NEWS
Kisah Doni Monardo, sang Penyintas Covid-19
BALIILU Tayang
5 tahun yang lalu:
PESAWAT jenis ATR mengudara dengan mulus. Di dalamnya adalah manusia-manusia kelelahan. Tak terkecuali Kepala BNPB-Ketua Satgas Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo. Tak kurang dari delapan hari kami berada di tengah-tengah lokasi musibah: Gempa bumi Mamuju (Sulawesi Barat), dan banjir di Kalimantan Selatan.
Saat pesawat terbang stabil di ketinggian sekitar 12.000 kaki, lampu tanda sabuk pengaman dimatikan. Kami semua tengah bersiap memejamkan mata, membiarkan tubuh letih ini menikmati singgasana peristirahatannya.
Apa boleh buat, urungkan membayangkan kami terlelap. Sebab, mendadak Doni Monardo memanggil sejumlah staf, antara lain Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat BNPB Jarwansah dan saya (Egy Massadiah) untuk mendekat ke tempat duduknya, dan melakukan rapat kecil di atas udara. PLT Deputy Darurat Dody Ruswandi yang duduknya berdekatan juga memasang kuping, cermat mendengarkan.
Sudah sekian lama mendampingi Doni Monardo. Itu artinya, saya paham bagaimana etos kerjanya. Tapi toh, pertanyaan yang satu ini tetap saja muncul dalam situasi senja di kabin pesawat ATR itu: “Terbuat dari apakah fisik pak Doni, sehingga tidak punya rasa capek?”
Baik. Izinkan saya mengilas balik ke delapan hari sebelum peristiwa di atas kabin pesawat itu terjadi.
Hari Jumat, 15 Januari 2021, rombongan Kepala BNPB terbang ke Mamuju, menggunakan pesawat TNI AU.
Padahal, Jumat pagi itu agenda Doni sudah terjadwal berkunjung ke lokasi bencana longsor Sumedang bersama sejumlah anggota Komisi 8 DPR RI. Di perjalanan, Presiden Jokowi menelpon, memerintahkan Kepala BNPB berangkat ke Mamuju. Saya mendengarkan langsung pembicaraan Presiden dengan Doni. Alhasil agenda ke Sumedang dialihkan ke Sestama BNPB Harmensyah.
Kami serombongan pun siap di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Sebuah pesawat Hercules C-130 telah terparkir. Menteri Sosial Tri Rismaharini selanjutnya bergabung di Halim PK. Sedianya, kunjungan itu singkat saja. Jika tidak pulang hari ini, maka paling menginap satu malam.
Yang istimewa, hari itu, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto hadir dan mengantar hingga ke pintu pesawat.
Turut dalam rombongan Doni Monardo, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan II (Kogabwilhan II), Marsekal Madya TNI Imran Baidirus. Perwira tinggi TNI-AU kelahiran Bukit Tinggi, Sumatera Barat 3 September 1964 itu pernah memimpin Skadron 15 Lanud Iswahyudi, Madiun. Itu artinya, ia adalah seorang penerbang pesawat tempur jenis Hawk MK-53.
Syahdan, Hercules C-130 TNI-AU pun mendarat mulus di bandara Tampa Padang, Mamuju, Sulawesi Barat dengan mulus. Doni – dan seluruh penumpang – kelihatan sangat terkesan dengan kepiawaian pilot yang mendaratkan pesawat angkut berbadan bongsor itu dengan smooth.
Ekspresi kekaguman Doni pun dilayangkan kepada Marsdya Imran, secara tak langsung. Doni bilang, “Wah, mendaratnya mulus sekali. Jangan-jangan tadi pak Imran yang mendaratkan pesawat ini.” Yang mendengarkan pun tertawa.
Skenario Berubah
Tiba di Mamuju, rombongan langsung meninjau lokasi musibah. Ternyata, kondisi lapangan butuh penanganan serius. Banyak bangunan ambruk. Tak terkecuali kantor-kantor pemerintah, termasuk kantor Gubernur Sulawesi Barat. Bahkan, saat kami tiba di sana, masih muncul informasi adanya korban yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan, dan belum berhasil dievakuasi karena minimnya peralatan.
Seketika saya membatin, skenario berubah. Ini akan menjadi kunjungan panjang. Doni Monardo baru akan meninggalkan lokasi, ketika ia melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa penanganan tanggap darurat berjalan dengan baik. Sebelum itu semua terjadi, jangan harap Doni balik kanan.
Meski “judulnya” kunjungan satu hari, saya siap sedia dengan pakaian untuk minimal satu minggu. Termasuk siap mental dan fisik manakala harus tidur di tenda. Sebagian rombongan hanya membawa pakaian untuk semalam dua malam saja.
Dan kenyataannya memang begitu. Doni Monardo tidur di tenda yang berlokasi di halaman rumah dinas sekda Sulbar. Kami semua tidur di tenda selama masa tanggap darurat gempa Mamuju – Majene. Memang malam pertama kami sempat numpang rebahan di rumah jabatan Gubernur Ali Baal Masdar yang masih tegak tak terdampak gempa.
Untuk diketahui, ini adalah kali kedua Doni Monardo dalam kapasitas Kepala BNPB menjejakkan kaki di Mamuju. Sebelumnya 21 November 2019, Doni berbicara tentang mitigasi bencana, ancaman gempa di Sulbar di aula kantor Gubernur yang kini rontok akibat gempa. Doni ditemani sejumlah pejabat BNPB ketika itu melakukan pemaparan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan di depan para ASN Pemprov Sulbar, disaksikan Gubernur dan Wagub Sulbar.
Terbang ke Banjarmasin
Nyaris saat bersamaan, Kalimantan Selatan diterjang banjir. Alhasil, Doni Monardo pun terbang ke Banjarmasin pada Minggu 17 Februari 2021. Hari-hari di lokasi bencana, berkutat dengan pengkoordinasian penanganan masa tanggap darurat. Ya, baju kami basah. Tubuh kami berkeringat campur lumpur.
Datang berita, Presiden Joko Widodo hendak mengunjungi Mamuju. Doni Monardo dan rombongan pun kembali ke Mamuju.
Kami nikmati dan jalani saja semua tugas dengan dada lapang. Malam hari di pusat perbelanjaan di Banjarmasin kami menugaskan staf membeli perlengkapan, baju, celana serta aneka kebutuhan darurat lainnya untuk kami pakai di Sulbar.
Selasa siang 19 Januari 2020 Presiden pun langsung meninjau lokasi pengungsi di stadion Mannakara Mamuju. Presiden datang untuk memastikan proses evakuasi, pemberian bantuan, berjalan dengan baik. Jokowi juga mengabarkan berita baik mengenai komitmennya untuk membangun kembali sarana dan prasarana pemerintah daerah yang rusak.
Dalam kesempatan yang sama, sebelum kembali ke Ibukota Negara, Presiden mengapresiasi BNPB serta jajaran lain yang bahu-membahu bekerja keras di fase tanggap darurat (pasca musibah). Betapa pentingnya koordinasi, menata manajemen kedaruratan dalam satu komando, melibatkan semua unsur.
Tentu apresiasi Presiden kepada BNPB di bawah komando Doni Monardo, serasa siraman air segar. Tidak saja menyiram jiwa-jiwa yang lelah, raga-raga yang letih, tetapi juga ibarat suntikan vitamin.
Rasa lelah jiwa-rata makin terobati demi menyimak kalimat Doni yang berulang dilesakkan ke benak kami, “Jangan pikirkan diri kita, pikirkan derita para korban.” Kalimat yang kurang lebih sama dalam konteks penanganan Covid-19. Doni selalu mengatakan, “Pikirkan para dokter dan tenaga medis. Pikirkan mereka yang meninggal karena Covid-19. Bayangkan beban derita keluarganya.”
Karenanya, kami hanya bisa mengelus dada, manakala ada netizen yang mengunggah video yang kurang bertanggung jawab. Sebagai contoh, sebuah video diviralkan. Isinya, “Sampai hari ini, korban gempa di sini belum menerima bantuan sama sekali.”
Betapa sulit menjangkau sejumlah daerah. Beberapa kali penerbangan helikopter bantuan, gagal mendarat karena cuaca ekstrem.
Kali lain, helikopter terpaksa mendarat di lokasi yang cukup jauh dari lokasi musibah. Perlu waktu lagi untuk bisa mengantar bantuan ke titik korban. Helikopter BNPB bagaikan menyabung nyawa untuk mendekati sejumlah titik dropping bantuan. Alam yang rawan ditambah perubahan cuaca yang tiba-tiba serta angin kerap menjadi hambatan.
BNPB dan Pemda setempat memastikan, jangan ada korban tak tersentuh bantuan. Yang terjadi adalah, bantuan datang sedikit terlambat karena berbagai hambatan di lapangan, terutama cuaca.
Nah, alangkah bijak, jika para netizen teliti dalam memviralkan video yang bernada negatif bahkan provokatif. Di tengah suasana bencana, mental korban sangat labil, serta perasaannya sangat sensitif.
Di lapangan, tidak hanya ada BNPB dan BPBD. Banyak unsur lain yang berjibaku membantu korban bencana. Ada Basarnas, ada prajurit TNI/Polri, para relawan, PMI, NU, Muhammadiyah dan lain-lain. Bahkan, setiap hari sebelum kembali ke Jakarta –setelah lebih seminggu di Mamuju—Doni selalu hadir di lapangan melakukan koordinasi.
Teringat, malam pertama tiba di Mamuju, saat itu hujan amat deras. Dengan rombongan kecil Doni menerjang hujan, menuju sebuah alamat di kota Mamuju. Seseorang baru saja mengirim informasi, ada indikasi korban tertimbun runtuhan bangunan akibat gempa. Dalam kegelapan Doni berucap, kepada sejumlah anggota TNI yang menemaninya di lokasi, “Pastikan, jangan sampai ada korban yang masih tertimbun bangunan.”
Lelah dan Mengantuk
Berikutnya, mari kembali ke dalam kabin pesawat ATR. Saya, Jarwansyah, dan pejabat BNPB lain merapat ke dekat tempat duduk Doni Monardo. Rapat. Usai memahami point-point inti yang dibahas, saya pura-pura tidur. Hingga akhirnya terlelap.
Pesawat pun mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur setelah menempuh penerbangan langsung sekitar 3,5 jam. Harinya Jumat, tanggal 22 Januari 2021. Seperti biasa, semua kembali ke markas Graha BNPB untuk tes PCR dan tes swab antigen, sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Belum lagi menginjak kantor BNPB, Koorspri Kolonel Budi Irawan sudah ditugaskan untuk menyiapkan rapat, sore itu juga. Singkat kalimat, rapat berjalan lancar hingga malam pukul 20.00, tes PCR maupun swab antigen juga tuntas. Semua kembali ke rumah, termasuk Doni Monardo.
“Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak”, Doni pun terpapar Corona. Hari Sabtu (23/1/2021) esok harinya, ia mengumumkan dirinya positif tertular virus Corona. Kami semua kaget. Shock.
Kisah selanjutnya, sudah banyak yang mahfum. Doni menjalani isolasi mandiri. Setelah 20 hari, “panglima Covid-19” itu pun akhirnya dinyatakan negatif Covid-19. Doni menjalani tes PCR pada hari Jumat tanggal 12 Februari 2021 siang.
“Alhamdulillah. Saya bersyukur kepada Allah SWT atas hasil negatif Covid ini. Saya mengucapkan terima kasih, pertama-tama kepada keluarga. Istri, anak-anak, menantu serta cucu, adalah motivator terbaik saya sehingga tetap bersemangat menjalani isolasi mandiri mengenyahkan virus Corona dari tubuh saya,” ujar Doni, Jumat tanggal 12 Februari 2021 kepada wartawan.
Doni juga berterima kasih kepada dokter di rumah sakit, tim dokter Satgas Covid-19 dan BNPB atas segala dukungan dan perhatian yang telah diberikan. “Termasuk doa kawan-kawan, doa dari masyarakat demi kesembuhan saya,” tambah Doni.
Tak pelak, mantan Danjen Kopassus itu pun resmi menyandang predikat ‘penyintas Covid-19’, dan karenanya ia siap menyumbangkan plasma konvalesen. Tanpa diingatkan siapa pun, Doni ingat hal itu.
Hari Jumat (26/2/2021), tim dokter Palang Merah Indonesia (PMI) merapat ke Graha BNPB. Doni berkonsultasi ihwal rencana mendonorkan plasma konvalesen. Sebelumnya, petugas PMI melancarkan sejumlah pertanyaan sebagai bagian dari protokol donor. Di sinilah Doni mengungkap kisah yang belum banyak diketahui orang.
Dipaksa Dirawat di RS
Kisah tentang alotnya membawa Doni Monardo ke rumah sakit. Tim dokter dari Satgas Covid-19 maupun tim dokter BNPB, meminta Doni berkenan dirawat di rumah sakit. Semua bujuk-rayu kami seperti membentur tembok.
Sementara, kondisi fisik Doni tidak bisa dikatakan “baik-baik saja”. Hari kedua sejak terpapar Covid, suhu badannya naik. Jangankan untuk beraktivitas, bahkan untuk memegang handphone saja tidak sanggup.
Lebih membuat kami sport jantung adalah data saturasi oksigen Doni Monardo yang berada di angka 78. Sangat rendah, jauh dari angka normal yang di kisaran 95 – 100 persen. Meski begitu, Doni toh ngotot belum mau dirawat di rumah sakit. Bahkan, Santi Monardo sang istri, menyerah. Menurut Doni ia bisa bolak-balik ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan tetap isolasi mandiri di rumah.
Pikiran saya hanya satu: “Harus kita datangkan orang yang pasti didengar oleh Doni”. Saya pun segera menelepon Arief, anak mantu Doni. Saya minta Arief mengajak istrinya yang juga putri sulung Doni, Azzianti Riani Monardo yang tinggal di Cijantung mendatangi ayahnya yang terpapar Covid.

Anti, begitu kami biasa memanggil, adalah harapan terakhir kami untuk membawa Doni Monardo ke rumah sakit.
Lepas Isya, Anti datang bersama suaminya, Kapten (Inf) Mochammad Arief Wibisono. Pasangan ini telah dikaruniai dua anak: Arfazza Wimeka Wibisono lahir pada 3 Juni 2018 dan Azzahra Rania Wibisono yang lahir 17 Juli 2020. Semua orang dekatnya tahu, Doni sangat dekat dengan cucunya.
Anak dan menantu malam itu datang dan langsung menebar “ancaman” serta “ultimatum” kepada sang ayah. Intinya, “Ayah harus ke rumah sakit.” Ancamannya, “Kalau ayah tidak mau ke rumah sakit, Anti mau tidur di depan pintu kamar ayah,” tutur Anti, si sulung dengan ekspresi serius.
Tidak cukup dengan itu, Anti mendadak menyudutkan sang ayah pada posisi sulit mengelak. “Pasien Covid-19 dengan tingkat paparan ringan, boleh isolasi mandiri di rumah. Tapi, bagi yang stadium sedang sampai berat, harus dirawat di rumah sakit. Kan ayah yang ngomong begitu, dan sekarang kondisi ayah tidak pada stadium rendah, jadi harus ke rumah sakit,” kata Anti, fasih.
Kali ini Doni Monardo benar-benar menyerah. Meski begitu, Doni tampak masih akan bertahan. Buktinya, Doni minta Anti mengizinkan ke rumah sakit keesokan paginya. Tegas Anti menolak. Ayah harus ke rumah sakit sekarang juga.
Lega hati kami semua, demi mendengar Doni Monardo berkenan dirawat di rumah sakit. Meski begitu, kami hanya memantau dari jauh. Tidak berani menampakkan muka. Kami biarkan “skenario” tadi mengalir wajar, tanpa ada kesan rekayasa.
Doni Monardo tiba di rumah sakit pukul 23.20, langsung dilakukan pemeriksaan intensif dan wawancara. “Masuk kamar perawatan persisnya tanggal 26 Januari 2021 pukul 00.01,” ujar Doni. Hasil pantauan, Ct terburuk Doni Monardo ada di angka 18, berangsur membaik ke angka 25, 28, lalu tanggal 8 Februari 2021 Ct sudah di angka 36,5, tanggal 12 Februari 2021 negatif.
Doni dirawat di rumah sakit sejak tanggal 26 sampai 29 Januari 2021. Setelah itu perawatan isolasi mandiri di hotel.
Dua kali pemeriksaan berikutnya, tanggal 19 Februari, hasilnya negatif. Lalu diperiksa lagi tanggal 23 Februari, hasilnya pun negatif. Doni langsung tancap gas, beraktivitas.
Dua hal yang sempat hilang dari kebiasaan Doni Monardo saat terpapar Covid-19. Yang pertama adalah rutinitas olahraga pagi. Kedua, membalas semua pesan yang masuk melalui handphone-nya. Satu hari saja bisa masuk ratusan pesan whatsapp.
Ratusan pesan mungkin menenggelamkan dirinya untuk tidak berpikir tentang kisah yang saya ceritakan di atas. Mendadak, kisah itu kembali mencuat saat petugas PMI mewawancarainya. Saya kaget ketika ia mengatakan, “Soal anak yang mendesak saya ke rumah sakit, saya kira ini pasti kerjaan Prof. Wiku, dokter Tugas, pak Egy…. Mereka gak mempan minta saya ke rumah sakit, lantas mengatur skenario memakai anak saya,” kata Doni disusul tawa lebarnya. Saya hanya nyengir dan menjauh.
Yang lalu, sudah berlalu. Hari-hari terpapar Covid-19 telah dilalui Doni Monardo. Dan saat dirinya kemudian berpredikat penyintas, langsung minta staf untuk mengatur mekanisme donor plasma konvalesen.
Doni Monardo tampak santai saat mendonorkan plasma konvalesen, Senin 1 Maret 2021. Maklum, “ritual” donor darah bagi Doni bukan hal baru. Ia sudah menjadi pendonor darah sejak masih perwira muda.
Di sini perlu sedikit saya tambahkan. Ihwal kedisiplinan Doni Monardo dalam rutinitas hidupnya. Ia sangat rajin berolahraga. Itu salah satunya. Kemudian, terkait protokol kesehatan, saya bahkan sempat berkata dalam hati, “berlebihan”. Betapa tidak, saat tidur pun Doni Monardo mengenakan masker.
Ini saya saksikan sendiri di Sulawesi Barat. Hari pertama kami tidur di rumah dinas gubernur yang kebetulan bangunannya tidak terdampak gempa. Satu kamar besar diisi beberapa orang: Doni Monardo, ajudan, dan Abdul Muhari, Plt Direktur Pemetaan dan Risiko Bencana BNPB. Doni pun meminta saya masuk dan tidur di kamar yang sama.
Ya, saat itulah saya melihat, Doni Monardo tidur bermasker. Saya sendiri, setelah melihat semua lelap, diam-diam keluar kamar dan tidur di ruang tamu yang – buat saya – lebih nyaman.
Ada satu hal lagi yang tentu kita masih ingat. Tak lama setelah merilis pengumuman dirinya terpapar Covid-19, keesokan harinya Doni Monardo menyampaikan rilis media kembali, isinya mengimbau agar masyarakat menghindari aktivitas makan bersama. Doni meyakini, sumber corona yang menyerangnya berasal dari aktivitas makan bersama.
Kepadanya, saya tidak membantah. Tapi lewat tulisan ini, saya membatin. Bahwa, faktor makan bersama itu, hanya salah satu kemungkinan. Tapi yang tak boleh dilupakan, ada faktor lain sebagai penyebab terpaparnya Doni Monardo, yakni faktor kelelahan fisik.
Dalam kondisi fisik lelah, maka imun tubuhnya menurun, alias melemah. Bayangkan, kami semua (utamanya Doni Monardo), kurang tidur, banyak pikiran, banyak melakukan aktivitas peninjauan lokasi bencana dan rapat koordinasi. Intinya intensitas pekerjaan sangat tinggi. Atas semua kegiatan tadi, jam istirahat menjadi sangat kurang.
Lepas dari kemungkinan mana yang benar, wallahu a’lam. Yang pasti, usai Doni Monardo dinyatakan negatif, saya dan sejumlah kawan sempat pula berdiskusi ringan. Bahwa ada beberapa jenis pengidap Corona. Sebagian sembuh dengan sangat cepat, sebagian lama.
Doni Monardo sendiri, merasakan dalam tiga minggu pertama, kondisi fisiknya drop. Ia merasakan revovery-nya lambat, meski sudah mengonsumsi sekian jenis vitamin dan obat-obatan. Doni merasa cepat lelah. Ini beda dengan pengidap lain yang terkadang justru tidak merasakan apa-apa. (*)
*) Catatan Egy Massadiah dari Sulbar dan Kalsel, sebelum dan sesudah Doni Monardo Terpapar Covid-19
![]()
NEWS
Pansus TRAP DPRD Bali Bakal Evaluasi Total Aset Pemprov Bali Buat ICCB Renon Mangkrak 22 Tahun
Published
21 jam agoon
16 Juni 2026
Denpasar, baliilu.com – Panitia Khusus Tata Ruang, Aset Daerah dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Provinsi Bali mulai menyoroti serius aset-aset milik Pemerintah Provinsi Bali di kawasan Renon, Denpasar. Salah satunya, proyek India Cultural Centre Bali (ICCB) yang diketahui mangkrak selama lebih dari 22 tahun.
Ketua Pansus TRAP DPRD Bali, I Made Supartha, menegaskan pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aset strategis Pemprov Bali yang dinilai bermasalah maupun belum dimanfaatkan secara optimal.
Sorotan aset Pemprov Bali untuk ICCB Renon, muncul setelah aset daerah tersebut diketahui mangkrak selama lebih dari dua dekade tanpa kepastian penyelesaian. Bahkan, kini Pansus TRAP DPRD Bali mulai mendalami berbagai laporan masyarakat terkait dugaan penguasaan aset yang tidak sesuai regulasi.
“Nanti evaluasi, banyak aset-aset kita yang kemudian dikuasai dengan cara tidak benar. Ya, seluruhnya dievaluasi wilayah Renon ke depan akan diperdalam. Itu banyak Dumas dan banyak laporan,” kata Ketua Panitia Khusus Tata Ruang, Aset Daerah dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Provinsi Bali Dr. (C) I Made Supartha, S.H.,.M.H., saat diwawancarai awak media di Wantilan DPRD Provinsi Bali, Denpasar, Rabu, 3 Juni 2026.
Hal itu disampaikan usai menerima Forum Pemerhati Pembangunan (FOR HATI) Bali mendatangi Kantor DPRD Provinsi Bali. Dari unsur tokoh agama hadir Ida Shri Bhagawan Yogananda, sementara dari kalangan tokoh masyarakat tampak mantan anggota MPR RI utusan Bali Jro Gede Sudibya. Turut hadir Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali dr. Wayan Sayoga, akademisi Universitas Udayana Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si.
Dukungan generasi muda terhadap upaya pengawasan pembangunan Bali juga tampak kuat. Sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi hadir dalam audiensi tersebut, di antaranya BEM Universitas Udayana, Universitas Warmadewa, Universitas Mahasaraswati, Universitas Dwijendra, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, Universitas Hindu Indonesia, Universitas Mahadewa Indonesia, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, hingga Universitas Saraswati.
Made Supartha menilai persoalan aset daerah di Bali tidak bisa lagi dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, pengelolaan aset pemerintah harus memberikan manfaat nyata bagi daerah dan masyarakat, bukan justru terbengkalai selama puluhan tahun. Namun, aset tersebut diketahui belum dimanfaatkan secara optimal dan masih berstatus belum tuntas sejak awal perencanaan pada 2004.
Keberadaan aset mangkrak tersebut kini menjadi perhatian serius DPRD Bali, terutama setelah Pansus TRAP melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah titik aset daerah dan menemukan berbagai persoalan tata ruang, aset, serta perizinan.
Made Supartha memastikan evaluasi tidak hanya menyasar satu lokasi, tetapi seluruh aset strategis Pemprov Bali yang dinilai bermasalah atau belum dimanfaatkan secara optimal. “Selain melakukan pendalaman terhadap laporan masyarakat, kami juga mendorong adanya kepastian kebijakan dari pihak eksekutif terkait status aset yang hingga kini masih menggantung,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi Bali, Dewa Made Mahayadnya yang akrab disapa Dewa Jack mengaku baru mengetahui soal tersebut. Untuk itu, pihaknya akan menelusuri permasalahan tersebut.
“Baru juga tau.”..!! Ayo nanti sama-sama telusuri,” jawab Dewa Jack secara singkat di Denpasar, Rabu, 3 Juni 2026.
Untuk diketahui, rencana pembangunan proyek ICCB atau Pusat Kebudayaan India tersebut sempat diresmikan Gubernur Bali (1998-2008), Dewa Beratha, Dubes India, Hemant Krishan Singh dan DG ICCR, Rakesh Kumar, hingga saat ini justru diketahui proyek tersebut mangkrak dan tidak ada tanda-tanda progress keberlanjutan, sehingga menjadi kewajaran publik mempertanyakan nasib aset Pemprov Bali yang dipergunakan untuk proyek tersebut.
Ketua Fraksi Partai Demokrat-NasDem DPRD Provinsi Bali, Dr. Somvir menilai persoalan aset tersebut perlu segera mendapatkan kepastian hukum dan kebijakan agar tidak terus terbengkalai selama puluhan tahun.
Dr. Somvir yang juga selaku Wakil Sekretaris Panitia Khusus Tata Ruang, Aset Daerah, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali menegaskan bahwa penggunaan aset daerah harus memberikan kejelasan bagi semua pihak. Ia juga mendukung penuh Ketua Pansus TRAP DPRD Bali melakukan evaluasi di Kawasan Renon.
Pansus TRAP DPRD Bali akan membuka aset Pemprov Bali secara transparan baik yang sudah atau terbengkalai. Evaluasi mulai dilakukan dari pusat kota atau jantung pemerintahan. Upaya itu agar aset jelas dan tata kota tertib. (gs/bi)
![]()
NEWS
Jelang Galungan dan Kuningan, PHDI dan Bakesbangpol Denpasar Bagikan 300 Paket Daging Babi kepada Masyarakat
Published
22 jam agoon
16 Juni 2026
Denpasar, baliilu.com – Jelang hari Raya Galungan dan Kuningan, Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar bersama Pemerintah Kota Denpasar melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), membagikan 300 paket daging babi kepada para pecalang, bendesa adat, dan masyarakat, di halaman Kantor Bakesbangpol Kota Denpasar, Senin (15/6).
Hadir saat itu, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, Kepala Bakesbangpol Kota Denpasar, Anak Agung Ngurah Gede Darma Putra Atmadja, Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka, dan pihak terkait lainnya.
Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka mengatakan, kegiatan pembagian daging babi ini diharapkan akan dapat memberikan kemanfaatan bagi umat yang akan merayakan hari Raya Galungan dan Kuningan.
“Tentu harapannya ini akan membawa kemanfaatan bagi umat yang akan menyambut Hari Suci Galungan dan Kuningan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Kota Denpasar, Anak Agung Ngurah Gede Darma Putra Atmadja, menyampaikan, program ini merupakan implementasi dari spirit Vasudhaiva Kutumbhakam yang bermakna kita semua bersaudara atau menyama braya.
Sehingga diharapkan mampu menghadirkan semangat sagilik, saguluk, salunglung subayantaka dalam menyambut Hari Suci Galungan dan Kuningan di tengah masyarakat.
“Pembagian daging babi ini juga merupakan salah satu implementasi dari semangat Vasudhaiva Kutumbhakam,” katanya. (eka/bi)
![]()
NEWS
Gubernur Koster Dorong Percepatan Penguatan Aksesibilitas Transportasi Keluar Masuk Bandara Ngurah Rai
Published
2 hari agoon
15 Juni 2026
Badung, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster mendukung dan mendorong percepatan upaya penguatan aksesibilitas transportasi keluar masuk Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
Menurutnya, penguatan aksesibilitas merupakan kebutuhan mendesak mengingat strategisnya posisi Bandara Ngurah Rai sebagai gerbang utama masuk ke Pulau Dewata.
Dukungan Gubernur Wayan Koster disampaikan dalam arahan saat menghadiri Forum Group Discussion (FGD) Penguatan Aksesibilitas Transportasi dari dan menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai yang berlangsung di Hotel Discovery Kartika Plaza, Kuta, Senin (15/6).
Mengawali paparannya, Gubernur Koster menyambut baik pelaksanaan FGD sebagai bagian penting dari upaya penguatan aksesibilitas transportasi kaluar masuk bandara. Ia berpendapat, penguatan aksesibilitas transportasi keluar masuk bandara menjadi perhatian urgen karena berkaitan dengan isu kemacetan. Jika tidak diantisipasi, ia khawatir persoalan ini dapat mempengaruhi citra pariwisata Bali.
Selanjutnya, Gubernur Koster memberi gambaran tentang strategisnya posisi Bandara Ngurah Rai dalam pembangunan bidang kepariwisataan.
“Pada tahun 2025, wisatawan manca negara yang masuk ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai tercatat sebanyak 7 juta 50 ribu orang. Ditambah wisatawan domestik yang mencapai 9,2 juta. Jadi kalau ditotal, mencapai 16 juta lebih,” urainya.
Mencermati data tersebut, menurutnya penguatan aksesibilitas transportasi keluar masuk bandara dan kawasan sekitarnya menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.
Ia berharap, FGD menghasilkan rumusan yang komprehensif dalam upaya mengantisipasi kemacetan keluar masuk bandara dan kawasan sekitar khususnya Badung dan Denpasar.
“Petakan betul setiap titiknya. Ini tak bisa fokus di satu titik saja, alur kendaraan harus benar-benar dipetakan,” pintanya.
Ia berharap, seluruh komponen mendukung upaya ini agar segera bisa dikerjakan. Jika tidak ada hal yang sangat krusial, ia berharap FGD kali ini menghasilkan hal yang konkrit agar bisa segera dikerjakan. Masih dalam arahannya, Gubernur Bali dua periode ini juga menyinggung rencana perluasan parkir dan terminal. Ia berharap, pihak pengelola bandara segera merealiasikan rencana tersebut.
Sementara itu, Direktur Strategi dan Pengembangan Teknologi PT. Angkasa Pura Indonesia Ferry Kusnowo mengatakan, kegiatan kali ini merupakan tindak lanjut pelaksanaan FGD tahun lalu. Ia menyampaikan, kegiatan kali ini bertujuan untuk memperoleh masukan dari berbagai komponen sehingga menghasilkan kajian yang lebih komprehensif. Menurutnya, upaya penguatan aksesibilitas transportasi keluar masuk bandara membutuhkan pendekatan integrasi, bertahap dan kolaboratif. FGD diisi penyampaian kajian dari akademisi Universitas Udayana Prof. Ir. Putu Alit Suthanaya yang mendapat masukan dari sejumlah pihak untuk penyempurnaan. (gs/bi)
![]()





