Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Kajian Kesantunan Berbahasa Jepang di Perhotelan Antarkan Kusumarini Raih Gelar Doktor Linguistik di FIB Unud

BALIILU Tayang

:

de
UJIAN DOKTOR: Promovenda Indah Kusumarini, S. Pd., M. Par., saat pertahankan disertasi, Jumat, 3 Desember 2021 secara semidaring di ruang Ir. Soekarno kampus setempat serta melalui aplikasi Cisco Webex. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Program Studi Doktor (S3) Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana kembali menyelenggarakan Promosi Doktor dengan promovenda Indah Kusumarini, S. Pd., M. Par., Jumat, 3 Desember 2021 secara semidaring di ruang Ir. Soekarno kampus setempat serta melalui aplikasi Cisco Webex.

Ujian terbuka dipimpin langsung oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum. Indah Kusumarini M. Par., berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Bahasa Jepang Layanan Perhotelan: Kajian Kesantunan Berbahasa”. Setelah melalui ujian terbuka, Indah Kusumarini dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Ia merupakan Doktor ke-154 di lingkungan FIB Unud dan Doktor ke-200 di lingkungan Prodi S3 Linguistik.

Indah Kusumarini M. Par. dalam kajiannya mengungkapkan, kesantunan berbahasa Jepang sangat erat kaitannya dengan kemampuan seseorang dalam memilih ragam bahasa dimana pilihan ragam bahasa ini dipengaruhi faktor-faktor sosial, seperti perbedaan usia, status sosial, kedekatan hubungan, gender, kelompok uchi-soto dan hubungan  sempai- koohai. Ragam bahasa Jepang diketahui terdiri dari dua macam, yakni ragam keigo (bahasa formal) dan ragam futsugo (bahasa nonformal). Ragam keigo terdiri dari tiga macam, yakni songkeigo (meninggikan lawan tutur), kenjyoogo (merendahkan penutur) dan teineigo (bahasa sopan yang bersifat netral).  Kesantunan berbahasa Jepang juga ditunjukkan dengan kemampuan seseorang menjaga sikap, seperti tidak menyela percakapan, tidak diam saja tetapi menimpali tuturan mitra tutur dengan kata-kata pendek yang disebut ”aizuchi” sehingga mitra tutur merasa diperhatikan. Sikap tubuh (gesture) seperti membungkukkan badan ”ojigi” juga menjadi salah satu indikator kesantunan.

Jika dilihat hubungan tamu dan pelaku pariwisata, maka kedua peserta tutur memiliki hubungan asimetris. Tamu sebagai pihak pembeli jasa, memiliki posisi superior sedangkan staf di posisi inferior. Oleh sebab itu, pelaku pariwisata sebagai pihak host selalu dituntut bertutur santun terhadap tamu sebagai i. Kode linguistik yang dipilih pada umumnya adalah ragam formal, bahasa yang menunjukkan penghormatan kepada tamu, seperti keigo (respecful language).

Dengan bertutur santun diharapkan suasana berinteraksi terasa menyenangkan, tidak mengancam muka, dan efektif.  Pelaku pariwisata sebagai pihak penyedia jasa layanan dalam berkomunikatsi terhadap tamu pasti akan berusaha untuk menghindari tindakan yang dapat mengganggu perasaan  tamu. Sehingga unsur sopan santun selalu menjadi perhatian pelaku pariwisata kususnya di sektor formal seperti pelayanan di hotel.

Kajian kesantunan berbahasa Jepang staf hotel di Bali dianalisis berdasarkan jenis tindak tutur, strategi kesantunan dan pemarkah kesantunan verbal maupun nonverbal. Dari hasil analisis tuturan ditemukan bahwa secara umum staf hotel di Bali menggunakan tuturan langsung (94%). Tuturan tidak langsung ditemukan pada saat membuka pembicaraan dan menutup pembicaraan pada kegiatan guest curtesy oleh staf GRO.

Dengan  memahami cara pandang tamu Jepang terkait aturan sosial berbahasa tersebut, maka akan mengetahui mengapa wisatawan Jepang  bersikap sopan terhadap terhadap orang yang baru dikenalnya. Bahkan menggunakan tuturan tidak langsung terhadap staf yang usianya senior pada saat menyampaikan keluhan. Hal ini memberi gambaran bahwa orang Jepang  tetap memegang aturan sosial tersebut walau berada di luar negaranya dalam kapasitas sebagai wisatawan.

