan terpisah, sekarang cukup satu kali,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/10).
Menurutnya, pengurangan jumlah suntikan tidak hanya mengurangi rasa sakit dan trauma pada bayi, tetapi juga meningkatkan kepatuhan orang tua untuk menuntaskan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).
Selain dari sisi kenyamanan, vaksin kombinasi ini juga menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan cakupan imunisasi yang sebelumnya kerap muncul antara vaksin Pentavalen dan Polio injeksi.
“Dengan dijadikan satu dosis Heksavalen, cakupannya akan sama. Ini langkah penting agar semua bayi mendapat perlindungan penuh,” jelas dr. Sebawa.
Dari sisi pelaksanaan, pihaknya menambahkan efisiensi juga dirasakan oleh tenaga kesehatan. Pemberian vaksin kini lebih praktis dan efektif, sehingga pelayanan dapat dioptimalkan di berbagai fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri, hingga posyandu.
“Untuk Kabupaten Buleleng, sasaran awal bayi usia 2 bulan sampai 2 bulan 29 hari sudah terdata sekitar 2.450 bayi,” tambahnya.
Dr. Sebawa berharap, dengan penerapan vaksin Heksavalen ini, pemerintah menargetkan capaian IDL sebesar 95 persen, sekaligus mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat enam penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. (gs/bi)
SAFARI KESEHATAN: Pelaksanaan safari kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar dengan menyasar wilayah terdampak pada Minggu (14/9). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar terus berupaya memastikan kesehatan warga yang terdampak banjir melalui program Safari Kesehatan yang digelar secara rutin. Giat tersebut dikemas dengan sistem jemput bola yang menyasar titik-titik wilayah terdampak.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, AA Ayu Agung Candrawati saat dikonfirmasi Minggu (14/9) menyatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk memantau dan menjaga kesehatan warga yang berada di kantong-kantong pengungsian akibat banjir.
“Sebagai upaya memastikan kesehatan warga terdampak banjir, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kesehatan secara rutin menggelar Safari Kesehatan. Pemeriksaan menyasar kantong-kantong pengungsian, dengan menerjunkan Tim Kesehatan Puskesmas yang mewilayahi,” kata Agung Candrawati.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan kesehatan warga terdampak banjir tetap terjaga dan dapat segera mendapatkan penanganan jika ditemukan masalah kesehatan.
“Harapannya dapat memastikan kesehatan warga terdampak,” ujarnya.
Bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, Agung Candrawati mengimbau untuk menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat, atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus di wilayah masing-masing.
“Warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dapat menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus,” tambahnya.
Dalam pelaksanaan Safari Kesehatan, tim kesehatan juga memberikan edukasi dan penyuluhan tentang kesehatan kepada warga terdampak, termasuk cara pencegahan penyakit yang umum terjadi pasca-banjir seperti diare dan penyakit kulit. Selain itu, dilakukan juga distribusi obat-obatan dan peralatan kesehatan dasar untuk mendukung pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian.
Dengan upaya ini, Dinkes Denpasar berharap dapat meminimalisir risiko kesehatan bagi warga terdampak banjir dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai.
“Kerja sama antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan pemerintah setempat diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan kesehatan warga terdampak dan mempercepat proses pemulihan pasca-banjir,” ujarnya. (eka/bi)
Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng saat intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. (Foto: Hms Buleleng)
Buleleng, baliilu.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Program ini tidak hanya memberikan akses pemeriksaan bagi ibu hamil oleh dokter spesialis, tetapi juga bertujuan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas dalam memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Nyoman Budiastawan, menjelaskan bahwa melalui kunjungan ini, dokter umum dan bidan di Puskesmas mendapatkan pelatihan langsung dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi dalam hal pemeriksaan kehamilan, deteksi risiko tinggi, serta penggunaan USG dasar.
“Diharapkan setelah mendapatkan pendampingan dari dokter spesialis, tenaga medis di Puskesmas mampu melakukan pemeriksaan dengan USG secara mandiri. Ini akan sangat membantu dalam deteksi dini risiko kehamilan, sehingga ibu hamil dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak awal,” ujar Budiastawan, Jumat (14/3).
Budiastawan menjelaskan, pada semester pertama, program ini telah dilaksanakan di 16 Puskesmas, dengan setiap Puskesmas memeriksa 10 ibu hamil oleh dokter spesialis. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir 90% ibu hamil mengalami kehamilan berisiko tinggi, terutama akibat kurangnya perencanaan kehamilan, usia di atas 35 tahun, serta anemia.
Dengan adanya peningkatan keterampilan tenaga kesehatan, Puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan prima secara mandiri, mulai dari deteksi dini, pemeriksaan rutin, hingga penanganan awal bagi ibu hamil. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, maka rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut akan segera disiapkan.
Selain itu, Budiastawan mengimbau pasangan usia subur untuk merencanakan kehamilan dengan baik, termasuk memperhatikan usia dan kondisi kesehatan sebelum hamil. Bagi ibu hamil, pemeriksaan rutin ke Puskesmas setiap bulan sangat dianjurkan agar potensi risiko dapat terdeteksi sejak dini.
“Dengan peningkatan keterampilan tenaga medis di Puskesmas, kami berharap ibu hamil dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik, cepat, dan tepat. Langkah ini juga berkontribusi dalam menekan angka kematian ibu dan bayi, serta mencegah risiko seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, gizi buruk, dan stunting,” tutup Budiastawan. (gs/bi)