Gianyar, baliilu.com – Keluarga besar Bank BPR Kanti tengah berduka. Salah satu pendiri utama Bank BPR Kanti, I Ketut Sudama, berpulang pada Senin, 14 September 2026.
Kepergian I Ketut Sudama meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi keluarga besar Bank BPR Kanti. Sosoknya menjadi bagian penting dari sejarah awal lembaga tersebut dan dikenang sebagai salah satu figur yang ikut meletakkan fondasi bagi perjalanan BPR Kanti hingga berkembang seperti saat ini.
Direktur Utama Bank BPR Kanti, Made Arya Amitaba, menyebut kepergian I Ketut Sudama memiliki makna yang sangat personal baginya.
“Bagi saya, beliau bukan hanya salah satu pendiri utama Bank BPR Kanti. Beliau adalah Om saya, adik dari Bapak saya. Jadi kehilangan ini bukan hanya kehilangan secara kelembagaan, tetapi juga kehilangan yang sangat pribadi bagi keluarga kami,” ujar Amitaba.
Menurutnya, perkembangan sebuah lembaga tidak pernah dapat dipisahkan dari keberanian, pengorbanan, dan keyakinan orang-orang yang merintisnya sejak awal.
Ia menilai para pendiri adalah generasi yang berani menanam ketika hasilnya belum terlihat, berani memulai ketika masa depan belum pasti, dan berani bertahan ketika perjalanan belum mudah.
“Bank BPR Kanti yang kita lihat hari ini tidak lahir begitu saja. Ada keringat, keberanian, pengorbanan, dan keyakinan para pendiri di dalamnya. Almarhum I Ketut Sudama adalah salah satu bagian penting dari perjalanan itu,” katanya.
Amitaba bahkan menggambarkan sosok almarhum sebagai salah satu akar dari pohon besar bernama Bank BPR Kanti.
“Pohon boleh semakin tinggi, batangnya boleh semakin kuat, dahannya semakin banyak, dan daunnya semakin rindang. Tetapi sebesar apa pun pohon itu tumbuh, kita tidak boleh melupakan akar yang membuatnya mampu berdiri. Salah satu akar Bank BPR Kanti adalah I Ketut Sudama,” ujarnya.
Bagi Amitaba, perumpamaan tersebut bukan sekadar ungkapan penghormatan. Ia menegaskan bahwa sejarah dan jasa para pendiri harus tetap menjadi bagian dari identitas lembaga, meskipun generasi kepemimpinan terus berganti.
Menurutnya, kepemimpinan sejatinya adalah sebuah estafet.
“Ada generasi yang merintis, ada generasi yang membangun, dan ada generasi yang mendapat tanggung jawab untuk menjaga serta membesarkannya. Almarhum telah menyelesaikan bagian perjalanan beliau. Sekarang tugas kami adalah melanjutkan apa yang sudah dirintis,” kata Amitaba.
Sebagai Direktur Utama, Amitaba mengatakan tanggung jawab generasi saat ini bukan semata-mata membesarkan BPR Kanti secara bisnis, tetapi juga menjaga nilai, semangat, dan tujuan kebermanfaatan yang telah diwariskan para pendahulu.
Ia menegaskan bahwa penghormatan terbaik kepada para pendiri adalah memastikan lembaga yang dirintis tetap hidup, tumbuh sehat, serta memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
“Nama beliau mungkin tidak selalu disebut dalam setiap rapat, tidak selalu tertulis dalam setiap laporan, dan tidak selalu hadir dalam setiap kegiatan. Tetapi jejak perjuangan beliau akan tetap hidup dalam perjalanan Bank BPR Kanti,” ujarnya.
Amitaba juga menyampaikan penghormatan terakhir kepada sang paman.
“Terima kasih, Om Ketut, atas keberanian untuk memulai. Terima kasih atas perjuangan yang telah diberikan. Terima kasih karena telah menjadi bagian penting dari sejarah keluarga kami dan sejarah Bank BPR Kanti,” ungkapnya.
Ia mengatakan, kepergian seseorang pada akhirnya meninggalkan satu pertanyaan penting tentang makna sebuah kehidupan.
“Warisan terbesar seorang manusia bukanlah semata-mata apa yang ia miliki ketika hidup, tetapi apa yang masih tetap hidup dan memberi manfaat setelah dirinya tiada. Dan salah satu warisan hidup almarhum hari ini adalah Bank BPR Kanti,” kata Amitaba.
Keluarga besar Bank BPR Kanti pun mendoakan agar seluruh karma baik, pengabdian, dan kebaikan I Ketut Sudama menjadi jalan terang dalam perjalanan menuju kedamaian abadi.
Selamat jalan, I Ketut Sudama. Salah satu akar itu telah kembali kepada Sang Pencipta, tetapi pohon yang pernah ditanamnya akan terus tumbuh, dijaga, dan memberi manfaat bagi banyak orang. (gs/bi)