Temuan baru yang berhubungan dengan penggunaan  bahasa  Jepang  dalam konteks layanan perhotelan  dijelaskan sebagai berikut ini. Dalam praktek bahasa layanan perhotelan, tuturan langsung lebih banyak digunakan oleh staf hotel daripada tuturan tidak langsung. Modalitas onegaishimasu dan verba renyookei+kudasai banyak digunakan dalam pelayanan tamu hotel, yakni untuk maksud permohonan secara langsung. Tamu Jepang berbeda dengan tamu dari Australia, Amerika dan Eropa yang cenderung menunjukkan muka positif, mudah akrab terhadap pelaku pariwisata di Bali. Shizen na egao “senyuman alami”  merupakan unsur nonverbal yang paling menonjol. Wisatawan Jepang sangat terkesan, menyukai ciri khas dari pelayanan staf Bali yang  selalu diikuti dengan senyuman alami.

Prof. Dr. I Wayan Simpen, M.Hum. selaku promotor menyampaikan makna disertasi. Dalam sambutannya Prof. Simpen menyampaikan ucapan selamat kepada Dr. Indah Kusumarini telah melalui proses panjang perjalanan akademiknya.

Penelitian terhadap kesantunan berbahasa Jepang oleh staf hotel sangat berkolerasi dengan tingkat kunjungan wisatawan Jepang ke Bali. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengelolaan kesantunan berbahasa Jepang pada staf hotel, sehingga tentu saja akan mempengaruhi kenyamanan tamu Jepang saat berkunjung ke Bali.

“Saya harapkan disertasi ini mampu dilanjutkan untuk menghasilkan sebuah buku panduan kesantunan berbahasa bagi staf hotel. Sehingga disertasi ini turut memberikan dampak pada perkembangan pariwisata di Bali,” ungkap Prof. Simpen. (gp/gs)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

Kearifan Lokal Bali Warnai Penyambutan Pangdam IX/Udayana dengan Tradisi Tepung Tawar

Published

on

By

Penyambutan Pangdam IX/Udayana dengan Tepung Tawar
PENYAMBUTAN: Suasana khidmat dan sarat makna budaya mewarnai penyambutan Pangdam IX/Udayana melalui tradisi tepung tawar di Base Ops Lanud I Gusti Ngurah Rai, Badung, Selasa (20/10/2026). (Foto: Pendam IX)

Badung, baliilu.com – Suasana khidmat dan sarat makna budaya mewarnai penyambutan Pangdam IX/Udayana melalui tradisi tepung tawar di Base Ops Lanud I Gusti Ngurah Rai, Badung, Selasa (20/10/2026). Tradisi ini menjadi bagian dari rangkaian penerimaan pimpinan baru Kodam IX/Udayana sekaligus wujud penghormatan yang mencerminkan kearifan lokal dan nilai-nilai luhur budaya Bali.

Prosesi penyambutan dipimpin Kasdam IX/Udayana Brigjen TNI Taufiq Hanafi, diawali dengan penyambutan Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Made Putra Widiastawa yang didampingi Ketua Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) PD IX/Udayana Ny. Desak Putra Widiastawa oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Bali dan para Pejabat Utama (PJU) Kodam IX/Udayana.

Selanjutnya, Pangdam IX/Udayana Ketua Persit KCK PD IX/Udayana mengambil tempat di bawah Payung Agung dan disambut tarian tradisional Bali. Gerakan tari yang anggun dan penuh estetika tersebut menggambarkan kegembiraan, penghormatan, serta kebanggaan dalam menyambut kehadiran pemimpin baru Kodam IX/Udayana beserta keluarga.

Rangkaian tradisi dilanjutkan dengan pemasangan ikat kepala khas Bali atau udeng oleh Danrem 163/Wira Satya Ida I Dewa Agung Hadisaputra kepada Pangdam IX/Udayana. Udeng atau destar tidak sekadar menjadi pelengkap busana adat, tetapi juga memiliki filosofi ngiket manah, yakni mengikat dan memusatkan pikiran agar senantiasa jernih, bijaksana, serta mampu mengendalikan diri dalam menjalankan tanggung jawab.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Persit KCK PD IX/Udayana Ny. Desak Putra Widiastawa menerima pemasangan selendang khas Bali dan penyerahan hand bouquet oleh Ketua Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Koorcab Rem 163 PD IX/Udayana Ny. Ayu Agung Hadisaputra. Prosesi tersebut menambah kehangatan suasana penyambutan sekaligus mencerminkan penghormatan dan kebersamaan dalam lingkungan keluarga besar Kodam IX/Udayana.

