Denpasar, baliilu.com – Sidang Terbuka Promosi Doktor yang digelar Fakultas Pariwisata Universitas Udayana di Ruang Sidang Lantai 3 Gedung Pascasarjana Kampus Sudirman, Senin (7/2) menandai kelahiran seorang doktor pariwisata baru di Bali.
Sidang dengan promovenda Irma Rahyuda, A. Par, M.M., M. Par., M.Rech ini merupakan sidang terbuka promosi doktor ke-78 di Fakultas Pariwisata Unud.
Sidang dipimpin oleh Dr. Sukma Arida, S. Si., M. Si bersama penguji Dr. Ir. I Gusti Ayu Oka Suryawardani, M. Mgt., Ph.D (Promotor); Prof. Dr. Ir. Syamsul Alam Paturusi, MSP (Kopromotor 1); Dr. Ir. A.A.P. Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc (Kopromotor 2); Prof. Dr. Made Budiarsa, MA., Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., Dr. Drs. I Nyoman Sunarta, M. Si, Dr. Putu Gede Sukaatmadja, S.E., M.P., dan Dr. I Wayan Mertha, SE., M. Si.
Tampak hadir Ketua dan Sekretaris Senat Fakultas Pariwisata, Dr. I Putu Sudana, SST. Par., M. Par dan Agus Muriawan Putra, SST., Par, M. Par., dalam sidang tersebut.
Di hadapan dewan penguji, promovenda mempertahankan disertasinya yang berjudul “Strategi Pengembangan Destinasi Wellness Tourism di Bali”.
Promovenda Irma Rahyuda, A. Par, M.M., M. Par., M.Rech foto bersama para dewan penguji. (Foto: Ist)
Promovenda menyoroti kondisi Bali yang masuk dalam 25 destinasi wellness terbaik di dunia dan dengan rerata pertumbuhan dampak ekonomi dari wellness tourism menyentuh 21,5% per tahun. Namun belum berkembang secara optimal. Promovenda menganggap ini ironi mengingat Bali memiliki keunggulan terkait wellness tourism seperti infrastruktur dan aset yang terkait dengan keindahan alam dan topografi, budaya dan sejarah yang khas. Saat ini potensi-potensi tersebut diejahwantahkan dalam jenis-jenis spa dengan tenaga kerja yang terampil. Apalagi dengan adanya pandemi telah menempatkan kondisi kesehatan publik sebagai prioritas utama pada negara tujuan.
Irma (sapaan akrab promovenda) memandang perlu strategi agar wellness tourism di Bali dilihat sebagai peluang dan sebagai salah satu solusi mengatasi dilema potensi pasar dan kepastian pasar kepariwisataan akibat pandemi Covid-19.
Berdasarkan hasil risetnya, Irma mengemukakan perkembangan destinasi wellness tourism Bali ada pada tahap konsolidasi atau dikategorikan sebagai destinasi wellness tourism yang berkembang dan bertumbuh. Adapun faktor internal yang mempengaruhi perkembangan wellness tourism di Bali adalah Bali sebagai destinasi wellness yang memiliki produk lokal wellness yang mendunia, generic based dan authentic based wellness product sebagai kekuatan (strength), sedangkan faktor eksternal sebagai peluang (opportunity) adalah kawasan Asia merupakan penggerak pasar pariwisata kebugaraan global.
Irma menekankan strategi prioritas pengembangan wellness tourism di Bali yakni penguatan identitas wellness tourism melalui layanan dan produk yang bercirikan keunikan lokal. Ia menambahkan bahwa wellness tourism dapat mendukung pariwisata berkelanjutan di Bali.
Setelah sesi tanya jawab, dan pendalaman bersama penguji, sidang diskors sekitar 20 menit. Setelah itu, pimpinan melanjutkan sidang untuk membacakan hasil keputusan pimpinan sidang.
Diiringi hujan yang mengguyur Kota Denpasar, tepuk tangan peserta sidang menggema di Ruang Sidang usai pimpinan sidang membacakan hasil diskusi yang memutuskan promovenda lulus ujian dengan predikat sangat memuaskan sehingga promovenda berhak menyandang gelar doktor.
Promovenda Irma Rahyuda, A. Par, M.M., M. Par., M.Rech. (Foto: Ist)
Promovenda merupakan dosen aktif di Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Perhotelan Unud. Irma Rahyuda, A. Par, M.M., M.Par., M.Rech, menamatkan pendidikan sarjana pada Program Studi Manajemen Perhotelan di STP Nusa Dua (Sekarang Politeknik Pariwisata Bali) pada tahun 2000. Gelar master bidang Manajemen Sumber Daya Manusia diperolehnya pada tahun 2009 dan gelar master bidang pariwisata diperolehnya pada tahun 2012 di dua tempat, yakni Universitas Udayana dan Universitas Angers, Perancis.
Selain aktif menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Irma aktif menjadi pembawa acara di berbagai acara bergengsi, seperti The 4th Bali Internasional Tourism Conference (2020), dan The Comparison of Factors For Choosing A Tourism Destination: A Case Study of Bangkok-Bali (2021). Sumber: www.unud.ac.id(gs/bi)
BUKA BBTF: Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri sekaligus turut membuka secara resmi gelaran Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) ke-12 yang berlangsung di Hotel The Westin Resort Nusa Dua, pada Kamis (28/5). (Foto: Hms Pemprov Bali)
Badung, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri sekaligus turut membuka secara resmi gelaran Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) ke-12 yang berlangsung di Hotel The Westin Resort Nusa Dua, pada Kamis (28/5). Kegiatan ini turut dihadiri Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana, perwakilan Menteri Luar Negeri RI yang diwakili Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Ketua BBTF 2026 sekaligus Ketua ASITA Bali, I Putu Winastra, dalam sambutannya menyampaikan bahwa BBTF tahun ini mengusung tema Redefining Indonesia’s Gastronomy Journey: A Celebration of Taste, Culture, and Sustainable Heritage. Ia menegaskan BBTF bukan sekadar ajang business matching antara buyer dan seller, melainkan platform strategis untuk membangun kepercayaan pasar, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan membuka peluang bisnis nyata bagi industri pariwisata Indonesia.
Tahun ini, BBTF diikuti 407 buyers dari 44 negara dan 286 sellers, yang menjadi bukti tingginya kepercayaan dunia internasional terhadap Bali dan Indonesia sebagai destinasi unggulan di tengah dinamika global.
Sementara itu, Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas konsistensi penyelenggaraan BBTF sebagai salah satu travel fair terbesar dan paling strategis di Indonesia. Menurutnya, penyelenggaraan BBTF merupakan bagian dari upaya nyata pemerintah bersama seluruh pelaku industri pariwisata untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara di tengah tantangan krisis global, ketidakpastian geopolitik, serta perubahan tren perjalanan dunia.
Ia menegaskan, ajang ini menjadi momentum penting untuk memperkuat promosi pariwisata Indonesia, memperluas jejaring pasar internasional, serta mendorong pertumbuhan sektor pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional. (gs/bi)
AUDIENSI: Gubernur Bali Wayan Koster saat menerima audiensi jajaran pelaku pariwisata yang tergabung dalam Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) di Jayasabha, Denpasar, Rabu (27/5). (Foto: Hms Pemprov Bali)
Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan Bali telah memiliki posisi kuat sebagai pusat pertemuan internasional dunia atau meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Untuk itu, ia mendorong pelaku industri pariwisata dan pemangku kepentingan MICE di Bali membangun standar penyelenggaraan yang berkarakter, berbasis budaya Bali, sekaligus memberi dampak nyata bagi pelaku ekonomi lokal.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menerima audiensi jajaran pelaku pariwisata yang tergabung dalam Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) di Jayasabha, Denpasar, Rabu (27/5).
“Bali sudah secara de facto menjadi pusat meeting internasional. Selama ini begitu banyak pertemuan dunia diselenggarakan di Bali karena fasilitas kita kuat, SDM siap, keamanan dan kenyamanan VVIP terjaga,” ujar Koster.
Menurutnya, kekuatan utama Bali bukan hanya pada fasilitas ballroom, convention center, dan hotel berstandar internasional, melainkan budaya Bali yang unik dan tidak dapat ditiru daerah lain secara instan.
Ia mencontohkan keberhasilan Bali menjadi tuan rumah berbagai agenda dunia seperti G20 dan World Water Forum yang menghadirkan puluhan ribu delegasi dari ratusan negara. Dalam forum internasional tersebut, khususnya World Water Forum, Bali dinilai unggul karena mampu memadukan fasilitas modern dengan konsep budaya dan filosofi lokal seperti Sad Kerthi, Danu Kerthi, serta sistem subak.
“Kita jangan terlalu terbawa arus luar karena branding Bali sudah sangat kuat. Yang menjadi nilai jual utama adalah budaya Bali,” katanya.
Koster meminta BaliCEB merumuskan standar MICE khas Bali agar memiliki identitas dan karakter berbeda dibanding destinasi lain di dunia.
“Organisasi silakan rumuskan standar MICE di Bali yang unik supaya punya identitas. Kontennya harus orisinal, dipikirkan dan diurus dengan benar sehingga semua penyelenggara punya acuan,” ujarnya.
Selain memperkuat identitas budaya, Koster juga menekankan pentingnya keterlibatan UMKM lokal dalam setiap kegiatan MICE di Bali, mulai dari transportasi, dekorasi hingga souvenir.
“MICE harus mampu mendukung UMKM lokal Bali. Bangkitkan spirit kelokalan agar dampaknya lebih optimal terhadap pelaku ekonomi Bali,” tegasnya.
Ia juga memastikan persoalan sampah dan kemacetan yang selama ini menjadi sorotan wisatawan akan terus dibenahi secara bertahap guna memperkuat daya tarik Bali sebagai destinasi global.
Ratusan Pelaku Industri Gabung BaliCEB
Sementara itu, Ketua Umum Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) Ketut Jaman mengungkapkan minat pelaku industri pariwisata Bali untuk bergabung dalam organisasi tersebut sangat tinggi.
“Sudah ratusan yang ancang-ancang bergabung dengan MICE ini. Kita ingin Bali menjadi pusat MICE dunia,” ujarnya.
Menurut Ketut Jaman, Bali memiliki ratusan fasilitas MICE dengan sekitar 30 ballroom berkapasitas di atas 200 orang yang tersebar di berbagai kawasan pariwisata.
Pelantikan pengurus BaliCEB dijadwalkan berlangsung pada 5 Juni mendatang di kawasan The Meru, Sanur. Organisasi tersebut menargetkan Bali menjadi destinasi utama penyelenggaraan meeting internasional yang jumlahnya mencapai ribuan agenda setiap tahun di berbagai negara.
Selain itu, BaliCEB juga menyatakan komitmennya mendukung program pungutan wisatawan asing melalui sosialisasi kepada peserta dan penyelenggara event MICE di Bali.
“MICE sangat membantu tingkat hunian hotel maupun kunjungan ke daya tarik wisata di Bali,” kata Ketut Jaman. (gs/bi)
Gubernur Bali Wayan Koster mengalungkan bunga menyambut wisatawan yang datang ke Bali saat Tahun Baru 2026. (Foto: bi)
Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster gembira dan berterima kasih kepada semua stakeholders dan masyarakat yang terus aktif menjaga kualitas pariwisata Bali. Kerja keras semua pihak diapresiasi dunia. Bali Indonesia baru saja meraih peringkat 1 World’s Best Destination 2026, dalam ajang bergengsi Travelers’ Choice Awards: Best of the Best oleh TripAdvisor. Bali di posisi teratas, melampaui sembilan destinasi kenamaan dunia lainnya seperti London, Roma, Hanoi, Paris, New York (NY) hingga Dubai.
Penghargaan dunia ini diakui Koster bahwa Bali tetap kuat dengan pariwisata berbasis budaya, tradisi, seni dan alam meskipun sering digoyang dengan isu sampah, macet dan sepi.
“Bali di posisi nomor 1 dari 10 Top Destinasi Pariwisata Dunia. Bali menempati posisi tertinggi di dunia sepanjang sejarah. Digoyang dengan isu sampah, macet, sepi dan lain ternyata tak bisa menggoyahkan posisi Bali,” kata Gubernur Koster, Jumat, 16 Januari 2026.
Tak hanya dianugerahi peringkat satu Top Destinasi Pariwisata Dunia oleh TripAdvisor, Bali juga diakui global dalam berbagai kategori lainnya seperti diakui sebagai peringkat pertama Honeymoon Destination. kemudian masuk Top 10 Cultural Destination, Top 10 Solo Travel Destination, Top 20 Trending Cities.
Berikut ini data dan fakta Top 10 World’s Best Destinations Travelers’ Choice Awards Trip Advisor dan Bali Indonesia berada di posisi pertama. Setelah itu disusul urutan kedua London, Britania Raya, dan ketiga Dubai, Uni Emirat Arab, keempat Hanoi, Vietnam, kelima Paris, Prancis, keenam Roma, Italia, ketujuh Marrakesh, Maroko, kedelapan Bangkok, Thailand, kesembilan Kreta, Yunani dan sepuluh New York, Amerika Serikat. (gs/bi)