Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

KESEHATAN

Kembangkan Model Deteksi ADHD, Sudarma Adiputra Raih Gelar Doktor Ilmu Kedokteran

BALIILU Tayang

:

Kembangkan Model Deteksi ADHD
Ns. I Made Sudarma Adiputra, S.Kep., M.Kes. (Foto : Ist)

Denpasar, baliilu.com – Dengan mengembangkan model deteksi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), promovendus Ns. I Made Sudarma Adiputra, S.Kep., M.Kes. akhirnya sukses lulus ujian promosi doktor Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang dilaksanakan di Ruang Sidang Pascasarjana Lt III, Kamis, 23 Juni 2022.

Ujian Promosi Doktor yang dilaksanakan secara offline ini, Adiputra mengangkat judul disertasi “Model Kemampuan Mengenal Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada Anak Prasekolah di Keluarga Inti’’.

Dalam disertasinya, Adiputra menjelaskan bahwa Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak sehingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Prevalensi ADHD di dunia menunjukkan angka yang bervariasi antara 2-20%, Prevalensi ADHD di Indonesia belum diketahui secara pasti. Hal ini disebabkan penelitian tentang prevalensi ADHD di Indonesia masih sangat sedikit, sehingga belum didapatkan angka pasti mengenai kejadian ADHD di Indonesia. 

Angka kejadian ADHD di Provinsi Bali belum diketahui, data ADHD hanya terbatas pada rekam medis pada tempat pelayanan anak berkebutuhan khusus. Keterbatasan data tentang anak dengan ADHD ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor seperti banyak orang tua yang tidak paham atau mengerti dengan kejadian ADHD tersebut sehingga tidak memeriksakan anak dengan gejala ADHD.

Dari studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada Agustus 2017 yang dilakukan peneliti terhadap lima orangtua yang memiliki anak dengan ADHD, didapatkan hasil empat dari lima orangtua mengatakan terlambat mengetahui bahwa anak mereka menderita ADHD. Angka kejadian ADHD lebih menyerupai fenomena gunung es oleh karena banyak anak-anak dengan ADHD yang tidak mendapatkan penanganan dengan baik. Sebagian besar orangtua memahami ADHD setelah memeriksakan ke pelayanan kesehatan (psikolog/psikiater). Informasi mengenai ADHD sangat minim tersosialisasikan kepada orangtua. 

Baca Juga  Pencapaian SDGs Stagnan, Ancaman Bagi Kemanusiaan di Seluruh Dunia

Faktor pengetahuan menjadi salah satu penentu minimnya data kejadian ADHD di Indonesia. Penelitian pendahuluan yang dilakukan peneliti tahun 2018 didapatkan hasil: 42,2% responden memiliki pengetahuan yang kurang tentang ADHD terutama dalam deteksi dini dan melakukan penanganan anak dengan ADHD. Pengetahuan merupakan salah satu faktor penting dalam mengungkap kejadian ADHD yang terjadi. Keluarga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan anak, keluarga akan mengetahui sekali segala sesuatu yang terjadi pada anak termasuk masalah atau gangguan kesehatan yang muncul.

‘’Meningkatkan kemampuan mengenal ADHD pada keluarga inti penting sekali dilakukan agar keluarga lebih cepat untuk mengambil keputusan terkait masalah kesehatan pada anak. Kemampuan mengenal ADHD keluarga agar keluarga lebih waspada akan masalah-masalah kesehatan atau tahapan tumbuh kembang pada anak, dan apabila ada masalah bisa langsung mencarikan solusi,’’ ungkap Adiputra.

Dengan melihat kondisi prevalensi ADHD yang belum diketahui, Adiputra mengungkapkan, keterlambatan orangtua menyadari anaknya mengalami gangguan ADHD dan pengetahuan keluarga tentang ADHD masih kurang maka sangat perlu dilakukan “Penyusunan Model Kemampuan Mengenal Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada Anak Prasekolah di Keluarga Inti”. Model ini dirancang berdasarkan faktor penghambat dan pendukung kemampuan mengenal ADHD di keluarga inti. Model ini juga mengacu pada pengalaman-pengalaman pengenalan keluarga yang memiliki anak ADHD dengan menggunakan pendekatan teory ladder of empowerment, kohesi sosial dan dukungan keluarga. Model ini diharapkan meningkatkan pengetahuan dan sikap keluarga dalam mengenal ADHD pada anak prasekolah, peningkatan kemampuan mengenal akan meningkatkan ketepatan dalam skrining ADHD pada anak, sehingga akan meningkatkan temuan kasus baru ADHD pada anak.

Penelitian ini, beber Adiputra, menggunakan rancangan Mixed Methods dengan pendekatan Sequential Exploratory Design.  Penelitian ini terdiri dari tiga tahap, tahap pertama adalah penelitian kualitatif yang bertujuan untuk menggali mekanisme pengenalan ADHD pada keluarga yang memiliki anak ADHD. Pada penelitian tahap kedua dilakukan dengan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk menafsirkan penemuan-penemuan kualitatif (penelitian tahap 1) ke dalam hasil kuantitatif. Penelitian tahap ketiga penyusunan model dan dilanjutkan meminta pendapat pakar terhadap model yang telah tersusun.

Baca Juga  Ketua DPRD Badung Terima Audiensi Mahasiswa Fakultas Hukum Unud

Ketiga tahap penelitian dilaksanakan mulai Juni 2021 sampai dengan Februari 2022. Populasi penelitian ini adalah orangtua yang memiliki anak prasekolah dan berdomisili di Kota Denpasar, Kerangka konseptual kemampuan mengenal dikembangkan berdasarkan Ladder of Empowerment dengan penambahan kohesi sosial dan dukungan keluarga. Data yang didapat dianalisis dengan Chi-Square dan Regresi Logistik.

Penelitian tahap pertama melakukan wawancara mendalam dengan 11 partisipan dalam mekanisme pengenalan ADHD yang dilakukan oleh keluarga didapatkan hasil 6 partisipan dikategorikan terlambat mengenali anak mengalami ADHD dan 5 orang dapat mengenali ADHD lebih dini. Keterlambatan dalam mengenali ADHD disebabkan oleh kurangnya informasi tentang ADHD, adanya stigma di masyarakat, orangtua menyangkal memiliki anak ADHD, pengalaman merawat anak pertama, keluarga menganggap hal biasa dan terbatasnya tenaga kesehatan khusus.

Ditegaskannya, orangtua yang berhasil melakukan deteksi dini disebabkan oleh faktor dukungan pasangan, dukungan keluarga dan adanya sumber informasi yang membantu dari penelitian tahap pertama ini juga didapatkan tema bahwa perlu tersedia media sebagai sumber informasi belajar tentang ADHD.

Pada penelitian tahap tiga dilakukan penyusunan model kemampuan mengenal ADHD pada anak prasekolah di keluarga inti, modul kemudian dilakukan uji pakar (delphy study) dari aspek materi, media dan pengguna oleh 14 pakar. Modul mengenal attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada anak prasekolah di keluarga yang baik mencakup aspek: Self-Instructional, Self-Contained, Stand Alone, Adaptive dan User Friendly. Modul ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mengenal ADHD pada anak prasekolah di keluarga inti. 

Ujian dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Perencanaan  Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Dr. dr. I Gede Eka Wiratnaya, Sp. OT (K) dengan tim penguji Prof. dr. Pande Putu Januraga, M.Kes., Dr.PH (Promotor), Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, S.Ked., Sp.KJ (K), MARS (Kopromotor I), Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, M.Sc, Akp. Sp.GK (Kopromotor II), Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD-KHOM, Prof. Dr. Ir. Ida Bagus Putra Manuaba, M.Phil, Dr. dr. I Made Sudarmaja, M.Kes., Dr. dr. Dyah Pradnyaparamita Duarsa, M.Si., Dr. Ni Made Swasti Wulanyani, S.Psi., M.Erg., Psikolog., Dr. Luh Seri Ani, SKM., M.Kes., Dr. Ni Ketut Sutiari, SKM., M.Si.

Baca Juga  Prodi Sastra Inggris Unud Gelar PKM di SMPN 2 Ubud

 Sedangkan undangan akademik adalah Dr. dr. Ketut Suarjana, MPH., Dr. Ni Putu Widarini, SKM., MPH., Dr. Ns. Ika Widi Astuti, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.Mat., Dr. Ns. Putu Ayu Sani Utami, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep. Kom., Dr. Ns. Ni Made Dian Sulistiowati, M.Kep., Sp.Kep.J.

Pada ujian kali ini Dr. Ns. I Made Sudarma Adiputra, S.Kep., M.Kes dinyatakan lulus sebagai Doktor Lulusan ke- 347 Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan predikat Sangat Memuaskan. Sumber: https://www.unud.ac.id/in/berita-fakultas1236-Kembangkan-Model-Deteksi-ADHD-Sudarma-Adiputra-Raih-Gelar-Doktor-Ilmu-Kedokteran.html (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KESEHATAN

Satu Suntikan Vaksin Heksavalen, Gabungkan Enam Perlindungan Penyakit

Bali Jadi Daerah Percontohan Vaksin Heksavalen

Loading

Published

on

By

Vaksin Heksavalen
Balita saat menerima suntikan Vaksin Heksavalen. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Orang tua kini bisa sedikit bernapas lega. Keluhan tentang banyaknya suntikan saat imunisasi dasar pada bayi akhirnya direspons pemerintah dengan meluncurkan Vaksin Heksavalen, inovasi yang menggabungkan enam perlindungan penyakit ke dalam satu suntikan.

Provinsi Bali menjadi salah satu dari tiga wilayah percontohan nasional bersama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mulai mengimplementasikan vaksin pada bulan Oktober tahun ini, dan menyasar bayi yang lahir setelah 9 Juli 2025.

Vaksin Heksavalen memberikan perlindungan terhadap Difteri, Pertusis, TetanusH hepatitis B, Haemophilus Influenzae tipe B (Hib), dan Polio, serta menggantikan jadwal imunisasi dasar pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Gede Nyoman Sebawa, menyebut terobosan ini merupakan hasil evaluasi lapangan terhadap berbagai keluhan masyarakat.

“Kami menemukan banyak orang tua mengeluhkan anaknya terlalu sering disuntik saat imunisasi. Kalau dulu dua jenis vaksin disuntikkan terpisah, sekarang cukup satu kali,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/10).

Menurutnya, pengurangan jumlah suntikan tidak hanya mengurangi rasa sakit dan trauma pada bayi, tetapi juga meningkatkan kepatuhan orang tua untuk menuntaskan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

Selain dari sisi kenyamanan, vaksin kombinasi ini juga menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan cakupan imunisasi yang sebelumnya kerap muncul antara vaksin Pentavalen dan Polio injeksi.

“Dengan dijadikan satu dosis Heksavalen, cakupannya akan sama. Ini langkah penting agar semua bayi mendapat perlindungan penuh,” jelas dr. Sebawa.

Dari sisi pelaksanaan, pihaknya menambahkan efisiensi juga dirasakan oleh tenaga kesehatan. Pemberian vaksin kini lebih praktis dan efektif, sehingga pelayanan dapat dioptimalkan di berbagai fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri, hingga posyandu.

Baca Juga  Bahas Perpanjangan Kerja Sama, Unud Terima Kunjungan Kementerian Kesehatan Timor Leste

“Untuk Kabupaten Buleleng, sasaran awal bayi usia 2 bulan sampai 2 bulan 29 hari sudah terdata sekitar 2.450 bayi,” tambahnya.

Dr. Sebawa berharap, dengan penerapan vaksin Heksavalen ini, pemerintah menargetkan capaian IDL sebesar 95 persen, sekaligus mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat enam penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Pastikan Kesehatan, Dinkes Denpasar Rutin Cek Kesehatan Warga Terdampak Banjir

Published

on

By

SAFARI KESEHATAN: Pelaksanaan safari kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar dengan menyasar wilayah terdampak pada Minggu (14/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar terus berupaya memastikan kesehatan warga yang terdampak banjir melalui program Safari Kesehatan yang digelar secara rutin. Giat tersebut dikemas dengan sistem jemput bola yang menyasar titik-titik wilayah terdampak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, AA Ayu Agung Candrawati saat dikonfirmasi Minggu (14/9) menyatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk memantau dan menjaga kesehatan warga yang berada di kantong-kantong pengungsian akibat banjir.

“Sebagai upaya memastikan kesehatan warga terdampak banjir, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kesehatan secara rutin menggelar Safari Kesehatan. Pemeriksaan menyasar kantong-kantong pengungsian, dengan menerjunkan Tim Kesehatan Puskesmas yang mewilayahi,” kata Agung Candrawati.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan kesehatan warga terdampak banjir tetap terjaga dan dapat segera mendapatkan penanganan jika ditemukan masalah kesehatan.

“Harapannya dapat memastikan kesehatan warga terdampak,” ujarnya.

Bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, Agung Candrawati mengimbau untuk menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat, atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus di wilayah masing-masing.

“Warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dapat menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan Safari Kesehatan, tim kesehatan juga memberikan edukasi dan penyuluhan tentang kesehatan kepada warga terdampak, termasuk cara pencegahan penyakit yang umum terjadi pasca-banjir seperti diare dan penyakit kulit. Selain itu, dilakukan juga distribusi obat-obatan dan peralatan kesehatan dasar untuk mendukung pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian.

Dengan upaya ini, Dinkes Denpasar berharap dapat meminimalisir risiko kesehatan bagi warga terdampak banjir dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai.

“Kerja sama antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan pemerintah setempat diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan kesehatan warga terdampak dan mempercepat proses pemulihan pasca-banjir,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  Bahas Perpanjangan Kerja Sama, Unud Terima Kunjungan Kementerian Kesehatan Timor Leste

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Kunjungan Spesialis Obgyn ke Puskesmas, Tingkatkan Keterampilan Nakes untuk Pelayanan Prima bagi Ibu Hamil

Published

on

By

obgyn puskesmas buleleng
Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng saat intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Program ini tidak hanya memberikan akses pemeriksaan bagi ibu hamil oleh dokter spesialis, tetapi juga bertujuan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas dalam memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Nyoman Budiastawan, menjelaskan bahwa melalui kunjungan ini, dokter umum dan bidan di Puskesmas mendapatkan pelatihan langsung dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi dalam hal pemeriksaan kehamilan, deteksi risiko tinggi, serta penggunaan USG dasar.

“Diharapkan setelah mendapatkan pendampingan dari dokter spesialis, tenaga medis di Puskesmas mampu melakukan pemeriksaan dengan USG secara mandiri. Ini akan sangat membantu dalam deteksi dini risiko kehamilan, sehingga ibu hamil dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak awal,” ujar Budiastawan, Jumat (14/3).

Budiastawan menjelaskan, pada semester pertama, program ini telah dilaksanakan di 16 Puskesmas, dengan setiap Puskesmas memeriksa 10 ibu hamil oleh dokter spesialis. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir 90% ibu hamil mengalami kehamilan berisiko tinggi, terutama akibat kurangnya perencanaan kehamilan, usia di atas 35 tahun, serta anemia.

Dengan adanya peningkatan keterampilan tenaga kesehatan, Puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan prima secara mandiri, mulai dari deteksi dini, pemeriksaan rutin, hingga penanganan awal bagi ibu hamil. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, maka rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut akan segera disiapkan.

Selain itu, Budiastawan mengimbau pasangan usia subur untuk merencanakan kehamilan dengan baik, termasuk memperhatikan usia dan kondisi kesehatan sebelum hamil. Bagi ibu hamil, pemeriksaan rutin ke Puskesmas setiap bulan sangat dianjurkan agar potensi risiko dapat terdeteksi sejak dini.

Baca Juga  Pencapaian SDGs Stagnan, Ancaman Bagi Kemanusiaan di Seluruh Dunia

“Dengan peningkatan keterampilan tenaga medis di Puskesmas, kami berharap ibu hamil dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik, cepat, dan tepat. Langkah ini juga berkontribusi dalam menekan angka kematian ibu dan bayi, serta mencegah risiko seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, gizi buruk, dan stunting,” tutup Budiastawan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca