Denpasar, baliilu.com – Lembaga perkreditan desa (LPD) memiliki peran penting dalam pembangunan sebuah desa. Sehat dan sakitnya LPD sangat tergantung oleh warga desa. Oleh karena itu, peningkatan rasa kepercayaan warga desa terhadap LPD sangat penting dihadirkan guna menjaga eksistensi sebuah LPD. Hal demikian juga disadari dan tengah dilakukan oleh LPD Desa Adat Pemogan, Denpasar.
Kepala LPD Desa Adat Pemogan Ni Made Eka Wati, S.E. mengatakan, kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan LPD sangat penting untuk menunjang kelangsungan LPD dalam pembangunan desa. Hal ini karena secara aturan 20 persen dari keuntungan LPD untuk pembangunan desa, baik dalam bentuk fisik maupun nonfisik seperti upacara adat, suka-duka, ataupun support kegiatan budaya.
“Menjaga kepercayaan masyarakat terhadap LPD adalah salah satu hal penting dilakukan. Menjaga kepercayaan dalam bentuk penyadaran akan arti, peran, dan fungsi LPD bagi masyarakat desa, bahwa LPD ibarat sebagai pohon ia merupakan akar dan sementara pohon adalah desa. Ketika LPD ini sehat, maka pohon itu akan subur, jadi pohon (desa) tersebutlah yang mengayomi masyarakat, karena bagaimanapun 20% keuntungan LPD adalah untuk pembangunan desa,” ungkap Ni Made Eka Wati.
Selain melalui penyadaran kepada warga desa, upaya lainnya yang dilakukan oleh LPD Desa Adat Pemogan untuk meningkatkan rasa kepercayaan warga terhadap LPD adalah dengan menghadirkan program-program yang langsung bermanfaat bagi masyarakat seperti bantuan upacara adat, santunan untuk orang meninggal, serta bantuan kegiatan budaya seperti ogoh-ogoh.
“Warga desa yang meninggal akan mendapat santunan 1 juta rupiah, kalau ada kegiatan ogoh-ogoh tinggal mengajukan proposal sehingga mereka dapat dana. Selain itu, ketika ada odalan di Pura Desa atau Kahyangan Tiga Pemogan kita tetap mapunia, itu satu juta per pura, termasuk proposal-proposal lainnya seperti nasi kotak, jajan, pasti kita support,” terang Ni Made Eka Wati.
Ia juga menambahkan, sebagai bentuk apresiasi kepada nasabah, LPD Pemogan sering mengadakan program yang bertujuan memberikan service kepada nasabah. Salah satu bentuk program itu adalah kupon sembako.
“Pembagian kupon sembako biasanya diadakan ketika Galungan, dimana nasabah mendapatkan 1 voucher yang harus dibelanjakan di Pasar Pemogan. Nanti nasabah bawa kupon untuk belanja ke pedagang, dan para pedagang yang mendapat kupon nanti akan ke sini untuk menukar kupon tersebut menjadi uang,” jelas Ni Made Eka Wati.
Sejauh ini, LPD Desa Adat Pemogan memiliki jumlah penabung terdiri dari tabungan harian sekitar 3.000-an nasabah, tabungan deposito sekitar 475 orang, sementara simpanan upacara adat (Siuma) sekitar 2.000-an orang. Adapun segmentasi pasar LPD Pemogan adalah warga Pemogan, terutama pedagang di pasar, dan penduduk pendatang yang berprofesi sebagai pedagang. Selain itu, ada juga nasabah yang berasal di luar Desa Pemogan seperti Kepaon.
Kegiatan tabung-menabung yang dijalankan LPD Desa Pemogan dilakukan dengan cara jemput bola langsung ke masyarakat. Dari ketiga jenis tabungan tersebut, Siuma adalah jenis tabungan yang diminati dan menjadi favorit nasabah LPD Desa Pemogan.
“Siuma adalah tabungan favorit kita. Siuma kepanjangan dari simpanan upacara agama, ini tabungan berjangka, namun tidak menutup kemungkinan bisa untuk pendidikan anak. Contoh, sekarang si anak TK, 6-8 tahun ke depan si anak akan membutuhkan dana besar untuk biaya pendidikan. Jadi melalui Siuma, dia bisa merencanakan biaya pendidikannya. Misalnya orangtua merencanakan anaknya sekolah di SMP swasta, kira-kira berapa biaya pendidikan sekitar 8 tahun ke depan. Nah, mereka bisa merencanakan dari sekarang, dengan menyisihkan tiap bulan,” terang Eka Wati.
Terkait dengan tantangan pengelolaan LPD di tengah pandemi Covid-19, Eka Wati mengakui terjadi penurunan kemampuan warga untuk menabung. “Misal dalam satu keluarga dulu punya tiga buku tabungan, masing-masing ditabungi 20 ribu, tapi sekarang bertahan satu buku, dan nominalnya bisa turun 10 ribu,” katanya.
Terakhir, Ni Made Eka Wati mengatakan LPD Desa Adat Pemogan tengah menyusun program Kredit Ultra Mikro yang bertujuan untuk men-support warga Desa Pemogan yang berprofesi sebagai pedagang usaha mikro seperti pedagang canang, jaje uli, dan alat-alat upacara yang rencananya akan di-launching pada September 2021.
“Program ini khusus untuk warga desa yang memiliki usaha seperti dagang canang, jaje uli, dan alat-alat upacara. Jadi mereka boleh meminjam ke sini, dengan hanya tandatangan klian. Sehingga ini bisa menjadi solusi bagi warga yang ingin meminjam, namun tidak memiliki jaminan, dan mereka yang meminjam harus wajib menabung sebesar 7.000 ribu,” pungkas Ni Made Eka Wati. (gus/gs)