Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara ngayah Nyanggingin serangkaian Karya Mapandes, Desa Adat Yangbatu pada Sabtu (19/6) di Wantilan Pura Desa, Desa Adat Yangbatu.
Sebagai Walikota, Jaya Negara memang tidak asing lagi dalam tugas nyanggingin. Terlihat begitu terampil dan apik dalam manatah. Lantunan kidung dan suara gender mengiringi Walikota Jaya Negara melaksanakan tugas dalam manatah krama Desa Adat Yangbatu.
Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali A.A. Ngurah Adhi Ardana, Ketua MDA Kota Denpasar A.A. Ketut Sudiana, Ketua Forum Bendesa Adat Kota Denpasar I Wayan Butuantara, Camat Denpasar Timur I Wayan Herman, Kabag Kesra Setda Kota Denpasar Raka Purwantara, Bendesa Adat Pagan I Wayan Subawa, serta Perbekel Desa Dangin Puri Kelod I Made Sada.
Di sela-sela pelaksanaan karya, Walikota Denpasar IGN Jaya Negara mengatakan, ritual potong gigi (mapandes) yang merupakan salah satu upacara Manusa Yadnya yang wajib dilakukan. Dalam agama Hindu, mapandes wajib dilakukan ketika anak menginjak usia remaja atau sudah dewasa. Upacara ini bertujuan untuk mengendalikan enam sifat buruk manusia yang menurut agama Hindu dikenal dengan istilah Sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia).
Lebih lanjut dikatakannya, selain merupakan sebuah kewajiban yang dilaksanakan dalam kehidupan, matatah merupakan upacara untuk menetralisir sifat buruk dalam diri manusia yang disebut dengan Sad Ripu yang meliputi Kama (sifat penuh nafsu indriya), Lobha (sifat loba dan serakah), Krodha (sifat kejam dan pemarah), Mada (sifat mabuk atau kemabukan), Matsarya (sifat dengki dan irihati), dan Moha (sifat kebingungan atau susah menentukan sesuatu).
“Mapandes atau matatah merupakan wujud bakti kepada Sang Pencipta. Dengan dilaksanakannya karya matatah dan menek kelih massal ini diharapkan mampu meningkatkan sradha dan bhakti umat, serta para peserta atau yang bersangkutan mampu menjadikan diri lebih dewasa dan bijak, baik dalam berpikir, berbuat dan berbicara. Pelaksanaan kali ini agak berbeda lantaran penerapan prokes yang ketat dengan rapid test antigen,” ujar Jaya Negara.
Bendesa Adat Yangbatu I Nyoman Supatra saat ditemui mengatakan, karya mapandes ini dilaksanakan lantaran masih banyak krama Desa Adat Yangbatu yang belum mapandes. Karenanya, guna meringankan beban masyarakat, dilaksanakan mapandes di Desa Adat Yangbatu secara massal.
Adapun mapandes ini diikuti oleh sedikitnya 144 peserta yang merupakan krama Banjar Desa Adat Yangbatu. Rangkaian acara telah dimulai sejak Sukra Kliwon Wuku Madengkungan, Jumat (18/6) yang diawali dengan rapid test antigen yang dilanjutkan dengan Pangekeban. Dilanjutkan dengan Madengen-dengen, Mabiokaonan, Mapandes dan Natab Majaya-Jaya pada Saniscara Umanis Wuku Madangkungan, Sabtu (19/6).
“Tentu kami sebagai prajuru Desa Adat Yangbatu serta umat Hindu berkomitmen untuk membantu sesama serta meringankan beban umat dalam pelaksanaan yadnya, serta selalu berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat serta dapat meningkatkan sradha dan bhakti umat,” jelasnya. (ags/ard)