Tradisi tepung tawar memiliki makna simbolis sebagai ungkapan doa dan harapan agar pejabat yang baru mengemban amanah senantiasa diberikan keselamatan, kelancaran, serta perlindungan Tuhan Yang Maha Esa dalam melaksanakan tugas. Tradisi ini juga menjadi harapan agar Pangdam IX/Udayana beserta keluarga dijauhkan dari berbagai rintangan, gangguan, dan mara bahaya selama menjalankan pengabdian.

Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution menjelaskan bahwa tradisi tepung tawar bukan sekadar seremoni penyambutan, melainkan bentuk penghormatan yang mengandung nilai-nilai luhur budaya sekaligus doa bagi pimpinan baru dalam mengemban amanah.

“Tradisi ini merupakan bagian dari kearifan lokal Bali yang sarat makna, mulai dari penghormatan, ketulusan, hingga doa untuk keselamatan dan kelancaran dalam menjalankan tugas. Melalui tradisi ini, kita berharap Pangdam IX/Udayana beserta keluarga senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan perlindungan Tuhan Yang Maha Esa dalam melaksanakan pengabdian,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kapendam menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan merupakan momentum penting untuk melanjutkan pengabdian serta memperkuat komitmen dalam menjalankan tugas-tugas kewilayahan. Dengan kepemimpinan yang baru, diharapkan soliditas internal satuan, sinergi dengan pemerintah daerah, serta hubungan harmonis antara TNI dan masyarakat semakin kokoh dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah Bali.

Setelah prosesi penyambutan di Base Ops Lanud I Gusti Ngurah Rai, rangkaian kegiatan penerimaan Pangdam IX/Udayana akan dilanjutkan dengan acara pisah sambut pada hari Rabu (21/10/2026) di Markas Komando Daerah Militer IX/Udayana, Jalan Udayana No. 1, Denpasar. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian penerimaan pimpinan baru sekaligus awal pelaksanaan tugas dan pengabdian Mayjen TNI Putra Widiastawa sebagai Pangdam IX/Udayana. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Kapendam IX/Udayana: Prajurit yang Terbukti Melanggar Akan Ditindak Tegas Sesuai Ketentuan Hukum

Published

on

By

Kapendam IX/Udayana Beri Keterangan Pers
Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution saat memberikan keterangan. (Foto: Pendam IX)

Denpasar, baliilu.com – Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution membenarkan adanya seorang perwira TNI AD berpangkat Mayor yang ditemukan berada di salah satu tempat hiburan malam di Jalan Teuku Umar, Denpasar, saat pelaksanaan operasi penegakan ketertiban (Gaktib) yang melibatkan Denpom IX/3 Denpasar bersama Tim Bareskrim Mabes Polri.

Peristiwa tersebut berawal ketika Tim Bareskrim Mabes Polri melaksanakan operasi penegakan ketertiban di salah satu tempat hiburan malam di Denpasar pada Sabtu, 19 September 2026. Dimana sebelumnya, koordinasi telah dilakukan dengan Denpom IX/3 Denpasar sebagai langkah antisipasi apabila ditemukan anggota TNI di lokasi.

Dalam pelaksanaannya, Tim Denpom IX/3 Denpasar bersama Tim Bareskrim Mabes Polri melakukan penertiban di tempat tersebut. Dari kegiatan itu, ditemukan seorang yang diketahui merupakan anggota TNI AD berpangkat Mayor. Selanjutnya, yang bersangkutan diamankan oleh Tim Denpom IX/3 Denpasar untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

“Benar, terdapat seorang anggota TNI AD berpangkat Mayor yang ditemukan berada di lokasi tersebut. Saat ini, yang bersangkutan masih menjalani penahanan tambahan dan pemeriksaan lebih lanjut di Denpom IX/3 Denpasar guna mendalami serta mengungkap fakta-fakta terkait keberadaannya di tempat tersebut,” ujar Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution.

Ia menegaskan bahwa Kodam IX/Udayana menghormati proses pemeriksaan yang sedang berlangsung dan menyerahkan penanganan perkara tersebut kepada pihak berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Oleh karena itu, semua pihak diharapkan tidak berspekulasi ataupun menarik kesimpulan sebelum hasil pemeriksaan diperoleh secara menyeluruh.

“Pada prinsipnya, Kodam IX/Udayana berkomitmen menegakkan hukum dan disiplin di lingkungan TNI AD. Setiap prajurit memiliki kewajiban untuk menaati aturan dan menjaga kehormatan institusi. Tidak ada toleransi terhadap pelanggaran yang terbukti dilakukan oleh prajurit,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kapendam menegaskan bahwa apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran hukum, disiplin, maupun ketentuan lain yang berlaku bagi prajurit, maka penanganannya akan dilakukan secara tegas sesuai jenis pelanggaran, kewenangan, dan mekanisme hukum yang berlaku.

“Kami tidak akan melindungi prajurit yang terbukti melakukan pelanggaran. Namun, kami juga harus menghormati proses pemeriksaan dan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. Penindakan akan dilakukan berdasarkan fakta dan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan,” pungkas Kolonel Inf Amrizal Nasution. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Gelar Psikotes Pejabat Eselon II: Gubernur Koster Ingin Potret Utuh, Bukan Sekadar Portofolio

Published

on

By

Psikotes Pejabat Eselon II Pemprov Bali
HADIRI PSIKOTES: Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri pelaksanaan psikotes bagi seluruh pejabat Eselon II di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali bertempat di Ruang Sidang Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gde Ngoerah, Lantai 4, Gedung Fakultas Kedokteran Udayana, Kampus Sudirman, Denpasar, Selasa (20/10/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster buka suara terkait pelaksanaan psikotes bagi seluruh pejabat Eselon II di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali bertempat di Ruang Sidang Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gde Ngoerah, Lantai 4, Gedung Fakultas Kedokteran Udayana, Kampus Sudirman, Denpasar, Selasa (20/10/2026).

Gubernur menegaskan, psikotes ini bukan untuk mencari-cari kesalahan pejabat, melainkan untuk mendapatkan gambaran profil karakteristik personal yang lebih utuh dan komprehensif.

“Terima kasih telah mengikuti tes psikotes ini. Saya ingin mendapatkan gambaran profil karakteristik personal seluruh pejabat Eselon II,” ujar Gubernur Bali.

Menurutnya, selama ini penilaian melalui manajemen talenta masih terdapat bias dan tidak sepenuhnya cocok dengan ekspektasi di lapangan. Maka untuk pengisian jabatan Eselon II, III, dan IV Gubernur mengaku belum pernah bertemu langsung dengan para pejabat yang bersangkutan. Penilaian untuk promosi jabatan hanya berdasarkan portofolio, yang dinilai tidak selalu menggambarkan kompetensi yang sesungguhnya.

“Karena itu saya buat tes ini agar saya mendapatkan gambaran lebih personal yang lebih utuh. Saya ingin jabatan ini betul-betul diisi oleh kompetensi yang profesional dan kepemimpinan yang tepat,” tegasnya.

Gubernur menekankan, pejabat Eselon II memiliki peran vital sebagai pimpinan langsung yang menjadi tangan Gubernur dalam mengoperasionalkan program di masing-masing kepala perangkat daerah.

Koster menambahkan, karakter seseorang sangat mempengaruhi perilaku. Secara sosiologi bisa berdampak negatif maupun positif, tergantung darimana yang lebih dominan dan hal itu akan sangat memengaruhi kinerja serta ekosistem lingkungan kerjanya tersebut.

Gubernur juga memastikan bahwa hasil psikotes tersebut bersifat rahasia dan tidak akan disebarluaskan.

“Hasilnya tidak disebarluaskan. Ini bukan berarti akan dicopot dari jabatan, meskipun saya dapat gambaran ke depannya kalau kinerjanya tidak bagus, apalagi ini Eselon II,” jelasnya.

Lebih lanjut, Gubernur meminta seluruh pejabat untuk meningkatkan kinerja dengan mengerjakan program sesuai matriks yang telah ditetapkan dan sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) masing-masing.

“Bukan hanya sistematis dalam bekerja, tapi memahami kinerja yang baik sebagai Aparatur Sipil Negara. Harus lebih responsif dan lebih tepat dalam mengerjakan kebijakan ke depannya,” imbuh Gubernur Bali.

Psikotes ini merupakan bentuk kerja sama Fakultas Kedokteran Unud dan BKPSDM Pemprov Bali guna mendorong kesejahteraan kerja dan kinerja ASN dengan gelar pemetaan profil psikologis pejabat eksekutif yang telah berlangsung mulai pukul 09.00-12.00 WITA. Kegiatan ini diikuti oleh 40 orang pejabat pimpinan tinggi pertama di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca