Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Kpw BI Bali Erwin Soeriadimadja: Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi Bali Berkelanjutan dengan Perkuat ‘‘Quality Tourism‘‘, Pertanian dan Digitalisasi

Ngeraos Sareng Media dan Capacity Building di Lembongan Nusa Penida

Loading

BALIILU Tayang

:

pertumbuhan ekonomi bali
CAPACITY BUILDING: Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja (nomor 2 dari kiri) didampingi Deputi Kepala Perwakilan BI Bali Diah Utari (nomor 2 dari kanan), dan Advisor Perwakilan BI Bali Butet Linda H Panjaitan (paling kanan) saat acara ’’Ngeraos Sareng Media dan Capacity Building’’ di Hotel Mahagiri Nusa Lembongan, Nusa Penida, Klungkung, Kamis, 12 September 2024. (Foto: gs)

Nusa Lembongan, Klungkung, baliilu.com – Pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II 2024 tumbuh melambat menjadi 5,36% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang sebesar 5,98% (yoy). Namun pertumbuhan ekonomi Bali lebih tinggi dibandingkan nasional yang tumbuh sebesar 5,05% (yoy) dan menempati peringkat 7 (tujuh) dari 34 Provinsi di Indonesia.

‘’Saya rasa ini (pertumbuhan ekonomi Bali) luar biasa dan merupakan hasil kerja keras dari berbagai pihak,’’ ucap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja saat acara ’’Ngeraos Sareng Media dan Capacity Building’’ di Hotel Mahagiri Nusa Lembongan, Nusa Penida, Klungkung, Kamis, 12 September 2024.

Dengan pertumbuhan ekonomi Bali yang sangat luar biasa di atas nasional ini, sehingga untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, menurut Erwin sangat perlu memperkuat quality tourism.

’’Sektor pariwisata sekitar 45% memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Bali, jadi ke depan, kami melihat bahwa sektor pariwisata ini harus terus diperkuat,’’ ujarnya.

Erwin melihat ada 4 hal penting terkait quality tourism yakni pertama adalah bagaimana kita terus menerapkan sustainable practice, dimana pembangunan wisata harus menjaga keseimbangan lingkungan, pembangunan infrastrukturnya harus go green dan harus tetap melindungi kultur budaya lokal dengan mengedepankan keseimbangan antara alam dan budayanya. Kedua harus melakukan empower komunitas lokal dengan membuka lapangan pekerjaan dan menciptakan benefit bagi masyarakat lokal. Selanjutnya quality of service, dimana atraksinya harus menarik, amenitiesnya harus bagus dan juga akses kepada spot pariwisata juga harus semakin bagus dan yang terakhir ini sangat penting policy dan juga regulasi dari pemerintah yang memang mendukung terciptanya quality tourism.

Dan dari sisi pariwisata kita juga melihat bahwa sertifikasi CHSE dan juga peran dari asosiasi harus terus diperkuat supaya homestay, atraksi ataupun travel bisa bersama-sama bergabung di dalam asosiasi untuk mitigasi resiko dan juga bisa bersama-sama menciptakan pariwisata yang berkualitas di pulau Bali.

Baca Juga  Maret 2024, Optimisme Konsumen Bali Meningkat

Kemudian untuk memperkuat base pertumbuhan ekonomi Bali, sebut Erwin dengan mendorong sektor pertaniannya harus maju. Kenapa? Karena Bali itu dulunya sebagai lumbung pangan dan harusnya kembali lagi sebagai lumbung pangan dan Bali ini sangat menjaga keseimbangan antara alam budaya dan juga manusianya.

’’Saya pikir keseimbangan pertumbuhan ekonomi Bali ini perlu dijaga yaitu dengan mendiversifikasikan pertumbuhan ekonomi Bali kepada sektor-sektor pertanian yang berpotensi besar menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi,’’ ucapnya.

Erwin menegaskan untuk menggerakkan ataupun meningkatkan sektor pertanian di Provinsi Bali ada 3 kunci penting buat Provinsi Bali ke depan. Pertama adalah terus meningkatkan produktivitas dari sektor pertanian, seperti penggunaan bibit unggul dan pupuk organik yang harus menjadi perhatian dari langkah TPID. Kedua, mendorong pertanian yang lebih sustain dan berkelanjutan. Tentunya penciptaan ekosistem pertanian ini menjadi sangat penting sekali. ’’Ke depan kami harapkan dukungan dari peraturan daerah atau regulasi yang bisa mengamankan alih fungsi lahan sehingga lahan pertanian itu tetap terjaga,’’ ujarnya.

Jika berbicara sektor pertanian, tentunya tidak hanya pertanian dalam arti padi saja, kita juga terus mendorong sektor pertanian dari sisi perikanan dan hortikultura yang juga menjadi kekuatan dari Provinsi Bali. Dan yang ketiga, hilirisasi di sektor pertanian, menjadi penting sekali.

Kunci ketiga memperkuat ekonomi di Bali adalah digitalisasi yang harus terus dikembangkan. Dari sisi pemerintah kita melihat bahwa elektronifikasi transaksi pemerintah daerah yang tujuannya membuat transparansi, lebih acountable yang ujung-ujungnya adalah untuk meningkatkan pendapatan daerah.

Selain mendorong digitalisasi dari sektor pemerintah daerah, juga digitalisasi di sisi retail, salah satunya adalah melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang memberikan pelayanan yang CEMUMUAH, yakni cepat, mudah, murah, aman dan handal.

Baca Juga  Hasil Survei Mei 2024, Penjualan Eceran Bali Terus Tumbuh

Data terakhir menunjukkan bahwa sudah ada 1 juta lebih pengguna QRIS, transaksinya tumbuh sebesar 7,59 juta transaksi dengan nominal tumbuh sebesar 1,1 triliun. Jumlah merchantnya adalah 850 ribu QRIS, dimana akselerasi dari QRIS ini harus terus ditingkatkan mengingat konsentrasi dari QRIS ini masih di kota-kota besar. Dan untuk digitalisasi kita juga terus mendorong penggunaan kartu kredit Indonesia di dalam perbelanjaan transaksi pemerintah.

Hadir pada acara media Gathering Bank Indonesia tersebut sebagai narasumber wartawan senior Dahlan Iskan, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Diah Utari, dan Advisor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Butet Linda H Panjaitan dan puluhan awak media sobat BI Bali. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Gercep dan Solid! Sinergi Hebat TPID Se-Bali Mampu Kendalikan Inflasi di Tengah HBKN

Published

on

By

inflasi bali
Infografis inflasi Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Perkembangan inflasi Provinsi Bali berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 April 2026 mencatatkan bahwa secara bulanan Provinsi Bali pada Maret 2026 mengalami inflasi sebesar 0,50% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan Februari sebesar 0,70% (mtm).

Beberapa catatan peristiwa seperti perayaan HBKN Nyepi dan Idulfitri, kenaikan harga cabai, serta kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi mendorong dinamika pergerakan inflasi secara bulanan. Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan menurun dari 3,89% (yoy) pada Februari 2026 menjadi 2,81% (yoy). Secara spasial, seluruh Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Maret 2026.

Singaraja mengalami inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,90% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,40 % (yoy), diikuti Kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan sebesar 0,63% (yoy) atau inflasi tahunan sebesar 2,67% (yoy), selanjutnya Kabupaten Badung mengalami inflasi bulanan sebesar 0,50% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,09% (yoy). Lebih lanjut Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,42% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,02% (yoy).

Berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Maret 2026 bersumber dari kenaikan harga cabai rawit, bensin, tarif air minum PAM, canang sari, dan cabai merah. Sementara itu, inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga tarif angkutan udara, emas, bawang putih, beras dan kangkung.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengapresiasi berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan koordinasi bersama dalam High Level Meeting (HLM) menjelang HBKN Idulfitri dan Nyepi sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran.

“Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau yang disertai potensi El Nino, potensi kenaikan harga minyak dan komoditas dunia di tengah ketidakpastian global, serta peningkatan permintaan HBKN Galungan Kuningan,” ujarnya.

Baca Juga  Transaksi Tunai dan Nontunai Naik 7,1 % Sepanjang 2023

Untuk memperkuat pengendalian inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus bersinergi dan berinovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali, yang difokuskan pada tiga pilar utama, yaitu menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, serta memperkuat aspek regulasi. Strategi tersebut diimplementasikan utamanya melalui intensifikasi operasi pasar dengan kaidah 3T (tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran), penguatan kerja sama antar daerah baik intra-Bali maupun luar Bali, dan perluasan ekosistem ketahanan pangan hulu-hilir yang inklusif dengan melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi, yang diperkuat melalui regulasi pemanfaatan produk pangan lokal oleh pelaku usaha di daerah. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, inflasi tahun 2026 diprakirakan terjaga dalam sasaran 2,5%±1%. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Penerimaan Pajak Hingga Akhir Februari Tumbuh 30,4 Persen, Sektor Konsumsi Jadi Motor Utama

Published

on

By

pendapatan negara
KINERJA POSITIF: Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan kinerja positif pendapatan negara hingga akhir Februari 2026 di Aula Mezzanine Kemenkeu, Jakarta pada Rabu (11/3). (Foto: kemenkeu.go.id)

Jakarta, baliilu.com – Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan kinerja positif pendapatan negara hingga akhir Februari 2026. Dalam paparan APBN KiTa, Suahasil menyoroti pertumbuhan neto penerimaan pajak yang mencapai 30,4% (yoy), didorong kuat oleh tingginya aktivitas transaksi ekonomi masyarakat.

Hingga 28 Februari 2026, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp 245,1 triliun. Secara khusus, Suahasil memberikan catatan pada pertumbuhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang melonjak hingga 97%.

“PPN dan PPnBM dibayar jika ada transaksi. (Lonjakan) ini menunjukkan bahwa di perekonomian kita transaksi berjalan terus, kegiatan ekonomi, aktivitas ekonomi itu berjalan terus.,” ujar Suahasil di Aula Mezzanine Kemenkeu, Jakarta pada Rabu (11/3).

Empat sektor utama, yakni industri pengolahan, perdagangan, keuangan dan asuransi, serta pertambangan, tercatat masih menjadi kontributor mayoritas dengan sumbangan mencapai 74% dari total penerimaan pajak.

Sejalan dengan pendapatan yang kuat, pemerintah melakukan akselerasi belanja negara guna mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2026. Realisasi belanja negara hingga akhir Februari mencapai Rp 493,8 triliun, tumbuh signifikan 41,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Salah satu pendorong utama kenaikan belanja adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga 9 Maret 2026, program ini telah menjangkau 61,6 juta penerima yang terdiri dari 50 juta siswa dan 10,5 juta nonsiswa (ibu hamil, menyusui, dan lansia) dengan total serapan anggaran mencapai Rp 44 triliun.

Selain itu, Kemenkeu juga melaporkan realisasi pembayaran THR ASN, TNI, dan Polri tahun 2026. Hingga 10 Maret, pemerintah telah menyalurkan Rp 24,7 triliun atau sekitar 45 persen dari total alokasi Rp 55 triliun. “Kami mendorong seluruh K/L dan Pemerintah Daerah segera menuntaskan pembayaran THR agar tuntas sebelum hari raya,” tambahnya.

Baca Juga  Transaksi Tunai dan Nontunai Naik 7,1 % Sepanjang 2023

Di sisi lain, pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak mentah dunia (ICP) akibat konflik di Timur Tengah. Meskipun sempat menyentuh angka di atas US$100 per barel, harga minyak menunjukkan tren volatilitas tinggi. Suahasil menegaskan bahwa APBN akan terus berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) melalui skema subsidi dan kompensasi energi untuk melindungi daya beli masyarakat dari fluktuasi harga global.

Dalam bidang kepabeanan, terdapat peningkatan signifikan pada frekuensi penindakan rokok ilegal, dari 1.993 kali pada tahun lalu menjadi 2.872 kali penindakan di tahun 2026. Jumlah rokok ilegal yang disita naik dua kali lipat menjadi 369 juta batang.

Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) telah terealisasi sebesar Rp 147,7 triliun. Pemerintah juga memberikan atensi khusus pada daerah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dengan mengalokasikan tambahan dana sebesar Rp 10,65 triliun yang disalurkan dalam tiga tahap mulai Februari hingga April 2026. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Indeks Penjualan Ritel Bali 124,3: Stimulus Pemerintah dan Momentum HBKN Dukung Optimisme Pelaku Usaha

Published

on

By

indeks penjualan ritel bali
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja. (Foto: dok)

Denpasar, baliilu.com – Penjualan eceran di Provinsi Bali pada bulan Februari 2026 masih terus bertumbuh secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 124,3 atau secara tahunan tumbuh 6,4% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). Meski demikian, IPR Bali secara bulanan melambat sebesar 0,1% (mtm) seiring dengan periode low season wisatawan. Selain karena dampak musiman setelah libur tahun baru pada Januari 2026, terdapat periode puasa dan lebaran yang mendorong wisatawan domestik untuk memilih destinasi liburan ke kampung halaman selain Bali.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan dari sisi masyarakat Bali, pelaku usaha melihat adanya kecenderungan masyarakat untuk menahan pengeluaran di bulan Februari sebagai langkah persiapan dana lebih untuk HBKN pada bulan Maret. “Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi,” ujar Erwin Soeriadimadja.

Berdasarkan komponen pembentuknya, 5 (lima) sub-sektor pembentuk IPR dengan pertumbuhan bulanan tertinggi pada kategori Peralatan Informasi dan Komunikasi dengan penurunan sebesar 2,8% (mtm); Sandang dengan penurunan sebesar 2,4% (mtm); Suku Cadang dan Aksesori dengan penurunan sebesar 1,7% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dengan penurunan sebesar 1,6% (mtm); serta Makanan, Minuman dan Tembakau dengan penurunan sebesar 0,2% (mtm).

Data Angkasapura menunjukkan penurunan wisatawan domestik sebesar 15% (mtm), di mana faktor-faktor yang berpengaruh terhadap laju kunjungan wisatawan domestik yaitu adanya periode Ramadhan dan musim mudik. Meskipun terjadi efek penurunan akibat faktor musiman, pelaku usaha masih memiliki optimisme kinerja ritel di masa depan. Hal tersebut terlihat dari data Laporan Umum Bank Terintegrasi pada Lapangan Usaha (LU) Perdagangan per Januari 2026 dengan pertumbuhan sebesar 1,83% (yoy), lebih tinggi dari Desember 2025 sebesar 1,44% (yoy).

Baca Juga  Kendalikan Inflasi Pangan, BI Bali Serahkan 6 Ribu Bibit Cabai di Buleleng

“Kinerja IPR di Bali yang bertumbuh menunjukkan tingkat konsumsi masyarakat di Bali masih dalam tren positif. Selaras dengan pertumbuhan kredit, prospek penjualan ritel di Bali yang tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) diperkirakan meningkat,“ ujarnya.

IEP menggambarkan keyakinan pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah. Para responden memperkirakan penjualan dalam 3 bulan yang tercermin dari IEP April 2026 sebesar 170, lebih tinggi dari IEP Maret 2026 sebesar 126. Di sisi lain, prakiraan penjualan dalam 6 bulan ke depan, tepatnya pada Juli 2026 sebesar 184, sama seperti IEP Juni 2026. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100).

Untuk mendukung stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan di bulan Februari 2026. Dari sisi fiskal, Pemerintah turut menggelontorkan insentif promo tiket kapal laut dan pesawat untuk mendukung geliat perekonomian masyarakat. Lebih lanjut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus mengakselerasi operasi pasar murah menjelang libur Nyepi dan Idulfitri untuk komoditas strategis. Bank Indonesia Provinsi Bali bersama TPID baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terus berupaya untuk menjaga kestabilan harga, melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca